
Awal pagi mereka adalah perdebatan tak penting kadang mengulang hal sama. Kadang tegangan tinggi melanda sepanjang siang, terlihat mereda cuma untuk meledak dahsyat menjelang malam.
Ada banyak pertengkaran kecil berubah panjang dibumbui perkelahian berakhir dengan pergerakan lebih alami. Anna Marylin yang skeptis ofensif dan Hedgar Sangdeto yang defensif ..., ciptakan ..., riwayat Honeymoon tidak biasa.
Habiskan sarapan, Anna terbiasa bereskan peralatan makan sendiri meskipun Wandah, wanita berdialek agak aneh, mencegahnya bekerja.
"Tinggalkan saja di sana, Nyonya!" ujar Wandah separuh mengusir ia dari dapur.
Anna Marylin tak begitu menggubris. Wandah sangat-sangat cantik berkulit putih bersih dan berambut emas, terurai panjang menawan. Wandah secara keseluruhan lebih mirip Nyonya Rumah dibanding seorang asisten rumah.
Wandah siapkan pakaian-pakaian Anna Marylin sesuai selera yang menurut Wandah disukai Hedgar. Anna selalu menolak gagasan itu, tetapi Wandah sering nasihatinya untuk hindari percekcokan.
Awal-awal kehadirannya, Wandah selalu tersenyum. Kini Wandah berubah culas. Sikap seseorang padamu tergantung sikapmu padanya. Anna Marylin salahkan diri sendiri karena ia sering abaikan wanita yang menaruh perhatian khusus padanya.
"Aku bisa sendiri, Wandah."
"Apa yang ingin Anda makan di siang hari?" tanya Wandah mengutip ekspresi si Blacky.
"Masak untuk Tuan-mu! Aku akan masak makananku sendiri."
"Beritahu aku bahan-bahan yang perlu aku sediakan!"
"Apa saja, aku akan masak yang terlihat di dalam lemari penyimpanan makanan. Tolong jangan terlalu repotkan dirimu."
"Baiklah, Nyonya. Aku permisi."
"Berhenti memanggilku Nyonya. Panggil saja aku Anna."
"Baiklah, Anna."
"Wandah ...," panggil Anna Marylin sebelum Wandah berlalu.
"Ya?!"
"Bisakah aku bermain di telaga?"
Wandah terdiam beberapa saat, menatap keluar. Kembali pada Anna.
"Sebaiknya tidak ciptakan masalah, Anna. Jika Hedgar buat peraturan, ada baiknya ditaati."
"Baiklah."
"Ada banyak gaun, blouse juga skirt yang aku siapkan. Mengapa Anda hanya memakai kemeja putih dan celana jeans pendek itu?" tanya Wandah tidak suka.
"Apa masalah untukmu, Wandah?" tanya Anna Marylin agak menyerang.
Wandah menggeleng. "Hanya disayangkan, aku buang-buang waktu dan energi, mencari pakaian bagus untuk Anda."
Anna Marylin dihinggapi rasa penyesalan mendadak. "Oh Wandah, maafkan aku. Aku tak bermaksud kasar padamu. "Hanya karena Hedgar jahat, tidak berarti semua orang di sekeliling pria itu ikutan jahat, bukan? "Aku akan memakai yang tercantik darimu nanti malam."
Wandah mengangguk, kehilangan apresiasi, tetapi tetap sopan meski rautnya datar.
"Baiklah. Semoga harimu menyenangkan."
Sepeninggalan Wandah yang entah pergi kemana. Anna habiskan jam membosankan hanya duduk di kursi santai menonton hari berlalu sampai pria penjaga kebun datang dengan mesin pemotong rumput. Mulai memangkas rumput.
Anna Marylin turuni tangga rumah hampiri si pria.
"Nyonya ...."
"Aku bosan duduk menonton pohon bergoyang. Bisakah aku saja yang memotong rumput?"
"Nyonya ..., Anda perlu minta ijin pada Bos."
"Dia tak boleh diganggu, tunjukan aku caranya. Siapa namamu?"
"Luke, Nyonya."
"Luke, beritahu aku caranya. Aku Anna. Berhenti panggil aku Nyonya, please!"
"Kamu perlu memakai boot, Anna. Ini bukan mesin pengepel lantai. Kakimu bisa robek jika tidak hati-hati."
