
Tak perlu ditanya bagaimana rupa dalam dirinya saat ini. Atasi terjangan emosi, Archilles Lucca telah push up selama dua jam tanpa henti. Ia dipenuhi bayangan raut ketakutan Arumi Chavez. Ia terus mendengar suara-suara Arumi di kepalanya.
Gadis itu hanya terlalu belia untuk menerima perlakuan biadab. Apa yang mereka lakukan padanya?
Tuhan, apa yang harus aku lakukan?
"Bagaimana cara menemukan orang-orang ini?"
Keluhannya didengar oleh Pak Tua Robin juga yang lainnya. Mereka berbagi tatapan.
"Kamu yakin akan dibebaskan?"
"Aku berurusan dengan wanita miliki harga diri sangat tinggi. Beliau tak akan lepaskan aku dari sini karena akan lukai egonya. Sedang kupikirkan cara melarikan diri!"
"Sangat sulit. Penjara ini sangat kecil dan penjagaan jauh lebih modern dibanding beberapa tahun lalu."
Haruskah ia memotong jari yang lain agar bisa pergi ke klinik dan kemudian pikirkan cara kabur dari sana? Archilles menimang ide itu.
Tidak!
Ia tak boleh sakit. Fisiknya harus kuat. Ia akan menyelamatkan Nona Arumi.
"Kelompok ini menyisakan jejak, Archilles." Pak Tua Robin menjawab pertanyaan diawal. "Mereka bisa menyamar dan miliki beberapa trik. Biasanya kelompok ini akan memasang logo mereka di suatu tempat sebagai tanda keberadaan agar dilihat dunia, mereka akan tampakan diri sebentar karena butuhkan pengakuan."
"T3r0r?"
"Ya, semacam itu. Mengguncang iman orang-orang beriman. Gunakan kecanggihan masa kini. Kamu hanya perlu menarik garis dan temukan simbol juga angka mereka. "
Satu jam setelah penantian panjang yang menyiksa, Archilles Lucca berpikir tak akan terjadi apapun jika ia diam saja.
Mengambil satu-satunya tindakan yang berbahaya. Luka di bekas potongan masih belum sembuh benar. Tulang putih masih terlihat di antara daging yang sedikit bengkak.
Archilles berhasil membuat lukanya kembali berdarah-darah. Ia menahan sakit, urat-urat lehernya menyembul di bawah kulit.
Pak Tua Robin dan Alfonso pergi ke pintu. Memanggil petugas.
"Dia tak sengaja jatuh di kamar mandi dan lukanya kembali berdarah."
"Dan dia mulai demam."
Petugas tak mudah percaya, tetapi, sipir di sini lebih aware.Tahu dengan baik bahwa pria bermasalah ini mencari cara keluar dari penjara. Membuka pintu sel.
"Archilles Lucca, aku akan membawamu ke klinik menemui Dokter Jhon."
Archilles Lucca digiring petugas keluar dari sel lewati koridor sempit menuju lantai bawah.
"Sir, aku akan mengingat kebaikan Anda."
Tak ada dokter Jhon, hanya rekanan bernama dokter Mandy yang mengerut membaca anamnesis.
"Apa antibiotik dihabiskan?"
"Ya. Aku terserang demam sepanjang dua hari ini. Aku berolahraga tadi agar merasa baikan."
Lukanya diobati, Archilles ikuti gerakan sang dokter. Meringis oleh rasa sakit yang masih tersisa. Pikirkan cara. Matanya segera scanning.
Paling mudah, mainkan sedikit gerakan. Menyandera sang dokter. Jika ia lakukan dengan benar, ia akan keluar dari penjara dan bebas sesaat. Lalu, ia akan jadi buronan. Ia bisa manfaatkan waktu yang cuma sedikit mencari gadisnya.
Namun, sebaliknya ia salah perhitungan, ia akan ditangkap dan dijebloskan ke ruang gelap isolasi dan bernapas bersama bau-bau aneh ruangan itu. Terlebih, ia tak akan pernah bisa selamatkan Arumi Chavez.
