My Guardian Angel (The Dust of Love)

My Guardian Angel (The Dust of Love)
Chapter 44. Not Perfect Girl



"Arumi ..., mau beritahu aku." Mengambil napas dalam-dalam hembuskan perlahan. "Mengapa keningmu lebam. Mengapa matamu bengkak?"


Ethan Sanchez bertanya pelan. Belakangan wajah Arumi Chavez mudah sekali membiru.


"Aku menabrak kaca di ruang cuci."


"Menabrak kaca?" Ethan naikan satu alisnya.


"Ya, kacanya terlalu bening." Arumi Chavez tak bisa kelabui Ethan Sanchez yang selalu spesifik perhatikan dirinya.


"Apa mungkin matamu alami gangguan?" tanya Ethan lagi memeriksa lebih dekat. "Ada apa dengan matamu?"


Arumi Chavez hindari jemari Ethan Sanchez yang menyentuh dagunya. Ia menggeleng.


"Apa karena sikap Ibuku semalam?" tebak Ethan Sanchez merendah. "Arumi ... maafkan aku. Dandia beritahu aku semuanya termasuk di rumah sakit."


Arumi Chavez menggeleng. "Maafkan aku, Ethan. Bukan itu, masalahku. Sungguh. Aku maklumi sikap Nyonya Sanchez padaku. Tak ada yang salah." Menjurus pada yakinkan diri sendiri.


"Lalu?


"Archilles akan pergi. Aku bersedih sepanjang malam." Arumi akui terus terang.


"Pergi?" tanya Ethan lagi. Sekilas ada cemburu di mata tajamnya. Namun, Arumi Chavez memang sangat dekat dengan Archilles Lucca. Saking dekatnya, Archilles Lucca mampu kondisikan semua rupa suasana hati Arumi. Sesuatu yang harus diakui Ethan tak sanggup ia lakukan karena ia kadang tak bisa selami pemikiran Arumi. Pernah tempatkan diri di posisi Arumi dan ikuti jalan pikirannya, Ethan temukan dirinya tak paham apapun.


Kalau boleh objektif, Arumi Chavez adalah karakter paling cacat yang pernah ditemui Ethan Sanchez. Mengapa?


Sahabat Ethan Sanchez adalah Claire Luciano, Reinha Durante, Marya Corazon. Kasta gadis-gadis pintar, masuk dalam peringkat lima besar di kelas. Abram Hartley yang meskipun tidak masuk 10 besar, termasuk golongan cerdas. Adiknya Dandia dan Gavriel berpredikat jenius di sekolah mereka masing-masing. Murid-murid private-nya tak pernah dijumpai seperti Arumi. Gadis ini ..., langka.


Berbanding terbalik dengan Marya Corazon yang bersinar bak mentari kendati harus menyipit agar bisa melihat kilaunya, Arumi Chavez adalah Pluto. Nun jauh dari jangkauan, bukan keluarga 8 planet lain. Pluto hanya terdiri dari kumpulan batu dan es, tidak memenuhi standar ilmuwan untuk disebut planet. Namun, Pluto yang setengah matang ini adalah objek paling unik di tata surya karena tetap berada dalam orbitnya.


Pluto adalah karakter ceria yang punya sejuta rahasia dan misteri. Apakah kamu bisa pahami Pluto dengan baik? Mungkin bisa jika kita pelajari secara khusus. Pluto sepertinya miliki banyak detil dan suka bikin orang penasaran. Tak akan mudah. Sama halnya Arumi Chavez.


"Maksudmu ..., Archilles berhenti jadi pengawalmu?"


"Ya."


"Apakah kontraknya tidak diperbarui?"


"Tidak. Archilles mengundurkan diri."


"Pasti ada sebabnya?"


"Tanpa sebab," sanggah Arumi Chavez lesu.


Semalam mereka putus Arumi bersedih bahkan menangis tetapi tak se-ekspresif detik, di mana gadis ini beritakan akan kehilangan Archilles Lucca. Mata-mata Arumi Chavez tampak redup dan ling lung.


