My Guardian Angel (The Dust of Love)

My Guardian Angel (The Dust of Love)
Chapter 113. I Don't Want Lose You



Naik jet, kembali keesokan hari. Pagi-pagi buta tanpa sempat kunjungi Saint Marry Cathedral penuhi cita-cita Nyonya Sylvia.


Begadang semalaman pikirkan tema merayu Arumi Chavez, ia malah pusing sendiri. Menyerah akhirnya dengan pertanyaan yang sama; apa yang harus dilakukan agar Arumi Chavez berhenti marah padanya? Perlukah ceritakan kejadian sebenarnya? Apakah tidak akan jadi masalah nantinya?


"Kamu terlihat tidak sehat, Archilles Lucca?" tegur Elgio Durante amati pria di depannya yang kacau berantakan.


"Lebih bagus terkena peluru ketimbang tembakan pacarmu yang cemburu."


Elgio Durante tertawa kecil. "Kamu mungkin perlu minta pencerahan pada Lucky Luciano. Dia punya seribu satu cara untuk membujuk Enya. Dan selalu berhasil."


"Lucky Luciano terlalu romantis."


"Kamu bisa jadi muridnya," sahut Elgio Durante. "Setiap dia buka mulut setelah buat Enya kesal, secara ajaib adikku melompat ke pelukannya dan lupakan segala hal."


"Akan aku pertimbangkan."


"Pergilah tidur. Aku akan bangunkan-mu begitu kita sampai di Dubai."


Archilles mencari tempat tidur. Baringkan kepala di bantal berpikir untuk minum obat tidur saja.


"Tuan Maurizio dan Nyonya Nastya akan hadir untuk dampingi Nona Zefanya saat menerima piagam penghargaan murid berprestasi."


"Zefanya inginkan pacarku datang di hari bahagianya.


Archilles Lucca pejamkan mata.


"Apa Anda baik-baik saja?" tanya Agathias penuh perhatian.


"Ya, Agathias. Aku butuh tidur. Tolong tinggalkan aku sendiri."


"Baiklah, Tuan Muda."


"Archilles."


"Tuan Muda."


"Aku sungguhan akan muntah."


Entah berapa lama. Waktu berlalu begitu saja ketika kamu tidur nyenyak. Setengah hari lewat. Perjalanan panjang berakhir setelah berjam-jam melintasi separuh angkasa. Elgio ternyata harus mampir di Dubai untuk sebuah urusan.


Mereka berpisah setelah sampai di bandara negara, berjanji akan bertemu nanti malam. Di Durante Land.


"Reynaldo akan temani Anda. Jika butuh sesuatu beritahu padanya!"


Archilles menggeleng. "Bawa dia bersamamu, Agathias."


"Tolong kasihanilah kami," ujar Agathias Altair.


"Ayahku sedang sakit, Tuan Muda. Aku butuh pekerjaan ini," kata Reynaldo separuh membungkuk.


Oh ya Tuhan.


"Baiklah, ikut aku dengan satu syarat berhenti panggil aku Tuan Muda. Hanya Archilles."


"Bisakah Anda tidak keras kepala?" tegur Agathias. "Anda perlu sadari bahwa Anda adalah penguasa dari Càrvado. Anda butuh belajar sesuaikan diri dan aku mengkritik sikap Anda yang tak bisa bedakan rendah hati dan rendah diri. Kami perlu menjaga martabat Anda sebagai putera Tuan Maurizio, yang akan gantikan Ayah Anda. Kami tak bisa menyebut nama Anda sembarangan tanpa melukai hati Nyonya Nastya dan Tuan Maurizio."


Oh, Astaga. Apakah ini Minggu menjelang Hari Mengomel Sedunia?


"Baiklah, baiklah, lakukan saja apa maumu, Sobat! Okay?"


Agathias mengangguk pada Reynaldo suruh mengekor Archilles Lucca dan kabari apapun.


