My Guardian Angel (The Dust of Love)

My Guardian Angel (The Dust of Love)
Chapter 110. Maravilha



Archilles Lucca punya masalah serius. Raul Lucca. Ditambah ia harus mengurusi Abercio Jacquemus.


Tatiana selalu valid. Archilles tak terima kabar apapun dari Nyonya Salsa. Ia akan bertemu Tatiana Sangdeto dan dengarkan informasi dari wanita itu. Tidak tahu bagaimana caranya. Ia akan menunggu dihubungi atau didatangi karena mereka tak bisa bertemu secara terbuka.


Tanpa semua orang sadari Agathias Altair memproses semua informasi pada Tuan Maurizio. Diam-diam kirimkan drama yang sedang terjadi pada Tuan Maurizio. Archilles memang belum terbiasa. Ia jelas abaikan Agathias Altair.


"Raul, pertama-tama, Zefanya akan pulang. Lalu, aku akan kirimkanmu uang."


"Apakah kamu masih berpikir ini soal uang, Archilles?"


"Demi Tuhan, lepaskan Zefanya. Aku bisa menggugatmu, Raul. Kamu kehilangan hak atas Zefanya setelah kamu telantarkan Puterimu."


"Jangan balikan fakta. Kamu menculik Puteriku."


"Akhirnya kamu tetap akan kalah, Raul. Terlebih jika Tuan Maurizio Lucca membuka kembali kasus puteranya yang hilang. Aku akan mengemis nyawamu pada orang tuaku."


"Harusnya aku menyiksamu lebih keras."


"Jangan cemas, Raul. Kamu telah lakukan yang terbaik.


"Aku yakin kamu tahu sejak awal bahwa aku bukan Puteramu. Alasanmu terus kasar pada Martha Via dan menyerangku. Jika sangat inginkan Puteramu, mengapa kamu biarkan aku bersamamu, Raul? Orang tuaku kaya raya tetapi lihatlah apa yang aku dapat darimu? 24 tahun disia-siakan. Aku tak bisa benci padamu, karena bagaimanapun terima kasih telah menjadi ayahku selama 24 tahun. Menulis nasibku dengan tanganmu dan pisahkan aku dari Ibuku adalah penyiksaan terbesarmu untukku. Semoga ini menghiburmu."


"Kau bisa tanya pada Martha Via yang kau cintai sepenuh hatimu!" ejek Raul Lucca.


"Ambil uangmu. Please, pergilah dari sana sebelum Tuan Maurizio menemukanmu. Aku tak akan bisa menolongmu saat Ayahku bertindak."


"Kamu mulai andalkan ayahmu, ya?"


"Pada akhirnya aku keluar dari nasib burukku. Takdirku bersama Ayah kandungku telah dimulai. Aku tak ingin menyakitimu."


"Omong kosong!"


"Berhenti mengusik Zefanya. Aku tak masalah hidupi-mu sepanjang usiamu, Raul," bentak Archilles mulai hilang sabar. "Aku akan berkerja keras dan tetap menganggapmu bagian dariku. Kamu akan dapatkan uang, jaminan kehidupan dan apapun yang kamu inginkan. Asalkan, jangan ganggu kehidupan adikku. Bahkan di hari senjamu, jika aku masih hidup aku akan memperhatikanmu. Aku berjanji."


Elgio Durante bertindak cepat menelpon Abner Luiz setelah Archilles membuat kesepakatan dengan Raul Lucca.


Video call itu kini berpindah di layar televisi. Raul Lucca terang-terangan berupaya racuni pikiran Zefanya untuk ikut. Sayangnya, Zefanya adalah gadis tak mudah terpedaya. Memilih bersembunyi di belakang Ethan Sanchez. Jadikan, Ethan Sanchez tameng sempurna.


"Aku tahu apa tujuanmu, Raul."


"Zefanya, aku ayahmu. Siapa dia? Hanya orang asing."


"Raul, Ethan ini teman kakakku. Ethan juga kakak dari partner sparing-ku di sasana Taekwondo. Aku lebih percaya padanya dan akan ikut dengannya."


"Zefanya, tetap saja dia orang asing" bujuk Raul pelankan suaranya. Awasi Ethan Sanchez yang kelihatan tak akan mau digertak.


"Tidak, Raul. Kau bisa lihat ini!" Zefanya keluarkan dompet Teddy Bear cokelat berisi identitasnya lalu pamerkan sebuah foto berukuran 4x6 pada Raul di salah satu sisi.


