My Guardian Angel (The Dust of Love)

My Guardian Angel (The Dust of Love)
Chapter 35. My Sweet Bodyguard



Mata-mata Arumi Chavez terbuka. Di ujung tatapan, Archilles Lucca berjaga-jaga. Pengawalnya tanpa atasan. Arumi buru-buru menghirup udara. Ajaib, pening di kepalanya menguap berganti sedikit berwarna.


"Jelas saja si perawat meraba-raba tubuhmu!" guman Arumi Chavez. "Perutmu bisa bikin wanita normal gagal jantung."


"Nona, Anda sudah sadar? Apa Anda mengatakan sesuatu?" tanya Archilles Lucca dapati Arumi Chavez komat-kamit separuh kedap-kedip.


"Archilles ...." Kelabakan. "Oh ..., berapa lama aku tidur? Aku bisa telat ke sekolah!" Mendadak bangkit, pegangi kepalanya, masih agak nyeri.


"Anda tak perlu ke sekolah hari ini, Nona."


"Aku ingin bolos sekolah. Menyenangkan bisa refreshing di suatu tempat. Syuting nanti sore lumayan menyita energi. Sayangnya, aku ada pre test materi sejarah dunia di jam ketiga."


"Anda harus istirahat kecuali Anda berhenti pusing?"


"Ya ya, aku baik-baik saja," angguk Arumi. "Ditambah melihatmu bikin mataku bertambah jernih!"


"Apa yang baru saja Anda katakan?"


"Tidak ada. Syukurlah saluran kupingmu tersumbat," sahut Arumi Chavez pelan. Menatap pada Archilles. "Apakah punggungmu bermasalah lagi?" tanya Arumi waspada.


Dokter Daphne di belakang Archilles pegangi kasa juga gunting, alasan Archilles tanpa atasan. Meskipun dibalik masker, sudut-sudut mata Dokter Daphne dipenuhi kerutan. Kentara menahan senyuman.


"Sedikit. Aku bisa pulang tetapi harus tetap datang kontrol tiap beberapa hari dan mengganti perban."


"Oh, baiklah. Aku rasa kamu tak aman di sini. Lebih baik kamu bersamaku selalu. By the way, siapa makhluk hidup tadi, Archilles? Apa dia datang dari dunia lain?"


Archilles Lucca berdecak.


"Apakah Anda mungkin pelajari tentang Albinisme?"


"Oh ya ya, Albino?"


"Em ya, semacam itu."


"Beberapa teman modelku Albino tetapi tak begitu menakutkan seperti Si Mayat Hidup tadi."


"Anda takut padanya?"


"Tidak pada akhirnya. Apa kau tak merasa aku konyol? Aku menyembah pada Si Mayat Hidup, ya Tuhan, Archilles. Apa aku mulai sesat?"


"Nona, tadi itu tak di sengaja." Archilles Lucca menahan tawa.


"Apa yang dia inginkan?"


"Aku tak tahu."


"Apa senjata miliknya asli?"


"Jangan kuatir, Nona. Semuanya berakhir."


"Oh, jangan bodohi aku, Archilles. Mayat Hidup jelas katakan dia akan kembali."


"Aku akan membunuhnya segera," jawab Archilles Lucca tenang.


"No, jangan pegang senjata lagi. Aku mulai muak melihat benda itu!"


Mereka keluar dari rumah sakit setengah jam kemudian ber-atribut lengkap; mulai dari topi, masker, kaca mata, langsung masuk ke dalam mobil.


"Mari antarkan Nona Arumi ke sekolah! Lebih baik telat daripada tidak sama sekali."


"Tadi ..., katamu aku harus istirahat," protes Arumi cepat.


"Bukankah Anda sudah tidak pusing lagi? Anda juga ada pre-test Sejarah Dunia?"


"Aku telah telat ke sekolah lebih dari sejam. Sebaiknya aku minta pre tes susulan."


"Memangnya bisa, Nona?"


Arumi menyengir. "Akan aku coba. Lagipula, apa alasan yang akan aku berikan pada guruku?"


"Cek kesehatan-kan bisa, Nona."


"Harus ada surat keterangan Dokter."


"Aku bisa minta Dokter Daphne buatkan untuk Anda."


"Aku ingin bolos, please. Sekali saja. Jadwal syuting-ku dimulai sejak sore nanti hingga minggu. Biarkan aku bersenang-senang sedikit."


