My Guardian Angel (The Dust of Love)

My Guardian Angel (The Dust of Love)
Chapter 40. Blind Heart Sweet Senior



Pertama-tama, Arumi akan menyapa Sarah Jessica dan basa -basi dengan yang sedang berbahagia. Lalu, bergabung di meja Nyonya Sanchez. Setidaknya ada Dandia Sanchez.


Ethan Sanchez sedikit sibuk karena harus menyambut teman-teman mereka dari komunitas. Dari caranya menunjuk ini dan itu pada para waitress, Arumi Chavez menarik kesimpulan, Ethan Sanchez-lah yang siapkan acara untuk sahabatnya. Ethan terbiasa mengurus perayaan ulang tahun di kafe. Arumi pernah bekerja bersama Ethan Sanchez, cukup tahu betapa cekatan pacarnya dalam hal ini.


"Feliz cumpleaños, Sarah. Te deseo larga vida, felicidad, salud, abundancia del amor fiel de Dios. Todas las mejores cosas del mundo están a tu lado."


"Selamat ulang tahun, Sarah. Aku doakan dirimu ..., umur panjang , kebahagiaan, kesehatan, berlimpah kasih setia Tuhan. Semua hal terbaik di dunia ada di sisimu."


"Nona Arumi Chavez, terima kasih telah datang penuhi undangan-ku. Mari aku perkenalkan pada orangtuaku," ajak Sarah antusias meraih tangan Arumi hampiri ke meja, di mana, Nyonya Andreia, seorang wanita lain sebaya Nyonya Andreia juga seorang pria paruh usia yang Arumi tebak orang tua Sarah.


"Maafkan kami, menyela obrolan Anda yang tampak seru. Aku ingin perkenalkan salah seorang temanku," ucap Sarah tersenyum lebar. "Tuan dan Nyonya, ini Nona Arumi Chavez."


"Hai, selamat malam semua," sapa Arumi separuh membungkuk. Wajah segera memanas.


"Arumi ..., ini Ibuku, Ayahku, Nyonya Andreia Sanchez ..., aku yakin kamu tahu. Kalian telah bertemu sebelumnya."


"Nona Arumi, aku Donald Harrison dan ini istriku Tania Lim Harrison," sapa Ayah Jessica ramah tamah.


"Anda sangat cantik, Nona," puji Nyonya Tania Lim berseri-seri. "Wajahmu tidak asing, di mana ya aku pernah lihat?" Nyonya Tania berusaha mengingat. "Yang pasti bukan di pasar rakyat," tambahnya berpikir keras.


"Yeah, Mom. Nona Arumi ..., seorang artis ...," sambung Sarah, "dan Nona Arumi pacar Ethan Sanchez."


"Oh, ya aku ingat. Suatu malam saat kita ke taman kota, papan iklan di sisi jalan dan beberapa gedung tampilkan wajahmu, Nona ."


Arumi Chavez tersenyum ceria. "Nyonya, aku hanya figuran."


"Oh, kamu sangat rendah hati, Nona Arumi Chavez," puji Dandia yang seperti biasa terpesona pada Arumi. Kini, bertambah makin parah saja. "Nona Arumi bintangi sejumlah iklan produk ternama, pemeran utama Angel of City, sekarang bermain di Bittersweet ...," katupkan bibir segera saat dapati Ethan Sanchez datangi Arumi Chavez lemparkan tatapan tajam bak pedang samurai. Dandia refleks pegangi ubun-ubunnya, Ethan Sanchez tampak akan menebasnya hingga putus.


"Akkhhh, ya ya ya, Tuhan Donald Harrison, gadis ini Serena. Kamu tahu kan? Semua orang bicarakan drama itu! Kamu tahu kalau Puteri Hana adalah Serena?"


"Ayolah Tania Lim, aku tak menonton drama."


"Oh, luar biasa hebat. Berapa usiamu, Nona Arumi? Aku tak sukai Serena, tetapi mengetahui Anda semudah itu bawakan karakter Serena, oh luar biasa sekali. Apakah aku bisa tahu akhir dramanya, Nona?" Tania Kim menjadi bersemangat.


"Tania ...," keluh Donald Harrison geli.


