My Guardian Angel (The Dust of Love)

My Guardian Angel (The Dust of Love)
Chapter 95. One Love for The Same Girl



💌 : Andai aku bisa, ingin aku bunuh angin yang mendekap-mu. Karena aku terlalu cemburu padanya.


💌 : Andai aku bisa, ingin aku tembaki selimut hangat-mu karena harusnya aku yang di sana membungkus-mu.


Archilles melihat satu dua pesan. Masih ada banyak lagi dari Tatiana dengan gombalan paling agresif. Mungkin ia perlu belajar dari Tatiana cara bermanis-manis pada Arumi Chavez. Oh tidak, Tatiana mungkin akan semakin bikin ia pening. Tak membalasnya ingin mencari pesan penting tetapi ketukan di pintu kagetkan dirinya.


"Tuan Muda, Anda sudah tidur?"


Zefanya Lucca melongok dibalik dan sedikit mengusilinya. Tahu bahwa Archilles tak suka dengan sapaan itu. Sepanjang hari, Tuan Muda diucapkan hampir seluruh penghuni rumah ini hingga kupingnya memerah keunguan.


"Zefanya?"


"Bisakah aku tidur denganmu, Archilles?"


"Apakah kamu tidak nyaman?"


"Ya. Kamarku seluas auditorium sekolah. Tempat ini juga sangat senyap. Tak ada kendaraan yang lewat atau suara kereta. Tak ada suara orang mengobrol. Aku tiba-tiba bisa menghitung jumlah jantungku berdetak. 80 kali per menit. Aku akan tidur denganmu, Archilles."


"Tentu saja, Zefanya. Aku baru akan menjemputmu kemari."


"Ternyata kau juga takut sendirian, ya?" tanya Zefanya segera naik ke ranjang. Pejamkan mata sejenak untuk berdoa. Tiga menit. Menguap lebar.


Archilles Lucca mengangguk. "Huuh."


"Aku sudah sikat gigi dan cuci muka. Bisakah tolong buka ikatan di rambutku? Kulit kepalaku macam agak perih."


"Begitukah?" Archilles menaruh ponsel dan pergi pada Zefanya lepaskan ikatan rambut dan jepitan. Mengambil sikat rambut dan mulai menyikat rambut Zefanya perlahan-lahan.


"Jadi, apakah kita akan tinggal di sini, Archilles Lucca? Nyonya Nastya sepertinya sangat menyukai kita. Terlebih, selalu memperhatikan setiap gerakan mu dan memujamu."


"Bagaimana menurutmu?"


"Aku menyukai semua keindahan dan kemewahan ini. Kehangatan dari Tuan dan Nyonya Lucca. Tetapi, aku berpikir, aku ingin kembali pada Grenny dan kakek Zevas. Aku tak mau mereka meninggal karena kesepian."


"Ya, aku sependapat." Archilles memeluk Zefanya. Jika ia beritahu adiknya bahwa ia adalah anak kandung Tuan dan Nyonya Maurizio, Zefanya kemungkinan besar akan sangat bersedih. Archilles tak mau kehilangan Zefanya. Ia perlu berhati-hati sampaikan segala hal pada Zefanya.


Sesuatu berkelebat dibenaknya.


"Zefanya ..., aku ingin dengar pendapatmu lagi?"


"Uhhum?!"


"Bagaimana jika kita membawa Grenny dan Tuan Zevas kemanapun kita pergi, Zefanya? Termasuk ke tempat ini. Kita akan bersama orang tua angkat kita dan kakek nenek kita."


"Oh, aku pikir itu bukan ide yang bagus Archilles. Tuan dan Nyonya Lucca mungkin keberatan. Kau tak akan meminta banyak dari mereka hanya karena mereka menyukai kita, Archilles. Orang-orang baik ini akan kecewa padamu."


"Zefanya, kita telah dimasukan ke dalam daftar keluarga ini dan Tuan Lucca bertanya padaku, apa yang aku inginkan agar kita bisa tinggal bersama dengan mereka di sini?"


