
Hari ini praktikum biologi dan Ethan Sanchez adalah asisten guru. Ethan Sanchez, Claire Luciano dan Reinha Durante berbagi hari untuk jadi asisten guru Biologi atas permintaan guru Biologi.
Telunjuk Ethan menyusuri nama-nama murid, memeriksa daftar hadir dan temukan Arumi Chavez absen empat kali berturut-turut sekalipun selalu hadir di kolom namanya. Young Vincenti meniru tanda tangan Arumi. Remaja itu bubuhkan love ditiap akhir tanda tangan.
Dewa Eros sepertinya menarik panah dan Young telah jadi sasaran tembakan tepat di jantung pria itu. Alasan Young Vincenti ada di belakangnya dan Archilles Lucca jatuh cinta pada Arumi Chavez. Ketika ia memanggil Young masuk ke dalam tim basket di hari Arumi disekap, Ethan telah temukan banyak lembaran kertas lukisan Arumi yang dibuat Young.
"Di mana Arumi Chavez? Apa ada yang melihatnya teman-teman?" tanya Ethan Sanchez perhatikan teman-teman tingkat satu yang kini berjas lab putih.
Bukan rahasia lagi. Arumi Chavez tak akan pernah pergi ke laboratorium bahkan hanya sekedar menyebut nama tempat itu, meliriknya apalagi melewatinya. Nilai biologi tidak begitu bagus dan bolong di bagian praktikum. Arumi Chavez seakan tidak permasalahkan itu. Arumi lebih takut pada ruang lab dibanding nilai buruk.
"Arumi mungkin di kelas," jawab Lana Modesta sekarang menjadi salah satu teman dekat Arumi.
"Jangan kuatir, Ethan. Aku akan mencatat ringkasan materi dan berikan pada Arumi untuk dipelajari." Emilio Chan menyahut Ethan Sanchez.
"Baiklah, trims Emilio atas perhatian pada temanmu."
Emilio yang terdekat dengan Arumi.
"Arumi Chavez juga akan belajar dari video yang aku buat," sahut Young Vincenti mengangkat tangan pada Ethan.
Young punya kecerdasan di atas rata-rata dari caranya bicara, bersikap dan mengambil tindakan tetapi aneh karena nilainya selalu berada tepat di belakang Arumi. Jika nilai post test Arumi 60 maka Young pasti 50 tak pernah langkahi nilai Arumi. Ethan yakin Young berkonspirasi. Young Vincenti hanya bandel dan nakal tetapi pria ini aslinya pintar.
"Trims Young, temanmu pasti akan menyerap dengan baik pelajaran ini! Mari kita bicara nanti!"
"Atau sekarang saja, Ethan Sanchez," usul Young Vincenti, sepertinya pemikiran mereka sama. "Temanku tak bisa terus-terusan takut pada lemari besi dan ketinggalan banyak materi. Ia bahkan tak tahu bagaimana akhiri ini."
"Ya, Young benar," sambar teman-teman lain.
"Baiklah," sahut Ethan Sanchez sepakat. Ini terasa sangat mengganggu Ethan Sanchez. Segala hal bermula ketika Arumi Chavez dengan tegas lakukan pembelaan terhadapnya selagi mereka masih pacaran. Buntutnya gadis itu di hukum bersihkan laboratorium. Pertengkaran dengan Fernanda sisakan dendam kesumat berujung Arumi terkena musibah hampir sebabkan kematian, kini alami trauma jangka panjang.
"Aku punya ide," kata Ethan Sanchez menatap lemari besi penyebab traumatis bagi Arumi Chavez.
"Ya ya ya, kurasa kita sepakat untuk membuatnya datang ke lab tanpa takut pada benda itu."
"Young Vincenti benar, mari kita setuju."
"Baiklah teman-teman!" Ethan Sanchez menepuk tangannya meminta perhatian. "Silahkan kembali ke meja kalian masing-masing."
Para siswa turuti permintaan Ethan Sanchez.
