
Oleh sarapan yang tak bisa dilahap Arumi akibat serangan rasa mual juga keinginan Arumi untuk menikahi Archilles Lucca hari itu juga, membuat keduanya kini berbagi duduk di sofa sebab Uncle Hellton ingin mereka bicara di ruang yang lebih privasi.
"Nona ..., Anda perlu bertanya dahulu padaku. Anda tak bisa mengambil keputusan sendiri. Hubungan ini libatkan aku langsung di dalamnya."
Arumi Chavez cukup terperanjat, menoleh ke sebelah dapati Archilles Lucca sedang menatapnya. Pacarnya jelas mengkritik perbuatannya walaupun penampakan Archilles pada Arumi seperti yang sudah-sudah, tanpa penghakiman.
"Archilles, apakah menurut pendapatmu yang aku lakukan tadi salah? Aku cuma ingin melindungimu! Apakah kamu keberatan?" Raut Arumi Chavez semendung warna angkasa yang menyelimuti pulau. "Bisa beritahu aku, apa keinginanmu, Archilles? Kamu berkata tak akan menyerah tentang kita? Aku berpikir ..., kamu tak akan keberatan menikahiku. Apakah ..., apakah ..., kamu tidak setuju pada tindakanku tadi?"
"Nona ..., pertama ..., terima kasih Anda peduli padaku. Aku tetap tak berubah tentang mencintai Anda."
"Lalu?!"
"Sikap Anda tadi adalah hal terakhir yang boleh Anda tunjukan pada Nyonya Salsa. Aku benar-benar akan marahi Anda jika sampai terulang lagi."
"Archilles?"
"Nona ..., aku pikir Anda tidak bijaksana menentang Nyonya Salsa di hadapan publik walaupun 'publik' pagi ini adalah kerabat dan keluarga Anda. Tetap saja tidak dibenarkan. Anda mengabaikan penjelasanku bahwa Nyonya sama sekali tidak terkait pada apa yang aku alami."
"Archilles, aku lebih percaya pada naluriku dibanding alibimu. Untuk pertama kali, aku tak percaya padamu. Kamu tahu, Tuan?" Mengambil napas. "Tentangmu, 'firasat' kami tak pernah main-main."
Arumi Chavez pagi ini terus membuatnya kehilangan kata.
"Baiklah, aku harus akui bahwa Anda miliki indera keenam sangat tajam padaku selain ibuku. Aku hanya minta Anda menjaga bahasa Anda pada Nyonya. Aku tak suka, Nyonya berpikir aku mendorong Anda untuk menentangnya."
"Baiklah. Maafkan aku, jika membuatmu tak nyaman. Mau beritahu aku yang lainnya?"
Archilles bernapas berat. "Anda telah melukai harga diriku sebagai seorang pria."
"Begitukah?"
Archilles menggenggam tangan Arumi. Sekarang, ia lebih banyak sembunyikan tangan kirinya. Nona Arumi yang biasanya ceria dan banyak tingkah berubah jauh lebih pemurung.
"Ya. Anda terus melamarku, jadi pacar, kemudian tunanganmu. Kini Anda melamar untuk menikahiku seakan aku tak punya inisiatif untuk melakukannya dan hanya menunggumu, Nona."
"Bukan begitu, Archilles. Aku hanya tak berpikir panjang."
"Juga aku ingin membangun rumahku sendiri dengan kerja kerasku sendiri di suatu tempat dan membawamu ke sana, Nona. Aku tak bisa tinggal di mansion besar Anda karena harga diriku sebagai seorang pria."
"Archilles ..., apakah kamu tak kasihani Ibuku?" tanya Arumi Chavez lepaskan pandangan jauh menembus kaca ruang itu.
"Nona ...."
"Tak ada yang tahan pada sikapnya untuk waktu lama. Aku yakin semua orang akan mulai meninggalkannya. Aku mungkin hanya terlalu melankolis pikirkan Ibuku. Aku tak tahu di mana ayahku dan bagaimana cara membuatnya kembali ke sisi ibuku. Jika sampai itu terjadi, aku mungkin akan ikut denganmu, Archilles."
