
Oh, mengapa sangat mengantuk?! Banyak tidur bagus untuk otak, bisa lebih berpikir jernih.
Mari tidur! Lupakan semua! Bangun nanti semua akan baik-baik saja. Tenggelam ke lautan gelap.
"Arumi, Sayang. Ini rumahmu sejak sekarang."
Usianya berapa tahun? Ia masih sangat kecil. Pria tampan yang menjulang tinggi di sisinya adalah Ayahnya yang tercinta, Tuan James Chavez. Sangat-sangat tampan.
"Kita akan tinggal di sini?" Matanya bersinar terang. Rumah ini sangat besar, sangat-sangat luas dengan patung indah di taman dan lampu-lampu besar. Banyak pengawal. Apakah ia puteri seorang raja?
"Ya, kamu akan tinggal di sini."
"Dengan siapa, Daddy?"
"Mommy juga kakek nenekmu."
Lalu, ia melihat kakek dan nenek tua menyongsongnya seakan dia anak yang hilang.
"Arumi ..., aku Kakekmu! Oh, pewarisku! Aku akan berikanmu seluruh kekayaanku tanpa sisa pada cucu perempuanku ini."
"Bagaimana denganmu, Dad?"
"Aku akan menemanimu, Sayang."
Arumi Chavez Diomanta sangat senang jadi satu-satunya gadis cilik. Sikapnya berubah manja, cengeng terlebih limpahan kasih sayang sangat tebal melingkupinya. Ia tak pernah pelajari salah dan benar. Semua yang dibuatnya adalah benar dan siapapun harus patuh padanya.
Ajaran keliru dan sesat. Ayahnya pamitan suatu waktu, katanya akan bekerja di luar negeri. Hanya tak paham mengapa Ayahnya butuh bekerja sedang James Chavez adalah bos di sebuah perusahaan besar dan mereka sangat kaya raya?
Namun, sejak James Chavez berdansa bersamanya putari lantai di rumah mewah mereka dan mencium keningnya lama, Arumi kemudian tak pernah melihat Ayahnya lagi hingga sekarang.
Kadang ia rindukan James Chavez tetapi terlalu banyak kasih sayang. Ia sangat cepat lupakan ayahnya. Ia bersama James Chavez sejak kecil sedang Salsa hanya ia lihat sebagai ikon di rumah James Chavez. Ia sedikit mengingat, tidak pasti atau itu cuma mimpi. Ia ingin bertanya tetapi Salsa tak suka ada banyak pertanyaan.
Kini, ia ingin Ayahnya kembali. James Chavez akan senang karena ia punya dua orang Puteri.
***
"Archilles Lucca?!"
"Ya, Nona Arumi."
"Kamu lihat laki-laki itu, Archilles?" Menunjuk ke depan pada seorang pria tampan berambut cokelat kemerahan, tinggi, tegap dan berkarisma.
"Ya, Nona."
"Namanya Ethan Sanchez dan dia adalah pengawalku sebelum kamu. Jam pulang sekolah nanti, kita akan ikuti dia dan caritahu di mana rumahnya. Jangan banyak tanya dan kamu boleh laporan pada Kakak Iparku bahwa aku menyuruhmu mencaritahu rumah seseorang bernama Ethan Sanchez."
"Baik, Nona!"
"Aku pergi, sampai nanti Archilles. Semoga hari Anda menyenangkan." Arumi buru-buru turun dari mobil, tinggalkan Archilles Lucca.
Ethan Sanchez masuki gerbang, seperti biasa Arumi mengekor di belakang tanpa ingin mengganggu. Rumor tersebar bahwa Ethan dan Arumi sedang pacaran buat Arumi Chavez berbunga-bunga. Tak ada yang berani mengganggunya, tidak saat ini. Mungkin nanti. Ethan Sanchez punya banyak fans aliran garis keras. Arumi tahu mereka diam-diam perhatikan dirinya. Masa bodoh, selama Marya dan Reinha bersamanya Arumi merasa di atas awan.
