My Guardian Angel (The Dust of Love)

My Guardian Angel (The Dust of Love)
Chapter 135. Eterno amor, Inmenso amor



Arumi tergesa-gesa pergi. Keluar dari rumah kekasihnya. Ia abaikan panggilan di belakang dari Aunty Nastya, termasuk pekikan Zefanya Lucca yang turuni tangga mengejarnya.


"Nona Arumi ..., mari kita bicara!"


"Zefanya!" tegur pria itu lemah.


"Sudah cukup!" balas Zefanya tajam.


Arumi gemetaran merogoh sapu tangan. Temukan benda itu, menutup hidung dan mulutnya.


"Biarkan aku bawa Anda kembali." Agathias Altair berdiri di pintu keluar. Tak mau memandang wajah Arumi.


"Aku tahu jalan pulang." Arumi menyahut ketus dan berlalu. Ia tertahan beberapa waktu kemudian. Ia berbalik dan mendadak berlutut di hadapan Agathias hingga pria itu terkejut. "Tuan Agathias, aku tahu Anda tak menyukaiku. Aku tak masalah. Hanya saja aku mohon padamu, jangan coba-coba halangi aku untuk bersamanya hanya dua hari."


Agathias ikutan menekuk lutut. Perhatikan Arumi seksama.


"Nona Arumi ..., jika Anda sangat mencintainya, Anda harusnya biarkan Tuan Muda dengan keputusannya. Paksakan kehendak padanya akan membuat Tuan Muda dan Anda semakin menderita."


"Tidak benar. Keputus-asaannya menyentuh kulitku!" balas Arumi tajam.


Itu buat Agathias Altair tersentak.


"Kamu tak kenal dia sebaik aku. Sebelum Anda datang, Tuan, dia hanya denganku. Anda bukan siapa-siapa."


"Ibu Anda memulai segalanya. Jika jadi Anda, aku akan malu berdiri di hadapan Tuan Muda dan menuntutnya bertanggung jawab pada penderitaan yang Anda alami."


Kata-kata adalah sebuah tamparan keras. Arumi mengangkat mata, menatap asisten Tuan Maurizio Lucca yang tampak seakan kelelahan pada hidup orang lain.


"Ibuku berdosa padanya, aku tidak mengelak. Tetapi, dia pamitan pergi bersama ayah angkatnya. Raul Lucca datang ke mansion. Anda di sana dan melihatnya, Tuan!"


"Terakhir kali Tuan Muda terjebak pada Abercio. Anda perlu diberitahu kebenaran agar berhenti merasa jadi korban," tegur Agathias. "Ibu Anda mengirim Tuan Muda ke penjara dengan tuduhan mengeksploitasi Anda, Nona. Tuan Muda disiksa di sana dan jarinya digunting paksa."


Arumi Chavez membeku. Ia menggigil kedinginan. Tangannya membekap hidung semakin kuat.


"Tidak berakhir di sana. Anda tahu akar permasalahannya menyebar ke mana-mana. Setelah masalah penculikan Anda. Ibu Anda adakan persyaratan tertulis dengannya. Tuan Muda hanya bisa menikahi Anda apabila berhasil membunuh semua orang dalam daftar yang diberikan Nyonya Salsa. Habisi semua yang terlibat penculikan Anda. Tuan Abercio masuk di dalamnya. Lebih menyedihkan Ibu Anda mengambil langkah keliru dengan memancing kedatangan Abercio Jacquemus ke mansion, permalukan Tuan Abercio sehingga sebabkan Tuan Muda menjadi sasaran balas dendam."


Arumi Chavez menduga hal ini tujuh tahun lalu hanya terlalu bodoh untuk peka pada detil dan menyesal karena tak bisa bertindak apapun. Ia ingin marah tetapi pada siapa? Dengan cepat ia melangkah pergi. Tidak berani mendengar lebih banyak. Berhenti sewaktu mobil yang ia kenali datang. Itzik Damian menginjak rem dari jauh dan mobil berdecit nyaring.


"Apa saputangan-mu kurang banyak?" Buru-buru bukakan pintu mobil. Menggiring Arumi masuk. Mengatur posisi. Memeriksanya. Pria itu gelisah.


"Narumi, ini tidak wajar. Mari kita pergi ke dokter sekali lagi dan periksakan dirimu."


"Semua manusia akan mati."