"Baiklah. Aku hanya akan percaya pada keputusan Anda dan aku akan berupaya menemukan keberadaan Ayah Anda. Kita bisa membawanya kembali ke sisi Nyonya Salsa."
"Benarkah?" Arumi Chavez menoleh. Nadanya senang meski ia tak tersenyum.
"Biarkan aku mencoba."
Keduanya terdiam ketika Hellton Pascalito masuk ke dalam ruangan.
"Aku yakin Anda berdua segera kenyang dengan keputusan pernikahan dini sampai-sampai lewatkan sarapan." Hellton Pascalito bicara setelah duduk.
"Makanan membuatku mual, Uncle."
"Badanmu semakin mengering dan sebentar lagi kamu akan menderita gangguan pencernaan Arumi karena kekurangan asupan nutrisi."
"Aku akan mengurus Nona, Tuan."
"Baiklah. Kita akan bicarakan masalah yang sangat serius saat ini. Tentang pernikahan yang Anda ajukan, Arumi Chavez."
"Apakah Ibuku setuju, Uncle?"
"Arumi ..., tekadmu ..., telah benar-benar hancurkan pertahanan ibumu. Hanya saja, ini tak ada hubungannya dengan Ibumu. Aku akan berikan masukan sebagai salah seorang yang mewakili orang tuamu juga. Mau dengar pendapatku?" tanya Hellton dari balik kaca mata hitamnya.
Arumi menoleh ke samping pada Archilles Lucca.
"Baiklah, Uncle."
"Kamu masih sangat muda, Arumi. Butuh banyak pertimbangan tentang pernikahan dan membangun bahtera perkawinan. Aku yakin pria macam Archilles Lucca, tak akan lari kemana-mana setelah tahu seorang gadis rela menentang ibunya demi sebuah pernikahan."
"Anda akan bertanya langsung pada Archilles, Uncle," putus Arumi. "Tadinya aku tetapkan pendirian ku sendiri tanpa pertimbangkan keinginan Archilles."
"Bagaimana denganmu, Sobat?" tanya Hellton beralih pada Archilles Lucca.
"Kami akan bersama, Tuan. Aku mencintai Nona dan cukup percaya diri untuk menjaganya. Hanya saja, aku butuh izin tertulis dari orang tua Nona Arumi karena Nona Arumi masih di bawah 18 tahun."
"Aku telah mendapatkannya dari ibuku," protes Arumi cepat. "Mengapa lagi?"
"Aku perlu pastikan, Nona. Aturan negara jelas, kita butuh tanda tangan persetujuan dari Nyonya Salsa."
Arumi m3nd3sah.
"Nona, jangan cemas. Aku akan melamar Anda pada Nyonya Salsa."
"Begitukah?"
"Ya, sekarang yang perlu kita lakukan adalah mengembalikan selera makan Anda."
"Archilles?!"
"Hmmm, ya, Nona?"
"Bisakah berhenti bicara formal padaku!"
"Agak sulit sepertinya, Nona. Aku menyukainya. Sebelum statusku yang lain, aku adalah pengawal Anda, Nona Arumi Chavez."
Hellton Pascalito amati dua orang di depannya. Ia nyaris seusia Archilles sewaktu temukan cinta pertamanya. Tetapi, Archilles Lucca bergabung bersama pria-pria lainnya, Elgio Durante juga Lucky Luciano akan mempersunting gadis muda. Mungkin Carlos Adelberth akan segera menyusul.
"Kamu akan menganalisa apa yang harus kamu lakukan, Tuan Lucca," kata Hellton beberapa saat kemudian.
Archilles menarik napas kuat-kuat, menahannya sebentar sebelum hempaskan perlahan.
"Aku akan menghadap Nyonya Salsa secara pribadi."
"Beritahu aku kabar terbaru. Kami butuh kembali, Archilles. Owl tidak suka bernyanyi sendiri."
"Trims, Piglet atas bantuan Anda."
"Aku datang untuk ponakanku dan yang tersisa untuk kelangsungan generasi Pamanku, Archilles. Sebaliknya aku yang harus ucapkan terima kasih padamu."
