
"Nona ...."
"Aku tahu, aku punya banyak kekurangan, aku tak bisa perbaiki dalam waktu singkat. Hanya ..., tolong tinggal di sisiku ..., Archilles."
Permintaan Nona Arumi bagi Archilles sisakan banyak ketidak-jelasan. Tinggal sebagai pengawalnya, ataukah yang lain.
Nona Arumi membelai wajahnya, hingga Archilles rasakan jantungnya akan meloncat dari balik rusuk. Bagaimana bisa gadis ini, mainkan segala fragmen emosi dalam dirinya.
Terlebih tatapan sayu Nona Arumi bak lagu penghantar tidur. Tatapan yang berhasil bangkitkan sisi lain dalam dirinya.
Lucca, kamu bisa menyentuhnya untuk tahu apa yang Nona inginkan!
Tidak! Ini tidak benar!
"Aunty Sunny selalu di sisi Ibuku. Aunty Marion selalu diandalkan Uncle Hellton. Tuan Abner Luiz selalu di sisi Elgio Durante bahkan Francis Blanco selalu ada untuk Lucky Luciano."
Bukan perbandingan kesetiaan sepasang kekasih. Namun, bagi Archilles kesetiaan orang-orang yang namanya disebutkan Nona Arumi lampaui cinta dan kasih sayang. Mata Nona Arumi kembali menatapnya, separuh merengek. Bibir si gadis malah cemberut.
"Aku bodoh dan ceroboh. Aku punya banyak ketidak sempurnaan. Di depan orang lain aku berusaha keras hanya tampilkan sisi terbaikku tetapi itu menyiksaku. Kamu ..., entah bagaimana ..., selalu lengkapi kekuranganku. Bersamamu, aku merasa tak butuh orang lain."
Archilles bernapas perlahan, permohonan Nona Arumi sangat berbahaya. Ia akan selalu terjebak di masa mendatang.
"Aku akan temani Nona Arumi Chavez untuk saat ini. Aku tak bisa janji ke depannya."
"Begitukah? Adakah cara agar kita tetap bersama?"
Gemerincing kulit-kulit kerang dimainkan cukup kasar sebagai pertanda seseorang berkunjung. Archilles Lucca menyipit, apa Leona datang? Tidak mungkin ..., durasinya terlalu singkat. Kuping segera siaga penuh, menoleh ke arah pintu masuk. Terlambat berguling, Itzik Damian melangkah ke dalam ruangan seakan ia tamu yang dinanti.
"Oops, apakah aku masuk di waktu yang tidak tepat?" tanya Itzik Damian menyeringai jahat. "Lucca, kulihat kamu berhasil taklukan majikan-mu."
Archilles menggeram, bangkit menahan serangan nyeri pada luka tembaknya.
"Sungguh disayangkan. Aku punya satu lagi saingan berat. Aku dengar geramanmu, Lucca. Teruskan saja tiarap di atas majikan-mu. Aku akan sabar menunggu."
"Apa maumu?!"
"Aroma rempah menyatu dalam aroma cinta."
Archilles berdiri tegak, menarik Arumi ikut bangun halau Arumi ke belakang punggungnya.
"Oh manis sekali. Mengapa aku cemburu, ya?" keluh Itzik Damian. Mainkan pistol di tangannya. "Kembalikan senjataku, lalu kita tuntaskan urusan yang belum beres. Tanganku gatal ingin bermain denganmu."
"Senjatamu ada di markas militer. Kau bisa mencarinya ke sana."
"Oh ya?" Arahkan benda berbahaya pada Archilles.
"Stop! Kamu tak akan lakukan itu!" Arumi Chavez tiba-tiba saja berganti di depan Archilles. "Apa maumu? Beritahu padaku!"
Hanya bingung mengapa pria seputih salju ini terus saja resahkan mereka.
"Ya ampun, manis sekali. Majikannya berubah posisi lindungi pengawalnya. Aku melihatnya di bawah dan di atas. Di depan lalu di belakang."
