
"Di mana Leona, Arumi?" tanya Ethan Sanchez hentikan motor di depan Arumi saat dapati Arumi menuju parkiran tetapi tak terlihat mobil dan sambutan Leona yang biasanya menunggui gadis itu. "Mau aku antar pulang?" tawar Ethan beberapa waktu kemudian.
"Aku bersama Young sore ini, Ethan. Kami akan kerjakan tugas group," jawab Arumi Chavez.
Ethan Sanchez menatap Arumi Chavez sebentar, ingin ungkapkan sesuatu. Mengekang diri. Akhirnya hanya mengulas senyuman tipis. Sungguh sulit di mengerti suasana hatinya. Sesuatu tersembunyi dan banyak pikiran lain. Tak bisa diungkapkan. Tidak boleh keluar dari dirinya.
"Baiklah, Arumi. Selamat belajar." Ethan Sanchez lepaskan mantel dinginnya sisakan sweater. Ia sodorkan pada Arumi. "Cuacanya sangat buruk! Pakai ini!"
Arumi terkejut. Menatap Ethan Sanchez lalu mantel di tangan pria itu. "Tidak perlu Ethan. Mantelku cukup tebal," tunjuk Arumi pada Ethan.
"Arumi ..., kamu belum naik motor saja bibirmu telah memutih karena kedinginan. Pakai ini biar lebih hangat. Kamu bisa kembalikan besok. "
"Ethan ...."
"Lagipula mantelku jauh lebih panjang." Ethan Sanchez memaksa.
Maksud Ethan Sanchez mudah dipahami. Mantel dingin Ethan bisa membungkus tubuh Arumi jauh lebih baik. Rok seragamnya yang pendek akan tertutup sempurna saat ia berboncengan.
Arumi tak punya pilihan selain ikuti saran Ethan Sanchez. Mengambil mantel Ethan segera kerepotan.
"Sini tasmu kupegang," kata Ethan Sanchez meminta.
"Bagaimana denganmu, Ethan?" tanya Arumi sambil memakai mantel Asing dengan kancing mantel. Tak nyaman diperhatikan Ethan agak sedikit berbalik.
"Bisa?"
"Ya," angguk Arumi Chavez. "Bagaimana denganmu, Ethan?"
"Aku akan baik-baik saja, Arumi."Yakini Arumi. Menunggui Arumi sabar. "Di kafe ada mantel cadangan."
"Aku seperti gadis-gadis dari kutub Utara." Arumi tersenyum lebar bentangkan kedua tangannya.
"Ya. Lebih cantik dari mereka," sahut Ethan Sanchez kembalikan tas Arumi bertepatan dengan kedatangan Young Vincenti yang kemudian berhenti di depan keduanya.
"Mengapa berpisah kalau masih cinta?" tanya Young Vincenti geser tuas kecil hingga kaca helm naik. "Ayo, Arumi!" ajak Young sodorkan helm pada Arumi seakan takut Arumi memilih pergi bersama Ethan.
"Milik siapa ini?" tanya Arumi enggan untuk memakai.
"Baca saja di sisinya!"
Arumi Chavez dapati benda itu berstiker wajah dan namanya.
"Milikmu. Aku belikan untukmu!" sahut Young. "Apa kamu suka? Ada stiker Doraemon di sana."
Arumi memakai helm, pas di kepalanya. Young ulurkan tangan membantu Arumi naik.
"Young, aku harap kamu tidak mengantar Arumi di atas jam makan malam menaiki motormu. Akan ada hujan juga angin, temanmu bisa sakit."
"Bilang saja Anda tak suka gadis ini bersamaku, Tuan Ethan Sanchez. Anda masih mencintai mantan pacar Anda," jawab Young Vincenti menggoda Ethan. "Jika masih cinta mengapa dilepas? Orang kadang menyesal setelah sia-siakan sesuatu yang berharga dan mereka tersesat karena perasaan kuat yang tetap tinggal di dalam hati."
