
Seminggu setelah Ethan Sanchez keluar dari rumah sakit, pria itu bersandar di balik counter dalam tempat kerjanya. Anak mata menatap restoran tepat di seberang kafe mereka. Ia menyipit.
Mulut kemudian mengeja Lambat.
Café by Marion & La Luna
Grand Opening with delicious food and drinks.
Mengernyit. Restoran sangat ramai oleh pengunjung. Meja-meja terisi penuh dan ia tak salah mengenali Marion Davis juga kembaran Elgio Durante di sana, Luna Hugo. Bergantian menyapa tamu. Luna bahkan memakai celemek brand Café berwarna mocca.
"Apakah mereka kongsian?"
Menjawab pertanyaannya, dua mobil sangat familiar parkir di depan kafe. Elgio Durante turun dari mobil mengatur mantel formalnya, selalu rapi, klimis dan licin seperti ia terlihat. Elgio bukakan pintu untuk Marya Corazon. Elgio manggut-manggut ke arah restoran kembarannya. Mengucapkan beberapa kata dan dibalas senyuman oleh Marya, mungkin doa serta banyak harapan.
Lalu, Reinha Durante terlihat dengan perfect dress rambut disanggul tinggi. Emm, agak dewasa untuk bocah seumuran mereka, segera bergandengan dengan Lucky Luciano yang cuma tertarik pada istrinya daripada kemana tujuan mereka. Ethan mencibir, Lucky bahkan tak melihat jalan saking sibuk terpesona pada Reinha Durante.
Pintu kafe didorong pelan. Bunyi lonceng kafe berdering.
"Malam, Ethan Sanchez," sapa Marya Corazon gembira, lambaikan seikat kembang. Ethan Sanchez berhenti menduga-duga segera menyambut dua sahabatnya. Melirik pada Marya. Em, temannya ini tidak akan lagi bersekolah setelah libur Natal usai sebab Elgio Durante membuat Marya hamil. Marya akan bersekolah dari rumah dan menjaga kesehatan mentalnya.
"Sayang ..., aku merindukanmu," kata Ethan Sanchez menarik Marya padanya dan memeluknya erat-erat. Biarkan Elgio Durante dan wajah terhormatnya meringis jengkel.
Marya ulurkan bunga pada Ethan setelah pelukan mereka lepas. "Terima kasih Tuhan, kamu sudah sembuh betul. Aku mencemaskanmu, Ethan."
"It's okay. Aku baik-baik saja. Lihat?!" balas Ethan Sanchez bentangkan dua tangan. "Harusnya tak perlu repot-repot beli bunga dan hambur-hambur uangmu."
"Jangan sungkan, Sobat." Reinha Durante juga ikutan sodorkan sesuatu terbungkus rapi.
"Apa ini?!"
"Saat memilih setelan ini, aku berpikir, mengapa aku lewatkan seorang sangat potensial? Mengapa aku tidak mengundangmu jadi model di Dream Fashion? Tinggi-mu proporsional, tampang kejam yang estetik, tampan dan pastinya kita bisa ledakan pasar."
"Kamu baru saja memindai 'objek' termahal di dunia. Matamu tajam juga, ya!" sambut Ethan Sanchez.
"Narsis!" Lucky Luciano berdecak.
"Kalau cemburu bilang saja. Kita bisa bahas kontrak, Reinha Durante. Tetapi, hargaku sangat mahal. Mungkin melebihi Jhon Horta. Aku mungkin minta bagi hasil."
"Kami sudah punya model sayangnya," sambar Lucky Luciano.
"Jangan biarkan Reinha Durante berbusana bak wanita dewasa, Tuan Luciano. Kamu kelihatan semakin muda sedang istrimu seakan lebih tua darimu."
Reinha lekas cemberut. "Aku perlu sesuaikan konteks, Ethan Sanchez. Kami akan makan malam dengan banyak orang dewasa."
"Kamu bisa ciptakan konsep-mu sendiri tanpa keluar dari konteks. Kamu tak perlu hilangkan keimutanmu, Reinha. Orang akan berpikir Elgio Durante si sulung, kamu di urutan kedua dan Luna anak bungsu."
"Ish ...." Reinha menonjok lengan Ethan hingga Ethan sedikit mengerang, pegangi lengan bekas jahitan.
"Oh Sayang, aku tak sengaja." Reinha buru-buru mengelus lengan Ethan. "Apa sakit?"
