My Guardian Angel (The Dust of Love)

My Guardian Angel (The Dust of Love)
Chapter 136. Eres El Aire



Kota telah lengang tidak sama seperti penawaran bagus di tepian Tagus. Karena dataran tinggi ini bersuhu sangat lembab dan dingin. Tak banyak antusiasme di waktu malam.


Cahaya bulan menabrak jendela. Sedikit dari mereka menyusup ke dalam ruang tidur. Lewati tirai-tirai gorden agak celah.


Arumi tidur di bawah pengaruh pil. Ia akhirnya lakukan lagi, menelan pil tidur. Padahal sedang mencoba kurangi ketergantungan. Bayangan sekilas pria itu menatapnya dengan rasa yang tersampaikan, tetapi malah naik mobil dan meninggalkan jalanan membuatnya sedih dan terluka. Seakan hanya imajinasinya saja.


Nestapa membunuh semirip musim dingin maha dahsyat padahal ia berada di musim panas. Ia hanya berharap, pil yang sama mampu berikan ia sedikit kelegaan.


Tujuh tahun lalu, di akhir musim panas, ia pertama kali bertemu pengawalnya. Ia sesumbar tak akan jatuh cinta pada pria lain selain pada seniornya yang galak apalagi pada pengawal pribadinya. Lekas mengerang oleh terpaan dukacita saat satu kenangan menyusup ke dalam pikirannya.


"Nona ..., namaku Archilles Lucca. Aku akan menjadi pengawal Anda sejak hari ini!"


Ia ingat ia menatap rendah pada pria itu. Bergaya rambut teraneh yang pernah dilihat sepanjang pengamatan. Atau itu adalah mode dari pemukiman kumuh, para penjambret, pencopet, pemalak. Tampangnya seperti penjahat bayaran. Orang-orang dari kalangan paling rendah. Sekalipun, Tuan Adelberth mencoba mendadani pria ini. Menurutnya tetap saja tak bisa sembunyikan apapun dari matanya yang terbiasa melihat glamour, keindahan.


"Oh? Apa aku butuh bodyguard?"


"Ya, Nona."


"Kamu tahu ...," melirik kiri kanan takut ketahuan orang lain. "Aku sedang dalam rencana menjalin relasi cinta serius. Aku akan pacaran dengan seniorku." Ia berbisik sedang pria itu hanya dengarkan. "Em, dia itu sangat luar biasa. Paling tampan di sekolah, jenius, populer, dan dia ketua OSIS. Nantinya dia yang akan menjagaku. Oleh sebab itu, aku tidak butuh pengawal sebenarnya. Terlebih rambutmu? Astaga. Itu potongan rambut atau jalan tikus? Sangat norak."


Arumi terisak. Bukankah ia dulu memang gadis muda belia, bodoh, sombong dan jahat?


"Tuan Elgio Durante inginkan aku di sini untuk menjaga Anda dan menjadi guru bela diri Anda." Hanya menunduk.


"Em, Kakak Iparku berlebihan."


Pria itu ikut di belakangnya ketika mereka menghadap Ibunya yang langsung terpana. Jelas ingin menolak tetapi Elgio Durante dan Aruhi bersih keras dirinya harus punya pengawal pribadi, Ibunya tak berani menggugat.


Setelah protesnya tak digubris, ia pasrah. Yang dilakukannya pertama kali adalah menggiring pengawalnya pergi ke hairstylist. Hilangkan gaya rambut yang baginya agak mengerikan itu. Dan di akhir cerita ia mencintai tiap potongan yang diciptakan untuk pengawalnya. Paling utama jauh ke belakang, nantinya, ketampanan dan fisik bukan lagi prioritas.


Dan ..., andai bisa memutar waktu ..., ia akan lepaskan pengawalnya saat ada kesempatan. Menjauhkannya dari ibunya. Alih-alih terjebak hasrat ingin bersama sebabkan kekasihnya menderita sakit secara fisik.


Bisakah kami bersama kembali? Seperti dulu? Bukan hanya dua hari. Tetapi, selamanya sebelum maut datang dan memisahkan kami tanpa belas kasihan?


