
Berhari-hari disekap suaminya di sarang sunyi penuh kedamaian, Anna Marylin tak bisa ungkapkan bagaimana ia rindukan klinik, black hole dan aroma obat-obatan. Keahliannya bisa berkurang sedikit demi sedikit. Sungguh merepotkan karena ia hamil.
Terlebih ia tak dapatkan banyak informasi mengenai Hedgar dan sekalipun ia temukan tak mudah baginya mengirim kabar apda Carlos Adelberth. Sehingga Anna yakin, Carlos Adelberth mengirim seorang lain gantikan dirinya. Satu-satunya yang diketahui Anna bahwa ada agen ganda atau seorang pejabat terlibat yang secara rutin menerima uang dari Hedgar. Pria inilah yang sering bocorkan rencana pemerintah pada Hedgar.
"Kita perlu pergi ke klinik dan melihat bayi."
Anna Marylin membuat alasan agar bisa keluar menghirup dunia bebas pada suaminya. Apakah sekali ini akan berhasil? Apakah Hedgar akan menyanggupi?
"Harus sekarang?" tanya suaminya datar. Sepertinya Hedgar menyahut tanpa buka mata. Tangan kanan di tengkuk Anna, melingkar kuat sedang tangan lain secara posesif memeluk pinggang Anna. Sejak kapan?
Sampai tengah malam Anna tidur sendiri di bawah tatapan burung hantu hitam pekat yang keahliannya mencengangkan Anna. Terkadang Anna telah ingatkan dirinya bahwa ia hidup bersama seekor burung hantu. Tetap saja terkaget-kaget sampai jantung akan copot dapati si burung hantu memutar kepalanya hampir 360 derajat searah putaran jarum jam, tengah malam buta sementara mata pelototi dirinya. Tidak tuan tidak peliharaan sangat posesif padanya.
Oh My God, so so creepy.
Pelukan semakin kuat seakan suaminya sedang berburu ketenangan. Ia bisa rasakan napas hangat dan kasar menyusup lewat rambut, menyentuh kulit kepalanya.
Anna Marylin telah pertanyakan konsep kehidupan pernikahan mereka. Dia tak temukan jawaban. Putuskan jalani hari dengan lapang dada. Dari nada malas Hedgar jelas pria ini terlibat masalah. Gejalanya terlihat jelas seperti mendiagnosis pasien derita pneumonia. Anna Marylin tidak akan bertanya walau tingkat ingin tahunya sangat tinggi.
Hedgar menembaki semua bebek di telaga seperti pria kurang waras. Lampiaskan kesal pada hewan lucu yang tak paham masalah manusia. Mati sia-sia karena watak buas pr3d4t0r sejati macam Hedgar. Sementara Wandah berdiri tanpa ekspresi tak jauh dari suaminya. Ingin mencegah tapi mungkin takut moncong pistol malah berbalik padanya. Suaminya memang punya kelainan. Waras-nya hanya saat berada di atas ranjang.
"Aku tak begitu peduli bayimu sehat atau cacat. Aku tidak begitu menginginkannya." Hadapi pria keras kepala macam Hedgar butuh taktik. Ini mungkin jitu.
"Ternyata ada manusia lebih jahat dariku," kata Hedgar Sangdeto, turunkan tali gaun tidur dari pundak Anna dan pergi bersemayam di sana.
"Anna ...."
Napas hangat kini menerpa kulit lembut Anna hingga Anna meremang. Reaksi tubuhnya belakangan terlalu alami pada belaian suaminya. Anna meringis. Ia masih menolak jatuh cinta pada Hedgar.
"Kamu mungkin ingin mengaku dosa?"
"Seluruh tubuhku adalah dosa. Aku ini dosa. Kamu tinggal menilai saja, Anna." Puncak hidung bergesekan dengan kulit lembut. Mulut Hedgar terbuka membentuk huruf "O" kemudian ia tempelkan bibir di sisi leher Anna, sedikit h1s4p4n pelan; Hedgar sedang ciptakan tanda di sana. Tidak hanya satu.
