My Guardian Angel (The Dust of Love)

My Guardian Angel (The Dust of Love)
Chapter 84. Rainbow of Hearts



"Apa yang ibuku inginkan selain itu?"


Minus enam derajat. Matahari mungkin telah tenggelam. Tak ada yang tahu. Rapatkan syal di leher Arumi Chavez. Ia juga mengatur topi dingin. Tersenyum lembut. Hati Archilles telah menghangat. Bisa-bisa cairkan padatan beku di luar sana. Mereka sering bersama. Mengapa terasa berbeda?


Mungkin karena gadis belia ini akan segera berganti status menjadi istrinya walaupun masih tiga bulan lagi.


Bus berkaca luas melaju di bawah cahaya redup. Pemandangan terbentang indah di sisi kanan dan kiri. Jalanan dipenuhi salju begitupula pepohonan Pinus serta atap-atap rumah warga desa di lereng pegunungan. Hampir seluruh panorama sebagian besar berwarna putih bersih.


Nona Arumi berusaha menerima pernikahan mereka akan berlangsung di bulan Maret. Tak bisa abaikan betapa gadisnya malah cenderung lebih gelisah. Namun, mereka akan tetap tabah dan bertahan.


"Tidak ada."


"Aku tak percaya." Nona Arumi sandarkan kepala di bahunya.


"Cinta kita membuat Nyonya Salsa luluh," sahut Archilles yakin berharap jangkiti Arumi. "Anda harus cepat pulih. Dengan demikian Nyonya Salsa berhenti ragukan aku. Semoga cintaku menyembuhkanmu, Nona."


Tubuh mereka terhalang jaket besar dan mereka tidak melekat tanpa celah macam dua orang di barisan depan tetapi Archilles meleleh dapati Nona Arumi sedikit mengulas senyuman padahal terlalu tipis disebut senyuman. Mata gadisnya lebih bercahaya meski cepat suram.


Pipi Arumi Chavez semakin tirus. Archilles terganggu. Nona Arumi hanya makan karena takut mati kelaparan.


Hampir tiap malam bahkan di tidur siang Arumi Chavez diganggu mimpi buruk terlebih di malam hari hingga Nona Arumi tak mau pejamkan mata. Mereka kemudian berakhir di teras vila berselimut tebal karena deras angin pantai hingga menjelang pagi. Ini tentang psikis dan Archilles cukup berani menentang Nyonya Salsa tentang kesembuhan tanpa obat-obatan penenang. Hanya takut Nona Arumi ketergantungan.


"Kita hampir sampai."


Claire Luciano dan Tuan Adelberth membahas banyak masalah di muka bumi. Mulai dari kasus-kasus receh hingga masalah rumit pelenyapan beberapa ilmuwan jenius. Keduanya bertukar pendapat, ciptakan keseruan sendiri di bagian belakang.


Sedang ..., Reinha Durante dan Lucky Luciano dimabuk cinta dosis tinggi. Keduanya selalu begitu. Habiskan setengah perjalananan dengan berciuman. Kini jaket terluar telah berada di kaki sofa pertanda mulai terbakar. Padahal udara sangat-sangat dingin. Mustahil tanpa jaket.


Ketika Reinha pindah ke pangkuan Lucky Luciano, Archilles menggeser Arumi hingga ke sudut jendela. Gunakan tangan kanan menutupi mata Arumi. Wajah Archilles memerah macam ufuk timur. Mesem-mesem. Hentakan kepala pelan satu dua tiga kali ke sandaran bangku melihat ke luar jendela.


Claire dan Tuan Adelberth di belakang asyik membedah beberapa video hingga tak peduli pada urusan di depan. Satu-satunya musik kini adalah kata-kata rengekan yang terdengar mirip seorang rapper pemula yang melatih ucapan, "I love you, Beibe. My darling, Enya. Aku akan mati tanpamu,"..., sejenisnya ..., keluar dari mulut Lucky Luciano. Diikuti desisan yang lebih detil dari itu.


"Penelope dan Tuan Miguel lebih sadis dari Lucky Luciano, Archilles. Mereka nyaris bercinta di van saat kami pindah lokasi. Sangka mereka aku tertidur."


"Pasti sangat mengusik."


Archilles cuma meringis. Arumi Chavez tanggapi masalah dewasa seperti mengibas sebutir debu dari tangannya. Malah reaksi Nona Arumi cenderung datar.


