
"Guru Lucca, kita perlu bicara!"
Jangan bilang kasus tadi pagi sampai ke ruang kepala sekolah.
Redaksi berita adalah "kita perlu bicara" bukan "kita dipanggil kepala sekolah".
Pertanda, insiden belum didengar Tuan Luiz Armando. Atau bisa saja Kepala Sekolah sedang tak ada di tempat.
Tentu saja akan sampai. Tidak ada kemungkinan lain. Mungkin tidak sekarang. Tinggal menunggu waktu saja dipanggil menghadap.
Baru kembali ke sekolah, Carmelita Loisa menyambutnya tidak bersahabat. Tampang masam wanita itu tak bisa disamarkan meskipun Carmelita terlihat berusaha keras atasi emosi dalam diri sendiri. Terlebih ketika tatapan bentrok pada berandalan di sebelahnya. Sesuatu dalam diri Carmel segera berasap. Seperti bara panas yang tersulut tiupan angin, apinya mulai menyala dan akan mulai kebakaran.
Archilles berharap Manuel Cesar sekali ini, entah bagaimana, kancingkan mulutnya juga penjarakan keusilannya. Sayang sekali, itu sia-sia.
Ekor mata Archilles Lucca menangkap Manuel Cesar tanpa malu-malu pandangi bibir Carmelita hingga wajah gurunya itu merah padam.
Ya Tuhan, ampunilah dosa kami.
Ini lebih buruk ketimbang dilempari berlusin bola bisbol. Pikir Archilles muram. Dan ini masalah hidup paling nyata bagi Archilles detik sekarang.
Dirinya preman, penjahat, gangster, siluman ..., apapun julukan ..., tetapi tidak sedurjana muridnya Manuel Cesar. Berani sekali mencium calon guru walinya di tempat umum.
Ayolah, lebih baik mengisi peluru ke dalam senjata dan tembaki kepala seseorang yang berulah ketimbang masalah-masalah tampak sepele tetapi sangat mengusik.
"Oh, aku pikir Anda menungguku dan tidak sabar ingin bicara denganku juga." Manuel Cesar bawa serta raut tanpa dosa yang kemudian berganti cepat tatapan intens cukup berani memancing guru Carmel bereaksi keras.
"Giliranmu nanti!" Guru Carmel menyipit. "Apa pikirmu aku akan lewatkanmu begitu saja?"
"Sekarang saja bisa, Guru. Aku berencana bolos sekolah siang nanti. Daripada Anda pusing mencariku. Mumpung kita bertemu."
"Masuk ke kelasmu sekarang, Manuel Cesar!" perintah Guru Carmel galak. "Tidak ada yang boleh tinggalkan sekolah sebelum jam pelajaran usai terlebih kamu akan tinggal di sini sampai matahari terbenam."
Cesar baru akan buka mulut hendak protes.
"Sekarang!" bentak Guru Carmel menahan napas. Wajah wanita itu semakin merah tua. "Oh ya Tuhan, berikan aku satu teko kesabaran." Berkata lirih sembari pukuli dadanya pelan seolah tindakan itu bisa curahkan lebih banyak oksigen. Seakan bisa buat alirannya lebih cepat bersirkulasi dan bantu ia bertahan hidup.
"Wanita seusia Anda bermasalah jika terus melajang, Bu Guru. Anda perlu mencari pendamping hidup. Beritahu aku. Kita bisa daftarkan Anda ke aplikasi kencan buta. Mungkin bertemu pria Amerika. Akh atau India. Anda bisa bicara sambil geleng-gelengkan leher Anda. Sekarang saja Anda terlihat mirip gadis-gadis India."
"Sikap macam apa ini, Manuel Cesar?" Carmelita naikan satu alis tinggi. Tangan wanita bercakak di pinggang dan dia sungguh akan ledakan kepala Cesar dengan gumpalan amarah.
Aish, benar-benar begundal ini, bosan hidup macamnya. Rutuk Archilles jengkel.
