
"Anda tampak lemas, Sir? Malam Anda pasti sepanas kawah api vulkanik di Danakil. Anda datang terlambat jauh ke sekolah."
Manuel Cesar mengambil tempat di depannya, sangat nyaman di sisi Beatriz yang bertampang lesu. Beltran tidak ke kantin hari ini, mungkin di perpustakaan. Mata Beatriz sedikit sembab. Tak sulit menebak apa yang tengah terjadi.
Pemicu konflik dan yang paling diuntungkan adalah orang yang sama, Manuel Cesar. Pria muda nikmati udara dan situasi Beatriz. Lebih bersemangat dari biasanya.
Eva Romero di meja terjauh bersama gengnya, tidak mengusik Archilles. Tak mencuri pandang sama sekali. Baju Eva rapi meski dasinya masih tak dipakai. Muridnya sungguhan trauma pada warning Arumi Chavez.
Well, semua berjalan baik kecuali Archilles merasa hidupnya hilang kedamaian sejak Nyonya Salsa nyatakan perang tadi pagi. Ia tak tahu apa yang akan dilakukan Nyonya Salsa padanya. Ia hanya akan menanti dan menerima.
"Beatriz sedang makan, Cesar. Hormati temanmu!"
"Em, Beatriz tak akan terganggu," sahut Cesar melirik pada gadis di sebelah yang acuh tak acuh. Mengulum senyuman tipis-tipis di atas raut berandalannya itu. Jelas terjadi sesuatu. "Ceritakan padaku! Tak mungkin hanya berciuman."
"Kamu sangat tertarik pada kehidupan pribadiku, ya?"
"Uhhum, aku penasaran. Apa Anda masih tinggal di Biara? S3*5 di luar nikah adalah pantangan utama dalam biara."
"Apa yang kamu harapkan, Cesar?" tanya Archilles. "Aku di luar gerbang biara dengan koper?" Archilles memandang Cesar lalu m3nd3s4h.
"Tidak sembunyi-sembunyi bermesraan dengan pacar Anda di keramaian, aku yakin Anda lebih menggigit saat hanya berduaan."
"Sayang sekali, dugaanmu meleset. Terlebih pacarku dua tahun lebih muda darimu, Cesar. Jika aku menyentuh lebih dari yang kamu lihat semalam, aku akan dituduh 'monster pemakan anak'."
Nona Arumi masih jengkel soal Eva Romero dan temukan cara menyiksa Eva. Mereka sedikit romantis di tengah keramaian konser musik.
"Pengendalian diri Anda bagus juga. Patut ditiru. Aku tak akan sanggup." Cesar terkekeh kecil, ujung ekor matanya kedapatan pergi pada Beatriz.
"Em?! Terdengar kamu seakan telah lakukan sesuatu pada Beatriz?" Archilles menatap muridnya tajam.
"Aku cuma mencium pacar satu mingguku dan kepergok Beltran Domingo. Pria itu sedang patah hati sekarang di sudut sekolah!"
Archilles berdecak. Kehabisan kata dan Beatriz sembunyikan kemarahan dalam piring makan siangnya.
"Apakah materi presentasi- mu telah selesai? Giliranmu nanti!" Archilles mengganti topik.
"Ya. Aku menggendong kelompokku. Mereka semua pemalas. Jonathan dihukum ayahnya. David Richardo dan Jhon Stuart hanya bermain game sepanjang program. Adam menonton tayangan tunda bola kaki berulang kali. Eva Romero patah hati padamu, hanya menonton film. Aku mencari materi, membuat power point. Aku yang presentasi dan juga mungkin harus menjawab pertanyaan kelompok lain."
Archilles tahu pria ini sedang mengambil hati Beatriz. Gadis di sebelah tak peduli, mengunyah kentang goreng tanpa minat. Pikiran Beatriz terbang entah kemana sejak tadi.
"Bukankah harusnya terima bersih? Kamulah bosnya."
"Beatriz mengubahku," kata Cesar menatap lurus pada Archilles.
"Terlalu spontan. Apakah akan terus konstan?"
Archilles Lucca menyipit, bibirnya sedikit naik. Beatriz tampak tidak mau terpengaruh sama sekali.
"Beltran akan tamat sebentar lagi, gadis ini akan bersamaku. Apakah ada kemungkinan kami sekelas?"
"Kalau nilaimu bagus, aku bisa menulis rekomendasi pada kepala sekolah. Namun, kamu tidak boleh paksakan kehendak-mu padanya. Beatriz akan bersama seseorang yang ia cintai dan mencintainya."