"Ya, masih tersisa sedikit," angguk Ethan. "Sahabat yang baik mengkritik keras demi kebaikanmu." Ethan mengelus kepala Reinha pelan. Gunakan jempol dan telunjuk menekan sudut-sudut bibir Reinha hingga gadis itu tersenyum. Reinha sepertinya pikirkan kritikan Ethan. Wajah cantik gadis itu agak mendung. "Ayolah, Sayang. Jangan down, kamu tetap trendsetter. Tak akan ada satupun gadis sanggup samakan gayanya denganmu kecuali mereka plagiat."
Reinha segera tersenyum.
"Ngomong-ngomong, kami hanya mampir sebentar melihatmu, Ethan." Lucky Luciano tak begitu suka Ethan Sanchez menyentuh Reinha.
"Ya," angguk Elgio Durante sepakat tampak ingin buru-buru pergi. "Terima kasih untuk semua yang telah kamu lakukan untuk Arumi. Kami harus ke sebelah. Luna dan Marion menunggu," tambahnya lagi menunjuk dagunya ke arah restoran. Terlihat Abner Luiz dan Maribella masuk ke dalam restoran dan disambut Marion.
"Ya, baiklah. Semoga malam Anda sekalian menyenangkan."
"Ayo bergabung. Atau kamu bisa bersamaan pergi dengan Arumi. Dia akan datang dalam lima belas menit." Elgio Durante mengundang.
"Ini akhir pekan. Kami akan sangat sibuk sebentar lagi," tolak Ethan Sanchez. "Jika aku temukan celah, aku akan bergabung."
"Baiklah, sampai nanti Ethan Sanchez."
Mereka beriringan pergi tinggalkan Ethan Sanchez ladeni dua pasang remaja yang memesan minuman dan makanan ringan.
Baru saja selesai dengan beberapa pelanggan ketika Allain Miller datangi kafe, menengok sebentar ke seberang dan melangkah masuk ke dalam.
Pria itu tampak sangat lelah.
"Tuan Allain, Anda di sini?" sapa Ethan Sanchez.
"Ethan, apakah kamu benar-benar pulih sekarang?"
"Ya, Sir. Terima kasih atas perhatian Anda. Juga biaya hospital kemarin. Aku benar-benar sangat berutang pada Anda."
Nyonya Salsa kunjungi Ethan di rumah sakit. Sepihak membayar biaya rumah sakit. Rasa sayang, perhatian dan cinta seorang Ibu dari Nyonya Salsa sampai padanya. Ethan Sanchez kemudian berpikir bukan hanya soal Arumi, Nyonya Salsa benar-benar telah menganggapnya sebagai seorang putera. Tetapi, ia tak bisa abaikan Ibunya.
Ethan menghela napas panjang, Nyonya Salsa hanya tak tahu sedang berhadapan dengan siapa.
Nyonya Sanchez sangat keras kepala. Sama seperti Ibunya permalukan Arumi, Nyonya Salsa pun demikian.
Ethan Sanchez menyerah, ia butuh menjauh dari Ibunya sementara waktu karena tak percaya Ibunya menyimpan dendam sedemikian rupa. Ia memilih tinggal di kafe. Ia pahami sikap Ibunya dan luka batin dari masa lalu. Banyak penghinaan dan penolakan setelah Ayahnya meninggal. Ibunya sangat menderita. Hanya saja, Ethan bingung bagaimana lenyapkan amarah Nyonya Sanchez pada masa lampau?!
"Tidak masalah, Ethan. Asalkan kamu pulih." Suara Tuan Miller bicara rendah.
"Juga, telah ijinkan aku tinggal di sini."
"Apakah kamarmu nyaman?"
"Sangat nyaman, Tuan!"
Ethan Sanchez mengubah gudang kardus menjadi ruang tidur. Hubungannya dengan Sarah retak bahkan renggang. Temannya memilih menghindar. Sisakan Arumi Chavez, satu-satu tertinggal kendati hanya sekedar bayangan yang mengisi angan. Na'as ..., tak bisa ia pegangi gadis itu. Ia lantas hanya menyimpan semua kenangan mereka di sudut rasa. Ia kembali menjadi dirinya sendiri meskipun berkat Arumi, ia tak akan sama lagi.
Ethan kemudian tenggelam dalam kesibukan di kafe, sembuhkan diri dan tekun belajar. Ia akan mengambil beasiswa yang ditawarkan beberapa sponsor. Ia satu-satunya kini. Marya Corazon, Reinha Durante, Claire Luciano adalah bilionaire. Mereka tidak butuh bantuan pihak ketiga untuk biaya pendidikan.