"Cesar?! Sadarkan otak dan pikiranmu!" keluh Archilles Lucca lebarkan bola mata pada Cesar. Tidak suka ide Carmelita mengundurkan diri gara-gara sikap Cesar dan Archilles harus bekerja keras dapatkan pengganti lain. Sangat sulit datangkan guru yang mau mengajar untuk sekolah ini. Carmelita mungkin sama seperti dirinya, datang kemari karena ketidak-tahuan. "Masuk ke kelasmu! Terima kasih atas bantuanmu hari ini," tambah Archilles mendorong bahu pemuda itu agar segera pergi dan berhenti membual sebelum Carmelita mengunyah mereka berdua menjadi daging halus. Lihatlah mata-mata marah Carmelita. Tidak hanya akan mendamprat Cesar. Percikannya kini kenai dirinya.
Apa salahku? Tanya Archilles dalam hati. Hari yang buruk berurusan dengan kaum Hawa.
"Maafkan aku kalau lelucon-ku tidak lucu. Senang bepergian denganmu, Profesor," sahut Cesar kedipkan satu mata. "Jangan lupa ajak aku lagi." Pemuda itu lantas angkat satu tangan kiss bye jarak setengah meter pada Guru Carmelita yang menatapnya tajam. "Sampai jumpa di kelas, Guruku tersayang."
Cesar pergi. Dua tangan dalam kantong celana seragam dan pria muda itu bernyanyi, "guruku tersayang, guruku tercinta, tanpamu jadi apa hidupku?"
"Beruntung aku akan pergi beberapa Minggu lagi," guman Archilles tanpa sadar. Ia hanya akan menikahi Arumi Chavez dan kejang-kejang pada istrinya yang manis setiap detik-setiap menit. Lupakan Manuel Cesar dan kekacauan di sini. Lupakan, Archilles Lucca.
Mari hidup dengan damai dan tenang! Ajari Nona Arumi Chavez ekonomi dan bisnis. Sedikit matematika agar Nona Arumi tak dibodohi seseorang.
Mari pergi ke rumah pohon, Nona, dan aku akan memelukmu sampai pagi.
Mari pergi ke ujung lahan bersama Aorta dan ... Itzik? Si guk guk? Yang benar saja? Dan ia tak mungkin menggendong kucing Nona Arumi , membelai kucing itu dan mengatakan, Tatiana ..., kau sangat menggemaskan. Tidak mungkin mengelus bulu si kucing tanpa mengingatkannya pada Tatiana versi asli.
Ya Tuhan, jadi apa nanti?
Masalah tikus, Archilles akan abaikan karena ia benci tikus juga gigi mereka. Itu karena ia pernah digigit tikus saat Valerie menyuruhnya membuntuti seorang musuh. Ia menunggu di gorong-gorong, saluran pembuangan kota. Lapar dan mengantuk. Sialnya, ia juga disangka kudapan oleh tikus got.
Lupakan semua hewan yang bikin kepalanya pusing. Mari fokus pada kekasihmu.
Mari pergi ke Càrvado, Nona. Menyusuri sungai kecil penuh kesejukan. Bergandengan dan berlari di bawah hujan seperti anak kecil.
Mari menjauh sejenak dari Diomanta Mansion. Beri waktu indah bagi Tuan dan Nyonya Chavez. Kita mungkin akan rayakan kejutan di sembilan bulan mendatang.
Oh Archilles Lucca, betapa beruntungnya kau, Brengsek. Lihatlah dirimu sebulan lagi! Matamu akan terbuka dan tertutup, di ujung semuanya kedua pupil matamu hanya mengunci raut indah Nona Arumi Chavez. Bidadari itu memang tercipta untuk penjahat sepertimu.
Bisakah besok saja 17 Maret? Gaun seperti apa yang akan dipakai Arumi Chavez? Bisakah gaun indah yang membuat Nona Arumi seperti Puteri Kerajaan?
