My Guardian Angel (The Dust of Love)

My Guardian Angel (The Dust of Love)
Chapter 123. Your Resonating Light



Dari malam itu, cekikan pada leher menguat. Pistol bius bersarang di tubuhnya. Aloizio Jacquemus buang kesempatan untuk membungkamnya. Aloiz, Tatiana tebak, berubah pikiran atau mendadak punya rencana lain untuk dilakukan padanya. Atau mungkin karena bel di pintu yang mengganggu dan warning darurat di mana-mana, bertebaran di seluruh penjuru kota.


Tatiana tahu bahwa ia terjebak dalam sini kecuali ia bisa taklukan pria yang melekat di punggung dan kabur darinya. Ia kehabisan waktu. Tatiana terbiasa menjegal orang. Ini pertama kali dia dijegal seseorang.


Dalam lima menit sepanjang radius 1 km, aparat akan mulai menyisir wilayah termasuk hotel ini.


Kesempatan baik datang padanya. Tatiana mencoba gunakan kedua siku menyundul sisi - sisi rusuk pria di belakangnya. Namun, pria ini seakan bisa prediksikan gerakannya. Aloizio pererat cengkeraman hingga ia akan kehabisan oksigen jika ia coba melawan.


Dan si pria segera lingkari tangan yang memegang pistol bius disekitaran pinggang lalu mengunci gerakannya dengan menggenggam pergelangan tangan kanannya. Ia digiring hingga lutut menyentuh sofa segera terdesak hingga bertekuk di sofa.


"Peri Penjaga (Tatiana)..., aku akan lepaskanmu sekali ini dengan banyak pertimbangan." Pria itu menghirup lehernya. Demi apa, biasanya ia yang mengendus leher korbannya. Pria itu berbisik di ujung kuping. "Aku malas berurusan dengan Hedgar dan tidak ingin terlibat jenis kejahatan apapun seperti yang ada di duniamu juga Abercio. Aku tidak menyentuh kejahatan dan bahkan untuk menghirup aromanya saja sungguh buatku mual. Kamu menembak Abercio. Aku pikir, cukup pantas membayar semua dosa adikku yang telah dilakukannya padamu."


Cengkeraman dilonggarkan tetapi si pria tetap waspada. Bibir lembab bergerak-gerak di sepanjang pembuluh darah di leher jenjangnya hingga ke ujung kuping.


"Tetapi ..., jika tanpa sengaja aku menemukanmu sekali lagi ...," tambah Aloizio bersuara dingin seekstrim di poin tertinggi musim dingin. "Kamu tak akan bisa mencegah, apa yang akan aku lakukan padamu."


Tatiana menggeram, ia tak suka diancam.


"Jangan coba! Aku tidak main-main!" desis si pria lagi. "Di atas Acongacua masih ada Everest. Kamu tak akan sesumbar, kamu paling ahli di sini. Aku akan jadi badai angin untukmu."


Ting Tong!


Bel berbunyi sekali lagi. Aloizio Jacquemus mendorong tubuhnya ke sofa. Ia terlepas. Pria itu melangkah nyalakan lampu utama. Kembali duduk dan bersandar di sana. Renggangkan leher ke kiri dan ke kanan.


"Silahkan pergi!" Tangan Aloizio persilahkan Tatiana keluar. "Jangan lupa sepatumu dan yang lainnya. Atau aku akan kirimkan ke alamatmu nanti."


Tatiana menyipit. Dari mana pria ini tahu?


"Hedgar beritahu aku!" lanjut pria itu. "Termasuk nama nenekmu, Queenisera Cleopatra. Dan Charles adalah pemuda yang aku biayai sekolah musiknya."


Tatiana menatap pria di depannya.


"Kamu bisa sangat teliti, tetapi kamu dan Charles adalah nasib yang ditentukan tanganku."


Bagaimana bisa Hedgar mengkhianatinya? Demi kakaknya, ia rela berikan nyawanya pada musuh. Inikah balasan? Apa yang kakaknya pikirkan? Apakah itu berarti Abercio belum mati?


Aloizio menggeser lemari wardrobe kembali beratribut seperti Marcos. Kaca mata hitam pasangi sedikit janggut tipis-tipis. Ia memakai soft lens, kacamata gelap lalu mengambil stik biola. Apakah ia sangat sibuk tadi hingga tak dengarkan jeda permainan A Thousand year?


Aloizio mengelus perlahan benda di tangan sebelum mulai menggesek. Mainkan intro pembuka dari sebuah balada lembut.


