My Guardian Angel (The Dust of Love)

My Guardian Angel (The Dust of Love)
Chapter 71. The Last I See You Find 2



***


Suhu udara cuma 5 derajat Celcius diawal musim dingin. Archilles lilitkan syal di leher Arumi. Tidak menahan senyuman temukan gadisnya ber-dingin ria tanpa mantel, hanya memakai kaos potongan agak rendah agar orang bisa melihat kalung hadiah pemberian darinya.


"Apa lebih hangat sekarang?"


"Kamu tertawakan aku!" tuduh Arumi Chavez kesal.


"Tidak. Mana aku berani," geleng Archilles Lucca pakaikan topi dingin.


"Tadinya aku memakai mantel setebal selimut hangat, lalu kulihat gadis itu merayumu."


"Aku kelu karena sikap manis Anda yang sangat tegas. Eva tak akan berani lagi padaku setelah ini."


"Apa dia merayumu?"


"Ya. Siang tadi. Eva Romero utarakan perasannya. Dia jatuh cinta padaku. Bertanya .., apakah aku mau jadi pacarnya?"


"Sungguhan?" Arumi separuh menjerit dongkol.


"Ya," angguk Archilles Lucca senang lihat gadisnya cemberut.


Arumi Chavez mendorong tubuh Archilles, menengok ke dalam kafe. Pada wajah-wajah yang menonton mereka.


"Apa perlu aku kembali ke dalam gunakan staples sekali lagi?" tanya Arumi lebih pada dirinya sendiri. "Ya, harusnya aku staples juga mulutnya."


"No!" geleng Archilles Lucca pegangi tangan Arumi, tertawa akhirnya. "Mari kita pergi!"


Arumi menyipit pada Archilles Lucca. "Tak ada hujan tak ada angin tiba-tiba petir menyambar, kamu pasti mengaku bujangan? Jujur padaku, Archilles Lucca!"


Wajah kemerah-merahan hingga ke puncak hidung. Menggemaskan untuk dilihat. Tak diduga-duga gunakan dua jari mengutik kening Archilles keras.


"Owh," jerit Archilles Lucca. "Anda baru saja jatuhkan wibawaku sebagai seorang guru!" keluh Archilles Lucca pegangi dahi. Yakin, murid walinya sedang mengejek ia kini di belakang punggungnya.


"Kamu mengaku bujangan, kan?"


"Aku katakan Anda pacarku berulang kali. Eva anggapku berhalusinasi, agak gila. Terlebih Anda bersama Ethan Sanchez semalam minum kopi juga mesra. Eva semakin yakin aku hanya mengada-ada." Archilles Lucca tambahkan. "Aku sedikit cemburu pada keberuntungan Ethan Sanchez. Ibu Anda mendukungnya dan Anda mungkin masih menyimpan perasaan mendalam padanya tanpa Anda sadari. Aku seperti bergantung di sebatang ranting rapuh. Anda akan tinggalkan aku suatu waktu."


"Begitukah menurutmu?" tanya Arumi Chavez mengusap kening Archilles yang memerah seperti digigit serangga. "Aku hanya ingin bersamamu." Arumi lesu, tundukan kepala bersandar pada Archilles dan bersedih.


Arumi tidak paham perasaannya sendiri. Yang ia miliki pada Archilles hanyalah ingin pria itu di sisinya, melihatnya dan bersamanya melewati hari. Ia tak bisa bilang ia mencintai Archilles Lucca sebab ia tak rasakan hal yang sama seperti ketika ia jatuh cinta pada Ethan Sanchez. Tak begitu rasakan debaran gila yang buatnya berbunga-bunga, mengembang dan menguncup.


Pada Archilles hanya sesuatu yang lebih sederhana. Hanya bahagia bersama Archilles. Mereka mengalir begitu saja, apa adanya.


"No no no, please jangan bersedih! Mari kita nikmati hari ini." Archilles menopang dagu di atas kepala Arumi.


Setelahnya, mereka berboncengan sepeda menyusuri kota kecil yang dikelilingi perbukitan dan berada di dataran tinggi.


Matahari terbenam lebih lambat di kota ini. Jalanan lembab musim dingin. Langit redup oleh awan selubungi sumber cahaya. Angin berhembus meniup pepohonan yang ditinggal sedikit dedaunan.


