
Malam sangat sunyi di sini. Archilles Lucca menahan mata lelah nyaris tertutup di atas buku The Principle of Basic Economics. Ternyata lebih mudah jadi Bodyguard dibanding tenaga pendidik apalagi bagi murid dalam pencarian jati diri.
Setibanya di tempat ini, selama tiga Minggu ia menyesuaikan diri lalu tiba waktunya ia ditunjuk menjadi salah satu guru penanggung jawab untuk murid tingkat dua yang isinya benar-benar buat para pendidik pusing.
Terkapar di atas buku tanpa lepaskan kaca mata. Ia berada di sebuah ruang tidur sederhana dalam biara Saint Antonio dan sekolah tempat ia mengajar berjarak lima menit dari tempat tinggal barunya.
Di sini semuanya tenang dan damai. Tak ada keributan kecuali denting piano, dering lonceng pengganti jam juga dentang lonceng penanda waktu doa. Jiwa raganya secara harafiah rindukan sosok gadis yang ia tinggalkan di mansion. Gadis berambut panjang cokelat terang bersinar keemasan dan raut cantik yang bisa buat jantungnya sekarat.
Akh, sama sekali tidak melihat jalan mulus untuk mereka dalam waktu dekat. Jadi, ia hanya berserah penuh pada Tuhan.
Dering bel lonceng digoyangkan perlahan. Archilles pikir ia baru tidur sebentar mengapa ia sudah harus bangun?
"Apa ini?" Archilles Lucca pergi ke jendela karena di luar tampaknya cukup bising, mengintip dari balik lingkaran jendela. Matahari cukup cerah. Berapa lama ia tidur? Mengernyit. Pemandangan menara Eiffel berdiri megah di kejauhan. Pepohonan rimbun berbaris rapi menaungi jalanan sedang Sungai Seine mengalir tenang membelah kota Paris.
Archilles lekas mengenali tempat ini sebagai salah satu hotel, tempat ia pernah menginap sekali dua kali saat mengerjakan sesuatu di Paris akhir tahun lalu.
Archilles Lucca berbalik ke arah ranjang dan temukan Nona Arumi di sana berbaring di atasnya dibalik selimut memakai knitting sweater putih tertidur nyenyak memeluk jasnya. Archilles memeriksa pakaiannya sendiri, berjas lengkap dan earphone masih terpasang di kuping. Di atas meja, buku panduan berisi profil kota Paris dengan ikon Eiffel bagian depannya.
"Nona Arumi?!" Hatinya berdebar-debar oleh cinta penuh rindu dan ia datangi gadisnya. "Nona?! Anda akan syuting sebentar lagi." Ia dengar katakan kalimat itu pada Arumi Chavez.
"Archilles, aku tak suka ruangan ini terlalu sempit, aku susah bernapas."
"Baiknya Anda bangun lalu kita bisa menghirup udara segar di jembatan depan, Nona!"
"Duluan saja, aku akan bersiap-siap!"
"Apa Anda yakin, Nona? Aku bisa menunggu Anda bersiap dan pesankan sarapan!"
Segalanya tampak berjalan normal. Termasuk perasaan yang kuat pada Nona Arumi.
"Mari kita makan di luar, Archilles. Aku tak suka rasa sup di sini."
"Baiklah! Ada restoran tidak jauh dari sini. Kita bisa berjalan kaki. Aku akan menunggu Anda di jembatan."
"Ya, baiklah."
Archilles berada di Jembatan Alexander III kini melangkah di atas jembatan yang keindahan dan keanggunannya sangat manjakan mata, sesekali ia menoleh ke belakang.
"Tidak, aku tak seharusnya tinggalkan Nona Arumi."
Ia sangat cepat kembali berlari menuju hotel dan sangat terkejut temukan Nona Arumi terbaring di atas ranjang, mata-matanya terbuka. Salah satu pergelangan tangan teteskan darah.