"Mari fokus pada mikroskop di hadapanmu selama 30 menit dan sisa waktu bisa kita lanjutkan berikan pertolongan pada Arumi Chavez. Silahkan membaca modul praktek kerja. Seseorang akan bantu kita membaca judulnya, please!"
"Identifikasi Fungsi Organ pada Sistem Transfor Tumbuhan." Salah seorang membaca judul pada lembar kerja.
Sementara Arumi Chavez sampai di sekolah. Ruangan kelas telah kosong karena anak-anak pergi ke laboratorium. Rapatkan sweater oleh cuaca dingin. Apakah pemanas ruangan kelas ini mati? Ia menggigil kedinginan.
Membuka modul praktikum, Arumi membaca judul di lembar kerja. Ia kemudian belajar sistem transport pada tumbuhan selama lebih dari tiga puluh menit.
"Arumi Chavez ..., apakah kamu nyaman belajar sendirian di kelas?"
Arumi mengangkat wajah temukan Ethan Sanchez di ambang pintu kelasnya. Tidak langsung menjawab. Mereka hanya saling bertatapan. Arumi kemudian hembuskan napas dipenuhi beban.
"Ya, Ethan. Selamat pagi. Jika kamu kemari untuk mengajakku pergi ke sana, lupakan niatmu Ethan. Aku tak suka tempat itu."
Ethan Sanchez mendekat, duduk dua bangku jaraknya dari Arumi. Hubungan Arumi Chavez dan Ethan Sanchez berakhir seperti senior dan junior pada umumnya malah banyakan canggung dan sungkan.
"Kali ini berbeda," sahut Ethan Sanchez mencoba yakini Arumi Chavez. "Hanya di tahun ini, kamu dapatkan pelajaran Biologi. Aku yakin di tingkat dua kamu akan memilih berkonsentrasi pada ilmu sosial."
"Ya. Konsepsi sosial lebih baik dari rumus aljabar," sahut Arumi Chavez lekas terlempar dalam kehampaan. Ia pernah menghapal konsepsi sosial dan Archilles Lucca mendengarnya sepanjang malam ikutan melek. Ujung-ujungnya pria itu jauh lebih hapal materi dibanding dirinya. Mengejutkan saat tahu pria itu sarjana Ekonomi tepatnya menyandang predikat cumlaude Bachelor's Degree of economics di Universitas Coimbra.
Oh, mengapa jadi penjahat?
Tidak heran jikalau dalam perjalanan hidupnya, Archilles bertemu Valerie Aldes. Ibu angkatnya miliki sihir mematikan yang bisa memanipulasi pihak lain terlebih para Adam. Sebut saja Lucky Luciano bahkan sekelas Uncle Hellton pernah bertekuk lutut pada Valerie Aldes.
Apa yang kamu lakukan saat ini? Aku ingin tahu, aku hanya ingin tahu di mana kamu tanpa ingin mengganggumu.
Yakin?
Keinginan manusia telah berproses terus menerus lalu berevolusi akhirnya menjadi tanpa batas. Sadarlah dan sabar menunggu.
Arumi pernah lepaskannya sekali dan tak masalah untuk kedua atau ketiga kali karena Arumi masih ingin menggapai mimpi menjadi Drama Queen. Arumi ingin namanya tercatat sebagai salah satu aktris berbakat.
Oh, tetapi aku merindukannya. Ini buruk karena aku sangat merindukannya. Keluh Arumi muram.
"Arumi?!" tegur Ethan Sanchez saat gadis di depannya melamun jauh sambil pandangi sesuatu di tangannya.
Cincin ..., dan Ethan telah melihat pola yang sama di salah satu jari Archilles Lucca. Di rumah sakit ia telah melihat bahwa Archilles Lucca tak membendung perasaannya pada Arumi. Pria itu benar adanya akan menghalau badai, menentang angin dan mungkin menahan petir untuk Arumi Chavez. Sedang yang bisa ia lakukan adalah akhiri hubungan agar bisa hentikan Nyonya Sanchez terlalu jauh sakiti Arumi karena rasa sayang begitu besar pada Arumi. Selama empat Minggu setelah Arumi hampir kehilangan nyawa, Ethan telah mengkritik keras sikap acuhnya pada Arumi.