"Baiklah! Bisa tolong ambilkan aku boot! Mungkin pinjam dari wandah."
"Tunggu di sini, Anna. Aku akan segera kembali."
Anna Marylin sapukan pandangan berkeliling. Hutan Pinus di ujung lahan berbaris rapi menuju pegunungan. Rumah ini terletak di pinggir padang rumput hijau. Sebuah rumah lain terlihat tak jauh darinya. Rumah para pekerja termasuk Wandah.
Luke kembali bawakan boot, kaca mata, helm kerja dan overall pelindung.
"Aku butuh semua ini?"
"Ya."
"Mengapa kamu tak pakai tadi?"
"Aku terbiasa, Anna. Ini pekerjaanku."
Sementara Anna memakai boot, Luke jelaskan cara kerja mesin pemotong rumput. Hati-hati ..., Anna kemudian gunakan benda itu. Tidak serapi tangan Luke, tetapi ia menikmatinya. Pekerjaannya selesai menjelang siang, tentu saja dengan bantuan Luke. Matahari bersinar hangat di atas sana, sedikit melahap kulitnya. Ia gerah, berkeringat.
Menengok ke arah rumah percaya bahwa Hedgar sedang amati dirinya. Benar saja, pria itu di teras atas, di depan sebuah ruangan, menyeruput sesuatu dari cangkir. Wandah sajikan makanan. Hedgar memantaunya seolah pastikan ia tak kabur.
Anna Marylin terus memangkas rumput. Bunyi mesin cukup menghibur Anna. Hasilnya makin rapi Luke waspada di sisinya. Luke, tampaknya takut dieksekusi mati oleh Hedgar jika Anna sampai lecet.
"Apakah aku tipe wanita yang suka kabur?" guman Anna Marylin lepaskan helmnya.
"Kamu katakan sesuatu Anna?"
"Apakah kamu tahu caranya keluar dari sini?" tanya Anna pada Luke.
Tentu saja Luke menggeleng cepat, pura-pura sibuk memeriksa mesin. Anna Marylin lepaskan pakaian pelindung juga perlengkapan lain kembalikan pada Luke. Melirik ke atas ..., pria itu telah menghilang. Sebagai ganti, si Blacky bertengger di holder teras, awasinya.
"Yang benar saja!"
Oleh gerah, telaga bening memanggil jiwa Anna pergi ke sana. Angin telaga menyegarkan. Anna Marylin juga dihinggapi penasaran, ingin pastikan sesuatu.
Kaki-kaki kosong telusuri dermaga kayu. Sampai di ujung dermaga. Dasar telaga bisa terdeteksi matanya. Hanya batu-batuan khas sungai, gelap tetapi indah. Bahkan tak ditemukan rumput menjalar yang menakutkan seperti dalam mimpinya.
"Lalu mengapa aku tak boleh bermain di sini?" tanyanya pelan.
Beberapa ekor bebek minum di pinggir telaga. Jika, air beracun, mengapa banyak bebek berbaris minum? Beberapa di antara mereka mulai ceburkan diri ke air mulai berenang.
"Manis sekali." Senyuman terkembang di bibirnya.
Menggemaskan saat para bebek mulai bergerombol, nikmati kesenangan penuh damai. Anna Marylin abaikan peringatan suaminya, segera terjun ke dalam telaga. Air jernih, bersih dan sejuk menyambutnya. Anna segera terlena, pejamkan mata. Langit biru, matahari hangat, angin sepoi-poi; setidaknya segala hal ini cukup berikan penghiburan.
Burung itu kemudian terbang sangat cepat, lehernya memutar seakan pastikan Hedgar Sangdeto peka akan pertanda darinya.
Anna Marylin keheranan oleh reaksi Blacky, bukankah burung hantu itu sangat berlebihan? Ia tak akan kabur. Instingnya berdering. Anna berbalik, gerombolan bebek hilang separuh. Sementara Blacky sesekali masih memekik sebelum hinggap di pohon tepi sungai tak bersuara. Dalam senyap, matanya awasi Anna tajam.
Tingkah Blacky bikin Anna Marylin berubah waspada, mata-mata pindai Hedgar lompati teras, sedikit berguling di halaman rumah yang sedikit miring. Pria itu berlari kencang, menguntai makian kasar.
"Luke! Luke! Come here!" panggil Hedgar.
Pria itu pegangi dua senjata di tangannya, arahkan tepat pada Anna Marylin, membidik lalu menembak.
