My Guardian Angel (The Dust of Love)

My Guardian Angel (The Dust of Love)
Chapter 141. Quejarse a La Tierra



"Kamu temukan alamatnya?"


"Ya."


Jawaban pendek.


"Kirimkan padaku!"


Arumi mengunduh lokasi sebuah wilayah di pinggiran. Dan ia meluncur ke sana dengan suasana hati paling rumit yang pernah hinggap dalam diri.


Bayar mahal seorang dari dunia gelap yang telah diperkenalkan Young Vincenti padanya untuk temukan Itzik Damian dan Aurora. Arumi pahami, tak bisa libatkan Young Vincenti karena pria itu sangat sibuk tangani sebuah kasus penting, di mana, Young berdiri sebagai tembok bagi seorang gadis yang dilecehkan oleh pemimpin sebuah sekte agama.


Peperangan batin panjang dan kuras energi. Sentakan demi sentakan napas lalu hembuskan pelan. Dada bergemuruh oleh banyak emosi.


Apakah ia perlu bertemu Aurora?


Ataukah?


Abaikan Aurora? Ia punya alasan cukup kuat.


Apa bedanya ia dan Salsa sekarang? Pikir Arumi murung.


Walaupun kronologi berbeda, hati nurani mengkritik sikap acuhnya pada Aurora. Bagaimanapun Aurora adalah puterinya!


Ia bergidik sejadi-jadinya.


No! Penyangkalan.


Aurora terlahir tanpa sepengetahuannya. Arumi menggeleng frustasi.


Hanya tak habis pikir, Itzik bernyali besar dan terlampau nekat. Berani sekali pria itu ciptakan kehidupan baru dan jadikan dirinya sebagai pusat dunia Aurora.


Ini adalah tragedi, Tuhan. Mengapa Anda biarkan ini terjadi?!


Arumi bisa laporkan Itzik Damian karena ini termasuk kriminalitas, pencurian. Itzik Damian jalani proses inseminasi dan cairkan sel telur tanpa seijinnya. Apakah Itzik palsukan tanda tangannya?


Meskipun 30% wanita di negara ini bekukan sel telur mereka untuk berjaga-jaga pada sebuah kondisi dan situasi tertentu, tak pernah ada kasus seperti yang dialaminya.


Biasa terjadi, aktivitas pencurian dengan kerugian di pihak laki-laki. Banyak wanita licik lakukan untuk dapatkan tunjangan anak.


Tanpa sadar Arumi mengerang. Itzik Damian, betapa keterlaluannya. Menuntut pihak laboratorium sama saja karena Itzik Damian bekerja bersih. Terlebih, Arumi tak akan bisa blow up kasus ini jika sampai muncul ke permukaan.


Alasan ia tak mau bersinggungan dengan teman-teman Archilles Lucca, para penjaga Càrvado. Jika Agathias ungkapkan Aurora ke publik, maka tamatlah riwayatnya. Terutama bukan hanya tentang dirinya. Tetapi, Aurora akan jadi mangsa empuk. Dan ia yakin, berita hoaks akan berakhir sebagai sesuatu yang dipaksa diimani seakan fakta.


Arumi meremas rambutnya kuat. Ia merasa sakit kepala hebat. Hidungnya berdarah. Setelah tiga Minggu, ini pertama kali ia berdarah itu cuma bercak.


Aneh atau ajaib. Mungkin, penderitaan bertubi-tubi buat ia kebal pada sakit. Tubuhnya ciptakan imunitas sendiri. Itu cuma akalan saja. Atau sebaliknya.


Reputasinya bagus dan selama tujuh tahun, ia tak pernah punya skandal. Ia mawas diri kendati bersama Itzik Damian. Dan temannya tak pernah menyentuhnya dengan sengaja.


Ia kembali fokus. Dari Young diketahui Itzik Damian menyewa seorang bernama samaran BM, berjulukan Black Mask, Black Master untuk lindungi serta menjaga Aurora dan Ibu penggantinya.