"Baiklah. Mari pergi bersama. Aku dan kamu bersama ke dokter," bujuk Itzik Damian. "Kita bisa berbagi infus."


"Aku baik-baik saja."


Itzik Damian menghela napas berat. "Tidak. Kamu sakit."


"Bersamanya ..., aku akan sembuh!"


"Namamu ..., Narumi Vincenti bukan gadis bodoh itu lagi. Aku akhirnya mulai kesal."


"Kamu bisa tinggalkan aku, Itzik Damian." Arumi Chavez mulai menangis. Ia selalu dipenuhi tangis. Sesak napas. "Semua orang menyakitiku! Betapa buruknya ini!"


"Tidak. Aku bukan mereka. Aku tidak berikanmu harapan dan tinggalkanmu."


"Jangan paksa aku menyerah padanya. Andai sanggup aku telah lakukan sejak lama."


Itzik Damian mengalah. "Berhenti menangis. Ini rencanaku. Mari sembuhkan diri kita masing-masing. Kamu ..., setidaknya harus sehat jika ingin berada di samping kekasihmu. Aku juga pikirkan Aurora. Ingin kutinggalkan dia padamu dan kalian berdua bisa saling menghibur. Aku mulai menyesal sekarang karena kamu tak bisa lakukan apapun selain menangisi pria ini."


"Betapa beruntungnya Aurora." Arumi mengusap air mata.


"Kamu juga karena miliki aku hanya kamu tak sadar. Mungkin saat kehilangan aku, kamu baru akan menyesal, Nona." Itzik Damian selimuti tubuh Arumi dan menyumbat gulungan kasa ke salah satu lubang hidung Arumi. "Berhenti menangis! Pejamkan mata dan tunggu aku di sini. Jangan pikirkan apapun. Kamu akan kesulitan bernapas nantinya. Astaga. Lihat aku! Harusnya aku terus bersama Hedgar. Harusnya aku terus jadi penjahat tanpa hati, alih-alih mengurus gadis cengeng ini. Kau mengubah aku menjadi sentimentil macam begini, Narumi. Gara-gara ambisi jadi admin fanpage, aku terjebak dengannya tujuh tahun. Oh ya, siapa yang bodoh di sini? Aku apa dia?"


Pria itu mengomel dan menutup pintu mobil. Itzik Damian pergi berhadapan dengan Agathias Altair. Arumi perhatikan ketika Itzik berjalan agak sedikit seret dan lebih bungkuk dari sebelumnya. Menambah kesedihan di hatinya. Tenggorokannya kering. Akhirnya hanya penjahat itu yang tidak pergi darinya selama tujuh tahun. Arumi tak ingin tanya mengapa? Dan pria itu terus katakan akan segera mati sampai Arumi bosan mendengarnya.


Sedang, Si Husky Itzik salah ramalkan Itzik. Bencana datang dan pergi tetapi pria itu tetap tinggal tak peduli apapun.


Kedua pria sedikit berdebat. Zefanya Lucca lepas dari pegangan Tuan Agathias, berlari ke mobil meraih pintu mobil hingga terbuka. Menatap Arumi kaget, sedih dan tercengang.


"Dengarkan aku, Nona Arumi. Archilles Lucca tak hanya lakukan itu padamu. Dia telah menyiksa dan ingin singkirkan semua orang dari sisinya. Aku telah kehilangan kakakku dan menderita sama sepertimu. Kamu mengenalnya. Kakakku yang penyayang sedang terjebak di dalam dirinya yang baru. Tolong jangan putus asa dan keluarkan Archilles Lucca dari bawah sana. Aku percaya hanya kamu yang bisa."


Itzik Damian kembali ke mobil. Menghalau Zefanya.


"Biarkan aku bicara pada, Nona Arumi!"


"Berhenti menyakitinya!" hardik Itzik Damian.


Itzik berhenti sebentar sebab merasa sedang dapatkan serangan brutal tak kasat mata. Tengkuknya meremang. Ia menoleh ke lantai atas dan segera terbius.


Seorang gadis berkulit putih pucat, rambut putih seperti rembulan purnama dan hampir mirip dirinya memulas senyuman misterius.


Raut merah bata Itzik Damian berubah ketika mata dan mata berbenturan.


Apa yang sedang terjadi di sini?


Gadis ini tak berdaya dan sangat aneh sebab apa yang dirasakan gadis ini sampai padanya.