"Nona Arumi?!" Ia berusaha mendekat tetapi kakinya sulit bergerak dan beberapa orang masuk ke dalam ruangan kamar, menodong senjata padanya. Lehernya dipelintir. Ia kemudian berubah kaku saat tubuh gadis itu diangkat dan dibawa pergi sedang ia diseret.
Tak lama kemudian lampu-lampu di jembatan Alexander III menyala indah, ia melihat tubuhnya mengambang di atas air sungai yang dingin. Gerimis menerpanya. Ia rasakan tangannya bertautan. Ia menoleh dan dapati wajah pucat pasi Nona Arumi sedang menatapnya.
"Nona?!"
"Archilles, tanpamu aku selalu merasa akan dijahati seseorang. Kamu lihat sekarang? Mereka membunuhku."
"Nona?! Tidak! Maafkan aku! Maafkan aku! Harusnya aku tidak tinggalkanmu. Nona?!"
Ia melihat gadis itu tenggelam. Ia tak bisa berbuat apapun untuk selamatkan kekasih cantik nan jelita yang terbawa ke dasar sungai sedang tangan Nona terulur padanya. Suara letusan kemudian terdengar silih berganti, bunganya berkembang indah warna warni meriahkan langit malam Paris.
"Nona Arumi?! Nonaaaa?!" Ia separuh histeris.
Archilles Lucca terbangun masih di atas meja belajar dalam kamarnya.
Argghh!!!
Lehernya sakit sebab ia tertidur dalam posisi miringkan kepala. Matanya basah, mengejutkan. Ia juga menggigil.
"Ya Tuhan, apa yang aku lihat tadi?" keluhnya bernapas cepat dan tidak beraturan. Ia bahkan berkeringat di udara malam yang dingin.
Walaupun ia kemudian bersyukur itu hanya mimpi buruk yang bodoh dan konyol, instingnya secara asing nyalakan tanda bahaya.
"Tidak lagi, aku mohon Tuhan. Tidak lagi."
Meraih ponsel panik dan menelpon. Dulu segala hal dikerjakan dengan tenang. Semenjak ia jatuh cinta pada gadis belia ia selalu panik dan ketakutan gadisnya terluka dan sakit.
"Holla?" BM menyapa dari seberang.
"Aku tak bisa tidur," kata Archilles setelah mencoba kendalikan diri.
"Jangan kuatir, kamu bukan satu-satunya yang miliki gangguan tidur," balas BM santai terdengar asyik mengunyah sesuatu. Archilles bayangkan chips jagung, kegemaran BM atau mungkin semirip itu. Pria itu tinggal di minimarket, BM punya banyak snack untuk dikunyah saat ia bekerja dan pria itu tak pernah tidur malam hari.
"Aku bermimpi sangat buruk." Archilles mendadak bingung dari mana mau mulai.
"Kamu tidak sendirian. Temanmu juga baru saja selesai dengan kisah mimpi buruknya."
"Aku penasaran." Archilles Lucca pegangi leher, bangun dari bangku dan pergi ke ranjang. Ia letakan kepala di atas bantal, menatap langit-langit rendah ruang tidurnya. Dirinya berlebihan cemaskan Nona Arumi. Jika ada masalah, BM akan memberitahunya. Pasti akan ada kabar.
"Romeo dan cinta terpendam pada istri bosnya," sahut BM kalem.
Archilles terdiam. Setiap orang miliki masalah masing-masing.
"Turut berduka cita untuk Raymundo Alvaro."
"Pikirkan nasibmu sendiri, Bung!" balas BM dari sebelah.
"Baiklah, dengarkan saja aku!"
"Aku akan menampung kisahmu juga. "Harusnya aku buka jasa tambahan yang berkaitan dengan ini. Konseling masalah dunia percintaan yang mulai menggila. Banyak juga klienku. Sepuluh menit per 1200 Euro. Aku bisa kaya, kan?"
"Pemerasan," sahut Archilles berdecak panjang. "Tuan Alvaro kaya raya sedang aku hanya akan membayarmu dengan sebungkus tortilla pedas."
