
Satu malam berlalu. Napas Aurora sangat halus berhembus di dada. Arumi tidak bisa lagi tidur menjelang pagi. Ia pikirkan banyak hal. Arumi membelai rambut Aurora. Kasih sayang tumbuh pesat dalam hatinya dan kini meluap kemana-mana. Ia mengecup Aurora sebanyak yang ia suka.
"Mama hanya pergi sebentar saja."
"Kemana?" Tiba-tiba Aurora memeluk lehernya erat.
"Au sudah bangun?"
"Masih ngantuk."
"Tidur, Au. Sayangku, Mama minta ijin pergi sebentar saja. Lalu, Mama akan kembali dan kita bisa main bersama."
"No. Au ingin mama hali ini."
"Mama harus pergi ke dokter. Mama harus sehat biar bisa bersama Aurora."
"Mama sakit?" tanya Aurora.
"Hu um. Jangan bilang siapa-siapa. Ini rahasia kita berdua." Arumi perlu jujur pada Aurora apapun keadaannya.
Aurora mengangguk senang. "Mama cepat sembuh."
"Ya. Tidurlah lagi. Nanti Mama pulang dan kita main berdua."
"Bagaimana dengan Papa? Apa masih sakit?"
Arumi terdiam.
"Au ..., Papa dan Mama tidak bisa bersama karena masalah yang rumit. Au, jangan terlalu berharap. Tetapi, Aurora akan bersama Mama."
"No. Papa, Mama dan Au. Nanti Papa sembuh, pasti datang. Kita tunggu saja. Macam Au tunggu Mama."
Arumi bernapas pelan-pelan. "Papa lain mau, Au?" Bagaimana ini nantinya?
"No. Tidak mau. Hanya mau Papa Au. Mama jangan tatut, ya. Au sudah doa minta Tuhan bawa Papa Au."
Arumi bangun setelah Aurora kembali terlelap. Ia pergi ke dapur. Itzik Damian telah di sana siapkan sarapan untuk mereka.
"Ibu pengganti Aurora, apakah dia ...."
"Kontraknya selesai. Dia lanjutkan hidup."
"Aku harus pergi," kata Arumi pada Itzik.
"Mari sarapan dulu."
"Aku tak bisa menelan sarapan di meja yang sama denganmu!"
"Narumi ..., maafkan aku!"
"Aku punya perasaan tubuhku habis dinodai olehmu! Sebulan ini sangat menyiksa karena aku jijik pada diriku sendiri setiap ingat aku dan kamu punya bayi."
"Narumi ..., aku terlalu gila waktu itu karena terlalu mencintaimu."
"Beruntung Aurora menghapusnya semalam." Arumi menatap pria itu mudah kesal. "Bagaimana kau bisa berkata Aurora tidak mengidap Albinisme?"
"Aurora sehat dan baik-baik saja."
"Jangan berpikir kabur dengan Aurora, Itzik Damian. Aku akan membunuhmu. Sumpah demi Tuhan."
Itzik Damian tersenyum. "Tidak. Aku hanya ingin bersama Chaterine dan Aurora di sisa waktuku. Miliki kehidupan kami sendiri."
"Aku mengutuk-mu, Itzik Damian. Hidup selama mungkin sampai kamu bosan hidup. Tuhan tak akan mencabut nyawamu hari ini, besok atau dalam waktu dekat."
Senyum Itzik Damian mekar jauh lebih lebar. "Kamu maafkan aku, Narumi?"
"Aku harus pergi."
"Berapa lama?" tanya Itzik Damian gelisah seakan tahu kemana Arumi akan pergi. "Bolehkah aku temani? Beritahu aku, Narumi. Apa yang akan kamu kerjakan hari ini? Apa jadwalmu?"
Arumi mengangkat wajah. Selama tujuh tahun Itzik Damian tahu di mana Archilles Lucca berada, tetapi pria itu tidak murah hati padanya. Itzik Damian mungkin punya alasan. Semua orang punya alasan untuk menyakitinya.
Itzik Damian menopang kedua tangan di atas meja.
"Semua yang kamu dengar semalam hanya spekulasi, asumsi kadang andai-andai. Kami lakukan di sepanjang hidup kami. Aku dan Tatiana tidak benar-benar tahu apa yang sebetulnya terjadi. Tatiana mungkin pergi untuk dapatkan sesuatu."
"Kamu telah dipecat dari asistenku juga kerabatku."
"Narumi."
"Santai saja denganku, Itzik. Kamu bukan satu-satunya. Bergabunglah kembali bersama kawananmu." Arumi menahan kata. "Aku hanya yatim piatu. Aku terbang sendirian sejak semalam."