"Aku sedang serius, Young!" tegur Ethan Sanchez tajam. "Ini berkaitan dengan keselamatan Arumi! Mohon kerja samamu, Young. Lagipula pertandingan basket akan digelar. Kamu akan menjaga kesehatanmu demi kebaikan bersama."
Young paham kini bahwa Ethan Sanchez hanya menaruh candaan di tempat yang tepat sesuai porsi wajar. Mereka satu usia. Jika tidak bandel dan nakal, Young ada di kelas akhir sekarang. Ethan Sanchez sangat-sangat dewasa untuk seumuran mereka.
Young pun mengangguk. "Jangan cemas, Ethan. Leona akan menjemput Arumi nanti."
"Baiklah. Jangan mengebut karena jalanan mungkin licin sehabis hujan. Kamu membawa seorang gadis di belakangmu."
"Siap, Senior," balas Young memberi hormat.
Ethan Sanchez berlalu pergi. Berbelok berlawanan arah dari depan sekolah. Sepertinya akan pergi ke sekolah Sarah dan menjemput sahabatnya itu. Dulu, Arumi cemburu. Tak percaya pada persahabatan model Ethan dan Sarah. Namun, sejak Uncle Hellton tinggal di rumah, Arumi berubah keyakinan. Anna Marylin dan Uncle Hellton saling menyayangi hingga Arumi simpulkan ada ikatan macam begitu. Kasih sayang universal, perhatian tanpa syarat tanpa hasrat ingin memiliki atau sejenisnya. Mereka hanya merasa cocok satu sama lain karena seide dan sepemikiran.
"Sambil menunggu Lucca kembali. Kamu lebih baik bersama Ethan Sanchez. Lihat pria itu! Pikirnya cerdas, tetapi jelas tak bisa sembunyikan cintanya padamu. Aku bisa melihatnya." Mereka melaju pelan di atas jalanan berliku yang sama sekali baru bagi Arumi. Mungkin rumah Young letaknya di pinggiran kota. Lea dan Lana akan menyusul nanti karena ada urusan.
"Young, ini terakhir kali aku belajar ke rumahmu. Lain kali tak perlu datang ke rumahku." Arumi Chavez abaikan perkataan Young Vincenti. "Kita bisa belajar di sekolah saja."
"Kamu takut jatuh cinta padaku?" tanya Young percaya diri.
"Aku serius! Kami mungkin merepotkan orang tuamu."
"Kamu tahu, aku akan jadi temanmu dan tempatmu bersandar saat kamu butuh bahu."
"Aku hanya perlu menekuk lutut dan bersandar di atas kedua lututku, Young," balas Arumi. Dulunya, Ethan adalah sandaran pertama dan Archilles menjadi tempat ternyaman baginya.
"Akh gadis ini, semakin keras kepala aku semakin menyukainya. Tunjukan jalan menuju hatimu. Aku sedang mencarinya."
"Tak ada jalan, Young!"
"Bisa aku lihat. Sehebat Ethan Sanchez saja diblokir apalagi aku. Oh sial, Lucca kalahkan Ethan Sanchez dan jadi saingan terberat kami."
Arumi Chavez tak menyahut. Young pikir Arumi selalu galau jika mengingat Lucca. Apakah Lucca kabur dan tinggalkan gadis ini? Young Vincenti sangat penasaran. Lucca tampak hebat, tak kalah dari Ethan.
Young dapatkan Video dari VT salah satu gadis di kelas Lucca. Tadinya tak bisa di-download hanya boleh di-save. Sekarang video itu hilang tanpa jejak. Selama ini, hacker yang lindungi Arumi pasti berkaitan dengan Archilles Lucca.
"Jika ada sesuatu yang bisa menghiburmu dan membuatmu berhenti murung, beritahu aku!"
"Ada. Jika kamu berhenti menggangguku."
"Aku tidak janji," balas Young dari depan.
"Aku harap ini yang terakhir, Young!"
"Lana dan Lea mungkin telah sampai. Kita akan terus belajar group sampai naik ke tingkat dua. Santai saja denganku, ya!"
Mereka menyusuri jalanan Saraiva de Carvalho ketika Young menyadari lebih dari tiga motor mengintai mereka. Young lekas mengumpat.