"Selagi aku bertanya baik-baik, apa maumu jawab aku? Apa kamu tak punya kerjaan lain selain buntuti Archilles Lucca? Jangan-jangan kamu penyuka sesama jenis?" tanya Arumi Chaves kerutkan kening, berpikir keras.
Archilles Lucca sangat tampan bagi kaum hawa, tidak menutup kemungkinan kaum Adam juga menyukai tubuhnya. Arumi banyak dengar cerita penyimpangan model begini. Berbalik pada Archilles Lucca menyipit. Awasi Archilles Lucca dari ujung rambut hingga ujung kaki.
Wajah tampan juga tatapan jantan, bola mata almond indah, alisnya terlalu rapi dan bagus. Bulu matanya juga lentik. Leher Archilles bisa buat yang melihat ingin bergelantungan di sana terlebih dada dan perutnya. Mengendus Archilles seakan aroma Archilles bisa bisikan sesuatu.
"Kamu ...," telunjuk terarah pada Archilles, "tidak bermain dengannya di akhir pekan-kan?" tanya Arumi Chaves terdengar penuh tuduhan dan cemburu.
"Cinta bisa disembunyikan, tidak dengan cemburu!" sambar Itzik Damian.
"Diam kau! Aku tak bicara denganmu!" bentak Arumi Chavez jengkel, berpaling pada Archilles menyipit.
"Jawab aku!"
"Nona?!"
"Kamu sering menghilang dan tiba-tiba Mayat Hidup ini muncul katakan dia punya saingan berat? Itu aku? Bersaing denganku dapatkan dirimu?"
Archilles Lucca Mende****, Nona Arumi salah pahami bahasa Itzik Damian. Archilles Lucca menggapai pinggang Nona Arumi, bawa si gadis berlindung ke belakang tubuhnya.
"Aku masih normal, Nona."
"Bagaimana aku bisa tahu kamu lurus atau bercabang, Archilles?"
Tidakkah Nona Arumi pikirkan dulu setiap perkataannya sebelum meletus keluar begitu saja?
Kita bisa ajarkan dia, Lucca!
Mengapa kau kembali?
"Kebodohan yang sangat manis," keluh Itzik Damian mendekat sedang Archilles mundur dengan Arumi melekat di punggungnya.
"Aku dan Archilles Lucca hanya menyukaimu, Arumi Chavez," ungkap Itzik Damian. "Terlebih aku, penggemar beratmu."
"Oh, jika kamu menyukaiku, aku bisa berikan tanda tanganku, kita bisa foto bersama dan kamu bisa bergabung di fanpage-ku. Aktif saja di sana, kita selalu bagikan gift di akhir pekan. Kamu akan bertemu sesama penggemar dan berkenalan."
Itzik Damian kebingungan meski tak tunjukan terang-terangan.
"Jika kamu dan penggemar lain kebetulan cocok, berkencan bahkan menikah, aku akan hadir sebagai sponsor. Tak perlu mengejar-ngejar aku! Itu buatku terganggu. Kamu bisa diadukan ke pihak berwajib karena melanggar privasi."
"Itzik, kamu dengar sendirikan?" Archilles Lucca benar-benar tersenyum geli sedang mereka dalam posisi genting. Nona Arumi Chavez malah rekomendasikan Itzik join dalam fanpagenya.
"Maksudku aku jatuh cinta padamu, Arumi Chavez. Aku akan habisi Archilles Lucca sambil kamu melihat. Lalu, kita bisa pergi bersama," tawar Itzik Damian paksakan iman dan kepercayaan anehnya pada Arumi.
"Em, jika pacarku ada di sini, Ethan Sanchez akan lepaskan lencana 'Idiot' dariku dan sematkan padamu."
"Oh, kamu punya pacar, tetapi kamu berselingkuh dengan pengawalmu."