Arumi berpikir akan caritahu rumah Ethan Sanchez. Bagaimana kalau ia pura-pura jadi sales promotion girl yang tawarkan produk kecantikan pada Ibunda Ethan?
Itu ide bagus di kepalanya. Atau ia pura-pura jadi pengantar susu? Apa ya yang bagus?
Seperti apa rupa Ibunda Ethan Sanchez? Pasti sangat cantik. Puteranya setampan ini. Apa tanggapan Nyonya Sanchez saat melihatnya?
Aku kan juga sangat cantik, paslah jika disandingkan dengan Ethan Sanchez meskipun aku bodoh.
Sssttt ..., mari skip bagian terakhir itu! Kita sedang berusaha keras.
BUG!!!
Keasyikan melamun, Arumi tak sadari bahwa Ethan Sanchez tiba-tiba berhenti melangkah dan berbalik menungguinya. Tak bisa dihindari Arumi menabrak Ethan keras.
"Kamu tak bosan pikirkan aku, Arumi Chavez?"
Arumi yang kepergok serta merta melangkah lebih cepat hendak lewati Ethan Sanchez. Ia kedapatan bengong di jalanan sekolah lantaran pikirkan Ethan. Tangan Ethan lekas terjulur saat Arumi di dekatnya, pegangi tas Arumi kuat hingga tak bisa melangkah lebih jauh. Arumi cengar-cengir.
"Konflik selalu muncul, dan golongan kuat setiap saat selalu berusaha tingkatkan posisinya dan memelihara dominasinya." Arumi Chavez pura-pura menghapal sisa materi hingga Ethan berkerut. Anehnya, ia tiba-tiba lancar.
"Teori Marxisme?" tanya Ethan. "Kamu ada ujian?" Lepaskan Arumi dan mengacak rambut Arumi gemas hingga berantakan.
"Ya, tetapi lebih dari itu, kurasa Karl Max menulis teori ini untuk orang-orang sepertimu." Arumi mencibir.
"Wah, Arumi, kamu luar biasa. Kamu gunakan teori ekonomi untuk menyindirku? Otakmu mulai jalan. Apakah karena cinta padaku, kamu semakin pintar?" tanya Ethan tanpa lepaskan pegangan.
"Mungkin."
"Kamu belum putus dengan Moses?"
"Kami tak lagi berkencan. Pria itu sibuk tour keliling dunia untuk lagu terbaru. Lagipula aku kencani pria lain untuk dapatkan perhatianmu."
"Arumi, aku tak ingin pacaran. Lupakan aku dan serius-lah belajar! Begini saja, saat kamu peringkat satu untuk Ilmu Sosial, aku akan pacaran denganmu."
Bola mata Arumi membulat. "Benarkah?" tanya Arumi senang, "Aku akan berusaha!"
Ethan angkat bahu, berusaha percaya. Arumi mungkin akan dapat nilai 100 untuk ujian tetapi hanya segitu, Arumi tak akan sampai di peringkat 1 kecuali para jenius di tingkat 1 di shuffle dan kelas Arumi hanya berisikan gadis-gadis dengan volume otak sama seperti Arumi.
Mereka melangkah bersama masuki koridor sekolah. Arumi tak suka perpisahan sebab Ethan sangat sulit didekati belakangan. Seakan paham, Ethan antarkan Arumi sampai duduk di bangku kelas sementara teman-teman sekelasnya tak mampu sembunyikan iri. Abaikan kelas yang mulai ramai, Ethan amati Arumi.
"Aku akan berikanmu bunga saat skor ujianmu 100," kata Ethan membungkuk di depannya.
"Emm, kurasa aku ingin makan malam di rumahmu," jawab Arumi.
"Itu tak akan terjadi, Arumi! Kamu tak boleh datang ke rumahku! Nah, belajar saja dan semangat!"