"Hanya jika Anda berhasil kendalikan sikap berandalan wali muridmu," sergah Carmelita akhiri angan indah Archilles. Sepertinya ia dan Carmelita tak bisa sobatan untuk jangka waktu lama terlebih mengurusi satu kelas murid nakal terkhusus macam Manuel Cesar. Bagi Carmelita, dirinya hanya terlihat semacam guru besar Manuel Cesar.
"Wali muridmu juga nanti, Guru Carmelita!"
"Aku mungkin akan tetap di sini," lanjut Carmelita menegaskan. "Lihat tingkah Cesar! Ya Tuhan ..., apakah memang seorang murid pantas bersikap seperti yang dilakukannya? Apakah ..., aku tampak seperti pemandu sorak baginya? Jika dia terus menggoda dan merayu gurunya, aku berpikir angkat kaki pekan depan. Mengapa juga aku terjebak di sini? Oh ya Tuhan, ya Tuhan, kasihanilah aku orang berdosa ini. Mengapa pula aku bisa sampai kemari? Apakah aku sangat putus asa soal pekerjaan?" Wanita ini mulai bicara sendirian.
"Dengar, Guru Carmelita. Kejadian tadi pagi tak ada sangkut pautnya denganku. Hanya karena aku wali murid Cesar yang lama bukan berarti aku mengajarinya bersikap kurang sopan padamu. Cesar memang sedikit bandel. Aku sedang berusaha keras perbaiki sikapnya. Tugas kita sebagai pendidik adalah luruskan sikap murid yang bengkok. Anda harus banyak sabar."
"Karena bukan Guru Lucca yang dirampok. Anda masih bisa mentolerir sikap mereka."
"Aku maafkan ketidak-tahuan Anda, Guru Carmel."
Apa perlu ia ceritakan bahwa muridnya tergila-gila padanya hingga bertindak nekat? Apakah Guru Carmel tidak menganggapnya pamer? Oh tidak, jangan sampai Guru Carmel berpikir yang tidak-tidak dan malah kabur tanpa pemberitahuan. Bisa kacau segalanya nanti.
"Awal kedatanganku lebih buruk. Tetapi, aku berhasil kuasai mereka."
"Siapa?" Carmelita sunggingkan senyuman tidak percaya. "Imanuel Cesar ..., maksudmu Pak Guru Lucca?"
Archilles terdiam sebelum mengangguk yakinkan diri sendiri juga Carmelita yang seolah lebih percaya bumi itu datar daripada otak Manuel Cesar punya bentuk.
"Ya dan seisi kelas."
"Tekecuali anak itu! Aku tak percaya Anda berhasil kendalikan dirinya. Lihat dia!"
"Baiklah, baiklah. Berhenti kesal padaku! Mari satu visi misi dan atasi mereka."
Carmelita Loisa menarik napas panjang dan hembuskan perlahan. Archilles melihat itu bagus.
Oh tolong jangan menyerah sekarang Carmelita.
"Mengapa anak itu tidak ada di kelasku pagi ini? Anda membuatnya tak menghargai aku sebagai guru. Pergi tanpa ijin?"
"Tidak begitu, Guru Carmelita. Kami mencari Eva Romero. Dia tidak masuk kelas."
"Eva? Eva Romero?"
"Ya Eva. Aku harap Anda tidak cuma menghapal Manuel Cesar tetapi ada muridmu bernama Eva Romero."
"Baiklah. Aku akan melihat denah kelas sekali lagi."
"Bolehkah aku memberimu saran?"
"Katakanlah!" Mereka menyusuri lorong kelas satu kini menuju ruang guru. Lewati loker.
Archilles mencari kalimat yang bagus agar Carmelita tidak tersinggung. Carmelita memakai dress ke sekolah. Bukan sembarang dress tetapi medium dress ikonik dari jaman Martha Via muda. Tahun 80-an, mungkin 90-an. Tahukan? Yang bunga-bunga cerah merah muda, campur keunguan. Sedikit kembang dan berayun saat wanita itu berjalan. Bergaya rambut gelombang besar diatur hingga mirip salah satu model hair beauty papan atas dengan riasan tipis yang sangat natural. Tetapi, bukan dari masa kini..