Ethan Sanchez letakan setumpuk tinggi respek pada Archilles Lucca. Pria itu tampak tidak bekerja demi uang. Archilles Lucca rela korbankan nyawanya agar seseorang tak merusak reputasi Arumi. Archilles nyaris mati tertembak demi Arumi Chavez yang Ethan yakini hingga saat ia bicara dengan Arumi, gadis ini tak tahu masalah videonya yang hampir bocor. Kini, Archilles akan pergi, Ethan melihat raut gundah gulana Arumi Chavez. Apakah ... Arumi akan begini ketika ia keluar negeri nanti?


"Baiklah, lihat aku!" kata Ethan Sanchez. "Kamu tak bisa paksakan seseorang tinggal di sampingmu selamanya. Hormati keputusan Archilles. Semuanya akan baik-baik saja." Mengusap kepala Arumi pelan, memeluk Arumi dan menepuk bahu Arumi sambil melangkah ke kelas.


Siswa lain lalu-lalang di sekitar mereka. Tak lolos dari pengamatan. Ethan Sanchez tak peduli. Beberapa siswi jelas-jelas cemburu.


Lonceng tanda masuk berbunyi. Mereka akan berpisah di depan kelas Arumi. Norah Milan menghampiri.


"Ethan, kita akan rapat dalam lima menit. Mau pergi bersama?"


"Aku menyusul, Norah."


Ethan menjawab tanpa menoleh, jelas mengusir Norah Millan. Ia kemudian kembali pada Arumi.


"Pergilah Ethan," kata Arumi Chavez. "Maaf buatmu cemas."


Ethan menggeleng. "Tidak, Arumi. Fokus di pelajaran-mu dan kita bertemu nanti di jam makan siang. Okay?"


Arumi Chavez mengangguk. Ethan Sanchez akan lanjutkan langkahnya.


"Ethan Sanchez ...," panggil salah satu teman kelas Arumi, ketua kelas, Fernanda Miller. "Apakah kamu akan ke ruang OSIS?"


"Ya, Fernanda," angguk Ethan Sanchez. Mata Ethan awasi Arumi yang masuk ke dalam kelas sempat berpaling padanya dan tersenyum kuyu.


"Mari pergi bersama. Ada sesuatu yang perlu aku tanyakan padamu. Ini tentang permintaan Uncle Allain padaku."


"Tuan Allain Miller?"


"Ya. Tuan Allain, Pamanku."


"Aku tak tahu sampai kamu beritahu aku," sahut Ethan Sanchez.


"Santai saja denganku, Ethan."


Fernanda Miller berikan kode pada gadis di belakangnya Eve, agar menjauh. Arumi Chavez duduk di bangku. Ekor mata menangkap bayangan Fernanda Miller melangkah ringan di sisi Ethan dan Eve Jhoel menyusul dari belakang, menjaga jarak, menuju ruang OSIS.


Akan diadakan pemilihan ketua OSIS untuk masa bakti baru dan beberapa agenda yang akan dilaksanakan beberapa hari lagi. Sayangnya, Arumi akan berada di Paris.


"Tampaknya Norah dapatkan dukungan penuh dari Ethan Sanchez." Beberapa teman cewek di kelas suka panas-panasi Arumi Chavez.


"Mereka cocok bersama."


Arumi Chavez tak akan ambil pusing dan memilih terus belajar.


Jam pelajaran berjalan dua kali lebih lambat. Arumi Chavez konsentrasi penuh. Ada post tes di akhir materi. Lumayan bikin pening. Akhirnya berjalan baik meski Arumi tak begitu bisa kerjakan soal.


Emilio Chan sengaja jatuhkan kertas berisi jawaban yang benar di sisi Arumi. Tetapi, abaikan sepenuhnya. Arumi paling akhir kumpulkan pekerjaan dan pergi dari kelas. Berjalan cepat menuju toilet sekolah. Masuk ke salah satu bilik.


Tak berapa lama berselang beberapa siswi masuk, mengunci pintu utama. Bunyi pembuka kloset, air keran. Berakhir. Berkumpul depan westafel. Keran air menyala.