"Young?!" keluh Arumi, "Mengapa kita diikuti?"
"Mereka teman-temanku, Nona. Jangan kuatir!" sahut Young santai.
Motor mereka kemudian dikepung. Dari cara mereka menjepit jelas saja Young berbohong soal teman. Arumi tanpa sengaja meremas jaket Young. Belakangan ia tak suka dirinya terluka atau celaka karena setelah tanggal 15 Desember ia akan bersiap-siap ke Paris untuk syuting.
Young Vincenti meraih tangan Arumi agar berpegangan padanya. Ia kemudian melesat cepat hingga Arumi tanpa sadar menjerit. Kecepatan motor ditambah, putari bundaran, Young mengebut lewati depan sekolah Sarah Jessica. Mencari jalan keluar sebab ternyata pengejar mereka tidak tinggal diam dan menambah kecepatan. Young berusaha kabur dari pengejar yang mulai agresif. Mereka malah berakhir di blok-blok di tepian sungai. Sepanjang delapan blok hanya ada bangunan-bangunan tua yang beralih fungsi sebagai gudang.
"Mengapa temanmu tampak tak bersahabat. Mengapa mengincarmu?"
"Mereka hanya belum move on dariku Arumi!"
"Young ..., aku tak suka perkelahian. Alasan aku berteman denganmu, kamu telah mengubah sikap dan temperamen-mu. Apa mereka bisa diajak bicara?"
"Biasanya berujung pada pertarungan. Jalurnya selalu begitu."
"Jangan libatkan aku!"
"Kamu akan baik-baik saja, jangan kuatir!"
Arumi Chavez sangsi pada ucapan Young sekaligus tidak berharap akan melihat perkelahian temannya setelah hanya dengar kabar bahwa Young sangat suka kekerasan. Sebaiknya ia pergi. Mengapa juga sepakati ide bersama Young sore ini?
"Hei hei, turunkan aku di depan!" kata Arumi keras pastikan Young mendengar perintahnya.
"Arumi, ini berbahaya."
"Lebih berbahaya jika aku tetap bersamamu!"
"Tidak!"
"Please, Young! Aku tak mau terperangkap denganmu!"
"Mereka bisa melukaimu!" balas Young terus melaju, berbelok di satu blok dan keluar di blok lain hindari para pengejar.
"Berhenti, Young! Atau aku melompat?" ancam Arumi Chavez pegangi kedua bahu Young. Ia berdiri.
"Hei, Arumi Chavez kamu bisa terluka!"
"Berhenti kataku!" jerit Arumi jengkel.
"Aku tidak yakin. Biarkan aku pergi!"
Young tidak punya pilihan lain, hentikan motor. Arumi Chavez lekas-lekas turun.
"Arumi?! Percayalah, aku telah berhenti jadi berandalan, tetapi masalahnya tidak sesederhana ini!"
"Aku bukan pacarmu, tak perlu jelaskan apapun."
"Setidaknya dengarkan aku."
Sementara Young berkata-kata, enam motor mendekat dan tak butuh waktu lama mereka sampai.
"Aku coba hindari pertarungan ini, Arumi," keluh Young Vincenti sebelum menarik napas kuat. Di ujung hembusan, pria itu berkata. "Sepertinya aku memang terlahir untuk berkelahi."
Young mengangkat bahunya pasrah, lepaskan helm dan hati-hati letakan di bagian depan motor. Ia turun dari motor. Memutar tubuhnya, awasi Arumi Chavez.
"Jangan lepaskan helm-mu!"
Arumi berdecak. "Kamu tidak harus berantem."
"Itu sulit," jawab Young mengangguk ke depan pada sekomplotan begundal yang membentuk pagar penahan agar Young tidak bisa kabur. "Tetap di belakangku! Jika kamu temukan peluang, berlarilah. Empat blok ke depan kamu akan temukan jalanan. Ada banyak halte terdekat."
"Aku bisa pergi sekarang!"
"Ide buruk," balas Young cepat. "Salah seorang dari antara mereka akan mengejarmu. Kamu akan tertangkap dalam sepuluh langkah."