Ethan pergi dari sana setelah mengacak-acak lagi rambutnya.
***
Arumi bergerak, ia terbangun. Matanya terbuka sedikit lalu ia tertidur lagi.
"Jadi, mengapa Ibu Anda tak menyukaiku?" tanya Archilles Lucca. Saat pria ini datang pertama kali, Arumi tak suka penampilannya. Oh My God, macam penjahat. Rambutnya panjang, janggutnya juga dan tatapan matanya sedikit liar. Oh entah apa yang dilihat Elgio Durante dan Aruhi dari pria ini. Keluh Arumi.
No No No. Mari kita ubah dia. Arumi Chavez menyeret Archilles ke tempat potong rambut terbaik dan meski pria ini menolak, rambutnya dipangkas satu sisi lewatkan bagian gondrong. Wajahnya dirapikan. Pria ini di-remake, di makeover. Dan lihat sekarang! Jika tidak ingat pada Ethan Sanchez, Arumi akan jatuh cinta pada Archilles Lucca.
Dia sangat sangat tampan.
"Kamu tak tahu?"
"Ya, meskipun aku tahu, aku tak bisa sembarang menduga."
Mereka di dapur setelah pernikahan Tuan Abner Luiz dan kekasihnya, Maribella. Kisah si pengawal yang kabur dengan anak majikan cukup banyak terjadi. Kisah Salsa Diomanta dan Benn Amarante jadi salah satu kisah yang paling sering diceritakan.
"Kamu membuat Ibuku teringat pada Ayah Benn, Ayah Aruhi - Kakakku. Ibuku seumuranku dan ia jatuh cinta pada pengawalnya."
"Lalu?!" tanya Archilles Lucca sangat-snagat dewasa.
Arumi terus makan. Archilles buatkan dua piring spaghetti. Archilles Lucca meremas gelasnya kuat, minum satu teguk kemudian meraih tisu dan sodorkan pada Arumi.
"Ayah Benn cukup berani membawa kabur Ibuku dan kamu tahu akhirnya, Kakekku memburu mereka. Ayah Benn kemudian meninggal dalam sebuah kecelakaan oleh ulah kakekku. Ibuku terpisah dengan anaknya."
"Lalu?! Apa hubungannya denganku?" Archilles meraih tisu dan bantu ia mengusap noda di sudut bibir. Arumi menghindar, takut disentuh Archilles. Tadi, Archilles tanpa sengaja menyentuhnya dan ia meremang. Arumi buru-buru merebut tisu dan bersihkan sendiri.
"Ibu takut peristiwa dirinya dan Ayah Benn terulang lagi. Ibu kuatir kita punya hubungan dan aku kabur denganmu," kata Arumi, makan suapan terakhir, kembali bersihkan bibir, minum air dan menoleh pada Archilles. "Hal-hal semacam itu!" tambahnya lagi.
Archilles mendorong piring telah kosong, kerutkan kening dan menatapnya tajam. Mata almond berwarna gradasi kehijauan, bening sangat indah. Arumi tanpa sadar telah menggigil.
"Apakah Anda akan kabur denganku jika aku mengajak Anda, Nona?" tanya Archilles.
Pertanyaan Archilles bikin Arumi tersedak liurnya sendiri. Lekas terbatuk-batuk keras. Archilles sorongkan segelas air, memukul pelan pundaknya. Meraih beberapa lembar tisu dan berikan padanya.
"Kabur denganmu? Kau minta lehermu aku gunting, Archilles?" tanya Arumi melotot pada pengawalnya.
"Oleh sebab itu, tak perlu cemaskan itu, Nona! Sampai beberapa bulan kemarin, aku hanyalah seorang penjahat. Aku tak punya harta dan kedudukan, aku hanya datang untuk bekerja, dapatkan uang untuk kehidupan yang lebih baik."
"Ya, aku percaya padamu," angguk Arumi. "Yakini saja Ibuku!"
