
***
"Serena? Kamu harus bangun!"
Hana Darwin langkahkan kaki ke dalam ruang tidur Puteri tunggalnya, Serena. Matikan lagu kemudian naikan gorden. Mentari bersinar terang, menembus masuk ke dalam ruangan.
Tak ada sahutan.
"Serena?"
"Tinggalkan aku, Mom!" Nada sengau penuh penolakan.
"Kami menunggumu untuk sarapan."
"Ayah tiriku adalah pacarku, Mom."
"Serena, kita telah akhiri masalah ini. Hormati keputusan Josh. Dia memilih bersamaku. Kami telah menikah. Aku terapkan batasan jelas antaramu dan Ayahmu, Serena."
Desisan penuh ejekan datang dari atas ranjang.
"Jika disuruh memilih ...,aku atau dia ..., siapa pilihanmu, Mom?"
Menghela napas panjang. "Pertanyaan yang sama untukmu, Serena."
"Aku akan memilihnya, Mom. Apakah Mom pernah ada untukku? Pacarku adalah satu-satunya kehangatan."
"Cukup, Serena!" hardik Hana. "Berhenti permalukan dirimu sendiri. Bangun dan pergi ke kampus!"
"Tinggalkan saja aku! Berhenti peduli padaku!" balas Serena dari balik selimut.
Hana Darwin mende***h, tinggalkan Serena.
Bangun malas-malasan, Serena menuju kamar mandi. Keluar dengan rapi setelah berganti. Masukan buku, laptop, ponsel. Suara piring beradu terdengar dari ruang makan. Ada percakapan. Tampak macam keluarga harmonis.
Serena bercermin. Matanya bengkak juga pucat. Meraih lipgloss. Ia sapukan pada bibirnya. Mencap-cap sedikit.
Serena pandangi sebuah potret lawas saat ia berusia dua tahun dan dalam gendongan Ayahnya. Di sisi mereka Hana berdiri, bahagia.
"Seandainya, Daddy tak meninggal. Kalian akan bersama. Hana tak akan mengambil milikku. Lihatlah, istrimu!"
Mata Hana beralih ke foto lain, sepertinya baru ditaruh. Foto dari pernikahan Josh dan Hana. Serena berdiri di sisi Hana. Meskipun tersenyum pada kamera, matanya menangis.
Tertawa kecil berakhir terisak-isak. Serena melorot ke lantai. Cukup lama menangis. Serena kemudian meraih foto itu dan lemparkan ke tempat sampah. Ia perbaiki riasan wajah keluar dari ruang tidurnya.
Hana bersama Josh Darwin duduk menunggu, bicara dalam situasi suram. Tangan mereka bertumpu di atas meja, satunya lagi saling menggenggam. Serena menatap hampa, jejaki tangga.
Suasana sangat canggung saat Serena duduk tenang di kursi, menggigit roti panggang. Tanpa alihkan pandangan dari piring sarapan, tangannya meraih segelas jus jeruk.
"Aku temukan restoran di sebelah kampus. Owner-nya menerima pekerja part time. Aku telah kirimkan CV dan akan pindah ke flat nanti sore."
"Serena?!" Hana menggeleng tak setuju.
"Mom ..., usiaku 20 tahun. Aku bisa mandiri."
Gestur tubuh Serena tunjukan bahwa ia sedang sensitif untuk berinteraksi dengan orang lain termasuk tak ingin berdebat.
"Serena!"
"Kalau-kalau Mom takut aku diam-diam bertemu Ayah tiriku, aku akan masuk asrama kampus. Mom bisa pantau aktivitasku lewat kepala asrama."
"Serena?!"
"Mom, please! Anda sangat egois jika inginkan aku tinggal bersama Josh di rumah ini."
"Serena ...."
"Apakah rumah ini peninggalan Ayahku?" serang Serena tajam. "Jika iya, Mommy akan penuhi wasiatnya. Mom bisa tinggal bersama suami barumu di rumahnya."