Tak banyak terlihat pengunjung jalan. Hanya satu dua orang dan itupun jarang ditemui.


Arumi menyukai bersepeda bersama kekasih. Dua tangan lingkari pinggang Archilles, memeluk erat-erat terasa begitu indahnya. Mirip dalam drama-drama romantis. Leona ikut dari belakang. Tadinya ingin pulang ke penginapan tetapi Arumi ingin Leona ikut. Jadi, Leona hanya nyalakan kamera dan videokan setiap momen. Feeling-nya tak begitu bagus soal ini. Nona Arumi terlalu berani mengambil resiko dengan mencari Archilles Lucca.


Nyonya Salsa akan berpikir Nona Arumi menantangnya. Ini buruk jika Nyonya Salsa sampai tahu. Namun, lihat gadis belia bersinar bahagia di belakang pacarnya, Leona hanya ingin pahami Arumi Chavez. Mungkin saat ia punya pacar dan dalam hubungan long distance relationship, ia akan mengerti hati Arumi Chavez.


Lewati stadion juga markas klub bola kaki kota kecil yang tak begitu terkenal tetapi sangat dicintai walaupun tak sering masuk liga, mereka kemudian dituntun ke sebuah tempat sangat spektakuler, persis seperti dalam foto yang ditunjukan Young Vincenti pada Arumi.


Sebuah kastil tua bertahta di tebing semacam sangkar dibuat seseorang yang miliki kemampuan supranatural. Otak Arumi tak bisa sampai ke sana.


Bagaimana bisa? Bangunan itu seakan menyatu dengan tebing? Ada jalan setapak dibangun kesana dan sebuah jembatan melengkung di atas sungai mengalir cukup deras.


"Tempat apa ini?" tanya Arumi Chavez.


"Water Park." Mereka berhenti sejenak. Archilles menunjuk pada kastil tua di seberang sungai. "Yang di sana itu adalah sebuah kastil. Seorang pria bangsawan membangun kastil itu untuk kekasihnya yang introvert. Di sana mereka besarkan anak-anak mereka dan hidup bahagia. Beliau seorang arsitek. Kini, tempat itu dihuni oleh salah satu penerusnya."


"Aura cinta dan kehangatan memancar dari menara-menaranya."


"Ya, benar."


"Emm, ngomong-ngomong, aku tak lihat ada wahana air?"


"Hanya ada satu wahana yang dimainkan di sini."


"Adakah tempat seperti itu? Taman air dengan hanya satu wahana?"


"Mari kita ke sana."


Mengayuh sepeda ke hulu. Pada wilayah dengan permukaan air sangat lebar dan luas. Di sana beberapa pasang muda-mudi tampak berambisi ingin taklukan permainan. Seorang pria berdiri di atas sebuah perangkat papan yang tersambung oleh pipa panjang ke mesin jet di satu sisi. Seorang instruktur.


Sesuatu mendorong papan itu ke udara hingga penggunanya bisa melayang jauh dan berputar-putar.


"Ugh, apa aku akan baik-baik saja?"


"Anda bersamaku, Nona."


Archilles Lucca memakai helmet, rompi mirip pelampung. Ia mulai masukan kakinya ke sepatu khusus flyboard. Ia mengatur keseimbangan. Pria itu berdiri di sana, di atas permukaan air mirip Iron Man sedang dua sisi papan air bertekanan menderu. Ia mulai terdorong naik. Lambaikan tangan pada Arumi.


Archilles Lucca tidak hanya kuasai gerakan-gerakan dasar. Ia mulai ber-akrobatik kini di udara tanpa bermasalah dengan keseimbangan dan tampak sangat berpengalaman. Mengirim sinyal dari atas agar Arumi bersiap.


Jantung Arumi lekas berdebar-debar. Ini pertama kali ia mencoba sesuatu yang cukup ektrim. Dibantu Leona, Arumi lepaskan mantel dingin, syal dan topi. Agak aneh memang, mereka akan bermain air dan angin di dinginnya udara dataran tinggi ini.


"Mau terbang denganku, Nona?" tanya Archilles ulurkan tangan, berdiri di hadapannya ditepi stasiun kayu.


Arumi Chavez tanpa alas kaki datangi Archilles yang langsung raih tangannya kemudian bantu ia berpijak di antara celah kaki-kaki Archilles yang memakai sepatu flyboard.