"Narumi ...."
"Jangan ikut campur urusanku, apapun itu Itzik Damian. Selain Aurora, tidak ada apa-apa yang tersisa di antara kita untuk diperjuangkan. Aku maafkan kamu karena Aurora. Jangan menuntut lebih dariku."
Arumi pergi dari sana. Sedang, Tatiana Sangdeto telah hilang sebelum fajar menyingsing. Arumi pikir, Tatiana punya agenda. Dan wanita itu mungkin sedang berburu.
Arumi pergi ke rumah sakit. Masih terlalu pagi. Ia sengaja puasa sebelum lakukan medical check up. Ia bersandar di mobil milik Itzik, hadiah untuk pria itu suatu waktu. Pejamkan mata.
Brelda kirimkan pesan akan datang bersama keluarganya sore nanti untuk lamaran. Dan pernikahan besok pagi pukul sembilan di Saint Nicholas. Arumi perlu beritahu Xavier bahwa ia miliki Puteri. Atau tak perlu. Xavier mungkin tak akan peduli. Namun, kejujuran itu penting.
Arumi segera masuk ke dalam rumah sakit. Ia bertemu Dokter Joseph Nafas. Mulai lakukan serangkaian tes dan pemeriksaan panjang. Dari yang paling sederhana seperti pengecekan fisik, pengambilan sampel darah sampai pada pemeriksaan dengan peralatan canggih. Di mana ia berbaring dan masuk ke dalam sebuah tube besar. Di sana, tubuhnya di scan secara keseluruhan dan titik beratkan di bagian kepala.
"Kami akan menelpon Anda untuk hasilnya, Nona." Dokter Joseph Nafas bicara di ruangan.
"Baiklah, Dokter Berapa lama?"
"Mungkin dua jam untuk hasil pemeriksaan secara keseluruhan termasuk dari laboratorium."
"Aku akan menunggu, Dokter."
Arumi pergi mencari restoran. Duduk dan nikmati makanan. Ketika pegangi sumpit jemarinya bergetar. Mereka tidak terkoordinasi dengan baik. Ia seperti tak pernah memakai benda itu sebelumnya.
Xavier Set Moon menelpon. Arumi menunggu tangannya kembali normal sebelum mulai makan seperti biasa.
"Narumi, bukankah kamu perlu mencoba gaun pengantinmu?"
"Aku sibuk!"
"Aku juga sibuk hanya saja kita akan menikah besok."
"Kamu terlalu bersemangat, Xavier."
"Brelda memaksa. Jika tidak, aku tak peduli apa yang mau kamu pakai. B1k1n1 atau serbet meja makan ke pernikahanmu sendiri," balas Xavier dari sebelah.
Arumi tak menyahut. Xavier berdehem kecil. Mengatur nada. "Kamu di mana?"
"Di luar."
"Di luar angkasa?" tanya Xavier berdecak. "Apakah kamu menjawab panggilanku dari roket menuju Mars? Berita internasional baru saja lewat. Seorang gadis yang putus asa ditinggal kekasihnya, melamar untuk jadi penghuni Mars dan dia tak akan pernah kembali ke bumi. Apakah itu kamu, Narumi Vincenti?"
Pakkk!!! Sesuatu berbunyi dari sebelah dan sangat keras. Mungkin Brelda Laura menimpuk kepala Xavier dengan sesuatu.
"Usiamu 27 tahun, tetapi kau seperti siswa sekolah menengah atas yang tinggal kelas selama belasan tahun."
Omelan.
"Narumi, mari datang ke kantor," pinta Brelda Laura Moon setelah merebut ponsel dari Xavier.
"Baiklah, B."
Dalam dua puluh menit, ia dan Xavier ada di ruangan Brelda.
"Aku pilihkanmu beberapa. Terserah mau yang mana. Semuanya pasti bagus di tubuhmu."
"Anda akan tentukan bagiku, Brelda Laura."
"Yang ini Narumi, cocok untukmu. Mataku hanya perlu menilai." Brelda menggiringnya ke ruang ganti dengan satu gaun di tangan. Arumi segera berganti dan menatap pantulan dirinya di cermin berbalut gaun pengantin A line. Brelda pakaikan kerudung putih tule tetapi ditambahkan dengan bunga-bunga bertitik mutiara yang sangat cantik.
"Oh, Xavier Moon sangat beruntung akan menikahimu. Ya Tuhan, semoga pernikahanmu diberkati banyak anak. Xavi akan menyingkap veil (kerudung) seperti ini dan melihat pengantin yang sangat cantik dibaliknya. Mereka akan pergi menepi untuk malam pertama. Luar biasa."
