My Guardian Angel (The Dust of Love)

My Guardian Angel (The Dust of Love)
Chapter 62. The Chorus and The Verse



"Masuk!"


Satu jam setelah makan siang Archilles Lucca hendak pergi ke ruangan guru bergabung bersama rekan-rekan ketika kepala sekolah minta ia menghadap. Ia menebak pasti berkaitan dengan tindakannya tadi pagi di kelas. Sepanjang hari Kepala Sekolah cukup sibuk dengan agenda kerja. Mungkin ini waktu yang cocok.


Waktu istirahat di sekolah ini memakan waktu dua jam sebelum kelas kemudian diadakan lagi hingga menjelang pukul empat sore. Para siswa biasanya habiskan senggang di perpustakaan, kantin, ruang olahraga, kelas atau taman.


Kepala Sekolah, seorang pria berusia diawal kepala empat bernama Luiz Armando, kemudian persilahkan Archilles Lucca duduk.


"Aku menerima banyak pengaduan dari wali murid. Ada banyak kritikan pedas juga."


Tentu saja, murid-murid bandel pasti mengadu pada orang tua mereka di waktu istirahat.


"Anda pasti kesulitan."


"Aku berpura-pura tuli." Luiz Armando berikan ponselnya pada Bu Guru Misma untuk menjawab panggilan masuk sekaligus berikan klarifikasi sebelum melangkah ke seberang meja tamu dan duduk di sana. Tampaknya Luiz Armando hanya ingin bincang serius dengan Achilles Lucca.


Seorang staf bawakan teh.


"Silahkan di minum!" kata Luiz Armando. "Aku kesulitan hampir tiap hari selama dua tahun semenjak ditunjuk jadi kepala sekolah."


Archilles Lucca meraih cangkir, meneguk sedikit. "Anda luar biasa dengan tanggung jawab sebesar ini."


"Tidak! Ini sangat sulit untukku sebab tiga empat guru pergi dengan putus asa."


Luiz Armando dipenuhi beban berat. Meski telah hati-hati letakan cangkir bunyi "ting" tetap terdengar ketika bawah gelas menyentuh alas.


"Aku telah serahkan sepenuhnya pada Anda. Tetapi, kejadian pagi tadi, tolong jadi yang terakhir, Pak Guru Lucca. Betapa berbahayanya senjata api di lingkungan pendidikan."


"Maafkan aku," kata Archilles. "Anda tahu aku mencoba bertahan selama seminggu. Datang tiap pagi, tak ada kerja sama hanya menerima permusuhan. Tidak bagus untuk relasi jangka panjang."


"Ya, aku paham. Beberapa guru menyebut kelasmu sebagai 'kelas monster'."


"Julukan itu terlalu kejam. Secara tidak langsung kita mendoakan kepribadian mereka terus buruk. Bayangkan jika salah satu penghuni kelas adalah putera atau puteri kita?"


Luiz Armando mengangguk sepakat gunakan cangkirnya.


"Anda benar. Kelas Monster mungkin dipakai untuk deskripsikan pribadi kelas Cesar dan teman-temannya. Anda adalah harapan terakhirku."


Archilles Lucca tidak mengangguk tetapi juga tak menggeleng.


"Walaupun tampak kondusif, mereka belum tentu patuh padaku setelah insiden pagi ini."


"Mereka mungkin lebih gunakan otak sebelum bertindak."


"Kita akan lihat nanti."


"Beruntung video di kelas tadi tidak menyebar."


"Ya, aku beruntung."


"Bonita Yandra adalah seorang beauty influencer di kelas itu yang rajin bikin VT. Ia mengunggahnya ke akunnya."


"Video telah dihapus, Sir."


"Apakah Bonita bersedia menghapusnya?"


"Sepertinya, Sir."


Archilles Lucca kembali minum teh seteguk. Video atau foto yang memuat wajahnya dan Nona Arumi Chavez akan langsung terdeteksi di salah satu mainan BM. Foto ilegal Arumi Chavez kemudian di-tag padanya. Ia akan menerima notifikasi persetujuan atau tidak untuk di upload. Tetapi foto-foto legal akan berada di jalurnya.


Saat ini, Archilles yakin akun Bonita Yandra disandera BM dan diurus temannya itu sebab ia minta BM menghapus video. Harganya pasti mahal.


"Jangan memancing pihak berwenang datang kemari dan menyelidiki kita."


"Tidak akan terulang lagi."