"Hanya saja Nona ..., beritahu aku jika suatu waktu ... mungkin saja Anda menyukaiku," ujar Archilles.
"Aku tak akan lakukan itu! Jangan kuatir," guman Arumi terdengar tak yakin. "Aku mungkin akan menyukai Anda jadi pengawalku, tidak lebih Tuan!" Segera yakin.
"Aku percaya pada Anda."
"Sebaliknya, bagaimana jika kamu menyukaiku suatu waktu? No body knows, apa yang akan terjadi di masa depan, Archilles Lucca."
Archilles menghela napas panjang.
"Jika suatu waktu aku dapati diriku jatuh cinta pada Anda ... Aku akan menghilang diam-diam."
***
"Arumi Chavez , aku mencintaimu. Tak ada gadis lain yang buatku segila saat jatuh cinta padamu."
Dari awal cintanya pada Ethan Sanchez sangat kuat, menggebu-gebu dan membara. Ia tergila-gila pada Ethan Sanchez sehingga mirip gadis penguntit.
"Itu bukan cinta, Arumi!"
Hatinya bicara.
"Kamu hanya sukai ide menjadi pacar Ethan Sanchez pasti kamu merasa akan sangat keren."
"Aku mencintai Ethan. Hatiku sakit saat dia bersama gadis lain. Aku cemburu. Bagaimana bisa kamu katakan jatuh cinta pada Ethan untuk keren-kerenan. No sense-lah!"
"Alam bawa sadar-mu terus menginginkan Ethan Sanchez. Semesta setujui itu. Sekarang, perpisahan telah terjadi. Terjebak pada Ethan Sanchez akan membuatmu semakin terpuruk. Ethan Sanchez telah tentukan pilihannya. Ia telah kembali pada pendirian, hanya mengejar cita-cita. Sebaiknya kamu juga."
Arumi Chavez melayang-layang entah di mana. Ia seakan terlempar ke padang. Melompat ke atas punggung kuda. Kata-kata Nyonya Sanchez tidak kasar tetapi sikap ibu dari kekasihnya melukainya sangat dalam dan membunuh semangatnya.
Ia memacu Vena, lompati pagar pembatas dan melaju kencang.
"Archilles, apakah ..., bodoh itu aib? Aku hasilkan banyak uang dan mandiri secara finansial."
"Mengapa Anda berubah aneh?"
"Jika Nyonya Sanchez tak menyukaiku ..., biarkan saja. Aku tak bisa pergi ke dapur, mainkan gunting juga pisau dan mencacah bawang, memasak sesuatu untuk buat orang lain terkesan."
"Baiklah, tenangkan diri Anda! Mari kita hanya masak untuk makan siang kita." Archilles Lucca memeluknya dan menghiburnya.
Mereka akhirnya duduk menghadap pada keagungan samudera Atlantik. Makanan sepenuhnya tersaji satu jam lewat dari jam makan siang.
Tart Lemon masih dalam oven, wanginya terbang kemana-mana. Archilles menyendok nasi ke atas piring dan sajikan satu plates penuh makanan sea food.
"Tempuranya enak ya? Anda mengaduk dengan sangat baik."
"Nona, aku mengatakannya dengan tulus. Baiklah, aku akan mengunci bibirku. Bisakah jangan cemberut di depan hidangan? Kita akan makan dan menikmatinya dengan penuh syukur."
Arumi Chavez bisa rasakan napas Archilles di pundaknya saat pria itu membawanya kembali ke mansion menunggangi Aorta.
"Nona ..., aku jatuh cinta padamu!"
Arumi terdiam. Bukan sekali ini ia mendengar pria itu ungkapkan hal yang sama. Arumi telah banyak kali mendengarnya. Di malam hari, di waktu tidur di saat tatapan mata mereka bertemu. Saat mereka tertawa bahkan saat ia terluka. Ia selalu mendengar Archilles berkata Aku cinta padamu, sampai-sampai ia berpikir ia telah gila dan mengabaikan Archilles Lucca sepenuhnya.