"Begitukah?"


"Aku pikir mobil, rumah bahkan jet pribadi tak akan sama nilainya dengan Grenny dan Kakek Sevaz. Bayangkan kita menjadi sebuah keluarga utuh? Kamu punya Ibu, Ayah, Kakek dan Nenek. Bukankah menyenangkan?"


Zefanya mendongak dan berbalik memeluknya.


"Terlalu indah, Archilles. Aku adalah gadis yang paling bahagia. Aku punya kakak laki-laki, kakak perempuan, Ayah, Ibu juga kakek dan nenek. Apakah kamu akan mencoba, Archilles?"


"Ya." Archilles membelai rambut panjang Zefanya. "Grenny hanya akan nikmati masa tuanya dengan bahagia. Berkebun dan melempar biji-bijian pada ayam dan juga itik di rumah ini. Kakek Zevas memancing dan kita bisa ciptakan masa tua tak terlupakan bagi mereka."


Zefanya mengangguk antusias.


"Bagaimana dengan minimarket kita?"


"Zefanya, Sayang. Pendidikanmu nomer satu. Aku ingin kamu menjadi dokter. Kita bisa mempersiapkan masa depanmu."


"Padahal aku lebih suka jadi artis."


"Aku kurang setuju denganmu. Kehidupan artis sangat rumit. Persaingannya juga berat. Kamu mungkin akan dikerubuti media lalu diikuti hingga kamu marah dan terusik. Dokter adalah profesi yang sangat mulia."


"Begitukah? Kamu punya uang untukku?"


"Ya. Banyak. Aku menabung selama aku bekerja untuk sekolahmu. Kita akan ke bank hari Senin dan akan bertemu dengan seseorang di sana."


"Archilles aku sangat menyayangimu. Aku akan belajar lebih keras dan membuatmu bangga padaku."


"Jangan sia-siakan kepercayaanku."


"Aku berjanji. Aku sangat mengantuk, Archilles. Bisakah kamu memutar lagu?"


"Ya."


Menyelimuti Zefanya rapat-rapat meskipun penghangat ruangan bekerja maksimal.


"Ibuku sangat cantik, Archilles."


"Ibumu yang mana?"


"Martha Via dan Nastya Lucca. Oh aku ingin pamer di sekolah nanti. Kau tahu posisiku sebagai ketua geng semakin kuat."


"Berhenti jadi ketua geng. Aku rasa Nastya Lucca tak akan suka."


"Orang selalu salah persepsi soal geng di sekolah, padahal aku menjaga perdamaian. No kriminal dan kami sedang berinvestasi dengan otak kami, menjuarai lomba dance, English debate, pergi ke forum sosial. Mengangkat sebanyak mungkin trophy adalah misi kami."


"Keren. Aku tak paham hal-hal sepertimu di usia sepuluh tahun."


"Itu karena kau sibuk berantem."


"Ya, kau benar. Kamu mungkin akan pindah kemari, Sayang."


"Oh, asalkan aku tahu nasib Grenny dan Kakek Zevas dengan jelas."


"Yep. Tidurlah."


Archilles membujuk Zefanya sambil dengarkan lagu.


Seorang Nanny ditunjuk Nyonya Nastya bagi Zefanya, datangi kamar mereka dua puluh menit kemudian.


"Tuan Muda, aku akan membawa Nona Zefanya ke kamarnya dan menemaninya."


"Adikku akan di sini denganku."


"Biarkan aku menjaganya, Tuan. Lagipula, Tuan Maurizio hendak mengunjungi Nona Zefanya di kamarnya setelah dari ruang tidur Nona Chaterine lalu ingin bersama Anda beberapa waktu."


"Baiklah. Siapa namamu?"


"Caroline, Tuan."


Archilles menggendong Zefanya kembali ke ruang tidur yang dipersiapkan untuk adiknya. Lumayan terkejut di sana ada poster Arumi Chavez juga Taehyung dalam bingkai-bingkai emas yang didekorasi sedemikian rupa. Orang tuanya sangat peka dan peduli. Bahkan pada hal-hal kecil. Bukankah kedua orang ini sangat ideal menjadi orang tua?


