My Guardian Angel (The Dust of Love)

My Guardian Angel (The Dust of Love)
Chapter 85. Be Your Hero



Terlentang menghadap loteng memeluk pistol bermoncong peredam. Archilles Lucca berada di sebuah flat. Terbaring di lantai dalam kegelapan di antara sofa dan meja. Ia sudah menunggu selama empat jam dan masih harus menunggu.


Nama pemilik flat : Thomas Quinho


Nama samaran : Birsha Than


Usia : 24 tahun


Pekerjaan : Operator dari perusahaan seluler.


Peranan dalam organisasi : operator dan host utama.


Kamera CCTV telah dilumpuhkan. Flat ini milik host utama sekte sesat itu. Ia berhasil temukan identitas asli pria ini setelah menerima bantuan informasi dari Young Vincenti. Selama tiga hari non-stop mengawasi lokasi. Ia akan menangkap lima admin group dan tiga host yang juga adalah operator tanpa libatkan kepolisian. Ia miliki rencana untuk mereka. Tiap ingat apa yang akan dilakukan pada Arumi Chavez, Archilles mendidih.


Seperti dugaan Archilles, beberapa pihak menutupi kasus penculikan Arumi Chavez. Tidak begitu heran akan keterlibatan aparatur lintas negara.


Ketika ponsel Arumi di tangannya, salah satu admin dengan sangat berani mengirim pesan ancaman pada Arumi. Pemerasan. Jika keinginannya tak dipenuhi, ia akan bocorkan video bagian tak berbusana Arumi Chavez. Keinginan si manusia brutal, Bhirsa Than adalah Arumi Chavez mendatanginya secara pribadi di suatu tempat. Permintaannya kemudian semakin jelas dan menjijikan hingga Archilles rasanya sedang dipanggang hidup-hidup.


Archilles pikir ia akan menumpas habis dan membuka kasus ini ke publik termasuk berencana mengirim hasil temuannya pada Oriana Fritteli, seorang reporter yang selalu speak up tentang kebenaran, sebelum kelompok ini lanjutkan aksi mereka pada gadis lain. Ia tak bisa bayangkan jika sasaran mereka adik perempuannya, Zefanya. Jadi, Archilles akan datang sebagai utusan untuk bersih-bersih.


Archilles telah memeriksa flat ini tidak menemukan apapun yang ada hubungannya dengan kriminalitas. Sangat bersih begitupun kehidupan semu Birsha Than kecuali jelas pekerjaan di dunia nyata sangat membantunya di dunia maya.


Hari ini, tepat tiga hari setelah ia berpisah dengan Arumi Chavez. Ia membawa gadis itu kembali ke mansion Diomanta setelah habiskan banyak waktu berharga bersama. Indah dan tak akan pernah ia lupakan.


Archilles mengingat tatapan penuh kasih sayang dan cinta semurni madu dari gadis itu padanya di Kapel ketika Arumi Chavez sematkan cincin pernikahan di jari manis tangan kanannya. Lalu, bibir yang dingin mengecup punggung tangannya.


Mereka menikah di hadapan Tuhan. Ia membuka veil Arumi Chavez dan melihat mata indah berkaca-kaca dibaliknya. Menolak mencium pengantinnya karena belum mandi kendati hanya sekedar basuh wajah dan sikat gigi. Ia terburu-buru bangun dan langsung mencari Arumi Chavez. Akhirnya mereka hanya sandarkan kening satu sama lain. Sedikit berdansa diiringi suara angin dari pepohonan Pirus dan kicau burung gereja.


"Nona ...." Sangat hati-hati berikan pengertian. "Maafkan aku. Tetapi, ini Swiss bukan negara kita. Di sini ..., pernikahan di Kapel tanpa imam dan saksi, tidak sah sama sekali."


"No ...," keluh Arumi menggeleng, menolak penjelasan. "Aku telah menikahimu. Tuhan melihatnya, apa tidak cukup?"


"Nona ..., kita hanya akan membuat Nyonya Salsa semakin marah padaku karena ingkari janji. Ingat, bahwa kita akan menikah saat ulang tahun Anda."


Gadis itu menangis terisak-isak dalam pelukannya.


