My Guardian Angel (The Dust of Love)

My Guardian Angel (The Dust of Love)
Chapter 129. No More Lágrimas



Aroma sarapan tercium sampai di ruang tidur. Semalam, diam-diam Ayshe keluarkan Tatiana dari kandang dan membawa kucingnya ke ruang tidur. Ayshe mungkin mendengarnya menangis. Arumi Chavez minum pil tidur karena ia sangat mengantuk tetapi tak dapat lelap. Tatiana bantu ia lewati malam. Kucing itu berikan irama terapi hingga ia tak tahu bagaimana ia akhirnya tidur.


Jas pria itu tergantung di display, sepatu dan juga dasinya. Akan berada di sana seperti cintanya yang tak mudah berakhir hanya masalah sepucuk surat. Ia akan pahami Archilles. Pria itu sedang alami hari buruk. Sedang, ia harus pikirkan cara keluar dari semua ini atau ia akan mati di tahun ini. Surat disimpan di dasar koper.


Ia meraih ponsel, kirimkan pesan pada nomer kekasihnya yang centang satu.


Saat kau bersamaku, duniaku indah


Aku akan pergi bersamamu di mana keempat angin meniup kita


Aku tidak bisa menahanmu, kau bisa pergi


Hanya aku berharap kamu mengerti


Saat kau tak ada, duniaku berhenti berputar


Pelan-pelan turun dari ruang tidur. Berdiri di pintu dapur, tempat yang paling banyak ciptakan getaran dan kenangan. Namun, tak ada pria itu lagi. Bahkan siluetnya menguap entah kemana. Ia mendongak pada langit monokrom. Bersandar di dinding akan mulai menangis lagi.


"Pagi, Puteriku. Apakah tidurmu nyenyak semalam?" Tuan Laurent Vincenti selamatkan ia dari air mata yang akan mulai tenggelamkan hati.


Menyapa tanpa menoleh. Tangan sibuk mengiris daging tipis memanjang dan merendamnya dalam bumbu. Arumi lupa bahwa sejak semalam dunianya tidak hanya dirinya dan Archilles Lucca.


"Live musik berakhir sebelum tengah malam agar tidak mengganggu Puteriku yang sedang penyembuhan. Meskipun para pria ingin minum dan rayakan sampai pagi. Anda lihat, para pria brengsek bersatu di pernikahanku. Semoga kami segera bertobat dan pantas jadi orang tua bagi anak-anak kami." Pria itu berkata lagi. Ingin Arumi tahu bahwa kartu As-nya sebagai ayah telah diaktifkan. Arumi Chavez bisa andalkan dirinya.


"Pagi, Tuan Laurent," balas Arumi Chavez rasakan kesejukan menerpa. Menyesap kembali buram di selaput iris.


Tuan James Chavez selalu ingin dilayani karena Tuan Chavez memang pangeran sejak ia dilahirkan sama seperti Salsa. Tuan Vincenti lebih mirip Archilles Lucca. Mereka manis saat di dapur.


"Apa yang kamu sukai untuk sarapan, Puteri? Beritahu aku! Mari kita lihat apa yang bisa aku hidangkan untukmu."


Tuan Laurent Vincenti berhenti sejenak. Mengangkat wajah dan minta jawaban.


"Nona Arumi Chavez?! Apa kamu menangis sepanjang malam? Matamu bengkak?" Itzik Damian memakai celemek sama persis Tuan Laurent dari bahan jeans muncul dari balik kulkas. Kemeja digulung di lengan. Keramik putih dari mug yang pria itu pegang seakan menyatu dengan tangannya. Jeruk segar ada di tangan lain begitu kontras dengan warna kulitnya.


"Aku akan makan apa saja, Tuan Laurent." Abaikan Itzik dan mata vampire pria itu. Itzik Damian bikin para gadis asisten penasaran pada rupa fasadnya.


"Baiklah. Kamu dan Salsa perlu makan menu olahan daging segar. Aku rasa kalian menderita anemia. Terlalu pucat dan kurus."


Arumi Chavez sedikit tersenyum, menoleh ke arah ruang tidur ibunya. Dalam dua hari, ruang tidur itu dirombak ulang. Dan semua barang di dalam dibuang setelah Salsa pertahankan belasan tahun untuk James Chavez. Dan Arumi dengar, barang-barang Tuan James Chavez dikirim kembali ke kediaman Chavez. Ibunya berencana kirimkan ke rumah Andreia Sanchez tetapi pikirkan Ethan Sanchez.