Archilles menggeleng tanpa sadar. Tingkahnya menarik atensi dokter Mandy.
"Anda akan sangat berhati-hati gunakan tangan Anda mulai sekarang."
Archilles tak menyahut! Hampir selesai. Ia tertanam di ranjang, nyaris kehilangan asa ketika sipir penjara menjenguk lewat pintu.
"Apa sudah selesai?"
"Sedikit lagi, Roby."
"Archilles Lucca, kamu kedatangan tamu."
Kabar yang barusan diterima membuat Archilles mengangkat wajahnya. Mengira-ngira. Siapa yang ada di sana? Ia menghirup aroma angin segar dibanding aroma obat-obatan. Ini pertanda baik.
Benarkan insting. Ia sangat terkejut karena ia dibebaskan dari penjara.
Archilles Lucca, tak pikirkan apapun. Ia segera keluar gerbang penjara. Hanya ingin mencari gadisnya.
Tidak terkejut dapati punggung besar dan tubuh tinggi bersandar pada mobil. Sedang menunggunya. Ketika derik pintu dibuka, tatapan mereka bertemu. Helaan napas berat dan penyesalan di mata cokelat terpampang jelas.
"Archilles ..., maaf aku sangat terlambat datang menyelamatkanmu." Nada tegas dan serius. Menyipit pada tangan terbalut perban. "Harimu pasti buruk di dalam sana?"
"Aku akan kembali kemari dan jatuhkan hukuman pada para iblis yang curangi aku."
"Waktu dan kesempatan akan tiba."
"Anda selamatkan aku dua kali."
Mentornya adalah malaikat kehidupannya setelah Elgio Durante, pikir Archilles Lucca.
Carlos Adelberth tersenyum. "Bukan aku sepenuhnya. Tuan Hadriano Cesar dan Tuan Eurico Domingo bertindak selaku penjamin-mu. Dan satu lagi, Elgio Durante didorong dukungan penuh Nyonya Durante mengirim peringatan keras pada sikap Nyonya Salsa Diomanta."
"Begitukah?"
"Aku hanya lakukan sisanya."
"Terima kasih, banyak. Aku tak ingin Tuan Durante terlibat. Aku memikirkan kondisi istrinya yang sedang hamil."
"Pesan Elgio Durante jelas untukmu," sahut Carlos Adelberth, "Selamatkan Nona Arumi Chavez. Ia mengatakan Marya Corazon tak berhenti bersedih setelah tahu adiknya diculik."
"Nyonya Durante menyimpan trauma."
"Berkat itu, kita bertemu."
"Jalan hidupku penuh keberuntungan jika mengingatnya."
Mereka bersama naik mobil. Archilles berjanji akan mengunjungi Hadriano Cesar dan Eurico Domingo setelah ia kembali untuk mengucapkan terima kasih.
"Sekte ini sangat brutal, Archilles."
"Aku tak ingin percaya. Kenyataannya mereka memang ada."
"Hedgar Sangdeto diduga salah satu pihak terkait," kata Carlos Adelberth. "Hanya saja belum cukup bukti."
"Ya, aku telah mendengar informasi ini."
Mereka dalam perjalanan menuju bandara. Dari Carlos, Archilles Lucca mendapat kabar bahwa Leona dirawat dan kritis. Kemungkinan hidupnya sangat tipis. Nona Arumi pasti akan sangat sedih. Sedang Michael lebih kuat meskipun terkena banyak luka tembak. Namun, yang lain tak tertolong.
"Kita punya masalah peperangan, kelaparan, kemiskinan dan kebodohan, tetapi kita mesti berdampingan dengan kegelapan yang sesungguhnya. Pertemuan dari kombinasi berbagai genre. Keinginan mata, keinginan daging dan keangkuhan hidup."
"Tidak ada yang mempermasalahkan hak seseorang untuk tidak mengakui agama atau Tuhan sekalipun. Orang tak akan mengurusi gaya hidupmu jika kamu menyembah setan. Hanya saja, mengapa tak mengambil gadis dari anggota mereka?"