"Baiklah, anggap saja ini latihan sebelum menikah, Tuan," hibur Arumi. "Aku akan menunggumu hari itu. Apa yang akan kulakukan jika kamu ternyata tidak datang?"


"Aku pasti akan datang dua hari sebelumnya dan kita bisa persiapkan segalanya bersama."


Nona Arumi sangat kecewa dan sedih. Archilles mengerang. Wajah cantik gadis itu memenuhi isi kepalanya. Ia tak pernah melihat gadis itu tersenyum lebar atau terbahak-bahak. Sekalipun satu-satunya yang tersisa adalah kata-kata sarkas sewaktu berurusan dengan Lucky Luciano. Arumi Chavez kehilangan beberapa warna dalam hidupnya dan Archilles berharap bisa melihatnya ceria suatu waktu.


Suara denting smart key lock. Archilles pusatkan seluruh indera. Seseorang terburu-buru mendorong pintu.


Klik.


Pintu terkunci. Sepatu dibuka. Masuk ke dalam langsung mencari minuman. Lalu, membuka pintu kamar, menghilang dibaliknya. Laptop dinyalakan, memakai headset dan bicara sedikit.


"Target selanjutnya? Bukankah kita harus menunggu persetujuan petinggi yang baru?"


Archilles bangkit. Ia memakai penutup kepala seperti kain selendang berkabung warna abu-abu sembunyikan sebagian wajahnya. Lewati meja makan temukan satu botol minuman keras. Menuju ruang tidur. Pintu sedikit terbuka. Ia lolos tanpa menutup pintu, berdiri di belakang hingga si pria terkejut. Berbalik, mengucup laptop panik hingga terdengar bunyi.


BRAK!


Archilles tidak salah, ini adalah pria yang datang untuk meliput penculikan Arumi Chavez. Ia hapal suaranya.


"Siapa kamu?" Si pria meraih pistol dari laci meja.


Kalah gesit karena moncong pistol Archilles terlebih dahulu telah bersarang di otak kecil. Dalam satu lepasan, isi kepala akan tercecer. Si pria sepertinya tidak waspada bahwa kasus yang libatkan Arumi Chavez kemarin belum berakhir. Mereka bersantai karena berpikir telah diurus dan diselesaikan oleh orang-orang hebat.


Namun, Archilles tidak ingin kematian termudah. Birsha Than akan alami hal lebih parah dari yang baru akan pria ini rencanakan pada gadisnya. Seluruh inci tubuh Arumi Chavez adalah bait yang suci baginya. Bagaimana pria setan ini secara serampangan inginkan Arumi Chavez?


Satu pukulan tajam di tengkuk berisi jutaan emosi, si pria langsung tak sadarkan diri. Archilles kemudian keluar flat setelah melipat Birsha dalam kantong sampah. Bawa serta semua yang ia butuhkan. Laptop dan ponsel pria itu.


Mengisi Birsha dalam bagasi mobil sewaan dan membawa pria itu ke sebuah bangunan tua dan terisolasi di pinggiran kota yang telah ia siapkan sebelumnya. Ia akan mengunjungi target selanjutnya.


Enam-ratus-tujuh-puluh-empat -yard, Archilles Lucca kemudian berada di sebuah bangunan mega proyek gedung pencakar langit dari seorang konglomerat berambisi, tak jauh dari Old Harbour Pub and Bar. Ia mengincar seorang pengusaha di dunia entertainment sekaligus investor sekte paling berpengaruh kedua setelah Hedgar Sangdeto bernama, Leonardo Pirlow.


Jika Hedgar mungkin menginvestasi "sejumlah dana" tanpa terjun lebih dalam dan hanya menerima keuntungan kemudian Hedgar baru bergabung dalam tiga bulan, maka berbeda dengan Leonardo Pirlow yang telah sangat lama menjadi komisaris dalam sekte.


Leonardo diam-diam menerima royalti 15 persen dari setiap kegiatan dengan channel sesat ini. Pria inilah 'penjaga' yang mengintai karir Arumi Chavez sejak gadisnya masih belia. Leonardo dalam tanda kutip mempersiapkan Arumi Chavez sebagai pengantin tanpa kelihatan, tindakan senyap.