Kini, satu-satunya yang tersisa dari James Chavez adalah namanya. Adiknya beruntung karena akan gunakan nama Tuan Vincenti. Dan tak akan repot-repot mengenal Tuan James Chavez.


"Apa Ibu belum bangun?" tanya Arumi pelan. Untuk pertama kali ia geli mendengar namanya sendiri saat Itzik Damian sebutkan namanya. Ingat Ibunya pernah berkata, "tinggalkan nama Chavez jika kamu terus membangkang dan tak patuh padaku". Betapa bangganya Salsa pada suaminya. Mencoba setia untuk dicampakkan.


"Biarkan Ibumu beristirahat sedikit lagi sampai sarapannya siap. Semalam terus berdiri dan tersenyum. Salsa mengeluh pegal-pegal setelahnya."


"Kejutan. Aku pikir Anda membawa Ibu ke Pertanian Vincenti semalam."


"Tinggalkan Puteriku di sini?" Laurent Vincenti menggeleng. "Bukan ide bagus. Terlebih aku pikir kamu butuh banyak makan dan perhatian."


"Aku bisa bersama Aunty Sunny, Ayshe dan Itzik. Aku sudah enam belas tahun dan bisa mandiri."


Tentu saja Itzik Damian berdehem. Merasa "sesuatu" karena disebut Arumi. Geer-nya segera beranak pinak. Sebab, Ayshe dan Itzik adalah manusia. Beda saja kalau menyebut Itzik dan Tatiana. Mengusap dada pelan karena mulai menyayangi gadis culas yang belakangan diliputi kedihan tanpa ujung.


Itzik Damian tak akan mau bantu Arumi Chavez temukan Archilles Lucca. Untuk apa? Ia akan berada di sisi gadis ini, biarkan saja Arumi Chavez bodoh - bodohi dirinya jika bisa buat gadis itu lupakan Archilles Lucca. Lagipula, Archilles Lucca tak ingin ditemukan. Mengapa capek-capek repotkan hati dan pikiran?


"Nona Arumi benar, Tuan Laurent. Biarkan kami mengurusnya."


Laurent Vincenti tersenyum. Ia menggoreng daging dalam balutan farinha de rosca. Bunyi dari dalam pan kemudian aromanya mengguncang dinding perut.


"Aku berjanji jadi Ayah terbaik bagimu. Dan aku adalah pria yang selalu konsisten dengan ucapanku. Aku berharap, kamu bisa lupakan kesakitan kemarin-kemarin. Besok, menunggumu, Nona. Kita bisa mulai dengan camping keluarga atau sesuatu yang menyenangkan sebelum Puteriku kembali ke sekolah bersama saudaranya. Aku memikirkan sekolah dari rumah tetapi Young berkata, teman-teman sekelasmu merindukanmu. Mereka berharap kamu ada di sekolah untuk acara perpisahan dengan seniormu."


Arumi Chavez manggut-manggut. Tuan Laurent pikirkan banyak hal tentangnya dalam beberapa hari.


"Terima kasih, Tuan Vincenti. Mimpi buruk tak selamanya akan berakhir buruk. Anda adalah mimpi terbaik kami yang menjadi kenyataan. Aku tak akan bersedih kehilangan Tuan Chavez karena seseorang akan segera gantikan figurnya."


Itzik Damian miringkan bibirnya. Seakan ingin berceloteh, "gadis ini pandai menggombal". Lihat saja, aku, terjebak dengan mulut manisnya sampai-sampai relakan saja namaku dipakaikan pada anjingnya. Kini, Tuan Vincenti yang haru kebiru-biruan dengarkan ungkapan mendayu gadis ini.


"Apakah Young Vincenti kembali ke Pertanian Vincenti?" tanya Arumi Chavez. Ruang tidur untuk adik angkat laki yang dicanangkan Ibunya kini berubah jadi ruang tidur saudara tirinya.


Dan Tuan Vincenti tetapkan aturan, Young dan Itzik tidak boleh ada di ruang tidurnya begitupula sebaliknya. Ia juga punya ruang tidur di perkebunan Vincenti, mengarah langsung ke kota. Menurut Young, ia bisa memanggil Archilles Lucca dari sana dan angin bisa carikan untuknya.