Dia akan selalu menjadi pria yang mengisi jiwa.


Telinga samar-samar, sangat jauh menangkap bunyi bel ruang tidur. Langkah terseret-seret Itzik Damian. Sedikit peringatan di ambang pintu, antara nyata dan tidak. Apakah itu mungkin staf hotel.


Telah mengusik. Tetapi, ia terlalu lelah untuk bangun dan tidak peduli. Ia hanya terpejam di bawah masker mata hitam pekat. Dicengkeram oleh dunia linglung yang penuh lara.


Pintu tertutup lagi. Dan langkah kaki masuk ke dalam suite. Tertatih-tatih. Temannya mulai menunjukan bencana kerapuhan tulang. Ia akan mengurus Itzik nanti setelah dua hari.


"Itzik, apa kamu masih di sana? Aku merasa mual. Telingaku terus berdenging. Mengapa ribut-ribut? Siapa yang datang?" Ia bicara seperti orang mengigau dengan suara sengau akibat hidung dipenuhi meler. Mencoba bernapas perlahan-lahan.


Ia sepertinya mulai kecanduan, tetapi menjadi lebih kebal pada obat tidur. Sebab ia amat sangat mengantuk tetapi malah tersiksa karena tak bisa tidur sama sekali hanya karena keributan kecil tadi. Juga kini ada suara angin yang seperti jeritan ratapan wanita. Atau ..., apakah itu suaranya sendiri?


Apakah ia perlu menambah dosis?


"Tolong, matikan saja semua lampu sebelum kamu pergi." Ia tak suka sinar ketika nanti ia lepaskan masker mata lalu cahaya dari lampu menyerangnya. Arumi mengeluh mencari-cari ketenangan di bantal.


Tak dapatkan reaksi kecuali ranjang sedikit berguncang. Napas yang sedikit memburu.


"Apa kau sengaja minumkan aku pil tidur agar aku bangun kesiangan? Ini sama sekali tak bekerja. Aku gelisah. Beberapa jam lagi akan pagi. Tolong, jangan halangi aku. Setidaknya setelah tujuh tahun, aku akhirnya bisa bertemu hal indah, tinggal bersamanya walau cuma dua hari. Em ..., lalu lupakan Càrvado Jika dia tetap pada pendiriannya." Suaranya hilang di akhir kalimat. Tak mau menahan tangis sebabkan hidung berdarah. Ia mulai terisak-isak lagi. Berkubang makin jauh. Ia ingin menggantung harapan di atas awan. Namun takut jatuh dan tak terselamatkan.


Rambut dibelai. Lalu, keningnya dipijat pelan. Ia semakin keras meratap.


Tangan begitu dingin. Bukan itu yang sebabkan ia menangis lebih kencang. Kulitnya kenali sentuhan.


Tetapi, itu tidak mungkin, bukan? Ia hanya bersama Itzik. Lalu, mengapa hatinya seakan meyakini?


Apakah ironi dan tragis sebabkan fenomena-fenomena ajaib untuk menghiburnya?


Air mata meluruh turun dengan deras lewati masker ke titik dagu. Berkumpul di sana dan jatuh di atas lengannya.


"Tanganmu sangat dingin. Apakah kamu tidak pakai mantel?"


"Nona Arumi...."


Jantung Arumi berdetak tidak beraturan. Bertalu-talu hingga ia sesak napas.


"Tolong jangan mati sekarang, Itzik. Aku akan selamatkan hidupmu meski harus pindahkan tulangku padamu. Biarkan aku selesaikan masalahku dulu."


Arumi Chavez rasakan sentuhan saat tangan itu lepaskan masker darinya perlahan. Terpejam makin kuat. Ia tak ingin melihat apapun.


"Nona ...."


Arumi menangis sejadi-jadinya. Mata tanpa perintah terbuka lebar langsung hadapi ilusi. Ia hanya semakin terguncang.


"Jangan lakukan ini padaku, please!"


"Nona ...."


Tangan itu masih di wajahnya mengusap alisnya dengan jempol. Pandangan Arumi buram oleh air mata.


