
Menyiram luka berdarah di lengan gunakan cairan infus, Archilles Lucca bersihkan sobekan oleh sabetan samurai tajam.
Meronda ke bunker Hellton Pascalito sebagai tugas rutin dibagi bertiga antara dirinya, Axel Anthony dan Raymundo Alvaro; ia malah dikepung beberapa orang.
Anna Marylin hanya terjebak muslihat menikahi Hedgar Sangdeto, nyatanya Hedgar masih inginkan kematian H. Pertarungan tak bisa dihindari meskipun Lucky Luciano dan Axel Anthony kemudian datang membantu, Archilles Lucca terlanjur banyak cedera tergores. Paling fatal di lengannya. Sayatan lain pada tubuhnya akan sembuh sendiri.
Tuan Hellton Pascalito harus segera dipindahkan walau memang tak ada yang bisa masuk ke dalam dan lukai Tuan Hellton, tetap saja, pria itu tak boleh bertahan di sana lebih lama. Cheryl satu-satu tersisa, tetapi segala tindakan rentan resiko bahkan tak ayal bawa kematian bagi Dr. Cheryl.
Menggigit gulungan kasa, siapkan jarum dan benang. Luka tidak dijahit sekarang tentu saja akan akibatkan sobekan semakin lebar, pendarahan tak akan berhenti. Berusaha lemas, alihkan perhatian. Pejamkan mata, penuhi tekad.
Yang terjadi selanjutnya adalah geraman-geraman menahan sakit ketika jarum menusuk jaringan bagian dalam. Napas Archilles memburu, terus saja maju. Ketika akhirnya tak tahan, ia hentikan aktivitas sedang darah telah nodai pembaringan.
Archilles mulai mengunyah kasa, lanjutkan menjahit kulit bagian luar. Nyeri menembus hingga ke seluruh saraf, semakin menderita mengingat cinta tak kesampaian. Rasa yang harus terbunuh oleh tangannya sendiri.
Setelah selesai, ia cuma mengerang kesakitan di atas ranjang, terbaring di antara darah, lemas dan kelaparan. Ia akan minum obat pereda nyeri dan antibiotik, sebelumnya ia butuh makan. Badan meriang, ia mulai demam.
Menantang langit-langit putih ruang tidur, suasana begitu hening, terlalu hening hingga telinga bisa dengarkan irama jantung berdetak di pelipis, d3s4h tarikan napas juga bunyi tak tentu perut menggilas udara.
Ponsel berdering di jalur pribadi, cukup kagetkan dirinya.
"Foto-fotomu telah ku-urus," sambut BM dari seberang.
"Terima kasih."
"Kamu tahu ada hampir 20 orderan masuk di account itu Lucca; dari seluruh penjuru dunia. 8 akun pria b1s3ksu41, jadikan-mu taruhan judi, sisanya beberapa wanita yang akan menggelar pesta s3--s dan lainnya istri orang-orang penting inginkan dirimu sebagai kado. Jika semuanya dilayani, kamu tahu ..., kamu bisa jadi billionaire dalam sebulan." BM menggoda. "Beberapa akun bahkan jelas-jelas tinggalkan pesan bersedia bayarmu berapa saja asalkan mau beradegan s--s di alam terbuka."
Dunia semakin gelap, semakin rusak.
"Apakah wajahku sangat m3sum? Perlukah aku menyimpan janggut panjang hingga ke tanah?"
"Fotomu tinggalkan semacam bekas liar di mata pengguna lain."
"Hapus akun itu! Bereskan masalah fotoku sama seperti pada foto-foto Nona Arumi!"
"Sudah kulakukan. Aku tak menghapus akun, aku gantikan foto Itzik Damian," balas BM terdengar berg4ir4h. "Saat suku-suku primitif temukan pria putih itu, bum, dia akan berhenti mengganggumu."
"Hebat."
"Ngomong-ngomong, aku telah temukan tempat yang bagus habiskan sisa hidupmu, Lucca."
"Benarkah?"
"Sesuai keinginanmu. Aku kirimkan CV-mu pada kepala sekolah. Dan ya, selamat kamu diterima jadi guru ekonomi tingkat satu dan dua selama setahun lalu akan dipindah tugaskan ke wilayah yang bisa menyerap tenaga dan pengetahuan-mu. Siswa mereka tidak begitu banyak. Kamu dipanggil menghadap kepala biara dalam dua Minggu ini."
