My Guardian Angel (The Dust of Love)

My Guardian Angel (The Dust of Love)
Chapter 120. Àngel Que das Luz



Archilles Lucca menggeram jengkel. Membungkuk untuk memeriksa Ayah angkatnya.


"Raul?" Memanggil pelan. Harusnya Raul dengarkan peringatannya. Tak perlu dihabisi sia-sia. Tetapi, Raul masih hidup. Archilles bisa melihat bahwa Raul Lucca bernapas. Melegakan.


"Manis," siul Abercio. "Pria yang luar biasa. Miliki dua ayah sekaligus, Malaikat dan iblis. Ayah Malaikatnya selalu ingin melindunginya ...," angguk Abercio ke arah belakang. Dua orang pria menyeret Agathias yang terluka.


Jadi, temannya entah bagaimana tertangkap. Benarkan dugaan Archilles. Memang segala hal direncanakan secara matang dan Mansion Diomanta telah diintai mungkin sejak insiden pemukulan di rumah seminggu lalu.


"Sedang satunya inginkan kematiannya tetapi aku amati kamu lebih mencintai ayah penjahat mu dibandingkan yang dipuja satu kota," sambung Abercio. "Sungguh pria menarik."


"Lebih beruntung aku," balas Archilles. "Pria lain miliki satu ayah tetapi punya dua wajah. Domba dan Ular Berbisa. Negaraku tercinta akan tercengang pada kenyataan pahit."


"Ayahku memang selalu persis domba. Akulah bisa beracun yang mengendalikannya."


"Ya ya ya, aku percaya. Katakan apa yang kamu inginkan?"


"Pesta," jawab Abercio.


"Aku sedang puasa pergi ke pesta, minum alkohol, melihat wanita bu91l selama 40 hari menjelang pernikahanku."


"Owh, menarik. Kau tak mengundangku?"


"Terbuka untuk umum. Datang saja kalau kau punya waktu."


Abercio terkekeh geli. "Lihat dia! Pintar melucu."


Abercio mengajak para pengikut tertawa bersamanya. Bumi tidak pernah kehabisan manusia sinting. Keluh Archilles.


"Abercio ..., mari seperti terakhir kali. Hanya aku dan kamu. Kecuali kamu ingin dinobatkan sebagai pecundang."


"Teman, seorang bodyguard wajib kehujanan saat payungi bos mereka. Karena apa? Mereka digaji."


"Jadi, pecundang memang tak masalah buatmu?"


Abercio menatap tajam pada Archilles, berikan perintah.


"Urus dia! Lalu, lempar keduanya ke dalam mesin penghancur kayu. Ayah bodoh dan puteranya yang sok hebat."


Abercio duduk di atas kap mobil sedang pria-pria tangguh menyeringai senang pada Archilles Lucca. Lampu-lampu menyala dan kamera dokumentasikan secara langsung pertarungan. Terlebih ada sebuah senjata sangat aneh ditopang di kedua sisi dan moncongnya mengarah ke tengah arena.


Tiga belas orang tinggi di atas dua meter, berlehen beton, lepaskan pakaian mereka. Archilles Lucca awasi. Pertama kali dalam hidup kehilangan minat untuk bertarung.


Benar kata Nona Arumi Chavez. Maurizio Lucca dan Nastya Lucca membawa pengaruh positif begitu besar pada hidupnya. Padahal hanya seminggu ia tinggal bersama mereka. Dampaknya terasa. Ia muak pada senjata, perkelahian dan bau darah.


"Archilles, adikmu Chaterine tak punya masa depan. Seperti kertas yang mudah hancur dan rusak, Chaterine akan pergi sewaktu-waktu. Buka hatimu jika kamu peduli pada Ibumu yang tampak tegar tetapi mudah kesakitan. Juga, adik perempuanmu yang tersisa bagi kita dan kakek nenekmu. Bahkan pacarmu yang terlalu rapuh untuk ditinggal sendirian. Pikirkan aku setelah semua orang, tak masalah."


Archilles Lucca lepaskan mantel sisakan sweater. Ponsel bergetar.


"Aku perlu menjawab panggilan," katanya pada Abercio.


"Kamu minta ijinku?"


"Bersuara lebih keras Abercio saat aku bicara dengannya. Orang-orang akan tahu bahwa kamu telah perdayai seorang pria tua dan rencanakan pembunuhan."


Bergetar lagi. Archilles lekas menerima panggilan sebelum Arumi Chavez semakin ketakutan.


"Archilles?! Apa kamu baik-baik saja? Di mana kamu?" sambar Arumi Chavez panik. "Mengapa lama merespon?"


"Nona? Tenanglah! Apa Alfredo bersama Anda, Nona?"