Tak sulit temukan sebuah kawasan perumahan elit di suburb di mana pemandangan perbukitan dan sungai begitu indah. Ia juga telah pastikan ia tak dibuntuti media.


Setelah pertarungan tanpa henti dalam diri, ia putuskan hadapi kenyataan. Rumah itu berpagar tinggi lengkap dengan penjaga gerbang.


Itzik Damian tak pernah mengambil atau menjarah uangnya. Pria itu hanya terima upah dari pekerjaan sebagai asisten dan sangat jujur. Itzik punya investasi di luar sana yang menguntungkan. Pria itu cerdas.


Arumi menekan bel. Seorang security tampakan separuh wajah di jendela kotak berukuran kecil.


"Ada yang bisa aku bantu? Siapa yang Anda cari, Nona?


"Tuan Itzik Damian."


Security mengerut. "Ini bukan rumah Tuan Itzik Damian!"


"Bagaimana dengan Nona Aurora?"


Penjaga itu kebingungan. "Juga bukan rumah Nona Aurora."


"Jangan bohongi aku! Alamat ini valid. Katakan pada Itzik, Narumi Vincenti menunggu. Buka pintunya dan berhenti sembunyi macam pecundang sebelum aku adukan pada pihak berwajib kejahatan yang dilakukannya padaku. Apa dia bisa kabur setelah merugikanku secara mental?" Arumi nyaris berseru pada penjaga gerbang.


"Nona, Ini adalah rumah Keluarga Jencarlos. Sayangnya Tuan Leandro dan Istrinya sedang berada di Mexico untuk beberapa hari. Puteri mereka berada di luar negeri dan pemilik rumah ini tak punya putera bernama Itzik Damian atau Puteri bernama Aurora. Anda salah alamat."


Arumi menatap tajam security. Pria ini tak bohong. Arumi periksa ponsel.


"Maafkan aku. Tetapi ..., apakah ini benar alamatnya?" Arumi sodorkan ponsel, perlihatkan pada penjaga gerbang.


"Benar, Nona. Sayangnya, tak ada Tuan Damian atau Nona Aurora."


Ingat, Itzik Damian adalah berandalan dan penjahat sejak jabang bayi. Pria itu pasti punya taktik kelabui. Pertanda serius tak ingin ditemukan.


Kembali ke mobil. Arumi bergegas pergi. Ia harus hadir penuhi undangan dari Mansion Anthony untuk pesta resepsi Tuan Raymundo Alvaro dan istrinya, Nyonya Bellova Alvaro.


Sebetulnya Arumi tak ingin pergi, tetapi ternyata Moon Entertainment diundang. Brelda Laura adalah senior designer yang ditunjuk sebagai ketua organisasi sebuah paguyuban berisi designer dari seluruh negeri. Namun, Brelda tak bisa hadir karena harus bertemu klien penting mereka.


Ada alasan lebih pribadi karena Tuan Alvaro adalah bagian dari dirinya. Uncle H dan Tuan Alvaro seperti saudara. Lagipula, Tuan Alvaro kirimkan kartu undangan dan kemudian pesan teks untuk bergabung. Arumi berpikir Tuan Alvaro benar-benar sangat menghargai kehadirannya. Atau, Juan Enriques dan Kareniña mendorong pria datar itu buat ia datang. Tuan Raymundo sangat dekat dengan Juan Enriques dan Kareniña. Ia akan mainkan beberapa melodi dan pikirkan lagunya nanti.


"Kamu sangat cantik, Sayang."


"Terima kasih."


"Casandra dan Martin akan ada di sana juga, Sayang. Gracia Anthony, Adelle Diomanta, Casandra, Nyonya Yves Devano Vargas dan Carmelita Devano. Juga mertuaku, Sonata Ehren ..., kamu tahukan lingkaran model apa ini?" Brelda terkekeh. "Komunitas para jompo gaul."