Archilles Lucca berdecak, gadisnya terlihat jenuh pergi ke sekolah, merengut saat punggungnya terasa nyeri.


"Please." Arumi Chavez katupkan tangan. Mata polosnya separuh memelas.


Archilles Lucca, mata itu ..., apakah kamu bisa tahan pada pupil terang polos yang indah itu?


"Kemana kita akan pergi?" tanya Archilles Lucca menyerah lebih mudah.


"Yey, terserah padamu," seru Arumi girang. "Archilles Lucca ..., belum pernah ada yang pahami aku sebaik kamu."


"Ehem ... ehem ...." Leona batuk-batuk kecil dari belakang kemudi.


"Dan Leona-ku tersayang. Aku mencintai kalian berdua."


"Ops, kurasa aku tak bisa abaikan panggilan lebih lama atau semua pihak akan gelisah. Anda berdua akan naik taxi karena aku harus kembali ke mansion lalu pergi ke sekolah Nona Arumi dan melapor. Aku akan menyusul nanti. Bagaimana?" usul Leona setelah mengecek ponsel.


"Kami akan ikut sampai halte depan, Leona," ujar Archilles Lucca.


Arumi sangat antusias. "Kemana kita pergi?"


"Belajar memasak," sahut Archilles santai. "Mari kita isi waktu luang Anda pelajari keterampilan dasar seorang gadis."


"Begitukah?" Arumi terlihat tidak begitu senang. Ia ingin bermain-main di pantai.


"Bukankah Anda perlu membuat Nyonya Sanchez terkesan?"


Arumi Chavez mengangguk sepakat. Beberapa menit berlalu, mereka turun di depan sebuah halte.


"Tuan Ethan Sanchez mungkin akan menghubungiku dan bertanya. Apa yang harus aku katakan?" Leona bicara saat Archilles membungkuk di sisi mobil beritahukan beberapa hal pada Leona untuk dilakukan.


Archilles menghela napas panjang.


"Katakan saja, Nona Arumi bersamaku. Minta padanya agar tidak cemas."


"Baiklah."


"Jemput kami nanti, Leona."


Mereka berpisah. Arumi tak pernah naik bus meski kemping sekolah wajibkan siswa naik bus sekolah. Ia selalu diantar gunakan mobil. Duduk di pinggir bus, menghadap langsung ke pemandangan kota, tak punya banyak kata selain raut berbinar-binar. Sangat bersemangat.


"Materi Sejarah apa yang akan Anda pelajari hari ini, Nona?" tanya Archilles. "Apakah mungkin tentang Museum Induk Air?"


"Oh, ya benar. Kau tahu Archilles?"


"Aku pernah Sekolah Menengah, Nona. Di sana itu bangunannya!" tunjuk Archilles saat mereka lewati sebuah bangunan bersejarah yang berada di tengah, diapiti menara dan istana barok.


"Oh indahnya. Jadi, sebenarnya bangunan apa itu?"


Jelas saja Nona Arumi akan dapatkan nilai rendah saat pre test. Gadis ini menyala-nyala ingin ikuti pre test tanpa tahu materi yang akan di test.


"Sebuah museum miliki saluran air kuno yang memasok air ke seluruh distrik pada abad ke 19, Nona."


"Luar biasa."


"Aku akan mengajak Anda masuk ke sana kapan-kapan. Pemandangan kota dari atas atapnya sangat indah, Nona."


"Kamu pernah ke dalam?"


"Ya, bersama teman-teman sekelasku," angguk Archilles. "Reservatorium induk air ini dibangun pada tahun 1746 oleh seorang arsitek asal Hungaria."


Samar-samar bayangkan berada di atas atap bangunan menikmati kota di sore hari bersama gadis berambut cokelat terang, sementara angin mainkan rambut si gadis, ciptakan efek bergetar di seluruh pembuluh darah.


Lucca, berhenti mengkhayal yang tidak-tidak!


"Aku ingin pergi ke sana dan belajar darimu." Nona Arumi berseri-seri, matanya terang benderang. "Oh indahnya negaraku!"


"Orang bilang kita ketinggalan infrastruktur."


"Tak masalah, aku menyukai semua bangunan-bangunan kuno yang kita miliki. Mereka sangat keren."


Sepuluh menit perjalanan, Arumi Chavez menikmati sepenuh hati. Archilles Lucca, berbelanja bahan makanan segar lewat sebuah aplikasi kirimkan alamat tujuan.