Kedua tangan Archilles memeluk pinggang Arumi kuat sedang Arumi refleks lingkari kedua tangan di leher Archilles. Percaya pada pria itu sepenuh hati.


Mereka naik ke udara. Pelan lalu lebih bertenaga. Leona di tepian mengambil video. Sesekali melambai.


"Anda bisa lakukan beberapa gerakan indah." Archilles menarik lepas ikatan rambut Arumi. Sangat indah tergerai di atas tangan dan lengannya.


"Oh, aku tak akan berani. Aku takut jatuh dan lepas. Dramaku belum lagi mulai," sahut Arumi Chavez ragu, memeluk Archilles kuat-kuat. Bicara di leher Archilles. Begitu jelas denyutan pembuluh darah Archilles Lucca terperangkap olehnya. Ia menahan gejolak hati. Gigi-gigi gemeletuk.


Pikiran Arumi terjemahkan apa yang dilihat matanya sebagai sesuatu yang disebut kaum hawa sebagai *3**1. Arumi Chavez palingkan kepala hindari diri tergoda pergi ke sana. Takut lepas kendali dan tersesat oleh daya tarik sangat kuat.


"Aku pegangimu, Nona. Lihat aku! Kita akan baik-baik saja! Anda akan menyukai ini."


"Aku percaya padamu."


Ketika tekanan bertambah mereka berada sebelas meter di atas udara. Archilles Lucca membawanya berputar-putar. Arumi Chavez menjerit pelan, pejamkan mata, mengisi bayangan mereka. Memeluk Archilles makin kuat saat pinggangnya sedikit diangkat hingga kaki bebas dari pijakan. Lepas. Ia kini melayang di udara.


Sedikit jauhkan tubuh dari Archilles, ia melihat pria itu sedang menatapnya, mengulas senyuman hangat. Ada sesuatu dari caranya tersenyum. Mata pria itu wakili isi hati yang tak dapat diungkapkan lewat kata tentang cinta, dan pengabdian. Pesan segera sampai padanya hingga Arumi rasakan aroma manis itu di antara detak jantung yang terpacu adrenalin.


"Temukan momen, bentangkan tanganmu pelan-pelan. Aku akan menjagamu, Nona!"


Tubuh Arumi diajak berputar-putar, kakinya secara sempurna ciptakan gerakan anggun. Rambut kecokelatan emas dimainkan angin hasilkan sebuah keindahan mempesona. Gestur tubuh Archilles mendukung kepercayaan diri Arumi. Bahwa pria itu akan melindunginya. Atasi ketakutan, Arumi berani lepaskan pelukan dan mulai bentangkan dua tangannya.


"Ya, luar biasa Nona."


Terdengar tepukan tangan dari bawah sana. Berputar semakin cepat, naik dan turun, kakinya kembali pada Archilles, menjepit pinggang pria itu. Memeluk erat-erat oleh manuver turun, sangat cepat meliuk dan bersalto. Terbenam lebih dalam di leher Archilles.


Arumi memekik oleh guncangan emosional, Archilles sungguhan membawanya terbang.


"Anda menyukainya?" tanya Archilles di kupingnya. "Aku mimpikan hari ini dan terima kasih Tuhan telah menjadi kenyataan."


"Uhum ..., apakah kamu berhenti saja jadi guru dan aku berhenti jadi artis. Kita bisa mulai karir baru yang tidak dipikirkan oleh kebanyakan orang." Arumi Chavez mulai rasakan pusing dan mual, tetapi ia juga mulai ketagihan.


Archilles terkekeh. "Sepertinya Anda mulai jatuh cinta pada olahraga ini."


"Ya," angguk Arumi, "dan jatuh cinta padamu."


Archilles Lucca menahan napas dan keseimbangannya, berhenti bergerak. Ia menoleh pada gadis dalam dekapan yang kini telah pergi dari lehernya hanya menatap lurus pada dadanya. Ia bisa rasakan bekas kecupan di setiap saraf di lehernya sebab ia terus saja merinding sejak tadi.


"Terkadang, tak ada apapun dalam otakku, aku hanya memikirkanmu," tambah Arumi.


Archilles ketatkan pelukan, ia tidak hanya sedang melayang secara nyata tetapi juga dalam makna kiasan. Dan ketika Arumi mendongak padanya, Archilles ingin menyangkal hasratnya sendiri. Pada mata yang sedang memindainya.