"Negara kita kecil. Kumpulan ini bukan sembarang jompo."


Brelda tertawa geli. "Kamu benar. Kita akan berusia di atas setengah abad seperti mereka dan rindukan masa ketika p4yud4r4mu kencang."


Arumi memoles gincu. Mata kehilangan cahaya. Mereka hanya pantulkan kesedihan. Bahkan mengulas senyuman semakin perjelas lara. Beruntung gaun sangat indah lukiskan tubuhnya. Ia memakai kalung inisial A.


"Aku penasaran dengan siapa aku akan habiskan hari tuaku? Cermin bisakah kamu berubah ajaib dan perlihatkan padaku?" tanya Arumi pada kaca cermin. Ia mengetuk tiga kali. Tempelkan kuping di sana.


"Oh, astaga. Kamu lucu."


"Atau aku tak akan pernah sampai ke sana." Berguman sangat pelan, mengelus kaca.


"Narumi?! Apa yang baru saja aku dengar?"


Gelengan cepat tersadar. "Aku bertanya mengapa Nyonya Yves Devano tak pernah gunakan satupun koleksi kita?"


"Karena menantunya adalah Belliza Devano yang katanya lebih banyak habiskan waktu di Monaco. Mengejutkan karena berita itu tidak benar. Jadi, yang aku lihat di Barcelona bukan Belliza tetapi kembarannya. Buuufff." Brelda tirukan sebuah ledakan yang pecah dari kepalanya.


"Mereka terlalu identik." Arumi menjepit rambutnya. Keluarkan sedikit helaian untuk ciptakan kesan dramatis.


"Oh, gadis yang beruntung. Sedang aku miliki Xavier Seth Moon." Brelda berdecak. "Kamu bisa pergi bersama Xavier. Dia dan Lucio Vargas sering hang out bersama. Kalian satu tujuan," saran Brelda Laura perhatikan dirinya.


"Adikmu ...."


"Please! Jangan diteruskan."


"Dia tidak menyukaiku. Aku bukan tipenya."


"Dia memang tidak berguna!"


"Kata-katamu adalah doa. Kamu terus katakan Xavier tidak berguna maka Tuhan akan mendengarkanmu, B."


"Ops! Maksudku soal asmara denganmu bukan masalah lain. Aku ragu dia paham kualitas seorang wanita. Aku akan mendorongnya ke dekatmu. Dasar payah!"


"Tidak sekarang. Empat hari lagi. Jika dia tidak datang. Aku akan menikahi Xavier dan tinggal di rumahmu bersama Casandra yang kita cintai."


Brelda Laura benar-benar kegirangan. "Apakah aku perlu pindah juga ke rumah orang tuaku? Astaga, hidupmu sempurna Brelda Laura. Tuhan, tolong biarkan gadis ini jadi milik kami sepenuhnya."


Arumi semprotkan parfum. Ini pemberian Itzik. Katanya Aurora gunakan parfum yang sama. Aroma permen yang manis dan ceria. Jika ia pakai langsung sehabis diberi Itzik padanya, ia akan langsung tahu bahwa ini parfum anak-anak.


"Tolong jawab Amen!" paksa Brelda.


"Amen," sahut Arumi sedih. Setengah hati mengucapkan Amen.


"Parfummu seperti aroma gulali para bayi. Walaupun menggemaskan please diganti yang lain."


"Aku mulai suka wanginya. Aku harus pergi!"


"Sopir akan mengantarkanmu."


"Trims, B."


"Dengar aku, pulanglah bersama Xavier."


"Jangan terlalu bersemangat. Kami terus bertengkar."


"Bagiku itu awal yang bagus."


Arumi tak bisa menyanggah. Naik mobil dan pergi ke kediaman Anthony.


Banyak mobil di parkiran. Apakah ia telat? Tidak juga.