"Masalah itu, kita berbeda, Guru. Aku akan bersama gadis yang dicintai Beltran. Setuju atau tidak."
"Kamu sedang terobsesi bukan pada Beatriz tetapi pada Beltran. Melanggar aturan dasar sebuah hubungan yang pantas dihormati. Ujungnya akan buruk bagimu, Cesar."
"Aku bukan kaum melankolis dramatis yang suka pikirkan akhir sebuah kisah. Penganut eksistensialis sepertiku memegang kemerdekaan sebagai norma. Kami cenderung tidak pertimbangkan aturan, hukum, tata tertib karena hidup harus terbuka."
"Penganut paham itu cocok tinggal di rumah dan tidak perlu bersosialisasi di sekolah." Beatriz akhirnya menoleh. "Ujung dari semua ini, aku semakin membenci sikapmu yang tidak rasional."
Beatriz bangun dari duduk. Tangannya ditahan Cesar, ditarik hingga duduk.
"Kamu juga harus temani aku makan siang."
Archilles menghela napas panjang.
"Cesar, kamu akan menjaga sikapmu padanya."
Archilles pergi dari sana setelah sedikit nasihati Cesar. Tak akan mempan tetapi ia perlu mencoba, bukan? Ia kembali ke ruang guru. Membuka buku aliran filsafat yang berkaitan dengan ekonomi. Membaca. Mencerna sedikit, bertanya-tanya, apa yang akan dilakukan Nyonya Salsa padanya.
Apa?!
"Guru Lucca, Anda dipanggil Kepala Sekolah ke ruangannya. Turnamen basket antar kelas akan dimulai dan ada piala football yang harus kita menangkan. Aku bersemangat."
Guru Ivy bicara sambil berjalan ke meja kerjanya.
"Anda akan mengajakku jadi asisten Anda saat latihan basket."
"Owh, apa ada yang menarik perhatian Anda?" tanya Archilles Lucca berdiri.
"Ya. Aku pikir anak waliku juga minta Anda sebagai pelatih mereka."
"Belum aku setujui."
"Uhum, baiklah. Aku harap Anda pertimbangkan permintaan mereka, Guru Lucca. Aku akan menolongmu saat ada lomba musik. Kita bisa bertukar jasa."
"Akan aku pikirkan."
Archilles Lucca pergi ke ruangan kepala sekolah. Dilihat dari wajah Tuan Luiz Armando, Archilles tak perlu menebak ada apa.
"Guru Lucca ...."
"Yes, Sir."
Kepala sekolah perlihatkan banyak folder di email dan kini sedang dicetak.
"Aku menerima banyak file tentang Anda."
Archilles terdiam. Tak ingin melihat.
"Sangat disayangkan Anda terindikasi mengirim resume palsu pada sekolahku dan masuk kemari. Walaupun aku menyukaimu tetapi jika data ini bocor, sekolahku akan disorot. Aku tidak siap hadapi skandal lagi."
"Sir, dokumen formal yang Anda terima dariku bukan dokumen palsu atau direkayasa. Aku mungkin tidak punya pengalaman yang relevan sebagai guru, tetapi, pendidikan, keterampilan yang tercatat di sana benar adanya."
"Kita juga bahas tentang riwayat kejahatan Anda, Guru Lucca." Luiz Armando bicara pelan seakan tembok bisa mendengar.
Archilles Lucca terdiam. File kejahatannya telah dihapus BM. Bahkan profil hidupnya bersih di internet. Nyonya Salsa mungkin dapatkan dari seseorang di bawah tanah.
"Tak ada yang bisa kulakukan untuk itu. Aku telah lama berhenti dari sana dan ingin memulai sesuatu yang baru. Tetapi, sepertinya seseorang tak menyukaiku."
"Apakah kamu mungkin mengganggu orang penting? Walaupun mungkin sukar, aku bisa mencari celah untuk menolongmu."
"Apa yang Anda putuskan untukku akan aku terima, Sir. Jangan berurusan dengan kekuasaan penuh pengaruh ini. Sekolah kita mungkin akan dalam masalah. Aku akan segera pergi dari sini. Aku hanya akan mengajar sampai siang nanti."
"Tidak!" geleng Luiz Armando mengubah sikap sangat cepat. "Dengar! Aku akan cari cara. Tetaplah di sini."
"Jangan lakukan apapun! Percayalah padaku." Archilles Lucca bangkit dari sana. "Kelasku akan dimulai. Cesar akan persentasi materi. Kudengar, ini pertama kalinya pria itu berpartisipasi."
"Guru Lucca...."