"Arumi Chavez selalu ketinggalan saat post test, try out, apalagi ujian." Salah seorang siswi berbicara.


"Aku tak pernah lihat gadis sebodoh dirinya."


"Ya, kamu benar. Arumi Chavez merusak reputasi kelas kita," timpal yang lainnya.


"Harusnya Arumi Chavez ada di sekolah khusus orang-orang keterbelakangan."


Menghela napas panjang, hembuskan perlahan. Dulu, Ethan pernah katakan hal yang sama. Arumi Chavez menguping percakapan itu. Kenali dua suara di antara mereka, adalah teman sekelasnya, Fernanda Miller dan Eve Jhoel. Sisanya ia tak kenal. Atau mereka semua teman sekelasnya.


Mungkin hanya, Fernanda, Eve dan Emilio yang Arumi tahu nama mereka. Itu karena Fernanda adalah ketua kelas, termasuk dalam tiga besar berprestasi bagus dan Evelyn Jhoel berada di peringkat pertama.


"Mengapa Ethan Sanchez buang-buang waktu pacaran dengan Arumi Chavez? Apa aku perlu jadi gadis bodoh untuk menarik perhatian Ethan Sanchez?" Fernanda Miller bicara.


"Aku tak percaya Arumi Chavez singkirkan gadis-gadis terbaik di sekolah kita. Satu - satunya kehebatan Arumi Chavez adalah kecantikannya."


"Bu11**1*, aku jauh lebih cantik."


"Lalu ..., mengapa Ethan Sanchez tak menengok padamu?" tanya yang lain disambut cekikikan.


"Jangan buatku kesal! Keluar sana!" Fernanda mengusir teman-temannya pergi.


"Tampak iri hati pada Arumi Chavez!" Eve masih tersisa. "Lupakan Arumi Chavez, bagaimana dengan Julian Moreno?"


"Kami berkencan semalam. Pergi ke flatnya dan sedikit bersenang-senang."


Dalam kotak sempit terselip nada seakan hal biasa. Padahal, Fernanda Miller cukup populer di kelasnya sebagai gadis-gadis pintar, berkelakuan baik karena berasal dari keluarga berada.


"Oh my ghost, jangan bilang kamu tidur dengan Julian? Pria itu playboy kelas ikan paus."


Arumi bayangkan mulut Evelyn Jhoel menganga lebar.


"Tidak, belum," sahut Fernanda santai. "Apakah pas di bibirku?" tanya Fernanda Miller minta pendapat. Sepertinya memoles lipglos. Fernanda selalu menjaga tampilannya.


"Ya, aku muak pada kelakuannya. Norah mengambil hampir seluruh perhatian Ethan Sanchez. Mengapa banyak sekali gadis tak tahu diri, ya? Apa perlu kita bongkar rahasianya?"


"Jangan bercanda, Fernanda. Kamu tahu, Norah tidak akan tinggal diam."


"Masa bodoh dengannya. Keluargaku lebih berkuasa dari keluarganya."


"Mungkin ..., tetapi kelurgamu tidak selalu di pihakmu. Tidak sesolid keluarga Norah Milan."


"Aku tahu cara kendalikan Norah Milan."


"Urus dirimu sendiri, Sayang."


Hening. Jadi, gadis-gadis populer di sekolah ini punya banyak rahasia gelap juga?


"Aku rasa warnanya terlalu pucat," keluh Fernanda Miller.


"Tidak. Kamu cantik pakai apa saja," sahut Eve meyakinkan temannya. "Eh apa itu, Fernanda Miller?"


"Apa?!"


"Bekas merah di lehermu. Jangan pura-pura bodoh!"


"Tutup saja mulutmu, b---h!"


"Kamu payah, Fernanda!"


"Kami akan begituan, tiba-tiba saja, Uncle Allain menelpon, menyuruhku bekerja di kafe tiap akhir pekan. Ibuku adukan-ku pada Uncle Allain gara-gara aku pulang pagi dari club. Kamu tahu ..., aku sanggupi segenap hati karena manager kafe adalah Ethan Sanchez. Aku langsung kehilangan selera pada Julian dan menendangnya sebelum tangannya kelayapan."