Disambut oleh seorang pria berjas rapi yang antarkan ia ke tempat acara berlangsung. Masuki gerbang bunga dan dunia peri. Cukup banyak yang hadir. Kolega dan tentu saja ini bukan pesta resepsi biasa. Mansion Anthony menyimpan Queena Mendeleya yang adalah ponaan walikota mereka.


"Keluarga Anda berkumpul di bagian Timur, Nona Arumi," kata asisten itu lagi.


"Baiklah."


Arumi pergi ke sana, ikuti pria di depannya. Sedang Tuan Raymundo dan istrinya belum kelihatan.


Di sisi lain berkumpul semua orang. Keluarga dan kerabatnya.


"Narumi!"


"Arumi Chavez!"


Selamat datang di dunia di mana kamu adalah wanita 23 tahun yang dipuja sejuta umat berisi bocah ajaib yang mengaku Laskar Naruministic.


Kepala-kepala ukuran besar menoleh padanya dari beberapa meja sedang kepala kecil berlarian. Termasuk dua adiknya Aizen dan Hanasita padahal mereka baru berpisah pagi tadi.


Tentu saja Amora Shine pemimpin barisan. Sisanya Juan Enriques, Kareniña Luciano, Jezebel Eunice dan Ebenezer Leon dan bertambah lagi satu Abelard Chavez. Masih ada yang lain di luar sana yang tidak ingin terdeteksi, Aurora.


"Aunty! Aunty!" Jezebel ini terlalu cantik.


Tentu saja, Jeze Eunice telah bertemu Ethan Sanchez. Saat Aruhi melahirkan, Ethan Sanchez adalah pria pertama yang menggendong Jeze. Itu karena Aruhi sedang ujian nasional ditemani Ethan Sanchez dan Elgio Durante ada meeting yang tak bisa diganggu. Jeze datang ke dunia lebih cepat dari perkiraan dokter dan Ethan Sanchez sangat beruntung ada di waktu yang tepat.


Hanasita paling belakang. Sepertinya sengaja mengekor Abelard Chavez. Tubuh kecil Hana sengaja mendorong Abelard keras hingga Abelard terjatuh. Arumi mangap-mangap karena adegan tak berhenti di situ. Hanasita menginjak tangan Abelard hingga bocah itu meringis kesakitan.


Hanasita berhenti takut dilihat Ayah. Terang saja Ayah Laurent pasang tampang dingin dan tidak setuju pada sikap Hanasita yang bahkan tidak bermain petak umpet.


Arumi berdecak terlebih tatapan Hanasita pada Abelard, "aku tak sengaja".


"Kamu bisa bangun, Abelard? Mau aku bantu? Harusnya kamu tak usah ikut berlari pada Narumi. Tunggu saja di tempat dudukmu. Apa kamu tak takut gigimu copot lagi?"


Abelard menepis tangan Hanasita.


"Lain kali kamu tak akan aku maafkan."


"Apa tadi aku minta maaf?" tanya Hanasita. "Apa Aizen meninju-mu di telinga juga?"


Abelard benar-benar marah. Bocah itu bangkit dengan kesal dan berbalik hendak pergi.


"Hei, Abelard? Kamu mau kemana?" panggil Arumi melambai.


Bocah itu berhenti sedang Hanasita cemberut. Tak suka pada Narumi.


"Biarkan saja dia, Narumi. Mungkin dia mau mengadu pada mamanya."


Amora Shine pergi meraih tangan Abelard yang malang. "Naruministic itu tak boleh terpecah-pecah. Nanti kita mudah dikalahkan."


Dunia yang penuh warna.


"Narumi, kamu dan Aorta bisa kalahkan Lancester kan nanti?" tanya Juan Enriques. Astaga. Betapa bocah ini versi kecil Uncle H. Cara bicara, mata, hidung, rahang bahkan sampai potongan rambut pun sama.