"Pria ini rendah diri sedang ia punya banyak tabungan emas dan uang di rekeningnya. Dasar pelit!"
"Aku harus siapkan uang kuliah Zefanya dan menjamin kehidupan tua Kakek Nenekku."
"Ya, aku menyesal berlebihan padamu. Nah, Ceritakan padaku! Aku akan mendengarkanmu selama lima belas menit karena aku punya kerjaan setelahnya."
"Apa dia baik-baik saja?" tanya Archilles Lucca tak menunggu lama. Darah dalam nadinya melecut. Harus akui cintanya pada gadis belia itu sangat sakral.
"Ya, sesuai keinginanmu. Dia pergi ke sekolah setiap hari dan pulang sekolah seperti biasa bersama Leona. Tak ada indikasi kembali ke mantan pacar atau dikejar pria lain. Mungkin ada seorang yang berisik persis lebah, kamu tahukan, Puteranya Laurent Vincenti. Santai saja, dia bukan ancaman."
"Baiklah. Teman yang baik. Mengapa Nona belum pergi ke Paris?"
"Kamu bisa hubungi Leona untuk bertanya."
"No! Aku akan bahayakan Leona."
"Bittersweet Married season dua akan tayang di awal tahun. Sutradara dan produser jelas menunda syuting sesuaikan dengan hari libur gadismu, Lucca. Kamu tidak menonton berita? Ada wawancara eksklusif Chris Evans dengan beberapa stasiun TV. Bahkan muncul di acara podcast."
"Ya, aku tebak begitu."
"Nah, ikutlah ke sana dengannya. Kamu mungkin bisa tunjukan tempat-tempat romantis sekalipun banyak resiko."
"Em, tidak. Aku punya banyak kerjaan." Dan tentu saja ia bisa dilaporkan Salsa Diomanta sebagai predator anak jika ketahuan menyusul Nona ke Paris dan membawa gadisnya berkeliling.
"Aku akan menolongmu sesuaikan timing. Kamu bisa bersama gadismu satu atau dua jam untuk kencan romantis. Aku akan mengaturnya untukmu."
"Tidak sekarang. Aku akan kendalikan diriku."
"Baiklah kalau begitu. Biarkan dia menjadi dewasa sebelum mendekat padanya. Ada tiga hal yang tak bisa kamu atur. Kelahiran, jodoh dan kematian. Soal jodoh kamu akan minta secara detil pada Tuhan jika kamu sangat menginginkannya."
"Aku sangat congkak juga ceroboh mengikat janji pada Tuhan untuk tinggal di Biara dan abdikan diri bagi sesama."
"Oops, rumit karena kamu kemudian terjun bebas ke dalam lahar cinta," tegur BM dramatis. "Saranku, serahkan hidupmu pada-Nya. Dan kita akan menunggu apa yang Tuhan tetapkan untukmu, Lucca. Kamu tahu, Dia yang menciptakanmu, Dia merencanakan hidupmu dan tahu yang terbaik untukmu."
"Senang punya teman sebijak ini."
"Aku menasihatimu soal Tuhan sedang aku akan hidup sekuler."
"Pertanda, kamu tetap miliki-Nya di hatimu."
"Ya ya ya, kamu benar. "
"Beruntung aku memilikimu."
"Aku hanya bekerja pada pemberi upah tertinggi, aku mengecualikan-mu."
"Omong kosong yang bagus menjelang pagi. Padahal rekeningku sudah dikurasnya."
BM terkekeh. "Kamu harus berhemat. Tidurlah, waktuku habis. Aku harus mengurus sesuatu."
"Apa ada masalah?"
"Apa kamu perlu tahu?"
"Beritahu aku jika menyangkut teman-temanku."
"Apa yang bisa kamu lakukan? Kamu tak bisa kemana-mana kecuali pergi ke sekolah dan mengajar."
"Aku butuh tahu."
"Well, Hedgar sedang rencanakan sesuatu. Kemungkinan akan mengadakan transaksi besar antar bos mafia."
"Apa lagi sekali ini?"