"Aku di sini, Arumi Chavez." Young muncul di dapur. Tangannya pegangi tali si Husky. "Kami sedikit berjalan-jalan."


Si Husky menggonggong penuh dendam pada Itzik Damian.


"Kamu pasti lakukan sesuatu padanya!" tuduh Arumi Chavez pada Itzik Damian.


"Aku hanya menyuruhnya hormat padaku. Bagaimanapun dia dengan tidak tahu malu gunakan namaku! Akulah bosnya!" Itzik Damian menggeram jengkel.


"Cuma itu saja?" Arumi Chavez tak cepat percaya.


"Memangnya ada lagi?"


Itzik si Husky melolong dengar jawaban Itzik Damian seakan ingin membantah, "Dia penipu! Jangan dengarkan dia!"


"Itzik Damian?" tegur Arumi Chavez.


"Apa?!" Itzik melotot pada Si Husky yang terus mengaing. "Kau akan menggigitku-kan, kemarin?"


Penipu!


"Dia bilang ...," kata Arumi menunjuk pada anjingnya. "Arumi Chavez, Anda masukan penipu ke rumah ini. Dia akan menyusahkanmu di masa depan."


Semua orang tercengang. Young Vincenti ledakan tawa dahsyat.


"Beritahu aku, apa yang sudah kau lakukan padanya?"


Itzik Damian mengalah. "Baiklah. Aku akan menembak binatang berkuku tajam ini saat kami cuma berdua dan jadikan dagingnya hot dog."


Itzik si Husky berhenti bersuara, lepas dari Young dan pergi pada Arumi Chavez mencari perlindungan.


"Dengar, Itzik Sayang. Dia tak akan lakukan itu karena aku akan memecatnya jadi asistenku." Mengusap kepala Itzik. "Ajak Tatiana main di belakang. Jangan muncul di hadapan Ibuku selama jam sarapan!"


Anjing itu pergi. Walaupun dia ke taman belakang sendirian lupakan Tatiana. Jelas saja Tatiana tahu jalannya tak perlu diajak.


"Arumi ..., kamu mungkin perlu mengganti nama hewan peliharaan dengan lebih pantas untuk hewan bukan nama teman-temanmu," saran Tuan Vincenti ikut campur.


"Tuan Vincenti benar. Jahat sekali gadis satu ini." Itzik Damian mendengus.


"Cuci tanganmu, Nona dan bawa Ibumu kemari. Young, siapkan mejanya!"


Semua orang berkumpul di meja makan dalam lima belas menit. Menunya istimewa karena dimasak oleh Tuan Vincenti dan sebagian bahan datang dari perkebunan Vincenti di lereng bukit. Alfredo Alvarez ikut bergabung di meja mereka.


"Aku dan Salsa berharap setiap orang hadir bersama di meja untuk sarapan dan makan malam. Anda wajib kabari orang tuamu jika kamu akan telat pulang ke rumah dari aktivitas di siang hari. Ini mungkin kedengaran aneh, tetapi, aku dan Salsa ingin pastikan Anda tak terlibat masalah dan kami tidak datang untuk bereskan. Kami bersama semalam untuk sepakati bahwa kami akan bebaskan Anda saat usia Anda berdua 18 tahun. Anda berdua bisa membuat keputusan-keputusan besar dan bertanggung jawab pada pilihan Anda."


Arumi Chavez menatap Laurent Vincenti yang tidak duduk di kepala meja macam Kakeknya atau Tuan Chavez bahkan Salsa tetapi disamping istrinya, berhadapan dengan anak-anak. Filosofi dalam bahwa Ayahmu bisa jadi kepala keluarga, pelindung, temanmu juga. Arumi setujui segala yang dideklarasikan pada mereka. Okay, sampai pagi ini, Salsa berada di sisi yang tepat.


Mari lupakan James Chavez dan biarkan dia berkelana bersama Nyonya Andreia. Mungkin saja, di tangan Nyonya Andreia, Tuan James Chavez temukan pertobatan. Em, Ethan Sanchez nyatakan sikap semalam bahwa ia tak akan ijinkan Ibunya bersama Tuan James Chavez. Dan Ethan selalu disiplin pada ucapannya.


"Setelah sarapan, semua orang silahkan ikut berbenah di halaman belakang sebab pesta kita usai kecuali Arumi. Kembalilah ke kamarmu dan istirahatlah."