"Presiden dan Perdana menteri selalu bersama pengawal mereka, apakah mereka berselingkuh?" tanya Arumi Chavez. "Lalu, jika tidak bersama asisten dan pengawalku, aku harus bersama siapa?"
Itzik Damian mengambil senjatanya, menodong. Mungkin pening hadapi Arumi Chavez.
"Waktu bercandanya selesai," ujar Itzik sedikit bernada sementara Arumi telah terjebak antara pantry dan Archilles Lucca.
"Kita bisa bicara di luar, Itzik. Urusanmu denganku! Kita akan berjalan keluar lewat pintu!"
"Bye ..., Lucca ...," lambai Itzik hendak menekan pelatuk ketika Arumi Chavez meraih teflon panggangan pergi ke depan Archilles dengan berani mengangkat benda itu sangat cepat ayunkan pada Itzik.
"Berhenti mengganggu orang lain!" serang Arumi seolah pistol Itzik Damian hanya pistol mainan.
"Nona?!" seru Archilles panik.
Itzik Damian mundur menjauh terlihat takut pada bo*****ng teflon yang sedikit hitam.
"Uh?!" Arumi Chavez takjub, perhatikan teflon lalu Itzik Damian. "Kamu takut pada ini?" Arumi Chavez mendekat lambaikan benda di tangannya cuma pastikan dugaan, nyatanya Itzik Damian menghindar. Mata bergerak-gerak awasi panggangan ikan yang sedikit kehitaman.
"Oh ..., aku mengerti kini. Apa kulitmu susah digosok apabila terkena arang?" Arumi Chavez tiba-tiba pintar, menerka asal-asalan tetapi rupanya benar.
Itzik Damian mundur jauhi panggangan teflon hingga menuju pintu keluar.
Archilles Lucca, sunggingkan senyuman geli. Bagaimana bisa ia sangat bahagia menonton atraksi di depannya? Bagaimana bisa situasi ini terlihat bak drama komedi? Nona Arumi bergairah mengganggu Itzik. Teflon vs senjata.
Lucca, gadis kita luar biasa langka!
Oh ya Tuhan. Akankah ada lagi yang lebih konyol dari ini? Terlebih Archilles tahu kini kelemahan Itzik Damian. Yang benar saja?
BRAK!!!
Pintu serta merta terbuka kasar menghantam Itzik Damian.
Banyak sekali gangguan hari ini ya, Lucca?! Padahal kita mungkin telah membungkus tangan halus Nona Arumi pegangi mixer dan mengaduk adonan tartde de Limãu ..., kau tahu ..., hingga berbuih dan berjejak.
Bukannya kau telah kutinggalkan di neraka? Mengapa kembali?
Mata polos Nona Arumi saat menatapmu keluarkan aku dari neraka!
Axel Anthony gunakan satu kaki menendang Itzik Damian. Tatapan khas Axel Anthony cukup sebagai pesan jika pria itu sedang kesal. Sedikit perlawanan tetapi Itzik Damian langsung rubuh. Jelas saja, Axel Anthony bukan tandingan si Bocah Putih.
Lucky Luciano muncul di belakang Axel Anthony.
"Lucky? Kamu di sini?" tanya Arumi Chavez tak berhenti heran. "Apa kita mengirim undangan makan siang, Archilles?"
"Arumi Chavez ..., adikku tersayang. Aku harusnya bertanya, mengapa kamu di sini menghirup udara pantai di saat jam pelajaran sedang berlangsung?"
"Emmm ..., jawab dulu aku, bagaimana bisa kamu ada di sini?"
"Kami mengikutinya sejak dari Rumah Sakit," sahut Lucky Luciano tersenyum masam. Pukuli Itzik Damian dengan topi, satu tumbukan mematikan di tengkuk Itzik, pria itu pingsan. Langkah cepat dan tegas. Tangan Lucky cekatan mengikat Itzik Damian di sebuah kursi hingga pria putih itu tak bisa bergerak sama sekali. Letakan Itzik di tengah-tengah dapur.
