
"Arumi ..., jawab panggilan Aruhi."
Aunty Sunny membelai rambutnya, mengecup punggung tangan sebelum berikan ponsel. Di layar, kakak perempuannya yang penyayang terlihat berantakan.
"Arumi? Apa kamu baik-baik saja?" tanya Marya Corazon berusaha tampak tegar.
Arumi tahu kakaknya lebih sensitif dibanding dirinya, tak bisa sembunyikan panik dengan baik. Hidung Aruhi memerah di puncak pertanda kakaknya telah lama menangis.
"Ya, Kak," angguk Arumi berusaha ceria tetapi ia malah terlihat tertekan di layar ponsel. Merengus. "Maafkan aku karena dulu aku jahat padamu. Aku menerima upahnya sekarang."
Arumi pernah dibawah pengaruh Valerie Aldez menggiring kakak perempuan yang dulunya ia benci masuk ke dalam perangkap Valerie. Aruhi kemudian dijaga oleh Archilles dan seorang pria jahat lainnya bernama Jack. Aruhi hampir diperdayai Jack dan Archilles menyelamatkannya. Walaupun kemudian Archilles menangkap kakaknya lagi.
"Tidak! Tidak, Sayang. Aku melupakan semua itu. Dan aku hanya menyayangimu. Aku akan ke sana besok. Elgio akan mengantarkan aku."
"Honey ...." Elgio Durante dari sebelah tampak keberatan.
"No, Elgio! Mari kita pergi melihatnya. Dia ..., adikku satu-satunya. Ya Tuhan, apa yang dilakukan orang-orang jahat itu padanya. Bukankah kamu punya banyak uang, Elgio Durante? Tak bisakah kamu melemparkan mereka ke penjara?
Ini tindakan pidana, kriminalitas, penculikan anak."
"Marya ..., kita sedang berusaha. Lagipula, Arumi telah ditemukan dan baik-baik saja."
"Semuanya berjalan lambat, aku tak suka ini. Ayo kita pergi melihatnya," bujuk Marya lagi.
"Kak, udara lagi tak bagus untukmu." Arumi juga tahu, Aruhi takut ketinggian. Naik pesawat dan lakukan perjalanan panjang bisa mengganggu kehamilannya.
"Tidak, aku lebih gelisah tak melihatmu, Arumi. Kami akan datangi-mu. Apa kamu ingin sesuatu? Beritahu aku!"
Aruhi sepertinya berkemauan keras.
"Kakak, aku akan pulang. Please, tunggu aku di rumah ya." Meskipun situasinya rumit ia tak berani membuat Aruhi bertambah cemas.
"Begitukah?"
"Ya. Tetapi, bisakah aku minta tolong padamu, Kak."
"Ya, katakan saja."
Arumi melihat keluar pada Aunty Sunny dan Ibunya yang sedang bicara dengan dokter. Ibu melihat padanya. Tersenyum sedikit sebelum kembali fokus pada dokter.
"Kakak ..., bisakah rahasiakan ini dari siapapun."
Setelahnya, Arumi coba pejamkan mata. Sangat apes sebab ia benar-benar melihat tubuhnya diekspos dan akan dijadikan bahan eksperimen oleh orang-orang sesat bahkan disiarkan langsung.
Tengah malam, Arumi tak kuat lagi. Ibunya tertidur di sisinya, Arumi turuni ranjang. Aunty Sunny di sofa, mata terpejam rapat.
Angin dan hujan di luar. Mendorong tiang infus, memeriksa ruang demi ruang. Tiba di ruang tiga, lampu menyala. Pria itu berbaring di sana, di atas ranjang bertumpu pada sisi kiri tubuh.
Arumi mendorong pintu kembali menutup pelan. Berdiri tak jauh awasi Archilles. Pria itu membuka mata, menatap padanya. Ia kemudian naik ke ranjang rumah sakit yang sempit, mengatur lengan kiri Archilles untuk dijadikan bantal.
Namun, ia begitu terkejut. Tidak hanya cincin yang hilang tetapi jari Archilles juga. Tak bisa berkata-kata. Meski tertutup kasa, sedikit darah di sana sisakan kengerian seolah bercerita padanya tentang sebuah kisah tragis.
Beberapa menit berselang berbaring di atas lengan Archilles, tetapi ia tak bisa bendung semua emosi yang berkecamuk. Archilles mungkin telah alami hari buruk setelah mereka berpisah.