Archilles menghela napas panjang, antara senang dan tidak. Dari awal, ia memang telah bernazar akan pergi ke balik dinding kastil, hanya perbaiki dirinya. Janji pada manusia bisa diingkari, pada Tuhan kau tak akan coba-coba bukan?
"Baiklah. Aku berharap Tuan Pascalito bangun dalam beberapa hari. Aku akan selesaikan urusanku secepatnya. BM, itu berarti, kita harus temukan Anna."
"Aku akan beri-mu kabar baik hari ini."
Bangkit lalu bersihkan diri. Memakai sweater dan menukar celana. Kepala pening, tubuhnya tak baik-baik saja terlebih ruang tidur berbau anyir buat Archilles Lucca semakin mual. Bereskan cuma gunakan satu tangan. Ia membawa semua pakaian kotor ke ruang cuci, masukan ke dalam mesin cuci. Sambil menunggu pakaiannya, ia menuju dapur karyawan.
Dahinya sedikit mengerut, dapur utama mansion terang benderang lalu ia melihat beberapa peralatan dapur berterbangan di udara.
Seperti ada perkelahian!
Apa yang terjadi?
Archilles Lucca urungkan niat membuat makanan meskipun perutnya berbunyi mirip kipas angin usang di kamarnya di rumah Grenny. Ia mengendap - endap menuju dapur. Mengintip.
"Nyonya, aku sungguh mencintai Putera Anda." Memohon pengertian.
"Tidak!" Bentakan keras. "Apa kamu tak punya cermin di rumah? Berkaca-lah! Lihat wajahmu, ya Tuhan, kau sama sekali tak cocok untuk puteraku." Berubah kasar, antagonis, jahat.
Archilles Lucca berpindah kini di ambang pintu dapur. Tangan-tangannya di kantung celana. Secara ajaib ia merasa baik-baik saja hanya menonton tingkah Nona Arumi. Pukul satu pagi dan majikannya bermain drama di dapur. Nona Arumi terlalu menghayati peran hingga tak sadari ia menyelinap masuk ke dapur.
"Nyonya, aku akan berusaha yang terbaik agar pantas bersamanya!" Berlutut, katupkan tangan di depan, memelas.
Sutel dilempar ke udara, gadis itu melompat dan menangkap, mengubah raut wajah sangat cepat. Berdiri pongah, penuh kuasa, bossy. Sutel di arahkan pada tempat di mana ia berlutut tadi.
"Aku tak ingin dengarkan apapun! Ini uang ...," lemparkan beberapa bungkus kopi, "kurasa cukup untukmu memulai hidup baru. Tinggalkan Puteraku karena aku akan nikahkan puteraku dengan seorang gadis pilihanku."
"Nyonya, ambil saja uang Anda. Aku tak bisa menerimanya. Rasa cintaku tak bisa di beli." Kembali berlutut.
"Oh,Nona ..., apakah kamu pikir aku buta? Kamu bersama puteraku demi uang!"
"Nyonya ..., aku sungguh-sungguh mencintainya dengan seluruh jiwa ragaku!" Menunduk, terisak-isak.
"Cut!Cut!Cut!" Meniru Chris Evans, sutradara. "Arumi Chavez, jangan berlebihan emosional! Hasilnya terlihat kamu overacting (lebay)."
"Ya sudah, Chris Evans," gerutu Arumi Chavez. "Kamu bisa perankan sendiri karakter dalam drama-mu. Lagipula, drama ini terlalu biasa. Jalan ceritanya mudah ditebak. Tak ada tantangan sama sekali. Mengapa rata-rata drama harus berisi mertua model begini? Mereka lebih menakutkan dari monster air."
Nyanyian perut. Tersadar ..., memungut kopi.
"Lagipula, aku harus kembali ke dunia nyata dan memasak sesuatu. Perutku berbunyi senyaring mesin penebang kayu. Tak ada yang dengarkan aku, tak ada asisten, tak ada teman."
"Aku di sini," sambung Archilles Lucca mengangkat satu tangan, mengulum senyuman tipis di bibir.
"Oh, ya ya ya." Sangat-sangat terkejut, memukul dada perlahan. Mata Arumi bercahaya. "Aku lupa ada seseorang yang selalu ada untukku selain Ethan Sanchez. Mari beri tepuk tangan meriah, Mr. Archilles Lucca ...." Tangan Arumi melambai di depan tubuh sedikit membungkuk, kaki satu disilangkan, menekuk. Senyuman merekah.