Seakan si gadis ingin menjerit padanya, "Jangan kasar pada adikku. Aku ingin semua orang bahagia! Tetapi sepertinya mustahil! Terlalu banyak kesedihan dan aku tak tahan melihatnya!"


Siapa yang bisa disalahkan untuk semua penderitaan ini?! Itzik Damian menghela napas kasar.


"Tak ada satupun dari kami bisa mengubah kegelapan dalam dunianya. Tak ada yang bisa buat kakakku bahagia dan tersenyum seperti dulu saat Archilles bersamamu. Bahkan ketika aku mencoba mengenal kakakku dan tersenyum padanya ia terkadang akan membalas-ku dengan dingin. Aku yakin dia hanya rindukanmu dan dia sedang mengujimu, Nona. Tolong bertahanlah."


"Zefanya ..., aku akan kembali lagi nanti!" sahut Arumi dari balik saputangan. "Setelah event!"


"Aku sengaja ikut audisi ingin kesempatan bertemu denganmu tanpa buat kakakku curiga, marah dan tersinggung."


"Siapkan saja dirimu untuk pemotretan."


"Aku mengundurkan diri," kata Zefanya cepat. "Maafkan aku buang-buang waktumu. Archilles Lucca marah karena tantangan ini setelah aku beritahu dia dan melarang aku pergi lagi besok. Terlebih dia mengetahui bahwa Anda lah juri yang inginkan pemotretan ini. Dia menuduh Anda ingin jadikan ia bahan tertawaan." Gadis itu sangat gundah. "Tolong bertahanlah! Aku akan mencari cara. Aku yakin dia sangat mencintaimu. Dia terhalang penyakit kejang-kejang yang kadang kambuh dan buat ia kesulitan bicara. Ia selalu butuh perawat di sisinya. Itu mengubahnya dari seorang mandiri hingga bergantung pada orang lain. Ia merasa tak berguna. Terlebih tak akan bisa melindungimu lagi. Ia takut didekat-mu, Nona Arumi."


Inikah alasannya. Di sini masalahnya.


"Mari kita bicara lagi nanti!" Darah merembes di saputangan membuat Zefanya Lucca ketakutan.


"Apa Anda baik-baik saja?"


Itzik Damian mendorong Zefanya Lucca menjauh dan menutup pintu. Ia menatap pada gadis di atas sana sebelum masuk ke dalam mobil dan pergi ke belakang kemudi sedang Zefanya Lucca tak berdaya. Berdiri di depan rumah bermuram durja.


"Jangan pernah datang kemari tanpa aku!"


Càrvado sungguh sisakan trauma.


"Itu tidak mungkin, Itzik. Aku akan kembali kemari Minggu pagi."


"Narumi, apa ini?"


"Aku tidak harapkan apapun. Cuma akan bersamanya untuk terakhir kali. Biarkan aku menghapus luka gila di hatiku. Aku tak akan berusaha mengubah apapun. Hanya ingin bersama dua hari."


"Hentikan semua ini!" Itzik Damian mengerang. Pria itu pukuli kemudi mobil kuat. "Kamu akan mengais di atas lukamu sendiri dan semakin terpotong-potong setelahnya, Narumi Vincenti." Itzik menolak ide itu.


"Ini yang terakhir kali, please!" Dia mulai menangis lagi. "Bagaimana bisa, Itzik. Dia mencintaiku. Dulu, dia memujaku. Apa aku percaya di antara kami lenyap begitu saja? Musnah begitu saja? Bahkan di hari dia menghilang, dia berkata akan pergi bersama melihat gaun pengantin. Apa kamu tahu, dia pergi ke penjara dan kehilangan jarinya di sana karena aku yang keras kepala mengunjunginya di Soria telah buat ibuku marah dan lampiaskan padanya. Dia kehilangan jarinya, Ibuku bertanggung jawab tetapi dia tak mengatakan apapun padaku. Aku terlalu murah hati untuk membenci Ibuku. Aku mengerti kini, mengapa dia dulunya tak bisa membenci Raul Lucca. Dia menderita sejak jatuh cinta padaku. Ibuku mengirimnya pada kematian dan dia dengan na'if penurut. Katakan kalau bukan karena mencintaiku? Aku tak percaya cintanya hanya sebesar satu biji jagung saja padaku sekarang!" Semua emosi berkumpul menjadi satu. Akhirnya meledak-ledak pada hidup yang kejam pada mereka. Dia meneriaki Itzik Damian.