"Mom, Nona Arumi kemari untuk acara ulang tahun bukan jumpa fans," tegur Sarah tersenyum kecil. "Mau bergabung bersama teman-teman yang lain?"


"Terima kasih, Sarah atas tawarannya," potong Ethan Sanchez, "kami hanya akan duduk berdua saja dan berpacaran."


"Nona Arumi pasti ingin mengobrol bersama Nyonya Adreia dulu, Ethan." Tania Lim menatap ke seberang minta pendapat Nyonya Andreia.


Arumi Chavez menegang di tempatnya berdiri.


"Kemarilah, Nak," panggil Nyonya Andreia sunggingkan senyum bersahabat, anggukan bangku di sisinya.


Arumi Chavez mengambil napas pelan agar tak tampak gugup sebelum pergi ke sisi Nyonya Andreia.


"Apa kabarmu?" tanya Nyonya Andreia lembut sedang Ethan Sanchez awasi ibunya lalu pada Arumi Chavez.


Mungkin satu-satunya kemampuan ..., mungkin ..., talenta dasar dimiliki Arumi Chavez adalah berakting. Namun, di depan Nyonya Andreia Sanchez, Arumi Chavez kehilangan seluruh kemampuannya.


Atau Arumi Chavez hanya berlebihan insecure; perasaan tidak aman karena pembicaraan seminggu lalu, terlebih risih yang entah bagaimana berhasil buat Arumi Chavez cemas, takut dan tidak percaya diri.


"Ethan, mengapa menjulang di sana?" tegur Nyonya Tania Lim. "Kami hanya akan mengobrol sebentar dengan Nona Arumi Chavez."


"Nyonya Tania, kami sangat sulit bertemu di sekolah dan sepulang sekolah karena aktivitas masing-masing. Kami juga tak kencan di akhir pekan karena aku sibuk di kafe, Arumi syuting. Aku akan membawa Arumi pergi ke pojokan dan menikmati musik sambil mengobrol."


Ethan Sanchez bicara sopan pada Nyonya Tania Lim, setelahnya tak alihkan pandangan satu detikpun dari Arumi Chavez. Semua orang bisa melihat kobaran cinta di mata tajamnya.


"Oh, manis sekali dirimu, Ethan!"


"Temanmu memanggil, Ethan!" kata Nyonya Andreia anggukkan kepala ke arah meja-meja, di mana, para ilmuwan muda kelihatan menunggu Ethan dan Sarah bergabung.


"Pergilah, Ethan. Kita bisa mengobrol nanti!" tambah Arumi Chavez menerka akan diadakan game. Lebih baik bersama Nyonya Sanchez meskipun sulit ketimbang bergabung dalam game dan permalukan Ethan Sanchez.


"Oh, Ya Tuhan, suaranya bahkan sangat merdu," sambut Nyonya Tania Lim. Sepertinya sekali ini bukan hanya Dandia dan teman-teman Ethan Sanchez yang terpesona pada Arumi, tetapi Nyonya Tania Lim sangat tulus perhatian pada Arumi.


"Nyonya Tania ..., kamu berhasil buat Nona Arumi tidak nyaman ..., tolong hentikan!"


"Ya ya ya, baiklah. Apa kamu ingin sesuatu? Makanan? Minuman? Aku akan ambilkan untukmu."


"Nyonya, terima kasih sebelumnya, aku akan makan nanti bersama Ethan," sahut Arumi Chavez.


"Manisnya."


"Kamu tampak lelah, Nona Arumi?" tanya Nyonya Andreia Sanchez.


"Ya, Nyonya. Aku baru dari lokasi syuting."


"Aku menyukai Bittersweet Married," kata Nyonya Sanchez. "Namun, aku berpikir, drama itu terlalu ekstrim ditayangkan dalam channel umum. Harusnya dikhususkan bagi orang dewasa. Lebih terkejut lagi, kamu masih sangat muda perankan karakter Serena."


"Berapa usiamu, Nona Arumi?" tanya Nyonya Tania Lim meskipun sukai Arumi benarkan pendapat Nyonya Sanchez.


"16 tahun, Nyonya. Aku akan berusia 17 tahun Maret nanti."


"Oh, apakah mereka tak peduli pada usiamu? Apakah ciuman antara Serena dan Josh benaran terjadi?" tanya Nyonya Tania Lim penasaran.