Ada kesan kuno, pendiam dan lebih dari itu cara gambarkan Carmelita secara sempurna adalah dengan melihat foto Evelyn Jhonson. Seorang perawat muda dan cantik dari Amerika Serikat dalam Film Pearl Harbour. Tingginya tidak seberapa, terlalu mini untuk ukuran wanita muda jelang dewasa. Postur mungil dan kaki-kaki itu sangat imut seperti siswi SMP. Cesar mungkin tidak akan lewatkan kesempatan ini. Mengganggu seseorang yang terlihat lebih lemah darinya.
"Penampilan Anda ...," ujar Archilles merasa konyol karena menilai partnernya dari cover luar. But, ini adlaah penilaian dari mata seorang pria. Bukan sembarang pria, Archilles mencoba berdiri di posisi Manuel Cesar.
"Ada apa? Mencolok? Guru Ivy 50% lebih trendy dan bergaya dariku."
Carmelita menjadi mudah tersinggung.
"Bukan itu maksudku."
"Lalu?!"
"Anda berpenampilan seperti hendak pergi kencan dan mencari jodoh."
Carmelita berhenti. Berpaling pada Archilles Lucca yang serba salah.
"Aku tak percaya, rekanku tega mengkritik cara berpakaianku?!"
"Oh ya ampun, imajinasi seperti itu hanya ada pada pikiran pria bajingan."
Mengapa sangat tepat? Archilles Lucca semakin terpojok.
"Aku tidak heran darimana Manuel Cesar meniru sikap kurang ajarnya. Praktek ini sedang berlangsung tanpa disadari."
"Ya Tuhan ...."
"Dengar, Guru Lucca. Aku akan masuk ke kelas itu dan mengajar hari ini. Tetapi, aku tak mau sendiri karena konsep 'siapa sejatinya kita' yang ditekuni murid kesayanganmu. Ini sungguh sebuah 'kelainan'. Aku seolah hendak dieksplorasi oleh murid paling liar di sekolah ini."
"Baiklah. Pelankan suaramu! Mari pergi bersama. Aku akan berikan peringatan keras pada Cesar," bujuk Archilles Lucca.
"Sebaiknya, atau kamu bisa cari penggantiku!"
"Apa materimu nanti, Guru Carmel?" Archilles alihkan percakapan.
"Aku tak tahu!"
"Tidak tahu?"
"Aku mencermati satu kelas dan kehilangan harapan. Ya Tuhan, mereka lebih butuh filsafat etika. Lebih logis dan berguna ketimbang ilmu lainnya. Karena mereka kesulitan mengidentifikasi personal mereka sendiri! Ada banyak deviasi perilaku di sana. Aku tak bisa gunakan fisikku untuk menangkap tiap lemparan padaku sama seperti yang Anda lakukan. Menurutku, ajaranmu bukan ajaran yang bagus selain menggiring mereka pada opini bahwa kekerasan lebih bisa bikin patuh dibanding bicara baik-baik."
Carmelita Loisa pasti berasal dari dunia peri di sudut bumi ini.
"Baiklah, berhenti kesal. Angkat tongkatmu, Ibu Peri dan coba berikan pengertian pada kelompok ini! Aku hanya perlu ingatkan Anda. Tak boleh janjikan apapun pada siapapun di kelas itu terlebih pada Cesar!"
"Apakah muridmu mengatakan omong kosong?"
"Gift saat dia dapat nilai 100? Anda sangat ceroboh. Tahukah Anda, murid termalas, ternakal, bisa jadi adalah yang paling cerdas? Anda memasang jebakan dan masuk dalam perangkap Anda sendiri."
"Gift yang aku maksudkan dalam berupa barang, benda mati, bukan sesuatu yang tidak s3n0n0h! Bagaimana bisa murid kelas dua punya bayangan itu di kepalanya?"