"Itzik, obat apa yang baru aku minum tadi? Bisakah berikan padaku lagi?" Bibir keringnya mengulas senyuman tidak berdaya. "Apa aku mungkin sudah mati?" tanyanya lagi.


"Nona ...."


Arumi pejamkan mata.


"Lupakan ..., aku harus berhenti minum pil tidur karena aku mulai berhalusinasi. Aku melihatnya dan mendengar suaranya. Jangan menggodaku. Berhentilah sesat dan berbaliklah pada Tuhan sebelum kamu mati. Demi Tuhan, Itzik, aku tak akan sanggup melihatmu di neraka."


Arumi menangkap tangan yang bergerak di wajahnya.


"Ini aku ...."


Mata-mata terbuka di bawah redup lampu ruang tidur. Ini persepsi yang salah.


Apakah begini akhir kisah tragis teman-teman di industri ini yang mati karena kelebihan dosis? Mereka pergi ke ranjang setelah menelan pil penenang lalu hanya menjemput kebahagiaan? Mereka hanya dapatkan penghiburan.


Apakah ia akan pergi menyusul yang lain? Beginikah akhir ceritanya? Berita tentangnya akan keluar besok dengan judul; Arumi Chavez ditemukan tewas di salah satu hotel di San Pedro karena over dosis. Apakah Aizen Ryota dan Hanasita Minori bisa menanggung kesedihan?


Sebab, itu sedang terjadi padanya. Kekasihnya berbaring menatap bersimbah air mata. Pupil kehijauan yang cantik berselubung kaca tipis. Kasta tertinggi pemilik mata terindah.


"Itzik, apakah aku masih hidup?" tanya Arumi sebab ia mendadak terserang kebingungan, hadapi sensasi yang tampak begitu nyata.


"Ya, Nona," sahutan pendek tertahan dari sebelah adalah suara pria yang ia cintai. Tetapi, itu adalah hal yang mustahil.


"Kembali ke kamarmu, Itzik! Jangan menggodaku." Ia bergeser menjauh ke sisi lain. "Aku akan mencoba tidur karena aku harus pergi ke Càvado besok pagi-pagi sebelum dia bangun. Aku akan beritahu dia bahwa waktu cinta kami sedang berlangsung, aku adalah gadis paling bahagia yang menerima kasih sayang tanpa batas darinya. Aku akan terima kenyataan pahit dan habiskan hidupku doakan kebahagiaannya." Lebih bergetar, kehilangan keseimbangan terlebih pening yang menyerangnya.


Pria itu menatapnya sedih, terluka dan merana.


"Nona Arumi ...."


"Terima kasih tak mengomel padaku, Itzik. Mari pergi ke Swiss untuk terakhir kali. Tanggalkan Arumi Chavez, sungguh aku benci nama itu. Panggil aku Narumi Yuki Vincenti. Temukan untukku rumah yang bagus, aku tidak ingin bertemu Ibuku. Orang-orang yang mengaku paling menyayangimu adalah orang-orang yang paling tahu cara menghancurkanmu. Aku tak ingin percaya pada siapapun setelah kau mati. Mungkin Aurora. Tetapi, aku tidak yakin. Kau tak pernah ijinkan aku bertemu Aurora-mu itu!"


Tak ada sahutan, hanya raungan dan ketika menangis urat kehijauan di bawah kulit bersih mencuat keluar.


"Apa salahku padamu?" tanya Arumi pegangi jantung kuat. Raut mengerut dan ngos-ngosan. "Apa yang telah kau lakukan padaku? Aku bahkan tak bisa menyebut namamu karena tiap kali aku melakukannya, aku akan berdarah. Aku menjerit dalam hati sepanjang tujuh tahun berharap setidaknya ada sesuatu yang tersisa, yang bisa buatmu mendengar panggilanku. Betapa brengseknya jadi orang."


Tanpa balasan cuma sapuan lembut jari jemari menyeka air mata di pipi Arumi.


Dia menggeser tubuhnya kesusahan agar lebih dekat pada Arumi.


"Ya, aku bertanya-tanya, apa yang ingin kau jelaskan padaku? Sebaiknya sesuatu yang masuk akal."


"Nona ...., aku lewati hari yang buruk mungkin bisa dimengerti olehmu."