"Aku mencintaimu! Aku mencintaimu!" Nah lagikan, hatinya mendengar kalimat indah itu.
"Katamu cinta tetapi kamu mudah kabur dan lari terbirit-birit, Archilles?!"
"Karena perasaan Anda tak jelas untuk siapa?" Archilles mengeluh.
"Baiklah, aku akan membuka mataku Archilles Lucca. Jika aku melihatmu pertama kali, aku akan yakinkan hati, pikiran, jiwa dan ragaku menempatkan-mu di tempat istimewa tanpa saingan."
"Bahkan Ethan Sanchez?"
"Ya, bahkan Ethan Sanchez sekalipun. Oh kami telah berakhir."
"Anda masih mencintainya!"
"Tak ada yang bisa kulakukan selain biarkan semua berlalu!"
Baru di kelas pertama Sekolah Menengah, Arumi Chavez punya kisah cinta rumit dengan senior dan bodyguard-nya.
Kesadaran Arumi kembali pulih sedikit demi sedikit. Bersiap untuk membuka mata. Pupilnya bergerak. Matanya sedikit susah terbuka seakan sesuatu mencengkeramnya untuk tidak bangun.
"Arumi ...."
"Nona Arumi ...."
Oh tidak! Aku mendengar suara Ethan Sanchez juga suara Archilles Lucca. Lebih baik aku terus tidur!
Atau begini saja, pria pertama yang kulihat pastilah pria yang aku cintai. Pria yang datang setelahnya adalah pria yang mencintaiku. Bagaimana?
Oh, Arumi Chavez betapa random-nya perilaku-mu!
Lupakan tentang pria ya Tuhan. Kamu masih anak kecil! Apakah buah di dadamu telah tumbuh sempurna?
Itu pertanyaan paling jorok yang pernah kudengar?
Belum-kan?
Ya ya ya.
Lupakan soal pria!
Baiklah! Akan aku coba.
Terlempar ke dalam ruangan hitam pekat, ada benda aneh berbulu. Arumi Chavez menjerit. Dadanya sesak.
"Archilles? Di mana aku?"
Siapa yang mengunciku di lemari besi? Fernanda Miller? Evelyn Jhoel? Jika mereka berdua benar adanya, aku bersumpah demi apapun aku akan buat perhitungan.
Arumi mendobrak pintu lemari, berlari keluar. Ia melihat Fernanda Miller.
"Aku tandai sepatumu, gadis nakal! Kemari kalian berdua!"
Arumi Chavez menendang Fernanda hingga terbang bebas dari koridor lantai satu. Fernanda tersangkut di pepohonan merah. Napasnya memburu. Evelyn memukulinya dengan sesuatu. Arumi jatuh, ia diseret ke dalam lemari besi dan terkunci kembali ke dalam kegelapan.
"Tolong aku! Toooolongggggggg aku!!!"
"Nona Arumi? Apakah Anda bisa mendengar suaraku?"
Seorang lain yang tak dikenalinya bertanya halus. Bahunya disentuh.
"Gerakan jari Anda jika Anda bisa mendengar-ku!"
Mata Arumi terbuka, ada banyak serangan cahaya menimpa tepat di bola matanya.
"Oh sayangku, Arumi?" Suara senang Salsa Diomanta.
Arumi berhasil membuka mata, ia tak mau kembali ke dalam lemari besi gelap itu lagi. Ibunya di sisi kanan dan ekor mata menyapu dua siluet pria di sisi kiri menatapnya sama-sama gelisah. Semakin jelas ia melihat, bayangan dua pria berubah menjadi tiga. Ethan Sanchez tak pernah sendirian, selalu ada boncengan.