"Apa yang terjadi?" tanya Archilles Lucca.
"Anna Marylin menghilang hampir seminggu." Axel Anthony terdengar penuh murka dan dendam.
"Menghilang?"
"Hedgar menikahinya," jawab Lucky Luciano.
"Menikahinya?" Archilles Lucca membeo, keheranan. "Anna menikahi Hedgar? Apa itu mungkin terjadi?"
"Hedgar tak terpantau di manapun. Kami harus temukan Anna Marylin dan tahu keadaannya."
"Anna Marylin pandai menjaga diri," ujar Archilles Lucca.
"Kita tetap perlu tahu keberadaannya," balas Axel Anthony tajam. "Nona Arumi ...," sapa Axel Anthony.
"Ya ya, Tuan Axel."
"Tolong bantu Lucky awasi pria ini. Aku perlu bicara hal penting dengan Archilles Lucca!"
"Baiklah! Tinggalkan saja dia denganku, em, aku akan menjaganya." Arumi Chavez pegangi teflon kuat. "Kau juga bisa pergi, Kak!" usir Arumi Chavez percaya diri.
Lucky Luciano tersenyum kecilkan mata-matanya. Wajah Lucky sangat unik. Miliki satu legong cukup dalam di salah satu pipinya hingga saat pria itu mengurai senyuman, wajahnya ciptakan efek dramatis. Saking tampannya pria ini, dia menjadi salah satu playboy paling tenar di kota. Dijuluki badboy sejati. Karirnya tamat begitu terkena racun cinta Reinha Durante. Pria ini sekarang berubah budak cinta pada istrinya yang muda belia.
Lucky Luciano dan adik perempuannya termasuk orang terdekat keluarganya, jalankan bisnis bersama Ibu dan Aunty Sunny dalam sebuah organisasi. Arumi tak begitu paham. Intinya, Lucky seperti kakak laki-laki baginya. Mereka sering bertarung dalam game battle. Masa-masa indah yang telah habis masanya sisakan kenangan.
"Arumi, kamu tak pergi ke sekolah?" tanya Lucky Luciano amati Arumi Chavez intens.
"Ya, gara-gara Mayat Hidup ini, aku telat ke sekolah."
"Ah, gara-gara dia?!"
"Ya, gara-gara dia!"
"Bilang saja, kamu absen karena ingin berduaan dengan Archilles Lucca," goda Lucky Luciano usil.
"Ais, Ais ..., kamu sendiri bagaimana? Apa Reinha Durante tahu kamu berkeliaran keliling kota menangkap penjahat sedang istrimu pergi ke sekolah?" tanya Arumi mencibir. "Kupegang ekor-mu, Kak!"
"Oh, jika sampai Reinha tahu, aku akan beritahu Ethan Sanchez kamu tidur mesra di bahu pengawalmu dalam bus. Lalu, merayu pria malang itu di lantai rumah pantai," balas Lucky Luciano tersenyum jahil.
Mulut Arumi Chavez terbuka lebar. Bola bisbol bisa lewat di sana. Matanya membeliak sedang Lucky Luciano tertawa kecil.
"Oh oh ya Tuhan, kamu buntuti si Mayat Hidup ini apa buntuti aku? Oh apa ini, aku tak percaya kau mengintip orang, Kak!" keluh Arumi Chavez gregetan pada kakak angkatnya itu.
"Jaga sikapmu, Nona! Jangan pacari seorang pria dan berikan harapan palsu pada pria lainnya. Itu berbahaya. Putuskan dulu Ethan Sanchez."
"Apa terlihat begitu?" keluh Arumi berpaling pada Archilles di luar rumah yang sedang bicara pada Tuan Axel Anthony. "Aku hanya ingin pria itu tinggal dan jangan menghilang."
"Kamu tahu, keinginanmu bahayakan Archilles Lucca. Ibumu selalu ingin mengusirnya pergi. Satu noda pada Archilles Lucca akan buatnya ditendang jauh darimu."
