
Obat apa yang terakhir kali dihirupnya? Apakah ... sesuatu yang terlarang? Sebab Arumi merasa sempoyongan sedikit melambung. Sensasi teraneh yang belum pernah ia rasakan. Namun, beruntungnya ia masih miliki banyak kesadaran.
"Tinggalkan kami!" suara pria itu lagi. Em, Arumi makin mengenalinya kini.
"Tuan ..., pengantin wanita kami tidak makan sejak dia diculik." Seorang wanita melaporkan. "Hampir tiga hari."
Tidak makan tiga hari? Pantas saja Arumi Chavez merasa sangat lemas tanpa tenaga. Namun, area di dekat pergelangan tangan sedikit nyeri, apakah ia diinfus? Kemungkinannya sangat besar. Sebab tak mungkin ia hidup tiga hari tanpa subsidi makanan.
"Sssstttt! Dengar Laeny! Semua ini berkat roh 'yang agung' bekerja pada gadis pengantin kita," sahut wanita lain. "Terpujilah 'dia' di tahta tertinggi."
Arumi Chavez ingin muntah. Dirinya sendiri beragama dan percaya pada Tuhan, tetapi, dia tak akan berani paksakan apa yang ia yakini pada orang lain. Mengapa orang-orang ini bertindak sejauh ini?
"Aku akan mengurusnya! Kalian bisa pergi!" sahut si pria terdengar mirip seseorang yang tengah memaki, "omong kosong". Nadanya jelas menghujat pada roh "yang agung", tidak percayaan.
Pintu tertutup pelan. Pria itu mendekat.
"Oh ..., sh1111ts!"
Arumi Chavez mendengar umpatan mendesis di sekitar dari mulut si pria.
"Nona Arumi?!" Keheranan campur kebingungan. Makin dekat. Kini bernapas tak jauh darinya. "Arumi Chavez. Kamukah ini?" Tubuh Arumi digoncangkan pelan.
Arumi ingin menyahut tetapi ia mati lemas.
"A ..., pa ini? Mengapa kamu di sini? Di mana, Lucca?"
M3nd3s4h tidak senang. Bunyi telpon memanggil seseorang setelah tiga menit si pria menyadari situasi dan mungkin pastikan keadaan harus aman untuk panggilan rahasia.
"Hedgar ...."
Hedgar? Apakah Tuan Hedgar Sangdeto?
"Ada apa? Kau tidak bosan menggangguku?"
"Kamu tahu siapa yang dibawa orang-orang gila ini untuk dis3tubuh1 pendeta tertinggi sekte?" tanyanya dengan nada rendah tetapi sangat emosional.
Orang-orang gila? Apa dia tidak termasuk? Cemo'oh Arumi dalam hati.
"Hanya seorang gadis yang memenuhi kriteria. Apa aku harus secara teliti peduli siapa kakek neneknya? Atau siapa orang tuanya? Aku hanya investasi untuk siaran langsung yang menguntungkan. Aku tak peduli hal lainnya."
Meskipun kecil, Arumi bisa dengar suara dari seberang. Mendengar percakapan, nyali Arumi menciut. Ini sungguh darurat.
"Arumi Chavez Diomanta."
Hening.
"Apa maksudmu?"
"Kamu mungkin tak akan peduli pada gadis manapun selama siaran ini menguntungkan mu, tetapi, bagaimana kalau aku kabarimu bahwa gadis ini ..., Arumi Chavez Diomanta?"
Lalu ....
"Sial! Terkutuklah neraka dan seluruh setan di dalamnya. Tidak mungkin!"
"Ya, kita akan memulai episode baru peperangan klasik. Kali ini, aku bisa melihat semua kepala bergabung untuk menyerangmu. Tidak terkecuali kakak ipar Arumi Chavez, Elgio Durante."
"Kamu idiot, Itzik Damian?! Apakah semua ini tampak di sengaja? Aku lebih memilih menculik Puteri perdana menteri dibanding ponakan Hellton Pascalito."