"Nona ..., aku berubah gila karenamu!" keluh Archilles tak bisa mencegah desiran halus di sepanjang pembuluh darahnya.


Arumi menekan tengkuknya agar lebih rendah hingga ia membungkuk. Mereka berciuman delapan belas meter di udara, di puncak tertinggi jetski lontarkan mereka. Singkat saja tetapi jantung Archilles seakan melompat keluar. Ini ciuman pertama mereka.


Meraih tangan Arumi letakan telapak tangan di dadanya. Mungkin tak bisa rasakan apapun dibalik rompi keselamatan yang ia pakai atau ia hanya berharap gadis ini tahu seluruh isi di kedalaman sana, yang bergemuruh saingi deru air dari sepatu jetnya.


"Aku mencintaimu, Nona."


Arumi tersenyum, menulis lirik lagu dengan cepat di kepalanya. Delapan baris.


Dia menciumku sangat lembut


Dan dia adalah malaikat penjagaku


Dia milikku


Mataku terpejam, tak ada lagi tabu


Lalu dia mengajakku melayang


Tinggi hampir menyentuh awan


Cara dia menyentuhku


Beritahu aku dia mencintaiku


Leona telah mengambil video, Arumi akan gabungkan irama sungai lalu temukan nada yang tepat di pianonya.


Dan ketika mereka kembali bertemu, Archilles perlu menjaga kesadaran sebab gadis belia ini, Arumi Chavez, lebih profesional darinya dalam urusan berciuman.


Wajah Archilles ungu tua. Ia seperti pria lapuk kuper hadapi kemampuan Arumi Chavez. Gadis ini mengajarinya.


Lutut Archilles gemetaran. Ia akan segera mati lemas. Mereka bisa tenggelam ke dalam dasar sungai yang dalam. Ia akan cemburu pada siapapun lawan main Arumi Chavez di dramanya. Ia tak akan menonton pacarnya berciuman dengan pria lain. Oh tolong, apa yang harus ia lakukan?


"Untuk cintamu padaku, aku akan membalasnya dengan sebuah lagu yang indah. Kamu akan tahu saat mendengarnya."


"Anda akhirnya temukan kepandaian Anda. Aku sangat bergembira untuk itu."


Dalam gendongan Archilles mereka kembali berakrobat sebelum turun. Arumi tak akan pernah lupakan hari ini. Ia akan mengingatnya sebagai momen terbaik dalam hidupnya.


Kembali pulang ke penginapan setelah mampir di Biara, mereka bertiga gunakan dapur villa memasak dan memanggang daging. Makan satu jam sebelum jam makan malam karena Archilles akan membawa mereka menonton konser grup musik lokal di taman kota.


Di sana akhirnya. Arumi paling depan pegangi pagar pembatas, pertama kali pergi ke konser musik lebih merakyat. Pengunjung berdesakan, group band ini sangat populer di sini. Tiket masuk terjangkau dan ketika petikan gitar mulai, para pengunjung terbenam dalam euforia. Mereka hapal semua lagu yang dibawakan.


Semua orang bernyanyi, lebih ramai di bagian refrain. Archilles menjaga Arumi Chavez dari berdesakan. Ia penjarakan Arumi dalam dua lengan sedang tangan-tangan menumpu pada besi pembatas.


"Anda boleh melompat dan menari sesuka hati." Archilles bicara dari belakang. Leona di sisi kiri.


"Ya, Anda benar."


"Anda seperti fans garis keras band ini, Nona!"


"Musiknya easy listening. Mereka hebat, Archilles. Apakah kamu sering kemari?"


"Ini yang pertama."


Tak sadari Manuel Cesar juga di barisan depan bersama Beatriz. Ia seperti biasa dijaga satu geng termasuk Eva Romero yang menatap Archilles tanpa ekspresi.


Cesar, seksama perhatikan Archiles Lucca sedikit mencela sikap gurunya yang bucin akut. Bahkan dibanding Beltran dan Beatriz, guru Lucca lebih sembrono saat jatuh cinta.


"Anda tak malu-malu kasmaran pada pacar Anda di depan umum, Sir," tegur Manuel Cesar saat musik berakhir dan band masih bersiap untuk lagu berikutnya. "Aku tak akan mengakuimu sebagai guruku saat ada yang bertanya. Anda tidak pantas jadi panutan."