Tidak harus dingin begitu. Mereka putus baik-baik dan betapa kejamnya ia perlakukan Arumi seakan mereka tak pernah punya hal-hal manis.
Seandainya Arumi tahu persis hatinya.
Arumi bukan cinta pertamanya. Tetapi Arumi berhasil jadi gadis pertama, satu-satunya gadis yang berhasil menerobos dinding tebal yang ia bangun dan mendobrak yang ia namakan prinsip.
Jika waktu bisa diputar ia akan tetap memilih jalan yang sama jatuh cinta lagi pada Arumi dan putus macam kemarin.
Kini, tampaknya bukan masalah. Arumi jelas telah tautkan hati pada Archilles Lucca. Walaupun hati Ethan terhasut dan terluka, ia tak bisa perjuangkan Arumi untuk banyak pertimbangan. Termasuk Dandia dan Gavriel Sanchez adalah prioritas utama. Lagipula, tanpa persetujuan Nyonya Sanchez, Ethan tak akan berani menentang. Ibunya mungkin penyebab perpisahan mereka tetapi Ethan tak bisa salahkan Ibunya. Bisa lihat kenyataan pahit ini.
Akhirnya, ini jalan terbaik bagi mereka berdua.
"Ya, Ethan maafkan aku! Setiap kali mimpi burukku kembali, aku akan terbangun dan ketakutan. Aku pernah berkeinginan berhenti pergi ke sekolah."
"Aku mengerti. Percaya padaku. Sekali ini traumamu pada lemari besi akan berakhir." Ethan berdiri datangi Arumi, ulurkan tangannya.
Arumi jelas saja tidak mau. Ethan Sanchez tersenyum padanya. Ternyata, mereka tidak sendirian. Teman-teman sekelas menyusul ke kelas dan Arumi digiring pergi ke laboratorium beramai-ramai.
Arumi Chavez melihat ke sisi positif dari masalah kemarin. Ia lebih punya banyak teman kini setelah kasus yang menimpanya. Mereka membantunya secara sukarela. Sebagian mencatat memo pelajaran, sisanya belajar bersama dan Arumi tidak begitu kesulitan seperti sebelumnya. Tentu saja mereka masih inginkan akun Archilles Lucca.
"Aku tak suka ini, teman-teman," keluh Arumi terseret-seret pergi ke lab. "Aku terus bermimpi buruk."
"Percaya pada kami, Arumi. Semuanya akan baik-baik saja. Kami bersamamu, apa yang kamu takutkan?" sahut Lea. Dan yang lain mendukungnya.
Jadilah mereka pergi ke laboratorium. Arumi Chavez mengalah. Dikelilingi beramai-ramai. Berdiri ragu-ragu di depan pintu. Dan ia melihat semuanya baik-baik saja. Warna laboratorium lebih cerah dari hari kemarin bahkan bangku dan mejanya diganti.
Lemari besi itu masih di sana, tetapi telah berubah. Tidak semenakut-kan macam yang sering ada dalam ingatan dan mimpinya.
"Tuan Puteri, aku merusak kunci lemari besi untukmu. Ethan Sanchez mengubah tampilan benda menyeramkan itu dengan gambar Doraemon. Dan teman-temanmu punya kejutan untukmu." Young Vincenti tersenyum cerah. "Bagaimana?"
"Mari lewati musim dingin dan bersama-sama menikmati masa sekolah yang indah, Arumi Chavez," kata Lea bersemangat. "Bukalah pintunya!"
"Buka!"
"Buka!"
"Buka!"
"Buka!"
Arumi Chavez ulurkan tangan, pejamkan mata dan menarik pintu lemari. Ia menutup mata. Lalu, mengintip.
"Oh, apa ini?"
Arumi Chavez kemudian berseri-seri setelahnya. Sapu-sapu berubah jadi sesuatu yang cantik.
