
Tidak ingin larut dalam kegelisahan tanpa ujung, Arumi Chavez menuju kantor Nyonya Brelda Laura Moon. Mereka akan tentukan wardrobe kebutuhan syuting selama di Paris. Bittersweet Married 2, memuat 12 episode berdurasi satu jam tayang.
Tuan Miguel Paulo juga akan ada di sana bersama Penelope Jhonson. Media mengendus cinta lokasi berujung skandal di antara seniornya. Atau ..., ini hanya sekedar gosip dalam rangka blow up drama musim kedua mereka. Arumi abaikan. Secara epik, Bittersweet Married telah mendongkrak popularitasnya sendiri tanpa perlu promosi berlebihan. Apalagi hembuskan skandal.
Lampu-lampu malam kota dinyalakan. Meskipun Desember, tak ada pohon Natal di hari-hari muda dalam Minggu kedua. Saat ia kembali nanti akan disambut gemerlapan lampu dari dekorasi menjelang perayaan yang hiasi sisi-sisi jalanan kota. Terlebih akan ada satu yang paling tinggi dan besar menjulang di Praça do Rossio.
Membaca naskah. Serena akan memulai awal scene penuh intrik pada musim kedua. Menantang dan berjuang agar ayah tirinya kembali terpikat dan bersaing dengan Hana. Serena muda yang na'if akan kehilangan satu-satunya cinta platonik dalam hidupnya. Hana, wanita yang melahirkan dan membesarkannya.
Hempaskan napas panjang tak luput dari pengamatan Leona.
"Ada apa?" Leona melirik lewat spion.
"Ibuku rencanakan sesuatu. Mata Arumi tak lepas dari buku naskah.
"Begitukah?"
"Kita akan segera tahu."
Arumi Chavez akhirnya menyimpan naskah memilih larut pada keindahan menjelang malam sambil pikirannya berkelana kemana-mana.
Benarkah Young tahu di mana pria itu? Ponsel di tangannya berputar-putar. Wallpaper foto adalah dua tangan yang saling kaitkan jemari. Ia menghangat di dalam sana.
Setiap hari bangun pagi, ia punya pertanyaan yang sama; apa yang pria itu lakukan di sana? Pegangi kalung di leher dan rindu padanya walau tak segila sebelum mereka bertemu.
Beruntung mereka lekas sampai di gallery. Ia langsung disambut asisten Brelda dan menggiringnya ke ruangan khusus dalam kantor itu. Brelda Laura menyambutnya dan tak buang waktu memulai tour.
"Produknya sedang diperiksa ulang. Kita bisa lihat katalognya lebih dahulu."
"Kami akan makan malam bersama seluruh staf Hana setelah fashion event. Serena mulai trik menggoda ayah tirinya. Aku ingin folk laces di temptation scene pas dengan karakter Serena dan lace berenda akan membuatnya terlihat lugu sekaligus menggoda."
"Selera fashion-mu sangat bagus, Arumi. Aku juga siapkanmu, plaid skirt." Brelda Laura memujinya, menggeser layar tunjukan skirt merah kotak-kotak di atas lutut dengan atasan krem berkerah tinggi dan berlengan panjang bermotif polkadot cokelat tua dan nude.
"Ini bagus juga." Arumi memberitahu Brelda. "Tapi, bisakah pertimbangkan ini, Brelda?"
"Mari kita dengarkan."
"Kami akan lakukan adegan cheating di belakang Hana. Sepasang kekasih yang bergairah satu sama lain. Mungkin beberapa gerakan mengundang. Bisakah kamu bayangkan aku dalam scene itu?"
Brelda tercenung ke arah Arumi mungkin meréka adegan. Manggut sedikit.
"I got you, Baby." Jari lentik dijentik hingga berbunyi. Bingo. "Well, atasan krem tertutup ini akan buatmu lebih mudah gerah. Juga, saat kamu lakukan gerakan merayu, atasanmu akan kurangi kesan penggoda."
"Yes. Tak begitu bagus detilkan bahasa tubuhku."
"Baiklah. Mari kita tukar atasannya dan pilihkan untukmu yang lebih humble.
Mereka kemudian memilih beberapa dress lagi.
"Sisanya, aku minta padukan cute hipster."
"Diterima. Bagaimana dengan winter coat?"
"Aku percaya sepenuhnya padamu, Brelda."