"Beberapa waktu lalu, terjadi insiden kebakaran di gedung sebelah barat. Kepolisian miliki bukti kuat, gedung hangus terbakar oleh ulah beberapa orang siswa. Dahulunya di sana, seorang guru muda menyimpan banyak bukti tindakan kriminal Cesar dan kawan-kawannya."


"Benarkah?" tanya Archilles Lucca mengangkat satu kening tinggi. Sangat tertarik.


"Apakah penyelidikan masih terus berlangsung?"


"Kasus ditutup tanpa kejelasan."


"Turut berduka cita."


"Anda perlu berhati-hati. Oh, ada apa dengan mental anak muda di jaman sekarang?"


"Akhirnya mungkin seperti tiga empat guru lain. Memilih menyerah."


"Tolong jangan lakukan itu! Kendati peristiwa tadi pagi menggangguku, aku putuskan total mendukungmu. Tolong abaikan aku, jika suatu waktu kamu dapati aku bermuka dua di hadapan wali murid. Beruntungnya, Hadriano Cesar, Ayah Manuel Cesar sarankan aku mendidik Cesar dengan keras. Jika perlu patahkan jarinya, aku diijinkan."


"Pria muda itu sangat sulit ditaklukan."


"Tuan Hadriano angkat tangan."


"Akan aku coba tangani Cesar."


"Ya, aku harap berhasil. Tuan Hadriano sepakati pada apapun yang akan kamu lakukan untuk mengubah peringai jahat dan buruk Cesar."


"Terima kasih, ini adalah dukungan penuh arti."


"Manuel Cesar membenci Beltran Domingo."


"Anda mungkin tahu alasannya?"


"Mereka berteman baik sebelumnya. Aku tak mengerti konflik kedua remaja itu. Yang pasti, Cesar menentang Beltran dan selalu inginkan pertikaian. Beltran Domingo menunjukkan kekuasaan tetapi Cesar tidak pernah tunduk dan patuh. Ia membentuk negaranya sendiri dan deklarasikan diri sebagai pemimpin."


"Pemberontak."


"Kita punya banyak event positif yang sedang dikerjakan Beltran di akhir masa jabatannya. Cesar adalah batu sandungan."


"Beltran Domingo, dewasa dan cerdas. Tak mudah menelan isu yang dilemparkan Cesar."


"No body know. Kelinci akan menggigit saat terdesak."


Archilles pikir Beltran adalah singa bijaksana. Lebih tepat digambarkan sebagai singa dibanding kelinci. Archilles melirik ke jam tangan.


"Aku harus segera pergi. Awal kelas mereka selalu dimulai kekacauan. Aku punya sedikit ambisi perbaiki ketidak-tertiban ini."


"Pemasangan kaca jendela telah selesai sebelum murid kembali ke kelas."


"Terima kasih atas respon cepat Anda. Aku akan memeriksa ke sana."


"Jangan lupa denah kelasmu, Tuan." Kepala Sekolah sodorkan selembar clipboard berisi nama-nama siswa di kelasnya.


Archilles Lucca pergi ke ruangan guru, beristirahat sebentar di sana. Habiskan waktu membaca buku sama seperti yang lain. Ia juga coba akrab dengan nama-nama muridnya.


Mentari tidak tampak di awal Desember. Dedaunan rimbun depan sekolah bergerak tertiup angin. Tidak lama lagi sekolah akan libur. Meskipun berbeda negara, rata-rata sekolah satu daratan libur setelah tanggal 15 Desember.


Gadisnya akan pergi ke Paris. Melangkah di koridor. Tak bisa jelaskan hatinya yang abu-abu gelap karena ingin melihat gadis itu. Akhirnya hanya mendoakan. Jarak mereka hanya sejauh tangan-tangan terkatup.


"Raih mimpimu. Bersinar-lah seterang mentari dan seindah purnama. Seorang pria mendukungmu dari sebuah tempat."


Hendak masuk ke kelas, terkunci.


"Lagi?!"


Menengok ke dalam. Tidak ada perubahan apapun. Mereka masih saja ribut. Mereka sama sekali tidak jera.


Pintu kelas menurut Guru Daniel sering diperbaiki tetapi juga lebih sering macet karena murid selalu bereksperimen pada pintu. Mereka menendang, membanting dan jadikan pelampiasan. Pintu ini adalah korban terparah yang masih membisu di tempatnya.