"Kami berharap bisa pergi dan menyaksikan langsung pertandingannya." Kareniña Luciano selalu berada persis di sisi Juan Enriques. Mereka membentuk bayangan dan tampaknya tak menyukai Edgar Junior sebab bocah itu satu-satunya yang tak ada dalam gerombolan.


"Ya, kita lihat saja nanti. Kami telah mendaftar tetapi jadwalku mungkin padat."


"Ayolah, Narumi. Betapa arena balap buat kami bersemangat," bujuk Juan Enriques.


"Em, bagaimana kalau kita mengobrol nanti?"


"Baiklah!" angguk Juan Enriques. "Kami menunggumu ya. Ini pasti seru. Aku akan jadi jokey sepertimu saat aku dewasa."


"Aunty ...."


Eben meminta pelukan. Arumi menggendong bocah empat tahun dan menggelitik rahangnya.


"Semakin hari semakin tampan saja."


Semua anak selesai dengan pelukan dan kiss di pipi termasuk Abelard Chavez.


"Kerja bagus, Amora!" puji Arumi.


"Yep. Senang bertemu denganmu! Kita punya anggota baru."


"Oh ya? Siapa? Abelard?"


"Cheryl Devano Vargas, Puteri Tuan Vargas."


"Ya, kamu benar. Di mana dia?"


"Bersama Nyonya Bellova dan Tuan Alvaro."


"Kerja bagus, Girl!"


Aizen Ryota paling akhir dan bersama Hana.


"Kamu tidak harus kasar pada saudaramu, Hana." Arumi nasihati adiknya.


"Aku melakukannya agar kamu tak melihat ke arah lain, Narumi!" sahut Hana murung.


"Apa yang terjadi?"


"Harusnya kamu tak usah datang."


"Mengapa?"


Hana dan Aizen saling bertatapan. Hana pegangi tangannya.


"Sepupu dari Càrvado di sini dan dia bersama gadis lain memakai kalungmu! Aku sudah minta Mama hubungimu. Tetapi, kata Mama kamu menolak panggilan Mama."


Butuh waktu untuk cermati informasi Hanasita. Ia terpaku untuk beberapa waktu. Lutut Arumi bergetar sangat hebat. Ia rasakan sendinya hampir copot.


"Apa kamu baik-baik saja?"


"Em, ya," angguk Arumi. Ia menekuk lutut di tanah, bersandar pada bumi dan dua adiknya dekap erat.


"Jangan sedih ya!"bujuk Hanasita ikutan muram.


"Young bilang, kadang kita tak bisa paksakan sesuatu yang bernama takdir." Aizen lebih kuat memeluknya.


"Mungkin kamu perlu menyerah dan pikirkan dirimu sendiri!" Itu suara malaikat.


"Jangan takut. Aku baik-baik saja!"


"Apakah kami boleh bergabung bersama yang lain? Janji tak akan tertawa berlebihan."


Arumi menatap kedua adiknya. Setia kawan. Mengecup pipi Aizen lalu Hanasita. Biarkan mereka pergi. Ia berdiri tegak. Sapukan pandangan.


Kedua orang tuanya satu meja bersama Tuan dan Nyonya Chavez. Ada Alana Chavez di sana mengobrol akrab bersama Belliza. Dari wardrobe Nyonya Andreia dan Alana bisa dipastikan datang dari Belleza Butik. Mungkin mereka customer VIP. Orang-orang yang menyakitinya duduk bersama dan bahagia. Alana tersenyum padanya.


Tuan Abner Luiz dan istrinya mengobrol serius bersama Aunty Sunny dan Marion Davis. Orang-orang ini selalu punya bahan.


Sedang meja lain neneknya bersama teman-teman sesuai prediksi Brelda, para jomblo gaul. Casandra Moon melambai semangat padanya.