"Apa yang Anda lakukan di jam begini, Nona?" Konyol sendiri sebab Nona Arumi jelas mengomel perutnya berbunyi nyaring.
"Aku lapar. Kamu sendiri?"
"Ya, aku juga lapar. Apa Anda tak makan malam tadi? Bukankah ada kencan romantis? Aku bayangkan meja dan candle light, juga pacar tampan Anda menatap Anda dengan sejuta cinta di matanya?" Sesuatu getarkan hati berisi nyeri, terluka tambah dalam. Dalam khayal ..., pria itu dirinya. Menyedihkan.
"Apanya ..., kami putus," sahut Arumi Chavez mendengus pecahkan beberapa butir telur. Retakan cangkang telur terdengar menyatu dengan ringisan dari bibir Nona Arumi. Wajah cantik Arumi Chavez turun drastis.
"Mengapa bisa terjadi? Apakah karena masalah-masalah kecil kemarin? Apakah Anda mudah menyerah? Bukankah cinta butuh diperjuangkan?"
Lucca ... Lucca ..., cinta butuh diperjuangkan sedang kamu menyusun rencana ambil langkah seribu!
"Kami sedang mengambil napas, aku akan berikan jawabanku hari ini pada Ethan."
"Bagaimana bisa? Tuan Ethan ..., menggendong Anda pulang?"
"Kemarilah! Akan ku-ceritakan padamu nanti. Ini rumit, suasana hatiku juga. Aku akan masakan kita sesuatu."
Archilles Lucca mendekat menuju meja makan.
"Apa yang akan Anda masak?"
"Kamu tahu ..., ternyata ada satu resep masakan yang memang telah terprogram sejak kita dilahirkan."
"Apa itu?" tanya Archilles Lucca keheranan. Ia baru dengar teori ini.
"Telur orak-arik," sahut Arumi Chavez percaya diri. "Kamu tahu ..., kita tidak butuh keahlian membuatnya. Lihat ini!"
Dua jari Arumi menunjuk mata Archilles dua ketuk lalu pada matanya sendiri berakhir di pan.
Arumi Chavez panaskan mentega hingga meleleh, masukan cincangan bawang Bombay yang modelnya tak beraturan. Gayanya menumis bikin Archilles Lucca tersenyum geli, atraktif. Sepertinya tadi, Nona Arumi lebih dulu belajar pegang sutel sebelum nyalakan kompor. Bawang bombai layu gadisnya tuangkan irisan sosis yang juga dipotong asal-asalan. Aduk lagi.
"Nah, di sini serunya!" Arumi Chavez mengocok telur dalam mangkuk hingga berbuih. "Kamu lihat ini, Tuan? Sosisnya mulai kaku dan berubah warna. Mari kita tuangkan telur."
Aroma lezat hinggap di udara.
"Waktunya mengacau!" tambah Nona Arumi Chavez. Mengaduk sembarangan, menikmati kerusuhan yang ia buat. "Lihatkan, mereka kocar-kacir."
"Anda membuat telur orak-arik atau berantem dengan wajan, Nona?" tanya Archilles akhirnya tertawa.
"Oh, kau lihat hasilnya?"
"Ya ya aku lihat, ini namanya telur kocar-kacir. Cara Anda memegang sutel luar biasa, Nona."
"Terima kasih sanjungannya. Tenang saja tak perlu sogok aku, Archilles. Aku akan berikan porsi besar padamu."
Archilles tersenyum lebih lebar sepanjang mengobrol. "Terima kasih atas perhatian Anda, Nona Arumi."
"Kamu senang?"
"Ya."
Nona Arumi mengambil dua plates juga lembaran roti. Mengisi lembaran sayur, potongan tomat, telur kocar-kacir ke dalam roti dan tutupi lagi gunakan lapisan roti sisa. Belajar sangat cepat.
"Anda semakin lincah!"
"Oh, di matamu terlihat begitu. Aku tak yakin aku bisa, apalagi di depan Nyonya Sanchez. Kamu tahu ..., aku kehilangan semua kemampuanku sewaktu berhadapan dengan Nyonya Sanchez."