Video call mereka di mana Arumi curiga sesuatu terjadi pada pria itu, pastilah hari itu. Sebab mata Archilles tampak sendu dan suram di layar meski tertawa lebar padanya.
Air mata mekar. Berguguran tak terkontrol.
"Nona ..., Anda harus kembali. Ibu Anda akan panik saat tak temukan Anda di ruangan Anda."
"Mau beritahu aku, apa yang terjadi dengan tanganmu, Archilles?" Arumi merasa sangat kesakitan.
"Bukan apa-apa, Nona!" sahut Archilles. "Kaca jendela di kelasku pecah. Aku perbaiki-nya tetapi tanganku tanpa sengaja terkena pisau pemotong kaca."
"Siapa yang melakukannya padamu?"
Arumi tak percaya pada pisau potong kaca. Untuk pria sehebat Archilles? Kecuali Archilles diikat dan jarinya dipotong paksa.
"Nona ...."
"Apa ..., ibuku?"
"Nona ..., apa yang sedang Anda bicarakan?"
"Apakah kamu menganggap aku juga bodoh kini?"
Archilles Lucca hembuskan napas keras. Pria itu membelai rambutnya perlahan. Arumi semakin pilu saja.
"Apa yang kamu sembunyikan, Archilles?"
"Nona ..., berhenti berpikir macam-macam!"
Archilles menghirup aroma lembut shampo dari rambut gadis dalam lengannya. Tak banyak membuat gerakan. Sangat hati-hati meski hanya untuk menghela napas. Ia dirundung cemas pada tubuh mereka yang tanpa celah dalam posisi berbaring begini. Nyonya Salsa mungkin akan mulai menyerangnya lagi dan ia tak ingin keributan saat ini. Inginkan ketenangan bagi batin Nona Arumi. Namun, Nona Arumi sepertinya tak peduli pada apapun, cuma ingin jawaban, mengapa jarinya putus.
"Apakah karena aku anak-anak, kamu bohongi aku?"
Tangan Arumi Chavez menyusuri tangan Archilles sampai di jari-jari. was-was menyentuh sedikit. "Apa sakit?" tanya Arumi menjadi jauh lebih terluka. Berkubang lebih dalam di lengannya.
"Tidak!" sahut Archilles berusaha yakinkan Arumi. Walaupun sangat nyeri, ia berusaha keras baik-baik saja.
"Kamu terus menipuku, Archilles." Arumi menekuk kaki di ranjang akhirnya tersedu-sedu untuk waktu yang lama.
"Nona, tolong jangan menangis."
"Apakah kamu akan menyerah padaku? Tentang kita?"
Suara Arumi lantas hilang separuh tersisa semacam ringkikan akibat dicekik.
"Tidak, Nona! Mengapa aku harus menyerah? Aku mencintaimu. Kecuali, Anda berhenti menginginkanku. Aku akan pasrah dan pergi!"
"Apakah kamu percaya jika aku katakan bahwa aku jatuh cinta padamu?"
"Senang mendengarnya, Nona."
"Aku tak percaya Ibuku sangat kejam padamu!" keluh Arumi terdengar sakit hati, kecewa dan marah.
"Nona ..., sudah kubilang ..., ini tak ada kaitannya dengan Nyonya Salsa."
"Kamu bohong!" Berseru menuduh.
"Tidak, Nona. Dengarkan aku!"
Archilles memaksa gadis itu berbalik padanya. Mengusap semua lelehan air mata. Benjolan di dahi Nona Arumi tidak mengecil, malah kini semakin membatu dan mengencang. Gadis itu tak meringis saat Archilles memeriksa lebam di sekitar, naikan poni yang mulai memanjang.
"Matamu berbohong."
"Baiklah. Anda benar aku berbohong soal pisau pemotong kaca. Sebenarnya aku terkena hukuman sebab membawa senjata api ke sekolah dan gunakan saat sedang mengajar. Kemudian aku dikirim ke penjara. Di sana aku bertemu beberapa orang jahat. Mereka memotong jariku setelah pertarungan panjang." Archilles bicara sungguh-sungguh, nyatanya memang tak ada urusan Nyonya Salsa dengan tiga iblis di penjara.
"Apa sehari setelah kita berpisah?"
"Ya."
"Itulah mengapa dinding tembok biara sangat kusam? Karena kamu bukan di biara tetapi di penjara?"
Archilles Lucca menarik Arumi ke dadanya. Tak peduli punggungnya tidak nyaman. Atasan bagian depan segera basah oleh air mata.