Meja lain, Xavier Seth Moon sedang amatinya sambil bicara pada pria lain, Tuan Lucio Vargas dari São Vicente bersama istrinya yang adalah kembaran pengantin perempuan.


Matanya mencari-cari. Pamannya, Enriques Diomanta dan Irishak Bella yang nyaris selalu culas. Lucky Luciano yang semakin tua semakin menantang tanpa Reinha Durante. Istri pria ini sekarang seorang Diplomat setelah selesaikan kuliahnya di Hubungan Internasional dan Sastra Inggris. Wanita itu menguasai sembilan bahasa dan kini bekerja sebagai delegasi yang mewakili negara mereka. Tetapi, Reinha juga terkenal karena gaya fashion yang tidak biasa. Brelda selalu merasa Reinha Durante keajaiban alam semesta.


Mata Arumi berpindah Tuan Francis Blanco dan September. Kakak iparnya Elgio Durante dan Aruhi. Tuan Sangdeto yang tidak pernah bisa bersahabat dengan makhluk hidup lainnya dan putera mereka yang seakan menunggu ia datang.


Lalu, pupil berhenti pada Anna Marylin dan pria itu ..., terlibat percakapan dengan Anna Marylin. Hatinya mudah teriris. Arumi meneguk ludah susah payah. Dia baik-baik saja. Puji Tuhan di tempat tertinggi. Tak ingin melihat ke sisi lain.


Apakah ia pergi saja? Ia tertunduk pada rumput. Ia bosan mengeluh pada langit. Ia adalah drama queen tetapi hadapi kenyataan hidup ia tanpa keahlian.


"Butuh bantuan, Nona?" Seseorang bertanya dari belakang.


Arumi Chavez berpaling tepat pelupuk mekarkan embun bening dari sana. Mata menangkap heels dari kaki-kaki jenjang berstoking hitam. Pandangannya buram. Siluet langsing, anggun, cantik dan penuh percaya diri dengan rambut hitam bergelombang yang indah.


"Cinta yang besar mudah bawa kehancuran."


"Lama tak jumpa," sahut Arumi terlilit gumpalan emosi. Bicara tersendat. Ia mengangkat wajah. Mata bertemu mata malaikat.


"Hidupku rumit."


"Hidupku juga."


"Ya, aku tahu."


"Di mana Itzik Damian?"


"Bersama Aurora."


"Kamu tahu?"


"Baru diberitahu."


"Di mana dia?"


"Itzik Damian menjalin hubungan dengan Chaterine Lucca. Mereka saling mencintai walaupun cuma bicara di ponsel. Merancang masa depan yang mungkin tak akan pernah terjadi."


"Sudah kuduga."


"Apakah kamu benar-benar kehilangannya?" tanya Tatiana berdecak ke sebuah arah.


"Aku tak tahu."


"Kamu selalu punya firasat bagus tentangnya."


"Mereka mati karena terlalu menderita. Aku tak bisa rasakan apapun. Satu-satunya yang tersisa hanya cinta penuh luka."


"Gadis yang malang. Itu belum seberapa. Bagaimana kalau kamu tahu Tuan Durante, Lucky Luciano, Axel Anthony dan pamanmu hadir di acara pertunangan kekasihmu dan pacarnya bahkan Anna Marylin. Mereka semua ada di Càrvado kecuali Raymundo Alvaro."


"Benarkah?" Tubuh Arumi linglung. "Mereka adalah teman-temannya."


"Bahkan Ibumu tahu."


"Aku hindari Ibuku dan menolak panggilannya." Termasuk kemarin.


"Apa yang akan kamu lakukan?"


Arumi menggeleng. "Aku tak tahu. Aku berhenti percaya pada semua orang. Mereka terus khianati aku dengan alasan menjagaku dari rasa sakit."


"Seorang pria yang terlalu mencintai wanitanya kadang sengaja mendorong kekasih mereka jatuh untuk melindunginya. Mungkin begini alurnya."


