My Guardian Angel (The Dust of Love)

My Guardian Angel (The Dust of Love)
Chapter 100. The Puzzle of Tomorrow



Ponselnya berdering pukul lima pagi. Sipitkan mata.


"Archilles? Ini aku!"


Suara Zefanya terdengar ceria.


"Ya aku tahu, Zefanya, aku tahu. Pikirmu aku bisa lupakan suaramu? Apa sesuatu terjadi?" Archilles tebak adiknya penasaran pada Ethan Sanchez, tetapi Archilles pura-pura tak ambil pusing.


"Tidak! Tidak!" balas Zefanya kedengaran bimbang. "Oh, apakah kamu belum bangun jam segini, Archilles?"


"Em, aku tidak bisa tidur!"


"Ya, aku yakin, kamu terlalu bahagia untuk mengantuk!" goda Zefanya. Archilles nyaris merasa sedang mengobrol dengan gadis dewasa.


"Semacam itu."


"Aku berbahagia untukmu, Sobat," balas Zefanya. "Ugh, kau tahu aku benar-benar terguncang ketika Arumi Chavez lari padamu dan histeris, 'Archilles, bisakah bawa aku pergi dari sini?'. Ya Tuhan Archilles, mimpi apa aku melihatnya. Dia luar biasa cantik. Visualnya sempurna. Aku saja yang cewek bisa terpesona bolak balik padanya bagaimana denganmu? Kakakku berpacaran dengan artis idolaku dan akan menikahinya. Oh ya Tuhan, jika aku ceritakan pada teman-temanku, mereka akan menganggapku kurang waras."


"Teruskan Zefanya! Aku tahu bukan itu yang ingin kamu bicarakan di pagi buta begini Zefanya."


"No! No! Aku benar-benar ingin meluapkan kegembiraan denganmu. Lagipula aku sangat merindukanmu dan takut kamu melupakanku."


"Mana mungkin begitu. Kamu adikku tersayang. Walaupun kini, aku akan membagi kasih sayang yang adil padamu dan Chaterine Lucca. Aku harap kamu tidak keberatan, Zefanya."


"Chaterine sangat peduli padaku. Kami mengobrol semalam. Aku punya dua kakak sekarang, betapa bahagianya aku."


"Ya sudah, nanti kita berkumpul lagi di akhir pekan. Aku harus pergi!" pamit Archilles.


"Wait! Wait, Archilles Lucca!" sambar Zefanya dari seberang tergesa-gesa.


"Ya, Zefanya. Ada apa lagi? Apa kamu butuh sesuatu?"


"Archilles Lucca, em ...." Terjeda seperti kendaraan yang akan melewati lampu kuning.


"Katakan saja!"


"Apakah kamu sudah dapatkan foto temanmu untuk dijadikan poster?" tanya Zefanya hati-hati. Nah, keluar juga udang yang tersembunyi di balik batu.


"Teman yang mana? Aku punya banyak teman." Archilles jahili adiknya.


"Yang itu, yang kami jumpa di rumah Nona Arumi Chavez!"


Archilles berdecak. "Oh, Alfredo Alvarez?Itukah maksudmu?"


"Bukan Tuan Alvarez, ya ampun. Apa aku terlihat naksir Tuan Alvarez yang tampak seumuran Raul Lucca?"


"Siapa?"


"Yang itu!" keluh Zefanya setengah gondok. "Masa kamu lupa kejadian baru kemarin, Archilles? Coba kamu ingat-ingat!" suruh Zefanya.


Archilles butuh jauhkan ponsel, menutup wajah dengan bantal dan terbahak-bahak. Astaga, Zefanya benar-benar terkena sihir Ethan Sanchez. Kembali ke ponsel setelah berdehem. Mengatur suaranya lagi.


"Siapa ya?"


"Kamu perlu menelan satu box royal jelly per hari untuk perbaiki daya ingat-mu. Belum dua puluh lima tahun tetapi bagian otakmu yang mengatur memori dan konsentrasi-mu jauh dikalahkan Kakek Zevas."


Archilles tak tahan geli dapati ocehan Zefanya.