"Benar-benar menang lotre. Kamu punya rencana?"


"Banyak. Aku akan merayu Ethan Sanchez," bisik Fernanda Miller excited. Tak cukup pelan. Sampai di kuping Arumi Chavez. Menggeram.


Eve tertawa sinis. "Berhenti berhalusinasi, Fernanda Sayang! Ethan Sanchez bukan tipe-tipe pria yang akan lebarkan mata dan mulutnya saat kamu lepaskan kancing bajumu."


"Kamu remehkan aku, Eve!"


"Aku tak ragukan-mu. Hanya saja-"


"Kamu tak akan tahu sampai kamu mencobanya," potong Fernanda Miller cepat. "Ethan hanya sibuk pada gadis terbodoh di dunia ini hingga tak melihat ada gadis lain lebih berkualitas dari Arumi Chavez. Mari bawa Ethan Sanchez keluar dari kegelapan. Ada banyak terang. Lihat saja nanti!"


"Mari taruhan!"


"Menarik!"


"Unggah fotomu berciuman dengan Ethan Sanchez di sosial media. Aku akan jadi budak-mu!"


"Eve, anggap saja aku telah menang taruhan!"


Arumi Chavez berdecak dari dalam toilet, mengikat rambut panjangnya serapi mungkin lalu selipkan kebalik jas sekolah. Mengata - ngatainya bodoh bisa diterima, faktanya ia memang tak pandai. Namun, berani sekali perempuan s24l4n ini berniat merayu Ethan Sanchez.


Pintu bilik toilet terbuka, Arumi Chavez berdiri di ambang hingga Fernanda Miller dan Eve Jhoel terbelalak kaget. Tak bayangkan obrolan mereka didengar langsung yang bersangkutan.


"A ... Ru ... Mi Chavez?!" Terbata-bata. Berharap Arumi Chavez tuli. Tidak mungkin, Arumi Chavez hanya bodoh dan idiot, panca indera dan indera keenamnya baik-baik saja.


Abaikan keduanya Arumi Chavez melangkah ringan menuju westafel, nyalakan keran air. Jasnya digulung mencapai siku. Ia kemudian mencuci tangannya.


"A ... ru ... mi ...." Fernanda baru akan buka mulut berikan penjelasan, tangan Arumi mengembang penuh. Ia menampar wajah Fernanda sekuat tenaga.


Plak!!!


Fernanda terdorong, terkejut, menatap Arumi tidak percaya akan terima perlakuan kasar. Arumi Chavez tampak lemah. Baru saja protes, tamparan kedua kali melayang lebih cepat.


"Arumi?!" Eve Jhoel maju hendak membela Fernanda. Arumi Chavez lebih dulu menarik dasi Eve kuat, benturkan kepala Eve ke tembok lalu mendorong Eve hingga jatuh menabrak pintu.


Arumi melongo. Heran sendiri sejak kapan ia pandai memukul orang. Ia mirip Aunty Sunny.


Beberapa siswi di luar mendengar keributan, masuk ke dalam hanya dibuat tercengang. Bukannya hentikan Arumi malah sibuk merekam kejadian.


"Apa masalahmu, Arumi Chavez? Lepaskan aku! Kau banyak bertingkah karena kakakmu ada di sini!" jerit Fernanda melawan. Menjambak rambut Arumi sayangnya tak cukup untuk pegangan.


"Oh ya?" desis Arumi Chavez murka karena Fernanda tampak menyudutkannya. Gadis ini ternyata sangat jahat.


Arumi Chavez balas menggenggam rambut kehitaman, mereka jambak-jambakan, berputar-putar.


Bruk!


Brak!


Tubuh-tubuh bergantian menubruk pintu bilik toilet. Arumi Chavez kemudian menyandera kepala Fernanda. Ia menyeret Fernanda yang lebih kecil darinya dan menghalau gadis itu ke bilik toilet. Eve coba menarik Arumi, tetapi gadis yang sedang marah kerahkan kekuatan penuh. Menendang Eve menjauh. Hanya tendangan pelan, tetapi sangat berhasil taklukan Eve.