"Dengar! Kamu akan biarkan aku melihat isi pesanmu sebelum kirimkan pada orang tuaku!"


Reynaldo ingin menolak. Perintah yang ia dapatkan berbeda. "Baiklah." Tetap mengangguk.


"Aku tak suka pengkhianatan, Reynaldo. Kita bisa jadi teman."


"Baiklah."


"Pertama, pergi ke rumah nenekku dan temani adikku! Sore ini dia akan latihan di Taekwondo Center."


"Maafkan aku! Sebastian dan Luje telah ada di sana untuk mengawal Nona Zefanya."


Reynaldo tahu bahwa Archilles mencoba cara untuk menjauhinya.


"Pergilah ke toko bunga dan belilah banyak bunga."


"Bunga? Bunga apa saja?" tanya Reynaldo. "Aku takut salah."


"Mari pergi bersama."


Mampir ke toko bunga. Memesan banyak bunga yang akan dikirimkan ke Mansion Diomanta.


"Apa lagi?" tanya Archilles pada dirinya sendiri lalu tuliskan beberapa bahan yang ia butuhkan dan sodorkan pada Reynaldo.


"Tolong belikan aku ini dan bawakan ke mansion Diomanta. Beritahu jika kamu sampai. Tolong lewat jalur belakang."


"Baiklah."


Mereka berpisah. Reynaldo bawa mobil dan Archilles memilih naik trem ke halte terdekat dari mansion Diomanta. Tidak lupa belikan chicken stick. Setelahnya ia berjalan kaki menuju rumah kekasihnya.


Archilles sampai di Mansion disambut gembira Ayshe.


"Archilles, ya Tuhan, syukurlah kamu datang."


"Sepertinya hal buruk terjadi."


"Tepat sekali. Nona kami dalam hari-hari paling kacau. Tak ada yang tahu, apa gerangan? Nona marah-marah hampir tiap hari dan sejak kemarin dulu malam semakin parah saja. Berlanjut hingga pagi ini dan mungkin sampai seminggu lagi. Hanya Tuhan yang tahu."


"Em ..., baiklah. Ayshe, ada temanku, dia akan bergabung bersama kita. Tolong pergilah ke belakang nanti dan bantu dia bawakan bunga ke rumah pohon."


"Oh, apa dia pria?"


"Ya, namanya Reynaldo Santos. Dia jauh-jauh datang dari Càrvedo."


"Ya, baiklah."


Archilles Lucca pergi ke dalam mansion setelah ber-say Hallo dengan Alfredo Alvarez.


Nyonya Salsa dan suaminya di lantai bawah menonton ke atas. Seperti mengheningkan cipta. Namun, ekspresi Nyonya Salsa menahan mual dan jijik.


"Kamu, Brengsek, Tatiana! Mengapa diam saja? Jelaskan padaku? Apa yang kamu lakukan pada Eva?"


Astaga. Ada apa lagi?


Walaupun cuma hewan, apakah pertanda buruk? Meraih ponsel. Mengirim pesan pada Manuel Cesar.


💌 : Jangan biarkan Eva sendirian, Cesar!


Balasannya sangat cepat.


💌 : Jika cemas padanya! Datang dan bawa dia kemana-mana bersamamu, Guru. Aku bukan penjaga Eva Romero.


Bocah sialan memang.


"Tuan Chavez, apa yang sedang terjadi di sini?" tanya Archilles pelan. Suara ocehan Arumi terdengar jelas.


"Oh, Archilles, kamu di sini?"


"Apa kamu lakukan sesuatu padanya? Tingkahnya aneh sepanjang hampir dua Minggu dan aku pikir ini adalah puncak derita kami." Nyonya Salsa setidaknya lepaskan napas lega menyambut kedatangannya. Tak lebih dari itu. Tak ada raut, 'senang melihatmu' seperti ketika melihat Ethan Sanchez.


Ya apa yang dia harapkan?


"Aku akan mengurusnya!"