***


"Di mana dia, Tuan Maurizio?"


Nyonya Nastya Lucca terbangun keesokan pagi cukup panik. Turun dari ranjang tergesa-gesa setelah memeriksa tak ada tangan yang digenggam semalam. Tindakan Nyonya Nastya Lucca buat suaminya yang baru selesai gunakan kamar mandi terkaget-kaget.


"Nastya?"


"Di mana dia? Aku bermimpi buruk."


"Nastya, tenanglah!"


"Bayi yang kita makamkan bukan puteraku."


"Nastya ...,.kemarilah!"


"Di mana dia? Jangan biarkan dia pergi lagi. Aku mohon."


Tuan Maurizio mendekap istrinya yang ketakutan, menuntun ia ke jendela.


"Caroline dan Anne mengatakan padaku bahwa Zefanya dan Putera kita bangun pagi-pagi buta. Mereka pergi membantu pekerjaan rumah tangga."


Tuan Maurizio biarkan tirai ruang tidur mereka tergeser sempurna, menunjukan sesuatu di luar sana untuk menenangkan Nyonya Nastya.


"Dia di sana, Nastya Sayang. Lihatlah!"


Nastya Lucca merapat ke jendela. M3nd3s4h menatap ke kejauhan. Matanya telah mulai berkaca-kaca. Puteranya di sana mendorong gerobak berisi jerami dan pakan menuju kandang kuda. Para pekerja sepertinya tidak bisa melarang.


"Anda membiarkannya?"


"Ya."


"Tuan? Di luar sangat dingin."


"Dia pekerja keras, Nastya. Kamu bisa melihatnya sendiri."


"Itu karena Raul Lucca bukan pria berkecukupan. Puteraku bekerja sejak usia kanak-kanak untuk uang saku yang jumlahnya bahkan tak menyentuh 10 persen upah tukang kebun kita."


Nyonya Nastya Lucca mulai berkaca-kaca, biarkan Tuan Maurizio Lucca memeluk tubuhnya dari belakang dan mereka menonton keindahan pagi, yang hari ini jauh lebih berwarna karena putera mereka berada dalam jangkauan penglihatan.


"Namanya Archilles, sangat bagus bukan?" Tuan Maurizio rapatkan selimut pada tubuh istrinya. "Thanks God. Dia sehat Nastya tanpa sakit hemofilia atau lainnya."


Nyonya Nastya Lucca mengangguk-angguk kecil. Tidak butuh waktu lama untuk menangis sedih.


"Nastya, jangan begini lagi, please."


"Bukankah kita sangat ceroboh? Bagaimana bisa membawa pulang bayi yang salah? Mengapa kita tak curiga sewaktu dokter mengatakan dia menderita thalasemia? Bukankah kita sungguhan bodoh, Tuan?"


"Golongan darah Glacio sama denganku dan nenekku menderita kelainan darah meskipun bukan thalasemia. Itu alasan kita tidak menyimpan kecurigaan."


"Kamu menyesalinya sepanjang hari kemarin dan mengulanginya lagi pagi ini. Kamu hanya akan semakin sakit."


"Aku sangat terluka terlebih bayangkan apa yang dialaminya, Tuan. Saat aku tidur dalam kenyamanan, makan berlimpah dan tak kekurangan apapun, puteraku di luar sana. Mungkin lalui kemalangan dan menderita. Itu menyakitiku sangat dalam, Tuan."


"Ya, aku tahu, Nastya." Maurizio menciumi belakang kepala istrinya. "Ambil udara yang disediakan untukmu pagi ini. Mari bersyukur kita menemukannya. Kita akan menjaganya mulai sekarang."


Nyonya Nastya mengangguk, mengusap air mata. Lebih rentan lagi kemudian terisak-isak.