"Ya, Archilles. Ada Lucky, Reinha, Aunty Sunny dan Aunty Marion juga. Di mana kamu, Archilles?"


"Aku akan antarkan Raul ke tempat cukur rambut, pergi ke mall belikan pakaian pantas untuknya dan makan bersama."


"Begitukah?" Arumi Chavez tak percaya. Nada gadis gelisah, menular pada Archilles.


"Jika nanti aku tidak datang padamu. Berarti aku mungkin langsung kembali ke Càrvado."


"Oh, itu tidak benar. Tolong mampir karena semua orang ingin melihatmu. Terlebih aku."


"Bukankah kita baru berpisah?"


"Aku butuh pastikan dengan mataku sendiri sebelum kamu pergi."


"Nona ...."


"Bisakah berhati-hati? Firasatku sangat buruk, aku tak tahu cara mengatasinya."


"Istirahat, Nona atau pergilah ke kandang dan ajak Aorta berkeliling. Bukankah Anda sangat lama tinggalkan dia?"


"Baiklah."


"Anda harus mulai lupakan pengalaman pahit Anda di Desember dan mulai beraktivitas lagi. Beberapa begundal ingin Anda hancur. Sayangnya, jauh lebih banyak yang ingin melihat Anda sukses. Mereka menanti-nanti karya Anda. Jangan biarkan mereka cemaskan Anda."


"Archilles, mengapa kamu mengatakannya seakan kita tak akan saling melihat lagi?"


"Apa kedengarannya begitu?"


"Ya."


"Anda terlalu terbawa suasana, Nona. Cuma motivasi pada umumnya. Aku mengatakannya karena aku mencintaimu."


"Aku menyayangimu juga, Archilles Lucca."


"Mari bertemu dua hari menjelang pernikahan, Nona."


"Baiklah."


Archilles Lucca aktifkan mode user umum setelah panggilan berakhir. Ponselnya tak akan berbagi informasi apapun bila hal buruk menimpa. Dalam pertarungan biasa, ia akan kalahkan semua orang. Abercio suka curang. Sekali ini kita lihat saja.


Tarikan napas dan ia kemudian pergi menjauh ke tempat yang lebih luas. Berharap orang-orang ini hanya fokus padanya dan abaikan Raul Lucca juga Agathias. Dalam lima menit ia menerima serangan dari segala penjuru.


"Habisi dia dan dapatkan uang kalian, c'mon Guys." Suara seseorang bicara.


Rata-rata miliki kekuatan lengan dan kaki. Gerakan mereka lamban dibanding dirinya. Walaupun demikian, ia tak punya waktu untuk pelajari dan antisipasi satu persatu. Berserah penuh pada insting bertarung.


Beberapa tumbukan beruntun menghantam rusuk juga punggungnya. Dalam dua puluh menit, enam orang tumbang. Dan lima belas menit berikutnya ia sangat gigih melawan enam orang lain. Ini pertarungan sulit. Karena butuh tenaga ekstra memukul bobot tegak dan kokoh yang lebih padat darinya.


Pria terakhir. Yang paling kuat, tetapi Abercio curang. Senjata laser dihidupkan. Membidik tangan dan kakinya.


Arrgghh!!!


Bertekuk lutut karena rasanya seperti disabet samurai tajam. Timbulkan efek lain, panas membara dan terbakar.


"Apa kamu suka?" tanya Abercio senang. "Perusahaanku sedang kembangkan senjata ini. Generasi terbaru dari senjata laser. Kamu patut berbangga karena uji coba ini dilakukan pertama kalinya di sini dan padamu. Buktikan, pria paling tangguh sekalipun akan menyerah pada senjata hebat ini. Kamu sedang berhadapan dengan senjata pembunuh nomer satu di dunia, aku namakan Arbera. Penghancuran fisik target, penghancuran termal. Kamu hanya terpotong dan terbakar."


Bidikan bergerak sekali lagi. Dikendalikan oleh Abercio.


"Aku pikir bisnismu cuma tentang hal-hal m35um." Archilles Lucca menahan kesakitan, pembuluh darahnya mencuat sepanjang leher. Sengatannya sebentar saja tetapi sangat mematikan.


"Aku berbisnis apa saja yang menguntungkanku. Kalau kamu mau jadi pengikutku, kita bisa serius pada sekte hebat. Dikendalikan oleh sebuah sistem. Kau dan aku. Jangan lupa pacarmu yang cantik jelita. Aku tak bisa berhenti bayangkan dia ketika mereka baringkan-nya di atas mezbah di bawah keagungan yang sesat. Aku mengintip dari balik topi dan menggigil pada keindahan alami. Betapa, aku menunggu giliranku tiba untuk memilikinya." Napas pria itu sekarat oleh hasrat dalam benaknya sendiri.