"Oh, syukurlah Nona Arumi kamu akhirnya siuman. Kami sangat mencemaskanmu!" Sarah Jessica tersenyum lembut padanya. Tatapan sangat tulus beri Arumi ide bahwa gadis itu mencintai Ethan Sanchez. Arumi tahu, ia yakin sangat yakin.
Berbahagialah di suatu tempat! Enyahlah dari hadapanku! Please. Jangan sakiti hatiku!
"Arumi ..., jangan pikirkan apapun!" Suara penuh perhatian Ethan Sanchez. "Beristirahatlah. Semuanya akan baik-baik saja. Aku akan mengunjungimu nanti!" Pria itu mengusap keningnya. Kasih sayang universal yang akhirnya hanya itu saja tersisa di antara mereka. Pikir Arumi.
Tidak!
Masih ada rasa. Arumi yakin melihat hal lain jelas tercermin dari sentuhan Ethan Sanchez. Dapati bahwa Ethan Sanchez juga terluka. Mata pria itu tak bisa berbohong, terlebih saat tangannya dalam genggaman Archilles. Mereka miliki cincin pernikahan di jemari manis mereka.
Ethan Sanchez menyimpan cemburu, kecewa tetapi tak ingin lanjutkan lebih jauh. Pria ini penuh totalitas. Saat jatuh cinta padanya Ethan tidak tanggung-tanggung perlihatkan semua emosi. Namun, ketika putuskan segalanya berakhir, pria ini konsekuen pada ucapannya.
Lalu, mengapa Arumi harus terus pertahankan rasa dan menderita sendiri? Untuk pertama kali, Arumi gunakan logika. Mari berhenti. Kesampingkan hal lain, ia hanya akan pulihkan kesadaran.
Fokus pada momen, pada akhirnya ia ditinggal sendirian bersama Ibunya dan Archilles Lucca.
"Anda bisa beristirahat, Nyonya! Aku akan menjaga Nona Arumi."
Arumi Chavez mendengar suara berat pengawalnya penuh perhatian. Salsa Diomanta hampiri Arumi. "Baiklah Archilles. Aku akan tinggalkan kalian berdua."
Salsa Diomanta mengecup kening Arumi, membelai wajah sehalus beludru penuh kasih sayang.
"Aku akan segera kembali, Sayang. Kamu akan bersama Archilles sampai nanti."
Salsa Diomanta berlalu, menggeser pintu dan kemudian langkah kaki menghilang.
"Maafkan aku! Seandainya aku tak pergi tadi pagi!"
"Aku takut pada ruangan lab," keluh Arumi mengadu.
"Anda akan baik-baik saja. Mereka akan ditangkap dan dijebloskan ke penjara."
"Aku sangat menyesal untuk kami."
"Ya, Nona."
"Aku sangat mengantuk tetapi terlalu takut untuk tidur. Aku terus melihat lemari aneh itu. Ya Tuhan. Aku tak ingin kembali ke sekolah."
"Aku menjaga Anda. Jangan pikirkan apapun."
"Jangan pergi ya!"
"Ya," angguk Archilles.
Menjelang malam, Archilles hanya membungkuk di atas ranjang dan menjaga Nona Arumi. Gadis itu bermimpi buruk lagi dan lagi. Terus-terus mengerang bahkan menjerit. Siapapun yang disekap dalam lemari gelap dan sumpek akan terganggu psikologisnya.
Archilles hanya bisa mengecup dahi untuk menenangkan dan berdoa. Ia tak pernah berdoa dengan serius. Semenjak jatuh cinta pada Arumi Chavez, ia tiba-tiba menjadi religius. Keinginannya cuma dua, Arumi Chavez dan Zefanya Lucca bahagia. Hanya itu saja. Ia tak butuh uang tak butuh harta atau status. Ia hanya ingin dua orang yang paling ia cintai bahagia.
Nona Arumi membuka mata, tersenyum padanya.
"Kamu tidak pegal?"
"Tidak. Aku terbiasa begini."