"Serena?!" tegur Hana tidak suka.
"Baiklah, aku yang akan pergi. Terima kasih untuk sarapannya, Mom. Berhenti mengurus keuanganku sejak hari ini. Aku akan berjuang untuk hidupku sendiri."
"Kamu bisa tinggal di sini, Serena," potong Josh Darwin. "Mari jangan berseteru lebih jauh. Aku akan bawa Hana pindah tinggal di rumahku. Kamu tahu, bahwa Hana tak ikut denganku karena memikirkanmu." Josh akhirnya berkata-kata setelah diam cukup lama.
"Ya ya, terserah. Aku tak begitu peduli."
Serena bangkit berdiri nyaris limbung, berpegang erat pada meja. Patah hatinya terlihat jelas. Ia mengambil barang-barangnya dan berlalu pergi.
"Ijinkan, aku akan antarkan Serena ke kampus!"Josh ikutan berdiri, kerutkan kening.
"Tinggalkan harapan pada Puteriku lagi. Kita akan akhiri pernikahan ini lebih cepat. Kau tahu, Serena adalah prioritas-ku. Entah mengapa, aku merasa, kehadiranmu ciptakan jarak semakin lebar di antara kami."
"Aku hanya tak tahu bahwa aku menikahi Ibu dari mantan pacarku. Serena menolak menerima kenyataan tentang akhir hubungan kami. Aku akan bicara dengannya dan perbaiki segala hal."
Hana tampilkan ekspresi muram, menatap kosong pada piring-piring makanan. Dentingan piano berisi melodi kesedihan dimainkan, menggiring tiap emosi. Ruangan berubah lebih redup. Hana mengambil ponsel dan menelpon.
"Apakah perceraianku akan pengaruhi kita?"
"Ya ya ya, Hana. Kamu baru saja menikah. Perceraian saat ini sangat tidak menguntungkan. Terlebih beberapa akun gosip, merilis berita tentang cinta segitiga antara kamu, suamimu dan Puterimu. Kita perlu menepis semua gosip. Kita telah susah payah sampai di tahap ini. Ingat, label kita telah dievaluasi dan ditunjuk ikut berpartisipasi dalam helatan ini. Please, tidak sekarang!"
"Kamu punya ide, Harlene? Puteriku kekurangan kasih sayang. Ini kesalahanku. Bagaimana bisa, aku tak tahu Josh adalah cinta pertama Serena?"
"Kamu hanya sibuk penuhi kebutuhan materi Serena. Mari bungkam mulut sosial media, Hana. Bawa Serena ke Paris sebagai salah satu model untuk rancangan terbarumu. Kita akan berikan sayap padanya."
"Serena menutup komunikasi. Aku pikir akan sedikit lebih rumit."
"Kita akan temukan caranya. Aku tak bosan - bosan peringatanmu Hana, kita adalah anggota resmi dan terdaftar dalam kalender jangka panjang."
"Aku mengerti."
Sementara dalam mobil, Serena coba abaikan pria yang duduk di sisinya. Menatap lurus pada jalanan.
"Serena?"
"Aku tak tahu mengapa kita masih semobil?"
"Serena ...."
"Mengapa kita serumah tetapi tidak saling memiliki."
"Maafkan aku."
"Hanya tak tahan melihatmu bersama Ibuku! Setiap kali aku bersumpah di antara kita telah usai, aku semakin inginkanmu. Aku berusaha menjauh, larikan diri dari kesakitan, semuanya sia-sia."
Mulai jatuhkan air mata.
"Semua telah padam, katamu. Hanya berlaku bagimu. Jelaskan ..., mengapa aku masih terbakar?"
"Serena!"
"Kamulah orang pertama yang aku tuju, bagaimana bisa mengusirku begitu saja?"
Serena mulai menangis, bicara separuh menjerit luapkan isi hatinya.