Mengetuk jendela keras. Tak ada yang perhatikan dirinya. Butuh kesabaran seluas samudera Atlantik untuk hadapi berandalan di sini.


Mengapa ia mengeluh? Ia telah memilih jalan ini. Carlos Adelberth menawarkan pekerjaan lebih baik, menjadi tentara. Ia masuk kriteria dan punya banyak bakat menjadi prajurit. Ia tangguh juga berkualitas menurut Carlos Adelberth.


Archilles bisa mengawal politikus kelas atas jika ia mau. Ditolak.


Tuan Hellton dan Axel Anthony memperebutkannya. Elgio Durante bahkan mendukungnya penuh jika ia berniat migrasi ke Land of Durante.


Namun, ia lebih memilih heningkan cipta dalam biara, menjadi guru sederhana di tempat terpencil di sudut negara ini. Ia menolak semua kesempatan emas hanya mengambil yang tidak terpikirkan oleh banyak orang.


Elgio Durante sekali lagi menulis rujukan penting pada kepala biara dan Carlos Adelberth menyusun riwayat karirnya. Secara tidak langsung mereka mendukung ia mengambil waktu perbaiki dirinya di sini.


Namun, tentang Nona Arumi. Akankah bahagia? Akankah tragis mengingat Nyonya Salsa tidak begitu suka padanya. Walaupun alasan jelas soal trauma masa lalu, Nyonya Salsa masih mencari seorang seperti Elgio Durante untuk Nona Arumi Chavez. Hanya inginkan Ethan Sanchez.


Sedangkan dirinya?!


Hanya andalkan cintanya pada Nona Arumi. Bahkan tak sanggup menolak jika gadisnya berubah suatu waktu.


Pintu kelas akhirnya terbuka. Mungkin iba padanya. Atau ia tak sadar bahwa seseorang telah bukakan pintu setelah melihatnya termenung di ambang pintu. Ia masuk ke dalam kelas. Realita hidup menantinya.


"Selamat siang, Pak Guru," seru mereka kompak dari baris belakang.


Ada perubahan, syukurlah!


Lalu?!


Mengapa kursi-kursi di kosongkan. Entah apa lagi sekarang. Abaikan. Membuka mulut.


"Terima kasih. Anda semua ...."


Terpotong.


Archilles Lucca disahut sebuah bola bisbol yang meluncur deras ke arahnya.


"Kejutan!!!"


Archilles Lucca refleks membungkuk. Bola terpantul tembok kembali padanya. Archilles menangkap bola dengan tangan kanannya. Masukan ke dalam saku celana.


Berpikir telah selesai. Ternyata ..., barusan adalah permulaan.


"Kelas akan berjalan tenang, jika Anda bisa mengalahkan kami."


Manuel Cesar nyatakan perang, mulai lemparkan bola-bola bisbol ke arahnya seakan Cesar adalah mesin pelontar bola.


Para siswa bersemangat menonton pertunjukan. Mereka bersorak saat ia diterjang bola. Kelas berubah gaduh. Mereka selalu sukai kericuhan model begini.


Lima bola meluncur bersamaan ke arahnya kemudian menjadi bertubi-tubi mengepung. Benda bundar menghantam papan, pecahkan fokusnya. Bola kembali, semacam estafet. Sambung menyambung.


Pak!


Pak!


Pak!


Tiga bola mengenai pipi, menghantam lengan dan ketika ia memutar tubuh, b0k0ng-nya diseruduk bola. Ia meringis. Mereka bersorak sorai.


"Yeiiii!!!"


"Huuuuu... huhuuuuuu!!!"


"Oops, maaf. Tanganku tidak terkontrol," seru Cesar nikmati, menyeringai riang, "seakan punya nyawa sendiri," tambah Cesar terbakar g41r4h.


"Bukan tandingan kita dalam urusan ini," sambut yang lain.


Nama brengsek kecil yang barusan bicara; Jonathan Andrew. Tangan kanan Cesar. Tiga lainnya; Jhon Stuart, Adam Steven, David Ricardo berlomba-lomba pamerkan lemparan terbaik mereka.


"Ternyata dia lebih payah dari Pak Javier!"


"Tidak sehebat seperti pagi tadi!"


"Atau kemampuannya hanya sebatas pegang pistol."


"Aku juga bisa jika umurku cukup."


"Perubahan mengejutkan!"


"Baiklah, kalian ingin bermain?" tanya Archilles Lucca. "Akan kutunjukan siapa bosnya!"