"Apa yang wanita itu lakukan?" keluh Allain Miller mungkin saja bicara sendiri, tetapi juga bangunkan Ethan Sanchez dari permenungan.
"Siapa yang Anda maksudkan?"
Kini ..., para pelanggan pria pergi ke seberang sedang hanya para gadis datangi kafe seakan tak terpincut pada penawaran kafe baru. Atau Ethan Sanchez mungkin alasan para gadis ingin berkunjung.
Ethan ikuti arah pandang Allain Miller temukan bosnya hanya terpaku. Marion Davis sedang lakukan hal yang sama. Beberapa menit berselang, Marion Davis keluar dari restoran melangkah ke arah kafe mereka.
"Apakah wanita yang menuju kemari adalah Nona Marion Davis?" tanya Allain Miller pada Ethan hingga yang ditanya naikan satu alis.
Seakan tersadar, Allain benarkan kalimatnya. "Di luar terlalu gelap."
Menjelang mentari terbenam memang redup tetapi sama sekali tidak gelap. Mungkin jika Allain lepaskan kaca mata, ia akan lebih mudah melihat.
Ethan Sanchez kemudian sadari sesuatu.
"Apakah Anda kebetulan miliki gangguan penglihatan? Alasan Anda terus berkaca mata gelap?"
Allain Miller tidak terkejut oleh pertanyaan orang muda di sisinya. Ia hanya diam. Sedangkan Marion Davis ayunkan kaki di dalam sepatu boot, menyeberangi lalu lintas cukup padat di akhir pekan.
"Maaf, aku lancang. Lupakan pertanyaanku barusan."
"Tidak masalah, Ethan. Terus terang, aku tidak bisa mengenal, mengingat dan bedakan wajah seseorang. Aku memberitahumu. Aku percaya padamu."
Tentu saja Ethan Sanchez bukan main terkejut. Menengok Allain Miller terpukul.
"Anda tak tahu persis wajahku?"
"Ya. Aku dan kakak laki-lakiku menderita kelainan penglihatan yang diwariskan dari ibuku. Kami tak bisa mengindentifikasi wajah orang lain. Bahkan wajah kami sendiri."
"Lalu, bagaimana Anda mengenaliku? Dan orang-orang di sekeliling Anda?"
"Setiap orang tinggalkan jejak. Suara mereka, gerak gerik, cara berjalan, pakaian yang digunakan. Mungkin aroma parfum mereka. Kami menghapal."
"Pasti sangat sulit," kata Ethan Sanchez.
"Ya."
"Bagaimana dengan foto?"
"Termasuk foto. Ketika masih anak-anak aku kesulitan mengenali wajah karakter dalam film atau acara kartun."
Hampir tiga tahun bekerja di kafe dan Ethan baru tahu hari ini walaupun jujur saja, ia pernah curiga. Allain Miller pernah lewati dirinya begitu saja seakan tak melihatnya suatu waktu. Mungkin berpikir ia adalah salah satu pelanggan.
Pintu kafe didorong, Marion Davis masuk ke dalam kafe. Balikan sign board dari open menjadi close, beritahu keduanya bahwa Marion Davis butuh bicara. Ethan Sanchez menduga ada sesuatu terjadi di antara kedua orang ini sebab dirinya dan Marion tidak cukup dekat untuk obrolan serius. Atau kasus Arumi dan Fernanda kemarin.
"Kami masih buka, Nona Davis," tegur Allain Miller dingin.
"Aku membantu Anda tutup lebih awal, Tuan Miller," sahut Marion Davis penuh percaya diri datangi mereka.
"Aku terkejut Anda sangat ingin hancurkan aku hingga buat persaingan tepat di muka hidungku."
Hening. Hanya petikan gitar dari lagu Selena - I could fall in love with you mengalun sangat pelan di dalam kafe.
Ethan Sanchez tak berani berdiri lebih lama. Tercium ini bukan urusan persaingan bisnis semata.
"Maaf aku menyela. Aku harus ke belakang."
Ethan Sanchez mundur perlahan. Ia kembali bereskan kerjaan. Mata terangkat perhatikan dua orang yang ada di tengah-tengah ruangan kafe. Tanpa sengaja menegak saat sosok Arumi Chavez tertangkap di luar kafe, berdiri ragu-ragu. Pandangan mereka bertemu. Arumi tersenyum kecil dan melambai 'hai' lalu masuk ke dalam kafe.