Gadis itu singkirkan tangan Archilles dan menangkup tangan besar Achilles dengan kedua tangannya yang terbungkus sarung tangan hijau lumut. Mengecup tangan yang tidak kelihatan.


"Kamu tak pernah melihat pasangan sedang kasmaran?" tanya Arumi heran.


"Bukan begitu."


"Aku tak akan bertanya lagi," keluh Arumi Chavez miringkan tubuh di atas pangkuan Archilles dan menatap ke depan. Pada sepasang sejoli yang semakin menggebu-gebu dan mungkin saja akan ciptakan adegan panas tanpa sensor jika tak ada yang bersuara.


"Tuan dan Nyonya Luciano ...," tegur Arumi Chavez hingga dua orang di depan sana berhenti sejenak.


"Nona, biarkan saja," ujar Archilles spontan memeluk tubuh Arumi.


"Um?" Lucky kesulitan melongok dari bawah lengan Reinha Durante yang menindihnya dapati Arumi sedang cemberut padanya.


"Ya Tuhan," geleng Arumi atas bawah. "Bisakah menahan dirimu sampai tiba di pondok? Tak ada yang akan melarikan istrimu!"


"Oh, kamu bicara padaku?" tanya Lucky bertampang tak berdosa. "Aku pikir kamu lebih pendiam sekarang, melatih attitude menjadi seorang istri."


Arumi mendadak ingin punya jet pelontar yang bisa membawanya dan Archilles berpindah tempat.


"Ada penginapan di depan, turunlah!" sembur Arumi lagi.


"Sorry, Kids." Lucky melambai. "Aku kelupaan kalau sedang satu mobil dengan gadis di bawah usia. Kami hanya sedang mengaktifkan pemanas portabel."


"Maafkan kami, Arumi!" Reinha Durante menghilang ke samping suaminya.


"Apakah kamu terganggu?"


"Ya. Pacarku sedikit canggung," sahut Arumi menengok pada Archilles yang tak tahan geli.


Lucky menoleh sekali lagi.


"Archilles Lucca? Canggung?" ulang Lucky seolah dia salah dengar. "Oh, yang benar saja?"


Arumi Chavez menatap Lucky Luciano mencela tindakan pria itu.


"Holla, Archilles Lucca?" panggil Lucky Luciano.


"Ya?"


"Tutup matamu dan mata gadismu!" pinta Lucky Luciano. "Bereskan?"


"Apakah kalian tak punya tujuan lain? Kamu sungguh ingin menguntit kencanku?" Nada Arumi agak menukik.


"Tanyakan pada pacarmu, Arumi. Kami hanya penuhi undangannya," sahut Lucky Luciano santai. "Lagipula, kamu tak bisa memeluk istrimu di tepi pantai tanpa membuatnya gerah."


"Apa ini?" keluh Arumi Chavez.


"Kamu akan berterima kasih padaku dan pria di belakangmu. Tanpa kami, yakin Ibumu ijinkan-mu berduaan dengan pacarmu di bawah gulungan udara dingin?" tambah Lucky Luciano kirimkan bentuk love dari jauh sebelum kembali pada istrinya.


Archilles menggaruk sisi kepala sebelum kembalikan posisi tegak Arumi.


"Aku menyalin file dari lagu yang Anda ciptakan, Nona. Mau dengarkan?"


"Tidak."


"Masih tersisa dua-puluh-menit lagi. Apakah Anda ingin camilan? Atau kita bisa memutar film?"


Arumi Chavez menggeleng bersandar pada Archilles dan menonton danau yang mulai tampak di bawah sana. Alam di sini seakan jarum jam diputar terbalik dan kamu bertransmigrasi ke masa lampau. Rumah-rumah berukuran kecil dari kayu cokelat tua bata dan cerobong yang keluarkan asap. Pada pohon-pohon menjulang tinggi yang pucuknya tertutup salju.


Akhirnya malah kabur. Pejamkan mata dan sembunyikan tangisan di bawah topi. Tak bisa katakan apa masalahnya tetapi ia hanya dirundung kesedihan.


"Aku punya kejutan untukmu, Nona."


Arumi Chavez menahan isakan di sudut tenggorokan takut ketahuan Archilles. Ternyata sangat sulit. Sebab Archilles mengenalnya dengan baik.