"Katakan pada Arumi, umurku semakin pendek."


"Salsa, ayolah jangan berlebihan!"


"Aku tak begitu senang ada banyak hewan di rumah yang tak bisa ditertibkan. Aku cukup tertekan hidup menonton seekor kucing yang berkeliaran ke sana kemari mengejar tikus." Nyonya Salsa mengurut kepalanya.


"Archilles di sini, kita bisa pergi keluar sejenak," usul Tuan Chavez. "Mari pergi!"


Tuan Chavez lebih dahulu melangkah, istrinya ikut dari belakang.


"Kamu tidak makan cukup dan terus-menerus muntah. Apakah kita perlu pergi ke dokter?" tanya Tuan James Chavez, tidak terdengar perhatian tetapi bukan juga basa-basi.


"Aku tak pernah bertemu tikus seumur hidupku. Hidup dengan hewan itu membuatku mual sepanjang waktu. Oh ya Tuhan, bagaimana bisa Arumi tidur dengan hewan menjijikan itu!"


"Binatang itu sudah mati, Salsa."


"Caranya hidup dan caranya mati buatku ingin mun ...."


Salsa Diomanta membungkam mulutnya dan berlari masuk ke ruang tidur. Archilles pergi ke ruang atas. Dua asisten bersiap dengan vacuum cleaner, pembersih udara dan perlengkapan bersih-bersih lainnya.


"Pergilah, aku akan mengurusnya."


Mengetuk pintu ruang tidur lalu mendorong pintu. Pemandangan di dalam berbeda jauh dari terkahir kali yang ia lihat.


Arumi Chavez di atas ranjang, Itzik Damian si anjing di belakang majikannya sedang di depan Arumi Chavez, si kucing, Tatiana terikat dua tangan dan kakinya menunduk seakan sedang menerima ceramah.


"Nona ..., aku datang."


"Lewat dari 24 jam Archilles Lucca. Kita putus," jawab Arumi Chavez tanpa menoleh sekejab-pun dari si kucing. "Itzik, gigit dia!" perintah Arumi Chavez.


Si Itzik menyalak dan melompat ke lantai berlari padanya. Anjing putih sedikit hitam meloncat, lebarkan mulut perlihatkan gigi-gigi tajam dan akan menerkamnya.


"Chicken stick time," kata Archilles lemparkan dua tiga chicken stik. Telak ke dalam mulut si anjing. Ia goyangkan satu bungkus camilan. Itzik menyalak. "Bagi aku!" Yang paling liarpun akan lemah menghirup aroma lezat ayam.


Arumi Chavez melongo.


"Itzik?!" hardik Arumi jengkel tetapi Itzik lebih suka chicken stick. Tak peduli pada Tuannya. Berputar seakan ingin bilang. "Ayolah ini enak! Aku perlu makan!" Arumi Chavez menggeram.


Archilles mengusap kepala Itzik.


"Menggemaskan. Kamu mau lagi?"


"Itzik?!" Arumi Chavez tak percaya si anjing mudah berkhianat. "Bahkan terang-terang tertangkap tangan menerima suap?"


"Nah, tolong pergilah! Aku perlu bertemu pacarku! Terima kasih sudah menjaganya!" kata Archilles lagi berikan lebih banyak stick sebelum mendorong Itzik keluar.


"Anda serius ingin putus?"


Arumi Chavez menoleh padanya. Kembali pada Tatiana.


"Apa dia lakukan kesalahan?"


"Bukan urusanmu!"


"Baiklah, aku pergi saja. Mari kita putus seperti mau Anda. Mungkin Anda akan bersama seseorang yang pantas."


Archilles berbalik pergi ke pintu memancing reaksi pacarnya. Sayang sekali, Arumi Chavez tak menggubris. Archilles serba salah memutuskan tidak jadi pergi. Semarah itukah? Ia menunggui di sisi pintu dicuekin Arumi Chavez.