"Sisi lain Manuel Cesar sedang bicara padaku. Kamu bisa jadi ketua OSIS gantikan Beltran. Bersama Beatriz kamu kedapatan hebat. Anda dapatkan dukunganku, Cesar."


"Jangan menyogok aku."


"Kamu tak akan adukan aku pada kepala biara." Archilles mengulas senyuman samar. Saat ceramahi gaya pacarannya, Cesar tampak normal.


"Kupegang ekor-mu, Pak Guru." Cesar menjawab santai. "Hati-hati denganku."


"Ayolah, Bung. Aku hanya seorang pria biasa yang miliki sebentuk hati." Archilles pura-pura ketakutan pada ancaman Cesar.


"Aku tak yakin ingin kerja sama denganmu, Sir."


"Kami bertemu sebulan sekali dan sangat sulit sebab kami backstreet."


"Anda barusan curhat padaku. Betapa cengengnya jadi pria."


"Apakah kamu membawa Beatriz atas ijin Beltran?"


"Beatriz akan kencan denganku selama satu Minggu. Aku tak akan mengganggu mereka setelah itu."


"Apakah otakmu pernah tersengat ubur-ubur?"


"Mungkin. Ubur-ubur air tawar lebih berdampak. Setelah selesai dengan Beltran Domingo, giliran Anda, Sir. Mengusik guru waliku kelihatan lebih menarik," sahut Manuel Cesar menarik paksa Beatriz ke depannya, meniru cara sang guru lindungi kekasihnya.


Beatriz menolak tunjukan bahwa ia tidak nyaman tetapi akhirnya tanpa pilihan. Pengunjung berdesakan sebabkan Beatriz sering terinjak dan terdorong.


Beatriz kemudian pasrah hanya menoleh ke sebelah pada Arumi Chavez yang berseri-seri. Sedang Cesar sama seperti Archilles ditabrak berulang kali oleh pengunjung yang bersemangat.


Archilles menyipit pada Manuel Cesar, pada pikiran gila dan kehendak bebas muridnya yang satu ini.


"Kamu akan sakiti Beltran!"


"Aku iri. Anda sangat perhatian padanya."


"Kamu menolak diperhatikan! Tak ada untungnya terus berselisih dengan Beltran."


"Anda akan berhenti bicara saat pacar Anda diam-diam diambil sahabat Anda. Aku sedang membagi deritaku padanya. Ia hanya harus setuju menanggung selama seminggu. Tak menutup kemungkinan Beatriz akan jatuh cinta padaku."


Beatriz mendongak ke belakang pada Cesar menggeleng tidak setuju. Wajah gadis itu sangat sinis.


Jelaskan awal permusuhan Beltran dan Cesar juga kesepakatan dua muridnya setelah ia pergi dari kafe tadi. Menoleh pada Beatriz yang tertekan tetapi memilih diam. Archilles ragu Beltran sepakati keinginan Cesar kecuali Beatriz yang telah membuat keputusan untuk lindungi Beltran.


Archilles kembali pada Arumi yang lebih sibuk terpana pada podium kemudian berkenalan dengan Beatriz. Mereka cepat dekat.


Ikuti tatapan Arumi. Ternyata gadisnya menangkap Eva Romero tak jauh sedang awasi mereka. Arumi menyerang Eva tajam berisi peringatan hingga Eva berhenti perhatikan mereka. Archilles mengecup puncak kepala gadis itu.


"Nona, Anda akan membuatnya trauma datang ke sekolah," bisik Archilles.


"Beritahu aku kalau dia mengganggumu."


"Eva tak akan berani."


Konser berakhir. Mereka kembali ke penginapan.


"Jam berapa penerbangannya?"


Pertemuan mereka selalu singkat tapi penuh kesan.


"Jam 9 pagi." Hanya ada satu penerbangan dari kota ini ke ibukota. Malam Arumi akan ke Paris. "Apakah kamu akan antarkan aku?"


"Aku tak bisa bolos dari kelasku."


"Ya bisa kulihat. Muridmu sangat sulit."


"Aku akan ke sini besok pagi dan antarkan Nona ke Bandara."


"Ada banyak kamar tidur di sini. Kamu akan tinggal bersama kami," tolak Arumi.