Anna terlalu bosan berdebat. Dibiarkan saja pria itu menyentuhnya. Atau ia menyukainya. Hanya gengsi mengakui.
"Sekali ini pasti sesuatu yang berat." Anna yakin Hedgar lakukan sesuatu di belakangnya. Pria itu sedang merayunya untuk tidak marah.
"Kamu tak perlu tahu."
"Apakah kamu mengganggu orang-orangku?"
Hedgar tidak menyahut. Dugaan Anna benar. Anna mulai gelisah. Siapa yang diserang Hedgar sekali ini?
"Siapa sasaranmu? Hellton Pascalito lagi? Lucky Luciano? Archilles Lucca? Jangan bilang kamu mengusik para wanita Diomanta?" tanya Anna segera meradang dan berbalik. "Katakan padaku!"
Suaminya sedang menatap lewat mata-mata tak beradap tanpa kelembutan sama sekali.
"Katamu ingin melihat bayi?" Hedgar hindari Anna.
"Jangan alihkan aku!" balas Anna tajam.
"Mari kita pergi, kamu mungkin bisa bertemu teman-temanmu!" Hedgar mencoba bangkit tetapi Anna menahan lengan pria itu. Kuku-kuku panjang akibat tanpa kerjaan sengaja menusuk daging tubuh Hedgar.
"Jangan bikin aku kesal!"
Hedgar mendengus gusar.
"Baby ...."
Ketukan di pintu hentikan perdebatan keduanya.
"Selamat pagi, Hedgar. Sarapanmu telah aku siapkan."
Anna Marylin menyipit ke pintu pada suara asing baru pertama kali didengarnya. Terlebih suara itu terdengar sangat renyah dan lugas menyebut nama Hedgar.
"Di mana Wandah?" tanya Anna Marylin lepaskan tangannya.
"Di bawah."
"Siapa yang barusan menyapa?"
"Asisten pribadiku."
Apakah Anna perlu bertanya, sejak kapan pria ini punya asisten pribadi? Menurut Wandah hanya Itzik Damian dan Tatiana juga seorang pria Asia diketahui menjadi asisten pribadi Hedgar. Hanya mengurusi masalah kerjaan. Satu-satunya yang mengurusi kebutuhan priabadi Hedgar hanya Wandah.
Tidak penting. Pikir Anna.
Hedgar pergi ke kamar mandi dan kembali dari sana setelah bercukur. Anna amati suaminya. Sembunyikan sesuatu.
Lima belas menit setelah ia mengurus dirinya, Anna Marylin turuni tangga pergi ke ruang makan.
"Anna ..., apa tidurmu nyenyak?" sapa Wandah tanpa senyuman. Wajah Wandah semuram langit di angkasa luar.
"Wandah ..., ya ..., aku tidur sangat nyenyak terlebih setelah kenyang oleh masakanmu."
Anna Marylin kini mulai terbiasa dengan Wandah. Adik tiri Hedgar itu sangat tulus padanya. Mengapa Hedgar menahan Wandah yang cantik ini di sarangnya dan mengurung gadis malang ini?
Seorang wanita muda muncul dari arah dapur bawakan mangkok sup. Anna Marylin amati si wanita. Tak bisa abaikan tatapan mencemooh Wandah. Oh ayolah, Anna. Wandah hampir begitu juga padanya.
Jadi, suaminya semalam tidak pulang sendirian. Hedgar membawa seorang wanita yang katanya asisten pribadinya.
"Anna ..., ini asistenku."
"Hai, aku Naomi Brisia."
Anna Marylin tersenyum sedikit. "Anna."
"Senang berkenalan denganmu, Anna."
"Mari sarapan Wandah."
"Aku akan siapkan pakaian Hedgar dan untukmu, Anna." Wandah berkata sopan.
"Kamu hanya perlu siapkan untuk Anna, Wandah! Aku akan mengurus Hedgar mulai hari ini."
Wandah menengok keheranan. "Aku pikir, kamu hanya akan jadi asisten pribadinya dalam masalah pekerjaan. Yang lebih pribadi dari itu akan dikerjakan olehku."
