
"Archilles ..., kamu di sini," sapa Ethan Sanchez terus terang sulit untuk bersikap.
Kedua pria jatuh cinta pada gadis yang sama. Walaupun Ethan Sanchez orang pertama yang pacari Arumi Chavez tetapi mereka telah putus.
Arumi kini tampak sangat bergantung pada Archilles yang datang belakangan. Ethan Sanchez sedikit suram. Insting Archilles Lucca seolah sedang mengendus hatinya. Ethan cuma bisa mencoba berdiri tegak dan hadirkan senyuman di wajah. Ketika akhirnya sadari bahwa itu malah mengakui rasa canggung, Ethan Sanchez putuskan biarkan Archilles Lucca melihat dirinya apa adanya.
"Ethan, sesuatu yang buruk pasti telah terjadi." Archilles Lucca mengusap kepala Arumi Chavez. Menenangkan gadis yang terisak-isak kecil dalam pelukannya.
"Ya," angguk Ethan. "Kami terus saja hadapi keegoisan orang dewasa. Mungkin ini titik kritisnya dan sangat menjenuhkan."
"Nona, mari kita bicara di dalam."
"Tidak, bisakah kita pergi saja?" Arumi lepaskan pelukan, mendongak pada Archilles dipenuhi air mata. "Aku pikir ayahku berkunjung karena cemas pada keadaanku. Aku bodoh. Ibuku juga tak bicarakan pernikahan kita denganku. Rasanya sungguh buruk, Archilles, saat kamu bukan prioritas emosi orang tuamu. Aku tak tahu untuk apa mereka melahirkan aku?"
"Nona, Anda tak akan bicara yang tidak-tidak. Jangan menangis. Tidak usah bersedih karena orang tuaku datang untuk bicarakan pernikahan kita," hibur Archilles Lucca mengusap air mata Arumi. Singkirkan helaian rambut dan kembali mendekap. Mengecup puncak kepala pelan.
"Archilles?" Tuan Maurizio bertanya dari sebelah cukup melihat apa yang sedang terjadi.
Archilles menyadari bahwa ia tidak sendirian. Berpaling pada Tuan Maurizio dan Nyonya Nastya Lucca. Matanya menangkap Zefanya Lucca yang shock dalam gandengan Nyonya Nastya. Adiknya bereaksi sangat tegang hingga Nyonya Nastya sampai merespon dengan memeluk tubuh Zefanya gunakan satu tangan.
"Ada apa, Sayang?" tanya Nyonya Nastya keheranan.
Zefanya langsung lemas seketika. "Oh, ya Tuhan, Archilles Lucca, mimpi apa aku semalam?"
"Zefanya?!"
"Maafkan aku, Mom. Aku hanya kaget," jawab Zefanya merona merah. Berjinjit sedikit dan berbisik, "Arumi Chavez adalah artis idolaku, Mom. Aku pikir kakakku mengkhayal soal Arumi Chavez."
Nyonya Nastya Lucca tersenyum geli.
"Ibu pikir kamu tahu bahwa kakakmu dan Arumi Chavez sedang berpacaran, alasanmu menyukai Arumi Chavez?"
"Dia terus mengatakannya padaku hingga mulutnya berbusa, tetapi aku pikir dia terlalu berlebihan fanatik pada Arumi Chavez dan terlalu banyak mengkhayal. Tahukah Anda, Mom, aku pernah menjodohkan Archilles dengan ibu guruku agar Archilles berhenti berpikir tentang menikahi Arumi Chavez."
"Ibu yakin kamu percaya kini."
"Maafkan aku," kata Archilles Lucca meminta pengertian dari semua orang.
Bertepatan dengan kedatangan Nyonya Salsa Diomanta dan Nyonya Andreia Sanchez.
"Tuan Maurizio Lucca?" Nyonya Salsa tak bisa sembunyikan keterkejutan. "Nastya? Apa ini? Kamu tak mengabari terlebih dulu kedatangan kalian?" Menengok Archilles dan menatap tajam padanya.
"Kami mampir lebih cepat, Salsa. Aku sangat ingin bertemu denganmu," sahut Nyonya Nastya Lucca. "Tetapi, sepertinya kamu sedang menerima banyak tamu."