"Dengar! Agathias Altair menyuruhku bawa kamu menjauh darinya."


"Apa masalahnya denganku?" Arumi marah. "Aku benci padanya! Apa dia ingin membunuhku dua kali? Tuan Agathias tidak ada di sana saat dia jatuh cinta padaku! Tuan Agathias bukan saksi saat dia selamatkan aku berulang kali. Saat dia membangun rumah pohon untukku dan mengatakan mimpi ingin bersamaku suatu waktu. Hanya aku dan dia. Bisakah kau membunuhnya untukku? Aku benci pada Agathias karena mendorongku untuk menghirup aroma menyesakan ini."


Itzik Damian kehabisan kata, ia menggeram dari depan.


Mereka kembali dari sana. Arumi menutup kisah sedih di siang itu. Paksakan diri untuk menelan makanan. Ia kehabisan energi. Noah Miller menunggunya untuk latihan. Ia minta waktu istirahat sejenak sebelum pergi ke lantai studio dengan Noah Miller lakukan beberapa gerakan robotic sepasang kekasih. Di cermin tubuhnya selaras ketika bergerak bersama Noah yang cepat belajar. Tetapi, ia melihat kehancuran.


Mereka kembali dari studio. Makan malam di balkon. Arumi memaksa makanan masuk ke dalam perutnya. Pergi ke ranjang membawa kegalauan yang sama. Ia menelan pil tidur. Ia butuh nyenyak. Tak ingin Noah Miller mengkritiknya besok pagi.


Bangun di pagi hari. Jangan tanya bagaimana malamnya. Mereka berolahraga. Lari satu putaran sambil menghirup udara pagi. Hanya satu putaran. Itzik tidak sanggup. Kakinya lekas kambuh nyeri. Mereka kembali bersiap untuk sarapan. Arumi akan bersama Itzik, membawanya ke penjuru dia untuk pengobatan. Ia berjanji.


Itzik Damian memeriksa media sosial. Dan mulai uring-uringan tiap Jonas Jayden muncul.


"Dear Arumi Chavez ..., aku belum menerima tanggapanmu soal kesediaan waktumu. Anda sangat sibuk, aku yakin. Namun, jika Anda melihat siaran langsung ini. Aku sungguh - sungguh ingin ucapkan terima kasih sekali lagi padamu. Tolong beri kesempatan padaku untuk tinggal di sisimu. Keinginan terbesarku saat ini adalah bahagiakanmu, Dewi. Nikahi aku, Arumi. Katakan, Ya. Aku akan menjemputmu."


Jonas Jayden memulai siaran langsungnya lagi dan menandai ke semua akun sosial media Arumi Chavez bahkan fanpage Arumi. Ia semakin lantang serukan kehendak hati dan bahkan berterus terang soal kesungguhan cinta. Bahwa satu-satunya wanita yang ingin ia nikahi adalah Arumi.


"Apa pria ini akan terus membual di media sosial? Dan menarik perhatian orang lain?"


Mengherankan Arumi, mengapa Itzik Damian menonton siaran live Jonas Jayden? Dan membaca komentar dukungan netizen pada pria itu? Lalu, Itzik akan mulai mengumpati Jonas Jayden.


"Beri sikapmu, Narumi. Sebelum aku ikut campur! Berhenti memungut semua sampah di jalanan dan sterilkan mereka. Lihat hasilnya. Dia berubah dari dipenuhi tumor jinak ke tumor ganas!"


"Masalahku banyak, Itzik. Please abaikan Jonas."


Itzik Damian menjadi antipati pada Jonas Jayden. Juga tak suka pada orang-orang di Càrvado. Bahkan mengancam Agathias Altair agar tak coba-coba lagi muncul di hadapan mereka. Tentang itu, Arumi pejamkan mata.


Beberapa jam kemudian ia memakai dress pink. Keseluruhan penampilan dikutip dari gaya Barbie. Ia di belakang panggung, pemanasan. Para peserta audisi hadir untuk final dan ia akan perform. Noah Miller dalam balutan jas, juga mengutip gaya Ken, benar-benar tampan.


Zefanya Lucca harusnya mengundurkan diri. Tetapi sungguh kejutan ketika, tim fotografer serahkan hasil foto untuk ia nilai. Namun, mereka belum konfirmasi kehadirannya di studio.