De tus ojos a mi eternidad


De tus labios a mi libertad


Solo basta la ilusión


Adalah puisi cinta dalam liriknya. Sebuah karya seni. Balada totalitas didedikasikan untuk seseorang yang akan menghabiskan hari-hari tua bersama.


Tetapi pria ini menggubah interprestasi indah dua orang saling mencintai, menjadi sesuatu lebih s33ns11tif serta menyayat. Seakan, penafsiran dalam lirik lagu adalah ilusi tak akan pernah kesampaian. Bahwa kekasihnya memang berbaring bersama, di dadanya, tetapi hanya mimpi.


De que el tiempo me de al fin


Una oportunidad


Tatiana tak mungkin menyerang atau coba-coba melukai Aloizio Jacquemus sekarang atau ia sungguhan akan pergi ke balik jeruji.


De tu vientre a mi salvación


De tus besos a mi redención


Se descubre el corazón


Y me guardo para ti todo este gran amor


Tatiana segera kemasi barang-barang. Ia memakai sepatu, matanya tak berhenti awasi Aloizio yang tenggelam dalam permainannya. Pistolnya mungkin disandera pria itu. Ia tak punya waktu mencari. Dan entah di mana benda tersimpan.


Tatiana berdecak sebab ada yang lebih lihai darinya dan Aloizio Jacquemus bukan gangster, preman atau bandit macam mereka. Yang ia tahu, Aloizio dipersiapkan mengisi kursi parlemen. Karirnya kebanyakan di bidang politik. Dalam lima tahun terakhir Aloizio tak begitu terkuak sepak terjang. Menurut infomasi akurat, pria ini bertugas di kedutaan. Juga terlibat langsung dengan program-program WHO. Dia, seorang filantropis sejati dan sama sekali tidak terkait dengan hal-hal kelam seperti adiknya, Abercio. Setengah peri, setengah malaikat.


Sangat absurb. Sekali lagi Tatiana menoleh pada Aloizio. Si pria berhenti sejenak.


"Apa kamu menikmatinya?"


"Aku pikir Àngel."


"Terlalu mulia untuk pembunuh sepertimu."


"Ya, ini ironi," sahut Tatiana sadari bahwa tarikan dan dorongan dari keseluruhan bow menyentuh body violin juga lirik lagu lebih tepat ditujukan baginya yang mengkhayal bisa hidup bersama Archilles Lucca.


'Menyimpan cinta yang luar biasa' untuk Archilles seperti di salah satu lirik lagu ini. Dan lirik berikut, 'sampai waktu akan bersama'. Laksana seseorang merindu mata air di padang gurun.


Bayangan wajah Archilles sebelum ia tinggal sebabkan kesedihannya kian melambung. Ia menggigit ujung bibirnya sendiri. Harusnya ia tak terlalu banyak atraksi. Harusnya ia mencegah Archilles pergi ke gudang itu. Bukannya biarkan prianya masuk ke dalam sana hanya karena ia ingin buat Archilles terkesan dengan kemampuannya. Jika ia lebih dahulu selamatkan Archilles, ceritanya mungkin beda. Semua tak perlu terjadi. Ia mencintai Archilles Lucca tapi tak punya firasat bahwa segalanya akan berakhir buruk bagi pria itu.


"Apakah dia tidak selamat?" tanya Aloizio ternyata diam-diam mengamatinya. Terdengar peduli.


Tatiana sinis. Lebih bagus ditembak mati daripada menderita luka bakar di sekujur tubuh.


"Mengapa kamu masih di sini?" Tatiana balik bertanya menekan dukacita mendalam. Ia akan menemani Archilles selepas dari sini. Atau itu terlalu beresiko. Ia mungkin diikuti. "Adikmu mungkin butuhkan dukunganmu."


"Kalau jadi kamu, aku akan tutup mulutku. Situasi tidak bagus. Kamu tak akan coba mengungkitnya dan buatku menyeretmu lagi." Si pria menyahut penuh tekanan.


"Kamu lupa duluan menyentuh tuas pengungkit. Aku pergi."


"Kamu bisa tinggal untuk dengarkan sampai selesai. Kita akan makan malam setelahnya. Bukankah kamu perlu membayarku karena telah mainkan lagu kesukaanmu?"


Pria ini sering mengejutkannya. Ingin ia tidur tetapi tak membiusnya. Menyuruhnya pergi tetapi menahannya untuk makan malam. Mencengkeramnya kuat tetapi tidak membunuhnya.