"Nona, kita di sini sekarang. Berhasil lewati segala kesulitan. Mengapa Anda melihat ke belakang dan mengingatnya?"
"Apa yang harus aku lakukan untukmu?" tanya Arumi.
Wajah sedih benar-benar mengganggu Archilles. Gadis itu seakan lupakan segala kejadian buruk yang barusan ia alami dalam sekejab dan hanya menderita karena jari pacarnya hilang satu. Kendati begitu, Archilles Lucca sadar kini bahwa ia sangat berharga bagi Arumi Chavez.
"Jangan pikirkan apapun. Tolong pejamkan mata Anda dan beristirahatlah. Hari besok menunggumu, Nona."
"Segala hal berlangsung buruk, aku bisa merasakannya," kata Arumi lagi.
"Tidak lagi! Kita akan bersama di musim-musim liburan sekolah. Lalu, kita akan berpisah mengejar mimpi. Bertemu sesekali dan kemudian akan menikah di waktu tepat."
Archilles mendekap gadisnya erat-erat. Rambut Nona Arumi jauh lebih pendek, tak begitu rapi. Di-cutting asal-asalan. Archilles menjadi sangat marah. Berjanji akan mencari semua pihak yang terlibat dalam penculikan Arumi Chavez dan habisi mereka satu per satu.
"Apa yang ingin Anda makan besok, Nona? Aku akan masakan untukmu," bujuk Archilles lagi.
Arumi menggeleng, lagi-lagi menangis dan berubah sangat cengeng.
"Begini saja, aku punya kejutan untukmu, besok. Tetapi, Anda harus kembali ke ruang tidur Anda dan beristirahat."
"Jangan usir aku, Archilles. Biarkan aku bersamamu. Kamu akan menjagaku."
"Baiklah, Nona. Nah, berhenti menangis atau aku akan menggendong Anda kembali ke kamar Anda."
Hanya isakan pelan sebagai sahutan.
"Bisakah kita tidur sekarang? Aku sangat mengantuk, Nona."
Archilles menepuk punggung gadisnya pelan. Pikirannya terbang kemana-mana. Ia akan menjual semua emas dan membeli lahan. Ia akan membangun rumah yang nyaman untuk mereka.
Lima belas menit kemudian, Arumi Chavez tertidur walaupun tidak lelap. Masih terdengar satu per satu sesenggukan. Archilles Lucca pelan-pelan menarik tangannya dari tengkuk Arumi. Mengatur bantal di sisi kanan dan kiri gadis itu, selimuti rapat-rapat.
Pergi ke lemari pendingin. Ia keluarkan batu-batu es. Dalam bungkusan handuk kecil, ia mulai mengompres kening gadisnya yang bengkak.
Arumi Chavez mengerut dan menggigil dalam tidur. Ini mungkin adegan buruk. Archilles cuma bisa membelai tengah kening Arumi untuk menghibur dan menenangkannya.
Syukurlah bengkak reda. Archilles tak berhenti mengompres. Sesekali mengelus lembut sudut mata dan sisi wajah Arumi, sedikit memijat kening terlebih ketika gadis itu meracau.
Dagu terangkat ketika merasa ia diperhatikan. Nyonya Salsa dibalik kaca menatap lurus ke dalam. Ekspresi wanita itu selalu rumit.
Pintu didorong. Nyonya Salsa masuk.
"Anda di sini, Nyonya," sapa Archilles terus menahan wash lap di dahi Arumi.
Untuk beberapa waktu kemudian tak ada yang bicara. Salsabila hanya terpaku pada tubuh Arumi yang tak bergerak.
"Ya, Nyonya. Nona jatuh dari atas meja persembahan lalu menabrak kaki penyangga lilin."
"Kamu bisa beristirahat, Archilles. Aku akan di sini menjaga Puteriku."
"Tidak, Nyonya. Biarkan Nona bersamaku."
"Baiklah," angguk Salsa cepat setuju. "Aku di ruangan sebelah kalau-kalau kamu butuh bantuan.
Nyonya Salsa adalah wanita yang sulit di mengerti. Ia bisa merangkulmu detik ini dan menendangmu detik berikutnya. Demi cintanya pada Arumi Chavez, Archilles Lucca hanya akan mencoba yang terbaik.
"Nyonya ..., ijinkan aku membawa Nona pergi besok."