Mereka tertawa seakan Pak Guru mereka sedang mengigau. Kini, kelas mereka jadi pusat perhatian. Tentu saja, para berandal bertingkah seakan mereka ada di stadion olahraga menyaksikan perseteruan abadi klub besar La Liga. Para siswa kelas lain tertarik dan menonton di jendela. Semakin kacau saja.


Lemparan bola semakin ramai, yang sering dijadikan suruhan, Sandro Martin, berlari kesana kemari memungut bola. Bangkit dan tenggelam di antara meja dan kursi.


Archilles Lucca terdesak di tengah ruangan kelas. Entah membungkuk, berdiri, berjongkok, bola bak hujan turun. Tubuhnya santapan empuk kini. Archilles Lucca tak punya pilihan. Sejak kemarin tak punya pilihan. Matanya temukan keranjang sampah di ujung kelas, mendekat ke sana. Menendang hingga kertas tumpah ruah. Kebanyakan bentuk bulat, bukti bahwa kelas ini penggila jenis bola apa saja. Ia mengambil keranjang sampah.


"Mari kita mulai!" kata Archilles Lucca menggeram jengkel. Hatinya kemudian sisa sepotong.


Lemparan keras. Archilles mulai menangkap satu bola, dua bola, lemparkan ke dalam keranjang. Ia membaca lemparan. Kening, hidung, bibir dihantam bola. Ia gunakan tangan lindungi diri sambil menangkap bola, lemparkan ke dalam keranjang hingga penuh.


Masih banyak bola. Ditangkap, ditaruh di bagian depan board di mana penghapus sering bertengger di sana. Kini, hampir semua siswa bekerja sama lemparinya dengan bola.


Archilles sangat telaten menangkap satu persatu bola. Ia punya banyak gaya. Lalu, persediaan bola menipis sebelum akhirnya benar-benar habis.


"Oops! Apakah Anda kehabisan bola, Tuan-Tuan?" tanya Archilles Lucca balik mengejek. "Sekarang giliranku!"


Wajah-wajah mereka menegang. Para siswi berlarian ke belakang, lekas bersembunyi. Archilles mengambil satu dua tiga empat bola, mainkan ke udara. Ketika ia selesai, ia balas menyeringai. Menatap muridnya satu per satu.


"Mari kita mulai dari belakang! Dan dengan para jagoan."


Ia membaca nama.


"Jhon Stuart?!" panggil Archilles. "Yang benar saja. Jhon Stuart adalah seorang filsuf Inggris, pakar ekonomi politik, abad ke sembilan belas. Seorang pria hebat. Kamu tahu teorinya? Tindakan benar cenderung mempromosikan kebahagiaan. Sedangkan tindakan dikatakan salah karena hasilkan kebalikan dari kebahagiaan. Mari aku tunjukan kebenaran padamu, Jagoan!"


Satu lemparan pada lengan Jhon, remaja itu meringis tetapi bergeming. Satu lemparan lagi diarahkan ke tulang selangka Jhon hingga pria muda itu kesakitan.


"Kembali ke bangkumu!"


Jhon Stuart tak beranjak. Archilles Lucca buat gerakan melempar bola bisbol ala pemain profesional. Jhon Stuart hilang nyali segera terbirit-birit duduk.


Telunjuk Archilles Lucca berhenti pada bangku kedua dari belakang.


"David Ricardo?!"


Salah satu berandal, geng Cesar yang paling pengaruh adalah pria ini.


"Apakah Anda tahu siapa David Ricardo?" tanyanya pada seisi kelas. "Apakah kalian tahu, David Ricardo adalah seorang ahli ekonomi penggagas teori keunggulan komparatif?"


Archilles menghirup udara, menahannya lalu hembuskan. Lakukan dua kali beruntun, ia gunakan dua bola sekaligus menembak David.


Pak!


Pak!


David berakrobat menghindar, tetapi Archilles kembali membidik bola tepat di hidung David hingga pria itu menjerit.


"Awh!!!"


"Mau lagi?" tanya Archilles. Sekali ini menggenggam dua bola. Ia berputar dan ayunkan bola tepat di perut David dan satu kenai punggung tangan saat lindungi diri.


"Duduk? Atau tanggung akibatnya?"


David yang bandel miliki harga diri cukup tinggi menyerah di lemparan ke lima setelah lubang hidung kucurkan darah.