"Belum ada yang tahu pastinya. Hedgar sedikit gila jika berurusan dengan dunia kejahatan dan kegelapan. Pria ini mungkin akan menjadi salah satu donatur sebuah organisasi sangat berbahaya karena mengumpulkan anak muda untuk hari raya "Menghujat Tuhan"."
"Apa untungnya?"
"Banyak. Susah aku jelaskan tetapi ia menerima royalti 40% dari mengakses situs berisikan konten sakit jiwa di dalamnya. Triple X adalah situs p015n0 terbesar milik organisasi ini, mudah di akses di seluruh dunia. Aku sedang pelajari, Lucca. Mereka punya ruang lebih privasi dan lebih gelap dari yang ditampakkan. Susah join ke room mereka karena harus bayar mahal. Aku sedang berusaha meretas tanpa harus keluarkan uang."
"Bagaimana dengan Anna? Aku harap Anna jauhi Hedgar. Informasi ini harus sampai pada Anna, please!"
"Aku akan pastikan kebenarannya. Pria ini punya banyak musuh. Informasi bisa saja palsu."
"Jauhkan Anna darinya!"
"Di luar kendaliku, Bung. Mereka telah menikah. Hanya berharap, Iblis kembali bangkit. Sayapnya tumbuh cepat. Hedgar mungkin tak akan macam-macam pada Anna. Dibanding Ax atau Baby Eagle (Lucky), Anna lebih kooperatif dan terikat dengan Piglet."
"Ya, kamu benar. Tuan Hellton bersama Anna Marylin sejak awal. Semoga semuanya baik-baik saja."
"Ya. Aku berhasil meretas ponsel seseorang. Pemerintah mengirim seorang wanita memata-matai kegiatan Hedgar. Mungkin mencari celah terapkan hukuman padanya."
"Apa Anna bersama Hedgar?"
"Aku tidak tahu persis. Hampir seminggu ini Hedgar mengumpulkan banyak orang sakit dari pelosok kota penuhi klinik agar Anna tak dibawa kabur Axel Anthony. Pribadinya sedikit sukar diprediksi."
"Bisa aku bayangkan kehidupan Anna. Sulit."
"Anna Marylin menanyakan lokasi pasti dirimu. Boleh aku beritahu?"
"Tak masalah. Anna bisa dipercaya."
"Mungkin saja, Anna ingin menyusulmu."
"Hedgar akan menemukannya."
"Begitupula Ax dan Lucky Luciano. By the way, Nyonya Durante lepaskan Itzik Damian."
"Mengapa?" Archilles Lucca berubah gelisah. "Itzik bahayakan adik angkat Tuan Lucky, mengapa istrinya berpihak pada Itzik?"
"Reinha Durante jadikan Itzik model busana Dream Fashion setelah Lucky Luciano membuat istrinya membayar denda karena batalkan perjanjian kontrak kerja dengan seorang model."
"Bisanya?" tanya Archilles Lucca keheranan.
"Lucky Luciano pasrah."
"Tuan Lucky takluk pada istrinya."
"Foto-foto Itzik telah dirilis. Ia tampak hebat di dalam display kaca Dream Fashion. Itzik mirip manekin palsu." BM terbahak-bahak, seperti bukan masalah Itzik Damian lepas. "Ya Tuhan, tetapi berkat itu, pria ini menjadi terkenal." BM berhenti tertawa. "Lucky Luciano hanya bisa pasrah."
"Aku pegangi ekornya, Lucca. Bayangkan Hedgar saat salah seorang kepercayaannya muncul di papan Billboard. Reinha Durante terlalu berani bereksperimen," balas BM berikan komentar.
"Itzik Damian lebih menakutkan dibanding Young Vincenti."
"Tidurlah, percaya padaku. Lagipula, Itzik di bawah kendali Tuan Lucky Luciano. Gadismu akan baik-baik saja sampai kamu kembali ke sisinya. Semoga kelasmu menyenangkan."
"Ya. Terima kasih mengirimku ke dalam masalah."