Archilles melihat ke layar karena kamera Ethan Sanchez mengarah ke sana. Langsung saja menepuk jidatnya keras. Astaga. Terlebih cahaya muka Ethan Sanchez, menyipit.


"Apa itu?" tanya Elgio Durante. Kemudian berdecak. "Pesonamu memang memikat siapa saja dari balita hingga lansia, Ethan Sanchez."


"Tutup mulutmu, Elgio Durante!" balas Ethan masam.


"Kamu tak perlu menunggui Puteriku lahir. Antrian-mu panjang."


"Kamu, Brengsek! Aku akan jadi Sugar Daddy, Baby Cute, Puterimu. Aku telah menungguinya sejak dia di dalam kandungan Marya dan senang saat aku memilikinya nanti. Aku tak berjodoh dengan Ibunya juga adik ibunya. Aku akan sabar menunggu Puterinya."


"Tuhan tolong bungkam mulut Ethan Sanchez."


"Doamu tak terkabul, Elgio Durante. Turunkan saja restumu untukku dan puterimu."


Ethan Sanchez melipat tangan tatapi Zefanya Lucca. Berdecak. Setelah Arumi Chavez ada gadis konyol pemberani lainnya di galaksi ini. Berani sekali, bocah sepuluh tahun, menggandeng foto dirinya dengan latar merah seakan mereka sepasang kekasih hendak pergi mendaftar ke Kursus Pernikahan dan membuat akta nikah. Komunitas perlindungan anak yang mungkin kebetulan melihat apa yang sedang ditampilkan Zefanya akan jadikan dirinya tersangka pemangsa anak-anak.


Ethan Sanchez menengok ke layar pada Archilles. Matanya berkata; "Archilles Lucca, kita perlu bicara serius masalah ini!"


"Lihatkan? Ethan bukan orang asing bagiku. Seandainya kamu tidak menipuku tadi, aku akan percaya padamu." Zefanya buru-buru menyimpan dompet hati-hati seakan takut Raul Lucca merebut darinya. "Tolong pergilah! Jika ingin bawa aku, kamu perlu minta ijin pada Kakek - Nenekku. Bukankah itu aturannya?"


"Apakah kamu tak menganggapku, Ayahmu?"


"Terus terang saja. Jika Archilles tak memaksaku menganggapmu ayah kami, aku tak akan sudi. Aku hanya menganggap Archilles dan Kakek Zevas sebagai ayahku. Kenyataan ini mungkin menyakitimu, Raul. Tetapi, berhentilah coba bodohi aku."


"Kamu akan menyesalinya, Zefanya."


"Meskipun, kamu ayahku, kamu tak pernah besarkan aku dan tak pernah ada untukku. Kamu tak pernah ada di kehidupanku."


Pada akhirnya Abner Luiz datang bertemu Raul Lucca. Archilles bicara pada Zefanya.


"Ethan Sanchez akan antarkan kamu pulang."


"Sebenarnya aku bisa sendiri, Archilles. Aku rasa Raul berhenti bertingkah setelah dapatkan uang."


"Zefanya ..., betapa berharganya kamu bagiku, Sayang. Tolong sadari situasi ini."


"Em, baiklah. Berhenti gelisah."


"Ethan suka mengetuk kening setiap gadis terdekatnya jika mereka lakukan kesalahan."


"Aku bukan gadis 'terdekat' Ethan Sanchez. Apa salahku?" keluh Zefanya Lucca melirik lewati ponsel pada Ethan Sanchez yang tak berkedip menatapnya seolah ingin menyulapnya jadi tiang es.


"Pikirkan sepanjang perjalanan pulang ke rumah, Zefanya Lucca. Jangan coba-coba permalukan dirimu dan diriku!"


"Padahal tadi aku bilang bisa pulang sendiri. Naik bus."


Ethan Sanchez antarkan Zefanya pulang sedang Abner Luiz berikan sejumlah uang. Namun, di tengah perbincangan dengan Raul Lucca. Tiga orang dari otoritas keamanan hampiri keduanya. Bentangkan surat penangkapan. Tuan Maurizio melapor pada pihak berwenang untuk menahan Raul Lucca atas banyak tuduhan. Perdagangan manusia, penculikan dan pemerasan. Terlebih perbuatan tidak menyenangkan pada Putera dan Puterinya.


Archilles Lucca sandarkan kepala di sofa. Berusaha hubungi Tuan Maurizio tetapi Ayahnya mengabaikan. Mungkin ..., Tuan Maurizio tahu ia akan minta kebebasan Raul. Hanya menerima pesan.