Anna Marylin menghela udara, mengisi paru-paru lalu menyelam, sembunyikan kepala di bawah permukaan air dari lontaran peluru Hedgar yang kedapatan mengamuk seperti pria tidak waras. Luke muncul kemudian dengan senjata laras panjang.
Detik-detik berikut Anna menangkap sesuatu bersisik putih di bawah permukaan air tetapi bermata dua di atas kepala, sangat tenang meluncur ke arahnya. Dalam air mereka bahkan tak ciptakan gelombang, percikan apalagi pusara. Sadari bahwa telaga ini mungkin rumah para buaya, Anna mengumpat lekas berenang ke tepian. Menjadi lebih jelas dapati buaya putih terlihat kini mengepung dari segala sisi. Ketika mulut-mulut terbuka, Anna Marylin, terpana.
Hedgar bersiul pelan. Si burung Hantu segera meloncat turun, menukik rendah hinggap di atas salah satu kepala buaya dan mematuk mata, sebabkan gelombang air. Suara-suara dari gigi-gigi besar terdengar buas. Blacky berhasil lumpuhkan penglihatan salah satu buaya.
Hedgar melompat ke dalam air, melihat celah untuk menggapai Anna. Wajahnya menahan murka sedang Luke tembakan peluru berekor merah. Itu adalah bius. Reaksi terlampau lambat, Hedgar menjadi tak sabaran. Ia segera habisi salah satu buaya paling muda. Darah warnai telaga jernih, para buaya beralih kini pada satu yang mati, ekor-ekor berkibar semangat.
Hedgar terlalu dekat, terlambat hindari euforia para predator bertubuh gempal dengan panjang nyaris 5 meter itu. Lambaian ekor salah satu buaya, mencabik perutnya. Kemarahan menjadi berlipat ganda, membunuh buaya itu.
Pesta daging segar dimulai. Gigi dan cakar berlomba-lomba menerkam, menggigit dan merobek mangsa. Senggolan berhasil munculkan pertarungan sengit. Anna merinding ngeri. Lebih baik menonton para gangster berkelahi ketimbang pertarungan hewan-hewan liar ini.
Hedgar meraih Anna yang shock pergi ke tepian, mendorong Anna ke atas.
"Kamu temukan kantung mayat, huh?" tanya Hedgar gusar. Darah mengalir dari perutnya. "Apakah mereka sukai rumah baru mereka?"
"Tak ada yang tahu isi perut buaya," balas Anna Marylin bernapas terengah-engah.
"Kau bisa masuk ke dalam perutnya dan memeriksa."
"Mengapa sulit berkata di telaga ada buaya putih alih-alih bicara tak jelas."
"Rumit bagimu untuk patuhi, kalimat paling sederhana?"
Hedgar terkapar menghadap langit, pegangi perut berdarah. "Kau lihat mereka? Lebih mematikan dari para mafia. Satu lagi yang pasti, mereka tak mencintaimu, Anna! Black hole daerah kekuasaanmu, kawasan ini milikku. Perhatikan langkahmu!"
"Berhenti bicara, aku akan obatimu!"
Wandah tergopoh-gopoh bawakan peti obat, setidaknya, itu pikiran Anna Marylin. Mimik tenang tetapi berisi banyak ketakutan di mata Wandah.
"Tidak perlu walaupun kamu perlu berterima kasih pada suamimu karena telah selamatkanmu!"
Luke datangi mereka.
"Bos!"
"Luke?! Sebaiknya urus mereka dengan benar. Aku mulai muak pada orang-orangku yang bodoh dan tidak becus. Perlukah aku umpankan kepalamu pada mereka?" Lepaskan kemeja yang sobek, perlihatkan luka lebar menganga.
"Kawat penangkaran mereka robek, Bos. Mereka menyelinap lewat sana!"
"Perbaiki, Bodoh!!!" hardik Hedgar bangkit mendadak gunakan kakinya menendang Luke.
"Ya Tuhan, apakah kamu perlu emosional begitu?" tanya Anna Marylin melotot pada Hedgar.
"Nah, biarkan saja kamu dimakan buaya lalu teman-temanku berpikir aku umpankan-mu pada peliharaan-ku. Bagaimana terlihat?" balas Hedgar sama kerasnya.