"Nona ...."


"Aku ingin melihat bintang bersamamu!"


"Berawan di atas sana dan tak ada bintang."


"Kalau begitu kita hanya akan menonton gelap dan pekat." Arumi punya banyak alasan. "Aku tak akan merayumu. Aku janji. Lagipula, ada Leona."


Begitulah akhirnya mereka habiskan malam di living room menonton kumpulan video lucu dan mengobrol.


Gadis itu kemudian pamitan dan pergi ke kamarnya sisakan Archilles dan Leona.


"Ini buruk jika Nyonya Salsa tahu." Leona minum soda.


"Ya. Beliau punya alasan membunuhku kini."


"Hubungan Nyonya Sanchez dan Nyonya Salsa mungkin akan segera pulih dan membaik. Nona Arumi tertekan sejak semalam hadapi Ibunya."


"Jaga dia untukku, Leona."


"Um, ya. Nona akan syuting tanpa jeda sampai tanggal 20 Desember. Dan akan habiskan tiga hari di perkebunan anggur Tuan Henriques."


"Jangan biarkan Nona kembali kemari dalam waktu dekat, please. Nyonya Salsa tak akan suka."


"Nona tak akan kemari kalau Tuan Vincenti tak menghasutnya."


"Oh ya?"


"Em, ya."


"Young Vincenti tak boleh sering bersama Nona Arumi. Pria itu bermasalah dengan banyak geng. Nona bisa dalam bahaya."


"Baiklah."


"Pergilah tidur, Leona. Aku akan di sini sampai pagi."


Mengitari vila dekat kolam renang. Ruang tidur Nona Arumi menghadap langsung ke arah kota. Tak ada penginap lain karena menurut Leona tempat ini di-private khusus untuk Arumi oleh Young Vincenti.


Krak!!!


Ranting berderak terinjak kaki tak jauh dari ruang tidur Arumi dan ada jeritan kecil terdengar dari dalam. Cahaya kecil terangi ruang tidur kamar itu sepertinya cahaya ponsel.


"Nona?!"


Berlari masuk dan langsung menuju kamar. Leona ikut dari belakang.


"Aku mendengar sesuatu!" kata Leona.


"Nona?"


Listrik dihidupkan. Arumi Chavez melompat turun dari ranjang dan berlari pada Archilles.


"Seseorang baru saja di sini."


"Apa Anda melihatnya?"


"Aku tidak yakin. Aku hanya tidur dan merasa seseorang sedang mengintipku."


"Anda bermimpi buruk."


"Uhhum. Aku sedikit gelisah."


"Semuanya akan baik-baik saja."


Archilles tak tidur malam itu. Ia memeriksa keliling vila, tak temukan apapun. Arumi Chavez tak jauh darinya di atas sofa, terlelap memeluk bantal.


Archilles tak bisa abaikan hal-hal kecil yang mengganggu instingnya. Bernapas lega menjelang pagi. Akhirnya ia tertidur.


Sedang Arumi Chavez bangun pagi harinya, menoleh dapati Archilles tertidur dengan posisi duduk. Pergi ke sana dan menyentuh wajah pria itu. Tak ingin menganggu.


Putuskan pergi ke dapur. Merebus kentang. Ketika kepalanya terangkat seseorang berdiri di luar sedang menatap padanya. Ia merinding. Berjubah cokelat seperti para biarawan tetapi bertopi runcing. Arumi berpaling ke ruang tengah. Archilles bergerak sedikit, membuka mata.


"Ada apa, Nona?" Pria itu lekas sadar. Arumi kembali ke kolam renang, tak ada siapapun di sana.


Arumi menggeleng. Apakah ia berhalusinasi?


Mereka berpisah di bandara. Archilles memeluk gadisnya. Mendoakannya dalam hati.


Bertanya-tanya mengapa ia ketakutan saat gadis itu hilang dari pandangannya?


Terakhir aku melihatmu baik-baik saja


Kita habiskan hari


Jelajahi kota kecil


Terbang di atas laguna indah


Damai seperti cintaku padamu


Angin musim dingin berhembus


Menghirup aroma rambutmu dalam kedua lenganku


Berdoa pada empunya langit dan bumi


Menjagamu selalu saat aku tak di sisimu


Karena duniaku lebih berarti semenjak aku mencintaimu


***