Archilles mengangguk-angguk kecil.
"Apakah Baby Eagle juga akan ikut terbang?"
Hellton Pascalito menggeleng. "Sepertinya tidak."
Tepian laut dan istri cantikmu dengan kain pantai berkibar di pasir putih, Archilles yakin, Lucky Luciano akan terperangkap di sini dalam waktu yang lama. Lanjutkan estafet honey moon. Satu-satunya masalah, Reinha Durante adalah workaholic, pekerja keras. Menyeret Claire Luciano ikut dalam agenda keduanya adalah tembakan trik terbaik untuk mencegah Claire Luciano ciptakan peluang. Ketiga orang ini saling menyayangi tetapi berperang tiap musim untuk koleksi fashion mereka.
"Kami harus menemukan BM. Romeo telah menungguku." Hellton memeriksa ponsel dan di bawah sana di landasan pacu, Cessna biru putih menunggu.
"Semoga tak terjadi sesuatu yang buruk padanya."
"Aku berharap dia memang hanya sedang menonton segerombolan pinguin berenang."
"So bad," keluh Archilles. "Kabari aku, Tuan."
"Kami tak akan mengganggumu. Tetapi, jelas kamu mungkin kesusahan hubungi kami nanti."
"Lokasi terakhirnya, please?" tanya Archilles Lucca. BM adalah sahabatnya. Ia tak suka sesuatu yang buruk menimpa pria itu.
"Dikson, Archilles. Dari sebuah gedung bekas Observatorium Geofisika sejak jaman Uni Soviet."
"Tetapi, tempat itu telah lama tak difungsikan. Kini menjadi lokasi yang sangat tertutup, Piglet. Anda tak bisa masuk ke desa itu tanpa izin dari pemerintah setempat. Bahkan tak ada titik biru karena dokumentasi apapun terlarang kecuali yang diformat pemerintah."
"BM mungkin menyenggol pemerintah dan sedang digantung di sana."
"Mungkin misterius message, Piglet. Belakangan BM beritahu aku bahwa ia sedang menyelidiki kasus orang-orang hilang."
"Akan aku simpan informasimu."
"Aku ingin tahu apapun tentangnya, Tuan."
"Ya, Lucca. Selesaikan masalahmu. Urusanku sangat banyak termasuk bertamu ke rumah Hedgar."
"Aku yang akan mengurusnya, Piglet."
"Aku butuh penuhi egoku untuk memenggal leher keparat itu!" Tatapan Hellton beralih pada Arumi Chavez seakan menyesal telah ucapkan kalimat barusan. Tetapi juga seakan sedang membuat sumpah.
"Anna bersamanya."
"Pecundang itu bersembunyi di belakang punggung temanku dan julurkan tangan nakalnya untuk menyentilku. Aku mengukur tebal kesabaran, ternyata aku tidak miliki sama sekali. Setidaknya ada alasan kini."
"Hati-hati dengannya, Tuan."
"Ya. Aku mengikuti caranya menjebakku. Semoga berhasil taklukan pendirian kokoh kakakku, Archilles."
"Aku anggap Anda tak keberatan aku bersama ponakan Anda, Tuan."
Hellton Pascalito pergi dari sana, sisakan Arumi yang memeluk lengan Archilles kuat.
"Ibuku pandai mengendus kelemahan lawan dan balas menyerang. Kamu tak akan sepakati apapun yang diinginkan Ibuku darimu, Archilles."
"Nona ..., sungguh disesali. Hubungan batin di antara Anda berdua berakhir seperti ini seakan akulah penyebabnya. Anda telah bukakan jalan untukku tadi pagi. Ingat?"
"Aku mengenalnya dengan baik Archilles. Aku menyukai Ibuku yang lemah lembut saat ia menemukan Aruhi. Waktu itu, akulah penjahatnya." Arumi Chavez mendesah, pelukannya makin kuat. "Ya Tuhan," ujarnya pelan, gesekan kepala pada lengan Archilles sambil pejamkan mata. "Ini sungguh bikin aku stres."