"Terima kasih sudah menghiburku. Aku putuskan tak pernah berharap lagi."


"Bersabarlah, mungkin sesuatu yang tidak terpikirkan olehmu sedang terjadi!"


"Aku hanya akan menyapa pengantin dan pergi, Tatia." Arumi menahan sesenggukan. Tatiana menepuk bahunya.


"Sulit ..., sebab seorang pria seperti menunggumu."


"Aku akan menikahinya."


"Oh, tidak. Aku tak suka endingnya. Simpan air matamu. Bukankah kamu seorang aktris? Setidaknya masih ada aku!"


"Kamu tetap sama persis tujuh tahun lalu."


"Oh, aku nyaris operasi plastik gara-gara diburu seorang pria."


"Aku tak percaya. Bukannya kamulah Si Kucing


Pemburu?"


"Di atas Kucing Pemburu masih ada Harimau Liar."


"Dia pasti pria yang luar biasa. Ceritakan padaku!"


Mereka pergi bersama.


"Di duniamu kamu dan kekasihmu adalah pemeran utama, tetapi di duniaku, aku pemeran utama. Aku tak suka menebeng pada kisahmu, Nona. Aku suka diperhatikan secara khusus, tergila-gila pada sesuatu yang spektakuler. Di luar imajinasimu. Karena aku ...."


"Anti mainstream," potong Arumi tersenyum lebar. Pengantin terlihat tetapi menyapa tiap kolega di bagian barat.


"Jika kamu tak menyapa kerabatmu, rumput liar akan menganggap dirinya lebih cantik dari bunga."


Mereka akhirnya sampai.


"Halo, Enriques."


"Tatiana ...."


"Irishak? Apakah wanita kembar buatmu galau? Wajahmu seperti habis minum cuka Citrus?" goda Tatiana. "Oh, lihat siapa di sini," kata Tatiana antusias. "My Baby Love, Archilles Lucca."


"Tatiana ...."


"Senang melihatmu baik-baik saja. Uh, halo, Mrs. Lucca ...," sapa Tatiana ramah.


Natalie mengulas senyuman senang terlebih pada panggilan itu. Sedang mata Arumi tak ingin terpaku pada Archilles, ia tahu Alana sedang pelajari mereka. Alana adalah masalah rumit lainnya.


"Natalie Yora."


"Aku, Tatiana. Kalung yang bagus tetapi itu terlalu sesak di lehermu. Apa kamu mencurinya dari seseorang?"


Senyum Natalie raib seketika.


"Apa maksudmu, Nona?"


Tatiana tertawa geli. "Jangan tersinggung. Kita naik perahu yang sama. Aku pernah lakukan apa yang kamu lakukan. Lalu, pria ini mengejarku jauh ke Perancis. Ia merampasnya kembali. Kalung itu hanya cocok untuk kekasihnya."


"Tuan Archilles berubah pikiran," sahut Natalie tajam. "Kami akan menikah."


Tatiana tertawa semakin keras. "Lucunya, aku dulu berpikir sepertimu!" Berhenti. "Pernah dengar ini, sesuatu yang didapatkan dengan cara licik akan berakhir buruk?"


"Nona Tatiana ..., Anda sangat tidak sopan. Aku bahkan tidak kenal denganmu secara pribadi."


Tatiana melirik Archilles Lucca. Perhatian teralih pada piring Archilles. Mata Tatiana menganalisa. Kombinasi, titik strep dan kurung penutup yang dibuat gunakan pasta juga jempol dan kelingking ketika pria itu menggaruk ujung bibir. Pada sendok dan serbet yang membentuk panah. Ekor mata menangkap bayangan Agathias Altair tak jauh dari mereka.


Archilles Lucca kirimkan pesan rahasia. Satu panah sedang ditarik, targetkan beberapa sasaran sekaligus.


Tatiana menyeringai. "Menarik!"


***