Ada benang merah berhasil disimpulkan Archilles Lucca setelah mengobrak-abrik laptop Birsha Than. Leonardo Pirlow termasuk salah satu dalam pemilik modal yang menggarap drama Bittersweet Married.


Bisa dibilang Leonardo ikut didalamnya. Salurkan kepentingan uang termasuk diam-diam mengatur propaganda agar Arumi Chavez menjadi aktris pendukung pemeran utama dalam drama ini. Benarkan dugaan Archilles di mana Arumi Chavez pernah berkata bahwa ia lolos casting hanya formalitas. Pada kenyataannya, Arumi Chavez dapatkan panggilan khusus untuk perankan Serena, karakter empat tahun lebih tua dari usia aslinya.


Kejutan. Nyonya Salsa dan Nona Sunny selaku manager Nona Arumi secara ceroboh menanda-tangani kerja sama dengan pria ini.


Leonardo Pirlow satu-satunya pemodal yang ikut menyusun timeline dan jadwal produksi. Alasan mengapa Bittersweet Married terbagi dalam dua season selain karena Chris Evans menunggu Arumi Chavez sembuh dari kecelakaan yang sebabkan gadisnya trauma pada lemari besi, terutama karena Arumi Chavez memang telah diperangkap untuk berada di sebuah perkebunan sesuai rencana sekte ini.


Pria ini berada di Old Harbour Club, VIP room di dalam jacuzzi batu alam hanya dengan b0x3r bersama dua orang gadis panggilan dalam balutan seragam bar. Kemungkinan Pirlow menunggu seseorang dan Archilles yakin pria itu adalah Hedgar Sangdeto. Archilles telah memeriksa detil kerja sama dan temukan keterkaitan erat di antara keduanya. Ia akan habisi keduanya atau satu persatu sesuai rule.


Hedgar, Archilles perlu menemuinya muka tatap muka kemudian pastikan Anna Marylin tahu apa yang suaminya lakukan.


Kembalikan fokus. Leonardo berkubang sedang dua wanita mulai ikut setelah tanggalkan pembungkus tubuh. Para bodyguard berpostur tinggi tegap dan berwajah sangar berjaga-jaga di sekitar balkon ruangan.


Archilles mengunyah permen karet saat uap naik dan Leonardo akan mulai bercinta dengan dua wanita. Ia kemudian menunggu the best timing, telunjuknya bersiap di pelatuk. Sebelum ia sempat lepaskan tembakan, kaca terlebih dahulu pecah dan pria itu, Leonardo Pirlow telah tertembak tepat di kepala. Bukan peluru biasa sebab proyektil meledak di kepala pria itu hingga sebagian isi kepala muncrat ke dalam jacuzzi. Wanita-wanita menjerit panik. Berhamburan keluar jacuzzi.


Para bodyguard kalang kabut mulai memeriksa. Archilles Lucca sangat terkejut, mencari-cari pelaku penembakan. Bagaimana bisa momennya sangat pas?


Temukan seseorang selisih dua-ratus -meter lebih. Tidak sampai empat ratus meter, Ketinggian cuma 12 meter di atas teras sebuah Express Laundry sangat dekat dengan Pub. Terlalu gila, nekat dan berani dengan jarak sedekat itu. Berada di antara kain-kain berkibaran. Merayap mundur dengan senjata laras panjang.


Perbesar teleskop. Seorang wanita. Hanya terlilit handuk putih menutupi setengah tubuh. Kaki jenjang dan sebagian paha tanpa pelindung, sangat jenjang bahkan dalam posisi tengkurap. Handuk kecil membungkus rambut.


Sangat cepat menyimpan senjatanya ke balik karpet taman bunga. Mengatur pot-pot bunga persiapan alibi jitu. Tak akan ada yang curiga. Sengaja menarik lepas handuk di kepala hingga rambut basah panjang terurai lepas. Berkelakuan seolah dirinya super model papan atas di iklan shampo.


Menghadap padanya hingga Archilles Lucca terkejut. Kini, tersenyum posesif. Semacam seorang kekasih yang baru saja berpisah setelah ronde panas dan si wanita mengirim sinyal untuk cepat-cepat bertemu kembali. Handuk rambut dibentangkan oleh dua tangan. Tulisan hitam terbaca jelas.