Sangat cepat Archilles memeluk kepala Arumi dan usapkan telapak tangannya perlahan pada sisi rambut. Tak bisa mengelus rambut Arumi dengan tangan kiri, sangat kaku saat ia mencoba.
"Semua akan baik-baik saja, Nona."
"Andai saja semua berjalan sesuai keinginan kita."
"Berhenti memikirkannya! Kita akan lewati kerumitan seperti biasa lalu akan memenangkannya lagi."
"Kamu benar."
"Nah, bisakah Anda makan sesuatu? Sedikit lagi aku keracunan liurku sendiri karena terus meminta Anda untuk makan."
"Aku tak yakin."
"Mungkin minuman dari kelapa muda bisa buat Anda sedikit bertenaga. Aku akan buatkan untukmu."
"Baiklah. Akan aku coba. Bolehkah aku bertanya, Archilles?"
"Ya."
"Apakah BM seorang wanita?"
"Mengapa Anda bertanya?"
"Aku tak suka dunia orang lain berisikan dirimu. Apakah tak ada pria lain?"
Archilles menoleh, sedikit geli.
"BM adalah temanku. Dia seorang pria."
"Oh."
"Memangnya siapa yang berani mengusik Anda dengan mengatakan yang tidak-tidak, Nona?"
"Itzik Damian."
"Jadi, Anda percaya pada lidah bercabangnya?"
"Ya. Aku melihat sendiri dengan mata kepala dan mata hatiku," tambah Arumi semakin galau.
"Melihat sendiri?"
"Ya. Wanita itu yang melindungimu. Tatiana." Arumi sedikit bergidik.
"Em, Anda akan abaikan dia sama seperti aku mengabaikan Young Vincenti dan Itzik Damian karena terobsesi pada Anda."
"Kurasa dia berbeda."
"Nona, dia menyelamatkan Paman Anda suatu waktu dari kehilangan kedua mata. Dia memusuhi dan peduli pada kami dengan kadar yang seimbang."
Wanita gila itu, Tatiana Sangdeto, suka memancing amarah tetapi tak akan sanggup melukai. Tampak hanya ingin orang yang diserangnya wajib tahu perasaannya. Insane.
Siang hari setelah sedikit memaksa Nona Arumi makan buah dan sayur, Archilles minta ijin untuk bicara pada Nyonya Salsa. Mereka kemudian berada di teras villa sedang Nona Arumi di ruang tidur gadis itu dan menerima perawatan.
"Kamu pasti melonjak karena keputusan Arumi menikahimu dalam waktu semalam."
Archilles sudah cukup banyak lewati momen buruk. Selalu di ujung tanduk, dilemparkan kembali ke pangkal hanya untuk ditendang ke ujung. Perjuangannya untuk bersama Arumi Chavez seakan masuki babak baru ketika berhadapan dengan Nyonya Salsa.
"Apakah Anda sedang menertawakan aku, Tuan?"
"Aku menertawakan diriku sendiri, Nyonya. Meskipun aku mati bagi Nona Arumi, Anda hanya akan terus berasumsi buruk tentangku. Aku pasrah pada pemikiran Anda."
Mereka mengulang hal sama sampai bosan. Archilles lantas berpikir. Betapa tertekannya Nona Arumi karena pernah di posisinya ketika mencintai Ethan Sanchez. Ditolak mungkin dihina.
Archilles tidak akan menyerah. Ia akan terus menggenggam Arumi Chavez dan tak akan lepaskan gadis itu, walaupun sepuluh jarinya hilang.
"Aku memikirkannya, Archilles."
"Nona Arumi jauh lebih dewasa ketika Nona seumuran Anda, Nyonya. Dan aku bukan Tuan Ebenn meskipun kami mirip. Kami akan mengulang kisah Anda dan pengawal Anda tetapi dengan akhir yang bahagia. Aku akan menyembuhkan Nona dan melindunginya dengan nyawaku."
"Lalu?!"
"Nyonya ..., aku akan menikahi Nona Arumi. Aku meminta dukungan. Tolong restui kami."
Archilles Lucca sedang mengemis pada Salsa Diomanta dari caranya berlutut di depan wanita itu dan sampaikan permohonannya.