"Apa yang harus aku lakukan?" tanya Itzik Damian modar mandir. Mantel putihnya melambai-lambai. Arumi meski berat sedikit mengintip dari bulu matanya yang terasa dibebani setumpuk jerami. "Oh sial! Hellton Pascalito akan datang dan mencekik aku sampai mati! Lucky Luciano akan menggantung kepalaku di sebuah menara dan darahku akan menetes sia-sia ke bumi. Aku akan segera di makamkan di antara ribuan burung yang suka memangsa daging manusia."
Arumi segera mencibir. Jadi, manekin hidup ini terlibat dalam kesesatan.
Tuhan tolong kirimkan aku b0k0ng panci, wajan atau apapun itu, aku akan segera melabur si mayat hidup dengan arang.
Mengapa ..., tubuhnya susah digerakkan? keluh Arumi mulai frustasi.
"Bagaimana bisa kamu sampai seceroboh ini, Itzik? Kamu suka dipukuli hingga berdarah? Kau bajingan sialan yang terus saja bikin aku marah. Keluarkan dia dari sana sebelum matahari terbenam."
"Ini agak sulit sebab 13 Legion telah berkumpul di sini dan mengelilingi tempat ini sejak siang tadi."
"Berhenti buat alasan! Lebih baik kamu mati digantung terbalik oleh anggota sekte daripada kamu ditemukan oleh pasukan Hellton sedang menggiring gadis itu ke neraka. Kau mengerti maksudku? Mereka siarkan langsung proses penjemputannya, mustahil kamu tak memantau siarannya."
"Aku sibuk pemotretan!" jawab Itzik sedikit tinggi hati. Arumi Chavez hanya mencibir pria itu dalam hati. Dasar tukang pamer.
"Cih! Kulihat kau mulai nikmati popularitas-mu!"
"Andai aku menonton, aku akan beritahu mereka bahwa gadis ini tidur dengan pengawalnya di rumah pantai." Itzik berkata ragu. "Aku melihatnya." Lebih yakin.
Dan pandai memfitnah, pikir Arumi jengkel.
"Katakan pada salah satu di antara para petinggi. Mereka mungkin berubah pikiran. Jangan libatkan aku, kau dengar?"
"Apakah itu mungkin!"
"Coba saja, Bodoh! Atau cari gadis lain yang mirip dengannya. Persetan dengan roh gentayangan, aku hanya ingin uangku berbunga tanpa mengganggu Diomanta."
"Ya, ya, ya, seperti biasa kau tak mau rugi. Semoga bayimu miliki sifat dan karakter Anna Marylin. Aku tak suka pada penerusmu yang akan terus menginjak aku. Merry Christmas untukmu dan Anna Marylin. Aku akan selesaikan ini sendirian."
"Bawa dia keluar dari sarang dan biarkan keluarganya menemukannya tanpamu di sisinya."
"Ini sulit karena gadis ini idolaku!"
"APA KAU MuLAI SINTINg, ITZIK DAMIAN?!" pekikan keras dari sebelah buat Itzik Damian jauhkan ponselnya.
"Baiklah! Baiklah! Sampai nanti!"
Ponsel dimatikan. Itzik Damian merengus gusar. Mengumpat, kedengaran begitu kesal.
"Dasar payah! Berhenti menjerit padaku, Hedgar! Aku akan lemparkan Arumi Chavez ke danau hitam dan tinggalkan namamu di tubuhnya! Dengan begitu Hellton akan mengambil Anna dan kau akan menangis macam pria bodoh."
Andai ia bisa bicara selancar itu pada Hedgar Sangdeto. Itzik akhirnya hanya hampiri Arumi Chavez.
"Hei ..., Arumi Chavez apa kamu akan terus tidur sedang upacara akan segera dimulai? Kalau jadi kamu, aku akan segera bangkit dan mulai berlari."
Arumi coba untuk gerakan kepala sedikit demi sedikit.
"Apa kamu rasakan sesuatu? Tunggu di sini, aku akan segera kembali."
Pria itu pergi, pintu sepertinya dikunci dari luar. Kemudian datang lagi.
Tubuh Arumi dipapah duduk.
Berani sekali mayat hidup ini menyentuhnya?
