
Para guru biasanya berada di ruang makan terpisah dari para murid. Archilles Lucca mencoba sesuatu berbeda. Ia perlu pelajari sifat murid. Salah satu cara adalah berada sedekat mungkin di kantin bersama mereka.
Meja penuh terisi kecuali beberapa memang kosong di tepi ruangan. Tak ada siswa duduk sendiri. Pertanda jiwa sosial mereka bagus. Atau ada yang lebih gelap dari itu, misalnya satu meja terhitung satu geng.
Di sekolah Nona Arumi, gadisnya selalu bersama kakak perempuan dan teman-temannya di jam makan siang. Dulu, selalu menyepi berduaan bersama mantan pacarnya, Ethan Sanchez.
Archilles ingin tahu kabar gadisnya atau hanya sekedar mendengar suaranya.
Tidak, jangan! Bertahanlah!
Menjadi lebih rumit karena terkadang ia sangat ingin melihat gadis itu. Ia hanya sedang jatuh cinta.
Seseorang sangat berani menyenggolnya dari belakang segera hentikan semua lamunan. Ia spontan menoleh, temukan Eva Romero sedang mengawasinya.
"Apakah di ruang guru, Anda hanya dikasih sup tepung jagung, Sir?" tanya Eva seolah-olah mereka sangat dekat untuk diajak mengobrol.
"Aku tertarik pada makanan muridku," sahut Archilles Lucca kembali berpaling ke depan, mengantri di meja prasmanan mengambil makanan.
"Ini pertama kalinya aku makan di sini. Karena aku bersemangat wali kelasku bergabung," kata Eva Romero mengambil piring, terdengar seakan sedang menggodanya.
Lantas lekas berhenti genit saat Manuel Cesar berdiri tepat di belakang Eva setelah para siswa lain bukakan jalan biarkan pria itu pergi ke depan.
"Ehem ...." Cesar berdehem hingga Eva buru-buru berubah sikap.
"Nikmati makananmu, Eva!"
Archilles memilih duduk di meja paling sudut. Kedatangannya menarik perhatian murid. Mereka memulai berbisik mengenai hal tidak biasa ini diikuti kepala-kepala berpaling padanya.
Lalu, Beltran Domingo lebih menarik atensi ketika pria itu menggiring pacarnya, Beatriz Ivanov berbaris untuk plates makan siang mereka. Tanpa banyak bicara. Tetapi, tangan yang saling menggenggam di belakang tubuh Beatriz juga gestur keduanya seakan tak ingin beri jarak, beritahu semua orang bahwa mereka sedang pacaran.
Kedua remaja mendekati meja Archilles.
"Sir, Anda di sini?" tegur Beltran sopan. "Bolehkah kami duduk bersamamu?" tanyanya lagi.
"Ya, Beltran. Silahkan. Beatriz ...."
"Terima kasih, Sir," jawab Beatriz kembangkan senyuman.
Dua meja dari mereka, Manuel Cesar mainkan sesuatu di tangan, duduk dengan posisi angkuh. Mata tak lepas awasi Beltran dan Beatriz. Meja Cesar kemudian terisi penuh. Makanan tak begitu menarik perhatian. Hanya terus terpaku pada Beltran dan Beatriz. Cesar bahkan tak berpaling ketika Eva Romero mengajak bicara.
Manuel Cesar mendadak bangkit tinggalkan meja juga teman-temannya. Ia datangi meja mereka.
"Aku akan duduk di sini," kata Cesar langsung ambil tempat tepat di sisi Archilles menghadap Beltran dan Beatrix tanpa menunggu persetujuan pihak lain. Beltran tak setuju tetapi tak menentang.
"Silahkan Cesar," kata Archilles. "Apakah tempat ini milik seseorang?" tanya Archilles Lucca.
"No, Sir," jawab Cesar menatap Beatriz.
"Tak ada gap seperti itu dalam kantin sekolah, Sir. Terlebih untuk school meal. Hanya saja, beberapa orang sangat ingin menguasai wilayah tertentu. Cenderung memaksa. Mereka tak paham bahwa pembentukan kasta tidak boleh terjadi di lingkungan pendidikan."
Saat bicara Beltran sama sekali tidak menengok pada Cesar. Namun, Cesar segera menyeringai tipis.