Michelle dan Grace begitu manis dalam challenge tetapi benarkan pendapat Brelda, Michelle bergaya sangat membosankan. Arumi menunggu sesuatu yang berbeda darinya. Tak ada sesuatu yang menarik.


Sedang Zefanya tampilkan gaya lebih sederhana. Namun, pesan dari foto sampai pada semua orang hingga yang melihatnya akan rasakan ketidak-sempurnaan sebuah keluarga yang tidak ditutupi sama sekali. Tetapi penuh kesan mendalam. Kebisuan bercerita.


Di dapur dengan celemek suap-kan pasta pada kakak laki-lakinya di atas kursi roda. Walaupun ekspresi kakak laki-lakinya dingin dan hampa.


"Nona Arumi, kamu siap?"


Noah Miller bertanya.


Arumi mengangguk.


Studio dirubah. Berisi ranjang nuansa pink. Seorang gadis kecil bermain bersama boneka Barbie dan Ken yang ia ambil dari atas meja rias. Sedikit dialog khas anak-anak.


Kedua boneka lalu dibaringkan di atas ranjang. Selimuti hati-hati. Si gadis kecil kemudian mengambil tas punggung pergi ke pintu. Melambai.


Bye Bye Barbie ... Bye Bye Ken ....


Lampu dimatikan. Pintu tertutup. Suasana studio berubah hening. Musik berirama pelan. Kabut berhembus.


Magic.


Lampu di nyalakan. Boneka Barbie dan Ken berubah jadi versi dewasa dan mereka hidup. Barbie memulai gerakan pembuka robotic yang kaku sebabkan satu studio bergemuruh.


Hiya, Barbie ....


Hi, Ken ....


You want to go for a ride?


Sure, Ken ...


Jump in


Barbie duduk di punggung Ken sedang Ken bergerak macam mobil.


I'm a Barbie girl, in the Barbie world


Life in plastic, it's fantastic


You can brush my hair, undress me everywhere


Imagination, life is your creation


Tantangannya adalah, mereka harus tersenyum sama seperti replika boneka Barbie dan Ken milik si gadis dari awal part sampai akhir pertunjukan.


Come on Barbie, let's go party!


Memulai gerakan-gerakan kaku. Chemistry begitu kuat. Dance itu berhasil memukau semua penonton.


Arumi mulai berdiri di atas jari-jari kaki di puncak dance setelah Ken membuat Barbie ber-akrobatik sedikit. Kepalanya agak pening. Ia benar-benar harus rehat setelah ini. Kedua tangan terangkat tinggi menyatu membentuk kuncup tulip. Lalu, Ken menyentuh pinggang ramping Barbie, memutarnya perlahan. Sesuaikan beat. Sebelum tambahkan tempo. Ia tersenyum lebar pamerkan gigi-gigi dan cukup baik sebab dia artis. Mereka memakai topeng yang tidak bisa dinilai dengan mudah oleh orang lain.


Putarannya semakin cepat.


Kepala-kepala seakan berlarian di penglihatannya.


Lalu ....


Matanya menangkap bayangan. Siluet pria itu di antara sekian banyak audiens. Sedang mengamatinya. Jantung Arumi Chavez berdegup sangat kencang.


Sesuatu sangat hangat mengalir dalam dirinya. Seperti kamu kedinginan dalam kubus es, lalu sedikit sinar berikanmu sentuhan panas. Terlebih satu sapuan meniup bayang-bayang kesepian untuk segera menyingkir.


Tatapan pengawalnya! Tatapan malaikatnya!


Lima detik lagi selesai. Putarannya semakin cepat semakin tak terkendali.


Jangan pergi!


Mari bertemu!


Musik berhenti.


Hai Barbie ... Hai Ken .... Suara gadis kecil kembali.


Ken menangkap Barbie.


Lampu padam! Pintu dibuka!


Boneka Ken dan Barbie ada di ranjang.


Satu nama kontestan muncul di layar. Chloé Caroline. Berkedip-kedip. Kemudian ....


Host berseru, The Judges choices ....


Nama Zefanya Lucca muncul di sana.