Sesuatu disentuhkan ke bibir. Sepertinya moncong teko, gelas atau entahlah. Arumi menelan cairan seteguk, dua teguk, tiga teguk. Rasa aneh.
"Ini teh herbal yang bisa menetralisir apapun dalam tubuhmu."
Arumi Chavez siuman penuh lima belas menit setelahnya.
"Di mana Lucca? Apakah kamu memecatnya setelah bosan dengannya? Apa dia tak tahan gombalanmu?"
"Archilles akan datang dan memenggal kepalamu."
"Ya, aku rasa juga begitu," sahut Itzik Damian lepaskan mantelnya, selimuti tubuh Arumi yang hanya gunakan kain linen putih sedikit menerawang karena Arumi telah dipersiapkan untuk dipersembahkan di atas mezbah. Tak percaya ia berubah penuh moral pada gadis menawan di depannya. Berapa lama Reinha Durante pengaruhi psikologinya. Ia menjadi lebih baik. Bul5h1t! "Hanya saat dia melihatku memelukmu."
"Menyingkir!"
Arumi mengerang setelah meraba lehernya dan ia tak sadar telah kehilangan kalungnya. Namun, mengapa hatinya tenang, tanpa panik berarti, padahal benda itu sangat berharga.
"Dengar Arumi Chavez, aku akan membawamu keluar dari sini. Apa kamu punya nomer ponsel Lucca?"
"Aku tidak hafal," geleng Arumi tak percaya ia tak ingat satupun angka.
"Ya, aku lupa kalau gadis ini sangat bodoh!"
"Tutup mulutmu! Aku hanya tak suka angka. Kecuali angka uang."
"Dan dia materialistik. Setidaknya kamu mengingat nomer pacarmu."
"Ternyata kau suka bergosip tentangku."
"Tak sulit ramalkan dengan siapa kamu akan berakhir dilihat dari caramu merayu Lucca. Seniormu adalah pria beruntung karena putus denganmu. Ia tahu bahwa suatu hari kamu akan curang padanya."
"Aku hanya akan men-dial number 1 di ponselku untuk bisa terhubung dengan Archilles. Kau selalu menguntit pacarku, aku yakin kau punya nomernya!"
"Sayang sekali di ponselku, no.1 adalah nomer Hedgar Sangdeto. Aku mungkin akan bertanya pada Tatiana Sangdeto."
"Apa Tatiana seorang wanita?" tanya Arumi lekas kumat cemburunya. "Mengapa dia punya nomer pacarku?"
"Ya," angguk Itzik. "Dalam duniamu Archilles Lucca adalah milikmu. Tetapi, dalam dunia Tatiana, Archilles Lucca adalah miliknya! Kalau jadi kau, aku akan cemas. Pacarku disukai wanita matang."
"Archilles hanya mencintaiku."
"Tentu saja, teruskan keyakinanmu."
"Kau brengsek! Aku percaya diriku sendiri. Tatiana mungkin hanya sejenis ular lain semirip Eva Romero. Kau bebas berkeliaran pasti karena Lucky tak ada di tempat. Semoga kakakku segera menemukanmu dan masukanmu ke dalam freezer seperti terakhir kali."
"Aku tak suka punya bos yang romantis! Karena virusnya suka menyebar. Dengar, Nona ..., aku akan menolongmu."
"Kau akan menolongku lalu meminta imbalan."
"Aku melihatnya tertulis di alis putihmu."
"Kalau kita tidur bersama ..., mereka tak akan jadikan-mu pengantin."
Itzik bicara serius tanpa basa-basi sedang Arumi menyipit. Tidur dengan pemimpin sekte? Tidur dengan manusia putih? Apakah dirinya ada di dimensi lain?
"Kita bisa melakukannya di sini," tambah Itzik Damian mengambil kesimpulan pada gadis yang hanya melongo padanya, seolah-olah Arumi sedang bayangkan mereka bersama. Pria itu lekas kegeeran. Mata biru berbinar terang, dekati Arumi Chavez yang terlalu shock untuk memaki. Salah tanggap dari sikap Arumi Chavez. Pria itu makin dekat, makin berani. Akan sampai padanya.