"Mereka bisa lakukan hal-hal brutal di gedung tak terpakai di kota ini. Hak mereka. Di sekolah ..., bukankah sangat kekanakan bertingkah egois? Lalu, apakah kita bisa menyebut sekolah sebagai lembaga pendidikan jika individu di dalamnya hanya berisi jiwa buas yang tak mau dijejali ilmu pengetahuan? Tak paham etika. Anda bisa bebas karena mungkin bangunan ini milik Anda. Tetapi, realistis sedikit. Tempat ini ingin hasilkan alumni hebat bukan bajingan."
Gigi-gigi Cesar saling beradu kini. Beltran jelas sedang menampar Cesar.
"Lebih menarik membuat kesimpulan sendiri," balas Cesar menarik piringnya.
Beltran tersenyum sinis. "Apa menu makan siangmu, Tuan Manuel Cesar?" Menatap piring Cesar. "Hamburger, kentang goreng, lobak panggang?!"
"Anda punya dua mata yang berfungsi bagus, Tuan Beltran Domingo!"
"Ya. Ada satu menu tambahan di situ," angguk Beltran pada Cesar. "Dua-tiga potong omong kosong disirami serbuk kebenaran dari redaksimu sendiri."
Keduanya berbagi tatapan tidak sehat, Archilles menghela napas panjang. Sesuatu terjadi di antara mereka sisakan dendam, duga Archilles sebelum Cesar sering mengganggu Beltran. Itu tercium jelas.
"Kamu pasti sangat kesal masalah tadi pagi." Cesar merasa menang nikmati menatap Beatriz.
"Awalnya. Tetapi, kesalku terbayar lunas melihatmu terpasung di kursi, jadi bahan tertawaan satu sekolah. Bagaimana rasanya?" Beltran tertawa kecil, sinis. "Selamat, akhirnya ada yang akan membungkammu."
"Kamu bisa bersenang hari ini, tidak besok lusa." Cesar mainkan senduk makan, menatap Beatriz dengan keinginan memiliki sangat besar cukup buat Beltran gerah.
"Cesar, gadis ini ..., pacarku."
"Aku tahu. Itulah mengapa segalanya jadi menarik."
"Ya, kamu benar. Sia-sia aku bicara padamu. Kamu tak bisa menghormati dan menghargai hubungan apapun. Entah itu pertemanan, percintaan mungkin juga kasih sayang dengan keluargamu. Kamu hanya akan berperilaku norak seumur hidupmu."
Sedang Beatriz tak menyentuh hidangan sama sekali. Gadis itu telah terganggu pada situasi meja tetapi tampaknya tak ingin buat salah satu di antara dua pria ini marah.
"Waktu makan siangmu hampir habis dan makanan akan segera dingin." Archilles menengahi Beltran dan Cesar.
"Kamu membuat Beatriz tidak nyaman sama seperti yang sudah-sudah," sambung Cesar berganti penuh perhatian. Menatap Beatriz sekali lagi seakan ia berhak lemparkan pandangan itu pada Beatriz.
Pipi dan kuping Beatriz lekas memerah tua terlebih dipandangi tanpa kedip oleh Cesar. Beatriz seakan ingin protes bahwa tindakan Cesar adalah pelecehan. Tetapi takut bangkitkan sisi lain Beltran. Akhirnya pasti hanya kegaduhan.
"Masa lalumu terlalu pahit ya?" Beltran menatap Cesar. Nadanya biasa tetapi sangat sarkas.
"Ya, aku susah menelannya setiap melihatmu."
"Berbagi denganku, aku akan menolongmu."
"Dia lupa bahwa dia adalah orang ketiga," balas Cesar dingin. "Dia berpura-pura seakan dia malaikat."
"Pria ini hanya tak bisa menerima kenyataan bahwa ia telah dicampakkan karena ulahnya sendiri," sambar Beltran dingin. "Tidak ada introspeksi."
Jadi, ini masalah gadis?!
"Habiskan makanan kalian dan kembali ke kelas!" tegur Archilles Lucca pandanginya dua orang yang berselisih silih berganti.
Prediksi Archilles Lucca, keduanya tak akan baik-baik saja setelah ini. Dilihat dari ekspresi baik Beltran maupun Cesar, mereka akan berakhir dengan pertarungan sengit.
"Aku tak akan mendengar ada perkelahian selepas ini. Aku akan menghukum Anda berdua," tambah Archilles Lucca.
"Yes, Sir." Beltan mengangguk patuh.
Tanggapan berbeda dari Cesar.
"Aku kenyang." Cesar mendorong piringnya. Menatap Beltran penuh permusuhan. Ia bangkit berdiri dan berlalu pergi.
