My Guardian Angel (The Dust of Love)

My Guardian Angel (The Dust of Love)
Chapter 98. Não Me desperdice



Jangan Sia-siakan Aku!


***


Tersembunyi beberapa meter di bawah tanah, klub malam cuma seperti parkiran mobil pada umumnya.


Bukan sembarang klub. Tempat supermewah dan letak "tak biasa" sangat sulit diakses. Sangat tertutup. Cuma bisa oleh pemimpin senior sebuah perusahaan, beberapa kalangan selebritas yang lolos seleksi dan pemimpin usaha lain yang sedang naik daun.


Hanya oleh kalangan yang benar-benar terpilih.


Diomanta termasuk salah satu member klub. Keanggotaan Pub US$ 1,5 juta (21,6 milliar) untuk kelas VIP dan mendapat banyak hak layanan terbaik, fasilitas lengkap seperti bepergian dengan jet pribadi dan parkiran mobil mewah.


Melangkah di atas high heels setelah keluar dari mobil. Ia melirik pada mobil suaminya, sedikit galau karena James Chavez seakan tidak peduli padanya.


Well, ia tak mungkin berhenti dan mengubah rute sedang ia telah ada di ambang club.


Salsa Diomanta menggesek ID Card dan disambut oleh pelayan Club', seorang pria lebih mirip model papan atas ketimbang pelayan club. Ia berikan mantelnya.


Suasana club' cukup ramai padahal harusnya sangat sepi karena dalam sehari mereka harusnya hanya layani 2 - 3 tamu. Mungkin ada pengecualian di malam ini?


Tempat ini menjaga privasi tingkat tinggi tanpa kamera pengawas dan semboyan "diam adalah emas". Anda tak akan dapatkan informasi apapun dari pelayan club' yang selalu senyap karena dilarang mengajak tamu bicara kecuali diajak bicara terlebih dahulu oleh para tamu. Dan satu lagi, dalam ruang privasi yang berkelas, club' ini sangat rahasia.


Salsa diantarkan ke tempat duduk sedang di seberang tiga orang pria dan seorang wanita tampak terlibat percakapan serius. Beberapa dokumen di atas meja.


Para pebisnis beramai-ramai pindahkan pekerjaan ke tempat ini oleh referensi kenyamanan terlebih aturan baku bersifat sangat rahasia. Salah seorang pria antusias pada kedatangannya, lambaikan tangan, say "hi!" dan "Nice to see you" sampai-sampai buat yang lain ikut jadikan dirinya pusat perhatian. Salsa Diomanta balas dengan senyuman.


Ugh, mengapa harus bertemu Laurent Vincenti di sini? Laurent bukan lawan, bukan juga kawan. Mereka hanya pernah terikat kerja sama dalam beberapa proyek saling menguntungkan.


Duduk menghadap aquarium besar, di mana seekor ikan emas, satu-satunya; berenang bebas nikmati hidup menguasai perairan. Begitu cantik dan mewah tetapi sendirian. Sangat pas untuk dipersonifikasikan dengan dirinya.


Pelayan pria hampiri dirinya.


"Mungkinkah ada minuman tanpa alkohol?" tanyanya pada pelayan. Penuh penyesalan. Harusnya tidak terseret emosi dan datangi club hanya untuk panas-panasi suaminya. Toh, pria itu juga tanggapi dingin.


"Kita tak punya yang seperti itu, Nyonya. Tetapi, jika Anda ijinkan, aku akan meracik koktail Sazerac di hadapan Anda."


Pegawai pria yang wajahnya sangat berkarakter dan benar-benar menggoda tawarkan Salsa alternatif lain. Samaran bagus. Dia tidak cuma sedang menawarkan minuman tetapi membuka jalan lain agar Salsa berminat padanya.


Sebelum Salsa sempat menjawab, seorang pelayan wanita datangi tempatnya. Membawa minuman segarkan mata. Tampak seperti jus. But, tak ada minuman tanpa alkohol di sini termasuk jus ini.


"Aku belum memesan minumanku."


"Nyonya Diomanta, Tuan Vincenti mengirim koktail Brown Derby untuk Anda. Bertanya, maukah Anda bergabung di meja sebelah?"


"Haruskah aku menerimanya?"


"Ini adalah koktail perpaduan bourboun, juice grapefruit dan sirup madu. Jika Anda tidak ingin bergabung, Tuan Vincenti hanya ingin Anda nikmatinya selama Anda di sini."