Arumi Chavez minum obat diresepkan Anna Marylin dan terkantuk-kantuk mengetuk-ngetuk tuts piano diawasi Itzik Damian yang seakan 'sibuk' main game. Itzik tak ikut karena takut pada matahari.


"Saat kamu bermalas-malasan dan tak lakukan sesuatu, kepalamu akan berjalan pada Lucca. Sedang, aku sanksi dia memikirkanmu."


Arumi Chavez tak peduli. Dirinya dan Archilles terikat sangat kuat dan dalam. Meskipun tak saling bertemu, ia yakini, pria itu merindukannya.


"Aku mengantuk."


"Pergilah tidur. Aku akan bantu bersih-bersih. Akhirnya cuaca bersahabat denganku."


Yang dimaksud si Mayat Hidup adalah cuaca nyaris gelap di luar. Kulit Itzik Damian intoleran pada sengatan panas berlebihan. Karena bisa bikin ia melepuh bahkan kanker kulit. Juga berpengaruh pada tulang yang katanya, mudah keropos.


Arumi Chavez terkeok-keok. Ia menerima voice mail dari sebuah nomer baru. Ngantuknya lekas menguap.


Archilles?!


Tangannya gemetaran bersiap untuk mendengarkan.


***


Arumi, ini aku, Alana. Aku dapatkan nomer-mu dari Ayah. Aku akan memaafkanmu dan ibumu, berjanji lupakan segala hal yang menyakitkan-ku di masa lalu karena ibumu. Aku ingin hidup baru tanpa bayangan buruk, tetapi aku punya syarat yang tidak aku sembunyikan darimu. Ayahku akan membagi hartanya setengah untukmu dan setengah untukku. Aku tak suka. Mari bertemu hari ini dan makan siang denganku untuk lebih jelasnya. Datang sendiri karena aku benci dua saudaramu yang berisik itu. Lokasinya aku share. Aku tunggu kedatanganmu.


***


Arumi Chavez dengarkan rekaman dua kali. Kecewa karena bukan dari Archilles. Ia kemudian membalas pesan.


"Alana, aku tak butuh harta Tuan Chavez. Aku punya cukup uang dan akan dapatkan lebih banyak lagi ke depannya. Kau bisa ambil semuanya.


"Tak ada jaminan kamu tak akan merampasnya lagi dariku. Sungguh aku tak bisa percaya padamu! Aku butuh hitam di atas putih dan cap tiga jari."


"Aku tak bisa keluar di sore atau malam hari." Arumi tak akan mau ambil resiko dengan melanggar aturan yang ditetapkan Tuan Laurent.


"Ya, benar. Kau masih anak-anak. Bagaimana kalau pagi ini? Aku akan menunggumu."


"Ok."


Arumi Chavez berbaring sebentar. Bangun satu jam kemudian lalu bersiap. Tidak menarik perhatian orang. Semua sibuk bahkan Joe di bagian gerbang membantu di belakang. Ia mengintip mereka dari jendela ruang tidur. Itzik dan Young sangat serius bekerja di bawah.


Dia akan pergi sendiri. Sekali ini jika Alana macam-macam dengannya ia akan menyumbat mulut Alana. Mengendap-endap keluar.


Baru saja diujung dasar tangga, Itzik Damian muncul di pintu masuk.


"Gadis pembangkang ini. Tak heran dia punya banyak masalah. Dan jika tak ada masalah, dia akan mencari-cari."


Arumi Chavez berdiri tegak. "Aku butuh udara segar."


"Di belakang mansion ada taman seluas lapangan sepak bola standar internasional berisi penuh udara segar. Kau bahkan bisa bicara dengan rumput bergoyang yang sedang memproduksi berliter-liter udara segar. Jangan bodohi aku, Arumi Chavez! Jujur padaku, kemana kamu ingin pergi? Terlebih tanpa asisten-mu yang berkilau ini? Aku akan membantumu!"


"Minta ijin pada Ayahmu dulu. Baru saja tadi di meja, dia beritahu semua orang tentang aturan."


"Baiklah," angguk Arumi Chavez.


Ia pergi temui Ibunya dan Tuan Vincenti yang sedang berbincang di teras belakang.


"Ibu ...," panggil Arumi pelan tak ingin mengganggu. "Tuan Vincenti."


Keduanya berbalik.


"Arumi?"