"Anda berada dalam dimensi lain dalam menafsirkan irama lagu ini. Aku lebih senang versi tidak cengeng karena aku mencintai dengan kekuatan bukan kerapuhan. Selamat tinggal." Tatiana meraih mantel dan pergi ke pintu setelah memakai kaca mata hitamnya. Ia mengintip keluar sebelum membuka pintu dan terkejut.


Detektif Liem!


Tanpa tanda pengenal dan meskipun menyamar sebagai salah satu pegawai hotel dengan troli makanan di depannya, Tatiana mengenali Liem Davidson. Detektif dari tim investigasi gabungan yang pecahkan banyak kasus pembunuhan kecuali kasus penembakan di mana ia terlibat. Detektif Liem tak pernah bisa menangkapnya. Mungkin kali ini karena ia tanpa persiapan dan rencana.


Bunyi bell suite.


Ting Tong!


Jelas saja sayap kanan hotel akan diperiksa satu persatu.


Beberapa orang petugas bicara pelan pada tamu hotel. "Maaf atas ketidak-nyamanan. Kami perlu memeriksa suite hotel ini."


Dan menggiring mereka pergi. Detektif Liem mengangkat tangan kiri berikan isyarat "come"!


Tatiana bisa ilustrasikan. Para agen dengan senjata lengkap berbaris, merayap di sisi dinding. Kartu pembuka pintu cadangan di tangan Detektif Liem. Siap digesek.


Lalu, kode perintah lain "siap". Tatiana tahu, jika Liem turunkan tangan, pasukan khusus akan menggerebek suite. Bel tiga kali telah diabaikan.


"Shits!"


Tatiana melangkah mundur. Aloizio mainkan biola di bagian chorus.


Tu amor será la luz en mi camino


Tu amor tu dulce amor


Será calor cuando haré frio


Y juntos bajaremos las estrellas


Seremos dos amantes


Una historia sin final


Ekspresinya sedikit mengejek. "Tidak jadi pergi? Apa yang akan kamu lakukan sekarang?"


Tatiana nyalakan lampu ranjang. Padamkan cahaya utama. Mantelnya dilempar begitu saja begitu pula kaca mata dan tasnya. Sepatu bertumpukan dengan sepatu putih Marcos. Membuat satu-satunya kesempatan. Dua orang dalam satu ruang dan abaikan dering pintu. Mereka mungkin sedang ....


Tanggalkan dress. Datangi pria yang berdecak untuknya.


"Menarik!"


"Bukan aku satu-satunya tersangka. Pria buta lebih meyakinkan dibanding seorang wanita s3nsu44l."


Tatiana menyentuh kaca mata dari wajah si pria. Mengambil biola dari pelukan Aloizio dan letakan di sofa lain. Ia kembali pada pria itu.


"Apa pikirmu aku akan menolongmu? Kamu baru saja menembak adikku."


"Marcos akan menolongku karena Charles janjikan hal itu. Lagipula, mengapa kamu masih di sini?" tanya Tatiana keluarkan Aloizio dari dalam sweater pria itu sedang yang bersangkutan pura-pura buta. Ikut meraba-raba kancing kemeja. "Marcos juga tak bisa pergi sebagai Aloizio atau akan tertangkap. Kecuali, kamu punya alibi lain. Aku penasaran apa itu?"


"Sungguh keputusan bijaksana tak membiusmu diawal."


"Aku yakin ada alasan lain Anda lepaskan aku. Kamu sebenarnya mendukung adikmu ditembak. Apakah ini untuk kepentingan publik? Alihkan isu kejahatan Abercio yang lain? Atau simpati rakyat untuk Perdana Menteri? Untuk Aleix? Untukmu? Pilih salah satu."


J44L444n9! umpatnya pada diri sendiri.


"Cerdas. Aku tak butuh episode simpati publik. Abercio perlu diberi peringatan saat tak ada satupun dari kehidupan normal yang menyayanginya bisa luluhkan kekerasannya. Dia akan selamat dari tembakan-mu dan membawa resolusi. Aku cukup melihat ayahku diserang karena kecurigaan publik padanya. Alasan, mengapa aku biarkanmu tunaikan kejahatanmu. Tetapi, kesempatan bagi semua orang cuma sekali dariku. Untuk Abercio juga pengampunan dariku untukmu. Kita tak akan ulangi warning-ku untukmu diawal."


"Hanya itu? Kamu tidak tertarik dengan bukti kejahatan Abercio?"