Arumi refleks mengangkat kaki kanan. Gunakan tenaga tersisa menendang tepat di rusuk Itzik Damian yang tak sangka akan menerima perlakuan kasar hingga pria itu terlempar dari ranjang. Heran saja, tidak makan hampir tiga hari karena terus dibius dan tidur darimana gadis ini punya kekuatan?
"Jangan coba padaku, Brengsek! Aku akan gunakan *4**4* panci untuk menggosok otak kotormu. Pegang kata-kataku."
"Ini gagasan paling logis, tidur bersama."
"Semoga Archilles segera datang dan rekatkan mulutmu. Aku yakin bukan hanya kepalamu yang hilang. Dia akan m3mut1l4s1mu jadi bagian-bagian kecil dan kirimkan pecahan-mu pada bosmu. Terlebih bagian bawahmu!" ancam Arumi Chavez seakan ingin punya samurai dan menebas leher Itzik Damian.
"Ugh, aku takut. Nyalimu besar juga, gadis pintar! Buka matamu dan coba pergi dari sini!" tantang Itzik Damian. "Ayo, cobalah! Kita lihat apa yang akan terjadi padamu."
Arumi Chavez menggeram.
"Dia akan datang. Aku percaya padanya."
"Biar aku bantu."
"Tidak perlu."
"Jangan sungkan, aku membantumu karena aku menyukaimu. Bukan soal tidur denganmu meskipun itu ide paling brilian."
"Seluruh tubuhmu putih, aku yakin otak dan hatimu sangat hitam."
"Hanya aku yang bisa menolongmu keluar dari sini."
"Akan aku ingat kesialan ini, keluar dari mulut harimau masuk ke mulut buaya putih." Arumi Chavez menyerah dan akan dengarkan ide Itzik Damian.
"Beruntung buaya satu ini mengidolakanmu!"
"Kau bisa jadi admin fanpage-ku. Aku dan adminku sering hang out di waktu tertentu."
"Ya, aku sudah bergabung dan dapatkan tiket juga voucher gratis temu fans Arumi Chavez diawal Januari. Kamu akan singkirkan admin lamamu dan biarkan aku satu-satunya yang akan berkuasa."
"Tidak adil!"
"Hanya kalau kamu keluar dari sini! Sebab, pendeta tertinggi akan tiduri-mu nanti setelah ritual suci. Lalu, akan menunggui bayimu selama tiga bulan penuh sebelum diambil."
"Menjijikan! Kalian tidak normal! Berhenti mengulang kata tiduri. Otakmu hanya diisi oleh m4ks14t. Mengapa kau terlibat? Kau bahkan terdengar mengejek pemimpin sekte?"
"Kami dapatkan keuntungan 50% dari uang yang dihasilkan di acara ini. Penyatuan-mu dan pemimpin sekte akan ditayangkan secara live di dalam ruang-ruang privasi. Ada lebih dari tiga triliun yang akan kami dapatkan. Mari pergi!"
Itzik Damian bangkit. Itzik Damian periksa ke pintu setelah membukanya sedikit.
Beberapa orang datang dari ujung koridor, memakai jubah hitam pekat dan topi runcing.
"No No No! Mereka datang! Pura-pura pingsan!"
Arumi menyeret kaki gemetaran tunggang-langgang ke ranjang dan lemparkan diri pura-pura mati lemas.
"Mereka akan memeriksamu." Itzik kembali memakai mantel putihnya.
Ternyata para wanita.
"Satu jam lagi, kami akan membawanya, Tuan."
"Baiklah!"
Para wanita pergi ke ranjang. Pakaikan minyak-minyak wangi, rempah dan lain-lain. Rambut diatur. Sematkan mahkota. Sedikit pijatan. Tubuhnya digerayangi para wanita.
Menit berlalu mereka pergi. Wanita paling muda ditahan Itzik Damian.
"Nona ..., kamu akan tinggal sebentar untuk menemaniku."
Si gadis malu-malu. Pikirannya mungkin Itzik Damian naksir padanya. Tak lama berselang, gadis itu melorot jatuh ke tanah.