Arumi hanya terpaku pada kaca. Sangat cantik di sana.
"Sempurna!" puji Brelda bertepuk tangan. "Aku akan menjahit rambutmu dengan mutiara untuk resepsi malam dan membuatmu menjadi yang paling cantik di dunia. Oh, Narumi Vincenti, akhirnya ... akhirnya." Brelda Laura berkaca-kaca.
Arumi berputar. "Brelda, please. Simpan air matamu untuk besok."
"Aku terharu sayang. Biarkan Xavier melihatmu! Bocah bodoh itu akhirnya menikahi seorang gadis bukan seorang pria apalagi bawahan pria - atasan wanita."
"Em, aku ragu dia bisa menilai."
"Mari kita tanya pendapatnya."
Brelda menarik tirai.
"Xavi?!"
Pria itu sedang bolak balik majalah sambil goyangkan kaki. Mengangkat wajah dan meneliti.
"Buang-buang waktu saja. Kurasa, Narumi pakai tirai jendela juga tetap kelihatan cantik. Kecuali wajahnya seakan tak ingin menikahiku padahal semalam kami hampir jalan-jalan di atas awan."
"Apa?" Brelda shock berat.
"Ciumannya buatku kepayahan sampai pagi." Jakun pria itu bergerak naik turun. Xavier tak sembunyikan keinginan bersama Arumi. "Narumi lepaskan kemejaku dan dia kabur setelah pemanasan."
Xavier berdecak. "Tanya saja padanya alasan dia tinggalkan aku setengah mampus di ranjang? Kami akan menikah dan Narumi tak akan lari lagi dariku besok malam."
"Xavier ..., panggil Arumi."
"Kerudungnya bisa tolong diganti? Apakah harus pakai slayer model begitu dengan banyak bunga hingga wajah pengantinmu tak kelihatan," protes Xavier.
"Kamu menikahi seorang gadis suci, Xavier Moon. Bukan seorang gadis murahan. Tolong pisahkan. Satu lagi jangan sia-siakan dia."
"Xavier ...," panggil Arumi lagi, kali ini kedua kakak beradik menoleh padanya.
"Aku punya seorang Puteri."
Baik Brelda Laura dan Xavier Seth Moon menganga.
"Puteri?" tanya Brelda keheranan. "Kapan kamu hamil? Kapan kamu melahirkan sedang sepanjang tahun kita bersama?"
"Semalam kamu bilang kamu masih p3r4w4n karena menunggu kekasihmu yang pergi dengan gadis lain."
"Namanya Aurora."
"Aurora?! Yang sering disebut Itzik Damian?" tanya Brelda jelas bingung.
"Aurora, Puteriku dari hasil inseminasi sel telurku dan milik Itzik Damian."
Brelda lemas dan terduduk di sofa.
"Tidak masalah buatku. Seperti kupon undian. Menangkan satu dapatkan dua," jawab Xavier Seth Moon enteng dan dapatkan satu kebasan dari Brelda Laura Moon. Pria itu meringis kesakitan.
"Kau terus saja memukulku sejak tadi Brelda!"
"Atur mulutmu!" Berpaling pada Arumi. "Sayang ..., apa yang baru aku dengar ini? Apa Itzik Damian mencuri sel telurmu? Karena kita selalu bersama dan kamu tak pernah curiga pada Aurora."
Arumi tak menyahut benarkan tebakan Brelda.
"Kita bisa batalkan pernikahan kita," kata Arumi pada Xavier Moon.
"Tidak. Kurasa mari menikah dan hidup bersama. Aku mulai jatuh cinta sungguhan padamu tak peduli misal kamu punya selusin anak."
Pria itu berkata tidak main-main. Matanya tak bohong.
"Xavier?! Benarkah?!" Brelda Laura Moon bulatkan mulutnya sempurna. "Kamu sungguhan?"
Xavier mengangguk yakin. "Ternyata Narumi sempurna, Brelda. Aku akan buat Narumi jatuh cinta padaku segera dan lupakan mantan pacarnya."
"Oh, Sayangku. Akhirnya ..., selamat datang di jalan yang lurus Xavier Moon." Brelda mendekap Xavier dan mengacak rambut adiknya. "Aku bangga akhirnya Narumi bisa taklukan nasibmu. Dan kejantananmu tidak disia-siakan untuk hubungan tak berguna. Buat Narumi lupakan kekasihnya dan sayangi Narumi."
"Mengapa pria macam begitu dikejar-kejar? Astaga. Kamu bodoh, Narumi? Dia datang dengan gadis lain dan semua keluargamu mendukungnya. Cintamu bertepuk sebelah tangan. Aku akan menendang orang sepertinya dari sisiku."