Salsa Diomanta tanpa tanggapan dalam selang waktu tertentu. Menatap pria di depannya yang sangat gigih.
"Apa yang bisa kamu tawarkan pada Puteriku, Tuan Lucca?" tanya Salsa lagi-lagi menunjukkan ekspresi yang sama. Hanya datar saja. Namun setiap kata yang keluar adalah kombinasi sempurna keangkuhan, kesombongan dan canggung. "Kami melimpahi Arumi dengan segala keistimewaan, garis keturunan, strata sosial dan meskipun Arumi tidak pandai, ia akan meraih pendidikan tinggi. Apakah kamu sadar? Kamu sedang melamar seorang Puteri Wangsa, satu-satunya yang tersisa dari Luke Diomanta?"
Archilles tak menyahut. Tidak bisa berkomentar.
Jika boleh memilih, Archilles ingin terlahir sebagai Archilles si prajurit setengah dewa hasil dari pernikahan seorang raja Myrmidon dan Dewi Laut. Ia akan memilih Martha Via yang seperti Dewi Kehidupan tetapi menolak garis keturunan yang diwariskan Raul Lucca yang pemarah dan pendendam.
Kemudian ... kata-kata Salsa Diomanta membuat Archilles Lucca secara spesifik pikirkan asal usul namanya kini. Mengapa Martha Via menamainya Archilles? Apakah Martha Via ingin ia sekuat Archilles? Pemberani dan tak kenal takut? Termasuk perjuangkan seorang wanita? Apakah itu alasannya?
"Jangan katakan cinta dan kasih sayang, Archilles Lucca. Aku tak percaya hal-hal macam begitu bertahan lebih lama dari empat musim."
Nada Salsa Diomanta di ujung pelampiasan kesal sangat sarkas. Mungkin gambarkan kehidupan tak sempurna Nyonya Salsa sendiri. Entah kesal pada diri sendiri atau pada suaminya. Archilles tak berani menduga.
"Anda bisa beritahu aku, apa yang harus aku lakukan agar aku bisa tinggal di sisi Nona Arumi. Akan aku penuhi permintaan Anda."
Salsa Diomanta berpaling. Ia menonton ombak di bawah sana. Memukul dan mundur, hanya dua gerakan itu hingga bebatuan karang di tepi laut hasilkan keunikan landscape yang indah.
Ketika wajahnya kembali, secara mengejutkan tatapannya berubah melembut. Apakah ombak dan karang memberinya sedikit pengertian?
"Bangunlah!" tegur Salsa mendorong dokumen di meja agar dilihat Archilles sebelum kembali terbenam pada alam yang terhampar di hadapannya.
Tak lama kemudian wanita itu berbalik dan bicara tegas.
"Aku telah menanda tangani surat ijin menikahi Puteriku."
Meskipun Archilles Lucca lega di dalam lubuk, ia tahu bahwa mesti ada imbalan seperti terkaan Arumi Chavez.
"Aku memasukan beberapa klausul di dalamnya. Kamu akan menikahi Arumi tepat di hari ulang tahunnya yang ke-16. Itu berarti Maret tahun depan. Tiga bulan lagi. Dalam jangka tersebut, Anda berdua diharapkan tak akan mengekspos hubungan keluar tanpa atau dengan sengaja. Hindari skandal yang akan menggiring media pada kita. Aku yakin kamu juga paham poin satu ini, Archilles."
Mungkin ada kerumitan jika terendus media. Selebihnya Archilles akan mulai pelajari cara mencegah beberapa media hiburan mengambil keuntungan negatif dari pemberitaan Arumi Chavez.
"Anda tak akan menyebabkan Puteriku mengandung di bawah usia 20 tahun. Kamu adalah pria cerdas. Mungkin ia terlihat dewasa sekarang, tidak jika sampai punya bayi di usia anak-anak. Lagipula, banyaknya kontrak iklan yang sedang dijalani Arumi akan ciptakan masalah lain. Belum lagi sorotan pemirsa padanya."
Berhenti sejenak.