Padahal ciuman adalah benda mati tergolong kata kerja dan kata benda. Dan apakah Carmelita baru saja terperangkap masuk dari dimensi lain? Tak tahukah ..., bahwa pria 17 tahun telah penuhi standar kematangan? Terlebih Manuel Cesar miliki pergaulan tidak biasa. Bukan kuper, pemalu dan sejenisnya. Archilles bertaruh Manuel Cesar pernah tidur dengan seorang gadis.
"Selamat datang di milenium baru, Guru. Sayangnya, Anda berhadapan dengan murid sekolah menengah bukan murid pendengar di Taman kanak-kanak. Terlebih murid ini, sangat agresif dan bersenang-senang pada kemalangan Anda."
Akhir dari debat setelah mereka membahas kelas itu di ruang makan, ruang guru adalah masuk kelas yang sama setelah makan siang selesai. Di luar hujan deras. Pelajaran berjalan dengan baik. Manuel Cesar perhatikan pelajaran. Pria itu cepat bosan tetapi segan bikin keributan karena Archilles Lucca di sisinya.
"Anda tak punya kelas lain?"
"Selama kamu berniat mengganggu Guru Carmel, aku akan tetap di sini."
Seperti kata Carmelita, pria itu tidak bisa pulang sekolah seperti biasa. Manuel Cesar duduk di ruang guru di kabinet Carmelita dan oleh Carmelita, Cesar disuruh membuat review singkat tentang beberapa filsuf besar termasuk Plato dan Aristoteles.
Archilles pikir taktik lagi-lagi keliru dari Carmelita tetapi tak berani menegur.
"Anda yakin mau ditinggal sendirian dengannya?" tanya Archilles pada Carmelita yang bak elang awasi ikan di permukaan samudera, menatap tajam Cesar nyaris tanpa berkedip.
"Anda pulang saja! Aku akan selesaikan kerjaanku dan antarkan guruku pulang. Tolong biarkan kami membuat peluang!" sahut Cesar padahal pertanyaan Archilles ditujukan untuk Carmelita.
"Aku akan menunggumu, cepatlah!" tuntut Archilles pergi ke mejanya sendiri dan membaca sesuatu. "Kerjakan tugasmu lalu kita pergi, Cesar."
"Ada apa denganmu, Guru Lucca? Anda tak percaya padaku? Aku tak mengganggu Anda saat Anda berkencan dengan juniorku di kelas satu."
"Mari makan malam setelahnya sebelum aku kembali ke biara," jawab Archilles berdecak.
"Pulanglah dulu sebelum aku kirimkan fotomu dan Eva pada Arumi Chavez."
"Pacarku tidak punya ponsel."
"Dia punya fanpage yang dikelola oleh seorang admin baru yang sangat narsis. Model Albino. Aku bisa mengunggahnya ke sana."
Tak ada BM, tak ada pemerasan dan tak ada kontrol. BM bersembunyi dari interpol yang memburunya. Kirimkan pesna singkat bahwa dia ada di sebuah hutan lebat membangun rumah di sebuah batang pohon raksasa. Bersembunyi di sana. BM tak bisa bekerja sementara waktu. Pria itu kirimkan foto yang tidak bisa dideskripsikan Archilles Lucca selain kegilaan.
"Admin baru?" Jangan bilang Cesar juga fanboy Arumi Chavez.
"Anda tidak tahu? Pria itu mengunggah fotonya sendiri lalu beri kabar bahwa ia adalah admin Arumi Chavez. Ini pertama kalinya aku melihat seorang admin lebih narsis ketimbang artis idolanya."
"Semakin sering kamu bicara, semakin lama kamu pergi dari sini!" Carmelita menegur Cesar.
Archilles memeriksa ponsel dan benar saja. Itzik Damian di beranda fanpage mengaku sebagai admin tunggal dan manager Arumi Chavez?
Manager?
Sejak kapan?
Memangnya kemana Aunty dan Ibu Arumi Chavez?