Ini pertama kali Wandah terlibat bentrok dengan pihak lain dalam pandangan Anna Marylin.
Okay. Apa tujuan Hedgar membawa Naomi ke sarangnya yang sangat rahasia?
"Biarkan Naomi mengurusi keperluan Hedgar, Wandah. Aku lebih suka sarapan bersamamu dibanding orang asing. Please."
"Begitukah?" Wandah berpaling. Mungkin merasa dihargai dan dibutuhkan, berhasil buat ia terharu.
"Anna benar. Wandah," sahut Hedgar menarik bangkunya.
Naomi pergi.
"Kamu bisa ikut dengan asisten pribadimu, Hedgar," kata Anna Marylin memotong roti berlapis telur setengah matang menjadi banyak potongan kecil. Caranya menyayat sangat rapi dan profesional.
"Aku dan Wandah akan sarapan berdua saja dan kami mungkin punya tenaga untuk tertawakan pakaian apa yang akan dikenakan padamu nanti," sindir Anna mengambil daging. Memutar pisau di tangannya dan mengiris tipis.
Hedgar berdecak. "Dia hanya menjalankan tugasnya!"
"Bisa aku lihat. Biarkan dia memandikanmu juga," balas Anna Marylin. "Bisakah aku dapatkan juga satu asisten pribadi, Hedgar?"
"Wandah akan selalu di sisimu."
"Aku ingin yang setampan Tom Cruise. Please! Dia mungkin bisa bantu aku memijat bahuku saat aku pegal."
Wandah tak tahan geli tetapi dikontrol dengan baik takut menyinggung Hedgar.
"Aku juga mau satu, Anna." Ikutan nimbrung pada akhirnya.
"Ya, benar. Bukankah akan bagus ada seseorang yang bisa buat matamu bersih dari belek?"
Wandah tak tahan tertawa. Ini pertama Anna melihat Wandah tertawa. Mengagumkan. Anna sampai berhenti makan. Memangku tangannya dan melihat wanita muda di depannya tertawa.
Wandah segera sadar. Menutup mulutnya. "Apa aku berlebihan?"
"Aku menyukaimu saat tertawa," kata Anna jujur. "Sangat cantik. Apakah Itzik Damian adikmu? Terkadang kalian sangat mirip."
"Tidak. Tetapi, banyak orang mengatakan kami sangat mirip."
Mereka kemudian lanjutkan sarapan. Hedgar pergi bersiap-siap. Dari ruang tidur, Anna dengarkan beberapa catatan yang dibacakan Naomi mengenai pekerjaan pria itu hari ini. Mereka tidak hanya berbincang dalam bahasa Rusia tetapi juga Spanyol dan Perancis.
Anna Marylin memakai dress, menunggu Hedgar. Mereka pergi ke kandang kuda. Dulunya adalah rumah lama Hedgar. Karena kesal ia mencekik Anna, rumah itu dihancurkan nya dan ia membangun kandang kuda.
Jalan rahasia mereka ada di salah satu bilik. Tertutup jerami.
"Apakah kita akan lewati tempat semalam?" tanya Naomi bersemangat.
Tak ada sahutan dari siapapun.
"Dressmu tidak cocok untukmu, Anna," kata Naomi lagi.
Anna Marylin menoleh sebentar.
"Dress longgar cocok untuk wanita hamil. Kemeja yang kamu pilihkan untuk suamiku sangat tidak sesuai dengan karakternya. Dia hanya terlihat seperti pecundang."
Hedgar menggeram. Anna tahu Hedgar tak sukai kata pecundang. Sengaja buat Hedgar kesal.
Hedgar menggeser tumpukan jerami, membuka plakat dan lorong spiral terlihat di bawahnya.
"Duluan!" suruh Hedgar pada Naomi.
Wanita itu menggangguk dan turun ke bawah. Hedgar kemudian menyusul, ulurkan tangan pada Anna. Ditepis.
"Aku bisa sendiri!"
Anna Marylin mengekor di belakang Hedgar.