"Malam Tuan Miller. Maaf aku mengganggu. Aku ingin bertemu Ethan Sanchez."
"Nona Arumi?! Anda di sini?"
"Ya Tuan. Aunty ..., aku ingin bertemu Ethan lalu kita bisa kembali ke sebelah bersama-sama."
"Ya, Manis-ku."
Arumi Chavez datangi Ethan Sanchez.
"Apa kabarmu, Ethan?"
"Baik. Mau minum sesuatu?"
Arumi menggeleng cepat. "Tidak. Aku perlu membawa Aunty Marion pergi. Keduanya suka berdebat jika bertemu."
"Aku pikir kamu kemari ingin melihatku?"
"Aku mampir karena ingin tahu keadaanmu, Ethan," jawab Arumi. "Mungkin ini yang terakhir."
"Ya, sebaiknya jangan sering bertemu. Aku selalu hampir runtuh saat melihatmu. Itu buruk untukku."
"Maaf tak datang menjengukmu lagi."
"Aku mengerti."
Arumi menghela napas panjang.
"Apakah mereka akan baik-baik saja?" tanya Arumi Chavez.
"Biarkan mereka bicara." Ethan Sanchez sediakan lemon tea, berikan pada Arumi.
"Minumlah."
Arumi menyesap minuman.
"Anda mengakuisisi The Daniel's Brother demi tumbangkan aku." Tak terbaca emosi Allain Miller. Pembicaraan mereka terdengar oleh Arumi dan Ethan hingga keduanya hanya memilih membisu.
"Bangunan di sebelah milik keluargaku. Masa kontrak dengan penyewa sebelumnya berakhir dan kami putuskan lakukan sesuatu."
"Siapa yang ingin Anda bodohi, Nona Davis? Sampai seminggu lalu, bangunan tua itu milik pak Tua Robin dan saudaranya, Robert Daniel."
Hening.
"Apa yang bisa kulakukan untuk membuatmu berhenti marah padaku?" tanya Allain Miller. "Aku tak tahu, apa yang telah kulakukan. Aku hanya sedang tersesat."
"Maka ..., pasrah saja pada nasibmu, Tuan Miller. Harga diri seorang wanita sangat terluka. Tebak ..., apa yang akan aku lakukan padamu...."
"Oh, yang benar saja?!" Mimik Allain Miller berubah sedikit sinis. "Kamu sangat ceroboh hingga kehilangan harga dirimu."
Marion terhenyak. Untuk sesaat kehilangan kata.
"Begitukah menurutmu, Tuan? Sangat keren, ya?" serang Marion ungkap sengatan kebencian yang beracun. "Berpikir wajar saja lakukan apapun pada wanita mabuk?"
Lagi-lagi hening.
"Baiklah, aku sungguh menyesal. Maafkan aku. Hanya itu yang bisa aku sampaikan. Aku tak bisa menikahimu karena diriku bermasalah dan aku tidak bisa menerima latar belakang keluargamu. Kami tak menikahi gangster kota."
Suasana berubah beku. Arumi Chavez nyaris kesedak. Ia mencengkeram cup di tangan kuat. Ia selalu sakit hati mendengar julukan yang disematkan pada keluarganya.
"Arumi?!" keluh Ethan pelan mendekat. Cemas pada ekspresi Arumi. Tetapi Arumi mundur menjauh. Sedih dan pekat.
"Terima kasih untuk minumannya, Ethan. Kurasa kami harus pergi."
Sementara Marion Davis hanya terpaku. Kepala berputar menyapu seluruh ruangan kembali pada Allain.
"Yang benar saja ...."
"Walaupun Elgio Durante dan Abner Luiz telah menutup sebagian sisi. Nyatanya kalian hanyalah sekelompok bandit. Aku tak bisa bersamamu."
"Terus terang, Anda terlalu percaya diri, Tuan Miller. Meskipun diberikan secara sukarela aku menolak pria beracun sepertimu dan pandai menyerang orang lain dengan ungkapan tajam. Anda sungguh tampak redup, gelap gulita setiap saat. Bahkan para pria gangster tak ada apanya dibandingmu, Tuan Miller."
"Aunty, bisakah kita pergi?" tanya Arumi Chavez menyela, merapat pada Marion lingkari lengan Marion kuat beritahu bahwa ia tak nyaman. Sekarang tampak jelas Arumi sangat trauma pada kata-kata itu.