"Kau ini memang kadang tak berguna!" umpat Brelda naikan satu sudut bibir seakan hendak menampar Xavier.
"Baiklah, maafkan aku. Pertama, aku punya sesuatu untukmu, Narumi Vincenti." Xavier Moon berdiri merogoh kantung celana. "Tolong pejamkan matamu."
Arumi menatap pria di depannya. Pejamkan mata. Seperti seorang yang kehilangan pegangan. Xavier Moon berdiri di belakangnya.
Arumi tak punya kata saat mata terbuka. Sebuah kalung tergantung di sana. Tidak buruk tetapi sungguh aneh terpampang di lehernya.
"Ini milik Casandra Moon diwariskan turun temurun dari nenek buyut kami." Brelda beritahu Arumi.
"Cantik," puji Arumi. Xavier di belakangnya tersenyum.
Arumi pergi ke ruang ganti. Rupanya beralih sedih. Mata segera redup. Sakit hati menjalar ke sana kemari. Berlarian di dada hingga ke nadi-nadi sebab kalungnya yang berharga ada pada wanita lain dan kini ia memakai kalung lain warisan para leluhur keluarga Moon. Ia mengurut dada. Mengambil udara pelan-pelan. Kepalkan tangan.
Arumi dapatkan panggilan dari dokter Joseph Nafas, minta ia datang ke rumah sakit bersama wali. Dokter Joseph Nafas menunggu di ruangan.
"Silahkan duduk!"
"Aku perlu bicara dengan wali Anda, Nona."
Arumi menarik napas kuat. Ia menggeleng.
"Aku wali untuk diriku sendiri."
"Nona ..., Anda butuh dukungan keluarga Anda."
"Tak ada keluarga atau kerabat yang bisa aku percayai. Aku hanya miliki diriku sendiri dan sekarang Anda."
Mungkin Arumi bisa andalkan Ayah Laurent tetapi Ayahnya terlalu mencintai Ibunya. Dan sama seperti pria yang mencintai wanitanya, tak suka Ibu bersedih. Ia tak bisa hubungi Young Vincenti juga karena Young dan Itzik macam satu tongkat dua panah. Keduanya berbagi segala hal. Young sama saja seperti yang lain. Secara harafiah, Arumi tak punya siapapun untuk diandalkan kecuali Aizen dan Hana. Sayangnya kedua adiknya terlalu kecil untuk jadi wali.
"Ini sangat serius." Dokter berkata. Dari mimiknya juga sangat serius.
"Anda akan jadi waliku, Dokter Joseph Nafas. Aku serahkan hidupku padamu. Sembuhkan aku apapun yang terjadi. Aku punya seseorang akhirnya sebagai alasan aku hidup. Aku sangat ingin besarkannya dan merawatnya. Aku ingin melihatnya tumbuh dewasa. Jika, Anda gagal, kita akan sepakati, aku tanda tangani pernyataan bahwa aku tak akan menuntut Anda."
"Nona ..., tetap saja, aku tak bisa bicarakan masalah ini dengan Anda tanpa buat Anda bertambah tertekan."
"Aku baik-baik saja. Katakan saja!"
Tunjukan layar hasil rekam medis. Keparahan cidera akibat kerasnya benturan sebabkan trauma di kepala. Pembiaran selama bertahun-tahun, ditambah konsumsi pil tidur dan pil penenang berlebihan sebabkan pembuluh darah di otaknya bermasalah. Arumi telah alami gangguan pada fungsi otak. Itu alasan ia sering sakit kepala hebat, gemetar, menggigil dan linglung.
Tidak berhenti di sana, masalah lain lebih dari sekedar trauma kepala. Ada sesuatu bersarang di otaknya.
Dokter jelaskan rincian hasil pemeriksaan baik laboratorium dan scanning, setiap detilnya. Arumi tak begitu pandai jadi ia tak begitu peduli. Begini begitu. Ia juga tidak mengerti dan tak ingin bertanya. Arumi hanya menangkap dua kata, tumor otak.
"Pengobatan canggih bisa dilakukan tanpa sayatan kulit kepala untuk membuka tulang tengkorak. Teknik operasi stereotiaktik manfaatkan tembakan sinar gamma. Pancaran ratusan sinar gamma akan diarahkan langsung ke area otak yang perlu dapatkan perhatian. Hanya saja, ada kemungkinan Anda akan kehilangan sebagian besar memori setelah operasi ini."
Arumi menatap kosong pada layar.