"Anda berhadapan dengan seseorang yang miliki harga diri ekstrim, Tuan Armando. Beliau selalu dapatkan apapun keinginannya. Halangan yang dijumpai di jalan menuju sasaran akan dipatahkan. Anda ..., tak boleh berurusan dengannya karena aku." Archilles tersenyum penuh apresiasi. "Terima kasih telah menampungku di sini. Betapa aku sangat menyukai Anda dan sekolah ini."
Archilles Lucca keluar dari ruang kepala sekolah kembali ke ruang guru. Sangat cepat berakhir. Pejamkan mata.
Apa yang dilakukan gadis itu? Mengisi bayangan mereka. Tanpa sengaja telah menjelma jadi penghiburan sejati bagi dirinya.
Apa yang akan dilakukannya setelah dari sini? Kemana ia akan pergi? Apakah kepala biara akan mengusirnya juga? Jika ia diberi welas asih, mungkin saja, ia akan dikirim ke suatu tempat. Afrika mungkin. Atau terima saja tawaran Carlos Adelberth dan ikut kemana saja ia dikirim.
Melangkah ke kelasnya ketika jam pelajaran siang dimulai. Manuel Cesar di depan kelas. Karena dia ketua geng, ketua kelas dan pemimpin barisan, teman-temannya hanya duduk tertib.
Archilles Lucca manggut-manggut sepanjang murid wali terkenal paling bandel jelaskan materi walaupun Cesar masukan beberapa paham aneh di dalamnya, sengaja memancing reaksi Archilles untuk protes, Archilles hanya mendengarkan 30 menit materi. Cesar kemudian mengerut.
"Anda tidak keberatan?"
"Selama kamu tidak menyesatkan orang dengan memodifikasi dalil-dalil yang sudah di cetuskan para ahli dan memang baku, tidak merusak tatanan, arti, definisi juga pemahaman; kurasa kamu akan selamat dari tuduhan pencemaran."
Kelas belum berakhir. Sesi tanya jawab. Seperti prediksi, Cesar lakukan sendiri. Secara mandiri menjawab serangan pertanyaan group lain sedang Jhon Stuart mengambang dan Eva Romero sibuk amati kukunya. Cesar mudah atasi. Okay, pria ini cerdas tetapi mungkin tersisihkan oleh sikap brutalnya.
"Pertemuan berikut, Eva Romero akan bahas materi selanjutnya. Jhon Stuart berikan ringkasan dan kesimpulan. Hari ini, semua nilai hanya milik Manuel Cesar."
Menerima dengungan tidak setuju tetapi tak punya pilihan selain mengiyakan. Sedang Cesar bertepuk tangan keras untuk dirinya sendiri. Melotot pada teman-temannya sehingga mereka akhirnya bertepuk tangan untuknya juga meski tidak ikhlas.
Ketika sekolah usai, sirene mobil polisi berbunyi di depan sekolah. Dua opsir turun dari sana. Menarik perhatian murid.
Kejutan lain dan terbesar bagi Archilles adalah dua petugas kepolisian bentangkan surat penangkapan untuknya. Isi dibacakan dengan jelas. Salsa Diomanta melaporkannya atas tindakan eksploitasi pada anak gadis di bawah umur 16 tahun dan sengaja melakukan kontak mengarah pada pel3c3h4n s3k5u4l.
Archilles kemudian digiring naik ke mobil polisi. Ia melihat Cesar dan Beltran berlari panik. Hampiri Luiz Armando, bicara cepat.
"Dengar ..., Sir. Kami bersama guru kami kemarin. Ada banyak saksi."
"Ya, aku bersama Guru Lucca sejak sore sampai semalam." Cesar dan Beltran tiba-tiba bersatu membelanya. "Gadis kemarin mencari Guru Lucca saat kami pulang sekolah."
Luiz Armando sedang pikirkan cara alasan beliau diam. Mungkin setelah tahu dengan siapa Archilles bersinggungan, Luiz Armando akhirnya cuma ikuti saran Archilles untuk tidak ikut campur.
Berltran dan Cesar berlari pada opsir.
"Kami tidak percaya bahwa itu adalah kejahatan. Aku pacaran dengan gadis seusia pacar Guru Lucca. Ide buruk menuduh guru kami secara serampangan." Beltran Anthony memaksa ikut naik ke mobil polisi segera didorong petugas. "Anda perlu mengambil keterangan kami juga."
Opsir mendorong Beltran keluar. Sedang Cesar berdiri di sisi mobil terus lakukan aksi protes pada petugas.