"Aku tak tahu apa yang salah? Kurasa semua orang bahagia kecuali aku. Dulu, Ayahku adalah segalanya. Dia pergi. Kini ...."Mengusap air mata dengan ujung sweater.
"Segala hal tentang kita telah berakhir. Mari jangan sakiti Hana."
"Bagaimana denganku?" Tersedu-sedu.
"Serena?! Segala hal akan menjadi lebih sulit!"
"Tolong jangan tinggalkan aku sendiri, rasanya sangat menyakitkan karena istrimu adalah ibuku! Setidaknya beri aku waktu."
"Baiklah! Baiklah! Maafkan aku! Jangan menangis, Serena ...."
Mobil berhenti di tengah perjalanan menuju kampus. Josh memeluk Serena. Berikan belaian lembut penuh kehangatan, menenangkan. Wajah Serena bersimbah air mata diusap perlahan, dijejali sesal mendalam.
Serena membuka dirinya. Mata mereka cukup utarakan banyak rasa. Meskipun itu terlarang kini, mereka berciuman di dalam mobil.
Berubah tak terkontrol saat Daddy lingkarkan tangan pada pinggang Serena dan membawa gadis itu ke pangkuannya. Ciuman mereka berubah panas dan liar. Menggebu - gebu. Tangan Josh mendekap Serena erat.
***
"Wow ...." Reinha Durante mangap-mangap seakan baru kembali ke permukaan setelah menyelam lama dalam danau. "Kalian lihat? Bukankah gadis ini sungguh luar biasa? Aku tak tahu, apakah aku harus menangisi nasib Serena atau mengutuki-nya? Serena buatku marah, kesal, sedih, galau dalam waktu bersamaan."
"Drama yang lumayan gelap," komentar Claire Luciano manggut-manggut. "Ditiap episode selalu tampilkan adegan menguras emosi. Tidak heran Serena menelan banyak sumpah serapah intens dari para penonton. Sungguh Arumi berhasil perankan karakter antagonis."
"Setuju. Penyampaiannya tidak berlebihan atau mengada-ngada seperti drama perselingkuhan sejenisnya. Mungkin belum. Ini masih episode-episode awal. Paling utama tak butuh durasi panjang gunakan slow motion hingga aku duluan mual sebelum pertengahan adegan."
"Dialognya cerdas, mengalir begitu saja. Tak ada yang peduli Arumi Chavez tak begitu pandai. Lihat aktingnya?! Sempurna." Claire Luciano tak berhenti terkesima.
"Chemistry Daddy dan Serena luar biasa setelah seseorang beri kabar bahwa ada pria mabuk asmara merusuh di kencan karakter pacarnya," sindir Reinha Durante. "Ah, cemburu manis butakan logika."
"Coba tanya pendapat Ethan Sanchez?" Abram Hartley melongok ke belakang di mana Ethan Sanchez tenggelam pada buku. "Kurasa dia penasaran tapi menolak nonton."
"No. Jangan lempar umpan, hari kita semua bisa berubah buruk!" tambah Claire Luciano kecekikan. "Ayo lanjut nonton! Apa yang terjadi selanjutnya? Uhhh, panas ..., panas!" Tangan Claire kibas-kibaskan wajahnya.
Mereka kembali ke ponsel. Adegan masih berlanjut. Sweater Serena terlepas dan Josh pergi ke pundak Serena.
"Oh, no! Jangan rusak hidupmu untuk pria pec***ng seperti Josh!" Abram Hartley berdecak. "Serena, no! Lihat sini, ada aku. Ada Ethan Sanchez juga."
Adegan ciuman.
"Owh, amazing."
Sekali ini lebih berapi-api ketimbang tadi. Terlihat jelas ..., cinta, obsesi dan luka.
"Bagaimana bisa Arumi selihai itu? Apa seseorang mengajarinya?"
Berpaling sekilas pada Ethan Sanchez yang masih tak ambil pusing.
"Owh, kurasa Serena berhasil memantik api di adegan ini."