"Penyesatan, Lucca."
"Aku akan menemukannya."
"Tahun lalu simbol utama mereka muncul di Padang Pasir Kota Jericho. Namun, tak ada yang tahu di mana proses inisiasi anggotanya berlangsung. Banyak yang menduga di sekitar sana."
Terlalu jauh jika Archilles Lucca mencari BM ke sarangnya. Tetapi ia tidak miliki petunjuk apapun. Bagaimana dengan Young Vincenti? Pengetahuan pria itu tak bisa diremehkan. Young sepertinya berkelana setiap hari dalam ruangan gelap dunia semu.
"Mereka akan segera muncul untuk mengabari dunia bahwa pengantin 'Tuan' mereka telah ditemukan dan siap untuk ritual besar mereka. Kamu harus menemukannya malam ini atau paling lambat 24 Desember pagi."
Keduanya berpisah di Madrid. Carlos Adelberth akan pergi ke Angola. Pria ini miliki banyak agenda dan selalu berada dalam misi rahasia. Carlos mengumpulkan beberapa informasi, tahun ke tahun di mana simbol sekte muncul. Secara acak terjadi hampir di seluruh belahan dunia tetapi tak diketahui pasti di mana sekte ini berkumpul.
Menelusuri beberapa koordinat penting, membuat beberapa catatan dan tanda. Menghubung-hubungkan. Mencari titik-titik. Ia berada di sebuah restoran dalam bandara. Begitu ia temukan lokasi, ia akan langsung naik pesawat dan pergi.
Ponselnya berbunyi dan itu adalah panggilan video call dari sebuah nomer baru. Jantungnya berdetak keras. Ia langsung menjawab panggilan.
"Hai ..., senangnya aku melihatmu hidup dan sehat. Semakin tampan dan matang. Apakah calon ibu mertuamu lepaskanmu dari penjara untuk bebaskan puterinya? Apakah kamu dapatkan gadis beliamu sebagai imbalan?"
Archilles Lucca mend3s4h jengkel.
"Aku pikir kamu sudah mati."
"Kejutan," sahut Tatiana senang.
"Aku sedang sibuk."
"Oh ayolah, kamu harus dengar ceritaku hari ini."
Archilles Lucca matikan ponsel. Tak ingin dengar apapun, kembali memeriksa koordinat bahkan mencari simbol di dunia bawah tanah. Ia pasti akan dapatkan sesuatu. Sekte ini juga punya orang-orang hebat di industri musik.
Saat panggilan video kedua berlangsung, Archilles hendak masukan nomer wanita gila itu ke dalam daftar hitam. Mendadak saja sesuatu berkelebat. Tatiana pasti tahu sesuatu. Hedgar tak membunuh adiknya, pertanda Hedgar maafkan Tatiana. Jika Hedgar terlibat, ia bisa dapatkan informasi dari Tatiana.
Menjawab panggilan.
"Apa maumu?" tanya Archilles Lucca menyipit.
Tatiana menyeringai halus.
"Hari paling bahagia dalam hidupku, aku pikir, saat kamu datangi aku dan kita berdansa. Tak kusangka, aku dapatkan hal lain semacam takdir."
"Tatiana Sangdeto ..., apa kamu tahu di mana kekasihku berada?"
"Apa aku sangat mudah ditebak?" Tatiana mainkan kedua bola matanya. "Oh, manis sekali kamu. Kekasihmu? Aku pikir aku akan segera ditahbiskan sebagai kekasihmu.
"Beritahu aku di mana Nona Arumi?" tanya Archilles Lucca lagi.
"Datang padaku, aku akan beritahukan padamu."
"Tidak! Kamu tak akan dapatkan maumu sekali ini!"
"Yakin?"
Tanya wanita itu mainkan rambutnya yang sengaja tergerai.
"Ugh, ekspresimu buatku melayang, Mr. Lucca."
"Aku pergi!"
Archilles Lucca hendak akhiri panggilan. Namun, Tatiana menggoyang sesuatu di tangannya. Archilles Lucca tercekat.