"Aku ingin sendiri. Sampaikan terima kasih padanya."


Salsa mendongak pada pelayan pria yang seakan menantikannya.


"Duduklah!"


Menurut.


"Berapa umurmu?"


"24 tahun, Nyonya."


Berdecak dalam hati. Seumuran Elgio Durante dan Archilles Lucca. Ckckck, James Chavez akan berpikir ia sedang berlomba-lomba mencari jodoh dengan dua puterinya. Suaminya akan menertawakannya tanpa henti.


"Namamu?"


"Apakah harus, Nyonya?"


"Ya. Aku tak suka bercakap pada kucing dalam kantung."


"Benigno."


"Baiklah, Benigno. Aku hanya akan minum beberapa tembakan lalu pergi dari sini sebelum terlalu mabuk. Puteriku tak akan suka jika tahu aku kemari dan digodai pria seumuran suami mereka. Oh, yang benar saja!" Salsa Diomanta bicara sedang pelayan pria mendengarkannya.


"Aku berpikir Anda mungkin masih single."


"Aku bahkan belum fly, Benigno. Kamu memanggilku Nyonya tiga kali."


Biarkan saja James Chavez menceraikannya dan bersama wanita lain. Oh, mengapa juga menurunkan harga diri untuk mengemis pada pria itu? Jika ia inginkan seseorang bersamanya di atas ranjang ia bisa gunakan uangnya. Tak perlu libatkan perasaan, tak ada perjanjian hanya tidur bersama. Selesai.


Juga tidak dengan pria muda. Astaga, lihatlah dirinya. Jangan sampai Elgio Durante tahu kelakuannya. Menantunya akan melarang keras Aruhi bertemu dengannya. Dan Archilles Lucca punya alasan mengkritik sikapnya lagi.


Percayalah Salsa, Archilles Lucca sedang menunggumu tersandung! Dan Arumi, si gadis galak itu, jangan tanya reaksi Arumi. Salsa mengurut tengah kening. Ia mulai pening.


Atau begini saja, mari pergi. Lupakan semua termasuk niat menggoda James Chavez. Ia akan hidup bersama bayangan dari pria yang sangat mencintainya. Mungkin cukup begitu saja.


Bertarung dengan diri sendiri, Salsa kemudian menulis cek berikan pada Benigno. Pikiran waras akhirnya kembali ia genggam. Cukup sudah bersandiwara, ia akan hentikan dan pulang ke rumah. Tidur dan bermimpi. Niscaya besok pagi, ia miliki suasana hati lebih bagus.


"Terima kasih sudah menemaniku."


"Nyonya ..., ini sangat banyak."


"Ya. Tolong lakukan sesuatu untukku." Salsa keluarkan ponsel. Sodorkan pada Benigno. Tampilkan foto Archilles Lucca dan Elgio Durante.


"Kamu akan hubungi aku jika dua pria ini mampir kemari terlebih jika keduanya bersama seorang wanita atau memakai jasa gadis pelayan di sini."


"Nyonya, aturan di sini sangat jelas. Privasi adalah nomer satu."


"Keduanya adalah anak-anakku," sahut Salsa Diomanta tajam. "Aku, ibu mereka. Satu ini ...," tunjuknya pada foto Elgio Durante, "telah menjadi member club'. Sedangkan yang satu ini ..." pada foto Archilles Lucca. "Mungkin akan segera aktif."


Atau sudah bergabung sebab Archilles Lucca miliki akses tanpa batas ke berbagai tempat. Bekas penjahat macam Archilles, tahu caranya kamuflase di sebuah ruang tertentu tanpa perlu banyak usaha.


"Perhatikan wajah mereka baik-baik, Benigno. Aku minta tolong padamu sebagai seorang Ibu yang peduli pada anaknya."


"Baiklah, Nyonya. Bisakah Anda menungguku meracik minuman sedikit kadar alkohol dan mengubah mood Anda?"


"Aku ragukan niatmu."


"Aku mengucap terima kasih karena Anda telah membantuku." Menatap Salsa berterima kasih. Dari gestur tubuh beritahu Salsa bahwa pria muda ini sedang butuh uang. Ingatkannya pada Ethan Sanchez. "Aku sendiri yang akan antarkan Anda pulang, Nyonya. Beritahu aku jika Anda ingin pulang."