Alih-alih memanggil Brelda, Nyonya, Arumi lebih suka memanggil namanya saja sebab Brelda Laura miliki wajah baby face untuk ukuran wanita 27 tahunan. Brelda miliki seorang putera sangat tampan bernama King Ethes yang mengidolakan Arumi.
Brelda dan Arumi menjalin pertemanan beda generasi yang solid dan kompak setelah bekerja sama dalam satu proyek.
"Mari kita selesaikan ini!"
Produk didorong ke dalam show room.
"Tadinya, aku pikir kita tak perlu repot-repot bawa wardrobe ke Paris. Aku mengunjungi kota paling fashionable di dunia ini terlebih menjelang akhir tahun."
"Sayangnya, outfit untuk Bittersweet Married datang dari Moon galeri sesuai kontrak kerja. Oleh sebab itu, kita hanya akan mengusung brand lokal dan perkenalkannya pada dunia. Apakah menurutmu buruk?" tanya Brelda minta pendapat.
"No. Sungguh. Aku akan sangat bangga padamu. Maaf apabila aku menyinggungmu. Pikiranku kerdil."
"Santai saja denganku, Sayang. Salju jarang turun belakangan di Paris. Jika sedang beruntung gadis cantik kita akan disapanya dan berlibur dalam Natal putih. Aku persiapkan sesuatu yang lebih basah dari musim dingin sebagai antisipasi. Hujan. Aku siapkan dirimu boot hujan, sepatu dengan kedap air, juga mantel lebih tebal dan hangat. Mungkin saja berguna."
"Terima kasih, aku menyukai boot hujannya, Brelda. Sangat keren."
"Yap. Sudah kuduga," angguk Brelda antusias. "Nah, sisanya telah di-packing oleh asistenku. Selamat menarik perhatian dunia."
"Apakah ..., kamu ingin sesuatu dari Paris, Brelda?"
"Aku akan ada di sana, Sayang, menjelang pagelaran akhir tahun."
"Aku bersemangat. Terima kasih telah siapkan aku segalanya. Sampaikan salam ku pada King Ethes."
"Oh, mari bergabung bersamaku dan Ethes di waktu senggang, Arumi. Kita bisa bersama nongkrong di suatu tempat dan menikmati bûche the noël."
"Ugh, aku tak sabar menunggu hari itu tiba. Sampai nanti, Brelda."
"Cinta Tuhan berserta-mu, Arumi Chavez. Good luck, Baby."
Arumi tinggalkan Moon Gallery menuju bandara kini. Molor sampai hampir satu jam sebelum akhirnya mereka tentukan lebih dari beberapa gaya outfit scene by scene.
"Leona ..., apakah menurutmu ..., aku perlu tahu di mana dia berada?"
Archilles antarkan ia pulang ke mansion. Mereka mengobrol di kandang kuda sambil menunggu Ibu kembali.
"Aorta adalah aku. Anda bisa curhat padanya setiap waktu. Anggap saja aku akan mendengarkanmu."
Hanya berbagi senyuman. Para asisten satu mansion mengintip mereka. Archilles memangkas rambutnya jadi jauh lebih rapi, dan kini berkaca mata. Dia menjelma jadi guru paling tampan satu benua.
Arumi menerka pikiran para asistennya. Semua orang seakan bisa prediksikan kisah mereka sebagai kisah jilid dua yang mungkin sad ending sebab Ibunya secara tegas melarang satu mansion bicarakan hubungan asmaranya dengan Archilles.
Kemudian setelah Ibunya kembali, Archilles segera terlibat pembicaraan serius dalam ruang kerja Ibu. Arumi Chavez sadari sikap Ibunya yang selalu ingin tunjukan pengaruh pada Archilles dengan cara paling halus, elegan tetapi mengandung sesuatu yang lebih berbahaya. Dan Archilles terlalu rendah diri untuk menentang. Jadi, Arumi mondar mandir selama 20 menit di depan ruangan Ibu berharap dipanggil masuk.
Lega ketika Archilles keluar dengan wajah 'tanpa masalah' yang selalu dipamerkan pria itu. Namun, saat mata mereka bertemu, hati Arumi sekonyong dihinggapi trenyuh dan sedih hingga setiap senyuman akan sebabkan ia menangis.