Nyonya Tania Lim tanpa sengaja ikuti kemanapun Sarah melangkah, matanya hanya awasi secara posesif seakan tak terima jika puterinya masuk dalam drama keliru. Terlebih beberapa adegan matang di dalamnya.


Wajah Arumi mula-mula hangat kini merah padam. Ia lekas kehilangan kata berubah gelisah berjuang keras atasi gejolak tak menentu dalam dirinya.


Baik Arumi, mari kita anggap ini konferensi pers. Bukankah pertanyaan semirip ini? Bedanya, konferensi pers ia tidak sendirian. Ada produser, sutradara, pemeran lain. Sewaktu itu, ia tak ingat ada pertanyaan macam begini. Mungkin saja, Chris Evans telah ambil tindakan pencegahan.


"Kekeliruan sebuah rumah produksi."


"Apakah tak mengganggu sekolahmu?" tanya Nyonya Tania Lim lagi.


"Aku hanya syuting di akhir pekan, Nyonya. Selama hari-hari sekolah, aku belajar seperti biasa."


Segalanya berubah kikuk, ia harusnya tak kemari.


"Apakah orang tuamu ijinkan Anda ikut dalam serial yang jelas dikhususkan bagi orang Dewasa?"


"Nyonya Thania pasti mengenal Ibunya," sahut Nyonya Andreia Sanchez tak bermaksud apapun tetapi Arumi Chavez terlanjur berpikiran negatif.


"No, aku tak begitu kenal," sahut Nyonya Tania menduga-duga.


"Nyonya Salsabila Diomanta."


Klan Diomanta sangat berpengaruh.


Wajah Nyonya Tania sekejab berubah. "Oh, benarkah?" Nyonya Tania Lim manggut-manggut. "Aku tak heran. Kecantikan memang menurun sempurna."


Sekali ini bukan pujian tetapi sesuatu yang lain. Arumi Chavez tak berharap ada luka lain yang timbul dari keegoisan mereka.


Apa lagi? Apa lagi?


"Beruntungnya ..., kami masih tetap bertahan dan miliki tempat ini," kata Nyonya Tania Lim benarkan dugaan Arumi walaupun diutarakan secara gamblang. "Sungguh tidak adil jika kita menyeret Nona Arumi ke dalam permasalahan kita, tetapi aku berdoa untukmu dengan tulus agar tak ikuti jejak pendahulumu, Nona Arumi. Betapa tersiksanya kami di jaman-jaman harus bertahan dari kekuasaan jahat yang inginkan tanah dan rumah kami untuk kepentingan investasi. Beberapa orang bahkan bunuh diri karena putus asa."


Arumi Chavez tak tahu harus lakukan apa.


"Klan Diomanta berhasil membangun kekayaan berlimpah ruah bagi turunan mereka di atas penderitaan pihak lain." Nada bicara Donald Harrison tak menghakimi cuma terdengar penuh sesal. "Dengar ..., semua hal telah berlalu terlebih kita baik-baik saja kini. Sangat tidak bijaksana telah mengundang seseorang lalu biarkan Nona Muda yang bahkan belum mengerti apapun terintimidasi oleh sikap kita."


"Ya kamu benar, Sayang. Aku merasa sangat buruk," tambah Nyonya Tania.


"Maafkan kami, Nona Arumi. Tak bermaksud demikian hanya saja seperti pepatah; Harimau mati tinggalkan belang, gajah mati tinggalkan gading, manusia mati tinggalkan nama; seorang manusia setelah kepergiannya hanya akan diingat jasa-jasanya ataukah kesalahan-kesalahannya." Nyonya Sanchez menghela napas kuat. "Beberapa kesalahan tampak tidak mudah termaafkan."


"Aku mengerti, Nyonya. Aku tak tahu harus bagaimana ...," Arumi mendorong bangkunya dan berdiri ..., " Semua orang terperanjat. "Untuk semua sikap jahat keluargaku pada Anda semua, kelalaian kami dan keegoisan ..., atas nama keluargaku ..., aku dengan tulus mohon maaf dan pengampunan. Aku sungguh-sungguh menyesal pada hati yang telah kami lukai." Membungkuk dalam-dalam.