"Oh, Ethan Sanchez?!"


"Ya, Ethan." Zefanya cengengesan hingga Archilles gemas sendiri. Ia selalu rindukan adiknya yang bawel.


"Kunjungi sosial medianya dan coba saja berteman dengannya, Zefanya. Itupun kalau kamu diterima."


"Oh, ya? Apa? Instagram? Tweeter? Facebook? Apa alamatnya? Aku akan mengingat dan mencari. Semoga akunnya tidak diprivasi."


"Aku tidak tahu. Nanti aku tanyakan."


"Oh ya Tuhan, pelit sekali kamu, Archilles Lucca."


"Aku memang tidak tahu alamat akunnya!"


"Teman macam apa kamu, Archilles?"


"Dengar Zefanya. Ethan Sanchez, miliki banyak penggemar bahkan fans garis keras. Cowok ini populer dan disukai para gadis, idola di sekolah Nona Arumi. Dia limited edition, perfeksionis, sangat killer. Sangat jenius." Menarik napas panjang. "Dia tak sukai gadis konyol, bodoh, dan sejenisnya. Terlebih tanpa arah dan suka hura-hura."


"Ayolah Archilles, aku tak ada dalam daftar yang kamu sebutkan terakhir!" sanggah Zefanya. "Apalagi?"


"Ethan Sanchez berkeinginan menjadi orang hebat dan sukses di kemudian hari."


"Aku juga," sambung Zefanya. "Hanya karena aku menaruh posternya bukan berarti aku angan-angankan hal aneh tentangnya."


"Kamu menempel poster Taehyung dan bermimpi menikahinya."


"Oh Archilles, sekarang makin sempit kemungkinan sebab ternyata aku punya seseorang, cowok ini saudara sebangsa dan senegara."


"Bukan itu maksud perkataanku, Zefanya. Rajin belajar dan kejar mimpimu. Cukupkan dirimu dengan poster pria Asia itu."


"Archilles, mengapa aku susah-susah bepergian ke Asia kalau di dekatku ada seseorang model Ethan Sanchez. Aku telah relakan Taehyung pada gadis lain." Zefanya berapi-api.


"Dengar, Sayang. Aku tidak akan melarangmu idolakan Ethan Sanchez karena aku juga mengaguminya. Ethan pantas kadi panutan."


"Benarkah?" pekik Zefanya antusias dan riang.


"Hanya saja ada batasan, Zefanya."


"Tentu saja, Archilles. Apa pikirmu aku akan berubah mirip penguntit dan berkeliaran di jalanan untuk dapatkan fotonya dan mencari tahu jadwal hidupnya? Aku tidak seekstrim itu, Archilles. Aku cuma akan jadikan idolaku sebagai motivasi dan inspirasi. Kita perlu sepakat bahwa idolakan seseorang hanya bersenang-senang mengisi harimu, bukan kegiatan primer, bukan? Itulah mengapa aku minta fotonya darimu bukan mencarinya sendiri."


Pandai juga Zefanya berkelit. Lupakah kalau Zefanya sangat cerdas?


"Baiklah."


"Nah, bagikan aku sedikit cerita tentang temanmu!"


"Apa yang ingin kamu tahu, Zefanya?"


"Segalanya. Terlebih tentang cita-citanya."


"Ethan Sanchez punya dua adik, salah satu dari mereka seumuranmu. Gavriel namanya. Ethan bekerja di kafe selepas pulang sekolah dan menjadi guru private di sebuah yayasan. Aku belum tanya apa cita-citanya. Karena dia pintar mungkin ilmuwan menurut Nona Arumi. Aku bertaruh Ethan Sanchez lebih cocok berseragam para dokter."


"Em, hebat. Kebetulan sekali ya, aku juga akan jadi dokter."


"Itu keinginanku yang disarankan padamu. Tadinya kamu bercita-cita jadi artis."


"Kita kan sepakat, aku akan gunakan uangmu masuk sekolah kedokteran. Bagaimana sih kamu, Archilles Lucca?"


"Baiklah! Baiklah, Sayang!"


"Apa lagi hal baik darinya?"