"Archilles, Ayah tak bisa biarkan satu orangpun menyakitimu dan Zefanya. Menipumu selama bertahun-tahun adalah kejahatan serius dan tak termaafkan. Biarkan Tuan Raul Lucca di penjara sementara waktu."


Ini pertanda Ayahnya akan bertemu Raul Lucca. Tuan Maurizio mungkin akan buat kesepakatan.


Archilles kemudian hanya fokus pada Zefanya Lucca. Ia menunggu kabar adiknya sampai di rumah. Semoga Zefanya tidak berlaku ganjil hingga Ethan Sanchez kesal.


Pukul delapan menjelang malam di tempat Ethan Sanchez berpijak. Matahari memang menghilang lebih cepat karena mendung yang menutupi langit.


Ethan Sanchez antarkan Zefanya pulang ke rumah. Pegangi pergelangan tangan gadis kecil ketika turun dari motor tinggi. Mata Zefanya berbinar gembira.


"Habis hujan terbitlah pelangi!" ujar Zefanya saat Ethan Sanchez lepaskan helm tanpa sadar mengacak rambut sendiri dengan jemari panjang dan kurus. Tak lepas dari penglihatan Zefanya. Segera mendeteksi sebuah kebiasaan. Bukannya terlihat berantakan, ketampanan makhluk di depan berlipat ganda. Zefanya menganga.


"Kamu katakan sesuatu?"


Terkejut.


"Terima kasih telah antarkan aku pulang." Zefanya Lucca pastikan matanya menyimpan keajaiban untuk dikenang. Tak berkedip meskipun angin menyakiti.


"Aku akan pergi setelah pastikan kamu berada bersama kakek dan nenekmu." Ethan Sanchez turun dari motor, letakan helm di bagian depan motor dan turunkan resleting jaketnya sedikit.


Kepala Zefanya dipenuhi banyak kerlap kerlip bintang. Ethan Sanchez sadari itu. Mengangkat tangan hendak mengetuk kening Zefanya sebab ia pernah melihat hal beginian ketika Arumi Chavez jatuh cinta padanya. Menjengkelkan.


Namun, di depannya adalah Zefanya Lucca. Membungkuk cepat dalam satu gerakan dan memukul tangan Ethan Sanchez keras hingga Ethan yang tak duga terima perlawanan tak buat antisipasi. Tangannya lumayan sakit.


Padahal kalau dipikir-pikir. Bagaimana bisa otak kiri dan kanan Zefanya berfungsi dengan sangat bagus? Koordinasi gerakan yang cerdik.


"Berapa usiamu, Zefanya?"


"10 tahun."


"Apa cita-citamu?"


"Aku ingin seperti Arumi Chavez."


"Artis?"


"Ya. Tetapi, Archilles bilang kehidupan artis cukup rumit. Tak ada privasi dan bikin tertekan. Terlebih jaman sekarang seseorang bisa membuat seribu akun palsu untuk menyerangmu di sosial media. Aku mungkin tidak akan sanggup. Aku memilih, dokter."


"Pintar. Nah, kemari lebih dekat!"


"Mengapa?" Zefanya siaga.


"Apa yang kamu lakukan dengan fotoku? Apa kamu pikir aku akan tinggal diam, Bocah?" bentak Ethan Sanchez tanpa senyuman langsung ke masalah inti.


"Oh, maafkan aku kalau-kalau kamu tidak nyaman. Tolong abaikan aku." Bukannya takut Zefanya malah kebodoh-bodohan.


"Kembalikan fotoku! Aku bisa dituntut komisi perlindungan anak dan perempuan karena seorang bocah 10 tahun yang kelebihan fanatik padaku."


Zefanya menggeleng. "Aku hanya menunjukan pada Raul untuk meyakinkannya. Lagipula, kamu telah berikan padaku adalah hakku sekarang. Entah poster atau foto pas. Poster-mu aku gantung di kamarku."


"Apakah kamu menaruh rumus di dalamnya?"


"Oh ya Tuhan," keluh Ethan Sanchez. " Gavy punya banyak poster Kang Lim Choi dan Rion Raymond di kamarnya. Kamu bisa dapatkan satu atau dua darinya."


"Seperti pernah dengar." Zefanya berpikir keras.


"Kamu tidak menonton kartun?"


"Tidak. Oh ya, beberapa teman-temanku menonton serial itu di YouTube."


"Kartun cocok, sesuai usiamu."


Zefanya tertawa geli.