"Bayangkan penonton sedang mengumpat! Dan akan naikan ratingnya."
"Oh, Miguel Paulo tak perlu diragukan. Hebat sekali Arumi bisa imbangi pengalaman Tuan Miguel. Ciuman mereka benar-benar natural seperti orang sedang jatuh cinta."
BRAK!!!
Tiba-tiba, sebuah buku melayang turun, jatuh menutupi ponsel. Sangat keras hingga wajah - wajah penasaran yang asyik menikmati drama terkaget-kaget. Marya Corazon sampai meringis pegangi jantungnya.
"Oh, ponselku! Ponselku!" jerit Claire Luciano panik memeriksa ponselnya.
"Ada apa denganmu, Sobat?" Abram Hartley menggaruk kening menatap Ethan Sanchez, mengeluh karena keseruan mereka diputuskan.
"Percuma punya teman-teman tak peka sama sekali," sahut Ethan Sanchez uring-uringan. "Marya Corazon, apa kamu akan menonton tayangan tak sen**n**h adikmu?" tanya Ethan Sanchez kecewa pada sikap Marya.
"Oh, aku pikir ini cuma drama, Ethan. Aku tak akan tanggapi secara serius," sahut Marya membela diri.
"Bayangkan seseorang ..., lawan jenis duduk di pangkuan Elgio Durante demi kepentingan drama, lalu menciumnya selahap mengunyah permen karet ..., apakah kamu akan menerimanya?"
"Emm, aku tak ijinkan Elgio Durante jadi model atau aktor," geleng Marya Corazon kuat.
"Tepat sekali!" Ethan Sanchez mengelus puncak kepala Marya Corazon halus. "Beritahu Arumi yang baru saja kamu rasakan! Wakilkan aku."
"Please Ethan, ini cuma drama."
"Bubar! Bubar!" Ethan kantongi ponsel Claire saat gadis itu lengah. "Ruangan kelas dipakai belajar, malah menonton drama tidak mendidik."
"Owh, Ethan. Ini dunia entertainment. Hidup butuh hiburan. Kembalikan ponselku." Claire Luciano cemberut.
"No!"
"Apakah kamu dan Arumi marahan? Aku tak melihat kalian bersama beberapa hari ini?" tanya Reinha Durante hanya untuk disambut murka. Ethan Sanchez menatap Reinha Durante galak.
"Bukan urusanmu!"
"Uh, Ethan Sanchez, wajahmu kenapa? Mengapa kesal padaku?"
Ethan Sanchez letakan undangan di atas meja.
"Ada undangan besok malam. Acara ulang tahun Sarah. Meskipun ada pemberitahuan di group, Sarah minta aku berikan undangan lebih personal bagi kalian."
"Apakah kamu akan datang bersama, Arumi?" tanya Marya Corazon lekas prihatin pada mood sahabatnya itu.
Apa sesuatu terjadi? Arumi tak terlihat di kantin, di perpustakaan bahkan di kelasnya. Tapi, Arumi rajin pergi ke sekolah. Menurut Ibu, matahari belum bangun, Arumi sudah siap-siap ke sekolah. Apa yang gadis itu lakukan?
"Tidak. Bagaimana kalau kita pergi berdua? Elgio Durante tak mungkin datang ke acara ulang tahun Sarah dan menyatu bersama kita seperti anak remaja. Biarkan aku milikimu di sisiku semalam saja." Ethan Sanchez ulurkan tangan pada Marya Corazon. Lekas ditepis Reinha Durante.
"Marya Corazon tak akan diijinkan datang. Mereka akan pergi ke dokter kandungan melihat Baby Cute."
"Nah, kalau begitu kau saja, Reinha Durante. Aku akan menjemputmu."
"Eh, ada apa denganmu, Ethan Sanchez? Beberapa hari lalu, kau dan Arumi menempel bagai kertas dan cap?" tanya Reinha Durante.