Manager ilegal? Itzik Damian adalah anjing dan manager Arumi Chavez, sangat kontradiksi.
Lalu, mengapa pria itu masukan foto tanpa atasan? Pamerkan tubuh putihnya bahkan bulu dada seakan di cat saking putihnya. Tidak tahukah Itzik Damian bahwa Fangirl Arumi Chavez kebanyakan anak-anak termasuk Zefanya Lucca yang berusia sepuluh tahun?
Archilles mengirim pesan.
💌 : Itzik Damian, mengapa ada tubuh bu911lmu di halaman resmi pacarku?
Dalam dua menit Archilles menerima notifikasi, akunnya diblokir admin fanpage alasannya karena mengirimkan pesan c44bul.
Archilles pelototi ponselnya mengutuki Itzik Damian. Ia akan mengurus keparat itu nanti malam.
💌 : Nona Arumi, bisakah kita bicara? Please, aku merindukanmu.
💌 : 😴😴😴😴😴😴😴
Memangnya ada orang tidur kirimkan emoticon lagi bermimpi? Archilles berdecak. Ia pikirkan sesuatu agar Nona Arumi mau bicara padanya.
"Kita bisa bermalam di sini, Ibu Guru." Cesar goyangkan kaki. Ia membolak balik halaman buku seraya menyeringai senang pada wanita di depannya.
Bukan begini cara hadapi Manuel Cesar, keluh Archilles jadi gemas sendiri. Entah apa yang ada di pikiran Carmelita?
"Aku akan kerjakan tugasku secara lisan, Bu Guru."
Sebelum Guru Carmel menyahut, Cesar telah mulai bicara.
"Semua orang tahu bahwa Socrates, Plato dan Aristoteles adalah pemikir besar di zamannya. Bagaimana bisa Anda memintaku lakukan ini, Ibu Guru? Archilles Lucca adalah guruku tetapi kami punya pendapat dan pandangan berbeda tentang wanita, feminisme, gender dan cinta."
Carmelita awasi muridnya. "Apakah aku menyuruhmu membahas pandangan ketiga filsuf ini tentang yang kamu sebutkan tadi?"
"Anda tak katakan secara spesifik atau Anda tak tahu bahwa mereka juga punya pandangan pribadi soal ini. Aku bisa jadikan ini referensi untuk membuat perbedaan dari ketiganya kecuali filsafat Plato berpusat pada hal abstrak dan utopis sedangkan Aristoteles lebih ke empiris dan logis. Itulah mengapa Aristoteles juga mendalami matematika sesuatu yang tidak dianggap serius oleh Plato."
Carmelita tercengang. Tentu saja otak Cesar berisi sesuatu.
"Nilaiku 100 dan Anda mengatakan akan beri aku hadiah jika Nilaiku 100. Cuma anak tujuh tahun yang mengkoleksi pin dan pena, Guru Carmel. Mencium Anda adalah hadiahmu untukku. Seharian, Anda marah padaku karena ciuman kita tadi pagi, bukan? Bahkan Anda mengomeli Guru Lucca. Baiklah, aku minta maaf. Ini tugasku!"
Cesar sodorkan tulisannya pada gurunya. Berdiri. "Aku akan menunggu Anda di luar!"
Carmelita menyipit sementara Cesar buru-buru keluar. Archilles batalkan niat ingin mengerjai Nona Arumi agar berhenti merajuk.
Namaku Imanuel Cesar, umur 17 tahun
Nama guruku Carmelita Loisa, umur 23 tahun
Cesar melihat Carmelita, napasnya tercekat
Cesar berhenti jenuh karena api yang dibawa Carmelita
Jadi, Cesar bertanya dengan sopan pada Guru Carmelita.
Ibu Guru yang cantik, maukah pergi makan malam denganku?
***
Karena chapter-chapter berat di depan. Aku ngasih ini dulu untuk bersenang-senang. Tinggalkan komentar ya dari paragraf dan komentar keseluruhan Chapter. Makasih telah mendukung.