Archilles akan mengingat, hal paling buat Arumi Chavez marah adalah saat ia coba-coba didekati atau bersama gadis lain.


"Tatiana, di mana Eva?" tanya Arumi Chavez menahan kesal.


Archilles berdecak.


Si kucing duduk dengan anggun hanya membungkuk, kibaskan ekor lunglai dan mengeong pelan. Seolah menjawab, 'aku tidak tahu yang mulia, Nona Arumi'.


"Apa dia di dalam sini?" tunjuk Arumi Chavez ke dalam perut besar Tatiana. "Kau memakan temanmu sendiri? Aku benar-benar sedang marah. Beritahu aku, apa kamu membunuh Eva dan mencabik-cabik tubuhnya? Lalu menelannya? Beri aku kesabaran. Setidaknya kamu perlu menghargai temanmu. Astaga. Eva tinggal dalam sepatu pengawalku dan tidak mengganggumu, mengapa kau membunuhnya?" Arumi Chavez marahi Tatiana.


Kematian Eva alasan Nyonya Salsa muntah-muntah. Nona Arumi tidur dengan kucing, anjing dan tikus?


Archilles Lucca meringis. Ia mendongak dan temukan satu display khusus menggantung jas, kemeja, celana pengawalnya dan di bagian bawah ada sepatu hitamnya. Jadi, Eva tinggal dalam sepatunya?


"Baiklah, aku pergi!"


Archilles Lucca melihat tak ada yang bisa ia lakukan. Bertemu dengan Nyonya dan Tuan Chavez yang sudah necis.


"Kamu akan di sini, kan?" tanya Nyonya Salsa.


"Ya, Nyonya."


"Berapa lama kamu akan tinggal?"


"Mungkin dua hari."


"Baiklah, sampai jumpa nanti malam. Tolong jangan telat datang ke acara."


Nyonya Salsa Diomanta sepertinya belum dapat kabar apapun. Atau Perdana Menteri akan membuat kejutan.


"Semoga hari Anda berdua menyenangkan."


"Sampai nanti, Anak Muda."


Archilles pergi ke kandang kuda. Bertemu Aorta dan Vena lalu menunggangi Aorta pergi ke rumah pohon. Bekerja seharian mengecat rumah pohon dengan cat mudah kering sedang Reinaldo dan Ayshe membuat taman.


Menjelang siang, mereka kembali. Pergi ke kamar tidur. Tatiana dimandikan oleh salah seorang asisten. Gadisnya tidur. Tentu saja energinya terbuang percuma karena sibuk mengomel dan marah-marah. Terlebih menurut Ayshe, Nona Arumi bergentayangan dua malam berturut-turut.


Masuk ke dalam kamar Tuan Puteri, Archilles mendorong pelan mesin pembersih udara. Di luar tidak cerah tetapi tidak gelap. Nyalakan benda itu lalu gunakan vacuum cleaner bersihkan lantai dari bulu Itzik dan Tatiana. Hampir jam makan siang. Ia pergi ke ranjang. Duduk di sisi gadis yang berbaring.


"Nona ..., Anda akan terus tidur?"


Tak ada sahutan. Ia tak bisa beritahu Arumi Chavez apa yang sedang ia lakukan dan mengapa ia selalu bersama Tatiana karena yakin dampaknya lebih buruk. Olehnya ia diam.


Archilles putuskan memasak untuk pacarnya. Menanak nasi dalam kaldu dan tambahkan bumbu. Ia lalu memasak paha ayam dalam banyak bumbu dan rempah. Merendamnya dalam cola, lada dan bubuk garlic. Setelahnya dipanggang. Ia juga siapkan salad hijau. Kroket, keripik. Terakhir membuat Mousse cokelat. Aromanya pergi kemana-mana.


"Ayshe ..., pastikan Nona Arumi makan siang. Aku akan kembali lanjutkan kerjaanku." Archilles mengisi kotak-kotak makan lalu keluar dari dapur. Mengintip sedikit ketika mendengar suara Arumi Chavez.