Nona Arumi entah masih mengantuk atau mudah lelah, tertidur di bangku duduknya sebelum menit ke dua puluh setelah terus mengatakan, 'wow', berkali-kali. Gadis ini mungkin sangat kaya tetapi dia juga kuper.


Archilles menatap wajah pulas gadis di sisinya. Sangat sulit beralih seolah telah kecanduan. Keindahan sejati wajah-wajah pemegang dinasti.


Archilles melawan logika sewaktu kepala Nona Arumi terantuk-antuk, segera meraih gadis itu ke dalam lengannya.


"Laut cerah, sangat indah, harusnya Anda tak tidur dulu, Nona."


Bus memutar lagu temani perjalanan mereka.


Aku tak percaya galaksi


Hari ini aku melihatnya di matamu


Berpijar keperakan


Jika aku dapat menjangkaumu?


Bisakah kau pegang tanganku?


Aku akan jadi milikmu!


Kau akan selalu dapatkan kekuatan saat kau berbalik padaku.


Meskipun bukan aku yang kau tuju.


Lagu manis yang menyakitkan.


Archilles akan temui Itzik Damian, atau Itzik akan mencarinya karena senjata tertinggal. Saat mereka bertemu, ia akan buat perhitungan dengan pria aneh itu. Itzik tak boleh miliki keinginan gila dalam kepalanya tentang Nona Arumi. Archilles tak ijinkan.


Sedangkan Arumi Chavez tertidur lelap sempat-sempat dihinggapi mimpi. Tersadar saat rasakan tepukan pelan pada tangannya.


"Nona, kita sudah sampai."


"Emm?!" Menggeliat. Ia sedang bersandar di bahu pengawalnya.


"Di mana ini? Mengapa biarkan aku tertidur?"


"Apakah bahuku nyaman?"


"Ya, lebih nyaman dari bantal di kamarku!"


"Anda penuh rayuan, Nona!"


"Anggap saja yang tadi kukatakan adalah upah menyewa."


Arumi Chavez melihat keluar, kerjabkan mata, menguap lekas dibekap karena tak sopan. Lalu lepaskan tangannya. Ia bersama Archilles Lucca, ia bisa jadi dirinya sendiri melanggar semua norma dan aturan yang mengikat, termasuk menguap lebar di sembarang tempat.


Arumi sapukan pandangan berkeliling tersisa mereka dalam bus, mereka ada di sebuah tempat. Mencengangkan. Deburan ombak di depan sana benar-benar buat Arumi Chavez bergairah.


Apakah ia beritahu pengawalnya bahwa ia ingin ke pantai? Rasanya tidak. Walaupun jiwanya telah menjerit beberapa baris soal ingin ke pantai, tak mungkin Archilles mendengarnya.


"Apa Anda bahagia?"


"Sangat."


Archilles Lucca tanpa sadar mengatur helaian rambut Arumi yang berantakan. Berhenti di tengah jalan. Sebagai ganti ulurkan tangan mengajak Arumi turun.


Arumi Chavez tersenyum lebar. Sisa kantuk perlahan raib. Belum habis terkejut, Archilles menuntunnya menuju salah satu hunian minimalis di tepian pantai. Rumah pantai yang terasnya terbuat dari kayu menghadap langsung ke laut.


Hiasan dari kerang bergelantungan di sisi depan rumah. Angin bertiup, keping-kepingan bersentuhan hasilkan nyanyian merdu. Seseklai ombak pecah, busa yang menggelinding ke bibir pantai berikan kedamaian.


"Archilles, kamu luar biasa pengertian."


"Kita akan nikmati pantai sambil makan siang nanti. Makanan pembuka akan dibuat oleh Nona Arumi, hidangan utama olehku dan hidangan penutup bersama-sama. Bagaimana?"


"Cool (setuju)," angguk Arumi Chavez semangat lalu cengengesan. "Terlihat mudah, aku tak tahu cara membuatnya."


"Kita akan kerjakan menu paling sederhana. Bantu aku menebaknya? Jika benar, aku akan temani Anda hingga selesai sampai menu dihidangkan."


Arumi Chavez berbinar-binar. "Clue-nya?"


"Nona Marya Corazon dan Nona Reinha Durante sangat sukai makanan satu ini karena paling sering dibuatkan di Durante Land oleh Maribella Williams. Tebak apa namanya?"


Arumi Chavez tersenyum lebar. "Tempura?!"


"Ya, luar biasa. Anda bahkan tak perlu berpikir lama. Mari kita buat."