"Tugasmu mencatat dan menghapal teori Ekonomi yang dicetuskan David Ricardo. Presentasikan di depan kelas bagi teman-temanmu di pertemuan kita berikutnya."


David Ricardo hendak protes, Archilles lemparkan bola ke udara menangkap. Ia menggertak hingga David Ricardo tinggal mengangguk.


"Berikutnya." Kembali ke denah kelas. "Adam Steven?! Oh lihatlah kelas ini. Nama mereka adalah nama-nama pria hebat dahulu kala. Aku bertanya dan menelan jawabanku sendiri. Tuhan ciptakan Adam dan jadikan ia bapak seluruh manusia. Mengapa Anda sangat bar-bar, Tuan?"


Archilles mengangkat bola mulai menghajar Adam yang sama seperti temannya coba menghindar. Menyerah ketika Archilles lemparkan tiga bola beruntun kenai paha, pipi juga mulut.


"Hmm?! Antonella Burga? Mau kembali ke bangkumu secara sukarela atau aku perlu memaksa Anda juga?"


Gadis hitam manis berambut hitam legam tak menunggu lama, segera berlari ke bangkunya.


"Bonita?"


"Yes, Sir!" Gadis cantik yang disebut Kepala Sekolah sebagai Beauty Influencer memungut bola yang ia lihat. Semua memandang kagum padanya. Disangka akan menyerang guru mereka. Mungkin ciptakan aksi heroik.


"Mau duduk atau?!"


"Aku akan lempari diriku sendiri!" Bonita mengetuk kepalanya pakai bola sebelum duduk di bangkunya. Lemparkan bola pada Archilles.


"Yang lain mau balik sendiri atau butuh bantuanku?" Archilles mengambil dua bola. Otomatis yang lain segera kembali ke bangku mereka. Duduk dengan rapi. Eva Romero masih berdiri, bersidekap. Tanpa dasi dan malah empat kancing terbuka semakin lebar.


"Eva Romero?!"


Gadis ini anggota geng yang paling disayangi Cesar.


"Di kelas ini, tak ada perbedaan gender sama seperti ketika Anda menyerangku. Aku akan perlakukan hal yang sama seperti yang diterima para pria. Eva ..., mau duduk ..., Nona?"


"Aku akan bersama teman-temanku!"geleng Eva.


"Baiklah. Seorang wanita yang harusnya jadi Ibu dari segala Ibu. Wanita paling istimewa tetapi lihat tingkahnya? Eva, mari ke permulaan Tuhan menciptakanmu."


Archilles memutar bola di tangannya.


"Anda tak akan menyerang Eva!" cegah Cesar tajam lindungi Eva.


"Mengapa?"


"Dia seorang gadis!"


"Eva tidak patuh! Eva bisa duduk di tempatnya, aku akan batalkan hukuman," balas Archilles menatap Cesar dingin.


"Eva tidak mau!"


"Kamu korbankan temanmu, Cesar. Beltran benar, kamu tak pernah bisa hargai hubungan apapun."


Cesar marah tetapi pikir panjang untuk menyerang Archilles Lucca.


"Anda berat sebelah!"


"Baiklah. Aku mengalah karenamu, Cesar!" Archilles Lucca menatap Eva. "Kamu akan aku pindahkan ke kelas Guru Daniel. Kemasi bukumu, Nona Eva Romero."


"Sir ...."


"Keluar dari kelasku sekarang!" kata Archilles Lucca.


"Tidak. Aku mau di sini." Pertahanan Eva Romero runtuh buru-buru mendorong Cesar dan balik lagi ke bangkunya.


Sisakan lima orang preman yang berdiri termasuk Manuel Cesar.


"Mari bertarung? Jika aku kalah, aku akan jadi badut kalian. Jika aku menang, aku akan mengikat kalian setiap pagi sepanjang kelasku berjalan."


Kelimanya saling pandang.


"Ayo sobat? Kalian boleh menyerangku bersama-sama! Ayo kemari!"


Mereka menatapnya ragu.


"Tak ada yang mau?!"


Archilles Lucca pergi ke belakang. Sangat cepat ayunkan dua tinju, ia taklukan Dani Thomas. Dua tendangan lemparkan seorang lain ke bangkunya. Tiga pukulan mematikan dua terduduk dengan tangan saling berkaitan sisakan Manuel Cesar berdiri seperti gerbang kota.


"Kamu ..., silahkan berdiri seperti itu Manuel Cesar! Aku lupa masukan tali ke dalam tas. Kamu selamat hari ini!"