"Arumi ..., apa yang kamu lakukan?" Suara Nyonya Sanchez berubah penuh penyesalan.


Ethan Sanchez tinggalkan teman-temannya, menerobos beberapa pasangan yang sedang berdansa muncul di waktu tepat selamatkan Arumi Chavez yang nyaris menangis.


"Mom, aku akan bawa pacarku! Maaf ya ...." Ethan Sanchez walaupun sangat amat sopan juga rendah, tak bisa diabaikan nada sedingin es itu.


"Please, jangan salah paham, Ethan."


Kursi duduk Arumi ditarik mundur cukup keras. Ini adalah peringatan.


"Bagaimana ini ..., aku juga ingin bersama dengannya, Mom. Kami tak pernah bersama lagi setelah Arumi ku-tinggal di rumah sakit bersama Mom dan Dandia," ujar Ethan Sanchez hati-hati. "Ayo Arumi ...," ajaknya lagi meraih tangan Arumi ikut dengannya. Menggenggam tangan Arumi Chavez kuat.


"Kamu ingin makan sesuatu?" tanya Ethan menatap tepat pada bola mata Arumi setelah mereka duduk menjauh. Sinar mata Arumi tampak ling lung, secara langsung menyakitinya. Tak suka sebabkan Arumi terlihat merana dan putus asa.


"Arumi ..., apakah kita pergi saja?" tanya Ethan lagi. "Apa ibuku katakan sesuatu?"


"Ethan ..., tidak ada hubungannya dengan Ibumu. Maafkan aku."


"Lalu ..., membungkuk seperti tadi?"


"Ethan ...."


"Baiklah, jika tidak ingin bicara, aku akan bertanya pada Nyonya Sanchez nanti." Sangat tenang tetapi mengandung sesuatu yang bisa tenggelamkan sebuah pulau.


"Ethan ...." Arumi menjadi serba salah.


"Kamu akan makan sesuatu lalu kita bisa pergi. Jika ingin tinggal, kita bisa berdansa." Kecupan di jemari tangannya adalah permintaan maaf.


Tangan Mereka terjalin di atas meja. Jika Arumi menangis sekarang, Ethan akan geram pada situasi. Namun, Arumi tak bisa sembunyikan kekalutan.


"Ethan ..., terima kasih telah mendukung aku selama ini. Aku sangat berterima kasih. Suatu waktu di masa depan, aku akan menangkan bahwa aku pernah tergila-gila pada seniorku yang galak dan pintar. Aku akan ingat bahwa ia sangat ingin aku pandai."


"Arumi ..., apa kamu ingin putus?"


"Temukan gadis yang pantas untukmu, Ethan. Aku punya banyak kekurangan yang tak bisa ditolerir. Aku juga minta maaf karena keluargaku sebabkan banyak penderitaan pada orang lain tanpa kami sadari." Arumi berkaca-kaca. Sendiri katakan putus, sendiri menangis.


Ethan Sanchez meremas tangan Arumi, terdiam beberapa menit, amati Arumi Chavez. Teman-teman mereka mulai berdansa. Beberapa dari mereka meski tak terlihat ingin tahu, sesekali melirik pada mereka.


"Arumi ..., apakah kita perjuangkan rasa yang terlihat sedangkal ini?"


Arumi menunduk.


"Lihat aku!" Ethan berpindah ke samping Arumi. Mengangkat wajah Arumi. "Apa aku menyakitimu? Apakah aku menyulitkan-mu?"


Menggeleng kuat.


"Apakah kamu mudah menyerah hanya karena dunia berkata kita terlihat tidak normal?"


Menggeleng. "Ethan ...."


"Aku tak bisa memaksa. Tetapi, sebelumnya mari kita berdansa. Bukankah lagunya terlalu bagus untuk dilewatkan? Lalu ..., aku aku antarkanmu pulang."


***


Ini aku bagi dua part. Aku ngantuk parah banget.


Yang ingin Arumi dan Ethan bersama teruslah berharap demikian. Yang ingin Arumi dan Archilles bersama terus berharap demikian. Aku kadang diluar jalur bahkan oleh diriku sendiri.


Jangan sakiti Ethan atau Archilles dengan kata-kata jelek, ya. Please.


Tinggalkan pendapatmu!