Beltran terdiam sejenak lalu seakan bersyukur Cesar pergi. Ia segera berpaling pada Beatriz.
"Kamu mau Blewah?"
"Tidak, Beltran." Beatriz menggeleng. Mulai makan. Mengunyah pelan. "Apa yang dia inginkan darimu?" tanya Beatriz akhirnya terganggu.
"Jangan melihat padanya, menatap matanya, bicara padanya atau ikuti maunya," tegur Beltran bicara pada gadis di sisinya. "Kamu akan diperbudak olehnya."
"Aku akan baik-baik saja. Tak peduli pada sihir."
"Aku ke sana karena antarkan teks pengumuman gantikanmu," sahut Beatriz cemberut.
"Lupakan! Dan makanlah! Lain kali tak perlu pergi ke kelas itu apalagi sendirian. Aku bisa kerjakan tugasku, Beatriz." Beltran Domingo, entah mengapa, duplikasi karakter Ethan Sanchez.
Jadi ..., apa Beatriz Ivanov mirip Nona Arumi Chavez?
Tidak. Sama sekali tidak.
Beatriz Ivanov ..., terpandai di angkatannya. Wakil Beltran Domingo dalam organisasi kesiswaan dan seorang gadis yang terlalu lemah lembut hingga mudah diganggu Cesar.
Sedangkan, Nona Arumi meskipun tidak sepandai Beatriz tak akan mau ditindas orang lain. Arumi Chavez adalah satu-satunya. Ia tak pernah temukan gadis lain yang berkarakter se-random Nona Arumi.
Archilles Lucca mengunyah makanan pelan, telinganya terpasang. Lidah nikmati santapan, tetapi hatinya pergi pada gadis itu. Bisakah ia mendengar suara Nona Arumi sebentar saja?
Tanpa ia sadari, Eva Romero duduk di dekatnya.
"Anda sendirian walaupun dikelilingi siswa-siswa favorit sekolah ini. Anda mungkin butuh teman yang mengerti bahasa kalbu Anda," ucap gadis itu kerlingkan satu mata.
"Mari makan dengan tenang, Eva," tegur Beatriz tak suka ada lagi yang menyela jam makan mereka.
Archilles Lucca mengunyah makanan perhatikan Eva Romero seksama. Gadis-gadis bandel yang tampak penuh tekad mengejarnya. Setelah selesai, Archilles mengusap bibir dengan tisu. Minum air.
"Di mana dasimu, Eva?" tanya Archilles tajam.
"Aku selalu merasa dicekik setiap waktu memakai dasi. Makananku juga seakan-akan tersangkut di tenggorokan jika terus memakai dasi sedang aku harus menelan. Aku bertanya-tanya apa fungsi dasi?"
"Lalu, kancingkan seragammu!" tegur Archilles Lucca tegas. Eva sengaja lepaskan tiga kancing teratas pamerkan belahan di bagian d4d4 padahal sepanjang pelajaran bajunya rapi.
"Apakah Anda terganggu?"
Archilles Lucca berdecak. "Eva. Kancing seragammu!" ulang Archilles Lucca.
"Ini terlihat lebih keren dibanding tiga kancing tertutup. Aku tak suka terlihat cupu. Terlebih cenderung idiot!" keluh Eva Romero meski demikian naikan tangan menyentuh kancing bajunya. Ia temukan kendala karena kuku-kuku terlalu panjang.
Archilles tak ingat Nona Arumi punya kuku sepanjang ini.
"Sekolah ini adalah sekolah menengah. Kamu bisa pindah ke sekolah fashion dan ekspresikan diri semaumu di sana."
"Anda tidak tertarik padaku?" Kedipkan satu mata.
Beltran dam Beatriz berhenti makan.
"Eva, beliau guru kita," kata Beatriz beri peringatan. "Kamu sangat tidak sopan."
"Apakah Pak Guru kita bukan pria?" serang Eva pada Beatriz. "Aku menyukai Anda sejak Anda pertama kali datang ke kelasku. Aku mengikuti Anda tiap pagi dan berdoa, Tuhan jodohkan aku dan guruku."
Ini kepolosan atau yang lebih gelap dari itu. Archilles Lucca menatap tepat di dalam bola mata Eva Romero. Ia ingin pastikan kata-katanya jelas didengar dan dipahami Eva.
"Eva ..., seorang murid wajib miliki etika bertutur dan berperilaku pada gurunya. Kamu perlu menghargai pendidik-mu."
"Baiklah. Yang tadi itu hanya bercanda, Sir."