"Kamu tak akan menolak perpisahan jika Arumi menginginkannya, tidak menghalanginya, tidak menahannya. Jika kamu membuat Puteriku bersedih, kamu akan kehilangannya hari itu juga."
Archilles Lucca mendengarkan seksama tanpa ingin menyela. Persyaratan lumayan banyak tetapi dalam batas yang bisa ia terima. Dan hebatnya Nyonya Salsa menyusun poin-poin hanya dalam waktu 6 jam.
"Periksa dokumen ke empat," pinta Salsa Diomanta mengangguk pada berkas. Gunakan telunjuk mengetuk-ngetuk tengah kening.
"Kamu dan adik perempuanmu akan terdaftar sebagai putera dan Puteri dari kerabat jauh kami. Aku tak suka orang perdebatkan asal-usulmu. Aku mengaturnya untukmu. Pergilah ke sana dalam waktu dekat bersama Zefanya."
"Nyonya ...." Bagi Archilles ini sedikit berlebihan. Foto sepasang suami istri yang glamour dan bercahaya. Beberapa lagi berlatar belakang kan mansion luas dengan topi lebar semirip cartwheel hat seperti yang biasa dipakai orang-orang kalangan atas.
"Tuan Maurizio Lucca kehilangan puteranya puluhan tahun lalu. Anak kedua mereka berusia tujuh belas tahun menderita hemofilia sehingga tak punya ruang sosial. Nyonya Nastya Lucca sangat bersedih pada situasi keluarganya. Tuan Lucca telah menerima dokumen dariku untuk perwalianmu dan adik perempuanmu. Mereka sangat-sangat menantikan kedatanganmu."
"Nyonya, Ayahku masih hidup. Kakek Nenekku juga akan keberatan menyerahkan Zefanya."
"Tuan Raul Lucca menjual-mu padaku. Ayahmu lebih memilih menerima banyak uang dariku ketimbang mengakuimu sebagai puteranya." Salsa Diomanta menyahut sedikit sinis bercampur prihatin. "Bagaimana orang-orang bisa lahir tanpa adab dan kesantunan sama sekali?" keluh Nyonya Salsa lagi. "Aku berharap kamu dan adikmu tidak meniru perilaku Ayahmu."
Archilles Lucca tidak kaget Salsa Diomanta bertindak sejauh ini. Nyonya Salsa benar-benar merinci secara jelas karakter ayahnya.
"Kami bicara selama dua-puluh-menit. Ini pertama kalinya aku mendengarkan seorang pria mengatakan satu omong kosong di tiap menitnya."
Archilles Lucca tidak terkejut mendengar penghinaan untuk Raul Lucca. Juga tidak heran Raul Lucca mengkhianatinya dan Zefanya. Semakin nyata kini bahwa dirinya dan Zefanya hanyalah yatim piatu. Menyedihkan.
"Dokumen paling akhir," kata Salsa amati tangan kiri Archilles Lucca yang memegang file. Meneguk ludah. Tak ingin terbawa perasaan. "Yang paling penting dari semua nomer ini. Bereskan semua pihak yang terlibat dalam penculikan kemarin." Cepat-cepat menutupi goyah.
Archilles memeriksa berkas. Daftar nama dan julukan lumayan panjang. Termasuk peranan dalam sekte. Cukup terkejut sebab beberapa orang penting termasuk di dalamnya. Mantan anggota parlemen hingga putera perdana menteri terlibat. Bahkan ada masing-masing flag pada nama menteri pertahanan nasional, sekertaris negara bidang digitalisasi, orang-orang dari institusi keamanan nasional.
Tak terkejut temukan Hedgar Sangdeto ada di daftar ke sembilan sebagai investor seperti dugaannya dan Tuan Hellton.
"Aku tak peduli caramu, Archilles Lucca. Kirim mereka semua ke neraka! Satu per satu tanpa tersisa."
"Baik Nyonya. Akan aku kerjakan."
"Berhentilah jadi guru dan lanjutkan pendidikanmu setelah semuanya selesai. Aku tak akan ikut campur lebih jauh selain yang telah kusebutkan di atas. Mari bertemu di Maret untuk merayakan pernikahanmu dan Arumi."
***