"Lupakan pembicaraan barusan, Tuan Allain. Aku dan Luna Hugo mengundangmu juga Ethan Sanchez bergabung bersama kami.
"Kami tak bisa pergi."
"Tuan Abner Luiz dan Elgio Durante harapkan kedatangan Anda. Tak mungkin Anda menolak partner kerja Anda. Lagipula, mereka satu level denganmu dari golongan kaum terhormat." Berpaling pada Ethan yang menjulang serba salah. "Ethan, sisakan sedikit waktumu. Bergabung bersama kami di seberang."
"Nona Marion ..., aku ...."
"Ayolah Ethan."
"Baiklah."
"Kami permisi, Tuan Allain."
Marion menggenggam tangan Arumi, berbalik pergi dari sana.
"Aunty ...." Arumi Chavez nyaris menangis.
"Jangan terlalu dipikirkan."
"Aku benci kata-kata itu!"
Marion mengecup jemari Arumi pelan, menghibur. "Oh, Sayangku. Maafkan aku buatmu mendengar segala hal buruk ini. Mari bersenang-senang. Aku akan menutup mulut jahatnya suatu waktu. Dia mungkin lupa, ponakannya psikopat berdarah dingin."
Mereka pergi ke restoran. Arumi Chavez dikelilingi keluarga dan kerabatnya. Semua tampak bahagia bahkan Aunty Marion sama sekali tak terpengaruh pada ucapan Tuan Miller. s
Tak disangka Tuan Miller dan Ethan bergabung bersama mereka setengah jam kemudian. Bawakan buket bunga besar, diterima penuh sukacita oleh Luna. Tuan Miller memilih meja yang sama dengan Abner Luiz. Terlibat obrolan serius dan mereka sangat nyaman satu sama lain. Sedang Aunty Marion abaikan pria itu sepenuhnya. Aunty memilih bersama Uncle Hellton, Anna Marylin dan Tuan Francis Blanco juga istrinya September.
"Apa kalian benaran putus?" Lucky Luciano menatap Ethan Sanchez bergantian pada Arumi.
"Ya," sahut Ethan Sanchez menelusuri buku menu. "Melihat Marya Corazon, aku semakin yakin ini keputusan yang benar."
Elgio Durante berdecak. "Archilles Lucca mungkin akan mengalahkanmu, Ethan."
"Sayangnya, aku dan Archilles tak akan ciptakan konflik soal Arumi. Kami tak perlu head to head untuk kesepakatan."
"Lalu, kamu terlalu cepat menyerah. Bukankah kamu dan Arumi punya waktu seumur hidup membujuk Nyonya Sanchez?"
"Arumi Chavez tidak seberuntung kakaknya," balas Ethan Sanchez. "Ibuku sangat pemilih."
"Kamu ingin makan apa, Ethan? Aku bisa ambilkan." Arumi Chavez bertanya pelan.
"Duduk saja, Arumi!"
Namun, Arumi telah bangkit dan datangi Luna Hugo. Buat permintaan. Ethan Sanchez ikuti kemana gadis itu pergi.
"Kamu bisa mengejar Arumi lagi, Ethan. Kamu bisa meraihnya lagi," saran Lucky Luciano.
"Aku tidak miliki jiwa prajurit sepertimu, Lucky!Lagipula, Arumi telah mengikat janji dengan Archilles Lucca. Aku menghormati sebuah hubungan. Jika, Arumi jodohku, kami akan bersama di waktu yang tepat."
"Sepakat," angguk Elgio Durante setujui pemikiran matang Ethan.
"Kalian aalah pengamat cintaku kini," goda Ethan Sanchez. Arumi kembali bersama seorang asisten kafe. Minuman segar, diletakan di hadapan Ethan Sanchez.
"Sebelum menu kejutan Anda sampai, Tuan. Tamu adalah raja." Arumi tersenyum. Itu semboyan kafe mereka.
"Terima kasih, Nona. Lihatkan? Kami masih bisa tetap mesra meski telah putus."
"Jika jadi Archilles aku akan tetap tinggal dan mengawasimu dari dekat. Gadis ini tak bisa dipercaya." Lucky Luciano suka usil pada Arumi Chavez.
"Reinha, kamu tahu tidak, suamimu ...."
"Hei, Arumi!" tegur Lucky jengkel.
"Oleh sebab itu berhenti menggangguku, Kak!" ancam Arumi.
"Ada apa, beritahu aku!" pinta Reinha menyipit ke sebelah.