"Ubah masalahmu menjadi tantangan. Saat kamu berhasil mengatasinya, kamu akan tahu betapa kuatnya dirimu."
Panggilan itu berakhir. Bicara tak menentu arah dan tujuan pada BM mengangkat sedikit beban. Setidaknya saat ini baik-baik saja. Selanjutnya Archilles pejamkan mata.
Ia ingin ke sana dengan Nona Arumi.
Paris.
Tidak.
Jangan nekat atau ia tak akan bisa melihat gadisnya lagi.
Berbalik beberapa menit kemudian. Ia akan hadapi para bandit di kelas. Ini masalah urgent.
"Beri aku jalan keluar, Tuhan."
Para remaja secara terang-terangan targetkan dirinya. Archilles bisa rasakan dari tatapan mata buas mereka saat ia dibawa pertama kali ke dalam kelas itu.
Archilles Lucca kemudian tertidur. Kembali bermimpi kali ini lebih indah. Ia hanya menunggui Kingfisher di suatu tempat lalu burung indah itu tampakan diri. Sekali ini bersayap biru muda - hitam Luar biasanya ada Nona Arumi di sana. Sangat-sangat menawan. Ia terhibur oleh kunjungan itu, menyukai senyuman dan setiap gerakan gadis itu.
"Aku mencintaimu, Nona" ucapnya di moncong teropong dan Nona Arumi berpaling padanya, tersenyum semakin sumringah. "Aku mencintaimu, Nona," katanya lagi dan dijawab, kring! Kring! Kringggggggggggggggggg!
Archilles Lucca segera terbangun oleh dering bel kecil yang diguncangkan Daniel, salah satu teman gurunya. Cepat sekali pagi berkunjung. Pukul 04.00 pagi. Ia berbaring sebentar lagi pejamkan mata menutupi kepala dengan bantal.
"Selamat pagi, Nona. Anda ..., akan bangun satu jam lagi dan bersiap pergi ke sekolah," gumannya persis orang mengigau. "Apa Anda merindukanku?" tanyanya beberapa saat kemudian.
"Hariku sulit di sini, Nona. Aku bertemu sekumpulan berandalan dan belum temukan cara mengatasi perilaku mereka."
Dering lonceng makin keras terdengar kini dan itu berada tepat di depan ruang tidurnya. Ingatkannya lagi pada gadis itu. Archilles Lucca segera bangkit dari ranjang dan bereskan tempat tidur. Bergegas ke kamar mandi.
"Aku hilangkan gaya rambut ciptaan Anda. Maafkan aku!"
Jelas, ia telah berganti dari mohawk ke potongan pada umunya sebab ia seorang pendidik kini. Harus rapi sebagai contoh yang baik.
"Buenos días, Señor, (Selamat pagi, Pak Guru)," sapa Daniel dari balik pintu. "Eres el bibliotecario esta mañana. (Anda bertugas sebagai lektor pagi ini)." Berusaha keras tampakan aksen passionate tetapi sangat jelas berasal dari benua lain.
"Baiklah. Aku hampir selesai bersiap."
Harinya diawali dengan pujian bagi penyelenggara kehidupan. Membaui asap kemenyan dari ukupan. Nona Arumi pernah goyangkan benda suci ini saat dirinya kritis. Kekonyolan tanpa batas dan baginya sangat manis karena berhasil keluarkan ia dari bilik neraka.
Tidak banyak orang dalam gereja kecuali hari Minggu, akan banyak umat datang beribadah. Akhir pekan selalu lebih ramai dari biasanya dikarenakan bangunan ini berasal dari abad ke-12 berisi salah satu portal paling rumit dari Romanesque Spanyol dan tepat dijadikan tujuan wisata monumental.
Wanita-wanita tua ber-mantila masuki gereja juga beberapa siswi dari sekolah menengah. Tak salah mengenali salah satu gadis berandal dari kelasnya di bangku belakang. Tahu dengan baik, gadis itu mengincarnya.