"Kamu dan kakakmu terlibat!" tuduh Archilles.
"Kamu salah paham. Hedgar dan aku punya bisnis lain yang lebih menarik selain takayul. Lagipula, Hedgar sedang nikmati masa-masa akan menjadi seorang ayah. Ia tak pergi dari sisi istrinya meskipun beberapa orang mengencingi tempat usahanya dan menghinanya."
"Tatiana?" sergah Archilles Lucca.
"Susah aku jelaskan. Jika kamu mau, mari kita bertemu." Tatiana mengulas senyuman tipis, tak berkedip amati Archilles Lucca. "Aku membeli misterius box dari dark web. Mereka kirimkan aku barang-barang, aku pikir berhubungan dengan ritual hari besar sekte tertentu."
Tatiana menarik ke depannya sebuah dus hitam hingga dapat dilihat Archilles. Ayunkan rambut cokelat keemasan yang Archilles kenali sebagai bagian terbaik Arumi Chavez. Juga syal hijau lumut. Ia ingat terakhir kali lilitkan benda itu pada leher gadisnya. Ia menggeram marah.
"Kapan paketmu tiba?" Gunakan perangkat ilegal pencari lokasi, memindai keberadaan Tatiana.
"Tiga puluh menit yang lalu."
Archilles Lucca menghitung waktu. Nona Arumi berada tak jauh dari Tatiana. Waktu kehilangan Nona Arumi 5 jam lewat 25 menit. Kecuali mereka mengambil barang-barang Arumi Chavez sebelum membawa gadisnya ke suatu tempat di belahan dunia lain.
"Aku punya ini," tambah Tatiana mengangkat sebuah disk kecil. Archilles yakin flash berisi sesuatu yang buruk.
"Aku ingin memutar file tetapi baiknya kamu melihatnya juga."
Archilles Lucca kendalikan dirinya sendiri.
"Aku punya penawaran bagus untukmu." Tatiana mulai mainkan trik yang sama seperti terakhir kali mereka bertemu. Wanita gila ini pegangi kelemahannya, adalah Arumi Chavez.
"Tidak!"
"Kamu tak akan menolakku, Mr. Lucca." Tatiana mengatur posisi duduknya. "Ugh, ternyata, aku termasuk salah satu undangan terhormat."
Sekali lagi pamerkan sebuah undangan hitam pekat yang ia temukan dalam box. Di bagian depan terdapat simbol kebesaran sekte itu. Dan mengerikan lagi, foto kekasihnya di sana, berkerudung hitam menatap kosong.
Archilles Lucca mengunyah giginya sendiri. Ia tak akan maafkan siapapun yang berani menyentuh Arumi Chavez.
"Kita bisa pergi bersama, Mr. Lucca. Kami diwajibkan bawa pasangan."
Tatiana membaca persyaratan di invitation card sehingga Archilles Lucca bisa mendengarnya.
"Di mana kamu? Kalung itu milik Arumi Chavez. Kamu tak akan sembarang gunakan!"
Archilles akan mengambil kembali kalungnya. Tatiana adalah alternatif menemukan Nona Arumi. Berharap gadis itu hanya dibius. Ia tak suka ide kalau sampai mereka merecokinya dengan ob4t4n keras dan terlarang.
"Akan aku beritahu kamu, di mana tepatnya aku berada. Sampai jumpa nanti malam, Sa...."
Panggilan berakhir tanpa berhasil temukan di mana Tatiana berada. Archilles menutup ponsel. Mengapa BM harus menghilang sekarang saat ia butuh bantuan?
Menerima pesan dari Young Vincenti, daftar undangan yang akan mengikuti prosesi. Banyak samaran dan julukan. Tidak terkejut temukan Rosemary ada di daftar. Jadi, Tatiana tidak mengada-ngada. Archilles tak punya pilihan, kirimkan pesan.
💌 : Mari bertemu!
Ia tak lihat cara lain paling mudah saat ini. Tatiana akan membawanya ke sana. Namun, ia harus hati-hati. Tanpa diberitahu, Archilles Lucca tahu keinginan sesat Tatiana. Wanita itu terobsesi miliki dirinya.