"Ethan Sanchez pahami prioritas dan tujuan hidup. Dia tidak akan pernah mau menyia-nyiakan waktu mengejar hal-hal yang menurutnya akan menjadi penghalang untuk masa depan. Dia itu pekerja keras, tangguh dan sangat berdedikasi."


"Oh kedengaran seakan kamu sedang menggambarkan diriku, Archilles. Kami punya lebih dari satu persamaan, ya."


Ya ampun lihat dia! desis Archilles dalam hati tak tahan lucu.


"Kamu hanya sedang menyama-nyamakan dirimu dengannya."


"Hehe ...," kekeh Zefanya di seberang.


"Mandi sana dan bantu Lucia di dapur sebelum otakmu pergi ke mana-mana!"


"Iyah, tanpa disuruh pun aku tahu tugasku, Archilles. Sampai jumpa nanti. Aku harap ada kabar bagus darimu!"


"Aku akan kirimkan fotonya untukmu! Aku janji. Tetapi, aku perlu minta ijin pada Ethan."


"Oh My God, kamu memang kakak paling pengertian sedunia. Aku akan bereskan kamarmu dan merapikannya kalau-kalau kamu berencana mengajak Nona Arumi kemari. Jangan lupa beritahu Nona Arumi untuk datang bersamamu di hari aku menerima penghargaan ya, Archilles."


"Kapan itu?"


"Aku akan kabarimu."


"Jangan terlalu banyak berharap ya, Zefanya. Kami tidak boleh mengekspos hubungan kami sebelum menikah. Media akan ciptakan ketidak-nyaman untuk Nona."


"Begitukah? Aku tidak berpikir ke sana."


Beberapa waktu kemudian setelah panggilan berakhir, di luar mulai terang. Archilles Lucca berada di gudang memeriksa kotak pertukangan. Kemudian ia berkunjung ke kandang kuda, menemui Aorta dan Vena.


Nona Arumi berada di dapur. Tadi, mereka bertemu di ruang tengah seakan telah janjian. Nona berniat bikin sarapan spesial dibantu Ayshe. Sedikit lebih cerah karena kedua orang tuanya bersama semalam. Jelas doakan Tuan dan Nyonya Chavez bersatu. Mungkin hasilkan seorang bayi laki-laki. Nona Arumi berkata ia telah sujud menyembah pada Tuhan pagi-pagi buta, memohon Tuhan kabulkan doanya.


Beruntung langit berawan tanpa indikasi hujan deras. Archilles kemudian menerima panggilan lain oleh Nyonya Nastya. Sama seperti Zefanya, Nyonya Nastya ingin dengar suaranya. Terus terang berkata tidak akan pulang ke Càrvado karena menungguinya.


Padahal Archilles harus kembali mengajar dua hari lagi, bereskan kerjaan yang terus dipending agar ia damai. Nyonya Nastya bersih keras untuk ikut kemanapun ia pergi. Ibunya tidak mau mereka berpisah dan kehilangannya lagi walau sementara waktu.


Archilles butuh mengundurkan diri dan pamitan pada teman-temannya. Ia mungkin harus mengajar sampai Maret sebelum berhenti untuk menikah. Namun, Nyonya Nastya memohon Archilles berhenti bekerja, pulang bersama dan tinggal dengannya.


Pekerjaannya selesai dengan cepat tepat waktu ia dipanggil ke dapur.


"Selamat pagi, Archilles Lucca!"


Nona Arumi dengan celemek Cherry warna pink, topi koki dan sarung tangan.


"Anda sangat cantik pagi ini, Nona!"


"Benarkah?" Nona Arumi tersenyum sedikit, menahan mual di wajah melihat saos strawberry.


"Aku penasaran rasa masakan yang dibuat oleh Anda."


"Mari kita sarapan! Aku berg41r4h pagi ini karena kita akan melakukan sesuatu."


"Aku bersedia antarkan makan siang untuk Anda berdua," sambar Ayshe. "Beritahu aku, apa yang Nona Arumi dan pacar Nona inginkan untuk makan siang?"