"Oh ayolah. Ini sangat konyol. Aku bahkan tidur dengan gadis dari sekolah sebelah, usianya belum sampai 16 tahun dan aku 17 tahun." Manuel Cesar menyipit pada polisi, sangat gegabah mengumbar aib yang harusnya disimpan sendiri.
"Anda akan aman sampai Ibu gadis itu laporkan Anda!" sahut petugas. "Kami akan menangkap Anda dalam waktu dekat setelah menerima laporan."
"Tidak, kurasa. Bagaimana bisa seseorang laporkan orang yang b3rcinta karena suka sama suka? Apakah tak ada kasus lain lebih penting? Guru Lucca tak sepenuhnya bersalah. Gadis itu datang kemari, mencari guru Lucca. Ia menggendong bunga dan ucapkan selamat menjadi guru, tidak lebih," balas Cesar. "Kami menonton musik semalam bersama-sama dan gadis itu tidak sendirian. Seorang asisten wanita terus menempeli guru Lucca dan pacarnya. Anda tidak normal, Sir. Menangkap guru kami karena jatuh cinta pada pacarnya. Lagipula, gadis itu telah pergi tadi pagi."
Jika di lapangan sepak bola, Cesar telah diberikan kartu merah oleh wasit dan akan duduk di bangku cadangan sepanjang satu musim.
"Dengar Guru Lucca, aku akan keluarkanmu dari sana. Ayahku sangat berpengaruh."
"Kupikir kamu ingin aku pergi dari sini." Archilles menatap Cesar.
"Aku tetap ingin Anda di sini agar aku bisa rajin ke sekolah dan menjahili Anda. Guruku akan pergi karena keberhasilanku mendepak mereka bukan karena lainnya. Harga diriku terluka."
Cesar terus saja miliki pemahaman di luar konteks.
"Dengar, Cesar! Penting bagimu bersihkan dirimu dari gaya berandalan-mu. Belum terlalu terlambat sekarang. Suatu waktu saat kamu mencintai seorang gadis, ibunya tak akan permasalahkan riwayat masa lalu-mu. Kamu akan dianggap layak."
"Sangat berlebihan, seorang Ibu posesif pada puterinya dan menyalahkan pihak lain untuk cinta yang dirasakan puterinya," cemooh Cesar. "Hei petugas, kami akan mogok sekolah besok!"
Cesar memukuli sisi mobil jengkel saat mobil yang membawanya melaju pergi tinggalkan para murid di belakang.
Sepertinya dua orang lupakan permusuhan mereka diskusikan sesuatu. Mungkin cara lepaskan ia dari situasi rumit. Semoga mereka lekas baikan dan berteman lagi.
Malam itu ..., ia berikan keterangan pada pihak kepolisian. Barang-barang pribadinya disita. Berharap Nona Arumi tak menelpon atau gadis itu akan mengambil keputusan keliru.
Tidak!
Nyonya Salsa pasti telah mengambil tindakan pencegahan.
Archilles sangat tahu ada permainan kekuasaan di sini. Karena pada akhirnya ia digiring ke sebuah sel, hanya dirinya sendiri. Ia mendekam di sana. Dan ia cukup tahu bahwa ia tak akan menghirup udara bebas untuk waktu yang lama. Mungkin sampai Nona Arumi melupakannya.
Petugas kembali membawa ponsel. Sebuah panggilan masuk.
"Apakah aku kasar padamu, Archilles?"
Archilles Lucca bernapas berat dan menahan di dada hingga ia akan pecah.
Sesak.
"Tempat ini cukup bagus untukku. Terima kasih, Nyonya. Anda telah menegaskan, siapa aku dan darimana aku berasal."
"Jika kamu sadar lebih awal, kita tak perlu sampai di sini."
"Nona Arumi ..., selalu ketakutan setiap bangun pagi seakan ia diincar seseorang. Nona mengatakannya berulang kali padaku."
"Puteriku membuat alasan tidak masuk akal agar tetap di dekatmu, agar kamu tidak pergi. Dan aku sangat marah karena kamu manfaatkan kelemahannya."
"Tidak, sama sekali tanpa landasan," geleng Archilles Lucca menolak keras. Telinganya berdenging karena harus mendengar tuduhan kejam itu. Namun, tak ingin berdebat lebih jauh. "Karena aku di penjara, Anda akan dua kali lebih waspada mengawasi Nona."
"Tak perlu beritahu aku apa yang harus aku lakukan demi keselamatan Puteriku, Archilles Lucca. Aku akan mengakhiri perang denganmu jika kamu berhasil membuat Arumi pergi darimu. Kubiarkan ponselmu denganmu saat Arumi menelpon. Kamu akan beri aku berita bagus."