"Ibuku berubah, Lucky. Tak akan lakukan hal-hal kejam lagi. Ibu, takut kehilangan Aruhi."
"Aku berharap begitu, Arumi Chavez. Namun, kamu tahu bahwa Archilles Lucca selalu ingatkan Ibumu pada pengawalnya. Ebenn sangat baik dan perhatian, dewasa juga bijaksana. Pria itu tampan dan karismatik. Kita semua tahu, Ibumu trauma pada masa lalunya. Kamu tak akan mengulanginya."
"Aku tak akan biarkan sesuatu terjadi pada Archilles Lucca. Aku akan menjaganya."
"Baiklah! Aku titip dia ya!" angguk Lucky pada Itzik Damian. "Kami perlu rapat darurat! Ngomong-ngomong kamu tak undang kami makan siang."
"Kalau kamu ingin makan tempura hangus dan seafood mentah, aku bisa siapkan. Ada tuh di sana," sahut Arumi menunjuk dapur berantakan.
"Andaikan aku tahu, dia akan kejam padaku saat dia dewasa, aku biarkan saja dia tenggelam di lumpur pasir hidup saat usianya tujuh tahun."
"Oh ampuni aku. Pergilah rapat darurat, aku akan siapkan makan siang yang lezat. Tetapi, sebelumnya please nyalakan panggangan dan masukan seafood dalam nampan perahu itu ya! Aku masih jalankan tugas menjaga pria ini!"
Lucky Luciano berdecak, pergi ke belakang meja.
"Modus-mu banyak sekali ya? Bilang saja kamu tak tahu caranya."
Arumi cengengesan. "Terima kasih telah pengertian, Kak."
"Ini buatanmu?" tanya Lucky mencomot tempura dan mengunyah.
"Ya, sebelum gosong."
"Enak. Reinha Durante sangat suka ini."
"Reinha dan Claire Luciano berebutan Jhon Horta untuk jadi model mereka."
"Ya." Lucky tuangkan saos sambal dan saos tomat aduk-aduk, makan dengan lahap.
"Keduanya berebutan aku juga. Kamu tahu, Reinha menangkan Jhon Horta dari Claire."
"Em, adikku sibuk memikat Tuan Adelberth. Istriku pemenangnya. Aku bisa apa? Mengapa aku tak suka?"
"Jhon Horta bisa bikin wanita panas dingin. Kecuali ...."
"Istriku!" potong Lucky Luciano sangat yakin.
"Aku tidak yakin. Reinha selalu bergairah bicarakan Jhon Horta. Mereka rencanakan banyak hal bahkan berbicara dengan Jhon Horta di sekolah saat makan siang."
"Apa?!"
"Ya, aku mendengarnya."
"Apalagi yang kau dengar?" Lucky masih terus makan mencoba tak terganggu.
"Banyak. Jhon Horta punya permintaan khusus jika Reinha sanggupi, ia akan jadi model Dream Fashion. Kau tak tahu?" tanya Arumi Chavez senang lihat Lucky Luciano kebakaran.
Lucky Luciano berhenti makan, melipat kedua tangannya.
"Jangan main rahasia denganku, Arumi Chavez!"
"Tanya istrimu, ya Tuhan!"
"Reinha tak akan beritahu aku! Dia takut Double L (LL) menikung."
"Mungkin dia benar..Idenya selalu cemerlang dan kamu adalah saingan bisnis walaupun kamu suaminya."
"Arumi Chavez, mari buat kesepakatan." Lucky Luciano berubah serius.
"Apanya?"
"Caritahu apa yang dilakukan istriku bersama Jhon Horta. Kamu kan berpengalaman, kamu bisa menyusup saat mereka casting atau apalah. Kamu kan dekat dengan Reinha juga Jhon Horta."
"No, istrimu menakutkan. Aku tak akan berani. Reinha akan menarik lidahku dari tenggorokan. Aku tak mau. Sewa detektif saja! Lagipula, kalian kan suami istri. Nah, ini namanya selingkuh," kata Arumi panjang lebar. "Selingkuh hati," tambah Arumi.