Archilles tersenyum berterima kasih pada Ayshe. Terlihat orang-orang rumah berlebihan segan padanya. Ia tidak harapkan itu datang dari teman-temannya.


"Apa saja, Ayshe. Kami akan menyukainya."


"Baiklah," angguk Ayshe. "Tolong bergabung di meja karena Tuan dan Nyonya menunggu."


Arumi Chavez tanggalkan celemek dan topi koki, ulurkan tangan pada Archilles dan menuntunnya pergi ke ruang makan. Menjalin tangan pacarnya.


"Pagi, Daddy!" sapa Arumi mengulas senyuman melihat Tuan James Chavez duduk di kepala meja. Arumi menoleh pada Archilles dan bergembira.


"Selamat Nona Anda berhasil," ujar Archilles tanpa suara ikutan senang.


"Pagi, Tuan Chavez."


"Pagi, Anak Muda. Apa tidur kalian nyenyak?"


"Ya, Daddy." Arumi menengok ke arah lorong di mana ujungnya adalah ruang tidur ibunya. "Di mana Mommy?"


Tuan James Chavez tak perlu menjawab sebab Nyonya Salsa muncul tak lama berselang. Sangat cantik dengan setelan woman executive bewarna soft pink. Ibunya memang selalu cantik tetapi sejak kemarin, Ibunya seolah keluarkan kemampuan terbaik merias diri. Arumi mendukung penuh. Walaupun mungkin akan sangat keren miliki Ethan Sanchez dan Dandia sebagai saudara tiri, Arumi tidak suka Nyonya Sanchez bersama ayahnya.


"Pagi, Nyonya!" sapa Archilles.


"Ya, Archilles Lucca. Ada apa dengan wajahmu? Apa kamu tidak tidur semalaman?"


"Aku juga kesulitan tidur," sambung Arumi sebelum Archilles sempat menyahut.


Archilles menarik kursi bagi Arumi setelah Nyonya Salsa duduk di dekat Tuan Chavez yang lekas menatap istrinya sedikit berpikir.


"Apakah Ibu akan pergi ke kantor?" tanya Arumi mewakili ayahnya, ingin tahu sementara sarapan diantar ke dalam ruang makan.


"Ya," sahut Salsa. "Setelahnya kami ada pertemuan informal dengan beberapa teman."


"Bersama Daddy?"


"Tidak, Arumi."


Tuan James Chavez seakan tak menyukai kata "teman" barusan diucapkan Salsa. Menoleh penuh atensi lewat tatapan tajamnya.


"Aku dan Ibumu akan pergi bersama-sama!" ralat James Chavez membuat istrinya terkejut dan berpaling ajukan protes.


"Tuan?!"


"Selesaikan urusanku dan urusanmu lalu pergi bersama temui teman-teman."


"Baiklah," jawab Salsa mengalah.


"Hariku sempurna," kata Arumi Chavez. "Akan lengkap jika Ayah mau menganggap kakakku seperti puterimu sendiri. Dia telah melalui banyak kesedihan."


Salsa dan James Chavez berhenti bernapas. Berbagi pandangan. Arumi tak sengaja menyentuh ranah itu. Namun, cepat atau lambat semua orang akan saling menyapa.


"Anda berdua tak boleh menghindarinya," tambah Arumi pelan. Ini agak menyedihkan karena ia terlahir dari masa lalu kelam. Yang dibuat dengan penuh dosa. Namun, ia mencoba berdamai dengan dirinya sendiri, memaafkan kedua orang tuanya. Bagaimana dengan Aruhi?


"Aku mungkin hanya akan menambah lukanya," ujar James Chavez pandangi Salsa.


"Aruhi ..., dia sangat hebat dan luar biasa berjiwa besar, Daddy. Saat Daddy bertemu dengannya, Daddy akan menyukainya."


"Begitukah?"


"Ya."


"Mungkinkah kita akan makan malam bersama besok dengannya?" tanya James Chavez pada Salsa.


"Jangan terburu-buru, Tuan! Aruhi akan menertawakan aku jikalau Anda tinggalkan aku lagi. Ada baiknya Aruhi tidak bertemu Anda dulu."