Menggiring Arumi Chavez ke dapur lebih sederhana dari milik mereka di mansion, seorang wanita paruh baya berseragam khas Happy fresh Vegetables bersiaga, ringankan urusan mereka dengan rapikan bahan makanan segar di atas meja dapur. Di sisi-nya pengurus rumah, seorang pria tua, awasi seksama.


"Peter?!"


"Archilles, senang melihatmu. Oh, dan apakah ini ..., Puteri Nyonya Salsa?"


"Ya, Peter."


Arumi dan Peter berkenalan, mengobrol santai. Bukan Nona Arumi Chavez namanya jika tak ciptakan lelucon konyol sebabkan Pak Tua Peter terbahak-bahak hingga tak sadar gigi palsunya copot satu.


"Jangan kuatir, aku akan jaga rahasia Anda," ujar Nona Arumi mainkan satu mata antarkan Pak Tua Peter ke teras.


Archilles Lucca keluarkan dua celemek setelah mereka hanya berdua, tak berhenti mengulum senyum di bibir.


"Rambut Anda perlu diikat sebelum Anda memasak, hindari sesuatu yang tak diinginkan saat makanan disajikan. Anda paham maksudku?"


"Ya ya." Arumi Chavez mengangguk segera mengikat rambutnya di puncak kepala.


Archilles menggeleng tak setuju. "No. Saat Anda membungkuk, sebagian rambut Anda akan terjatuh tepat di atas makanan."


"Euuuu."


"Punggung sebelahku masih sedikit sakit, Anda akan bantu aku ciptakan cepol rambut simple di puncak kepala."


Archilles Lucca menggiring Arumi duduk di kursi putar, menarik ikat rambut dari simpul rambut lalu memutar kursi Arumi hingga semua helaian menyatu sebelum menggulung dalam bentuk lingkaran.


"Oh, kamu dan Ethan sangat ahli mengikat rambut?"


"Mungkin karena kami punya adik perempuan."


"Oh ya? Siapa nama adik perempuanmu?"


"Zefanya."


"Nama yang cantik."


"Emm ..., ya. Mari kita mulai."


"Apa yang akan kita buat untuk hidangan penutup?"


"Apakah Anda suka Tartde de Limão, Nona?"


"Ya, boleh. Aku pikir semua orang di negara ini menyukainya."


"Aku akan mendikte bahan makanan untuk menu pembuka. Anda bertugas siapkan. Mungkin Anda tak pandai memasak tetapi setidaknya Anda mengenal bahan-bahan."


"Ya aku tahu, Tuan," angguk Arumi.


"Timbangannya di sana."


"Okay."


"Kita mulai. 300 gram buncis, 3/4 cangkir tepung serbaguna, 3 butir telur, bubuk bawang putih dan bawang merah, peterseli, lada, garam dan minyak sayur untuk menggoreng."


Arumi Chavez persiapkan dengan cepat. Archilles merekam kegiatan mereka di ponsel. Mereka akan terpisah, mungkin, Archilles akan merindukan hari ini.


"Bagus, tak lebih dari lima menit," puji Archilles Lucca hingga Arumi Chavez berseri-seri. "Anda mengingatnya?"


"Ya, terlihat mudah terlebih ada kamu di sampingku."


Arumi Chavez kirimkan bentuk love. Archilles berdecak amati sang majikan.


"Anda terus menggombal hari ini, Nona. Lanjutkan pekerjaan Anda. Bersihkan buncis keluarkan dari seratnya terlebih ujung-ujungnya dipotong saja. Cuci di bawah air mengalir, tiriskan. Bisakan?"


"Ya."


Archilles membantu menjerang panci berisi air perhatikan Arumi Chavez yang kesulitan gunakan pisau.


"Caranya tidak begitu benar, Nona. Lihat aku!"


"Aku tak bisa apapun! Bisa kemudian tak becus!"


"Jangan hakimi diri sendiri. Orang pandai memegang pisau karena terbiasa."


Meraih pisau, menggunting pangkal buncis dan menarik keluar serat dari sisi buncis. Arumi Chavez bertepuk tangan kencang.


"Aku bisa lakukan. Berikan padaku!"


Begitulah akhirnya si gadis bersihkan buncis mencoba gesit tetap saja lebih lambat dari rebusan air yang lebih dahulu bergemuruh.


Setelah tuangkan sedikit garam dan bawang, buncis-buncis muda direbus sebentar, diangkat dan ditiriskan.