"Kami akan pamitan pergi, Nyonya," kata Ethan Sanchez sopan, tersenyum ramah pada Nyonya Nastya dan Tuan Maurizio lalu hanya sekilas pada Zefanya Lucca, tetapi efeknya luar biasa. Zefanya segera bengong di tempat seperti orang tersengat kilat.
Tanpa sadar Zefanya mendesis sangat pelan beberapa waktu berselang, "Oh - My - God".
Siapa dia?
Tadinya hanya tertarik pada Archilles dan Arumi Chavez, baru sadar ternyata ada aura lain sangat kuat memancar di sini. Mencuri perhatian.
Siapa dia?
Alam semesta sangat luas berisi miliaran planet ternyata di salah satu planet hiduplah satu mahkluk. Diibaratkan planet, elok dan menarik macam Saturnus. Dingin macam Neptunus, bisa buatmu mendadak beku. Tetapi dengan sukarela.
Zefanya seperti baru habis makan sesuatu yang memabukkan setelah melihatnya. Lekas berkunang-kunang.
Siapakah gerangan?
Mungkin begini jadinya jika dia mendarat di planet HD 1897 33 b, planet baru yang diceritakan guru science-nya, ia menghirup banyak gas beracun dan akan segera pingsan.
Zefanya putuskan dia punya idola baru. Ada pria lebih tampan dari Kim Taehyung bahkan kakaknya sendiri, Archilles Lucca.
Pria itu berjarak 100 cm darinya dan miliki tatapan setajam katana (pedang panjang Jepang bermata satu) yang bisa mengiris-mu tipis-tipis mirip lembaran cassava sebelum di goreng dalam minyak panas.
Zefanya akan menambah poster di kamar tidurnya dengan poster pria ini. Archilles memanggilnya Ethan.
Ethan?
Ethan!
Apa Ethan seorang aktor? Sama seperti Nona Arumi? Sepertinya dia model? Iklan apa? Zefanya akan mendownload semua iklan milik Ethan.
Lebih membingungkan lagi, apa sebenarnya pekerjaan Archilles Lucca? Mengapa Archilles memiliki circle luar biasa high class? Temannya sangat tampan dan pacarnya, Arumi Chavez, seorang artis muda idola satu negara.
Apakah Ethan dan Nona Arumi kemungkinan murid Archilles Lucca? Kata Archilles, dia bekerja sebagai guru.
Tingkahnya kepergok Archilles Lucca. Reaksi mula-mula para gadis saat melihat Ethan Sanchez. Adiknya juga terkena sihir Ethan Sanchez. Jatuh cinta pada pandangan pertama.
Zefanya menoleh pada Archilles dengan ekspresi terpukau. "Kau akan kenalkan aku dengannya kan, Archilles Lucca?" Mata adiknya bergerak-gerak seakan menjerit padanya.
No! Geleng Archilles refleks peringatkan adiknya untuk tidak bertingkah aneh.
"Ethan, hujannya semakin deras." Nyonya Salsa penuh perhatian. "Aku mengundang semua orang untuk pergi ke dalam."
"Tidak Nyonya. Aku harus segera masuk kerja." Ethan Sanchez menarik resleting jaket sampai menyentuh dagu.
Sepasang mata seorang bocah bernama Zefanya Lucca terkunci, menjumpai apapun yang dilakukan pria asing di depan ini sangat menarik.
"Aku akan minta seseorang mengantarkanmu. Kamu bisa kembali kemari besok hari untuk mengambil motormu." Nyonya Salsa sangat gigih. Tidak sulit melihat betapa Salsabila tulus menyayangi Ethan Sanchez. Tingkahnya persis ibu yang sangat cemas.
"Tak perlu repot, Nyonya Salsa. Aku akan baik-baik saja."
"Mengendarai motor hujan-hujan begini, kamu bisa sakit Ethan," tambah Nyonya Salsa.
Ethan Sanchez berpikir sejenak, "Nyonya Salsa terima kasih untuk tawaran Anda. Bisakah begini saja, aku minta tolong seseorang antarkan Ibuku ke rumah sakit?"
Ethan Sanchez bicara hati-hati.
"Ethan ..., aku akan ikut denganmu." Nyonya Andreia Sanchez datangi Ethan.