"Ayolah, Nona."


"Aku takut!" kata Arumi akhirnya. "Jelas sekali ibuku sedang rencanakan sesuatu. Apa yang harus aku lakukan untuk melindungimu?"


"Nona, lihat mobil ini. Jika Anda pikirkan mekanismenya, Anda akan terjebak pada keruwetan tanpa akhir. Alih-alih pikirkan begitu banyak konsep hingga mobil bisa bergerak, Anda hanya perlu naik ke belakang kemudi dan kemudian menyetir menuju tujuan."


Archilles Lucca meskipun bukan Lucky Luciano yang tukang gombal miliki gaya khas yang disukai Arumi. Terutama sewaktu Archilles berucap dan bertingkah seakan-akan Arumi Chavez seorang ratu kerajaan. Sekarang pria itu lepaskan sarung tangan kanan. Menghapus air mata Arumi. Singkirkan semua untaian rambut yang terlihat merusak kening Arumi ke balik topi dingin dan mulai mengusap alis Arumi halus.


"Ibu Anda hanya mencoba lindungi masa depan, Nona. Sebab, aku tidak cukup tegas menolak Anda tentang pernikahan dini ini."


"Karena kamu ingin bersamaku juga."


"Ya, terlebih Anda mencintaiku sekarang. Aku pikir jalanku semakin mudah saja."


Perjalanan akhirnya sampai di persimpangan setapak. Masih berkendara sekitar lima menit lebih masuk ke tempat tujuan.


"Kita akan ciptakan permainan hebat besok malam," kata Lucky Luciano bersemangat. Menggoda Arumi yang murung.


Cukup berhasil sebab Arumi Chavez akhirnya terpengaruh.


"Aku tak mau serumah denganmu, Kak. Selera makanku terus memburuk, aku tak berharap alami gangguan tidur juga setelah susah payah kemari untuk sleep quality time."


"Doamu terkabul, gadis kecil. Kita akan bermalam di masing-masing pondok. Aku dan istriku. Kami tanpa ujian berarti. Bagaimana kalau kamu dan Claire bersama, Arumi? Seperti kalian di waktu kanak-kanak."


"Nona Arumi akan bersamaku, Tuan," pinta Archilles cepat hingga Lucky Luciano mengernyih.


"Em, Nona biasa bangun tengah malam dan susah tidur setelahnya. Aku akan menjaganya." Archilles berikan alasan.


"Well, aku percaya padamu, Archilles tetapi tidak dengan gadis kami ini. Jangan sampai ia gunakan kimono untuk menggodamu. Ingat Archilles, tiga bulan lagi dia baru akan, BARU AKAN, sedikit dewasa."


Arumi mancungkan bibir dengar penekanan 'baru akan sedikit' yang digunakan Lucky Luciano. Ingin membalas tetapi mereka telah berhenti di depan empat pondokan.


Satu paling besar dan tiga sama persis dari bangunan hingga tampilan tamannya. Berada tepat membelakangi perbukitan Pinus tua yang sangat rimbun dan penuh sesak hingga tampak gelap.


Disambut oleh pemilik penginapan yang sangat ramah. Sekarang, berpindah ke dalam pondok utama cukup besar di mana, ruangan utama, dining room dan living room menyatu.


Archilles Lucca tinggalkan semua orang untuk memeriksa pondok sedang Reinha Durante mencari toilet. Yang lain beristirahat di sofa.


"Malam ini, aku dan Reinha yang akan masak."


"Kami saja, Lucky," sahut Carlos Adelberth. "Aku dan Claire."


"Ya, aku sependapat," angguk Claire. "Jangan sampai makan malam kita baru dihidangkan di tengah malam karena sepasang suami istri yang tidak fokus." Claire Luciano mewakili suara semua orang.


"Setelahnya mari kita bermain indoor game hingga Arumi benar-benar mengantuk," usul Lucky.


"Ya," angguk Arumi setuju. "Games mengeja nama mantan pacar kakak angkatku. Gamenya tak akan habis sampai besok pagi."


"Memangnya kamu tahu?" ledek Lucky Luciano harusnya tidak sengaja cari-cari perkara.