"Ayshe, aku menghirup aroma yang membuat perutku ciptakan musiknya sendiri ...."


"Ya, ini memang terlihat sangat lezat, Nona. Mari makan?"


Arumi Chavez celingak-celinguk.


"A ... pa Archilles Lucca benaran pergi?" tanya Arumi melongok ke kandang kuda. "Ya sudah, biarkan saja."


Ayshe belum sempat menjawab. Arumi Chavez merengus lebarkan serbet.


"Owh, aku akan makan semua ayam ini dan lupakan Archilles Lucca."


"Memang bisa?"


"Sampai kamu tahu kalau dia adalah pria tukang tebar pesona, kamu akan berhenti mendukungnya."


"Pria seperti Archilles, Tuan Elgio, Tuan Lucky dan mantan pacar Anda miliki pesona mereka sejak lahir. Namanya berkat. Sama seperti Anda. Aku yakin Archilles hanya mencintai Anda. Saat aku bersihkan mes Archilles, aku menemukan buku di kamarnya. Ia menulis kata-kata manis di sana untuk Anda. Oh, aku sangat terharu. Aku ingin tunjukan pada Anda tetapi mood Anda sedang buruk."


"Benarkah? Kapan kamu menemukan tulisan itu?"


"Seminggu lalu. Aku harap Anda berdua selalu berbahagia. Sore nanti aku akan bantu Anda bersiap-siap hadiri pesta di Durante Land."


"Aku perlu beli sesuatu untuk kakak iparku."


"Jam tangan? Dasi?"


"Ya, bisakah belikan untukku Ayshe?"


"Baiklah, Nona. Akan aku siapkan."


"Hubungi Brelda Laura dan minta rekomendasi darinya Aishe."


"Baiklah, Nona."


"Pesankan dua. Oh, tolong tanyakan, apakah ada jam tangan couple? Belikan juga. Kakakku mungkin akan senang."


Gadis itu makan dengan lahap. Archilles melihatnya. Diam-diam tinggalkan mansion kembali ke rumah pohon. Reynaldo di sana, mereka makan siang berdua lalu lanjutkan pekerjaannya sampai sore.


Ia kembali ke mansion setelah pekerjaan beres dan bersiap-siap. Ia menunggu gadisnya di depan pintu. Walaupun tahu hasilnya akan mencengangkan tetap saja ia seakan baru pertama kali bertemu Arumi Chavez.


Tak ada gaun yang menggoda. Nona Arumi memakai dress medium di bawah lutut, berlengan balon dan berwarna peach ke pink, benar-benar cute. Rambut model gelombang kecil dengan bando mutiara. Em, terlalu cantik.


"Anda sangat tidak nyata, Nona."


"Kamu masih di sini?"


"Aku akan berganti jas pengawalku. Anda mungkin inginkan pengawal Anda bukan pacar Anda." Archilles tersenyum lembut. "Maafkan aku karena buat Anda kesal. Aku akan perbaiki satu per satu."


Malam di Durante Land dipenuhi penghuni Durante yang sangat antusias. Walikota datang ditemani Puteri keduanya Adelaide Mendeleya yang miliki kemiripan fisik dengan sepupunya Pequeena. Semua orang berkumpul kecuali teman-teman introvert-nya. Mereka pasti sibuk menjaga wanita-wanita mereka.


Archilles Lucca bergabung bersama Lucky Luciano dan Francis Blanco. Abner Luiz paling sibuk menerima tamu begitu pula Nyomya Sylvia.


Perdana Menteri kemudian hadir. Kedatangan yang cukup menghebohkan. Terlebih, Benjamin Jacquemus datang bersama puteranya, Aleix Jacquemus.


Mata Archilles Lucca mengawasi. Jadi, benar kata Tatiana, Aleix tidak suka pesta foya-foya Abercio. Alasan pria itu hadir malam ini. Atau, agenda mereka sedang dilaksanakan. Anggaplah ini perkenalan.