Sepasang suami istri berusia 96 dan 97 tahun sangat rajin datang. Keduanya adalah ikon cinta sejati di kota kecil ini. Berjalan kaki dari rumah mereka di pinggir kota, mengunjungi rumah Tuhan tiap pagi. So inspiration.
Semuanya teratur dan rutin, termasuk bergabung bersama guru-guru pria lain di ruang makan setelah ibadah selesai. Hanya berempat yang tinggal di sini karena mereka masih lajang dan ada tiga biarawan. Tetapi, hanya dirinya dan Daniel, guru sekolah menengah. Sisanya adalah guru secondary school.
Aturannya sangat keras. Diberi kebebasan untuk miliki pacar, kekasih tetapi no free s3k5 apalagi sebabkan kehamilan di luar menikah. Anda akan langsung ditendang keluar dari Biara tanpa surat peringatan.
Berjalan kaki ke sekolah lewati kafe samping sekolah, gadis itu di sana menggigit roti sambil mengawasinya. Jelas saja sedang rencanakan sesuatu bersama teman-temannya karena tangannya meraih ponsel dan mengirim berita pada temannya. Mungkin. Pikir Archilles tajamkan seluruh indera.
Archilles Lucca berdecak. Periksa jam, lima belas menit lagi kelas dimulai. Archilles menatap tajam padanya lalu berikan instruksi ke kelas sekarang sebelum lanjutkan langkah.
"Pagi, Pak Guru," sapa murid remaja tingkat akhir sopan sejajari langkahnya di depan muka kafe.
"Pagi, Beltran."
Peringai dan pembawaan dewasa juga berkarisma ingatkan Archilles Lucca pada seseorang, Ethan Sanchez. Bagi Archilles terlalu banyak kesamaan. Kebetulan hebat sebab remaja tampan ini juga ketua OSIS dan paling berprestasi di sini. Namanya, Beltran Domingo. Punya pacar gadis cantik dari tingkat dua, Beatriz Ivanov; gadis campuran berdarah Rusia.
"Anda akan berhati-hati pada Eva Romero dan gengnya, Profesor," angguk Beltran ke arah dalam kafe pada Eva yang menatap mereka. "Aksi anarkis seakan dapatkan tempat layak dan dihargai di sini. Banyak guru kami menyerah pada aksi brutal mereka."
"Terima kasih banyak pada peringatan dini-mu, Beltran."
"Manuel Cesar paling berpengaruh di kelas itu," tambah Beltran. "Egonya di atas awan. Kami pernah sekelas dulu."
"Pasti berat."
"Aku hindari bentrok dengan Cesar meski dia suka memancingku. Aku cuma ingin belajar. Pemikiran kami berbeda. Aku berharap Anda bisa mengubah kelas demi kenyamanan kami semua."
"Jangan menaruh banyak harapan. Banyak guru hebat pergi dengan kecewa, mengapa pikirmu aku akan berhasil?"
"Ada alasan Anda datang kemari. Setidaknya aku mendukungmu, Sir."
Kelas yang dimaksud Beltran adalah kelas umum tingkat dua. Archilles mampir ke ruang guru. Menyapa teman-teman guru adalah kewajiban dan mengisi daftar hadir sebelum jam pelajaran di mulai. Di sini, lebih lambat satu jam dari sekolah Nona Arumi.
"Morning, Señor," sapa seorang guru muda, Ivy Castro memoles gincu di depan cermin kecil. Berkedip-kedip melihatnya.
"Morning, Miss Ivy."
"Ivy berdandan untuk menarik perhatianmu, Sir!" Guru Bahasa Perancis, Misma Zurita pergi ke meja kerja sambil menggoda.
"Oh, tolong aku Misma," kekeh Ivy lambaikan jemari lentiknya. Sapukan kuah blush on ke pipi tipis-tipis. "Aku memang berdandan tiap pagi sebelum masuk ke kelas, Mr. Lucca," bantah Ivy. "Biarkan murid-murid melihat gurumu dengan Cherry cheeks agar hari mereka cerah ceria."