Arumi mengintip dan si mayat hidup sedang menjelajahi tubuhnya.
"Dasar m35um!"
Arumi lemparkan mahkota bunga di kepalanya pada Itzik yang lekas menghindar. Memungut mahkota dan perbaiki.
"Berhenti memakiku!"
Kini menukar pakaian si gadis yang dibuat pingsan dan berikan pada Arumi. Itzik mengatur sedemikian rupa hingga si gadis muda di atas ranjang mirip pengantin.
"Mari pergi! Berjalan seperti biasa. Atau kamu akan ketahuan."
Keduanya keluar dari ruangan. Arumi tak percaya ia akan memakai jubah hitam pekat bertopi runcing dan mencium aroma lilin tajam di sekujur tubuh.
Mereka berhasil keluar dari tempat yang sangat aneh itu. Itzik menyapa orang-orang secara sembrono kelewatan supel hingga Arumi ingin mencekik pria itu. Itzik dan Young Vincenti terlihat punya karakter pinang dibelah dua. Arumi yakin pria ini juga tak pandai berkelahi seperti Young.
Mereka baru saja keluar dari gerbang, dua puluh langkah di sebuah padang rumput saat suasana di dalam gedung berubah gempar.
Alarm dinyalakan dan suasana sedikit ramai. Itzik temukan sebuah mobil, mendorong Arumi Chavez ke dalam mobil. Pergi ke balik kemudi nyalakan mesin mobil dan mulai berlari sedang di belakang gerbang terbuka lebar dan beberapa mobil mengejar.
"Kamu pasti ingat setidaknya satu nomer orang-orang terdekatmu."
Mereka mengebut.
"Leona 2, Ibuku 3. Aku ingat nomer ponsel ibuku."
"Kita tak bisa menelpon di area tadi. Akan ketahuan ketika kita lakukan panggilan ke nomer yang tidak terdaftar. Hanya setelah 6 km. Kamu akan turun di sana dan menelpon keluargamu. Aku akan menahan mereka."
"Kau baik sekali!"
"Tenang saja, ini tidak gratis."
"Baiklah, aku akan gantikan admin utama fanpage-ku denganmu. Semoga setimpal."
Baru saja lewati dua teluk di km 2, masuki terowongan gelap barisan mobil datang dari depan.
"Sial!" Itzik Damian mengumpat sedang Arumi Chavez melempem di kursi mobil ketakutan. Jantungnya berdetak sangat cepat karena instingnya beritahu bahwa pelarian mereka akan berakhir sia-sia.
Itzik berpikir untuk mundur tetapi di belakangnya rombongan mobil lain buntuti mereka.
Seruan mereka bergema dalam terowongan. Oleh bahasa aneh.
"Apa yang mereka teriakan?"
"Mereka tak akan menyakitimu, Arumi, untuk saat ini!"
Seseorang turun datangi mereka, menarik pintu mobil dan minta Arumi turun. Pegangi Arumi sebelum gunakan sapu tangan membuat Arumi Chavez pingsan lagi. Sebelum matanya tertutup ia melihat Itzik Damian dipanah seseorang dari arah belakang.
Entah berapa lama, Arumi Chavez terbangun kini oleh hawa sangat dingin. Seseorang terlihat di ujung pelupuk matanya. Itzik Damian tergantung di palang kayu, kaki-kakinya dipaku dan sebuah cawan emas berkilau di bawah menampung darah yang menetes dari lukanya. Kepala pria itu terkulai tetapi Arumi bisa menandai kehidupan dari napas terseok-seok.
Di sisinya bagian atas lambang itu lagi, lima sudut sedang di belakang Itzik sebuah tanduk merah menyala dibikin seakan nyata. Ruangan terasa magis oleh nuansa hitam dan temaram. Hanya lilin menyala dari aroma terbakar.
Kaca-kaca dinding dipenuhi mozaik kartu begitupula bagian kubah. Bedanya lebih banyak diselingi gambar-gambar paling vu1g4r berisi percintaan s3s4m4 jenis, b3d4 jenis bahkan campur aduk hingga Arumi terserang mual dan nyeri kepala hebat. Tempat ini memang didedikasikan untuk menghujat Tuhan.