Benigno pergi. Tak lama berselang kembali dengan minuman lain. Disajikan tanpa kata. Benigno tuangkan minuman ke dalam gelas. Salsa mulai minum sambil perhatikan gerakan anggun ikan emas. Sendirian tanpa ingin ditemani. Setelahnya akan langsung pulang. Merasa diperhatikan, menengok sedikit temukan Laurent Vincenti seakan ingin bicara dengannya. Kembali ke aquarium. Hembuskan napas pelan-pelan.


"Temanmu tak jadi datang?"


Teguran, bikin Salsa Diomanta kaget luar biasa. Pegangi gelas erat. James Chavez dari arah belakang. Tanpa minta ijin duduk di hadapannya.


"Atau tidak akan pernah datang?" tambahnya senang mengejek.


"Lucu," balas Salsa Diomanta memutar gelas di tangan, atasi gugup, minum wine sedikit lalu letakan perlahan. Ia tak melihat kedatangan suaminya sama sekali. Satu-satunya alasan, ia sibuk menonton ikan. "Mengapa di sini? Bukankah punya urusan penting?"


Salsa bertanya sarkas.


"Aku ingin berkenalan dengan teman kencanmu."


"Anda tertarik pada kehidupan pribadiku sampai-sampai tinggalkan bisnismu dan menyelinap kemari?"


"Aku penasaran." James Chavez tidak malu untuk jujur.


"Dia ternyata sedang sibuk."


James Chavez menyeringai sedikit. Kerutan di wajah menambah daya tarik yang dibenci Salsa.


"Salsa ..., kamu bermasalah dengan kepribadianmu. Perbaiki itu dulu, kehidupanmu selanjutnya akan lebih baik."


"Anda bicara seakan sungguhan mengenaliku lebih baik dari aku sendiri."


"Kamu bukan tipe pemegang komitmen serius. Aku tidak heran, kamu ditinggalkan sendirian berkali-kali." Diucapkan perlahan-lahan.


Salsa menatap James Chavez. Hanya satu orang berhak ceramahinya soal komitmen dalam jalani hubungan percintaan. Hanya Ebenn. Karena Ebenn-lah wujud nyata dari komitmen itu sendiri. Dedikasi diri, waktu, cinta tanpa imbalan, tak ada keluhan pada Salsa dalam jangka waktu panjang, pengorbanan - masih banyak lagi kesempurnaan - Salsa m3r1nt1h pelan tanpa sadar.


Bagaimana bisa aku sia-siakan dirimu?


Meneguk minuman ingin hilangkan kesakitan.


"Mengenaskan," angguk James Chavez dari sebelah. "Aku pernah mencobanya, Salsa," katanya terdengar patah hati. "Jika kamu tak terlalu sibuk berkarir sebagai gangster. Aku pernah berkomitmen untuk menjadi pasangan terakhirmu. Tak ada perundingan. Kamu teler pada harta ayahmu dan sia-siakan orang yang ingin bersamamu."


Salsa minum lagi. Rasa pahit dan kepahitan itu sendiri mengisi tubuhnya. Walaupun geram, suaminya benar dan ia tak bisa mencegah dirinya mengumpat peringai buruknya di masa lampau.


"Kamu ingin pamer pacar barumu padaku tetapi karena dia adalah pria fiktif, kamu akhirnya mencoba menyewa jasa pelayan di sini?"


Salsa Diomanta menghela napas panjang. Menyebalkan karena James Chavez semacam musuh yang tak ingin melihatnya bernapas dan hidup. Sangat bergembira saat ia kelelep sekarat dan mungkin dengan senang hati akan menguburkannya.


"Kamu suka memancing keributan denganku, ya?"


"Semakin menarik, Salsa. Kamu terlalu kentara ingin menarik perhatianku kembali padamu."


Salsa Diomanta menatap suaminya, lekas merah padam.


"Maafkan aku, Salsa. Setelah Arumi menikah kita juga selesai." Buru-buru ditambahkan seakan takut kelupaan.


Salsa ingin menyahuti tetapi seorang gadis pelayan datang bawakan minuman. Letakan di depan suaminya. Saat pelayan hendak pergi, Salsa menahannya.


Salsa baru saja rasakan yang dikata para pemikir, senjata makan tuan. Menjengkelkan karena ia terjepit dan hanya ada satu cara untuk keluar dari cengkeraman suaminya.


"Bisa tolong kirimkan pesan pada Tuan Vincenti di meja sebelah, kapan rapatnya akan berakhir? Aku mulai pegal menunggunya di sini."


"Baik, Nyonya akan aku sampaikan?"