"Berikan tanganmu!" pinta Hedgar.
"Tanganku dalam kantong mantel. Mereka menyukai kehangatan di sana."
"Anna?!"
"Aku tak peduli pada Naomi atau siapapun, Hedgar! Aku hanya terlalu bergembira akan melihat dunia luar."
Hedgar datangi Anna sementara plat tertutup dan seseorang di atas mereka mungkin Paul bekerja menimbun kembali jerami. Tangan Hedgar menyusuri lengan Anna sampai di saku mantel. Menarik keluar dan menuntunnya lewati jalanan gelap.
"Jangan coba kabur dariku hanya karena aku tunjukanmu jalan, Anna."
"Terima kasih, kamu beri aku ide."
Hedgar mendadak berhenti. Memutar. Anna ikutan berhenti. Hedgar m3r3nggut Anna ke dalam pelukannya. Tengadahkan wajah istrinya yang tak bisa ia lihat dalam kegelapan. Ia menemukan bibir Anna dan itu sangat dingin. Mengusap pelan.
"Apakah lorong ini bangkitkan sesuatu dalam dirimu?" tanya Anna sarkas saat suaminya hendak menciumnya.
"Ya."
Anna berdecak.
"Maukah bercinta denganku di sini?" tanya Hedgar.
"Tidak!"
"Mengapa?" tanya Hedgar mirip kucing di musim k4w1n4n. Bahkan suaranya berubah serak.
"Bayimu mungkin akan terganggu!" sahut Anna asal-asalan. "Kau tak takut meluruh?"
"Aku akan melakukannya dengan hati-hati! Lagipula, r4h1m wanita dijaga otot-otot yang mengelilinginya."
Hebat pria ini mungkin membaca artikel kehamilan.
"Mari kita pergi!" ajak Anna Marylin.
"Hedgar, apa kamu tersesat? Perlukah aku kembali menjemputmu?" Suara Naomi menggema di lorong gelap.
"Asisten pribadimu mencemaskanmu," kata Anna Marylin.
Mungkin karena tak ada sahutan, detak sepatu Naomi kembali menuju lorong.
"Tunggu di sana, Naomi!" balas Hedgar, merengkuh Anna.
"Harusnya aku tidak pakai dress," keluh Anna jengkel karena ia tidak bisa menolak keinginan suaminya yang seakan adalah keinginannya juga.
"Aku akan memberimu banyak dress nanti siang." Hedgar bicara tersengal-sengal.
"Kamu mungkin seorang Nyct0ph1L3," kata Anna Marylin saat suaminya sangat hati-hati mengangkatnya ke dinding.
"Kamu masih berutang penjelasan padaku tentang s0mn0ph1L14. Tambahkan satu. Apakah ini juga masalah kejiwaan?" Mantel keduanya telah lepas. Napas berburu oleh ciuman yang sesekali dilepas untuk pertengkaran kecil mereka. Hedgar menelusuri perut Anna, meraba-raba.
"Nyctoph1l3, penyuka kegelapan."
"Kegelapan beri aku ketenangan."
"Atau kamu pemuja kegelapan?"
"Bahkan orang-orang kegelapan tak bercinta dengan kekasih mereka dalam gelap."
Anna memeluk leher suaminya. Jantung mulai berdetak cepat.
"Kamu juga menyukainya, Anna?"
Berdecak. "Kebutuhan biologis."
"Alibi bagus."
"Aku tak akan libatkan perasaan."
"Bualanmu keren, Anna Marylin. Aku pria, denganmu ada kehangatan yang aku rasa. Wanita lebih s3n51t1f dari itu. Jangan takut membalas perasaanku Anna. Aku bukan temanmu yang meninggalkan wanitanya sendirian."
"Aku harap kamu tak j11L44t ludahmu sendiri. Bayimu akan mengolokmu suatu waktu."
"Kecuali, kamu khianati aku, Anna. Aku akan mengambil bayiku dan meninggalkanmu."
"Kedengarannya bagus untukmu."
"Anna ..., tinggalah bersamaku selamanya."