Archilles tak sepakat. Nona Arumi mungkin terlalu rendah diri, mudah terintimidasi oleh perasaannya sendiri. Nyonya Sanchez menurut penilaian Archilles hanya terlihat mirip Martha Via, mengasihi puteranya sepenuh hati dan akan lakukan yang terbaik sebagai pendukung utama.
"Mungkin, Nyonya Sanchez sangat emosional menilai Anda. Dan sebaliknya Anda menyimpan terlalu banyak kegelisahan. Sayangnya, Anda berdua tanpa sadar berbagi harmoni itu."
"Mengapa bisa timbul perasaan semacam itu?" tanya Arumi Chavez sudah tahu letak masalahnya tetap saja berkeluh kesah.
"Awal pertemuan tidak begitu berkesan karena menyimpan luka di masa lalu. Nyonya Sanchez banyak lalui banyak kesulitan, aku pikir. Beliau mudah sensitif jika menyinggung sesuatu yang berkaitan dengan keluarga Anda."
"Aku berdiri dan membungkuk minta maaf untuk kelalaian yang dilakukan nenek moyangku. Aku akan berhenti menerima uang dari Ibuku dan biayai diriku sendiri dari hasil usahaku."
"Nona ..., Nyonya Salsa tak lagi gunakan kejahatan sebagai penghasil uang. Keluarga ini punya banyak pabrik yang sedang berkembang saat ini."
"Oh, Archilles, aku tak mau lagi berurusan dengan uang warisan kakek-ku. Mengerikan. Aku akan bekerja giat. Nah, mari makan!"
"Terlihat lezat! Semangat, Nona!"
"Coba saja dulu."
Keduanya berhadap-hadapan menggigit roti.
"Lumayan," puji Archiilles, "Untuk ukuran pemula."
Mengunyah dalam diam.
Nona ..., aku akan tinggalkanmu di sini. Jaga dirimu dan bahagialah!
No no no, Lucca jangan lakukan ini!
Archilles Lucca menatap majikannya yang sedang nikmati makanan.
"Apa ada yang salah?" tanya Arumi Chavez. "Apa tidak enak?"
Archilles Lucca menggeleng kecil, ambilkan kotak tisu dan sodorkan pada Nona Arumi. Archilles pegangi gelas erat.
"Dalam empat hari ke depan, kita akan lanjut berlatih bela diri selama satu jam sehari. Pelajaran ekonomi setelah jam makan malam."
"Em, aku tak begitu suka bela diri. Kan ada kamu, untuk apa aku menyusahkan diriku sendiri, Archilles? Lagipula, kita telah banyak berlatih."
Arumi Chavez tanpa sadar mengangguk, menatap Archilles Lucca.
"Archilles," kata Arumi Chavez angkat dagunya. "Kamu menyakitiku." Piringnya didorong menjauh.
Archilles Lucca miringkan kepala, keheranan.
"Mengapa pandangi aku seakan kamu akan tinggalkan aku?"
Archilles Lucca kehilangan kata-kata.
"Em, Nona ..., sebenarnya nenekku sakit. Aku harus pulang dan merawatnya." Mencoba cara ini, menggali-gali iba di hati Arumi agar lepaskan dirinya. Demi masa depan semua kepala, secara khusus Nona Arumi dan dirinya sendiri.
Berada di sisi Arumi Chavez bawa Archilles Lucca dalam kebahagiaan sekaligus kesesakan. Tidak pernah merasa hidup dan bebas selama puluhan tahun sampai ia melihat Arumi Chavez tersenyum.
"Oh, aku turut berduka cita. Di mana nenekmu?"
"Di suatu tempat," jawab Archilles Lucca.
"Aku punya ide, Archilles! Bagaimana kalau, kita bawa nenekmu kemari dan menyewa perawat terlatih mengurusnya? Kamu akan tetap bersamanya di sini."
Archilles Lucca menggeleng. "Aku punya adik perempuan juga."
"Tak masalah, Zefanya bisa pindah sekolah kemari. Aku akan carikan sekolah terbaik."
Apa yang harus aku lakukan?
Aku tak bisa membantumu karena kamu bohong*!
"Archilles Lucca!" Arumi Chavez sipitkan kedua mata, intonasi rendah suara jelas-jelas
curiga sesuatu. "Kamu berbohong kan?"
"Mari lupakan saja, Nona!" putus Archilles pada akhirnya.
"Ya, lupakan saja kecuali nenekmu benar-benar sakit. Jangan sampai kamu kabur dariku, Archilles."