"Baiklah. Kamu pandai bela diri. Aku akan tabah menunggumu selesaikan masalahmu lalu kita lupakan soal tugas kelompok. Antar aku sampai depan dan aku akan naik bus pulang ke rumahku."
"Aku hanya pandai berkelahi. Aku tak pernah menang hadapi geng ini."
"Apa?!" Mulut Arumi membulat penuh dibalik helm. Gemas sendiri pada Young. "Oh, konyol sekali kau menyeretku juga."
"Mungkin hari ini berbeda karena ada kamu di sini!"
Arumi kehabisan kata.
"Selagi aku buat mereka sibuk, kamu bisa kabur. Bagaimana?!"
Arumi Chavez cuma bisa mend****.
"Holla, Young Vincenti..., kami bertanya-tanya apa yang membuatmu berlagak macam pecundang belakangan. Ternyata kamu bersembunyi karena sedang jatuh cinta ya?"
Arumi Chavez bergeser pelan-pelan ke belakang.
"Sepertinya tanpaku, dunia kalian sepi macam di kuburan, ya?" Young Vincenti bergerak ke depan, mengekor mata pada Arumi Chavez.
Mereka menyeringai dengar sindiran Young Vincenti.
"Sayangnya, aku sedang sibuk sekarang. Kita bisa bertemu lain waktu. Jika kalian tak keberatan?" tambah Young untuk pertama kali dalam hidupnya tidak ingin berkelahi.
"Apakah karena pacarmu?" tanya salah seorang pemuda lepaskan helm dan datangi Young Vincenti, menatap Arumi Chavez meneliti seksama. Sedang yang ditatap masukan kedua tangannya ke dalam saku jas, mengepal kedua tangan.
"Ohh, hai Ronald Igor ..., apa kabarmu? Apa daun telingamu berhasil disambung?" tanya Young memutar telunjuk dekat telinganya. "Atau apa itu kuping palsu?" Young mengejek sebabkan wajah pria yang dipanggil Ronald Igor segera memerah geram.
"Aku akan menutup mulutmu segera!"
"Em, sepertinya palsu. Sebulan pas untuk cangkok kuping. Kamu lebih cantik gunakan kuping implan itu. Coba tambahkan wig pirang, miniskirt juga bando karakter, kurasa kamu bisa nongkrong di klub dan jadi sesuatu."
Ronald Igor sangat mudah terpancing. Keluarkan benda tajam. Mainkan benda di tangannya menggertak young hingga Arumi Chavez merinding ngeri.
Dasar Brengsek gila, Young Vincenti. Di mana-mana kalau tak pandai berkelahi tidak memperkeruh keadaan. Young Vincenti lakukan sebaliknya. Nyalinya lebih besar dari kekuatannya.
"Aku menunggu hari ini untuk membalasmu, Bung! Pilih kupingmu atau kuping pacarmu?" tanya Ronald Igor mengangguk pada Arumi Chavez. Menyipit penasaran.
Young berpaling pada Arumi Chavez lalu kembali pada Ronald. Tangan bersidekap. Telunjuk kanan menggaruk sisi kening. Bibir mengerucut ke samping tampak berpikir.
"Kuping siapa kemarin yang aku putuskan di perkelahian terakhir kita? Kupingmu?! Atau kuping gadismu, Ronald?" Young Vincenti mengedip seakan-akan coba mengingat.
Tingkahnya bikin amarah Ronald Igor semakin menjadi-jadi.
"Oh, apakah lidahmu mendadak terpotong?" ejek Young melihat Ronald hanya mendesis. "Atau begini saja, panggil gadismu hadapi gadisku! Itupun kalau kamu memang punya seorang gadis. Kupikir kamu hanya akan dinaiki para brengsek di belakangmu!"
Young Vincenti berhasil buat sekelompok pria murka padanya. Mereka terlihat tak sabaran ingin segera menebas lehernya.
"Panggil gadismu sana! Bawa kemari!" tantang Young lantang.