"Uhum, lekat, persis dipasangi lem serangga," angguk Claire Luciano.
"Aku malah sempat berpikir yang tidak-tidak. Kami tak sengaja menangkapmu ajari Arumi sesuatu di depan sekolah. Kamu terlihat akan bawa Arumi ke sebuah tempat, terangkan teori reproduksi sekaligus prakteknya pada Arumi."
"Reinha Durante?! Kau berlebihan, Gadis!" Ethan Sanchez mengetuk kening Reinha keras hingga Reinha Durante meringis. "Aku bukan suamimu. Selalu ingin larikan diri, kabur ke tempat sepi dan berduaan. Aku bahkan tak mencium Arumi setelah kami jadian."
"Tak mungkin sejujur itu!" geleng Claire Luciano dengan wajah tidak percaya. "Nah, ajak saja pacarmu! Jangan ajak-ajak Reinha. Lucky tak akan suka. Atau ajak saja Abram Hartley, dia kan masih single!"
"Terima kasih, aku masih normal!" balas Abram Hartley. "Bukankah kita nanti berdua, Cla? Tak mungkin, bawa pria berseragam militer lengkap ke pesta ulang tahun temanmu, kan? Tuan Adelberth terlalu tua untuk upacara tiup lilin!"
"Abram Hartley, aku mohon dengan rendah hati. Cukup luas saja bibirmu, Abram, jangan tambahkan lebar dan panjangnya, tampak tak sinkron dengan wajahmu! Tak akan ada gadis yang mau pacaran denganmu!" Claire Luciano melotot pada temannya.
Abram mencibir. "Aku akan temukan gadis lebih cantik darimu hingga rahang-mu kejang-kejang, Cla."
"Wujudkan mimpimu, please!"
Mengapa dua orang ini tak pernah akur?!
"Kurasa, Arumi akan sibuk syuting di akhir pekan," kata Marya Corazon. "Dia tidak akan datang."
"Awal dari kesepian." Claire Luciano terkekeh geli. Dapatkan tebasan keras gunakan buku di lengan lekas meringis.
Ethan Sanchez berpaling pada Marya Corazon sementara teman-temannya kembali menonton Bittersweet Married setelah ponsel Claire Luciano dikembalikan.
"Di mana Arumi Chavez? Dia tak masuk kelas hari ini. Tak ada keterangan apapun di folder absensinya. Leona tak menjawab panggilanku. Terlebih Arumi baru akan syuting sore nanti."
Marya Corazon menggeleng.
"Ethan, kurasa Arumi bersama Archilles Lucca!"
"Archilles tak akan pengaruhi Arumi untuk bolos sekolah, kecuali sesuatu terjadi."
"Apa yang terjadi antara kamu dan Arumi?"
Ethan Sanchez menggeleng, menahan napas berat.
"Arumi mungkin butuh waktu sendiri. Ditambah sikap dan nasihat Ibuku. Arumi hindari aku. Anggap saja ini akibat karena aku berulah."
"Kamu tahu, Ethan Sanchez, Ibuku beritahu niatnya padaku, ingin daftarkan diri sebagai donatur tunggal beasiswa untuk pendidikan-mu ke Universitas."
"Marya Corazon ..., meskipun aku senang mendengarnya aku tak ingin bebani dan terbebani."
"Kamu tahu maksud Ibuku?!"
"Apalagi diiringi maksud tertentu? Hmm?! Jangan lakukan ini. Aku bisa bekerja sambil kuliah."
"Ibuku inginkanmu untuk Arumi, Ethan. Menurutnya, hanya kamu, seseorang paling tepat bagi Arumi."
***
Nah, maunya memulai konflik, harusnya, aku masih meraba-raba dalam kegelapan.
Tinggalkan komentar ya, paragraf juga. Like di komentar readers lain juga. Susah nih nulis part ini sebab suamiku sedang sakit dan aku nulisnya di rumah sakit.
Aku mencintaimu.