"Nona ..., pergilah tidur. Beberapa jam lagi Anda harus ke sekolah."
"Tepat sekali," angguk Arumi. "Aku diserang kantuk padahal aku baru habis bangun," keluh Arumi Chavez. "Kurasa aku hanya akan bolak balik di tempat tidur pikirkan jawaban apa yang akan kuberikan pada Ethan Sanchez."
"Anda menolak Tuan Ethan sekali ini, maka akan ada banyak gadis bersedia menungguinya. Apakah Anda sanggup pergi ke sekolah dan melihatnya bersama gadis lain?"
"Yang berikut pasti gadis idaman," sedikit gelisah, tak berdaya.
"Mau dengar pendapatku?" tanya Archilles Lucca.
"Aku terus dengar pendapatmu hingga jari-jariku melepuh terkena minyak tempura."
"Sekali ini saja."
"Baiklah."
"Anda sangat serasi bersama Tuan Ethan."
Arumi menepis tangannya sendiri di depan wajah.
"Aku terus percaya padamu, Archilles Lucca. Mengapa terus mendorongku?" Bertanya dengan nada seolah tahu segalanya. "Kamu sembunyikan sesuatu!"
"Tidak, aku tak lakukan itu, Nona." Archilles Lucca kehilangan akal, mende--ah. "Baiklah, aku akan coba berdiam diri. Sekarang kembalilah ke kamar Anda, Tuan Puteri!" kata Archilles tegas. "Tidurlah dan hanya pikirkan pelajaran Anda, okay? Aku akan bereskan perkakas."
"Ya ya ya," angguk Arumi Chavez, "mimpi indah, Archilles!"
Baru saja berbalik badan ayunkan dua langkah, terhenti, dapati Salsa Diomanta berdiri di pintu menuju dapur.
"Arumi?!"
"Ya, Mom. Aku akan kembali tidur." Arumi lanjutkan langkah datangi Salsa.
"Kamu sudah makan?"
"Ya, Mom, telur kocar kacir. Apa Ibu juga lapar? Sayangnya porsi tadi hanya berdua untukku dan Archilles."
"Tidak," sahut Salsa mengusap kepala Arumi Chavez lembut. "Pergilah tidur!"
"Sampai nanti! Selamat malam, Mom. Selamat malam, Archilles Lucca."
"Selamat malam, Nona," sahut Archilles segera membawa piring kotor ke pencucian, berharap Nyonya Salsa ucapkan selamat malam dan berlalu.
Selama beberapa menit Salsa Diomanta masih tetap berdiri di tengah dapur, menunggu Archilles Lucca selesai.
"Bagaimana Hellton?"
"Tidak bagus, Nyonya!"
"Semua orang akan bergerak besok. Aku akan bawa adikku kemari, Archilles. Cukup sudah!" ujar Nyonya Salsa gusar.
"Baik, Nyonya."
"Pastikan segala hal berjalan lancar, Archilles."
"Baik, Nyonya."
"Selamat beristirahat, Archilles," kata Nyonya Salsa hendak pergi."
"Nyonya ..., bisakah aku minta waktu Anda sebentar?"
Salsa Diomanta berbalik, alis sedikit terangkat.
"Ini mungkin bukan waktu tepat ..., tetapi aku perlu beritahukan Anda bahwa aku akan mengundurkan diri sebagai pengawal Nona Arumi."
Salsa Diomanta memandang Archilles Lucca, datar sebelum berganti sesuatu yang lebih rumit.
"Kapan kamu pergi?" tanya Nyonya Salsa tak bisa ditebak ekspresi tersirat di wajahnya.
"Secepatnya, Nyonya," sahut Arcilles. "Aku akan selesaikan tugasku dalam seminggu atau dua Minggu."
Hening.
Salsa menarik napas kuat, mengangkat bahu, hembuskan napas. "Temukan cara ..., berikan pengertian pada Arumi. Jangan biarkan Arumi mencarimu di kemudian hari dan sudutkan aku."
"Baik, Nyonya. Aku akan kembalikan setengah gajiku pada Anda."
"Tidak perlu!" cegah Nyonya Salsa cepat.
Tak ada suara.
Lalu ...,
"Bolehkah aku tahu tujuanmu setelah dari sini?"
"Maafkan aku, Nyonya." Archilles menunduk. Sikapnya beritahukan Salsa bahwa Archilles berniat menghilang.