"Winter season terbaik dari teman-temanmu untukmu, Arumi," sambut Ethan Sanchez tersenyum lebar.
"Apa kamu menyukainya?" tanya Young antusias. "Pintunya bisa dilepas jika kamu mau."
Lampu-lampu LED menyala. Jelaskan tema almari ini. Sebuah bangku pink dihiasi bunga-bunga cantik dan beberapa ornamen termasuk dream catcher juga pot-pot bunga lateks dalam botol-botol kaca. Ada candle light tiruan dan bantal-bantal berbulu yang begitu cantik hingga orang akan menyukai lemari itu.
"Amazing," puji Arumi Chavez. "Terima kasih semuanya!" ucapnya pada teman-teman sekelasnya yang mendukung. Ia akan mengingat masa-masa di sekolah sebagai masa-masa terbaik dan berhenti memikirkan untuk tidak pernah cetuskan gagasan sekolah di rumah lagi.
"Mau ke dalam denganku?" tanya Ethan Sanchez mengangguk ke arah sana, ragu dan bimbang.
"Eiii, kalian sudah putus! Aku pikir Arumi akan pergi dengan salah satu temannya!"
Young menyerobot ke dalam dan duduk di bangku melipat kakinya, tidak rela Ethan Sanchez bersama Arumi.
"Kemari!" pintanya pada Arumi Chavez sedang teman-teman lain terkekeh geli pada tingkah Young.
Ethan Sanchez berdecak oleh sikap percaya diri dimiliki Young Vincenti.
"Ayolah, Young! Ethan mungkin jadi mantan terindah bagi Arumi. Mereka cocok bersama. Bagaimana kalau balikan lagi?" Lea berceloteh. Beberapa siswi fans Ethan Sanchez terbagi dua. Ada yang setuju tetapi banyak yang menolak ide itu.
"Apanya yang terindah?" cibir Young kerucutkan bibirnya. "Pernah dengar kata dunia? Kalau mantan tak akan pernah jadi yang terindah. Sini Arumi! Maju ke depan. Mantan pacarmu terusan ditempeli gadis populer dari sekolah sebelah. Masa kamu mau melajang terus? Lihat kemari! Ada aku menunggumu. Kita akan jadi pasangan serasi dan seimbang."
"Terima kasih, Young. Aku tak ingin masuk ke sana. Makasih semuanya sudah mendukungku. Aku ingin kembali ke kelas."
"Arumi, jangan menolakku. Aku sungguh-sungguh padamu," kata Young beerubah sangat serius. "Maukah jadi pacarku?"
Arumi menggeleng tanpa berpikir. "Young ...," sedikit menaruh jeda. "Aku punya tunangan. Aku akan menikahinya lima tahun lagi." Arumi mengangkat tangan pamerkan lingkaran cincin yang kini lebih mirip tato.
"Hah?!"
"Kamu seriusan?"
"Tidak mungkin!"
"Benarkah Arumi?"
Tentu saja ini kejutan yang akan sangat menggemparkan dunia sekolah mereka. Sedang Ethan Sanchez terdiam. Mata tajamnya hanya pandangi Arumi Chavez. Gadis ini berubah sangat serius soal masa depannya.
"Teman-teman," ujar Arumi merendah. "Kita menjadi sangat dekat sebulan ini, tetapi aku minta tolong untuk tidak menyebarkan rumor. Aku hanya berbagi rahasia ini dengan teman-temanku karena aku akhirnya benar-benar miliki kalian sebagai sahabatku."
"Oh Arumi Chavez, kami menyayangimu."
Teman-temannya berkerubut memeluknya. Mereka tidak penasaran siapa pria itu. Namun, Young langsung menebak, pasti Archilles Lucca.
Arumi Chavez kemudian berbalik hendak pergi seakan lupa tujuan semula agar ia tak larut pada trauma dan biarkan dirinya jauh tertinggal.
"Arumi, tunggu!" panggil Ethan Sanchez. "Arumi ..., kamu akan bersamaku untuk melihat beberapa objek di mikroskop agar nilaimu tidak lagi kosong."