"Melihatnya begini aku yakin ia telah lalui banyak kesulitan."


Archilles Lucca mendorong gerobak keluar dari kandang. Masuk lagi. Terlihat beberapa menit kemudian pegangi ember di kedua tangan. Mengobrol dengan Aurelio, penjaga kandang kuda.


Para asisten rumah tangga bergerombol. Mereka diliputi kekaguman dan mulai berpendapat. Pasti sesuatu yang bagus karena rata-rata dari mereka tersenyum haru.


"Walaupun Davi mengatakan kamu perlu beristirahat, aku bertanya-tanya, apakah kamu ingin terus berduka dalam kamar ini sedang kamu mungkin harus siapkan beberapa hidangan favoritnya, Nastya?"


"Puteraku akan makan apa saja yang akan aku buatkan untuknya."


"Maka bergegaslah. Dia telah memulai pekerjaan dan mungkin akan kelaparan nanti."


"Begitukah?"


"Ya."


"Bisakah sebentar lagi? Aku ingin melihatnya lebih lama."


"Baiklah. Aku akan menemanimu."


Semalam setelah mengunjungi Zefanya sebelum tidur dan mengobrol sebentar, Tuan Maurizio pergi ke ruang tidur Archilles. Tepat waktu dapati Archilles sedang mengobati punggung dari luka yang mulai sembuh. Area belakang puteranya juga dipenuhi banyak bekas luka. Bahkan beberapa di bagian perut.


Tanpa banyak kata hanya membawa Archilles kembali ke ruang tidur mereka. Namun, Maurizio Lucca diam-diam berikan tugas pada Agathias untuk menyelidiki segala hal termasuk pergi ke rumah sakit untuk mencari tahu kebenaran dari puluhan tahun silam.


Jika, Tuan Maurizio Lucca temukan kesengajaan, ia berjanji pada dirinya sendiri akan mengirim orang-orang terlibat ke penjara. Tuhan akan mengampuninya karena tak bisa berbelas kasih dan memaafkan.


Nyonya Nastya Lucca sangat bahagia nyaris tidak mengantuk kalau tidak diingatkan sebab Archilles tidak saja cerdas tetapi karakternya sangat mudah dicintai. Padahal Archilles hanya menceritakan kehidupannya sebagai pengawal Arumi Chavez.


Puteranya membawa masuk ember-ember air.


"Puteri Salsa bukankah masih begitu muda, Tuan? Terakhir kali kita bertemu, Arumi berusia 10 tahun. Itu lima tahun lalu."


"Ya. Dia sangat lucu, manja dan bossy. Ingat bahwa dia juga sangat sombong dan keras kepala?"


"Menduplikasi saudariku, Tuan Maurizio. Salsabila angkuh, penuh percaya diri dan merasa paling hebat. Walaupun demikian aku suka padanya sedang Salsa membenciku karena aku terlalu lembut. Juga karena Uncle Luke selalu membandingkan kami, menyuruhnya belajar dariku dan mengandalkan aku sebab aku yang tertua dalam lingkaran pergaulan kami. Tetapi, Salsa itu pembangkang. Oh, aku tak percaya puteraku jatuh cinta pada Puteri Salsa dan akan menikahinya."


"Segeralah sembuh, kita dalam rencana berkunjung besok sore ke mansion Diomanta."


"Mengapa begitu tak adil? Aku baru bersamanya sebentar dan dia akan menikah."


"Nastya, Puteramu akan tinggal bersama kita. Apa yang buatmu gelisah?"


"Apakah Salsa mengijinkan kita membawa Arumi kemari?" tanya Nastya.


Kini, puteranya tanpa sengaja menengok pada mereka. Nastya tersenyum lebar di antara kerutan sedih. Mengangkat tangan dan melambai. Kemudian berikan isyarat untuk segera kembali pulang.


"Kita tidak akan egois hanya karena dia adalah putera kita satu-satunya. Mari temukan jalan terbaik bagi yang saling mencintai, Nastya."