"Gadis pintar!" bibir Lucky mancung. "Mau tidak, Arumi Chavez? Atau aku beritahu saja Ethan Sanchez, pacarnya bolos sekolah dan main-main dengan pengawalnya di rumah pantai. Saat kamu putus dengan Ethan Sanchez kamu akan segera temukan penyesalan. Pria itu luar biasa. Tak ada pria sehebat Ethan Sanchez kecuali kamu ingin habiskan hidupmu bersama Archilles Lucca. Aku menyukai Archilles, ingatkan kisah 'aku dan Reinha'."
Lucky Luciano memuja Srhan Sanchez setinggi langit tetapi lebih memilih sukai Archilles Lucca. Pria ambigu.
"Apa yang kamu bicarakan, Kak?"
"Soal Archilles, kelihatanya sulit, karena Ibumu akan menentang penuh. Sedangkan, Ethan mendapat dukungan penuh dari semua pihak."
Menggeleng tanpa sadar, Ibunya tak akan jahat pada Archilles tetapi Ibunya mungkin akan segera berhadapan dengan Nyonya Sanchez beserta kriteria wanita idaman dan ideal bagi Ethan Sanchez. Salsabila mungkin akan patah hati. Ibunya lahirkan matahari seindah Aruhi dan dirinya semirip Pluto.
"Kamu tak akan pancing-pancing Ethan dan berlebihan soal aku dan Archilles. Atau kamu bisa adukan saja, Ethan tak cemburuan sepertimu. Lagipula, aku tak berharap banyak."
"Masih kecil pandai sekali terdengar patah hati."
"Istrimu hanya berjarak dua tahun tahun dariku. Kamu nikahi gadis di bawah umur."
Lucky berdecak. "Pledoi yang bagus, Arumi chavez. Saranku untukmu, belajar yang rajin dan gapai mimpimu."
"Aku sedang berusaha keras. Aku ingin jadi artis dan taklukan dunia perfilman. Ethan akan pergi ke Universitas. Pria itu akan bersinar terang dan menarik perhatian banyak gadis. Aku tak akan mampu bersaing. Aku hanya akan bermain drama, dipuja dan dibully. Begitulah."
"Ayolah, jangan bersedih!"
"Apa yang akan kalian lakukan pada pria putih ini?"
"Jadikan dia kompas!" jawab Lucky Luciano enteng. "Jaga dia ya!" Melangkah ke pintu. "Aku tunggu kabar bagus darimu, Arumi."
"Apanya?"
"Soal tadi!"
"Oh, mengapa tak tanya saja langsung apda Reinha Durante atau pada Augusto, asisten istrimu."
"Reinha tak akan curiga padamu."
Lucky Luciano menjauh. Arumi tak tahu apa yang akan terjadi di masa depan, menatap keluar. Matanya terbentur pada pria yang sedang bicara pada Axel Anthony. Sepertinya sangat serius.
"Apa yang terjadi di masa depan pada semua orang terlebih apa yang akan terjadi padaku? Apakah aku akan melihat wajahku penuhi billboard kota? Sibuk pemotretan? Apakah aku bisa lulus sekolah?" tanya Arumi dalam hati.
Terkejut dapati Archilles Lucca berpaling padanya. Tatapan mata mereka bertemu, seakan menjawab panggilan hatinya. Archilles Lucca tersenyum tentram-kan pikirannya.
"Semua akan baik-baik saja, Nona. Jangan cemas."
***
Tinggalkan komentar paragraf untuk mendongkrak popularitas novel ini. Kalau ini aku hanya andalkan readers. Caranya tahu kan, pencet lama di pragraf dan tinggalkan komentarmu di sana.
Where is Anna Marylin?! Apa yang dilakukan Hedgar pada Anna?!
So so creepy.😱😱😱😱😱😱