"Ya. Katia Olwen, Bonita Alma, Nancy Lopez, Diana Stone, Caroline Moda, Jolly Daniela, Irene Kozan, Irena Abraham, terakhir wanita yang sering bersamamu seperti anjing penjaga. Aku lupa namanya. Kedengarannya seperti Saos? Seoza? Sosis? Siapa ya?" Arumi Chavez mengingat-ingat.


"Bocah ini! Sampai segitunya?"


"Gadis penyiar di sekolah Saint Martin. Aku ingat kamu diajak pergi ke pesta dansa sekolah dengannya. Dia sedikit kacau setelah habiskan beberapa botol minuman lalu kamu menggendongnya di pundakmu sedang dia memutar stoking di tangannya. Dia mengalami semacam halusinasi seakan menunggangi kuda. Kamu tidak tidur dengannya kan?"


"Ei! Ei! Ei! Jangan menyebar hoaks Arumi Chavez!"


"Baiklah, kamu menang, Sayang," bujuk Lucky menyerah. "Permainan selesai, Arumi Chavez menang. Hadiahnya nanti. Hentikan sebelum Enya mendengar dan lemparkan aku ke hutan." Lucky bergidik ngeri. Pria itu takut pada istrinya.


"Apa yang sedang kalian bahas?" tanya Reinha Durante yang kembali secepat putaran tornado. Arumi berdecak melihat wajah Lucky Luciano yang kehilangan bentuk.


"Bukan apa-apa, Sayang," sahut Lucky Luciano mengancam Arumi lewat tatapan tajam. "Hanya nama kucing peliharaan dari teman-teman sekelas Arumi." Mengelak.


"Begitukah?" Reinha Durante punya insting setajam belati. "Luar biasa, nama kucingnya cantik-cantik ya."


"Ya, begitulah," sahut Arumi dengan mimik 'kena kau' pada Lucky Luciano yang telah menggelindingkan matanya kesana kemari. "Aku sulit menghapal pelajaran tetapi sangat pandai menghapal nama kucing liar termasuk yang terakhir kali suka mabuk dan kehilangan harga diri. Dia sering menjilati pemiliknya."


Arumi Chavez pergi pada Archilles yang baru kembali dari memeriksa pondok. Archilles berpikir Nona Arumi akan lupakan kejadian buruk yang dialaminya apabila berada di lingkungan yang tepat.


"Ei!Ei! Ei! Dasar bocah nakal, awas kamu ya."


"Apa hubungannya denganmu Lucky Luciano?"


Reinha Durante menginterogasi suaminya. Claire Luciano tertawa kecil.


"Aku akan menginap di salah satu kamar di rumah utama dan mengikutimu ke dapur, Tuan Adelberth," kata Claire Luciano menarik kopernya.


"Tinggalah di pondok, Nona!" balas Carlos Adelberth. "Aku bawa ini," tambahnya menunjuk tas besar nyaris setinggi pundak Reinha Durante.


"Oh, apa itu?"


Carlos Adelberth tersenyum sedikit pada Claire. "Tenda prajurit. Misal mau bergabung denganku, aku punya dua sleeping bag." (Dua kantong tidur).


Carlos menawarkan hanya untuk bersenang-senang pada wajah merona merah Claire.


"Aku akan menunggumu di dapur, Tuan Adelberth," tepis Claire buru-buru pergi.


Setelah makan malam tiap orang pergi ke pondok mereka masing-masing. Kecuali Carlos Adelberth yang dalam waktu singkat membangun kemah di dalam hutan. Tak begitu peduli mungkin akan ada hujan salju turun nanti malam. Atau pria itu memang sengaja ingin menikmati hujan salju yang banyak setelah berada 42 hari di wilayah Afrika yang bersuhu sangat panas.


Sementara Archilles menggiring Arumi Chavez pergi ke pondokan mereka. Menahan Arumi di depan pintu.


"Aku punya kejutan untukmu, Nona,"


"Em, kamu mengatakannya hampir tiap hari sampai aku hapal. Dan aku penasaran."


"Mari kita lihat," kata Archilles Lucca mendorong pintu dan persilahkan Arumi masuk. "Merry Christmas, Nona Arumi. Semoga hatimu selalu dipenuhi kedamaian dan kebahagiaan."


Arumi Chavez temukan pondok beratap kaca. Pondok hanyalah personifikasi aura kegembiraan meluap mungkin ingin menghibur Arumi. Lampu-lampu kerlap kerlip di sepanjang dinding. Perapian menyala sempurna, derak kayu termakan api dan aroma hangat ruangan mengubah suasana hati Arumi.