"Itu bukan alasan."


"Nona ... aku tak ingin mengingatnya lagi."


Tangan Arumi di tangkup oleh tangan besar pria itu dan ia pejamkan mata.


Arumi masuk ke dalam dunia berlimpah emosi. ketika telapak tangannya dikecup berulang kali.


Dan Arumi hanya dapatkan perasaan yang sama, cinta yang agung tanpa keraguan.


"Apakah kamu baik-baik saja?" Itu lebih mengkhawatirkan Arumi, putus Arumi, dibanding seribu penjelasan.


Kebisuan mengisi ruang dan waktu. Tatapan demi tatapan, sebagai ungkapan bisu permintaan maaf mendalam.


"Beritahu aku!" pinta Arumi pelan.


"Tulang kaki kananku terpotong senjata laser. Jaringan hancur di sekitarnya. Aku kesulitan berjalan untuk beberapa waktu. Itu panjang dan melelahkan. Aku tak ingin mengenang apapun yang terjadi padaku setelah aku meninggalkanmu di sini."


Bahwa firasat Arumi tak pernah salah. Bahwa dirinya sendiripun tak ingin mengingat apapun di tahun pertama setelah mereka berpisah.


"Karena hanya ada kegelapan dan terlalu menyakitkan," tambah kekasih mengelus pipi di bawah mata Arumi yang sedikit menggelap karena insomniac.


Arumi mengangguk-angguk berurai air mata. "Aku bisa merasakannya karena aku pun alami itu."


"Mereka benamkan logam ke dalam tubuhku, sebagai penyangga agar aku bisa berjalan. Jaringan otot dan tulangku diimplan logam."


"Apakah aku bersama robot?" tanya Arumi. Nadinya berdesir oleh nyeri. Tangannya kembali dikecup. Pria itu tertawa getir di antara tangisan.


"Robot yang tak bisa diisi ulang, Nona. Robot yang mudah hancur. Gangguan saraf tepi buat segalanya memburuk dua tahun lalu. Aku kehilangan harapan sejak itu."


"Harusnya kau tahu bahwa aku tak akan peduli. Aku tidak menginginkan apapun. Aku hanya menginginkanmu. Aku tak percaya kamu akan bahagia dengan yang lain. Sama seperti aku tak percaya bisa bahagia dengan pria lain. Menerima hal itu demi kebaikanmu sungguh seperti seorang tanpa dosa yang dituntut hukuman berat tanpa tahu apa pelanggarannya."


"Masa depanmu cerah, Nona. Aku hanya akan menghancurkanmu."


Arumi menggeleng.


"Semuanya telah hancur saat kamu menghilang. Kamu adalah udara, tanpamu aku habis. Aku perlahan-lahan sedang ucapkan selamat tinggal pada diriku karena aku telah kehilangan jati diriku."


"Nona ..., apakah aku akan membiarkanmu?"


"Anda telah melakukannya selama tujuh tahun, Tuan." Arumi bernapas kesakitan. "Kamu bisa mengatakan apapun padaku, tetapi ide bahwa kamu ingin bersama orang lain di masa sulitmu dan minta aku pergi dengan yang lain adalah sebuah kekejaman. Kamu kriminal." Dia cuma menangis. Matanya kini bengkak.


"Aku ingin Anda menjauh dariku! Aku tak akan bisa jadi pria yang bisa diandalkan lagi, Nona. Aku tak bisa menjagamu."


"Lalu, harusnya biarkan aku melakukannya untukmu. Menjagamu!" balas Arumi. "Kamu lupa telah buatku jatuh cinta padamu, tinggalkan banyak harapan dan membu ...."


Telunjuk pria itu hentikan kata-katanya. Menariknya semakin dekat.


"Mari bersama selama satu Minggu, Nona. Dan aku akan serahkan sepenuhnya padamu untuk mengambil keputusan. Aku tak bisa membunuh mimpimu karena situasi rumit tubuhku. Membelenggu-mu bersamaku, aku cuma akan menutup jalanmu menuju masa depan, Nona."


Mata pria itu hanya berisi kesunyian ketika memohon.