"Mom, Nyonya Salsa akan sediakan mobil untuk mengantarmu pulang." Ethan Sanchez tak bisa tinggalkan Ibunya, walaupun ia mengkritik keras sikap Ibunya tetapi ia tak mungkin abaikan Ibunya. Separuh memohon pada Salsa Diomanta. "Ibuku bisa sakit jika ikut denganku."
"Ethan ...." Nyonya Andreia Sanchez berkaca-kaca. Seakan-akan menyesali segala hal yang terjadi di antara mereka. Bisa melihat kesakitan lain di mata Ethan Sanchez.
"Supir kami antarkan Anda, Nyonya," tawar Nyonya Nastya Lucca. "Jangan sungkan, kami adalah kerabat Salsa. Dan sepertinya puteraku berteman dengan Putera Anda," tambah Nyonya Nastya lagi.
Andreia Sanchez mengerut pada Arumi Chavez dalam pelukan Archilles seakan temukan tempat terbaik untuk berlindung.
"Mari berkenalan," kata Nastya Lucca tersenyum lemah lembut penuh persahabatan. "Suamiku, Maurizio Lucca, aku Nastya Lucca, Ibu dari Archilles Lucca. Ini Puteri kami Zefanya Lucca. Puteraku akan menikahi Arumi Chavez di bulan Maret nanti."
Okay. Ada pelangi di sini tetapi ada kesuraman. Abu-abu, biru dan hitam. Wajah yang tak bisa sembunyikan emosi.
"Aku Andreia Sanchez. Ini puteraku Ethan Sanchez. Bukankah terlalu cepat menikahkan mereka? Nona Arumi masih sangat muda."
"Kami menyukai Nona Arumi Chavez. Terlebih puteraku sangat mencintainya. Oh rasanya tak ada alasan untuk pisahkan mereka. Archilles cukup dewasa untuk membimbing istrinya kelak." Nastya Lucca menanggapi.
Mereka berkenalan sambil mengobrol termasuk Ethan Sanchez. Sampai pada Zefanya yang sendiri salah tingkah padahal Ethan Sanchez hanya berikan tangan untuk menyapa dengan wajah berduka sangat dalam setelah mendengar berita Archilles akan menikahi Arumi Chavez.
"Zefanya Lucca." Mengucapkan namanya dengan sangat jelas. Mengapa namanya Zefanya? Mengapa tidak Lea atau Lana yang mudah diingat orang?
"Ethan Sanchez."
Luar biasa sempurna, namanya Ethan Sanchez. Kecepatan daya pikat mungkin sama dengan badai di planet baru, 7000 km per jam.
Oh ya Tuhan, ini belum pernah terjadi sebelumnya bahkan pada Taehyung yang posternya menaburi dinding kamarnya. Zefanya segera sadar saat Ethan Sanchez lepaskan tangan.
"Aku pikir Nona Arumi akan menikahi pacarnya yang aku lihat terakhir kali di rumah sakit sewaktu Nona Arumi menemani Ethan Sanchez," kata Nyonya Sanchez.
Nastya Lucca agak terkejut, menoleh pada dua orang yang tak lepaskan pelukan seakan dunia hanya berisi mereka berdua.
"Aku yakin mungkin hanya teman Nona Arumi Chavez." Segera sadar. "Mumpung hujan agak reda, bagaimana dengan yang tadi?"
"Terima kasih untuk tawaran Anda, Nyonya Nastya, aku akan pulang bersama puteraku."
"Nyonya Andreia akan kuantar pulang. Kami bersama-sama kemari tadi." James Chavez ingin mengakhiri perdebatan tetapi menerima gelombang protes.
"Tidak, Tuan Chavez," geleng Nyonya Andreia tegas.
Ethan Sanchez lemparkan tatapan menjauh. Ingin segera menghilang. Salsa memahami kondisi Ethan. Sangat menyesal karena tanpa sengaja lukai hati Ethan.
"Alfredo akan antarkan Ibumu pulang, Ethan."
Tak butuh waktu lama, Nyonya Andreia naik mobil. Ethan Sanchez kemudian pamitan pergi. Memakai helm dan menerobos hujan. Keluar dari gerbang mengekor di belakang mobil ibunya.
Sedang semua orang berkumpul di ruang tamu. Archilles menggendong Arumi pergi ke lantai atas. Meminta Zefanya ikut untuk temani Arumi sebab Archilles ingin bicara dengan Tuan dan Nyonya Chavez.