"Tergantung sikapmu!"
"Jangan sampai aku bosan!"
"Aku menunggumu bosan denganku dan lepaskan aku!"
"Tidak akan terjadi!"
"Aku akan mengkhianatimu!"
"Kamu mengatakannya hanya untuk bikin aku kesal."
Hedgar bersuara kecil di pundak Anna. Tubuh bergerak cermat. Pengalaman itu mahal. Hedgar buktikan banyak hal. Tangan meraup tengkuk Anna padanya. Menciumi Anna tetapi tak lekas buat ia puas.
"Semoga setelah ini, mood-mu membaik, Anna."
Hedgar mungkin telah banyak membaca cara perlakukan wanita sedang hamil muda.
Ketika mereka muncul di permukaan kamar, Hedgar lepaskan kemeja merahnya dan lemparkan ke ranjang. Mengganti dengan kemeja putih lalu memakai sweater dan mantelnya. Ia berbalik memeriksa Anna sewaktu Anna keluar dari kamar mandi.
"Apakah kamu baik-baik saja?"
"Menurutmu?"
"Baiklah, aku tak akan bertanya."
Mobil melaju di jalanan basah. Pepohonan Pinus kurus menjulang tinggi. Cuaca musim dingin tidak benar-benar bikin beku. Anna punya sesuatu lain dan itu tepat di sebelahnya.
Anna Marylin menoleh ke sisi pada suaminya. Di belakang mereka Naomi amati jalanan sesekali pada suaminya di spion. Naomi kabari sesuatu pada Hedgar. Pria itu berubah pendiam.
"Harimu selalu buruk, ya?" ejek Anna Marylin.
"Moodmu membaik? Apakah kita perlu pergi ke lorong tiap hari dan b3rc1nt4 di sana?"
"Betapa sedihnya anak-anak bebek. Mereka menangis sepanjang hari mencari induk mereka."
"Mereka akan lebih cepat mandiri tanpa Ibu mereka."
Obrolan mereka berhenti karena Hedgar mendadak injak rem. Anna Marylin nyaris memekik. Namun, menahan makian yang akan keluar dari mulutnya.
Di depan sana, dua buah mobil memblokir jalan. Hellton Pascalito bersandar di bagian depan mobil. Kaca mata gelap dan janggut panjang hampir membungkus seluruh rahang. Oh ya, pria ini mungkin tidak bercukur selama istrinya mengandung. Sedang pria di sebelahnya tak peduli.
Di sisi Hellton, Raymundo Alvaro mengunyah permen karet. Man in Black. Memakai kaca mata hitam, mantel hitam juga jeans hitam, perawakan tinggi tegap pria itu ciptakan ilusi malaikat pencabut nyawa. Terlebih wajah yang tidak bersahabat sama sekali.
Di depan mobil lain Lucky Luciano berpenampilan macam badboy sejati. Anna tahu bahwa penampilan Lucky hanya saat pria itu akan membunuh seseorang. Atau kerjakan sesuatu. Dulunya. Lucky telah bertobat setelah menikahi Reinha Durante. Anna menduga, Hedgar telah sangat menyinggung Lucky Luciano. Di samping Lucky, Francis Blanco yang tampak sama berbahaya dengan Raymundo Alvaro menatapi mobil mereka tanpa kedip. Syukurlah pria itu akhirnya sembuh. Hanya Francis Blanco yang tidak memakai mantel di musim dingin. Pria itu cuma kenakan sweater, lengan sweater di geser hingga ke siku.
"Apalagi kejahatanmu kali ini, Hedgar? Teman-temanku tak akan berkumpul jika tidak penting. Apakah kamu melukai Archilles? Hanya dia tidak terlihat. Dari semua temanku hanya Archilles Lucca yang tak bermasalah."
"Temanmu itu akan menikahi gadis di bawah umur," sindir Hedgar. "Tidak bermasalah apanya?"
"Kamu akan membayar mahal padaku jika sesuatu terjadi pada Archilles."
"Kami hanya suka reunian," sahut Hedgar.