"Kita akan berbagi respek yang sama sebagai guru dan murid jika kamu masih ingin berada di kelasku. Jika tidak, aku akan mentransfer mu ke kelas lain."
"Baiklah. I am sorry. Aku nyaman di kelasku."
Archilles bangkit berdiri. Mata ketiga murid terpaku pada jemari guru mereka saat Archilles Lucca meraih piring makannya. Tidak sulit melihat guru mereka punya tato cincin di jari manis.
"Kamu bisa kembali ke mejamu atau kamu bisa mengobrol bersama Beltran dan Beatriz. Aku harus pergi."
"Apa Anda punya kekasih?" Eva tak bisa hentikan mulutnya bertanya, mencegah gurunya pergi. Mata Eva Romero beralih ke tangan Archilles. Tidak senang.
Archilles Lucca terdiam sebentar. Amati jarinya dan mengenang hari di mana ia dilamar oleh gadis itu. Tidak menikah sekarang nanti lima, tujuh atau sepuluh tahun lagi. Hati Archilles berdebar-debar. Ia akan menunggui kekasihnya tumbuh menjadi gadis dewasa.
"Ya," angguk Archilles Lucca. "Kamu mungkin mengenalnya. Namanya, Arumi Chavez Diomanta."
Mulut Eva Romero terbuka lebar. Tidak percayaan.
"Aku akan melihatmu berdasi dan rapi di kelas nanti, Nona Eva Romero." Archilles Lucca peringatkan Eva Romero sebelum tinggalkan mereka.
"Arumi Chavez?!" ulang Eva Romero.
"Ada banyak Arumi Chavez." Beatriz Ivanov mengangkat bahu.
"Hanya satu Arumi Chavez Diomanta."
"Oh ya? Apakah dia populer?"
"Sangat populer. Tetapi, berita tentangnya tidak banyak."
Keduanya berbagi pengetahuan dunia hiburan sisakan Beltran Domingo yang hanya berpikir.
"Tidak mungkin, Arumi Chavez yang itu?" Eva Romero merogoh ponsel dan mulai jelajahi mesin pencarian. Beatriz di luar kehendak melongok pada Eva karena penasaran.
"No no no!" geleng Eva Romero berharap gurunya berbohong.
Hanya ada satu orang Arumi Chavez juga Arumi Chavez Diomanta.
Keduanya menganga, berbagi pandang padahal mereka beda kubu saat foto Arumi Chavez Diomanta mengisi layar ponsel. Terlalu cantik hingga tampak tidak nyata.
"Kurasa guruku mengidolakan Arumi Chavez." Eva Romero menghibur diri. "Guru Lucca berhalusinasi."
"Mungkin, para pria bisa berimajinasi jadi pacar Arumi Chavez. Tetapi, Guru Lucca bukan tipe pria yang suka gossip. Aku rasa beliau bersungguh-sungguh." Beatriz membantah.
"Hah?!"Eva Romero lekas lemas.
Keduanya sama-sama ikuti langkah menjauh Archilles Lucca. Teman-teman mereka terpesona padanya walau tidak terang-terangan. Hanya mereka tak seberani Eva Romero.
"Arumi Chavez, bukankah dia artis muda seusia kita yang sering muncul di iklan?" tanya Beltran Domingo mengerut.
"Dia memerankan drama ter-kontroversi tahun ini."
Eva Romero dan Beatrix Ivanov membaca berita dari dunia hiburan. Arumi Chavez masuk nominasi aktris pendatang baru terbaik. Mengisi beberapa kategori di waktu bersamaan. Ada sebuah foto yang dirilis City News di mana Arumi Chavez diwawancara sepekan lalu mengenai Bittersweet Married season dua. Gadis itu terpantau punya tato di jari manisnya walaupun sangat samar dan tidak ada penjelasan. Sengaja dilewatkan begitu saja oleh media. Atau media terkecoh.
"Kurasa sebaiknya kamu mundur perlahan, Eva," goda Beltran Domingo.
"Ya, gadis ini terlalu luar biasa," angguk Beatriz Ivanov benarkan kata-kata pacarnya.
"Oh apa ini?!" keluh Eva Romero bersandar lunglai ke kursi makan.
"Sayang sekali sainganmu terlalu berat."
***
Setelah dua atau tiga chapter, aku mengatur pertemuan Arumi dan Archilles. Harusnya cuma satu aja bisa. Tetapi karena tak boleh panjang lebih dari 3000 kata maka Chapter jadi banyak dan tulisan lebih pendek.