Salsa Diomanta menatap tajam Archilles Lucca. Pada keinginan terang-terangan Archilles. Menyerang langsung dengan kata-kata pedas.
"Hanya karena kamu menyelamatkannya bukan berarti kamu berhak atasnya, Archilles. Arumi akan memulai terapi. Aku telah hubungi beberapa ahli untuk membantu Arumi pulih. Aku harapkan pengertianmu."
"Baiklah, Nyonya." Archilles Lucca menghindari perdebatan takut Arumi Chavez terbangun dan gadisnya sangat peka, kini.
"Kemana kamu berencana membawanya pergi?"
Tak disangka, Salsa Diomanta melihat kembali permintaan Archilles. Puterinya diam-diam datangi Archilles bahkan bersama dirinya dan Sunny, Puteri mereka tetap gelisah.
Benn sering begini, mengompres keningnya saat ia demam dan menungguinya. Bedanya, ia sering cidera karena mabuk alkohol. Menepis dengan cepat.
"Nona tak bisa terus mengandalkan cairan infus. Kami hanya akan pergi untuk memperbaiki selera makan, Nona. Lagipula, Nona Arumi tak suka infus. Aku yakin, Nona akan mencopot sendiri benda ini dari tangannya."
Salsa berpikir sejenak.
"Berapa lama?"
"Selama Nona libur."
"Tidak! Itu terlalu lama, Archilles!"
"Baiklah, setelah Nona membaik. Aku akan membawanya pulang ke mansion."
"Akan aku pertimbangkan," kata Salsa beberapa menit kemudian. "Selamat malam Archilles. Semoga cepat sembuh."
"Selamat malam, Nyonya."
Wanita itu pergi dari sana. Melangkah tanpa menoleh ke belakang. Menutup pintu pelan.
Archilles termenung pada raut muda belia di depannya. Mengelus kening Arumi tanpa henti. Malam akan berakhir. Mata tetap terjaga, menggenggam tangan Arumi saat gadis itu mengerang ketakutan. Lalu sebelum Arumi semakin tersiksa entah di mana, Archilles pergi untuk mendekapnya.
Begitulah, mereka berakhir hingga menjelang pagi. Archilles menaruh harapan besar, Nyonya Salsa ijinkan dirinya membawa Nona Arumi.
Archilles bangun lebih awal meminta perawat mengganti perban lukanya agar ia bisa mengurus Nona Arumi.
Menulis menu sarapan yang mungkin mengubah selera Nona Arumi. Pertama-tama minta jus dari buah yang warnanya tidak mencolok. Hindari Nona Arumi mengingat warna darah. Juga memesan pancakes.
Sayang sekali. Nona Arumi masih menolak makanan. Mulai muntah melihat jus. Dan Arumi memaksa perawat lepaskan infus.
Sedang Sunny setelah bangun dapati kakaknya hanya tercenung di ujung sofa. Sunny tidak terkejut Arumi tak ada di ranjangnya.
Kakak-beradik kemudian pergi ke ruangan sebelah hanya untuk saksikan, bagaimana Arumi Chavez berputar sedang Archilles duduk di atas ranjang menggenggam rambut gadis mereka dan membuat cepol di puncak kepala. Mengikatnya dengan sesuatu. Sangat mahir seakan pria itu telah menghapal detil kepala Arumi dan terbiasa mengikat rambut gadis itu.
"Terakhir aku melakukannya saat Arumi berusia delapan tahun," keluh Sunny oleh pemandangan di depan. "Kita akan kehilangan Puteri kecil kita yang ceria sebab seorang pria akan menggantikan kita. Manis dan cukup berani. Oh, mengapa aku terharu?"
"Kamu terlalu sentimentil, Sunny."
"Elgio Durante sangat hebat sewaktu gunakan hair dryer pada rambut Aruhi. Pria satunya cukup luar biasa mengikat rambut seorang gadis dengan satu tangan. Terlebih ...." Sunny menyipit. "Apa jarinya hilang satu?" tanya Sunny keheranan. "Karena kemarin?"
Salsa Diomanta akhirnya tertuju ke sana. Sejak bertemu semalam, pria itu terus kantongi tangan kirinya. Dan alasannya ketahuan pagi ini.
"Apa jadinya jika Anda coba pisahkan mereka sekarang, Kak."
"Mereka terlalu cepat bersama."
"Aku pikir keduanya berhasil buktikan bahwa mereka teliti dan seksama dalam membina hubungan. Tak ada yang gegabah. Aku bangga Arumi matang dalam berpikir."