Ada sendu di mata almon itu, yang meskipun disembunyikan rapi tak bisa bohongi Arumi. Ia tak punya penjelasan detil tentang apa yang ia rasakan. Hanya satu kesimpulan. Ibunya telah mengintimidasi Archilles Lucca, pada hubungan mereka. Dan pria itu lagi-lagi tak masalah ditindas asalkan bisa bersamanya. Tampak menolak untuk menyerah pada perasaan dan cinta untuknya.
"Jaga dirimu."
"Kamu juga."
"Aku pergi! Sampai jumpa, Nona Arumi." Dan selanjutnya hati pria yang bicara 'aku mencintaimu' sampai pada Arumi.
Pria itu lambaikan tangan. Sesaat sebelum menghilang, mereka bertatapan dan berbagi senyuman perpisahan.
"Tidak harus. Aku yakin dia akan datang pada Anda saat rindukanmu, Nona." Leona menyadarkannya dari lamunan.
"Ya. Sesuatu sangat menggangguku. Aku tak tahu apa itu! Apa yang Ibuku lakukan di rumah sakit?"
"Coba bertanya pada Nyonya Salsa, Nona. Bukankah Anda perlu tahu kabar tentang Dandia juga?"
Arumi lantas menelpon Ibunya.
"Mom ..., apa yang terjadi? Mengapa Mom di rumah sakit bersama Dandia?"
"Hanya kebetulan yang merubah nasibku juga mungkin nasibmu, Arumi Chavez. Kami tak sengaja bertemu."
"Aku tak mengerti."
"Sungguh kabar buruk Dandia Sanchez mengidap kanker darah berdasarkan hasil pemeriksaan dokter. Alasan Dandia sering pingsan dan mimisan. Jika tidak diobati segalanya akan bertambah buruk."
"Apa Ethan Sanchez tahu?"
"Ya. Ethan tahu."
Jelaskan mengapa pria itu terlihat lebih murung dan tampak kurus? Arumi mengerang. Pasti sulit bagi Ethan.
"Ethan tak berdaya sebab Nyonya Sanchez telah kembalikan semua uang tabungan anak malang itu selama menjadi gurumu pada kita. Termasuk sewa jasa ketika jadi penjagamu."
Arumi tahu jumlahnya sangat besar. Aunty Sunny berikan Ethan banyak uang sebagai imbalan selamatkannya dari Dev dalam bentuk deposit yang sama sekali tak disentuh Ethan menurut Aunty Sunny. Mereka belum pacaran kala itu.
"Kami bersama di rumah sakit. Ethan cukup terbuka padaku. Pengobatan Dandia butuh biaya yang sangat besar. Meskipun keluarga Nyonya Sanchez miliki uang, tak akan sampai benar-benar tuntaskan pengobatan hingga Dandia sembuh."
Arumi menahan napas. "Apakah ada yang bisa kita lakukan Mom untuk menolong Dandia tanpa menyinggung hati Nyonya Sanchez? Aku dan Dandia, kami saling pengertian."
Wajah riang Dandia Sanchez bermain di pelupuk mata.
"Aku telah lakukan sesuatu. Nyonya Sanchez hanya harus menerima bantuanku demi keselamatan puterinya. Ia bisa terus pertahankan egonya dan kehilangan anaknya. Aku berikan solusi bagi Dandia. Kesempatan yang harus diputuskan Nyonya Sanchez."
Arumi dengarkan dalam gelisah. Untuk Dandia, Ethan Sanchez dan untuk dirinya sendiri. Walaupun nada ibunya terdengar prihatin dan berduka cita, Arumi Chavez dapati sedikit semangat ditiap helai napas ibunya. Arumi Chavez kehilangan arah dan tujuan. Ibunya inginkan sesuatu.
Pejamkan mata. Pikirannya kacau. Kakinya mengetuk lantai mobil.
"Ibuku tak akan menuntut imbalan apapun dari situasi rumit Nyonya Sanchez? Aku mohon jangan lakukan itu!"
Terlebih padaku! Tambah Arumi dalam hati.
"Anda tak akan mengambil keuntungan dari dukacita temanku, Mom."
"Bicaramu tidak-tidak, Arumi Chavez."
"Ibuku mungkin saja berencana menukar Ethan Sanchez untukku," balas Arumi langsung ke pusat masalah. "Please, jangan lakukan itu! Aku punya harga diri. Ibu tak akan mengemis pada Nyonya Sanchez untuk menerimaku."