"Apa aku punya alternatif lain? Apa aku diberi kesempatan pertimbangkan segala hal?"
"Alternatif lain adalah pembedahan kepala."
"No," geleng Arumi. Ia memilih mati daripada kepalanya digergaji.
"Semakin lama menunda semakin buruk untukmu, Nona."
"Apakah aku bisa sembuh seperti semula kecuali mungkin hilang ingatan?" tanya Arumi.
"Ya, Anda akan sembuh. Hanya saja karena sel jahat ini tumbuh di sekitar otak yang berfungsi menyimpan memori, tidak menutup kemungkinan prosedur yang kita lakukan berpengaruh pada bagian terdekat." Cursor bergerak di layar di bagian kepala, atas dekat kuping. "Lokasinya di sekitar sini, di mana dekat dengan bagian yang berfungsi untuk mengolah memori, mengingat dan memahami bahasa yang didengar. Memori yang diolah adalah memori deklaratif, melibatkan hal-hal yang sengaja diingat, seperti fakta atau peristiwa tertentu termasuk sebuah objek."
"Apakah itu berarti aku bisa lupakan orang-orang terdekatku juga?" tanya Arumi pelan.
"Sayangnya begitu."
"Ini bagus untukku, Dokter Nafas." Arumi tersenyum acuh tak acuh. Akhirnya ia bisa bebaskan diri dari masa lalu. Lepaskan diri dari penderitaan.
Dokter Joseph Nafas mengerut.
"Kehidupanku agak tragis sejak usiaku enam belas tahun. Aku tak ingin mengingatnya sedikitpun. Lagipula tak ada yang penting untuk diingat. Ini kebetulan yang bagus." Arumi mengangguk-angguk kecil. Ia akan menyimpan foto Aurora, Aizen dan Hana dalam pakaian rumah sakit.
"Nona Arumi?!"
"Bisakah Anda berjanji padaku tak akan beritahu pada siapapun dan tak ijinkan seorangpun dari keluargaku untuk tahu keadaanku termasuk ketika aku dirawat. Anda akan sembunyikan aku." Arumi berencana menyewa pengawal yang akan setia di muka pintu.
"Nona ...."
"Apapun yang terjadi. Jika aku telah sembuh, Anda hanya ijinkan Nyonya Brelda Laura Moon dan Tuan Xavier Seth Moon membawaku ke rumah keluarga Moon."
"Nona ...."
"Jika Anda keberatan, aku memilih berhenti sampai di sini. Bukankah setiap manusia akhirnya akan mati?"
Dokter Nafas pikirkan permintaan Arumi.
"Sebagian dari mereka menyukai penderitaanku, sebagian lagi akan bersedih tanpa ujung. Aku perlu sembunyikan ini." Arumi meyakini itu.
"Baiklah. Aku berjanji. Mari kita segera memulai prosedurnya."
"Berapa lama waktu yang dibutuhkan sampai aku kembali normal?" tanya Arumi. Ia akan kehilangan seluruh rambut di kepalanya.
"Tiga bulan." Dokter Joseph Nafas menatap Arumi. "Anda sebaiknya tinggal di rumah sakit. Kami akan siapkan ruangan Anda."
Bagaimana ini? Jika ia menghilang sekarang tanpa kabar terlebih menjelang pernikahan, ia hanya akan hebohkan semua orang.
"Aku minta ijin habiskan waktu bersama Puteriku dan adik-adikku hari ini dan besok. Aku akan datang lusa pagi-pagi. Aku butuh pamitan agar adik-adikku dan puteriku tak mencariku."
"Baiklah."
Pertama, ia akan menikahi Xavier Set Moon. Saat ia pulih, Casandra dan Brelda akan membawanya ke rumah Xavier Moon. Tak ada seorangpun dari kerabatnya akan berani mengklaim kemana dia harus pergi. Ia tak perlu ingat apapun.
Sedang, tentang Aizen dan Hana, ia hanya perlu merekam video mereka dan dengarkan suara mereka. Bukankah akan mudah saja?
Arumi keluar dari sana. Masuk ke dalam mobil. Ia menatap ke kaca mobil. Ia akan hidup seutuhnya jadi Narumi, istri Xavier Moon.
"Adiós, niña estúpida. Adiós, Arumi Chavez. Adiós Archilles Lucca."
(Selamat tinggal, Gadis Bodoh. Selamat tinggal, Arumi Chavez. Selamat tinggal, Archilles Lucca).
***
Let see the ending of this story.
Aku sangat kelelahan menulis novel ini karena kerjaankundi dunia nyataCinta untukmu di manapun berada dari aku yang tidak sempurna.