💌 : Tak sabaran ingin melihatku?
Tatiana mengkonfirmasi keberadaannya. Archilles akhirnya putuskan menemui Tatiana, segera mencari tiket penerbangan langsung menuju Paris.
Pukul delapan menjelang malam, musim dingin di akhir Desember. Diam-diam ia menyelinap ke dalam rumah pertanian di mana Tatiana berada setelah mengintai tempat itu selama dua jam.
Ketika ia masuk, wanita itu di sana di dining room yang menyatu dengan kitchen. Tampak sedang menyiapkan hidangan.
"Kamu datang?" tegur Tatiana tanpa menengok. "Aku berdebar-debar!"
"Kamu mudah berdebar-debar pada pria! Pada temanku dan padaku."
"Kita semua tahu, Enrique Diomanta milik kakakku sedang Anda milikku, Tuan."
"Beritahu aku di mana tepatnya ritual akan diadakan!" Archilles Lucca abaikan ungkapan wanita di depan sana.
"Menurutmu gratis?"
"Aku bisa mencarinya sendiri!"
"Lalu, mengapa datang padaku?"
"Kalung dan barang-barang lain adalah milikku. Kembalikan!"
"Maksudmu ini?" tanya Tatiana mengelus kalung di lehernya.
"Hanya cocok di leher Arumi Chavez. Kamu paksakan dirimu! Sangat ganjil terlihat!"
"Yang benar saja pria ini. Mengapa harus terlalu jujur?" keluh Tatiana bawakan susunan piring taruh di meja makan. Nyalakan lilin dan menaruh bunga. Mengatur kalung yang terlalu sesak untuknya.
"Hanya terlihat mencuri milik orang lain."
"Oh ayolah, aku membeli benda-benda ini sangat mahal. Aku berharap temukan boneka yang ditusuk jarum, kapak berdarah dan sesuatu yang enak dilihat mataku dalam boks misteri. Sangat bahagia aku temukan kalung ini. Aku percaya ini adalah takdir."
"Kamu mengacau. Aku percaya kamu terlibat."
"Sayang sekali kepercayaanmu sia-sia."
"Kembalikan padaku!"
"Pertama, makan dulu. Aku yakin kamu menempuh perjalanan panjang. Kamu juga mungkin letih mengintaiku berjam-jam."
Kotak pesannya berkedip.
"Duduk! Anggap saja rumah sendiri!" kata Tatiana sibuk dengan penggorengan.
Mengecek pesan sambil awasi Tatiana yang kembali ke dapur.
💌 : 52.47944° N, 62.18631° E. Periksa!
💌 : Ralph?
💌 : Temukan tempatnya. Cari cara masuk ke dalam. Aku sedang dalam masalah. Jaga dirimu, Lucca!
Semua pesan akan terhapus otomatis dalam lima menit. Archilles sangat cepat masukan koordinat dan mulai mengidentifikasi lokasi.
Sebuah pentagram berukuran raksasa tampak jelas di layar ponselnya. Tak jauh dari sebuah danau besar tanpa nama di tengah daratan luas. Bagaimana bisa ada danau seluas satu negara di tengah daratan Eropa dan Asia tetapi tak miliki nama.
Tak ada kota atau komunal di sekitar danau. Tanpa bangunan. Sungguh aneh. Apakah danaunya beracun? Tanpa daya tarik? Lalu, mengapa BM mengirimkan koordinat ini?
Di bagian Utara sekitar tiga km dari danau 13 belas bulatan besar kecil berdampingan. Agak aneh, karena itu hanya padang rumput.
Benarkah inikah tempatnya?
Ia mengirimkan pesan minta bantuan pada Carlos Adelberth mungkinkah di sana sebuah markas rahasia?
Archilles Lucca menghitung jarak dari titik pusat pentagram dengan cara menarik garis lewati danau sejauh enam ratus enam puluh enam km seperti saran pak Tua Robin. Mencoba ke semua penjuru mata angin. Dan ia temukan tiga kemungkinan tempat.