"Bolehkah aku pergi keluar? Alana ingin kami bicara di kafe. Hanya berdua."


"Berdua?"


"Ya, Ibu. Alana perbaiki hubungan."


"Mengapa aku ragu?" keluh Salsa menoleh pada Laurent Vincenti minta pendapat.


Kemajuan. Pikir Arumi. Salsa mulai belajar menghargai.


"Kamu tak boleh pergi sendirian."


"Alana tidak sukai Itzik dan Young, Tuan Vincenti. Mereka selalu ribut. Kami hanya akan minum dan mengobrol."


"Mereka akan ada di kafe bersamamu tanpa kelihatan Alana."


Arumi Chavez akhirnya ditemani dua orang dalam perjalanan temui Alana Chavez. Itzik Damian mengemudi tenang sedang Young Vincenti sibuk main game di ponsel Itzik sambil membalas pesan seseorang yang harusnya ditujukan untuk Itzik. Arumi tak ingin ambil pusing. Mereka berisik dan berdamai sesuka hati.


Alana Chavez ada di sebuah pusat karaoke miliki layanan kafe di lantai dasar.


"Aku bisa atasi Alana."


"Kami akan memantau dari sini. Dial no.4 jika gejalanya kurang bagus." Itzik Damian mengambil ponsel Arumi dan pergi ke pengaturan. Ia tak bisa geser no.1 karena ada Archilles Lucca. Periksa riwayat panggilan, ada lebih dari puluhan panggilan ke nomer itu. No.2 untuk Nyonya Salsa. Tiga untuk Ethan Sanchez. 4 ada Alfredo Alvarez, Itzik menggeser seniornya.


"Baiklah."


"Kau hapal nomerku kan?" tanya Young Vincenti.


"Tidak," sahut Arumi.


"Em, sama saja. Ponselku disita Ayah."


"Nomer pacarnya saja tidak hapal. Apalagi nomer-mu?" Itzik Damian berdecak pada tingkat kepedean Young Vincenti.


"Kau tahu segalanya!"


"Dia di mulut para pria luckn4t, aku suruh telpon pacarnya di ponselku. Dia hanya ingat dial 1."


"Mungkin kombinasi angka nomer ponsel Lucca lebih rumit dari cinta mereka. Arumi Chavez tak suka kerumitan."


"Kau tahu segalanya."


"Aku duduk di belakangnya dalam kelas. Aku tahu dia tak suka matematika."


Mereka mulai berdebat hal tidak penting.


"Aku pergi!" lambai Arumi Chavez hentikan keduanya.


Alana Chavez menunggu Arumi di sudut kafe sibuk dengan ponsel. Tersenyum ketika melihat Arumi masuki bangunan seakan mereka tanpa ada masalah sama sekali.


"Gadis itu mungkin lebih licik dari belut." Itzik Damian menyipit tak lepaskan pandangan dari Arumi Chavez yang memakai celana jeans dan kaos kedodoran. Bertopi dan kaca mata juga masker.


"Dia hanya gadis 20 tahun yang cemburu pada kecantikan adiknya."


"Semalam kudengar kau memujanya."


"Kau harus lebih banyak pelajari trik merayu gadis. Aku hampir muntah saat mengatakan Alana cantik agar dia tidak merusuh di pernikahan Laurent Vincenti."


Sementara Arumi menarik kursi dan hendak duduk.


"Kita akan bicara di atas." Alana Chavez bangkit memegang lengan Arumi. "Di sini terlalu ramai."


Arumi Chavez menurut. Ia melirik Young dan Itzik turun dari mobil. Butuh waktu menyeberang.


Alana memesan minuman dan makanan.


"Akan kami antarkan."


Arumi dengar jawaban pelayan.


"Lepaskan benda-benda itu dari wajahmu. Astaga." Alana mengeluh.


Mereka masuk ke ruangan dengan permainan lampu di atas kepala. Dan beberapa orang pria muda duduk di sana. Kurang kerjaan pagi-pagi begini di tempat hiburan. Kecuali mereka sengaja dipancing datang oleh Alana. Dua bodyguard berjaga-jaga. Berhenti ketika mereka masuk.


"Arumi Chavez?!" Wajah-wajah menatapnya dengan ekspresi tidak percaya.


"Alana?!" tegur Arumi tidak suka. Ia menegang. Tak ada dalam bayangan, mode pergaulan Alana.