"Apa yang akan terjadi setelah ini, Archilles?" tanya Arumi pejamkan mata. Rasanya ia bisa tidur nyenyak meskipun cuma satu jam.
"Semuanya akan baik-baik saja."
"Bisakah kamu bawa aku bersamamu? Kadang yang aku pikirkan hanya bersamamu."
"Mungkin sulit, Nona."
"Mengapa?"
"Aku harus kembali mengajar dalam dua hari. Dan masih tinggal di biara."
"Archilles ..., apakah muridmu lebih penting dariku?" Teringat pada Eva Romero, Arumi semakin dongkol saja.
Mereka duduk di sofa depan ruang tidur Arumi.
"Anda dan adik perempuanku adalah segalanya bagiku. Mari bersama selama dua hari. Aku akan menemanimu di sini dan berjanji akan sering-sering mengunjungimu." Archilles membungkus tangan Arumi dengan kedua tangannya jadikan sandaran bagi dagunya.
"Begitukah?"
"Ya. Apa Anda sudah makan?"
Arumi menggeleng. "Nanti saja."
"Mau aku ambilkan?" Zefanya bertanya dari sebelah, setelah cukup puas menonton. Sekali ini dapatkan atensi Arumi Chavez.
"Hai, Zefanya."
"Hai," sahut Zefanya tersenyum lebar. "Sungguh sangat senang bertemu denganmu, Nona Arumi."
"Aku juga. Archilles sering menceritakan dirimu."
"Oh ya?" Zefanya menatap Archilles berterima kasih. Kembali pada Arumi. "Aku bisa ambilkan makanan untukmu, Nona Arumi."
"Tidak perlu Zefanya, kita akan makan malam bersama nanti."
"Nona, aku ingin bertemu orang tua Anda. Bisakah Nona mengobrol dengan Zefanya?"
Arumi Chavez keberatan, memeluk lengan Archilles kuat. Tidak ingin berpisah.
"Ini mengenai kita."
Keduanya saling menatap.
"Baiklah." Arumi ditinggal bersama Zefanya. Archilles yakin akan ada banyak obrolan sebab Zefanya pandai cairkan suasana persis Nona Arumi dulunya sebelum selalu murung seperti sekarang.
Archilles turun ke ruang bawah. Orang tua sedang berkumpul. Mengobrol, bertukar kabar. Dua pasang suami istri yang bertolak belakang. Dilihat dari atas sini, orang tuanya bahkan cuma duduk telah berikan kesan positif. Hubungan sehat, saling menghargai dan berkomitmen membangun keluarga harmonis. Sedang Tuan dan Nyonya Chavez seakan saling mematikan karakter. Keduanya tersiksa bersama dan segera ingin menyingkir.
"Sayang, apakah Nona Arumi membaik?" tanya Nyonya Nastya Lucca sembari berikan sinyal "datang di sisiku" pada Archilles saat ia muncul.
"Ya, Mam," angguk Archilles menurut pada Nastya Lucca yang menatapnya seolah-olah ia bulan purnama menerangi langit malam kelam.
Nyonya Nastya keberatan dengan panggilan itu tetapi mengerti bahwa Archilles sulit menyesuaikan diri.
"Salsa, aku dan suamiku tak punya kata untuk diutarakan padamu selain terima kasih mendalam." Nyonya Nastya menggenggam tangan Archilles erat-erat.
Salsa menghela napas panjang.
"Ya, Nastya. Berbahagialah mulai sekarang."
"Pernikahan ini terlalu dini, Tuan Maurizio Lucca. Istriku terobesi pada pernikahan puteri-puterinya," kata Tuan James Chavez tiba-tiba.
Nyonya Salsa lengkungkan senyuman tipis di bibir. Semacam seringai mencela pernyataan suaminya.
"Tuan Chavez, maafkan aku," sela Archilles. "Keinginan menikah bukan datang dari Nyonya Salsa tetapi dariku dan Arumi."
Tuan James Chavez mengangkat wajah, menatap Archilles memulai penilaian.
"Usia Arumi baru enam belas tahun saat menikahimu, Anak Muda."
"Kami telah membuat perjanjian sebagai syarat menikah, Tuan," jawab Archilles.