Archilles amati dari jauh ketika pemeran penting duduk di meja yang sama. Tak akan ada yang bisa paham pada ekspresi Nyonya Salsa. Tidak begitu ekspresif. Hanya menyimak percakapan Tuan James Chavez dan Benjamin yang tampak dekat. Lalu, bersama Jeremy Mendeleya berbincang dan tertawa. Nyonya Salsa sesekali ikutan kemudian lebih tertarik ketika Aleix bicara. Elgio Durante dan istrinya bergabung disusul Nyonya Sylvia.


Archilles Lucca terkejut saat pundaknya ditepuk pelan.


"Sesuatu menarik perhatianmu, Archilles Lucca?" Ethan Sanchez duduk di sebelahnya. Menyapa Lucky Luciano dan Francis Blanco.


"Ethan, apa kabarmu?"


"Apakah Aleix Jacquemus mengganggumu? Matamu tak berhenti menatap ke sana."


"Kamu sendirian?"


"Ya. Aku jomblo. Ingat? Mantan pacarku, pacarmu sekarang. Aha, di mana gadismu? Aku tak melihatnya berhari-hari."


"Di atas sana."


Archilles Lucca mengangguk dengan dagunya. Arumi Chavez di bagian yang lebih tinggi di depan piano.


"Selamat malam semua. Arumi Chavez di sini, akan mainkan sebuah lagu sebagai hadiah untuk kakak iparku tersayang. Semoga Elgio Durante dan Durante Land semakin berlimpah berkat Tuhan. Selamat menikmati."


Satu Durante sepertinya haters Arumi Chavez yang berbalik menjadi fans fanatik. Tentu saja mereka tak akan lupakan apa yang dilakukan Arumi Chavez di hari pernikahan kakak perempuannya sendiri. Suara riuh tepukan tangan untuk Arumi Chavez saat tangan menyentuh piano. Wajah tersorot cahaya, pancarkan kecantikan luar biasa.


"Harusnya aku tidak datang," keluh Ethan Sanchez.


"Bagaimana Dandia?" tanya Archilles.


"Sangat baik. Kita nanti akan bicarakan tentang Zefanya."


"Baiklah."


Mata Archilles tak lepaskan Arumi Chavez di pojok depan photoboots estetik, ladeni para fans minta foto. Tersenyum manis dan tak bisa menolak mereka.


Saking banyak orang di Durante Land kerubuti Arumi Chavez menarik perhatian Perdana Menteri. Yang lalu, kirimkan seseorang pengawal memanggil Arumi Chavez. Gadis itu menolak karena antriannya panjang. Perdana Menteri cukup sabar.


Tangan Archilles di atas meja genggam dan lepaskan membuat iramanya sendiri. Menarik perhatian Lucky Luciano dan Ethan Sanchez yang kemudian putuskan dalami situasi.


Arumi Chavez akhirnya pergi ke meja itu.


"Apa sesuatu terjadi, Bung?" tanya Lucky Luciano melihat ke Francis yang dibalas gelengan kecil. "Aku tak tahu apapun."


Terbaca jelas ketertarikan Benjamin Jacquemus pada Arumi Chavez. Sedang Aleix Jacquemus berkenalan seadanya. Pria itu setipe Elgio Durante. Menjaga sikap dan tingkah laku dari perbuatan tercela. Terlalu bermartabat berbanding dengan Abercio.


Tidak mungkin melamar seorang gadis di even orang lain kan? Batin Archilles Lucca. Nyonya Salsa tak akan khianati dirinya. Terlebih jika Nyonya Salsa pertimbangkan apa yang mereka lakukan pada Nona Arumi di Desember. Ia akan selesaikan urusannya dan menikahi Arumi Chavez.


Fandango dimulai. Sementara Benjamin mengobrol. Aleix Jacquemus bertanya, apakah Arumi Chavez ingin bergabung dengannya?