Seseorang bicara di mimbar. Pendeta tertinggi.
"Lilin merah di sayap kanan. Lilin putih di sayap kiri! Lilin hitam adalah ujung tombak. Kita akan masuki ibadah suci."
Lonceng kecil berbunyi terus-menerus di tangan seorang pria yang tak bisa Arumi lihat, mengelilingi tempat ia dibaringkan. Beberapa kepala memegang masing-masing piala, mangkok emas, pedang dan tengkorak sepertinya sungguhan tengkorak manusia.
Beberapa orang diatur dengan kamera. Lampu menyorot tepat padanya, siluet muda dari tubuhnya terpantul tepat di pusat simbol. Tanpa pakaian. Arumi tak sadar telah menggigil. Para jemaat mereka memenuhi ruangan. Tenang dan hening diawalnya.
Upacara dimulai dengan lagu-lagu yang familiar oleh Arumi, dari penyanyi internasional tetapi secara aneh dinyanyikan secara reserve. Ia menjadi merinding sebab bagaimana bisa lagu-lagu yang menempati top chart ternyata adalah lagu-lagu memuja setan? Ia pikir dulunya adalah konspirasi untuk matikan kreativitas seorang musisi. Kini, setelah ia mendengar langsung, ia menjadi sangat ketakutan.
Mantra-mantra aneh dibacakan, seseorang berkeliling mengumpulkan sesuatu dari semua yang hadir dalam sebuah cawan. Dua orang lain ikut dibelakang tanamkan chips di dalam nadi masing-masing orang. Si pendeta memberitahu bahwa mereka bisa dapatkan kemudahan di seluruh dunia hanya dengan scanning tangan mereka.
Lalu, sesuatu yang lebih dahsyat dari itu dimulai. Sebuah patung manusia berkepala kambing dengan dua tanduk runcing, terbuat dari emas bagian tubuhnya di arak masuk ke dalam ruangan oleh pria-pria berjubah yang bahkan tak tahu bagaimana mereka bisa berjalan teratur dengan kostum paling aneh yang pernah dilihat Arumi.
Orang-orang di dalam ruangan mulai menghujat Tuhan dengan kata-kata kasar dan sadis, bahwa manusia hanya perlu mencintai dirinya sendiri karena manusia menciptakan dirinya sendiri dari sebuah kekacauan yang teratur. Mereka menentang monogami, poligami atau aturan. Hanya akan penuhi h4sr4t, n4f5u tanpa pandang jenis makhluk hidup. Mereka bebas melakukannya dengan kuda dan sapi atau hewan lain untuk pemenuhan kehendak bebas tanpa terikat.
Pendeta berkata; "Mari kita sembah dia yang agung, memujanya dengan segenap hati!"
Semua orang membungkuk, mengangkat tangan mereka.
Patung itu kemudian di tempatkan di hadapannya. Arumi awasi tubuh patung, berpikir ia mungkin mulai terhipnotis kini oleh keindahan di depannya. Bagaimana bisa seseorang membuat patung itu sangat detail.
Lengan berotot, dada dan perut seorang pria yang tanpa sadar membuat Arumi bergetar. Oh, Arumi Chavez yang benar saja? Apakah ia disuntik sesuatu sampai-sampai terpesona pada patung berkepala kambing? Ini gila.
Mengapa sangat mudah terbuai pada keindahan sesat? Ia merasa jatuh cinta pada benda yang ia pikir bahkan tidak bernapas.
Tuhan selamatkan aku! Apa aku terkena mantra? Sihir? Apakah Tuhanku akan diam saja? Apa aku bukan anakMu? Selamatkan aku dari perasaan berbunga-bunga ini?
Matanya tak mau pergi pada pahatan aestetik. Tangan kanan patung memegang tengkorak sedang satunya menggenggam tombak. Jari-jari emas yang indah tetapi mengapa jari tangan kiri patung cuma empat?
Di mana jari manisnya?
***