"Aku rasa kartun terlalu kekanak-kanakan. Mereka sangat konyol, tolonglah. Aku tidak percaya penggunaan istilah energi negatif untuk gambarkan keberadaan makhluk halus. Sedang, dunia sains secara jelas deskripsikan energi sebagai ukuran kemampuan dalam melakukan kerja, satuan Joule. Kecuali mereka punya definisi lain soal energi. Hantu juga bukan materi yang menempati ruang dan memiliki masa? Sedang alam semesta hanya tersusun dari materi dan energi. Apakah kamu bisa jelaskan padaku partikel penyusun makhluk halus? Aku akan percaya padamu dan mengganti poster-mu dengan poster pemeran serial itu!"


Ethan Sanchez benar-benar takjub. Dandia juga Gavy pintar dalam pelajaran mereka, terpandai di kelas bahkan generasi masing-masing, tetapi Zefanya Lucca sangat berbeda. Bagaimana bisa sangat kompleks padahal konteks yang mereka bahas adalah tontonan Gavy yang cuma hiburan semata. Ethan sendiri tak pernah menganggap serial-serial itu konyol sampai Zefanya utarakan buah pemikirannya sendiri.


"Apa kamu berada di perkumpulan sains?" Ethan Sanchez seolah sedang bercakap dengan Marya Corazon, Reinha Durante dan Sarah Jessica. Bukan bicara pada bocah sepuluh tahun.


"Tidak. Aku membentuk geng."


"Geng?" tanya Ethan Sanchez tak mengerti mengapa ia tertarik dengarkan celotehan seorang bocah. Terlebih bangga jadi ketua geng.


Astaga.


"Em, Archilles berpikir geng kami untuk bully atau sejenisnya."


Ethan Sanchez lekas tertampar karena makna negatif kata itu.


"Kami membahas dan kerjakan hal menarik berhubungan dengan bakat dan prestasi. Aku ketua geng."


"Setelah jam sekolah selesai?"


Zefanya Lucca kegirangan karena Ethan Sanchez tampak tertarik mengobrol.


"Tidak, cuma di waktu istirahat. Aku bekerja di minimarket kami setelah pulang sekolah. Ngomong-ngomong soal idola, idolaku sangat nyata bukan Spiderman, Superman atau Batman apalagi sekelas kartun. Bagiku, hanya pemabuk yang menonton aksi mereka karena ingin punya kekuatan. Ingin keren."


"Secara tidak langsung ada pesan moral yang disampaikan dari setiap tayangan."


"Apa mengubah dunia? Peperangan terjadi di mana-mana."


"Saat kamu jadi artis, kamu akan jadi bagian dari sebuah penyiaran dengan pesan-pesan tertentu."


"Aku menyukai bidang ini karena aku penggemar Taehyung dan Nona Arumi Chavez hingga ingin seperti mereka. Sesuatu yang lebih real."


"Lalu, mengapa minta fotoku?"


"Ini pertanyaan yang cukup sulit. Archilles mendukungku. Katanya, kamu sempurna untuk jadi panutan."


Ethan Sanchez terdiam. Zefanya menyuruhnya simpulkan sesuatu dari tiga kalimat pernyataan.


"Well, itu berarti tidak ada rumus apapun di posterku?" Ethan mengangguk ke arah rumah menyuruh Zefanya masuk. Ia menggiring Zefanya ke arah rumah setelah gerbang di buka oleh Zefanya.


"Aku menguasai rumus besaran pokok, turunan, energi potensial dan panjang gelombang. Berada di luar kepalaku, mengapa aku harus menodai wajah seseorang dengan rumus mengganggu?"


Pelajaran sekolah dasar belum pergi ke sana. Zefanya telah menunjukan kelasnya. Bukan sembarang bocah.


"Kamu tidak akan berpikiran macam-macam dengan fotoku."


"Apakah adikmu menaruh harapan dan khayalan yang tidak-tidak pada poster Kang Lim dan Rion?"


Ethan Sanchez mudah terjebak. Ini pertama kali ia merasa bodoh hadapi seseorang. Dan itu gadis sepuluh tahun ini.


"Saat melihat postermu aku hanya kagumi betapa sempurna Tuhan menciptakanmu. Hanya itu. Memangnya apa yang anak sepuluh tahun pikirkan ketika menatap poster idola mereka?"


"Kebanyakan kasus ..., mereka mulai berimajinasi seperti bertemu sampai menikahi idola mereka."


Wajah Zefanya Lucca memerah. Beruntung pintu rumah terbuka. Grenny segera memeluk Zefanya.