I will be your hero, Baby.


(Aku akan menjadi pahlawanmu, Sayang)


Banyak cap bibir dari lipstik merah terang di handuk. Kirimkan kecupan menggoda dari jarak jauh. Bibir mengeja kalimat, "I love you so much" sebelum berbalik lanjutkan aktivitas menjemur kain yang Archilles yakin hanya mengada-ada. Bertingkah seakan tak pernah terjadi apapun. Sempat-sempatnya mengintip ke jalanan persis orang penasaran apa yang terjadi saat rombongan polisi lewat. Wanita itu bahkan tak mencoba bersembunyi.


Archilles Lucca menyipit di balik kaca pembesar laras panjangnya. Menutup kaca teropong dengan telapak tangan saat membaca gelagat, wanita yang ia sebut "wanita gila" akan lepaskan handuk dan pamerkan tubuhnya.


Archilles buru-buru menyimpan senjata ketika raungan sirene polisi terdengar begitupula ambulance. Segera mungkin keluar dari bangunan sebelum keberadaanya terlacak. Jalanan pasti akan segera diblokir. Tidak menyangka Tatiana ikut campur.


Hindari jalanan ramai, situasinya benar-benar tidak kondusif saat ini. Tatiana membantunya? Atau wanita itu miliki tujuan lain?


💌 : Lucca, My Love. Mari bertemu. Aku punya banyak hadiah untukmu.


💌 : Aku sibuk!


💌 : Jangan bekerja terlalu keras. Aku akan lakukan apapun untukmu. Bersedia mati untukmu.


Archilles Lucca menyimpan ponselnya. Ia tak bisa ladeni Tatiana. Namun, ponselnya berdering lagi.


💌 : Tunggu aku, Sayang


Archilles Lucca berdecak, abaikan Tatiana. Ia memakai hoodie-nya, naik kereta pergi ke rumah Grenny. Tak mungkin bisa bekerja sekarang saat berita penembakan ada di mana-mana.


Sudah lewat dari jam makan malam. Minimarket masih buka dan seorang pria sibuk di belakang counter. Bagian kanan minimarket adalah rumah berlantai dua milik kakek-neneknya. Meski tidak besar, kakek-neneknya juga miliki perkebunan tanaman produktif di belakang rumah meski lahannya tak seluas perkebunan pada umumnya.


Martha Via adalah Puteri Grenny satu-satunya. Lampu ruang tidur masih menyala. Archilles menghirup udara kuat-kuat, menyimpannya sejenak sebelum hembuskan perlahan.


Datangi rumah dan bunyikan bel di pintu.


"Zefanya, tolong lihat siapa yang berkunjung malam-malam begini?" Suara wanita tua yang ia sayangi.


"Baik, Nek," jawab Zefanya patuh terdengar turuni tangga sambil bersenandung. Archilles Lucca menghela napas panjang, menanti pintu terbuka.


Gadis sepuluh tahun berambut cokelat keemasan dan sangat-sangat cantik melongo padanya. Berkaca-kaca sebelum meledak oleh tangisan.


"Archilles Lucca!" seru Zefanya melompat ke dalam pelukannya.


"Zefanya, sayangku. Aku merindukanmu."


"Aku merindukanmu. Aku pantang dan puasa makan daging sampai kau kembali."


"Pantasan kau terlihat kurus."


"Kau jahat padaku, Archilles. Aku menunggumu tiap hari."


"Sayangku, kita akan segera bersama."


"Begitu katamu tiap kita bertemu. Kita akan segera bersama tetapi kau menghilang lebih lama dan panjang hingga aku ketakutan."


"Zefanya, sayangku."


"Bisakah, kakak tinggal di sini bersamaku dan hanya mengurus minimarket? Aku akan menikahimu dengan guru sekolahku. Dia masih muda dan sangat cantik. Namanya, Ibu Guru Scolastika."


Archilles tertawa.


"Zefanya bahkan melamarnya untukmu," lapor Grenny bawakan secangkir teh dan kudapan manis.