Misma tertawa. "Tu l'as eu," sahut Misma dalam bahasa Perancis. (Kamu berhasil!)
"Aku harus ke kelas. Semoga hari Anda semua menyenangkan," pamit Archilles Lucca.
"Good luck, Sir. Semoga beruntung dengan kelas Hero, Sir. Kami hanya bergantung padamu," balas Guru Misma Zurita.
Mengambil buku penuntun pergi ke kelasnya di lantai dua. Bangunan baru selesai direnovasi. Pernah terbakar dan menurut teman-teman pendidik, tak ada yang tahu penyebab pastinya.
Archilles Lucca berdiri di depan kelas dan hendak masuk tetapi pintu terkunci. Di dalamnya para berandal sedang lakukan sesuatu.
Mencoba membuka pintu! Memang sengaja di kunci. Mengintip ke dalam lewat kaca transparan. Kelas sangat ramai. Aktivitas pagi mereka dimulai oleh kerusuhan. Ada yang bermain bola, berpacaran, main game, membuat VT; intinya tidak ada yang beres. Sampai sejauh ini Archilles Lucca berusaha keras tidak gunakan kekuatannya pada mereka. Namun, ia selalu tetap berjaga-jaga.
Menjadi sedikit hening saat biang keributan, Manuel Cesar mengangkat tangannya. Berikan perintah untuk "tolong tenang". Teman-teman tunduk pada Cesar dan pria ini naik kelas karena tak ada guru yang tahan pada kelakuannya. Di tingkat dua, Cesar tahan kelas. Lebih tepatnya seisi kelas ini tak ada yang naik ke tingkat tiga karena nilai mereka jelek dan kelakuan mereka minus. Ayah Cesar salah satu pendiri sekolah ini, alasan Cesar semena-mena.
Kini, saat kelas tenang, Archilles Lucca melihat Cesar penjarakan Beatriz Ivanov di meja guru gunakan lengan-lengannya. Seragam digulung setengah.
Langkah kaki Beltran Domingo berlari menyusuri koridor ke arahnya. Jauh di belakang sana Eva Romero melangkah seakan sedang fashion show. Wajah gadis itu horor dengan make up sangat tebal dan banyak bling bling di seputar mata yang bahkan tandai keberadaan mereka saat terpantul cahaya.
"Cesar menganggu Beatriz," lapor Beltran diikuti napas memburu, mencoba membuka pintu kelas.
Beltran pergi ke jendela. Dari balik kaca transparan bisa dilihat betapa Cesar menikmati membuat Beltran marah. Remaja itu sengaja membungkuk untuk mencium Beatriz.
"Sir, apa Anda akan menontonnya saja?" tanya Beltran Domingo coba mendorong pintu tetapi tidak berhasil.
Beltran menulis sesuatu di kertas dan tempelkan di kaca jendela.
"Ingin pertarungan? Mari lakukan!"
Cesar menyeringai senang, mulutnya mencibir dan memeluk pinggang Beatriz makin kencang. Beltran semakin marah, sangat gigih atasi emosi.
Archilles Lucca gelengkan kepala, benar-benar kehabisan sabar. Ia bosan dengan keahliannya membuka pintu tanpa kunci, keberhasilannya jelas buat seisi kelas bengong. Pegangi lengan Beltran saat pemuda itu akan memulai perang dengan Cesar sedang teman-teman sekelasnya memantik api. Mereka tanpa jarak berarti kini untuk ciptakan perkelahian.
"Sir?!" keluh Beltran.
"Kamu cendikiawan?" tanya Archilles Lucca tajam sedang Cesar amati keduanya.
"Sir?!"
"Jawab aku!"
"Yes, Sir!"
"Kembali ke kelasmu, sekarang!" perintah Archilles Lucca. Berpaling pada Beatriz.
"Dan Anda Nona Beatriz, tolong keluar dari kelasku karena kelas akan dimulai! Lepaskan Beatriz, Cesar!" tuntut Archilles tegas.
"Kami sedang bicara. Apakah sulit untuk melihatnya?"