Suasana kemudian hening selama kelas berjalan. Cesar duduk dengan sendirinya. Archilles menuntut murid membuat paper tentang para pakar Ekonomi dan akan dikumpulkan. Akan ada tes sebelum kelas berlangsung.


Sangat lega akhirnya kelas usai. Ia tinggalkan kelas berjalan pulang menuju ruang guru. Badannya lumayan pegal. Wajah perih terkena bola. Beberapa malah kenai mata.


Kekerasan adalah pilihan terakhir. Sebab ada undang-undang yang mengatur soal ini. Namun, ia bisa pertanggung jawabkan segala hal.


Archilles masuk ke dalam dan dapatkan tepuk tangan.


"Anda luar biasa keren," sambut Ivy bersemangat.


"Lempari hati Ivy dengan bola bisbol, Mr. Lucca." Misma senang menggoda Ivy. "Matanya berbinar-binar."


"Ya, aku saja terus Guru Misma."


"Kami belum pernah lihat yang begini sebelumnya."


"Tiga empat orang pergi sambil meratap."


Akhirnya Archilles duduk di kursi di mejanya. Kepala bersandar ke kursi, pejamkan mata. Hari ini sungguh berat. Bagaimana bisa mereka kumpulkan bola sebanyak itu hanya dalam beberapa jam? Ia sedikit hilang dalam dunia tidur.


Ponsel berbunyi. Archilles kaget, malas-malasan menjawab.


"Hmmm?!"


"Young Vincenti terlibat perkelahian."


"Apa hubungannya denganku?"


"Young bersama gadismu, Lucca. Citra Arumi terdeteksi di salah satu komputer-ku mengebut di jalanan Saint Pedro diikuti banyak kendaraan bermotor."


Mata-mata Archilles terbuka. Duduk tegak. Ruang guru telah kosong.


"Aku akan hubungi Leona!"


"Tidak! Jangan gegabah! Ponsel Leona disadap Nyonya Salsa."


"Aku tak peduli. Mengapa Nona Arumi bersama Young? Aku telah peringatkan Leona agar tak biarkan Young bersama Nona Arumi. Aku akan ke sana! Kamu akan siapkan aku tiket!"


"Hei, Lucca situasimu rumit. Kamu baru sehari bena-benar bekerja. Kamu bisa kehilangan kesempatan."


"Aku perlu datang dan peringati Young Vincenti!"


"Sudah kulakukan."


"Apa dia baik-baik saja?" tanya Archilles Lucca kendalikan diri. Ia tak suka panik yang merayap di dadanya.


"Ya, Ethan Sanchez bersamanya."


Archilles Lucca hembuskan napas lega. Satu pertanyaan ini kemudian muncul, apakah mereka kembali bersama? Segala hal sempurna bagi Nona Arumi andaikan Nyonya Sanchez turunkan ego dan menerima Nona Arumi Chavez.


"Aku tetap ingin melihatnya, Ralph." Archilles menyerah.


"Kamu mungkin perlu hubungi Tuan Pascalito. Setidaknya pria itu berpihak padamu."


"Apa yang akan aku katakan? Kita mengintai Nona Arumi setiap waktu?"


"Semua pria yang bersinggungan denganku, permintaanya sama, 'jaga wanitaku'. H akan paham."


"Yang kita bicarakan ponakan kesayangannya, BM."


"Cinta tak bisa memilih pada siapa dia turun!"


"Kirimkan aku nomer ponsel Young Vincenti Cari tahu kabarnya, please! Apa Nona terluka?"


"Mungkin ... em ... maksudku aku tak tahu. Jika kamu naik bis sekarang, kamu akan sampai di bandara sebelum pukul delapan dan terbang dengan pesawat malam menuju Lisbon. Tetapi, akan sangat beresiko. Kamu butuh persiapan hadapi Nyonya Salsa."


Archilles Lucca bersandar pada ujung meja.


"Saranku! Kamu perlu menahan diri ..., Lucca. Sepuluh hari lagi gadismu akan berada di Madrid selama dua hari sebelum ke Paris. Bukankah kamu hanya terpisah dua jam perjalanan?"


***


Please, just have fun. Jangan berdebat ya, sayang-sayangku. Aku mencintai kalian semua... Tolong koreksi jika ada salah kata atau penempatan nama yang terbalik.


Tinggalkan komentarmu! Like dan dukungan. See you next Chapter.