"Aku tak peduli. Hedgar telah menawarkannya padaku sebagai ganti tak menyakitimu. Mereka bersama dalam banyak organisasi hitam. Kamu bisa kirimkan pada kejaksaan dan membuka semuanya di media. Aku bisa jadi perisai ayahku. Selain Abercio, tak ada satupun dari kami terkait. Abercio bekerja sendirian dan tidak dapatkan dukungan apapun dari kami. Ayahku cukup berkorban dan menderita. Dia hanya ingin membangun negeri ini dengan cintanya yang tulus. Tetapi putera kesayangan ibuku akan lemahkan semangat ayahku. Sikap pembiaran kami tidak mendidik Abercio sama sekali. Aku setujui kamu menghukumnya, tetapi hanya sekali ini. Adikku tetap adikku, seburuk apapun kelakuannya."


Tatiana menangkap nada muak setiap Aloizio bicarakan adiknya, Abercio. Tetapi sisa-sisa rasa sayang ketika menyebut, 'adikku'. Ini mungkin sejenis 'efek jera'. Aloizio biarkan hukuman untuk Abercio dijatuhkan. Semacam konsekuensi bahwa Abercio akan mati jika ia teruskan bisnisnya. Cara mendidik yang aneh.


Pintu terbuka. Troli didorong masuk.


"Nona Queenesera ...."


Suara detektif Liem. Di belakangnya sepasukan orang mengikuti dengan senjata terarah.


"Whattt the fffnck!!!" umpat Tatiana persis seseorang yang kehilangan momen tertinggi sebuah ekspedisi.


"Nona ..., apa yang terjadi? Aku dengar langkah kaki banyak orang?"


Detektif Liem berikan kode pasukan di belakangnya untuk menyingkir. Terkejut melihat pemandangan di dalam ruang setengah gelap. Benda-benda berserakan dan dua orang 'menyatu' di atas sofa.


Detektif Liem menonton pacuan kuda di arena pribadi.


"Apakah para staf tidak diajarkan sopan santun?" tanya Tatiana di antara napas terengah-engah. Si pria buta meraba-raba mencari sesuatu temukan bantal dan menutupi bagian yang tabu untuk dilihat.


Okay, mereka bisa bekerja sama sekarang dan saling menggigit nanti.


"Nona ..., Anda tak lekas bukakan pintu sedang bel berbunyi berulang kali."


"Bukankah itu pertanda, tamu suite-mu sedang sibuk?" tegur Tatiana. "Apakah aku menyewa suite untuk patuhi jam layanan? Bukankah staff bisa menelponku terlebih dahulu untuk konfirmasi alih-alih ciptakan ketidak-nyaman seperti ini?"


"Kami juga perlu memeriksa suite."


"Apa ada masalah? Apakah aku selundupkan obatan yang terlarang ke dalam sini? Pesta nakal? Aku hanya ingin dengarkan irama biola dan berpikir jernih."


"Maafkan kami."


"Aku akan laporkan tindakan tidak menyenangkan ini pada pemilik hotel."


"Nona ..., telah terjadi penembakan satu jam lalu di 2020 Night Club?"


"Apa urusannya denganku? Bukankah harusnya memeriksa ke tempat kejadian?"


"Peluru disinyalir berasal dari hotel ini."


"Apa ..., kamu staf hotel atau petugas dari pihak berwenang?"


"Detektif Liem Davidson!" Pria itu akhirnya menunjukan lencana. "Mohon kerja samanya."


"Silahkan diperiksa. Jika tak ditemukan apapun. Aku akan menulis surat tuntutan dan meminta ganti rugi lima puluh kali lipat karena insiden ini pada Anda bukan yang lain."


Detektif Liem berpikir sejenak. Mengidentifikasi ruangan dengan mata tajamnya. Dress, und3rw34r, kaca mata di sembarang tempat.


Sedikit rekonstruksi kejadian. Si pria buta masuk. Lepaskan sepatu dan pergi ke sofa. Tongkatnya ada di karpet dekat kaki pria itu. Mungkin saja jatuh karena sofa berguncang. Mainkan biola.


Satu atau dua instrumen dalam sepuluh menit?


Pria itu menghitung waktu sejak Nona Queenisera check in. Momennya sedikit tepat. Dua orang ini sniper atau momennya pas untuk percintaan panas.


Nona Queenisera perdayai pria buta? Mungkin detektif Liem sedikit geli. Okay. Pemain biola mungkin buta, indera penglihatan tidak berfungsi. Bukan berarti di bawah sana juga, bukan?


"Bolehkah aku bertanya?"