Christmas tree sangat meriah oleh banyak accecories berwarna gold, hijau, abu-abu dengan pita juga lonceng, di mana, sebuah keranjang anyaman tergeletak di bawah pohon dihiasi dengan sangat cantik oleh seikat bunga tulip.


Tak jauh darinya di depan sliding pintu kaca yang mengarah ke belakang, sebuah meja kecil dengan dua bangku, di atasnya disajikan banyak makanan.


"Hadiah Anda di sebelah sana, Nona," angguk Archilles ke arah keranjang.


"Archilles?!"


"Ya, Nona."


Arumi pergi ke sana. Nyatanya ia hanya gadis belasan tahun yang menyukai hadiah. Melihat pada Archilles sebelum menyentuh keranjang. Mengintip. Sepasang cincin di dalam anyaman sarang burung. Berbalik karena terlalu terkejut. Archilles mematung di tengah ruang.


"Nona ..., terima kasih karena hatimu telah mengikatku."


"Aku ...."


"Ya, aku tahu Anda menyiapkan cincin untuk kita. Em, penghasilanku mungkin tidak seberapa dibanding Anda. Tetapi, aku akan mulai bertanggung jawab pada Anda."


Arumi Chavez menatap pada Archilles. Ia hanya terlalu campur aduk hingga kehilangan kata.


"Selama seminggu ke depan, kita akan bersama," kata Archilles lagi agak rikuh. "Sampai awal Minggu tahun baru. Setelahnya aku harus kembali mengajar, mungkin kembali lanjutkan kuliahku dan aku harap Anda bersabar menunggu hingga Maret. Kita akan rayakan hari ulang tahun Nona Arumi dengan pernikahan kita. Happy Easter bersamamu di April nanti sebagai suami istri."


Arumi hanya terpaku saat Archilles berkata-kata. Kemudian berjalan macam tersihir datangi Archilles dan memeluknya erat-erat.


"Jadi, aku tak bisa mengunjungimu termasuk di hari Valentine?"


"Tidak, Nona. Lagipula, Anda harus belajar untuk persiapan ujian. Kita bisa menjaga komunikasi."


"Baiklah, aku akan simpan cincinnya hingga kita menikah."


"Anda tak ingin memakainya sekarang?"


"Ya."


"Lalu, maukah Anda makan malam bersamaku?"


"Aku mengisi beberapa potong daging ke dalam mulutku dan merasa kenyang."


"Kita hanya akan makan Tart de lemon, seperti waktu di rumah pantai."


Dengan sedikit bujukan, Archilles akhirnya membuat Arumi makan lebih banyak. Walaupun gadis itu mengeluh mual, Arumi kemudian menolak tumpahkan isi perutnya.


Ketika Arumi Chavez akhirnya tertidur, Archilles Lucca nyalakan laptop dan mulai memeriksa semua daftar nama yang ia terima.


Archilles tak bisa membunuh mereka satu per satu karena sangat mustahil dsn ia akan tertangkap dalam enam tujuh gerakan. Meskipun ia penjahat sebelumnya, ia bukan pembunuh bayaran.


Jadi, ia akan menyerang gunakan taktik. Lingkari nama-nama tertentu dan mulai mencari celah di internet termasuk sosial media. Akan lebih mudah bila BM ada untuk menolongnya.


Untuk beberapa situs yang benar-benar privasi, butuh waktu lebih lama untuk meretas. Nama-nama pejabat penting yang harus ia selidiki ia akan dapatkan informasi akurat dari Carlos Adelberth.


Lalu, Hedgar?


Archilles pikir ia tak akan kompromi soal Hedgar Sangdeto. Ia hanya akan mencari jalan datangi Hedgar dan mengeksekusi dari radius 900 meter. Atau ada cara yang lebih bagus lagi. Menyelidiki keterkaitan Hedgar dengan perdagangan manusia. Mengirim pria itu tanpa menyentuhnya sama sekali. Archilles hanya akan mulai bergerak setelah ia mengantar Nona Arumi kembali dan menjemput Zefanya kemudian datangi Tuan Maurizio dan Nyonya Nastya Lucca.