Arumi akhirnya pergi ke sana.
"Pikiranmu sesat, Sayang."
"Andai aku tak kenal sifat ibuku."
"Fokus pada tujuanmu. Sedang kita hanya akan fokus pada kesembuhan Dandia. Bagaimanapun aku bersalah pada keluarga ini? Aku sedang menebus dosaku."
"Mengapa aku tak percaya pada Ibuku?" Arumi melirih.
"Kamu tak punya pilihan lain selain berpegang padaku."
"Maafkan aku ragukan-mu, Ibu. Aku beranjak dewasa dan aku memegang prinsipku sendiri."
"Sikapmu tidak adil bagi Ethan."
Arumi Chavez menyipit, kartu Ibunya terbongkar.
"Lalu, bagaimana menurut Ibu sikap yang adil? Aku tak bisa memaksa Ethan Sanchez. Aku coba bertahan tetapi Nyonya Sanchez tak inginkan aku. Bagaimana bisa Ibu mendukungku menyulitkan hubungan Ethan dan Nyonya Sanchez?"
"Kamu akan sadari bahwa pilihanmu saat ini tidak tepat. Ethan ...."
"Mom, please. Ethan telah akhiri segala hal di antara kami."
"Ethan bisa perbaiki. Aku masih melihat cintanya padamu. Kamu bisa kembali."
"Anda menakuti-ku, Mom! "
"Aku pernah melakukannya dulu. Membuat keputusan keliru. Merasa paling benar karena mabuk cinta dan tak dengarkan ayahku."
"Oh ayolah. Ibu perlu tahu, betapa aku muak pada kisah itu! Pada sikap gadis lima belas tahun yang bodoh dan kekanak-kanakan juga pada trauma Ibuku yang makin hari terlihat hanya semacam alasan untuk menentang kami."
"Arumi?! Apakah itu pantas diucapkan pada Ibumu?" serang Salsa tajam.
"Kami punya banyak kesempatan jika ingin kabur. Aku punya banyak uang yang tak bisa dicampuri siapapun bahkan Ibuku sendiri dan Archilles sangat bisa diandalkan untuk membawaku pergi. Kami bisa memulai hidup baru di suatu tempat, bersembunyi jauh dari Ibuku, mungkin tanpa jejak."
"Arumi ...."
"Mengapa kami tak memilih jalan yang mudah Ibu? Mengapa kami malah menyiksa diri?"
"Aku akan coba memahami-mu, Sayang."
"Tak perlu repot Ibu, Anda gagal pahami aku," kata Arumi menahan napas. "Aku bosan mengulang kalimat yang sama setiap kita berselisih. Aku tak sebodoh Salsabila dan pengendalian diri pengawalku jauh lebih baik dari pengawal Salsabila. Dia hanya pria yang tak akan menantang Ibuku sama sekali. Kami mungkin bertemu sesekali. Selebihnya, aku dan dia hanya akan jalani hidup. Mungkin bersama suatu waktu jika memang kami ditakdirkan bersama. Pegangi kata-kataku."
"Baiklah."
"Maafkan aku jika menyakitimu, Ibu."
"Kita akan saling camkan ucapan masing-masing dan tidak bertindak ceroboh. Kita akan saling bertanya sebelum membuat keputusan. Bukan begitu, Arumi Chavez?"
"Aku minta tolong jangan pernah tempatkan Ethan Sanchez di posisi, di mana pria itu merasa harus membalas budi pada kita. Anda akan melukai harga dirinya. Lebih baik tidak membantunya sama sekali daripada Ibu memberi dengan tangan kanan dan meminta sesuatu darinya dengan tangan kiri. Aku tak akan bisa maafkan ibu jika sampai terjadi."
Panggilan berakhir. Menatap nanar keluar kaca mobil pada jalanan malam.
"Sungguh menegangkan," kesah Leona.
"Aku tak begitu percaya pada niat Ibuku, Leona. Hatiku tak mudah diyakinkan."
"Anda hanya akan berpikir positif, Nona." Leona menghibur, sama tak yakinnya dengan Arumi.
"Ibuku selalu dapatkan apapun keinginannya. Apakah kami akan baik-baik saja? Ethan dan Archilles?"
"Anda tak punya apapun selain harapan semuanya baik-baik saja. Hanya saja ... boleh aku berpendapat tentang Nona dan Archilles?" tanya Leona.