Tutupan closet dibuka, Arumi Chavez menendang kaki Fernanda hingga bertekuk lutut dan keluarkan seluruh energi tundukan kepala Fernanda ke dalam closet. Fernanda meronta-ronta, tangannya menahan tubuhnya. Arumi temukan cara, separuh bungkuk menahan kepala Fernanda agar tak bisa kemana-mana. Fernanda menyerah hingga masuk ke lubang toilet.


"Sebelum kau menggoda Ethan Sanchez, ada baiknya kau segarkan otak pintar-mu di dalam sini, Sayang," ujar Arumi Chavez makan hati. "Kau lihat mereka? Tampak steril bukan? Tetapi mereka penuh bakteri, sama sepertimu. Otakmu bahkan lebih kotor dari dinding toilet." Arumi Chavez bicara cepat oleh amarah.


"Lepaskan dia, Arumi!" Eve merangkak, bangkit dan memeluk erat pinggang Arumi berusaha hentikan tindakan Arumi. "Kamu gila, Arumi! Kamu bisa membunuhnya!"


"Singkirkan tanganmu dariku, Evelyn. Kau selanjutnya!"


Arumi Chavez baru berhenti lima menit kemudian saat seseorang berseru nyaring.


"Ada apa di sini?"


Pak Guru Wilbert, guru olahraga separuh memaksa Arumi keluar dari bilik toilet sedang Fernanda muntah-muntah di sana.


Oaaaakk! Oaaaakk!


Beberapa siswi malah ikutan muntah-muntah. Fernanda Miller bersumpah serapah.


"Kau hanya sampah, Arumi Chavez. Semua orang tahu apa yang kamu lakukan? Kamu hanya manusia bodoh, idiot, bebal."


Oaaaakkkkk!!! Oaaakkkk!!!


"Aku akan balas perbuatanmu suatu waktu. Aku bersumpah!"


Ooooooaaaakkkk!!!


"Tunggu kapan? Sekarang saja, huh? Lakukan saja! Kemari kau biar aku cincang mulut busukmu," balas Arumi Chavez berontak hendak lepaskan diri dari pegangan Pak Guru. Ia ingin menghajar Fernanda lagi. Napas Arumi ngos-ngosan. Kemarahan membakar habis dirinya tanpa sisa sehingga ia ingin ledakan kepala Fernanda.


"Hentikan!" hardik Pak Guru Wilbert. "Fernanda Miller, Eve Jhoel, ikut aku menghadap ke ruangan kepala sekolah sekarang!"


Pak Guru Wilbert pegangi lengan Arumi Chavez menyeretnya keluar dari toilet room. Sedang Eve menopang Fernanda di belakang.


"Jika ada yang berani sebarkan video kejadian ini,aku akan menghukum tegas!" tegur Pak Wilbert keras.


Melangkah di sepanjang koridor jadi tontonan anak-anak. Terlebih, video diterbitkan dengan judul perundungan Arumi Chavez pada teman sekelasnya beredar lebih cepat dari sambaran kilat. Peringatan Pak Wilbert tak membuat para siswi yang anti Arumi Chavez takut.


Fernanda Miller tak tahan mual juga hinaan, tak pernah bayangkan dalam hidupnya akan dipaksa mencium toilet. Fernanda pingsan sebelum mencapai ruang kepala sekolah.


***


Terima kasih untuk cinta kalian pada karya ini.


Seperti kata Ethan Sanchez Arumi Chavez adalah satu-satunya karakter cacat dalam karyaku. Silahkan baca sinopsis. Dia hanya gadis bodoh yang praktis, cenderung tak gunakan logika. Oleh sebab itu dia dikatai konyol, idiot, bodoh. Jangan harapkan kewajaran dari tingkahnya. Atau berharap dia sempurna. It's not me anymore, Sayang. Gadis ini banyak drama dan karakternya sangat susah dibangun ke dalam kata, you know, jauh lebih mudah bikin karakter macam Reinha Durante, Anna Marylin, Marya Corazon hingga Irishak Bella atau Queena.