Sebuah kapel kecil yang dikelilingi pemakaman umum ke arah Barat Daya dan sebuah pemukiman cukup aneh di Utara. Mengapa aneh karena pemukiman ini membentuk segitiga dengan sebuah lingkaran elips di tengah, mirip sebuah mata. Kemudian sebuah taman nasional di sisi tenggara di mana dilaporkan banyak kasus orang hilang di sana.
"Aku harus pergi! Kembalikan kalung, syal dan rambut Nona Arumi."
"Aku akan membawamu besok pagi ke sana!" Tatiana menyahut tanpa melihat lawan bicaranya. Tangan sibuk mengaduk sesuatu.
"Tidak! Aku bisa pergi sendiri!" putus Archilles Lucca, ia punya waktu dua hari mengintai penuh lokasi yang dikirimkan BM. Nona Arumi akan bersabar sampai ditemukan olehnya.
"Sepertinya kamu temukan tempatnya?"
Archilles Lucca datangi Tatiana yang memegang mangkok berisi sup yang dibawa wanita itu dari dapur. Hendak menyentuh leher Tatiana dan mengambil kalungnya, tetapi mangkok sangat cepat ditaruh di meja makan. Dan wanita itu menghindar ke sisi lain.
"Tatiana, benda itu bukan milikmu."
"Archilles Lucca, gadismu masih terlalu belia. Kamu lebih cocok denganku."
Archilles Lucca mengejar Tatiana dengan gerakan cepat, berhasil meraih lengan dan memaksa wanita itu berbalik. Tatiana menepis tanpa sengaja memukul tangan Archilles yang terluka.
Pria itu mengerang kesakitan hingga Tatiana mengerut.
"Apa kamu terluka?" tanyanya mendekat dan membungkuk.
Lengah.
Archilles Lucca berbalik sangat cepat meraih kalungnya dan menggenggam erat-erat.
"Anda curang!" desis Tatiana hendak kembali merebut, tanpa sengaja melihat tangan Archilles Lucca kehilangan satu jari.
Terpaku di tempat. Tatiana tak suka. Rautnya berubah aneh.
"Siapa yang memotong jarimu?" Tatiana ulurkan tangan.
Archilles Lucca menghindar hingga tangan Tatiana hanya mengambang di udara.
"Aku mencintai Nona Arumi Chavez. Tolong mengertilah!"
Tatiana Sangdeto menatap Archilles Lucca. Pada keseriusan ditiap kata-katanya.
"Akan lebih mudah jika kita pergi bersama. Kita hanya perlu masuk ke sana dan temukan kekasihmu itu!"
"Aku tak percaya padamu!"
"Baiklah, jangan sampai tertangkap." Tatiana mengambil flash, syal dan rambut. Berikan pada Archilles yang langsung didekap dalam lengannya.
"Kamu menyebutku psikopat tetapi mereka berada di tingkatan tertinggi. Tanpa empati, tanpa emosi, tanpa nurani. Kamu akan dihabisi dalam sekejab."
Archilles Lucca pergi dari sana, tinggalkan Tatiana dan lilin yang masih menyala. Ia akan menemukan Arumi Chavez. Di tengah perjalanan, ia me-reservasi sebuah tempat.
Nona Arumi akan menyukai salju di tengah pepohonan cemara putih yang ketika bersalju ciptakan dimensi bak di negeri dongeng. Mereka akan pergi ke sana. Ia akan mengajari gadisnya bela diri dengan disiplin tinggi. Tak akan terpengaruh pada rengekan.
Pejamkan mata dalam bus yang membawanya pergi.
"Aku akan datang padamu! Aku akan menjagamu dengan nyawaku!"
***
Maaf ya, aku gak mood nulis. Hari kemarin adalah hari ulang tahunku dan sangat apes sebab ada sedikit masalah di kerjaanku yang buat aku nge-blank dan lumayan uring-uringan seharian kemarin. Baru bisa nulis hari ini.
Aku cut jadi dua chapter. Misal bacanya agak gimana-gimana maklumi aja.