Archilles tak menyahut. Nona Arumi akan curiga jika ponsel tiba-tiba tak bisa dihubungi. Gadis itu bisa jadi mencarinya. Alasan Nyonya Salsa tinggalkan ponsel.
"Kamu tak akan mengemis bantuan pada adik-adikku apalagi pada menantuku. Kamu punya harga diri."
Duduk di tepi ranjang membungkuk pekuri lantai lembab dan dingin. Hanya derak gigi lampiaskan semua emosi buruk dalam dirinya.
Seperti dugaannya, Nona Arumi menelpon. Petugas bawakan ponselnya.
"Archilles ..., apa kamu sudah tidur?"
"Tidak, Nona. Em, aku sedang membaca buku." Ia berbohong. "Apakah perjalananmu menyenangkan tadi pagi? Apa Nona baik-baik saja?"
"Tidak sepenuhnya Archilles. Aku terus gelisah sepanjang hari dan tidak mengerti apa mauku. Aku hanya ingin dengar suaramu."
"Minta Leona belikan Anda sandwich tuna. Kurasa Anda akan berhenti gelisah."
"Seseorang mengikutiku, aku bisa rasakan. Mata seseorang sedang mengawasiku," lapor Arumi Chavez.
"Aku telah bereskan, Nona. Tak akan ada lagi yang mengikutimu kecuali wartawan untuk berita. Anda hanya perlu berhati-hati."
"Bolehkah aku melihatmu?" tanya gadis itu ragu.
"Tidak, Nona. Em ..., aku mulai mengantuk dan akan tidur sebentar lagi."
"Hanya sekali ini, please. Aku janji tidak akan menghubungimu sampai aku selesai syuting. Aku akan sangat sibuk setelah ini."
"Baiklah. Ini yang terakhir, Nona."
Lampu ruang tidur dalam penjara sangat redup. Perbandingan kontras. Arumi Chavez di tempat yang mewah dan gemerlap, bercahaya dan bersinar.
"Oh ..., apa ini?! Gelap sekali di sana, Archilles?"
"Ya. Kami tak boleh ribut di malam hari dan hanya heningkan cipta. Lampu suram bantu kami tidur lebih lebih lelap."
"Ternyata biara lebih seram dari penjara padahal di luar sangat bagus terlihat."
Archilles Lucca tertawa geli. Lelucon terbaik yang pernah ia dengar hari ini. Menelan ludah. Sakitnya sampai di jantung.
"Oh, apa bagimu lucu?"
"Ya," angguk Archilles. "Sangat lucu."
"Lalu, bagaimana kamu bisa membaca?"
"Cahaya ponsel, Nona. Aku sedikit curang."
"Em, baiklah. Apakah kamu dapatkan sanksi dari kepala asrama? Kamu menginap di luar semalam?"
"Ya. Ponselku disita. Anda akan sedikit kesulitan hubungi aku. Misal, aku tak menjawab panggilan Anda dengan cepat, Anda tak akan berpikiran macam-macam."
"Sampai kapan?"
"Aku tak tahu. Nona juga tak boleh mengunjungiku. Sebab jika tidak, aku akan kehilangan pekerjaanku, di-black list dan jadi pengangguran."
"Begitukah?"
"Lalu ..., bagaimana aku bisa menjadi seseorang yang pantas bagi Anda kalau aku tak punya pekerjaan bagus?"
"Baiklah," angguk Arumi dari sebelah tidak ingin sepakat tetapi patuh. "Oh, ibuku menelpon."
"Jawab panggilannya sebelum Ibu Anda cemas, Nona. Anda akan turuti permintaan Nyonya Salsa demi kebaikan Anda."
"Hanya hal-hal tertentu, Archilles. Aku tak ingin berakhir depresi macam beberapa artis, dibawah pengaruh orang tua yang terlalu manipulatif."
"Nona ... Anda tak akan ucapkan kalimat barusan kudengar pada Ibu Anda. Itu akan menyakitinya."
"Kurasa kita akan bicara lagi lain kali. Selamat malam Archilles Lucca."
"Selamat malam, Nona Arumi. Semoga Tuhan menjagamu selalu."
"Aku menyayangimu, Archilles Lucca."
Petugas kembali mengambil ponselnya. Archilles Lucca berbaring di atas ranjang yang sedikit berderak. Dari kegelapan, dalam kamar sepi, menyimpan kenangannya. Pada aroma manis parfum. Pada ketukan keras di kening.
Archilles Lucca bisa bertahan berapa lama pun ia dikurung, tetapi, apakah gadis itu akan baik-baik saja?!
***