"Tolong tambahkan. Pria di depanku ingin berkenalan dengannya." Salsa bicara tak alihkan pandangannya pada James Chavez. Hanya berharap pria model Laurent Vincenti cukup s3n51t1f diajak bersekutu dalam permainan paintball dan misi mereka "mari membungkam musuh".


"Baiklah, Nyonya."


Gadis pelayan pergi, hampiri meja sebelah. Salsa tak ingin lihat apa yang akan terjadi setelahnya. Mengapa ia memulai kebohongan hanya karena tidak mau dihina dan ditindas? Semakin parah saja.


James Chavez mengetuk meja dengan telunjuk amati Salsa mengira-ngira. Sedang Salsa akhirnya berani menoleh ke sebelah. Menatap pada pria yang bangkit berdiri tinggalkan group seakan bersua dengannya lebih penting.


James Chavez menatapnya kini. Salsa sengaja lemparkan pandangan pada Laurent Vincenti sama seperti yang dilakukan James Chavez pada Andreia Sanchez. Salsa Diomanta tambahkan sedikit g4Ir4h meledak-ledak. Terlanjur basah sekalian saja ceburkan diri.


Tahu persis kini, bakat Arumi Chavez menurun darinya.


"Aku tersiksa melihatmu duduk sendirian, tetapi rapat kami sangat penting. Maafkan aku, Salsa."


"Harusnya aku bergabung denganmu, alih-alih menonton ikan emas hingga seseorang berpikir aku datang kemari dan pura-pura kencan." Salsa Diomanta menyindir tanpa alihkan tatapan sedikitpun dari Laurent. Reting kanan belok kiri. Bersyukur Laurent Vincenti membaca kepanikan yang sangat halus disisipkan ketika mata bertemu. Dan mau menolongnya.


Laurent duduk di sisi Salsa Diomanta. Meraih tangan Salsa dan mengecup punggung tangannya.


Salsa tidak melabelinya totalitas tetapi Laurent Vincenti kebablasan. Herannya Salsa merasa sedikit tersanjung. Bukankah setidaknya seorang pria perlu begitu? James Chavez melihat tindakan memuja Laurent Vincenti, menyipit hingga sudut mata terlipat.


"Ini mantan suamiku ingin berkenalan denganmu," sambung Salsa persilahkan Laurent bersalaman dengan James Chavez.


"Laurent Vincenti."


"James Chavez. Aku masih suami Salsa."


Apa maunya? Salsa menggeram.


"Ya ya ya, aku mengenal Anda, Tuan Chavez. Puteri Anda adalah seorang gadis luar biasa berbakat. Aku terus mendengar Puteraku memuja Nona Arumi setiap sarapan dan makan malam. Merasa Puteraku berlebihan. Sampai suatu waktu, Nona Arumi mampir untuk tugas kelompok di rumah kami. Aku berpikir baru saja kedatangan malaikat."


"Puteramu?"


Laurent mengangkat tangan minta interupsi, menahan obrolan. Ia lalu melambai pada pelayan untuk datang. Benigno yang muncul.


"Bawakan mantel Salsa," pintanya langsung dapatkan anggukan cepat.


Laurent menatap James Chavez. Kembali pada topik.


"Ya. Namanya Young." Menatap Salsa sebentar. Berbalik pada James Chavez. "Puteraku dan Arumi Chavez teman sekelas bahkan satu kelompok belajar."


Cara Laurent bicara bukan omong kosong bahwa Laurent mengenal Arumi dengan baik dan menaruh perhatian besar pada Arumi. Sesuatu yang tidak dimiliki James Chavez. Sedikit membuat James Chavez cemburu. Insting Salsa tidak salah memilih Laurent.


Mereka sama-sama gangster. Hal-hal semacam begini semudah kamu masukan peluru dan menarik tuas.


Benigno bawakan mantel. Laurent Vincenti lekas berdiri dan menerima. Anggukan kepala pada Salsa minta Salsa berdiri sebelum menyelimuti tubuh dengan mantel hingga menutupi pundak polos Salsa, mengusap sisi bahu pelan dan persilahkan duduk kembali.


"Aku tak sabaran untuk datang dan kenakan mantel padamu. Kamu bisa masuk angin, Salsa."


Kini Salsa mendengar bunyi, "klek", dari pistol yang telah berisi peluru. James Chavez kehilangan kontrol pada wajah.


"Terima kasih telah temani Salsa mengobrol tadi," kata Laurent pada Benigno. Beritahu semua orang bahwa Laurent awasi Salsa sejak tadi. Benigno pergi.