Setelah gadis ini bukan pacarnya secara ajaib Ethan bisa tahu secara jelas, Arumi Chavez mengingat Archilles. Sungguhan aneh.
"Baiklah, Ethan."
Begitulah akhirnya Arumi di bawah bimbingan Ethan Sanchez yang memang pandai mentransfer ilmu pengetahuan pada orang lain bersiap dengan materi praktikum. Sedang Young membuat dokumentasi.
"Kamu harus minta ijin sebelum mengambil video orang lain, Young," tegur Ethan Sanchez mengatur pemutar lensa pada mikroskop.
"Video ini akan diunggah ke forum sekolah. Bukankah bagus sebagai dokumentasi?" Young berkelit. Namun, beberapa menit kemudian remaja itu berseri. "Oops, percuma saja. Aku tak bisa mengunggah video, Arumi. Apa dunia memang secanggih ini?"
Ethan Sanchez mengernyih pada Young.
"Aku pernah mengunggah video Arumi yang kudapat di hari perseteruan Arumi dan Fernanda." Young paham ekspresi Ethan Sanchez. "Akunku malah hilang. Apakah kamu menyewa hackers?" tanya Young Vincenti penasaran pada Arumi Chavez sedang Arumi tak ambil pusing, hanya sibuk perhatikan tangan Ethan Sanchez saat seniornya menyayat batang tumbuhan.
"Terima kasih untuk informasinya, Young. Kita bisa mengobrol nanti. Tolong tinggalkan kami, kecuali kamu mau bergabung membantu Arumi belajar," ujar Ethan Sanchez menyorong alat dan bahan giliran Arumi. "Setipis mungkin Arumi agar mudah diamati."
"Harus melintang begitu?" tanya Arumi berasa jadi ilmuwan.
"Melintang atau membujur, tak masalah Arumi," sahut Young Vincenti bantu menjawab. "Aku akan menunggumu."
"Ini akan butuh waktu," jawab Ethan Sanchez.
"Kami perlu membahas masalah belajar kelompok nanti sore."
Ethan Sanchez tahu bukan itu tujuan Young. Pemuda keberatan Arumi bersamanya. Ethan melirik Young yang menjauh ke lemari dan duduk di dalamnya, memangku kaki. Young main game sambil awasi mereka.
"Bisa sendiri?" tanya Ethan Sanchez pada Arumi.
"Ya, aku belajar memasak dan mengiris bawang. Kurasa ini lebih mudah."
"Letakan pada kaca objek lalu tutuplah dengan kaca penutup!"
"Baiklah!"
"Apakah kamu melihat hasilnya?" tanya Ethan setelah berikan Arumi waktu beberapa menit.
"Oh, luar biasa. Aku bisa melihat banyak rongga. Jadi, begini kehidupan mereka? Sangat cantik, rapi dan beraturan." Arumi Chavez mudah terpesona. "Aku mengerti sekarang mengapa kamu mencintai laboratorium."
Ethan Sanchez tersenyum. "Ya, mereka mengagumkan."
"Sangat," angguk Arumi sependapat. "Hanya saja, mereka tetap sulit aku jangkau. Aku terpukau, mereka terlalu rumit untukku." Secara gamblang Arumi mendeskripsikan mengenai masa lalu mereka. Ethan Sanchez memilih abaikan.
"Amati masing-masing preparat itu pelan-pelan saja. Kamu tak perlu pahami sifat dan karakternya saat ini, kamu cukup menggambar hasil pengamatanmu. Apa yang ditangkap matamu ..., cuma perlu menggambarnya pada lembar jawaban."
"Aku juga tak pandai menggambar."
"Pantang menyerah sebelum mencoba."
"Baiklah, Ethan!"
Begitulah akhirnya Arumi berhasil dengan praktikum Biologi. Ia kemudian melangkah keluar dari laboratorium.
"Tidak setia kawan," keluh Young Vincenti.