Kembali hening.
"Semoga beruntung," tukas Salsa putuskan tak perlu tahu kemana Archilles Lucca pergi.
Lama setelah Nyonya Salsa menghilang, Archilles Lucca masih terpaku di dapur, menatap bangku Arumi Chavez duduk.
Menarik napas berat. Lampu dapur dimatikan. Langkah gontai kembali ke ruang cuci. Menatap pantulan tubuhnya di kaca.
Katanya ..., pria tak begitu pakai perasaan ..., jelaskan bagian yang terluka ini apa? Mendorong pintu masuk terbuat dari kaca. Ia keluarkan pakaian dari mesin tak bersemangat. Decit pintu tertutup di belakangnya. Archilles refleks berbalik.
Arumi Chavez berdiri di sana.
"Nona ..., mengapa Anda di sini?" tanya Archilles Lucca tidak berharap Arumi Chavez menguping percakapan di dapur. Jelas saja harapannya kosong.
Wajah itu tanpa senyuman, hanya menatap dingin dan hampa. Ada luka di matanya, ada tangisan di hatinya.
"Kamu berjanji tak akan pergi," kata Arumi Chavez melirih.
"Nona ..., aku memang harus pergi pada akhirnya."
Diam.
"Baiklah. Kamu boleh pergi!" angguk Arumi Chavez dilingkupi marah dan kecewa. Suaranya bergetar saat mulutnya terbuka lagi. "Selamat tinggal, Archilles." Berbalik cepat, tak perhitungkan jarak pintu, terlalu tergesa-gesa. Atau mungkin sesuatu buram-kan penglihatan hingga kaca tampak tidak nyata.
BRAK!
Menabrak pintu kaca keras.
"NONA?!" seru Archilles Lucca ulurkan tangan pada pinggang Arumi hanya untuk ditepis keras. Archilles tak menyerah tetapi Arumi menolak Archilles kasar. Arumi Chavez mendorong pintu ruang cuci. Hendak keluar tanpa kata.
Turuti kehendak hati, tangan kanan Archilles Lucca lingkari pinggang Arumi menarik masuk dalam sekali hentakan sebelum Arumi Chaves sempat pergi, mendekap dari belakang.
Menit-menit berikutnya hanya ada kesunyian. Archilles Lucca tenggelam di rambut Arumi. Tangan kirinya dipakai melingkari leher Arumi. Ia kemudian bisa rasakan butiran air mata terjatuh di punggung tangannya. Makin lama makin basah.
"Maafkan aku, Nona!" pinta Archilles Lucca terbenam makin dalam. Ia tak bisa jelaskan bahwa ia lebih kesakitan.
"Ini lebih buruk, aku percaya padamu."
"Jangan menangis, please! Semuanya akan baik-baik saja. Memang aku tak akan terlihat lagi, tetapi aku tak hilang begitu saja. Aku akan selalu di sampingmu dengan cara berbeda. Aku akan doakan keberhasilan-mu dan kebahagiaanmu. Anda hanya harus percaya padaku."
"Aku hanya butuh melihatmu di sisiku!" Berubah terisak-isak.
"Maafkan aku menyakitimu. Ini adalah hal yang harus aku lakukan untuk mengubah diriku yang lama. Aku punya sisi hitam di masa lalu butuh kuperbaiki. Anda semakin beri aku alasan dan tujuan."
"Tolong, jangan pergi! Belakangan, saat kamu tak ada, aku selalu bangun pagi seakan-akan sesuatu yang buruk sedang mengincar aku."
Nona Arumi sering katakan hal ini beberapa kali.
"Semuanya akan baik-baik saja. Kita punya waktu satu dua Minggu. Berdiri tegak dan berlatihlah, Anda akan mulai berkelana sendirian."
"Aku tak tahu caranya," keluh Arumi Chavez. "Jika kamu pergi aku akan kesepian."
Archilles Lucca lepaskan pelukan, memutar tubuh Arumi agar berpaling padanya, mengusap semua lelehan air mata.
"Kembalilah ke masa di mana ..., kita belum bertemu. Anda hanya andalkan Tuan Ethan. Lakukan sejak sekarang. Anda akan baik-baik saja tanpaku."
***
Tinggalkan komentar paragraph, komentar di komentar readers. like di komentar readers lainnya.
Pendapatmu soal chapter ini. Bagaimana perasaanmu?