"Apa jawabnya, Zefanya Lucca?" tanya Archilles mencubit dagu Zefanya memeluk adik perempuannya erat-erat.


"Katanya ia menyukaimu."


"Bagaimana bisa?"


"Aku tunjukan foto-foto kita. Dan dia mengatakan 'kakakmu sangat tampan ya, Zefanya."


"Lalu ...."


"Aku bilang padanya, jika ia mau menikahimu maka ia akan miliki rumah Grenny dan Granpa sekaligus minimarket."


"Maksudmu, kamu melamar seorang wanita untukku maharnya gunakan properti kakek-nenekmu?" tanya Archilles Lucca geli bercampur haru biru. Zefanya tumbuh dengan baik dan sangat cerdas.


Zefanya mengusap matanya yang basah dan memeluknya.


"Grandma tidak keberatan."


Grenny menatap Archilles Lucca sembunyikan kesedihan. Archilles yakin akan ada pembicaraan setelah ini.


"Apa jawabanmu, Archilles? Aku akan beritahu guruku besok saat aku pergi ke sekolah."


"Emm ..., batalkan lamaran itu, Zefanya."


"Mengapa? Susah Archilles membujuk seseorang menikahimu. Pekerjaanmu tak begitu jelas dan kamu hanya modal tampang saja. Guruku ini berpendidikan bagus, cantik, baik, ramah, sopan, kerjaannya bagus dan dia pandai memasak. Kehidupanmu akan terjamin."


Si ..., Si ..., Si, gadis ini berseloroh mirip Martha Via. Sekarang Archilles tahu, tiap wanita memiliki kriteria jodoh bagi orang-orang yang mereka sayangi.


"Karena ..., aku akan menikahi seorang gadis tercantik di negara ini," sahut Archilles menjaga nada suaranya terdengar surprise.


"Kamu serius, Archilles?" selidik Zefanya.


"Ya. Maret nanti."


"Oh, usahaku sia-sia jadinya. Tetapi, aku akan mendukungmu Archilles. Aku ingin hidup bersamamu dan istrimu juga kakek nenekku."


"Kamu tak ingin tahu siapa?" tanya Archilles.


"No. Aku percaya padamu."


Menggiring adiknya ke ruang tidur sebab telah larut malam, Zefanya dibalik selimut.


"Tolong jangan curang dengan kabur selagi aku tidur, Archilles Lucca. Aku akan membencimu!"


"Janji, Tuan Puteri yang cantik. Aku akan di sini saat kamu terbangun."


"Seorang pria dan wanita datang kemari mengatakan sesuatu pada Grenny. Lalu, Grenny sangat sedih setelahnya."


Archilles pikir ia tak bisa sembunyikan ini lebih lama lagi. Ia tak tahu siapa yang datang, Nyonya Salsa? Nyonya Nastya? Hanya satu pikiran melayang dibenaknya, betapa menjijikkannya Raul Lucca pada mereka.


"Aku akan membawamu berlibur bersamaku, Zefanya."


"Benarkah?"


"Ya. Di rumah seorang kerabat."


"Bagaimana dengan Grenny dan Grandpa?"


"Mereka butuh liburan juga dari mengurusmu. Betapa tua dan lelahnya mereka."


"Aku selalu membantu dan tidak bandel. Saat aku merindukanmu aku menutupi kepalaku dengan bantal dan menangis. Aku tak mengatakan pada siapapun."


"Baiklah, Sayang. Maafkan aku. Kita akan bersama beberapa hari. Lalu, akan membuat keputusan untuk masa depanmu."


Ketika lampu ruang tidur berubah lebih suram, Archilles menutup jendela rapat-rapat. Mengusap kening Zefanya hingga adiknya larut dalam mimpi indah. Ia mengecup dan mendoakan hal-hal baik.


"Zefanya, aku menyayangimu. Sangat menyayangimu."


Keluar dari kamar Zefanya berpapasan dengan Grenny yang tampak tua, lelah dan mengantuk.


"Kamarmu sudah kusiapkan. Jendelanya biarkan saja terbuka sebab bau pengap mungkin akan mengganggumu."


"Lucia ..., terima kasih banyak." Archilles memeluk wanita senja dan mencium puncak kepala berkali-kali.