Mereka tak saling bicara selanjutnya. Hanya berbagi tatapan. Ini mungkin deklarasi kencan teraneh sebab kening Arumi terus saja diusap. Alisnya disisir intens gunakan jempol dan pria itu hanya menatapnya dalam-dalam seakan ia bisa lakukan hal yang sama sepanjang satu abad penuh.
"Apa yang Anda rasakan?" tanya Archilles setelah jam-jam panjang Arumi kembali dari tidur. Lebih tenang dan rileks.
"Kamu menyayangiku!" sahut Arumi.
"Ya, syukurlah sampai pada Anda. Apakah perasaan Anda lebih baik, sekarang?" tanya Archilles lagi.
"Ya. Aku membaik."
"Hidup ini berharga, Nona. Semoga Anda selalu tercerahkan dan semoga semangat mendorongmu menggunakan hari-hari dengan bijak."
"Aku akan mengingat pesanmu."
Archilles mengangguk kecil. Tersenyum. Segalanya terasa sempurna. Semuanya terlihat baik-baik saja. Akan lebih baik lagi nanti. Keduanya seolah bisa melihat garis finish. Tetapi itu hanya fatamorgana. Selalu ada rintangan. Ujian cinta adalah ujian kejam kehidupan lainnya. Harapan segera pudar, abu-abu sebelum menguap. Kadang tak pernah mampu terwujud saat ini.
Salsa Diomanta kembali.
"Bukankah kamu cukup puas pandangi Puteriku, Archilles?" tanya Salsa Diomanta pelan. "Arumi sudah bangun kini. Gadis kita akan baik-baik saja. Aku akan sangat keras menjaganya mulai sekarang."
Archilles Lucca basahi bibir mengering. Mengelus alis Arumi. Mengingat rasanya di ujung kulit, menyimpan segala hal.
"Bukankah waktunya pergi?"
"Mom, please!" bujuk Arumi Chavez berkaca-kaca, menggeleng pada Archilles.
"Baiklah, Nyonya! Terima kasih telah berikan aku kesempatan."
"Tentu," angguk Salsa penuh pengertian. "Berkemaslah dan tinggalkan kami!"
Arumi Chavez pejamkan mata. Dua sudut pecahkan butir bening refleks mengalir turun. Leher tak bisa digerakkan karena ia memakai gips atau sesuatu.
"Nona ..., Anda akan segera sembuh. Semuanya akan baik-baik saja." Ia mendengar suara Archilles berkata lirih.
Arumi ulurkan tangan sangat cepat menarik sisi celana Archilles Lucca, menahan gunakan sisa tenaga yang mudah terkuras.
"Jangan pergi sekarang! Please! Katamu besok?"
Jawabannya hanya tangan Arumi digenggam erat, diciumi. Archilles tersenyum. Sekali ini terakhir yang akan Arumi lihat. Mungkin untuk waktu cukup lama. Arumi tak tahu.
"Jaga dirimu, Nona Arumi!"
Pria itu menjauh, melangkah pergi. Pintu tertutup di belakangnya. Mata-mata Arumi Chavez ikuti Archilles. Ia menangis terisak-isak saat Archilles Lucca menghilang.
Kamu akan mengerti akhirnya, seseorang akan sangat berharga ketika ia tak lagi ada di sisimu. Kamu akan mengerti perasaanmu mungkin telah keliru, bahwa yang kamu cintai adalah yang paling kamu inginkan untuk tinggal di sisimu. Bukan hanya sebagai seorang pria tetapi sebagai seorang kekasih.
***
Note :
Pingsan \= flashback, sepertinya ini jadi gayaku ya padahal berusaha menghindar. Kadang takut, gak nyampe gitu ke pembaca karena aku suka bingung setelahnya, oh apa hal? Suka gak paham sama jalan pikiran sendiri.
Apakah kita perlu tahu akhirnya? Atau sampai di sini saja? Absen di bawah. Sebelumnya tinggalkan pendapatmu tentang chapter ini.