Salsa Diomanta seakan baru habis menang pertandingan yang ia pikir hanya akan kelihatan idiot jika ia mencoba.


Sejatinya saat Anda perlakukan wanita lain sepenuh hati dan meninggalkan wanita sah-mu, akan ada pria lain yang menunggu kesempatan.


"Teman-teman sangat ingin kamu ikut dalam diskusi, Salsa. Ini tentang anak-anak."


"Anak-anak?" Salsa beralih penuh pada Laurent yang hanya berusia setahun lebih tua darinya.


"Ya. Kami sedang mengembangkan gagasan sekolah dari rumah untuk anak-anak, membentuk komunitas berstandar tinggi. Kita bisa membuat lingkungan private ideal hanya untuk 5-6 orang anak dengan guru-guru terbaik. Jam pelajaran lebih pendek tetapi padat dan intens. Pengajaran multi language dengan dua guru dalam kelas hingga anak-anak lebih terdidik dan tidak asal-asalan. Terlebih tempatnya bisa berganti-ganti setiap bulan. Komunikasi para profesor dan orang tua lebih bagus. Young dan Arumi berteman baik. Aku pikir mereka akan suka belajar bersama. Akan lebih terkontrol."


Salsa Diomanta tertarik dengan ide itu. Arumi tak harus pergi ke sekolah dan merasa tersiksa.


"Kita perlu minta pendapat anak-anak, Laurent."


"Young setuju saja selama dia bersama Arumi."


Mereka saling bertatapan bicara bahasa kalbu sepanjang lima detik. Sesuatu tanpa rencana. Tak ingat pernah sedekat begini dengan Laurent Vincenti. Salsa akan berterima kasih setelah ini pada Laurent Vincenti.


"Kamu ..., benar-benar ayah teladan." Salsa memuji cara Laurent Vincenti pikirkan masa depan puteranya. Menangkap dengusan tidak senang dari depan. "Aku bertemu Young beberapa waktu lalu. Respek pada sikap dewasanya."


Salsa Diomanta meraih gelas ingin minum lagi. Namun, Laurent menahan tangannya.


"Sudah cukup, Salsa."


"Sekali ini saja Laurent dan kita bisa pergi."


James Chavez bangkit berdiri. Akhirnya goyah. "Salsa, mari kita pulang."


Salsa telah menahan pelatuknya sejak tadi biarkan James Chavez mengintimidasi. Saatnya untuk lepaskan tembakan balasan.


Dor!


"Aku akan bersama Laurent. Aku pikir kami akan habiskan malam bersama di suatu tempat." Salsa menyahut kejutkan dua orang pria yang mengamatinya terlebih wajah merah tua kelabu warna-warni James Chavez.


"Salsa, kita hanya akan pulang dan bersama."


Apa yang suaminya inginkan? Sangat tidak jelas. Seperti remaja awal dua puluhan, labil.


"Barusan aku dengar Anda mengatakan setelah pernikahan Arumi, hubungan kita selesai bukan? Anda sangat ingin bersama pacar Anda yang sederhana dan cantik. Apa ini?"


"Banyak hal bisa terjadi dalam tiga bulan." Terombang-ambing.


Salsa berdecak dalam hati.


"Anda bisa pergi temui pacarmu, Tuan Chavez. Jangan biarkan dia kedinginan. Lindungi dia. Oh ya Tuhan, wanita yang malang." Geli pada perilaku membingungkan suaminya. "Aku akan bersama seseorang yang menginginkan aku!"


"Tuan Vincenti, maafkan aku tetapi aku akan bersama istriku pulang."


James Chavez putari meja, pegangi Salsa dan minta ikut.


"Anda akan hormati keputusannya ingin bersama siapa, Tuan Chavez." Laurent Vincenti ikutan berdiri, bicara tegas. Akhirnya keluarkan watak asli. Kompromi tetapi pada hal tertentu.


"Sampai tiga bulan ke depan, kami masih suami dan istri. Tolong jaga jarak dengan istriku," balas James Chavez menolak digertak.


Laurent Vincenti menatap James Chavez tajam.


"Kalau begitu, Anda akan menjaganya dengan benar mulai sekarang, Tuan Chavez. Jangan sia-siakan seorang wanita yang tidak ingin lepaskan Anda."


"Terima kasih untuk petuahmu, Tuan."


"Saat istri Anda ingin bersamaku lain kali, aku akan memenangkan hatinya dan Anda tak akan mampu mencegahnya lagi."


***