"Uhhum."
"Archilles mencintai Anda tetapi tidak menaruh banyak harapan."
Arumi mengangkat dagu menatap Leona di kaca.
"Apakah dia meragukan aku? Apakah orang harus mengatakan 'aku mencintaimu' dulu baru cintanya dianggap sah?"
"Ini pendapat pribadiku, Nona. Maaf bila aku lancang. Anda mungkin masih bimbang pada perasaan Anda sendiri."
"Oh, itu tidak benar Leona. Andai kamu bisa gantikan aku rasakan apapun di dalam sini," tunjuk Arumi pada hatinya.
"Aku tak akan mau. Menonton Anda saja, kepalaku sakit. Aku akan percaya bahwa Archilles Lucca pahami isi hati Anda dengan sangat baik."
Arumi kemudian menyimpan gelisah dalam relung hati, memegang kalung di lehernya kuat-kuat.
"Apakah ..., mungkin dia beritahu kamu Leona, di mana dia mengajar?"
"Tidak, Nona. Aku tak tahu Archilles menjadi guru. Sedikit mencurigakan sebab ia tak hubungi nomerku juga nomer Anda sama sekali. Ibu Anda mungkin memantau aktivitas kita."
Arumi Chavez menimang apakah ia perlu menelpon Young Vincenti? Tidak. Mereka pasti akan bertemu nanti. Ia tak akan inginkan pria itu secara berlebihan.
Ini sungguh peperangan paling rumit dalam dirinya. Mengeluh sebab Arumi Chavez perlahan mulai termakan buju rayu Young Vincenti.
Segera menyerah terlebih, temannya yang berandalan bertingkah macam ahli nujum. Bicara di ujung sambungan saat ia pindahkan mode menjawab panggilan.
"Kamu pasti pikirkan aku!" tuduh Young Vincenti kumat garingnya.
"Apa aku yang menelponmu? Atau aku ditelpon olehmu, Young?"
"Suaramu sangat indah, Sayang. Stop basa-basi. Apa ..., kamu pikirkan tawaranku?"
"Berhenti berliku-liku, Young! Aku tak punya waktu ladenimu."
"Akan aku beritahumu!"
"Tak perlu."
"Lalu, mengapa menjawab panggilanku?"
"Aku lakukan kesalahan. Aku tutup sekarang! Bye!"
"Wait! Wait! Baiklah. Makan malam denganku sekembali-mu dari Paris."
"No."
"Kamu tentukan tempatnya, Nona. Asalkan tidak di Merkurius, kita bisa hangus terkena bunga api matahari."
"No."
"Ayolah, aku butuh bantuanmu ...."
Aibnya terkuak. Dasar berandalan.
"911 jika kamu kesulitan. Operatornya selalu siaga 24 jam."
"Hei..., Arumi Chavez! Setidaknya pikirkan aku sebagai sahabatmu!"
"Apa kamu dalam skandal? Alasanmu babak belur hari ini?"
"Ya. Seorang gadis mengejarku seakan aku pusat manisan di bumi dan pacarnya yang aneh mengajak pria satu sekolah menyerangku. Syukur aku masih bernapas."
"Bukan urusanku!"
"Ayolah, Sayang. Jika kamu bersedia, aku akan kirimkanmu foto sebuah tempat sangat indah juga satu akun seorang siswi sekolah menengah yang sepertinya jatuh cinta pada Pak Gurunya di kelas."
Arumi mengerut. Menjengkelkan karena ia termakan ocehan Young Vincenti. Mobil memasuki bandara. Mereka akan terbang 40 menit lagi.
"Yakin hatimu aman dan damai sementara para gadis sebaya kita mengincarnya, Arumi Chavez? Dia mungkin mengaku single man. Kamu perlu menyergapnya."
"Kau memang berandal sialan, Young Vincenti!"
"Masih tak tertarik? Ya sudah! Daaaaa!"
"Eh, tunggu!" Arumi Chavez duduk tegak. Ia berpikir akan menemui pria itu dan membuat kejutan setelah pulang dari Paris. Em, atau hanya sekedar ingin tahu dari media sosial gadis lain. Stalking? Mengintai? Entahlah. Lihat saja nanti.
"Lambat sekali pikiranmu berjalan?"
"Awas saja kalau kau sampai menipuku, Young."
***