"Anda boleh mencampur semua bahan hingga membentuk pasta. Nanti, masukan buncis ke dalam adonan basah dan mulai menggorengnya."


"Segitu saja?"


Nona Arumi mulai percaya diri. Pecahkan telur hati-hati, masukan tepung, bumbu dan cincangan peterseli. Mengaduk-aduk.


Archilles Lucca manggut-manggut. "Anda semakin mahir."


"Aku latihan dengan 45 butir telur pagi buta. Usaha tak khianati hasil."


Juga bertambah pintar.


"Aku akan kerjakan menu spesial makan siang kita sementara Anda perhatikan."


Sambil menggoreng tempura, mata Arumi amati Archilles Lucca. Pria itu cekatan menyusun kerang, udang dan ikan yang telah dibumbui dalam panggangan.


"Menarik! Pria model begini sungguh memikat panca indera."


"Sekali ini kupingku mendengar Anda, Nona!" ujar Archilles tanpa alihkan pandangannya.


"Aku ingin membantu, tetapi pekerjaanku belum beres."


Mengambil sutel yang keliru dari dalam panci air panas yang belum disingkirkan hendak mengangkat tempura. Namun ....


Letupan-letupan kecil minyak berhamburan keluar dari penggorengan, Arumi Chavez panik.


Argghhhh, jari Arumi tanpa sengaja terkena minyak panas.


"Nona?!"


Archilles Lucca secepat kilat matikan kompor, hampiri Arumi dan merangkul pinggang Arumi, maksudnya ingin lindungi Arumi dari amukan minyak panas. Malah terlalu gegabah hingga tak sadari bahwa ia gunakan sisi tubuhnya yang belum sembuh setelah ditembak enam hari yang lalu.


Menahan kesakitan seakan ditikam belati, terjerembab bersama Arumi dalam pelukannya. Diam tak bergerak.


"Archilles? Kamu baik-baik saja?"


"Tidak kurasa." Archilles berusaha bangkit hanya untuk terjatuh lagi.


"Maafkan aku selalu buatmu terluka."


"Baiklah. Bantu aku bangun, please!"


"Kamu bisa bersandar padaku saat lelah," sahut Arumi, mengusap bahu Archilles pelan. "Aku benci minyak panas! Terlebih aku memang idiot!" tambah Arumi Chavez mood ikut berubah jelek dari nada bicaranya.


"Begini saja, Anda bisa duduk diam di belakang meja, aku akan selesaikan pekerjaan kita. Okay?"


Tak dapat tanggapan, mengangkat wajah, Nona Arumi dibawahnya sedang menatapnya kelabu.


"Jangan lakukan sesuatu padaku, Nona!"


"Apakah kamu benar-benar jalankan tugasmu karena digaji?"


"Mengapa berpikir ada maksud lain dibalik semua ini?"


"Benarkah kita butuh usaha sekeras ini hanya untuk menarik perhatian Nyonya Sanchez?"


"Aku tak mengerti," geleng Archilles Lucca takut gadis yang disangkakan bodoh oleh semua orang ini, dapat melihat jantungnya.


"Apakah menurutmu, aku perlu perjuangkan Ethan Sanchez sedang aku terlihat sama sekali tak punya nilai sepadan? Seperti 1 : 100."


Archilles bernapas setelah paru-parunya seakan terengah-engah.


"Setidaknya, Satu dan Seratus saling mencintai. Mengapa berubah pesimis?"


"Aku merasa bukan diriku lagi semenjak pacaran dengan Ethan Sanchez. Aku harus berusaha ini dan itu agar tidak permalukan pacarku. Kini aku kehilangan jati diriku karena harus menarik perhatian dan menggapai standar ibunya."


"Nona ...."


"Bisakah kamu tinggal di sampingku selamanya, Archilles?"


"Apakah Anda berhenti mencintai Tuan Ethan Sanchez?"


"Aku selalu terpesona padanya. Aku selalu berdebar-debar di dekatnya. Aku mencintainya."


"Lalu?! Anda tak akan butuh aku lagi."


"Aku selalu jadi diriku sendiri saat bersamamu. Aku juga merasa nyaman didekatmu."


"Nona ..., aku tetap harus pergi suatu waktu. Kita tahu ketentuan sejak awal."


"Tidak. Kau tak akan pergi kemanapun. Jika kamu menghilang aku akan menemukanmu."


***


Maaf ya aku sangat sibu....