"Tuan, aku sangat bersemangat terlebih pada Nona Arumi Chavez. Bisakah kita pergi ke mansion Diomanta sore ini?"


"Nastya?"


"Tak perlu hubungi Salsa."


"Kita perlu minta pendapat Archilles, Nastya. Keduanya mungkin sangat capek."


"Baiklah. Mari kita turun untuk sarapan dan bertanya padanya."


Tak butuh menunggu sebab Archilles Lucca merindukan Arumi Chavez. Ia menjadi sedikit gila karena ingin bertemu Arumi Chavez.


Jadilah selepas sarapan, mereka bersiap kembali. Naik pesawat bersama kedua orang tuanya kecuali Chaterine yang memang tak boleh bepergian karena penyakitnya yang rentan.


Sampai di Ibukota, ia dibawa orang tuanya menjelajahi galleri mode fashion. Mereka membeli pakaian untuknya dan Zefanya.


"Tuan, aku punya banyak."


"Aku pikir kamu akan mengubah panggilanmu padaku dan Ibumu," tegur Tuan Maurizio ketika mereka duduk dalam limosin.


Nyonya Nastya mengangguk menggenggam erat tangannya, tersenyum sepanjang perjalanan.


"Begitupula Zefanya," sambung Nastya Lucca menoleh pada adik perempuannya yang duduk di sisi Tuan Maurizio.


"Ayah and Ibu," saran Tuan Maurizio. "Zefanya?!"


Adiknya menoleh padanya meminta persetujuan dan tersenyum lebar ketika Archilles mengangguk.


"Baiklah, Ayah." Zefanya mengucapkan kata itu menatap Archilles seakan ingin bilang, "Archilles ini baru benar. Aku rasa kita tak perlu repot-repot mengingat Raul Lucca!"


Mereka beristirahat di sebuah hotel sangat mewah di pusat kota. Tamannya luar biasa indah hingga Zefanya tak berhenti takjub. Dekorasi bunganya sangat indah, di gantung di langit-langit balkon dalam wadah-wadah cantik.


Sementara Zefanya dan Nyonya Nastya nikmati ketenangan spa dan akan dipercantik di beauty salon, melakukan kegiatan para wanita yang menggairahkan, Archilles dan Tuan Maurizio pergi ke gym.


Mentari terbenam hanya ditandai sedikit kilatan cahaya merah sebab langit berawan tebal. Tak lama kemudian gerimis turun.


Nyonya Nastya Lucca menggandeng Zefanya yang telah berubah sangat-sangat cantik sampai-sampai Archilles Lucca tercengang.


"Wow, Anda berdua sangat cantik," puji Tuan Maurizio tahu cara membuat wanita berbunga-bunga. Zefanya kembangkan senyum hingga pipinya tenggelam.


"Terima kasih, Ayah."


"Terima kasih, Sayang. Pria yang tepat akan memperlakukanmu sebagai ratu, aku percaya aku menikahi seorang raja bijaksana," balas Nyonya Nastya datangi suaminya dan mengecup pipi suaminya sampaikan ungkapan yang lebih mendalam dari sekedar ucapan terima kasih. Biarkan anak-anak mereka belajar bagaimana kasih sayang dipuja sebagai anugerah Tuhan yang perlu diungkapkan. "Nah apa kita siap?"


Nyonya Nastya Lucca menatap Archilles Lucca, mengangguk-angguk gembira dan haru biru.


"Tampan," tambahnya bergeser pada Archilles dan mengatur kerah baju Archilles. Memeluknya dan bersandar.


"Oh ayolah, Nastya. Riasanmu akan luntur dan menodai mantel Puteramu."


Nastya Lucca mendekam di sana, cepat sekali muram. Archilles bernapas berat sebelum membalas pelukan. Tak punya kata. Tak punya apapun untuk diungkapkan.


"Maafkan aku, sungguh-sungguh maafkan aku."


"Nastya, mari kita pergi!"