"Hei, hei hei! Young Vincenti. Apa kamu gila?" tanya Arumi Chavez dari balik helm datangi Young Vincenti lepaskan helm hingga wajah Arumi kelihatan jelas.
Young Vincenti segera waspada takut Ronald Igor manfaatkan kesempatan. Arumi Chavez sampai tepat di depan Young.
"Aku tak rendahkan harga diriku hadapi gadis lain karena perseteruan bodoh para pria. Aku rasa, aku tak mau lagi jadi pacarmu meski kamu berlutut padaku! Oh ya Tuhan, mengerikan punya pacar sepertimu. Ambil helm-mu!" Sangat keras mendorong helm pada Young hingga Young sedikit meringis karena tekanan di perutnya.
Young ternganga sebentar. Amazing saat gadis ini beraksi. Young semakin kepincut. Segera sadar sebelum Ronald Igor bertindak.
"Aku telah berubah, Sayang! Aku tak lagi berkelahi. Tolong jangan pergi!" balas Young Vincenti separuh memelas. Ekspresi wajah Young adalah pria yang dicampakkan padahal sangat cinta mati.
"Lalu, ini apa?" tanya Arumi meledak marah melirik pada para begundal. "Bukankah kita akan pergi kencan? Mengapa berakhir di sini?"
"Mereka teman-temanku, Sayang!" Menikmati memanggil Arumi Chavez 'Sayang'!
"Teman-temanmu?" Arumi melotot. "Jika temanmu mengapa kamu putuskan kupingnya?"
Young Vincenti hampiri Arumi meraih tangan gadis itu. Terpana penuh pada kelembutan dan kehalusan. Merinding.
"Itu ..., em ..., cara kami menunjukkan kasih sayang di antara kami. Iyakan?" Memutar kepala bertanya pada para preman yang datar hanya perhatikan mereka.
Bualan terbagus. Arumi mencibir sedikit.
"Dengar, Young Vincenti. Sejak hari ini, berhenti mengangguku dan jangan coba-coba dekati aku. Hubungan kita berakhir! Aku pergi! Semoga berhasil dengan gadis lain!"
Arumi Chavez ciptakan kesempatan. Saat ia temukan momen lekas berbalik. Buru-buru tinggalkan Young.
"Hei, Nona ..., jangan tinggalkan aku! Aku mohon, maafkan aku! Sayang?!" Young berusaha mengejar dari belakang tetapi Arumi mendorongnya kasar hingga Young Vincenti terjatuh.
"Berhenti mengejarku, Brengsek!" umpat Arumi Chavez.
Para pria nikmati drama realita di hadapan mereka, dari cara masing-masing orang terkekeh. Tertawakan kemalangan Young Vincenti sementara Arumi Chavez melangkah makin cepat.
"Nona, aku mencintaimu!"
Arumi menghilang di blok depan, napasnya memburu. Berhenti sebentar. Pelan-pelan mengatur napas. Berputar mengintip ke belakang.
Oh tidak! Yang tadi itu tidak berhasil?
Mereka tidak mudah dikelabui. Perkelahian dimulai. Lima lawan satu sedang satu naiki motor berputar ke arah Arumi.
"Dia tak tahu berkelahi tetapi gayanya selangit."
Arumi kembali berlari. Baru saja setengah jalan ketika motor menderu di belakangnya.
"Terkutuklah kamu Young Vincenti di api neraka!" rutuk Arumi Chavez semakin ketakutan.
Arumi paksakan diri berlari sekuat tenaga. Ia berbelok di blok depan dan masuk lewat gang sempit. Mantel berlapis-lapis buatnya kepayahan dan segera kepanasan. Rasakan keringat mengucur dari balik-balik pori.
Semakin kencang berlari, napas Arumi semakin kejar-kejaran. Ia kemudian tak sanggup berlari. Kakinya gemetaran. Motor berhenti tepat di belakangnya. Seorang pria turun dari sana.
"Jangan takut, Nona!" bujuk si pria menyeringai senang berhasil menangkapnya.
****
Udah update dari kemarin tapi ditolak katanya kepanjangan. Ini cut jadi dua chapter.