Arumi Chavez menyadari kehadiran ibunya, pegangi tangan Archilles erat seakan mereka akan meminta restu menikah.
"Aku pikir, Arumi telah membuat keputusannya sendiri dan tak ingin aku campur tangan. Archilles minta ijin membawa Arumi pergi berlibur."
"Archilles bisa dipercaya, Kak."
"Aku hanya seorang Ibu yang cemas pada masa depan Puteriku."
"Mereka akan baik-baik saja. Sejauh ini Prediksiku tentang keduanya tak pernah meleset."
"Mari kita lihat nanti."
"Kakak perlu serahkan Archilles mengurus Arumi. Kamu harus meninjau berkas cerai James Chavez untukmu."
Salsa Diomanta terdiam. Mengambil napas. "Aku pikir Tuan Chavez lupa bahwa ia miliki istri dan seorang Puteri."
Salsa menjalin affair dengan Tuan Chavez, bos di perusahaan tempat ia bekerja hingga ia hamil dan melahirkan Arumi. Ia meninggalkan Arumi pada Tuan Chavez karena statusnya. Tuan Chavez kemudian merawat Arumi sampai berusia empat tahun. Setelah tahu pernikahannya dengan Tuan Conrad gagal, Tuan Chavez yang telah pisah dengan istrinya datangi mansion dan melamarnya. Mereka menikah sebelum James Chavez meninggalkannya dan Arumi satu tahun kemudian.
Salsa Diomanta tak berniat mencari. Harga dirinya mencegah ia lakukan itu. Kini, pria itu kembali. Jadi, pria itu menunggu 10 tahun sesuai aturan gereja untuk menceraikannya. Mereka akan bertemu kembali untuk sidang perceraian. Apakah pria itu sama sekali tak mengingat puterinya?
"Mari kita ke dalam, Kak."
Teguran Sunny cukup mengagetkan Salsa.
"Apakah tidurmu nyenyak, Sayang?" tanya Sunny ceria.
"Ya, Aunty," sahut Arumi muram. Mendongak pada Archilles. Mata gadis itu hanya diisi kesedihan.
"Apakah kalian merasa baikan?" tanya Salsa tampak menaruh banyak perhatian, tetapi menekan setiap emosi yang muncul hingga tidak berlebihan.
"Ya, Nyonya."
Salsa menoleh pada Arumi yang hanya menatapnya kelabu. Tak heran infus gadis itu lenyap. Archilles meramal kelakuan puterinya dengan benar.
"Apa ..., kalian berdua cukup kuat untuk naik mobil? Kita akan bergabung bersama yang lain di villa Tuan Eurico untuk sarapan bersama."
"Tidak jauh dari sini." Sunny menambahkan.
Dalam tiga puluh menit mereka berada di sebuah bangunan yang view-nya perlihatkan garis pantai pasir putih dibatasi jejeran pohon kelapa melambai tertiup angin kencang. Langit mendung dibatas laut. Abu-abu kehitaman.
"Pulau ini adalah pusat badai. Anehnya di bulan-bulan begini malah intensitas badai cuma sedikit."
Tuan Carlos Adelberth sedang mengobrol saat mereka masuk.
"Keajaiban," sahut uncle Hellton.
Meja makan besar, di lingkaran penuh kehangatan. Bangku-bangkunya dihuni oleh Carlos Adelberth, sebelahnya kosong mungkin akan terisi seseorang. Uncle Hellton, Tuan Raymundo Alvaro dan Lucky Luciano. Biasanya Uncle Hellton hanya selalu bersama Tuan Axel Anthony atau Tuan Raymundo Alvaro secara bergantian. Jarang ketiganya terlihat bersama. Sedang Francis Blanco butuh waktu lama untuk bisa berjalan normal lagi setelah koma hampir sebulan. Walaupun ini telah lewat berbulan-bulan.
"Apakah tidurmu nyenyak, adikku sayang?" sambut Lucky Luciano bertanya penuh kepedulian. "Gadis ini ..., selalu terlibat masalah ekstrim. Hari kelahiranmu pasti ditandai dengan hujan petir dan topan," ledek Lucky lagi mungkin ingin lihat Arumi Chavez merengut padanya. Tetapi, gadis itu hanya balas menatap tak semangat hingga Lucky Luciano mengangkat alisnya tinggi.
"Arumi ..., apakah tidurmu nyenyak?" Uncle Hellton dibalik kaca mata serius ingin dapatkan jawaban. Tampak khawatir.