"Oh Sayangku. Zevas! Zevas! Dia kembali! Oh Tuhan, aku akan mati jika kamu sampai pergi tinggalkan aku, Zefanya." Lucia mulai meneteskan air mata.


"Aku baik-baik saja." Zefanya tenangkan neneknya. Beralih ke pelukan kakeknya. Lalu, semua orang sadari kehadiran Ethan Sanchez.


"Mari masuk, Nak. Terima kasih telah antarkan Zefanya."


"Maafkan aku tidak sopan. Adikku masih di sanggar, aku harus kembali menjemputnya. Sebelumnya, ijinkan aku mengambil foto untuk dikirimkan ke Archilles."


"Wajahmu seperti tak asing." Lucia mengerut.


Ethan Sanchez mulai mengambil gambar. Dua tiga.


"Ya, aku teman Archilles. Fotoku ada di kamar cucu Anda."


"Ya ya ya, oh ya Tuhan. Zefanya? Bukankah pria ini ada di kamarmu?" Lucia mengusap air mata di wajah. Kesedihan mudah sirna. "Aku bertanya, aktor tampan siapa ini? Apakah pemain telenovela atau drama? Atau film apa? Iklan apa? Ini pertama kali aku melihat seorang pria lebih tampan dari Archilles Lucca, cucuku."


Nenek Archilles hanya belum pernah bertemu Elgio Durante yang licin klimis seperti ksatria dan Lucky Luciano yang saat tersenyum bisa rontokan jantung wanita. M3nd3s4h.


"Aku hanya pelayan di sebuah kafe."


"Ya Tuhan, rendah hati membuatnya semakin tampan saja. Di kafe mana?" Lucia sangat antusias. Berbinar-binar. Zefanya dan Kakek Zevas bertukar pandang.


"Lucia?"


"Oh nanti saja, aku akan bertanya pada Archilles." Lucia segera sadari semangatnya.


"Apakah aku terlihat jelas?" tanya Zefanya melongok pada ponsel Ethan Sanchez.


"Aku kirimkan pada Archilles sekarang!"


"Oh, bisakah ke ponselku juga?" tanya Zefanya Lucca melihat kesempatan dalam kesempitan.


Ethan Sanchez selidiki maksud Zefanya tetapi bocah di depan pasang tampang kepolosan terhakiki.


"Ada satu yang bagus, foto kami bertiga. Aku akan menyimpannya sebagai kenangan." Zefanya tahu cara meyakinkan orang lain.


Ethan Sanchez sodorkan ponsel pada Zefanya. Yang langsung diambil dan gadis itu mengetik nomernya, namanya.


Zefanya Lucca.


Hapus.


Kontak dengan inisial Z itu paling akhir. Namanya di daftar absensi penutup nama siswa.


Edit.


AaZefanya Lucca.


Bocah sepuluh tahun menahan senyuman di wajahnya agar Ethan Sanchez tidak curiga. Ia ada di daftar teratas dalam kontak Ethan Sanchez. Mengirim foto. Kembalikan ponsel pada Ethan Sanchez.


"Terima kasih."


"Belajar yang rajin Zefanya dan lupakan hal lain."


"Ya, baiklah. Semoga kita bisa bertemu lagi."


"Aku harus pergi," sahut Ethan Sanchez sebagai ganti. "Jangan terlalu berharap!"


"Sayang sekali, harusnya kamu masuk dan duduk dengan nyaman. Aku akan hidangkan minuman dan camilan."


"Maafkan aku. Selamat tinggal."


Ethan Sanchez pamitan dan berlalu. Sebuah sedan berhenti di depan rumah dan dua orang pria turun dari sana.


"Siapa kalian?" tanya Ethan Sanchez menutup pintu gerbang.


"Tuan Maurizio Lucca mengirim kami kemari untuk Keluarga Zevas."


Penampilan mereka ingatkan Ethan Sanchez saat pertama kali bertemu Archilles Lucca sewaktu jadi pengawal Arumi Chavez. Ia memakai helm dan memutar motor. Menoleh sebentar dapati Zefanya Lucca melambai, tersenyum selebar model pasta gigi.


Oh, astaga.


***


Ini karena panjang bet Chapternya aku cut jadi dua. Sekarang tergantung review pihak NT. Aku akan merilis chapter-chapter inti My Guardian Angel dalam Minggu ini. Ugh.


Tinggalkan vote, komentar atau apapun yang mendukungku.


Aku mencintai kalian semua.