Walaupun ia pernah bersumpah lenyapkan semua orang yang menyakiti Arumi Chavez, Archilles tahu lebih baik dari siapapun bahwa Nyonya Salsa masih miliki niat pisahkannya dari Arumi Chavez.


Menoleh saat Arumi mengigau, cepat-cepat pergi ke ranjang dan mendekap gadis itu lalu menepuk bahu perlahan.


Archilles menghitung step by step yang akan ia tempuh ke depannya termasuk bertemu manager dari sebuah private bank yang akan mengatur aset finansial untuk Zefanya. Tetap akan menjamin kehidupan Zefanya kalau-kalau nasibnya tidak beruntung.


Apa yang kamu perjuangkan, Archilles Lucca? Tanyanya pada diri sendiri.


Kamu bisa tinggalkan Arumi Chavez sekarang dan biarkan gadis ini diurus ibunya.


Bekerja saja sebagai guru dan bawa Zefanya ke kehidupan yang baik.


Lalu, Arumi menggeliat dalam lengannya.


"Mengapa belum tidur?" tanya Arumi berat kagetkan dirinya.


"Aku masih ada beberapa kerjaan, Nona. Tidurlah, aku akan menjagamu."


"Apa kamu menyusun rencana kabur dariku?"


Archilles tertawa kecil. "Mana aku berani padamu, Nona."


"Some hearts are diamonds, hatimu, Archilles Lucca."


"Anda berlebihan, Nona."


Archilles mengatur selimut, laptopnya terus menerima pesan. Ia masih harus lanjutkan pekerjaan. Mengumpulkan informasi hingga sekecil-kecilnya bahkan yang tidak penting misal tempat orang itu sering mampir atau memesan minum.


Tak sadar ia telah tertidur di sisi Arumi Chavez. Bangun kesiangan dan melompat saat tak temukan Arumi Chavez. Menjadi panik karena gadis itu tak ada di mana-mana.


Pergi ke pondok utama.


"Oh Archilles Lucca, selamat pagi," sapa Claire Luciano riang.


"Apa Anda melihat Nona Arumi?"


"Ya, Arumi bersama Reinha dan Lucky. Hanya saja Arumi pergi Kapela Saint Merry sedang Lucky dan Reinha akan mengunjungi desa terdekat. Kamu diminta menyusul ke kapela. Setelah setapak pergilah ke Utara. Kamu akan menemukannya dengan cepat. Tolong segera kembali untuk sarapan."


Es mencair dan jatuh dari tepian atap setelah mentari pagi bersinar. Archilles Lucca gunakan sepeda mendayung sekuat tenaga. Merutuki diri sendiri karena kecolongan.


Menemukan Kapele. Pintu tertutup dan ia mendorong kedua pintunya hati-hati.


Terkejut melihat Arumi Chavez menunggunya di depan altar, dalam nuansa putih. Satu tangan menggenggam bunga Lily putih hadiahnya semalam. Gadisnya memakai kemeja putih yang Archilles yakin miliknya hanya saja tampak berbeda model karena itu adalah dua kemejanya yang disatukan ujung-ujung membentuk atasan yang lebih bergaya. Lengan tiga per empat dan skirt panjang juga berwarna putih. Gadis itu memakai kerudung tule transparan menutupi seluruh wajahnya. Kepalanya bermahkotakan bunga baby breath putih yang masih segar. Kedinginan memancar dari bibir merah muda pucat.


Archilles pergi ke sana celingukan kiri dan kanan, tak ada siapapun.


"Nona ..., apa yang Anda lakukan sendirian di sini?"


Archilles mendekat. Sampai pada Arumi. Tangan gadisnya putih pucat pasi. Lekas pergi merangkum tangan sedingin es dan hangatkan dengan tangannya sendiri. Mata Arumi berkaca-kaca saat membentur jemari tangan kiri yang tidak lengkap.


"Nona ..., Anda bisa bikin aku kena serangan jantung."


"Archilles ..., aku tak mau menunggu bulan Maret. Banyak hal yang bisa terjadi dalam tiga bulan."


Butir air mata mengalir turun. Arumi menarik tangan kiri Archilles dan menciumnya pelan. Mendongak pada Archilles.


"Terima kasih telah membawaku keluar dari kegelapan. Terima kasih telah memelukku sepanjang malam."


"Nona ...."


"Mari menikah hari ini, Tuan. Di sini."


***