"Aku hanya ingin buatnya mati kutu di depanmu," jawab Arumi santai.
"Oh, mari bongkar rahasia," balas Lucky Luciano.
"Ei?!" Arumi Chavez kelabakan.
"Ethan Sanchez, kamu tahu apa yang Arumi lakukan saat masih jadi pacarmu?"
"No!" geleng Arumi merah padam. Lucky suka lebih-lebihkan sesuatu. "Kakak?!"
"Um?!"
"Gadis ini ...."
Arumi Chavez mengangkat dua tangan dan menutupi kuping Ethan Sanchez.
"Lihat dia! Katanya tidak takut?" olok Lucky senang.
"Kalian sungguh kekanak-kanakan," keluh Reinha Durante sedang Marya sangat terhibur. Terus saja tersenyum.
Ethan Sanchez pegangi tangan Arumi.
"It's okay." Menatap Lucky. "Aku tahu. Archilles mengabari-ku, Lucky. Setiap gerakan yang dibuatnya bersama Arumi. Kami tidak menyimpan sesuatu yang mengganjal di antara kami. Aku tidak cemburuan sepertimu dan pria satunya lagi!"
"Hebat!" sambung Elgio Durante.
Arumi Chavez pelototi Lucky Luciano yang duduk belakangi kaca. Tiba-tiba saja, Arumi terpaku.
Mungkin potongan rambut beda, mungkin sedikit berubah, tetapi ia tak salah kenali pria yang berdiri di luar kafe sedang menatap ke dalam.
Tak bisa bilang ia jatuh cinta pada pria itu, ia hanya sangat merindukannya setiap waktu.
Arumi Chavez kerjabkan mata. Dia masih di sana. Kini, melambai dengan seikat bunga. Arumi Chavez menoleh saat pria itu tersenyum pada Uncle Hellton yang tampak sangat terharu, sebelum menghilang.
"Arumi, ada apa?" tanya Lucky Luciano. "Apa ada sesuatu di wajahku?"
"Aku lupa sesuatu di mobil. Aku akan segera kembali."
"Mau kutemani?" tanya Reinha Durante.
"Tidak, Reinha. Leona ada di depan."
Arumi Chavez bangkit berdiri dan keluar dari kafe. Leona ikut di belakang Arumi.
"Nona?!"
"Aku melihatnya, Leona!" ujar Arumi Chavez pegangi lengan Leona.
"Siapa?"
"Dia ...."
"Nona?!"
"Dia di sini tadi."
"Archilles Lucca?"
"Lakukan sesuatu!" kata Arumi Chavez.
"Di mana Anda melihatnya?" Leona periksa ponsel.
Arumi menengok ke arah jalan, mulai melangkah. Banyak orang lalu-lalang. Di ujung Avenue sebuah billboard mini theater berkedip-kedip. Me before You, tertera dalam tulisan merah akan segera tayang.
Arumi Chavez tak tahu mengapa ia pergi ke sana, masuk ke dalam ruangan yang bahkan penjaganya tak mencegah ia masuk.
Ruangan redup hanya dua lampu paling belakang menyala. Arumi turuni tangga. Ia melihat buket kembang bunga di bangku paling ujung baris ke sepuluh. Mencari-cari, hanya ia sendiri. Arumi duduk di sana setelah menggendong bunga.
Pria itu datang tak lama kemudian, duduk satu depa darinya di bangku sebelah. Mereka terpisahkan lorong. Arumi Chavez hanya memeluk bunga, menolak kecamuk hati untuk menengok sementara film mulai diputar.
"Aku pikir Anda tak akan menemukanku."
"Sesuatu mengikatku dan dirimu dengan cara yang aneh."
Archilles Lucca tercenung. Menatap layar di depan tampilkan kastil tua tempat seorang pria tinggal.
"Aku tak suka endingnya,"protes Arumi pelan.
"Film ini ingatkan-ku pada Anda."
"Aku tertidur memeluk jas pengawalku sepanjang malam."
Archilles Lucca tersenyum.
"Selamat menonton. Tisu dan camilan Anda di sisi kiri. Senang bertemu Anda lagi, Nona Arumi."
"Aku selalu merindukanmu."
"Tadinya kupikir Anda melupakanku. Aku juga sangat merindukanmu, Nona."
Mereka akhirnya saling bertukar pandang kini. Arumi Chavez memeluk bunganya erat-erat.
"Terima kasih bunganya."
"Te Quiero Mi Amor." (Aku mencintaimu, Sayangku).
****