"Itulah pentingnya seorang Ayah bagi puterinya. Anda akhirnya terlihat seperti orang asing."
"Salsa? Apa kita akan mulai ribut sekarang?"
"Anda memulainya dengan membawa orang asing kemari, Tuan Chavez."
Maurizio Lucca dan Nastya berbagi pandangan.
"Tuan Maurizio ..., bukankah sebaiknya kita bertemu dan berbincang dengan Nona Arumi di lantai atas?" Nastya Lucca bertanya lembut pada suaminya, pegangi tangan sang suami dan kepolosan yang imut itu menyentuh hati Archilles Lucca.
"Kamu benar, Sayang. Mari aku temani," balas Tuan Maurizio langsung berdiri membimbing Nastya ikut tegap. "Anda berdua bisa selesaikan permasalah internal tanpa kami mendengarkan."
Keduanya berpegangan tangan menuju ke lantai atas. Archilles pikir ia akan begitu dengan Nona Arumi. Seakan ada ketinggalan, Nastya Lucca berbalik badan.
"Sayangku, kamu tak ikut?"
"Aku akan menyusul Anda berdua, Mam," sahut Archilles Lucca.
"Baiklah."
Kedua orang tua pergi.
"Bisakah aku bicara pada Anda berdua?" tanya Archilles pada Tuan James dan Nyonya Salsa yang duduk berdekatan tetapi seakan masing-masing memegang senjata biokimia terselip dibalik punggung, yang siap sedia diledakkan satu sama lain.
"Kami bisa selesaikan masalah kami tanpa ikut campur darimu, Archilles Lucca. Jika itu yang ingin kamu lakukan!" tegur Salsa tajam.
"Apakah Anda berdua perlu membawa kepahitan sekarang pada Nona Arumi sedang kondisi kejiwaan Nona Arumi belum stabil? Apakah ada yang lebih mendesak selain kesembuhan Nona Arumi sekarang?" serang Archilles tanpa basa-basi dan tak dengarkan peringatan Nyonya Salsa.
Salsa Diomanta terdiam.
"Kami akan perbaiki ini segera, Anak Muda." James Chavez menoleh pada Salsa Diomanta.
"Aku lihat kamu macam sebutir kacang di atas daun murbei, Tuan Chavez. Menggelinding ke sana kemari. Jangan katakan kamu ingin di sini denganku dan di sana dengannya."
"Mari selesaikan ini!"
"Aku sudah selesai denganmu," jawab Salsa jengkel. "Harusnya datang sendiri bertemu Puterimu dan perbaiki hubungan yang renggang. Bukan malah kemari bawa-bawa seseorang yang pernah menghina Puterimu! Aku tak bisa merendahkannya karena aku sangat menyayangi Puteranya. Aku biarkan diriku jadi bulan-bulananmu, Tuan Chavez."
Keduanya saling bertatapan dan saling menjegal. Tuan James Chavez kemudian menyerah.
"Salsa, aku menyesal begini akhirnya." Mengambil dokumen di atas meja, bangkit berdiri. "Kamu benar Arumi lebih baik tanpa aku."
Archilles melihat raut yang selalu rumit itu menahan berbagai emosi. Rahang-rahang berderak.
"Aku mohon, jangan pergi, Tuan Chavez," kata Salsa tiba-tiba merendah tanpa melihat pada yang diajak bicara. Sangat sulit mengatakan itu bagi seorang Salsa Diomanta yang angkuh. Mungkin Arumi adalah pertimbangan. "Demi Puterimu."
Tuan James Chavez mematung beberapa saat.
"Setidaknya sampai pernikahan Arumi selesai."
James Chavez menoleh, keheningan beberapa saat. Dari atas terdengar sedikit pembicaraan penuh kehangatan.
Archilles berangan seandainya Nona Arumi Chavez berada dengan keluarganya di Càrvado bersama kedua orang tuanya, Chaterine dan Zefanya, dalam lingkungan sehat dan logis, tanpa tekanan ..., psikis Nona Arumi mungkin akan pulih lebih cepat.
"Aku akan ikuti semua keinginanmu, Tuan Chavez." Nyonya Salsa berkata lagi. "Bisakah bertahan dengan kami sampai Maret?"
***