Begitulah akhirnya mereka pergi ke mansion Diomanta. Archilles Lucca menahan gejolak bergemuruh di dalam dirinya sedang Zefanya tanpa banyak bicara. Hanya menikmati perjalanan. Mungkin ingin bertanya kemana kita pergi tetapi takut tidak sopan.


Archilles mengerutkan kening ketika mereka sampai. Ada mobil yang tampak asing tetapi motor besar dan helm kehijauan ia mengenalnya dengan baik. Ethan Sanchez mengunjungi pacarnya.


Alfredo Alvarez terkejut melihatnya turun dari mobil.


"Archilles?!"


"Alfredo? Apakah ada tamu di dalam?"


Kupingnya menangkap sesuatu. Merinding mendengar suara Arumi Chavez separuh membentak marah.


"Apa sesuatu terjadi?" tanya Archilles menoleh ke dalam. Psikologi Nona Arumi belum sembuh betul, apa yang terjadi?


"Ini bukan waktu tepat, Archilles Lucca. Siapa yang bersamamu?"


"Bisakah beritahu Nyonya Salsa bahwa Tuan Maurizio Lucca dan Nyonya Nastya berkunjung."


Archilles ingin pergi ke dalam, menahan diri ternyata sangat susah. Tuan Maurizio Lucca keluar bentangkan payung kitari mobil payungi Nyonya Nastya dan kemudian sopir menjemput Zefanya.


"Baiklah."


Alfredo Alvarez bergerak ke dalam, Archilles menuntun kedua orang tuanya. Mereka menaiki tangga.


"Betapa egoisnya ini. Mom pisahkan aku dan Arumi. Nyonya Salsa ingin pisahkan Arumi dan Archilles dan aku tidak mengerti apa yang ada di dalam benak Anda semua."


Langkah Archilles berhenti tepat di depan pintu. Payung-payung baru saja dikuncupkan, Nona Arumi Chavez keluar dari dalam separuh berlari. Semua orang meneriaki Arumi" dengan nada berbeda-beda.


"Arumi?!" Ethan Sanchez ikut dari belakang langsung hentikan langkah ketika melihatnya.


"Archilles Lucca?!" seru Arumi Chavez.seolah temukan sekoci di tengah samudera luas setelah kecelakaan kapal dan terombang ambing tanpa pegangan. Mata sembab dan raut penuh nestapa.


"Nona Arumi, apa yang terjadi?" Bergerak sangat cepat dan memeluk gadis yang langsung menangis kesal di dadanya.


"Bisakah aku ikut denganmu? Aku tak mau tinggal di sini! Aku bisa pindah ke sekolahmu dan jadi muridmu. Aku benci kehidupanku tanpamu." Mulai mengadu.


"Nona ..., tenangkan dirimu!" bujuk Archilles mendekap erat. Aku di sini, semuanya akan baik-baik saja."


Archilles mengangkat wajah bertemu Ethan Sanchez yang hanya terpaku pada mereka. Ingin bertanya ada apa? Archilles malah kelu.


Sebab, Ethan Sanchez sedang mencoba cara terbaik sembunyikan luka. Mencoba untuk tidak sakit. Tidak begitu bagus karena Archilles melihat puing-puing cinta sedang temukan jalan menyatukan diri kembali, di kedalaman mata setajam elang. Pria di depannya berusaha keras hancurkan. Apinya mulai menyala, setitik. Semacam miliki mantra ajaib, kobarannya kini terlihat jelas.


Ethan Sanchez masih tidak rela lepaskan Arumi Chavez tetapi tidak berdaya untuk menggapai.


Archilles Lucca tanpa sadar memeluk Arumi Chavez semakin kuat. Kedua lengannya terkatup. Tangan-tangannya mekar di kepala Arumi Chavez menarik gadisnya semakin dalam padanya.


Bahasa tubuhnya sampaikan pesan tak tertulis pada Ethan Sanchez bahwa ia sangat mencintai Arumi Chavez dan tidak bisa kehilangan Arumi Chavez sekarang atau selamanya.


***


Let see.