Archilles Lucca menggeram. Tujuan melamar Arumi Chavez adalah bukan untuk Aleix melainkan agar bisa ditahan Abercio. Keparat ini mengakuinya.


"Aku mengutuk sekawanan orang gila yang datang untuk kacaukan ibadah kami dan menculiknya sedang aku ingin terbakar di lantai neraka bersama gadis beliamu, Teman."


"Aku akan membunuhmu," kata Archilles Lucca pelan.


"Mari naikan ketajaman dan membunuhmu sebelum kamu membunuhku," kata Abercio mengatur senjatanya gunakan laptop.


Cahaya menandai target, akan segera kembali pada Archilles Lucca. Ini buruk. Karena tubuhnya bisa terpotong-potong hanya dengan sekali tembak. Berusaha berguling. Tubuhnya kaku. Semakin ia paksa bergerak, semakin banyak darah mengalir. Cahaya itu akan sampai.


"Tembak mereka, Bodoh!" Ia memaki pada orang-orang di sekitarnya.


Tiba-tiba saja, atap gudang jebol dan seseorang turun dari sana. Senjata turbo di tangan arahkan langsung pada sumber laser. Dalam sekali pencet, benda itu meledak. Semua orang berlindung.


"Shitssss!"


"Bawa Bos pergi dari sini!"


"Bunuh dia!"


Tanpa belas kasihan yang baru datang menembak ke segala arah di dalam gedung. Ke tempat di mana orang-orang bersembunyi. Kecuali mobil yang dibawa Archilles dari Mansion Diomanta.


Beberapa tong meledak hingga munculkan api. Pria terakhir berdiri di tengah medan tak terpengaruh seakan menunggu hanya untuk pertarungan tanpa senjata. Dan tak akan kena tembakan.


Raul Lucca bergerak. Mengangkat kepalanya dan berusaha bangun. Ia memeriksa kaki dan tangan Archilles yang berdarah. Sayatan sangat dalam mungkin berisi sesuatu yang melumpuhkan karena Archilles tak bisa bergerak.


"Archilles ...."


"Sesuatu semacam bius." Dia mengadu.


"Bertahan sebentar saja. Aku akan menggendongmu keluar."


Raul Lucca merobek lengan kemeja yang ia pakai dan membebat luka di kaki Archilles. Juga tangan yang terluka. Raul Lucca mengunci ikatan simpul.


"Apa kau baik-baik saja, Raul?"


Raul Lucca tak menyahut.


Archilles Lucca ingin mendongak. Lehernya kejang. Kenali siapa dia. Hanya ada satu orang di dunia akan datang padanya tanpa diundang. Semacam kutukan serta anugerah.


Dia turun seperti di circus show. Kedua kaki bergelantungan di hula hoop besi tanpa pengaman. Sedang dua tangan arahkan senjata otomatis hancurkan isi gedung. Bangunan akan segera roboh oleh senjata dan api. Dia kebablasan pamerkan dirinya seolah berharap dapatkan tepukan tangan. Dan dia suka jadi pusat perhatian. Di sangkanya ini arena sirkus yang tidak berbahaya?


"Baby, apa kamu baik-baik saja?" Mengerut pada Archilles Lucca. "Mengapa kau tak pernah ajak aku ke pesta yang seru? Padahal aku tak akan pernah merepotkanmu."


Loncatan turun dari hula hoop dan mendarat sempurna.


"Aku akan mengurusmu setelah bereskan masalah kita, Sayang. Senang melihatmu masih hidup."


Cara berpakaian sangat aneh. Leher jenjang berkalung duri-duri runcing. Musuh akan pikir-pikir untuk mencekiknya sebab sama saja bunuh diri.


"Halo, Koi ...," sapanya pada Abercio. Melambai dengan segala ke53k514n yang dimiliki. Beritahu Archilles, Tatiana cukup dekat hingga punya panggilan kesayangan.


"Stella Marry ..., Archilles Lucca dark lover. Kebetulan kamu di sini, Nona. Pekerjaanku jadi lebih mudah."


Tatiana tersenyum lebar. "Mari kita lihat. Apa yang bisa aku atasi." Hampiri ke tengah medan yang kacau. Sementara api mulai merambat. Putari si pria besar bak petarung-petarung hebat sebelum beraksi.


Ambil waktu melipat tangan dan menonton si pria besar. Seakan hendak baca kekuatan dan mengendus kelemahan lawan. Dalam langkah cepat, melesat dan menendang. Tetapi, musuhnya berbobot besar itu bergeming. Tak bergeser satu inci pun.


"Oh, luar biasa perkasa."