Arumi Chavez tak bisa pergi dari studio karena mereka harus ada di sana. Matanya memindai ke arah di mana ia melihat pria itu. Ia merasa ingin mual dan muntah, tetapi lebih dari itu ia temukan pegangan. Bahwa pria itu ada dalam jangkauan hanya saja butuh sedikit usaha. Ia mulai percaya lagi pada cinta mereka.


"Kakakku datang, Nona Arumi! Dia beralasan ingin tahu hasilnya. Aku pikir, dia tak sanggup menyiksa dirinya lebih lama."


"Zefanya ...."


Arumi tidak ingin berharap.


"Tolong jangan menyerah meskipun dia berkata tidak dan mulai tidak punya pendirian. Tolong kembalikan dia seperti semula." Zefanya memeluknya dan menangis padanya.


"Zefanya ...."


"Ayah dan Ibu telah meminta semua orang kosongkan rumah. Kami akan biarkan Anda bersamanya selama dua hari dan menaruh banyak harapan."


Namun, pria itu telah menghilang dari studio. Arumi mencari-cari dan melihat pria itu pergi dengan mobilnya.


Berusaha menelan makan malam. Itzik Damian kehabisan nasihat. Itzik Damian akan kembali ke ruang tidurnya hanya saja Arumi masih bersandar di sofa larut dalam kisah duka yang seakan tak berakhir. Arumi tidak selesai-selesai dengan air matanya.


"Kamu akan kehabisan air mata."


"Aku melihatnya, Itzik."


"Lama-lama aku bisa gila."


Tak bisa membujuk gadis itu untuk tidak pergi ke Càrvado. Juga untuk tidur. Dia terlalu banyak lewati malam dengan pil tidur. Tetapi, Itzik tak punya pilihan.


Bel pintu kamar berbunyi.


"Apa kamu pesan sesuatu?"


Arumi tidak menyahut karena telah terbuai pil tidur sambil sesenggukan.


Itzik Damian bangkit memeriksa layar. Pria itu menggeram. Ia keluarkan senjata monokrom.


Pintu ditarik, pria itu acungkan senjata.


"Cukup sudah, aku sudah muak!" sapanya pelan sedang pria di depan sana mengangkat kedua tangannya. Terkejut pada respon dari dalam ruangan. "Mau dengar sesuatu, Agathias? Hmm ..., sebelumnya Tuan-mu itu adalah pengawal yang jatuh cinta mati mampus pada gadis lima belas tahun yang adalah majikannya. Aku melihat mereka selalu bersama dan sangat manis. Lalu, semuanya berubah di luar kehendak semua orang. Bahkan gadis ini tak mengerti apa yang terjadi sampai hari ini. Aku melihatnya menangisi kekasihnya setiap hari hingga iri hati, mengapa bukan aku yang dicintainya! Jika, tujuanmu kemari untuk menyakitinya! Demi seluruh iblis di muka bumi, pergilah sebelum aku kerasukan salah satu di antaranya dan pisahkan kepala dari lehermu."


"Kau dan aku hanya melindungi apa yang perlu kita lindungi!"


"Lindungi Tuan-mu tanpa sakiti gadis ini."


"Tuan Muda di bawah, menunggu Nona."


"Mengapa dia tak datang kemari? Mengapa menyuruh pria yang siap sedia mencekik wanitanya? Terlebih, kau baru saja menyerangnya kemarin."


"Tuan Muda tak bisa naik tangga atau berada dalam lift."


"Apa aku peduli? Dia akan kemari jika dia benar-benar inginkan kekasihnya. Pergi dari sini!"


Keduanya terkejut. Pria itu terlihat di depan pintu lift. Tersengal-sengal keluar dari sana. Bersandar di dinding seakan baru selamat dari kebakaran.


"Tuan Muda ...."


Agathias berlari hendak dapati Tuannya. Tetapi, Agathias didorong menjauh. Ia menolak bantuan. Hanya melangkah pelan pegangi dinding. Tak bicara saat berhadapan dengan Itzik Damian.


Pria itu pergi ke dalam keremangan. Menutup pintu pelan.


"Itzik Damian, kita perlu bicara!"


"Aku bosan bicara hal yang sama padamu, Agathias!"


"Mungkin kali ini berbeda."


Itzik mendorong pintu room-nya sendiri, biarkan Agathias masuk duluan. Itzik Damian menoleh sekali lagi. Lorong-lorong hotel seketika senyap seperti hatinya. Wajahnya mendung.


"Mimpi indah, Sayangku!"


***