"Aku tak punya mimpi." Arumi menggeleng. "Walaupun semuanya tergapai, aku sedang melarikan diri dari kegilaan. Satu-satunya mimpi dan masa depanku adalah bersamamu. Kamu adalah semua yang aku butuhkan. Hatiku miliki desainnya sendiri bahwa aku akan mati jika tak bersamamu."


"Aku bahkan tak bisa berjanji rasa sakit-mu tak akan sia-sia, Nona."


"Tetaplah bersamaku hingga kamu mampu untuk berdiri. Tetaplah di sampingku dan biarkan aku melihatmu bangkit karenaku. Kita mungkin akan saksikan kekuatan cinta bekerja."


"Datang padaku, Nona Arumi. Please!"


Pergi ke lengan kekasih setelah tujuh tahun merindukannya. Sangat hati-hati. Menangis lebih keras di sana.


Arumi meraih masker matanya membuat pengikat di pergelangan tangan mereka berdua semirip borgol. Arumi takut dia cuma bermimpi, berhalusinasi dan pria itu menghilang saat ia berkedip.


"Aku tak akan kemana-mana, Nona."


"Itu terakhir yang kudengar darimu sebelum kamu menghilang," sahut Arumi bersembunyi di dada, tak berhenti menangis. "Aku tidak mencium aroma logam?"


"Mereka ada di dalam sana, Nona, menyatu dengan jaringan otot dan tulang yang rusak."


"Apakah akan baik-baik saja?" tanya Arumi terlempar dalam duka cita tanpa dasar. Menyentuh tubuh pria itu perlahan. Mengelus leher pelan.


Dia mendongak beberapa menit kemudian. Lelehan air mata jatuh dari dagu kekasihnya menitik di atas wajah Arumi. Ia tak ingin pikirkan neraka macam apa yang telah dilalui oleh prianya ini. Mereka hanya berbagi air mata.


"Akan jadi masalah jika aku dan kamu terus menangis. Kita harus berhenti sekarang."


"Mengapa?"


"Air mata akan buat mereka lekas berkarat karena mengandung garam. Mereka tak tahan pada garam."


"Begitukah?"


Arumi Chavez lekas-lekas panik, mengusap semua air matanya juga pria di sisinya hingga kering. Sisakan sedikit senyuman getir di bibir kekasih.


Jika tidak dibohongi, Nona Arumi mungkin akan menangis sampai fajar menyingsing. Berlanjut ke senja. Dari purnama ke gerhana. Musim panas ini ke musim panas berikutnya. Lalu, mungkin sakit kepala setelahnya.


Arumi selimuti tubuh kekasihnya rapat-rapat. Bekerja gunakan tangan yang bebas. Kembali berbaring perlahan-lahan. Terus menatap tanpa kedip.


"Beritahu aku jika suhunya masih membuatmu dingin. Aku akan mengaturnya untukmu." Sesenggukan.


"Anda menggigil, Nona."


"Aku akan baik-baik saja denganmu di sampingku."


Tubuh Arumi didekap erat-erat.


"Aku pikir kamu sungguhan pergi. Aku sangat berkabung."


"Kami berputar-putar sejak dari studio. Tujuh kali mengelilingi kota. Lalu, Agathias berkata; 'kita sudah sampai'. Dan kami berhenti di depan hotel ini."


"Aku tak menyukainya sama sekali."


"Tanpa pembelaan diri. Ampuni aku! Maafkan kami."


Tangan mereka terjalin dibalik selimut, hapuskan segala jenis dahaga yang tak bisa diukur.


Dan mata hanya saling memandang lenyapkan semua perih yang tak bisa ditakar.


Mungkin tak ada air mata sampai pagi, tetapi mereka akan pusing karena berencana tidak tidur.


Berkat ..., sering mengunjungi kita dalam rupa kesakitan, kehilangan dan kekecewaan bahkan penderitaan bertubi-tubi; tetapi kalau kita sabar, kita segera akan melihat rupa aslinya. Pelangi terbit setelah badai hujan.


Apakah cinta yang tanpa syarat mampu mengobati semua luka batin dan menyembuhkannya?


***