"Jika kamu beritahu aku ada buaya di telaga, aku tak akan melompat ke dalam dan berenang."
Wandah sampai sodorkan kotak berlutut di sisi Hedgar.
"Aku bisa sendiri," tegur Hedgar saat Wandah hendak membantunya. Hedgar membuka kotak bukan obat-obatan. Hanya bubuk mesiu.
"Wandah, apa kita tak punya yang lain? Bubuk mesiu?"
"Hedgar terbiasa sembuhkan luka gunakan bubuk mesiu, Anna," sahut Wandah tenang.
"Tidak lagi! Biarkan aku bersihkan lukamu! Bisakah tolong aku ambilkan gula?" pinta Anna pada Wandah yang langsung mengangguk. Anna menangkup air telaga dengan tangannya siramkan pada Hedgar.
"Bos ..., Doom dan Koi ..., mati!"
Anna Marylin menduga nama dua buaya yang mati itu Doom dan Koi.
"S*****. Menyingkir sekarang sebelum aku menembakmu!" sahut Hedgar semakin meradang pada Luke hingga Luke gemetar.
Luke buru-buru menjauh, bergabung bersama dua orang lain yang sementara bekerja keras mengiring para buaya kembali ke sarang mereka.
Hedgar mengambil kapas dan bersihkan hingga kering, hendak siramkan bubuk mesiu.
"Hentikan!" tahan Anna Marylin pegangi tangan Hedgar kuat. "Ini berbahaya. bahkan tak ada efek apapun selain hancurkan pembuluh darah dan saraf."
Hedgar menepis tangan Anna Marylin tak peduli peringatan Anna hendak siramkan bubuk pada lukanya. Tak disangka Anna merebut bubuk mesiu lemparkan sejauh mungkin, Hedgar menoleh cepat akan mengambil kotak mesiu lainnya. Kaki Anna lebih dulu menendang benda itu, menggelinding dan terbalik. Hedgar mengumpat kasar. Darahnya kembali mengalir. Menahan luka dengan gulungan kemeja, ia berguling ke arah kotak hendak meraih benda itu. Tangan Anna bergerak lebih cepat. Akan sampai.
Hedgar menggeram, lingkari tangan pada pinggang Anna. Mereka bergulat di atas rumput. Kemeja basah Anna kemudian ternoda darah Hedgar.
"Sepertinya kau jatuh cinta lebih cepat padaku, Anna? Kamu takut aku mati, ya?"
"Jangan kepedean! Aku hanya dokter. Kami tak gunakan bubuk mesiu dalam pengobatan kecuali kami dihadapkan pada situasi di mana tak ada apa-apa lagi untuk hentikan darah." Anna bicara dari atas tubuh Hedgar, mengunci tangan si pria agar tak sampai pada kotak bubuk mesiu sedang Wandah menonton tak jauh dari mereka. Bingung dan ragu-ragu.
"Aku tahu cara sembuhkan diriku sendiri. Aku bukan Laurent atau Hellton yang cengeng. Harus bergantung pada obat-obatan dari tanganmu, Anna."
"Mungkin sarafmu rusak karena sering dibakar mesiu. Aku akan obatimu gunakan kasa dan gula. Itu lebih cocok hentikan pendarahan."
"Menyingkir Anna!" desak Hedgar gunakan tenaga penuh berhasil kuasai Anna.
Hedgar segera menjepit tubuh Anna. Satu tangan mengunci dua pergelangan tangan Anna. Sedang tangan satu meraih bubuk abu-abu mesiu, siramkan di sepanjang luka. Mengambil pemantik. Pria itu membungkuk di atas Anna Marylin yang tak menyangka terima serangan langsung pada bibirnya. Satu raupan membungkam protes Anna.
Tangan Hedgar nyalakan pemantik, pejamkan mata, ciumi Anna menggebu-gebu berusaha alihkan sakit. Pemantik dinyalakan dan ....
Bluuurp!!! Bluuurrp!!!!
Arrrgghh!!!
Api menyala di permukaan luka. Hedgar menggeram kesakitan di atas permukaan bibir Anna. Raut wajahnya berkontraksi penuh. Baju Anna tersambar panas tetapi mati karena basah.
Hedgar kembali pada Anna, terkulai di leher Anna.
"Ka ... u sakit jiwa, Hedgar!"
***
Uluh uluhh....
Tinggalkan komentarmu tentang dua chapter ini.