"Mereka teman-temanku! Santai saja! Duduklah!"


"Tidak!" tolak Arumi Chavez. "Kita bicara di lantai bawah saja."


"Mengapa? Kau dikelilingi banyak pria? Mengapa takut pada mereka ini?"


Seorang pelayan masuk mendorong troli berisi minuman. Pakaiannya cukup seksi. Mereka sedikit teralihkan pada si pelayan.


"Tuangkan untuk teman-temanku minum, Arumi." Alana dengan gaya menyebalkan duduk di sofa.


"Tidak!"


"Arumi, itu yang dilakukan ibumu saat menggoda Ayahku."


Rahang-rahang Arumi Chavez menegang. Ia melirik pada troli dan pada salah satu pria yang berdiri mulai meraba-raba si pelayan. Sepertinya pelayan ini terbiasa. Dia sibuk dengan gelas, tanpa reaksi.


"Bawakan kami lebih banyak minuman," perintah salah seorang pria dari tempat duduknya.


Si pelayan mengangguk patuh, pergi ke luar.


"Arumi ..., kau tak dengar kataku?" tanya Alana.


Arumi Chavez berpaling ke pintu. Ini tak akan mudah.


"Ambil semua harta Tuan Chavez. Aku tak butuh. Aku harus pergi."


"Pikirmu, James Chavez sungguhan ingin berbagi hartanya denganmu?" tanya Alana geli.


"Kau menipuku, Alana?"


"Ya."


"Kau akan biarkan aku pergi atau ayahku akan datang dan menghancurkanmu."


"Ayahmu yang mana?" ejek Alana. "Oh, yang semalam? Uh, aku takut, Sayang. Tuangkan minuman. Pergilah setelahnya kalau kau bisa."


Para pria terkekeh. Salah seorang di antara mereka bahkan mulai h012nn1.


Arumi pergi ke troli. Tuangkan minuman k3r45 ke dalam gelas. Si pria bangkit dan menempel di belakangnya. Terlalu rapat. Arumi Chavez mudah ketakutan. Tetapi, ia yakin Young dan Itzik tak jauh darinya. Di saat begini, ia merindukan pengawalnya dan kekasihnya.


Pintu terbuka lagi, si pelayan masuk bawakan minuman lain. Langsung ditarik buas oleh salah seorang pria sambil bergoyang. Pintu ditutup cepat-cepat oleh bodyguard.


Si pria tadi mulai menyentuh paha Arumi. Dan naik ke pinggangnya. Bergoyang di belakangnya. Menjijikan. Arumi Chavez tuangkan minuman terakhir, gemetaran. Para pria dalam ruangan itu terkekeh melihatnya.


"Betapa beruntungnya kita hari ini. Terima kasih Alana."


"Aku tak percaya ini Arumi Chavez."


"Sekarang bagaimana?"


"Luar biasa."


Tangan si pria semakin naik.


"Dia dan ibunya p3l4cu12. Santai saja dengannya. Kau bisa lakukan apapun padanya." Alana berkata penuh hinaan.


Arumi Chavez menggenggam leher botol minuman. Murka kalahkan trauma. Ia tak tahu dari mana datangnya, pecahkan benda itu di pinggir troli.


Braakk!!!


Segera berbalik dengan sisa-sisa botol bergerigi tajam dan menyerang tepat di pangkal leher si pria.


Semua orang tercengang. Mereka menganga. Alana tak akan menduga hal ini akan terjadi. Bahwa adik tiri yang ia pukuli seminggu lalu akan lihai menyerang seorang pria. Alana hanya lupa, di mana, Arumi Chavez tumbuh.


"Aku tak melawan-mu kemarin karena kami bersalah padamu. Aku menyesalinya. Sekali ini kamu keterlaluan Alana. Biarkan aku pergi atau temanmu mati!" Arumi rapatkan ujung botol. Menggores kulit si pria hingga berdarah. Ia tidak main-main.


"Kau akan ditangkap polisi, Arumi."


"Tak masalah, Alana Chavez. Tebak saja, apa yang akan aku lakukan padamu setelah ini? Sebaiknya pulang ke rumahmu dan tunggu aku di sana!"


Dorongan tangannya dipertajam. Satu gerakan akan sangat fatal.


"Buka pintunya! Sekarang!"


***


Nulis kayak dikejar-kejar gitu sampai jempolku perih. Aku mencintaimu.