"Maafkan aku! Jangan mengekor aku, Young!"
"Kita kan berteman," balas Young santai.
"Teman tak akan mengusik temannya."
Mereka kembali menuju kelas. Jam pelajaran berikutnya akan segera dimulai.
"Dasar keras kepala," keluh Young duduk tenang di bangkunya kembali nyalakan ponsel sedang Arumi Chavez memeriksa buku tugas Sejarah Dunia.
"Aku mungkin tak bisa belajar di rumahmu, Young."
"Aku tahu kamu akan onar saat tiba giliranku. Kamu harus tahu betapa Laurent Vincenti berharap kamu berkunjung."
"Ayahmu?"
"Ya. Kita ada di kartel berseberangan tetapi kadang ada simbiosis mutualisme antara Diomanta dan keluargaku."
"Orang yang mendengar akan berpikir kami masih bagian dari gangster," keluh Arumi Chavez dari depan tanpa berpaling pada Young.
"Orang lebih suka mengingat hal buruk yang kita perbuat ketimbang jasa baik. Kamu akan tetap hidup dan dicap gangster meskipun kamu telah bertobat karena sejarah mencatatnya demikian."
"Terima kasih atas pencerahan-mu."
"By the way, di mana Tuan Lucca?" tanya Young Vincenti sambil melotot pada layar ponsel.
"Aku tak tahu," jawab Arumi datar sedang ia sendiri bertanya-tanya di setiap pagi. Di mana Archilles Lucca? Apakah pria itu tidak rindukan paginya di mansion bersama Aorta dan Vena. Juga padanya? Yakin bahwa pria itu sama sepertinya memendam rindu hingga segala hal terasa hampa untuk dilalui.
"Oh, mengaku akan menikahinya tetapi tak tahu di mana calon pengantin prianya? Apakah Mr. Lucca mencoba kabur dari takdir?"
Arumi tak menyahut.
"Lupakan! Mau nonton denganku? Aku punya sesuatu yang menarik untuk kamu lihat." Young Vincenti sedikit perbesar volume ponsel.
"Tidak, terima kasih."
"Berdekatan denganku tak akan membuatmu berselingkuh. Kamu harus lihat ini. Seorang guru yang wajahnya tak asing mengurusi sebuah kelas berisikan siswa berandal dan buas. Oh lihatlah caranya, ia gunakan pistol dengan peluru kaca untuk membuat muridnya duduk dengan tertib. Uuhh, ketika seorang mantan gangster jadi guru."
"Aku tidak tertarik," jawab Arumi Chavez urai lembar demi lembar paper Sejarah Dunia. Ia semakin rajin belajar meski hanya 20 persen yang masuk ke otaknya.
"Oh, aku yakin kamu akan sukai adegan ini. Aksi yang luar biasa." Young semakin bersemangat sedang ribut-ribut keluar dari ponselnya. Young memang menyukai kekerasan dan kehuru-haraan apalagi pertarungan antar sesama manusia. Young akan bergembira ria menikmatinya.
"Ughh, tembakan jitu. Ghost so damn cool."
Arumi berpaling ke belakang. Ia sungguhan terganggu pada Young Vincenti
"Young, berhenti berisik, Please. Jika kamu masih terus macam begini, aku akan pindah ke depan kelas dan duduk di bangku guru."
"Ya ya ya, baiklah, Nona. Jangan kejam pada penggemarmu!"
Arumi kembali berputar, keluarkan earphone. Dengarkan instrumen lagu yang ia ciptakan dan akan meminta Lucky Luciano memeriksa lirik yang ia buat. Pria itu sedikit romantis.
"Harusnya kamu duduk dan melihat tayangan ini, Arumi Chavez," guman Young bicara pada punggung Arumi. Tahu bahwa gadis itu tenggelam dalam dunianya sendiri dan tak menggubrisnya sama sekali.
Young mengerut, menonton video yang sama ketiga kalinya.
"Aku yakin kamu akan berhenti murung dan segera berlari padanya."
***
Cintai aku, aku mencintaimu...