"Hidupmu selalu skpetis dan sarkas, Salsa."


"Satu malam tidak bisa mengubahku!" balas Salsa mengambil mangkok sup dan letakan depan suaminya, mengisi dengan sup. "Sudah aku katakan, aku kaku, keras kepala dan jahat. Aku tidak mudah berubah baik hanya karena Anda menawarkan banyak madu."


Arumi melihat bahwa Ibunya tidak saja menguji ayahnya tetapi juga masih meragukannya. Tentu saja, Salsa benar sekali lagi. Baru kemarin ayahnya minta ijin bersama Nyonya Sanchez. Ibunya kemungkinan bekerja keras selama beberapa jam untuk pertahankan ayahnya. Walaupun pernikahannya dengan Archilles adalah alibi tepat, tidak bisa diabaikan kenyataan Tuan James Chavez menuntut perpisahan setelah Maret.


Arumi lekas muram. Mood-nya berubah memburuk. "Aku berdoa Anda berdua bersama-sama selamanya. Aku akan sarapan nanti."


Bangun dan pergi!


"Arumi?"


"Arumi?"


"Aku akan membawa Nona pergi ke ujung lahan dan sarapan di sana. Tolong jangan khawatir, aku akan mengurusnya. Hanya saja, aku harap sementara waktu, Anda berdua tidak berselisih di depan Nona Arumi. " Archilles Lucca berdiri dan menyusul Arumi ke pekarangan belakang.


"Nona, ayo kita pergi!"


Archilles dalam waktu singkat mengepak sarapan. Keluar dari dapur dan temukan Arumi Chavez sedang di kandang kuda mengelus muka Aorta.


"Kemana?"


Archilles goyangkan kotak di tangannya. Lalu, mengangguk pada mini truk di dekat gudang berisi beberapa material.


Ayshe berlari-lari kecil mengisi truck dengan karpet dan lainnya. Ia kemudian bawakan jaket hangat dan topi dingin untuk Arumi.


"Ayo!" Archilles meraih tangan Arumi pergi ke mini truk bantu Arumi naik dan duduk di samping sopir. Ia mengemudi menuju ujung lahan.


Arumi berpegangan erat karena jalanan tidak mulus. Mereka tak bicara biarkan suara garang truk mengisi kesunyian.


"Pilih satu pohon, Nona!" kata Archilles kalahkan bising kendaraan. Mereka sampai di ujung lahan di mana sungai kecil mengalir di bawah kaki bukit dan komunitas Pinus mendominasi selimuti perbukitan. Ada beberapa pohon besar di sana.


Archilles hentikan truk di pohon paling ideal karena miliki dahan yang masih bagus dan kokoh. Ia turun. Gunakan tangga memanjat ke sana. Mengamati dari atas dahan besar, ketinggian diukur, periksa sekitar pohon. Ia mengangguk-angguk kecil kemudian turun.


"Sebelum bekerja, para tukang butuh energi. Mari sarapan."


Archilles mengambil sandwich berikan pada Arumi.


"Aku tidak lapar, Archilles."


"Makanlah karena aku butuh bantuan nanti."


Arumi Chavez mengangguk. Mengunyah sarapan. Archilles lebih dulu selesai, keluarkan perkakas tukang. Menghilang sebentar ke dalam hutan. Perdengarkan bunyi dari gergaji kayu. Kembali tak lama kemudian memikul banyak kayu satu ukuran di atas pundaknya.


Arumi perlahan lupakan kesedihan. Mulai semangat begitu tahu Archilles akan membangun rumah pohon. Mungkin terlalu terlambat karena ia akan enam belas tahun kini, tetapi demi apapun, ia ingin naik ke rumah pohon dan menonton senja.


"Apa yang bisa aku bantu?"


"Tersenyum saja di sana, Nona. Itu sangat membantuku."


Archilles membuat penyangga berbentuk segitiga, dipasak langsung pada pohon kayu. Sangat cepat kayu-kayu diangkut naik gunakan katrol. Dalam dua jam, lantai rumah pohon telah jadi. Pria itu sangat sibuk. Jaketnya telah dilepas, kini sisakan kemeja dan itu membuatnya terlihat sangat menarik. Saat mata mereka bertemu, pria itu hanya tersenyum lebar.