Di percobaan kedua, Si pria besar menangkapmu tubuh ramping Tatiana dan memutarnya di atas kepala. Tatiana malah terlempar ke tumpukan gentong-gentong besar.


Segera bangun.


Masukan tangan ke dalam saku. Ketika, kembali berlari tangannya berubah penuh duri panjang dan tajam. Tancapkan tepat di jantung. Sangat cepat merayap naik ke leher si pria lalu sekuat tenaga menggigit.


Si pria besar menjerit kesakitan. Tangan - tangan berotot memukulinya tetapi Tatiana tak mau lepaskan. Pria besar segera terjatuh. Bertekuk. Tatiana mencabik nadi di leher si pria dengan giginya. Lalu, meludah ke lantai bersama banyak darah. Pria itu mati di tempat.


"Oh, segini saja? Cepat sekali dia mati?" Tatiana mengusap darah di bibir. "Aku yang terlalu hebat? Apa dia memang payah?" Tatiana tidak puas. Ia mengangkat wajah. Temukan Abercio sedang murka. "Apa masih ada lagi? Anda akan hidup abadi jika digigit olehku?" tanyanya pada Abercio.


Archilles Lucca perlahan mulai hilang kesadaran. Sesuatu mungkin diinduksi ke dalam cahaya? Mungkinkah? Ia mulai mual dan ingin muntah.


"Mari kita pergi, Archilles. Selagi mereka sibuk!"


Raul Lucca berikan punggung. Ia bantu Archilles naik di sana. Abercio melihat itu.


Meraih senjata hendak menembak tetapi Tatiana lebih cepat. Lemparkan tiga duri panjang pada pria itu. Mau tidak mau Abercio kembali bersembunyi.


"Bawa Archilles Lucca pergi, Raul!" suruh Tatiana. Luar biasa, gadis ini kenal Raul juga.


"Kita masih punya urusan, Nona. Semoga bisa bertahan dari api!"


Abercio memencet sesuatu di laptop. Tempat Abercio berpijak segera lenyap ke bawah tanah.


Tatiana memilih menyusul Raul yang tertatih menggendong Archilles di punggung. Akan mengejar Abercio nanti. Agathias terkapar di pojok gedung.


"Tatiana tolong temanku!"


"Ya, setelah kamu aman dalam mobil," sahut Tatiana meraih handling pintu. Raul Lucca turunkan Archilles agar bisa masuk ke dalam mobil. Baru saja berbunyi, "Klek", denting alarm detik adalah peringatan. Seseorang menaruh peledak di mobil.


"Menjauh dari mobil!"


Tatiana mendorong tubuh Archilles Lucca sekuat tenaga hingga terseret jauh dari mobil dan terkapar di lantai.


Lima detik. Mobil meledak dahsyat. Lantai bangunan bergetar. Apinya segera menyambar apa saja. Tatiana terlempar ke dinding. Tergeletak di sana. Tak jauh darinya Raul Lucca tak bergerak.


Ledakan kedua tidak sehebat pertama tetapi sebabkan puing-puing dan plat besi alumunium, serpihan mobil terbang membumbung. Mata-mata Archilles melihat jelas benda-benda melayang dan akan menimpanya.


Pejamkan mata. Ia tak bisa bergerak. Bahkan untuk menjerit ketika wajah dan sebagian tubuhnya dihantam plat amat sangat panas.


Kesadaran begitu cepat berakhir.


Api sangat cepat merambat. Akhirnya gedung itu akan roboh. Tatiana menggeliat. Sadari situasi.


Separuh bergetar.


"ARCHILLES?!"


Tertatih-tatih bangun. Kerahkan kekuatan. Tak cukup bisa. Menyeret tubuh Archilles Lucca keluar.


"No, Baby!"


Wanita itu panik.


"Tuan Muda?!"


Agathias Altair terseok-seok datang. Mereka keluarkan dia dari bawah reruntuhan. Agathias menyentuh pecahan-pecahan plat panas yang menempel di wajah Archilles.


"Tidak! Jangan lakukan itu! Daging di wajahnya akan ikut terangkat."


Tatiana mencuri mobil orang di luar. Mereka berkendara.


"Anna Marylin ..., apa kamu mungkin di klinik?"


"Kau terluka? Obati dirimu sendiri, Tatiana."


"Anna ini sangat mendesak."


"Mood kakakmu sedang buruk. Dia terus ingin melihatku 24 jam. Aku hanya bolak-balik di sini sampai kesemutan."


"Archilles terluka parah, Anna."


"Aku ke klinik sekarang!" Suara Anna Marilyn menegang.


***


Jadwal Novel ini berakhir 30 Maret tetapi mungkin lebih cepat dari itu. Cintai aku. Tinggalkan dukunganmu.