Tangannya pergi ke dasbor dan keluarkan senjata. Sangat cepat direbut Anna dan dalam gerakan kilat lepaskan onderdil pistol kemudian membuangnya ke belakang.
"Apa aku perlu mengurus mereka, Hedgar?" tanya Naomi dari belakang. Mengisi peluru ke dalam senjata.
"Kamu bukan tandinganku apalagi pria-pria di depan sana. Sembunyilah dibalik sadel mobil." Anna Marylin mengurut kening. "Tunggu aku di sini! Jangan coba-coba gunakan senjata."
Hedgar Sangdeto membuka pintu mobil abaikan Anna dan keluar. Putari mobil. Ia bukakan pintu bagi Anna.
Mungkin karena percintaan sengit dengan posisi harus menyangga tubuh sepanjang sepuluh menit, lutut Anna sedikit gemetar kini. Biarkan Hedgar memeluknya karena tak ingin teman-temannya berpikir yang tidak-tidak.
"Apakah ada serigala di sekitar sini yang memangsa manusia? Sampai-sampai sekawanan pemburu mengejar ke wilayahku?" Hedgar menyeringai. Pria ini suka memulai pertikaian.
Tak ada yang menyahutnya. Semua orang satukan ekspresi. Bahkan Lucky Luciano yang biasanya paling murah senyum dan suka membalas kicauan Hedgar hanya menatap Hedgar datar.
"H?"
Anna Marylin lepaskan diri dari pelukan Hedgar, datangi sahabatnya yang segera membuka lengan dan memeluknya. Bertumpu di kepala Anna.
"Aku merindukanmu, Anna."
"Uhum, aku baik-baik saja. Apa yang terjadi?"
Lucky Luciano dan Francis Blanco secara bergantian memeluknya.
"Ugh, jadi ada ukiran indah di sini?" goda Anna pada Francis ingin cairkan suasana. "Amora Shine dan September?"
"Maaf aku tak bisa donorkan darahku lagi, Anna."
"Tak masalah. Masih ada Tuan Alvaro yang menjaga tubuhnya bersih dari tato dan sahabatku." Anna Marylin amati wajah beku Hellton. "Beritahu aku ada apa ini?"
"Seekor serigala tak berotak berpikir bisa dapatkan banyak keuntungan dari setiap kecurangan yang dia buat. Berpikir auman menakuti semua jiwa. Dia lupa bahwa musuhnya masih bernapas untuk mencabut lehernya dan menggantung tengkorak kepalanya di atas bukit. Bukan sesama serigala tetapi pemburu yang mulai muak."
Hellton menatap Hedgar penuh dendam dan permusuhan. Mungkin ini akhir dari kisah Hedgar Sangdeto, pikir Anna sebab ia belum pernah saksikan amarah berapi-api dibalik sikap tenang dari sahabatnya.
"Beritahu aku!"
"Hedgar akan jelaskan padamu, Anna! Apa yang telah dilakukannya dan organisasi sesatnya pada ponakanku."
"Tuduhan sangat bodoh. Tak ada yang perlu aku jelaskan selain aku tidak terlibat seperti tuduhan bodoh ini!"
"HEDGAR?!" Gelegar suara Hellton kagetkan Anna. Hellton Pascalito datangi Hedgar meraih kerah baju Hedgar. Rahang-rahang menegang. Wajah mereka begitu dekat. "Sentuh aku sesukamu. Bahkan setelah kau menikahi Anna dengan kecurangan aku merelakannya. Korbankan ponakanku untuk dis33tubuh1 orang gila? Ada harga harus dibayar tunai karena perdagangkan Puteriku yang masih belia. Aku tidak bisa mengampuni-mu. Aku akan membunuhmu hari ini, Brengsek. Pergilah ke neraka!"
***
Maafkan aku ngasih chapter ini. Tiga hari sakit dan karena minum obat aku terus saja mengantuk dan berbaring. Aku hampir berhenti nulis novel ini jika aku tak ingat padamu yang sangat setia menungguku. Janji aku akan ngasih chapter-chapter terbaik setelah ini.