"Archilles ..., kita bicara besok ya," pinta Grenny menepuk pinggang Archilles. "Kamu tampak lelah."


"Ya."


"Kamu ingin sarapan apa untuk besok?"


"Apapun masakanmu, Nek. Aku menyukainya."


"Baiklah. Tidur nyenyak, Archilles Lucca."


Archilles pergi ke ranjang, berbaring sedang bayangan pohon depan rumah bergerak memantul di loteng kamarnya. Ia merindukan tempat ini.


"Kau tahu banyak hal buruk yang sudah kualami. Aku merindukan pelukanmu," katanya pada ruang kamar yang kosong.


Archilles Lucca tak ingin ikuti berita terbaru. Pikirannya bercabang. Mengatur ulang rencana dan bayangan indah Arumi Chavez selalu jadi bagian terbaik.


Tertidur. Mungkin ia mulai keracunan cinta macam Lucky Luciano. Dalam mimpinya ia hanya melihat Arumi Chavez.


Mimpinya sangat indah hingga ia kesulitan membuka mata termasuk ketika angin bertiup sangat kencang sebabkan derak ranting pepohonan di depan berbunyi keras. Jendelanya berayun. Lalu, terkatup. Dikunci.


"Zefanya? Kamukah itu?"


Tubuh hangat berbaring di sebelahnya. Archilles memeluk Zefanya, membelai rambutnya.


"Kamu takut tidur sendirian?" tanyanya tanpa kewaspadaan sebab ia tidur di kamar tidurnya. Tempat terbaik untuk pulang. "Martha, gadis ini cuma besar badan. Dia masih takut tidur sendirian! Um, tapi apakah badanmu memang sebesar ini?"


Tak ada sahutan. Lalu, segalanya makin rumit bagi Archilles Lucca. Terlebih dirinya tiba-tiba menjadi sangat tidak nyaman.


Insting dan kecerdasannya berfungsi. Menandai aroma parfum mawar, terlalu agresif untuk gadis umur sepuluh tahun. Seakan disemprot untuk merayu seorang pria. Jelas bukan Zefanya. Sangat cepat bibir, hidung dan matanya dikecup.


Ini gila. Matanya terbuka.


Cahaya lampu tidur menerangi wajah yang sedang menatapnya.


"Betapa aku memuja wajah setengah dewa-mu, Archilles Lucca."


Suara seksi yang sedang jatuh cinta bicara serak padanya. Archilles tersadar penuh. Kepalanya seakan ditancapkan ribuan jarum. Ia berguling menjauh tetapi Tatiana membelit kaki dan tangannya hingga mustahil membuat mereka terpisah.


"A ..., pa kau gila?" Archilles Lucca terlalu kaget hingga pelototi wanita di atasnya. Berpikir ia mimpi buruk dan sadar bahwa ia tidak sedang lelap. Tak ada yang segila Tatiana. "Lepaskan aku!"


"Apa kamu takut aku kirimkan foto kita pada pacarmu yang anak-anak?"


"Jangan menyentuhnya sama sekali. Aku akan membunuhmu."


"Ya, bisa kulihat."


"Aku tak akan kasar padamu. Tolong lepaskan aku."


"Tidak! Aku akan menikmatinya selama 3 menit. Dan melupakanmu mulai besok."


"Apa maumu?"


"Jangan ganggu saudaraku, Lucca!"


"Aku tak kompromi soal itu."


"Hilangkan niatmu merayap di taman nasional ke rumah kami dan menembak Hedgar dari jarak jauh seperti yang akan kamu lakukan tadi pada Leonardo."


Tatiana mengelus rahangnya. Ia tak menghindar, menatap tajam Tatiana.


"Sebagai gantinya 8 targetmu telah aku kandangkan di suatu tempat sebagai hadiah cintaku padamu. Lakukan apapun keinginanmu pada mereka. Hati-hati dengan sisanya. Beberapa dari mereka sangat berbahaya."


Tatiana lepaskan kaitan kakinya, meloncat turun dari ranjang. Wanita itu membuka jendela dan pergi keluar.


"Jaga dirimu, Baby!"


***