"Tidak!" sahut Tatiana tidak senang.


"Silahan, Tuan," jawab Aloizio. Suaranya berubah ke mode awal, tidak semaskulin suara aslinya walaupun tinggalkan jejak. "Jika tujuan Anda adalah aku. Namaku Marcos Magenta."


"Berapa lagu Anda mainkan dalam setengah jam, Tuan Marcos?"


"Satu."


"Satu?"


"Ya, A Thousand Year dalam dua puluh menit. Kami mengobrol sebelumnya dan suasana romantis mungkin membuat Nona Cleopatra menciumku. Aku membalasnya. Nona Cleopatra keluarkan aku dari balik sweater, lepaskan kemejaku dan menggerayangiku. Aku tidak menolak karena Anda tahu alasannya. Dari aroma dan bayaran yang aku terima, aku bersama seorang wanita cantik dan mudah berapi-api. Kuharap aku benar."


"Baiklah! Baiklah! Mungkin kamu mendengar sesuatu selama dua puluh menit kamu mainkan A Thousand Year."


"D3s4h4n. Aku pikir."


Tatiana menyipit.


"Nona Cleopatra mungkin menari strr3pt34s3. Aku yakin sebab intensitas cahaya dari lampu silih berganti seperti sesuatu meliuk. Em ..., aku tak bisa jelaskan. Mungkin anda melihat pakaian di karpet. Andai Anda datang lebih cepat, Anda mungkin beruntung."


"Kalau sudah selesai mengamati, tolong tinggalkan kami juga makan malamnya."


Detektif Liem menandai raut dua orang di depannya.


"Maaf aku mengganggu."


"Sebelum Anda pergi, bisakah ambilkan selimut di ranjang. Nona Cleo kedinginan," pinta si pria buta pada detektif. "Kami tak menyangka ada interupsi bodoh ini."


Liem Davidson menurut. Berikan selimut bulu. Lalu, pergi dari sana.


Klik.


"Aku harus pergi!"


Tatiana buru-buru hendak turun. Pinggangnya ditahan erat oleh lengan kokoh. Menarik tengkuk Tatiana dan mulai mencium bibirnya cepat. Menindihnya di atas sofa. Menutupi tubuh mereka dengan selimut.


"Jangan bergerak! Dia kembali!"


"Konyol!"


"Dia lupa tujuannya datang. Bukankah ruang mandi-mu harus diperiksa?"


Itu masuk akal. Tatiana berdecak setelah lima menit dan tak ada tanda-tanda apapun. Tatiana gunakan telapak tangan mendorong dada Aloizio keras. Hingga pria menjauh darinya. Ia keluar dari perangkap tubuh si pria.


Berpakaian sangat cepat. Meraup barang-barangnya dari atas karpet.


"Kamu akan berputar-putar sebelum pulang kecuali kamu ingin ditangkap."


Tatiana tak menyahut. Ia keluar dari suite. Detektif Liem tak lagi ada di sana. Juga tak ada pasukan khusus. Mereka mungkin pergi dan mengintainya dari suatu tempat.


Sementara Aloizio Jacquemus naik bus pulang ke daerah kumuh sebagai pria buta. Berjalan lambat di jalanan menanjak. Ia masuk ke salah satu apartemen tua.


"Marcos, apakah permainanmu hari ini disukai pelanggan?" tanya seorang wanita paruh baya, pengurus apartemen.


Marcos meraba-raba jalanan. "Ya, Mia. Dia menciumku setelahnya."


"Oh ya Tuhan. Apa yang kamu rasakan? Bagikan denganku."


"Kemarilah, aku akan berbisik karena sangat malu."


Wanita paruh baya hampiri Marcos yang mulai bicara pelan. Mia tampak tak tahan geli.


"Oh, astaga. Aku tak bisa bayangkan." Sangat antusias.


"Mau dengar lainnya?"


"Apa masih ada lagi?"


Mereka bicara lebih dekat.


"Ikuti dia, Mia. Caritahu apa yang dia lakukan. Semua aktivitasnya tanpa satupun terlewati. Beritahu aku hal kecil apapun. Temukan celah untuk membuatnya datang padaku!"


"Siap, Tuan."


Dari kejauhan mata detektif Liem mengawasi.


"Dia ..., cuma pria buta, Detektif."


"Ya dan sedang berbunga-bunga karena baru saja ditunggangi gadis cantik."


***


Sebelum Anda bertemu kejutan-kejutan di depan. Aku beritakan kabar gadis ini.