"Kembali ke bangkumu!"
"Aku akan bicara dengan Beatriz! Anda teruskan mengajar," balas Cesar keras kepala.
"Keluar dari kelasku kalau begitu!" Archilles Lucca bicara dingin. Kelas tak beraturan. Siswi duduk di atas meja sesuka hati.
"Oh bagaimana ini, kelas ini milikku!"
Archilles tak punya cara lain, ia mungkin akan kena undang-undang kekerasan. Tetapi, kepala sekolah berikan kebebasan Archilles lakukan apa saja yang dibutuhkan untuk mengubah kelas ini.
Menaruh buku dan tas di atas meja. Sangat tenang buka resleting tas dan keluarkan pistol. Muridnya mula-mula kaget. Beberapa menit kemudian mereka menertawakannya. Bahkan sampai ada yang mencemoohnya. Aturan negara ini jelas, tak boleh bawa pistol ke sekolah.
Archilles Lucca arahkan pada kaca jendela, lepaskan tembakan. Sama sekali tak berbunyi tetapi ....
Prang!!!
Prang!!!
Moncong berasap, kaca pertama, kedua pecah. Peluru bahkan hancurkan pot bunga di belakang kelas. Pot bunga terbagi dua.
Para berandal terbelalak. Guru mereka membawa pistol sungguhan dan tidak takut pada aturan negara. Arahkan kepada muridnya kini. Bersiap menarik pelatuk.
Arrrggghhh!
Para siswa berlari tunggang langgang ke bangku masing-masing. Duduk tertib, bersembunyi di bawah meja kecuali Cesar yang tidak takut. Arahkan pada Cesar.
"Duduk!" anggukan ke bangku. "Beatriz keluar!"
Cesar masih kokoh, harga dirinya mencegah untuk patuh. Archilles kehilangan sabar, datangi Cesar. Tangannya sangat cepat bergerak. Cesar lepaskan Beatriz menghindar dari pukulan Archilles.
Beatriz berlari pada Beltran yang langsung membawanya. Menutup pintu dan pergi.
Satu tendangan vas bunga di atas meja terlempar. Cesar balas menendang tetapi ia tak tahu bahwa gurunya bekas penjahat tingkat satu, mantan gangster dan bodyguard VIP.
Sepuluh menit kemudian, Cesar duduk di bangku tak bisa berkutik dalam keadaan terikat kuat. Praktis. Remaja itu meronta-ronta sekali dua kali sebelum menyerah.
"Anda akan di penjara," ujar Cesar marah.
"Silahkan!" jawab Archilles Lucca acuh tak acuh.
"Anda membawa senjata api ke dalam kelas. Anda akan sebabkan trauma pada muridmu!"
"Oh ya? Bagaimana kalau aku tambahkan sedikit trauma untukmu, Jagoan?" tanya Archilles keluarkan flakban, rentangkan sebelum membungkam mulut Cesar. "Begini lebih bagus!" tambah Archilles kembali ke meja guru. Menatap muridnya satu per satu.
"Aku akan mendengarkan ucapan selamat pagi untuk menyambut kedatangan guru setiap pagi! Apakah aku didengarkan?" tanyanya pada para murid.
"Yes, Sir!" jawab mereka kehilangan berani.
"Eva Romero, bersihkan wajahmu dari make up! Ikat rambutmu dan kancingkan baju seragammu hingga ke leher."
"What?!" Eva tengadahkan dua telapak tangannya tidak setuju.
"Jika aku melihatmu lagi tidak rapi, kamu akan berdiri sepanjang hari di ujung kelas dengan dua tangan terangkat ke atas dan mulutmu diplester. Terserah padamu!"
Archilles Lucca sapukan pandangan ke seluruh kelas.
"Ketua kelas berikan aku denah kelas lengkap nama murid. Aku mengambil alih penuh kelas ini mulai sekarang. Kelas ini milikku, aku tetapkan aturan dan yang melanggar akan dapatkan ganjaran."
***
Happy Reading....