Arumi Chavez tak mungkin menolak karena Aleix bukan memintanya menikah.


"Apakah ini, bug? Kejadian berulang? Gadis bergaun pink pergi ke tengah pesta tarian dengan seseorang dan pria lainnya cemburu? Sekali ini, Arumi Chavez membuat dua orang pria cemburu secara bersamaan." Lucky Luciano jahili Archilles Lucca dan Ethan Sanchez. "Bagaimana rasanya?" tanyanya ingin tahu.


"Giliranmu akan tiba," sahut Ethan Sanchez balas mengejek.


Lucky Lucinao terdiam ketika istrinya dibawa pergi oleh seorang pria yang datang bersama perdana menteri.


Ethan Sanchez berdecak. "Bagaimana rasanya, Lucky Luciano? Beritahu aku! Betapa cantiknya Reinha Durante dan pria itu akan pingsan saking terpesona pada istrimu."


"Mereka hanya berdansa."


"Akh, ya, biarkan istrimu rasakan sentuhan pria lain. Menontonlah dengan nyaman, Bung. Termasuk saat tangan menarik istrimu semakin rapat. Tanpa celah, tanpa jarak. Dalam radius ini, hasil gesekan sebabkan pria normal dialiri arus listrik. Reaksi kimia hantarkan kehangatan ke seluruh jaringan saraf. Otak akan memproses apa yang dipindai pupil mata. Cantik, muda, berkilau, h00t. Biarkan ia naik mobilnya pulang bawa bayangan Reinha Durante di tengkorak kepalanya. G41r4h akan membantingnya di tempat tidur. Boom!"


"Kau sialan, Ethan Sanchez!" umpat Lucky Luciano menggeram jengkel.


"Lain kali, lihat musuhmu sebelum menyerang!"


"Tuhan, buat dia jomblo selamanya!"


"Doamu tak terkabul, sayang sekali. Aku punya jodoh sejak dia masih jabang bayi."


Archilles Lucca tak masuk dalam peperangan vokal teman-temannya. Bangkit berdiri.


"Aku butuh udara segar."


Pergi dari sana ke sisi Mansion bagian barat di mana suasana lebih gelap di sana setelah minta rokok dari pelayan pria yang ia lihat.


Berdiri menatap lampu taman. Renggangkan dasi. Selipkan rokok, membuka tutupan pemantik. Angin cukup kencang, menutup dengan tangan kiri agar rokok bisa tersulut. Tangan tidak sempurna menghambat usahanya. Angin masuk lewat sana.


Setelah berhasil ia m3ngh1s44p rokok kuat-kuat. Ia tak seberani Ethan Sanchez menyeruak di antara kerumunan dan membawa gadisnya pergi. Sekalipun ia punya hak.


"Archilles? Apa yang kamu lakukan di sini?"


Archilles berbalik, temukan Arumi Chavez tak jauh darinya.


"Bukankah pestanya baru dimulai, Nona Arumi?"


"Em, kakiku terinjak dan terluka."


Archilles Lucca matikan rokok, lemparkan ke tempat sampah. Melangkah cepat pada Arumi Chavez. Berjongkok dengan satu kaki dan periksa.


Arumi Chavez ikut-ikutan berjongkok. Archilles Lucca dapati gadisnya berbohong. Baru saja akan bertanya, Arumi menyentuh bibirnya sangat lembut. Aroma mocca bibir kekasih seperti jerat.


"Nona ...."


"Mengapa pergi? Aku ingin lepaskan sepatuku dan berdansa denganmu seperti terakhir kali." Mata Arumi Chavez berbinar dalam keremangan. Kecantikan memabukkan. Adapula cinta yang bikin hati menggigil.


"Aku punya sesuatu untukmu, Nona Arumi Chavez. Maukah ikut denganku sekarang?"


"Hanya setelah aku berdansa bersamamu, malaikat penjagaku."


***