"Arumi? Uncle-mu bertanya?" tegur Salsa saat Arumi hanya melamun pada peralatan makan di hadapannya.
Arumi Chavez membalas ibunya, menatap sedih.
"Aku terus bermimpi buruk, Uncle. Aku mendengar jeritan Leona, suara tembakan, benda-benda jatuh. Aku terus saja mendengar mantra aneh, mencium aroma lilin juga darah. Aku melihat pria menjijikan di atasku. Tubuhku geli mengingat tangan-tangan wanita yang menjarah kulitku. Aku terus mual dan ingin muntah. Tengah malam aku mencari Archilles Lucca. Ternyata, mimpiku semakin buruk saja. Sepanjang aku terpejam, aku hanya bertanya-tanya, siapa yang dengan sangat kejam telah memotong jari pacarku? Apa yang aku alami selama tiga hari tak ada apanya setelah aku melihat tangannya yang tidak lengkap."
Menangis.
"Nona ..., aku pikir cukup jelas aku katakan alasan jariku hilang."
Archilles Lucca tak menyangka Nona Arumi masih menyimpan perkara itu dan akan mengungkit lagi dengan nada yang terdengar terbakar murka.
Reinha Durante dan Claire Luciano bergabung duduk di bangku kosong hanya untuk mengerut. Reinha menaruh sesuatu di atas meja. Arumi yakini adalah miliknya dari Aruhi.
"Arumi, apakah ada masalah?" tegur Salsa sama tajamnya menatap puterinya. "Apakah kamu sedang menuduhku terlibat pada sesuatu yang bahkan aku tak tahu apa?"
"Andai aku tak mengenalmu, Mom. Archilles mengatakan ia pergi ke penjara karena gunakan pistol selagi dia mengajar. Tetapi, aku ingat Ibuku menelponku penuh semangat sehari setelah aku tinggalkan Archilles. Belakangan aku merasa, sumber kebahagiaan Ibuku adalah kesedihan Archilles atau aku. Apa yang Anda lakukan padanya, Ibu? Aku yang mencarinya ke sana!"
"Nona ...." Archilles benar-benar kehilangan kata berikutnya. Bangkit berdiri. Pegangi tangan gadis yang emosional. "Mari kita hirup udara segar di luar."
"Biarkan dia, Archilles!" tegur Salsa menjaga kesabaran. "Arumi ..., apa yang kamu ingin Ibumu lakukan untukmu agar kesalah pahaman ini segera berakhir?"
"Aku akan menikahi Archilles Lucca hari ini. Ibuku hanya akan merestui kami."
"Arumi?" keluh Nyonya Salsa keras.
"Nona ..., apa yang sedang Anda lakukan?" Archilles Lucca menatap gadis yang serius dari ucapan, ekspresi serta gestur tubuhnya.
"Aku akan miliki surat perjanjian pranikah semacam punya Reinha Durante. Archilles akan tinggal terpisah dariku sampai usiaku dua puluh tiga tahun. Lalu, Ibuku akan membawanya kembali ke Mansion Diomanta dan menyerahkan tampuk perusahaan padaku. Atau pada kakakku, aku tak begitu peduli. Kami akan miliki penghasilan sendiri. Aku yakin Archilles akan bekerja keras dan dapatkan posisi bagus di manapun dia mengabdi. Archilles jauh lebih cerdas dariku dan pekerja keras."
Semua orang terdiam mendengar permintaan gadis itu. Tak ada basa-basi. Bertingkah seperti wanita dewasa. Menarik untuk disimak.
"Arumi ..., mari sembuh ..., kita akan bicarakan ini. Untuk saat sekarang, aku hanya akan ijinkan kalian bersama selama liburan sekolahmu."
"Tidak, Mom. Aku memikirkannya."
"Kamu terlalu terburu-buru, Sayang."
"Mom ...." Arumi menatap Ibunya. "Apakah Ibu miliki seorang pria lebih baik dari Archilles Lucca? Yang hanya mementingkan diriku di atas segalanya bahkan kehidupannya sendiri?"
Salsa Diomanta terdiam. Tangan meremas serbet di pangkuannya kuat. Arumi tak sediakan pilihan baginya. Salsa hanya harus menyerah.
"Kami tak akan pernah berlari darimu, Mom. Karena aku menyayangimu. Kami akan tinggal di mansion Diomanta, menua bersama untuk merawat Ibuku."
***