Setelahnya, Archilles Lucca mengajaknya naik ke atas. Sedikit berangin, Arumi pergi ke pusat dahan dan berdiam di sana. Perhatikan Archilles yang bekerja. Tangan kiri tanpa perban lagi, tak terganggu seakan tidak masalah satu tangan cacat. Bagaimanapun dia tetap indah dan lebih dari itu, Arumi benar-benar bersyukur memiliki pria sepertinya.


"Kita sampai di tahap membuat dinding. Nona tunggu aku sebentar di sini!"


Dalam setengah hari dinding hampir selesai. Ada jendela yang akan dipasangi kaca. Arumi membantu ambilkan palu, paku, apapun yang prianya butuhkan. Ia menyukai kegiatan mereka. Rumah pohon ini cukup besar dan luas.


"Beruntung tidak hujan," kata Archilles. Mereka membuka kotak bekal yang dibawakan Ayshe. Mulai makan siang. Pemandangan dari atas rumah pohon sangat indah meskipun langit berawan.


"Apakah kedua orang tuaku akan baik-baik saja?" tanya Arumi galau bersandar di dahan. Angin sepoi-sepoi. Ia makan lebih banyak dari biasanya karena suasana mendukung, menu santapan lezat dan juga karena cara Archilles Lucca habiskan makanan membuatnya ikut kelaparan. "Andai ayahku tak pernah kembali, aku mungkin tak akan mengharapkannya."


"Bukankah kita pernah berencana membawa Ayah Anda kembali, Nona?" tanya Archilles Lucca ikutan menyender di sisi Arumi. Volume air di sungai lebih penuh mungkin karena hujan.


"Kamu benar. Aku mendoakannya kembali pada kami setiap malam sebelum tidur. Kini, aku tahu, mengapa tidak semua doamu harus terkabul?"


"Nona, percayalah, segala hal akan baik-baik saja."


"Selama ada kamu, aku akan percaya itu!" Arumi Chavez menoleh pada Archilles. "Terima kasih untuk segalanya, Archilles Lucca."


Arumi menyukai senyuman lebar di wajah hingga kerutan tipis muncul di sisi-sisi bibir. Pupil mata Archilles melebar hingga berkilauan dalam penglihatan Arumi. Tumbukan pandangan dan menahannya dalam waktu lama membawa keduanya merasakan emosi cinta dan kasih sayang secara mendalam. Sangat kuat saling memiliki.


Archilles merangkul Arumi biarkan kepala Arumi di pundaknya.


"Teman-temanku membangun rumah pohon dengan ayah mereka. Dulu, aku iri pada mereka."


"Anda miliki satu ..., dibangun oleh pacar Anda."


"Luar biasa."


"Aku bisa membangunnya lagi ditiap pohon yang Anda mau, Nona, asalkan Anda berhenti bersedih."


"Aku sangat senang berada di dekatmu, Archilles."


"Nona ..., Anda sangat manis," balas Archilles mengelus rambut Arumi berikan kecupan di sisi kepala.


Archilles menggeser sedikit kepala Nona Arumi, membuat kesempatan untuk menyentuhnya ketika mata mereka bertemu lagi.


Arumi Chavez adalah pencium yang handal. Itu karena tuntutan perannya secara profesional untuk dilakukan di drama. Namun, sekali ini ia biarkan Archilles mengambil langkah pertama.


Tahu dengan baik bahwa Archilles canggung, ia membantunya dengan pejamkan mata saat bibirnya disentuh. Berdebar-debar dengan indah.


Arumi akan mengingat ini sebagai salah satu momen terbaik yang pernah ia miliki bersama Archilles Lucca. Berciuman di atas rumah pohon setengah selesai yang dibuatkan Archilles untuknya.


Mereka akan berpisah setelah besok. Menyongsong hari-hari penuh teka-teki.


Mengapa sekali ini, ia benci perpisahan mereka?


***