
***
"Raul Lucca, puteramu sengaja menendang bola ke rumahku. Lihatlah! Ya Tuhan, ya Tuhan, kaca jendelaku pecah!"
Seorang wanita bersuara sangat lantang, berteriak-teriak di depan rumah warga lain tampaknya sengaja memancing penghuni lain berkumpul ingin permalukan remaja 14 tahun yang sedang ia seret tanpa perlawanan.
Raul Lucca, pria berkumis tebal, berpostur tinggi besar dan agak seram, terganggu dengar namanya diserukan. Keluar dari rumah tanpa senyuman.
"Ada apa Isabela Moris? Apa yang terjadi? Apakah kamu tak bisa kecilkan suaramu? Perlukah berteriak sekuat tenaga seperti itu?"
"Apa kamu tuli, Raul? Puteramu ini ..., ya Tuhan ..., baru saja pecahkan kaca jendela rumahku."
"Archilles?!" tegur Raul Lucca menggeram.
"Aku tak sengaja, Raul!" balas Archilles berusaha lepas dari Isabela.
"Masuk!" perintah Raul tajam pada Archilles.
"Tidak semudah itu, Raul!" cegah wanita yang dipanggil Isabela Moris.
"Lalu?!"
"Kemana kamu akan pergi berandal?" Isabela pegangi tangan Archilles kuat-kuat saat Archilles terus meronta ingin kabur.
"Satu lempeng kaca diganti satu lusin kaca."
"Jangan memeras orang lain Isabela."
"Puteramu kelewat nakal, jadi dia pantas dapatkan segala sangsi ini."
"Aku tak bisa membayar banyak kaca. Kamu boleh bawa Archilles dan bekerja jadi apa saja di rumahmu."
"Begitukah?"
Isabela berpikir sejenak.
"Baiklah, Archilles akan memotong rumput tiap hari di rumahku sepanjang bulan ini."
"Kami tak keberatan. Tapi lepaskan dia dulu!"
Archilles segera berlari masuk ke dalam rumah sederhana. Ibunya sedang periksakan diri ke dokter kandungan. Archilles tinggal bersama Raul di rumah.
Raul Lucca melangkah masuk ke dalam rumah, pergi ke meja makan dan menuang air lalu minum sampai tandas.
"Kau tak memarahi aku, Raul?" tanya Archilles setengah mengejek Ayahnya.
"Aku jenuh bicara bahasa manusia padamu."
"Ya bisa kulihat, kau jenuh padaku tetapi tak jenuh saat pergi ke rumah Zeta Zurin."
Raul berbalik, menatap tajam Archilles Lucca.
"Archilles, aku adalah Ayahmu! Bersikaplah sopan!"
"Tidak lagi, Raul. Ayahku tak akan pergi ke rumah seorang janda tanpa sepengetahuan Martha Via."
"Archilles Lucca, jaga mulutmu! Awas saja kalau sampai Martha Via tahu. Aku benar-benar akan mencekikmu!"
Archilles tertawa meledek.
"Oh ya, Raul? Mengapa tidak sekarang saja?" tanya Archilles menantang Ayahnya.
Umur Archilles Lucca 14 tahun dan sampai ia menjelang pubertas, Ayahnya bukan panutan apalagi pedoman, tidak akan pernah.
***
Archilles Lucca?! Apa kamu akan menyerah dengan mudah? Oh ..., gampang sekali kau mati.
Sesuatu menggonggong jiwanya. Mata Archilles terbuka perlahan sementara sirene ambulance berdengung di atasnya. Ia tengkurap di atas brankar. Didorong masuk ke mobil. Matanya awasi keadaan sekitar.
Archilles mengeluh. Antara ilusi dan halusinasi, seseorang duduk berpangku kaki amati dirinya sembari merokok santai ..., atau 'Pria penghasut ini' adalah manifestasi dirinya yang lebih liar dan berani. Tanpa atasan, bentuk tubuh matang penuh gambar menarik. Benar-benar penjelmaan wajah-wajah penjahat, bedeb***, wujud iblis.
Ternyata begini tampangmu, Breng***?!
Oh, kau bisa lihat aku, Lucca? Akhirnya kita bertemu. Apakah aku tampan?
Tampan? Kau sangat narsis. Auramu gelap, segelap loteng neraka.
Aku anggap itu pujian indah, Sobat!
Apakah kau gunakan mata liarmu untuk menatap Nona Arumi? Aku akan mencongkelmu, Bren***k!
Aku menyukai Nona Arumi-mu. Kepolosan dan keindahan yang buat jiwaku terpenjara.
Kamu tak pantas untuk Nona Arumi. Kamu terlalu mes***, *bejat, liar. Jangan jatuh cinta pada Nona Arumi*!
Mengapa tak boleh?
Santai, Bung! Asal kau hidup saja!
Kemana kita pergi?
Gaung ambulance.
Pemakaman-mu ..., mungkin!
Kau perlu raga yang baru kalau begitu!
Sayang sekali ..., padahal aku nyaman denganmu.
Atau, ikut aku pulang! Aku akan antarkanmu sampai depan gerbang rumahmu di neraka!
Tidak, terima kasih, kau saja sendiri! Aku harus bersama Nona Arumi.
Jangan coba-coba!
Archilles terlelap, terlempar pergi pada pesta pernikahan Tuan Abner Luiz dan Maribella Williams. Nona Arumi bersedih sepanjang waktu karena Ethan Sanchez hadir di pesta dengan seorang gadis lain, Nona Sarah Jesicca.
Nona Arumi Chavez dengan berani meraih tangannya yang tak kuasa menolak, pergi ke tengah kerumunan saat pesta dimulai. Musik diputar dan orang berpasang-pasangan akan mulai menari. Kaki-kaki dihentak, tangan ikut bergerak menggandeng pasangan sedikit meloncat dan berputar-putar.
Nona Arumi begitu gemilang, tercantik di malam itu. Mata-mata Archilles tak bisa pergi dari Nona Arumi segigih apapun mencoba tak melihat pada Nona Arumi, sungguh sulit,.ia selalu kembali ke sana.
Nona Arumi bersinar di bawah gemerlapan lampu. Dalam sekejab menarik perhatian semua orang. Saat tubuh Nona tersenggol, Nona segera terlempar dalam pelukannya.
Di lantai atas, Archilles tahu Nyonya Salsa dan adik perempuannya, Nona Sunny sedang awasi mereka. Archilles Lucca ingatkan diri sendiri peraturan yang tak boleh ia langgar. Satu-satunya yang paling mencolok adalah gadis di depannya tabu baginya.
"Nona, sebaiknya Anda ke dalam, di sini terlalu ramai!" Archilles berseru di antara suara musik. "Anda bisa terluka."
Nona Arumi lepaskan pelukan dan tersenyum menawan, berulang kali menginjak kaki Archilles. Meskipun sakit terinjak sepatu Nona Arumi, Archilles tetap berdiri kokoh. Sentuhan pada tubuhnya sangat persuasif, mendorong jantungnya untuk berdetak lebih kejam.
"Nona ..., Anda bisa gunakan kakiku untuk menari." Tak suka lihat Nona Arumi kesulitan karena kaki penari lain yang terus bersinggungan.
Di sanalah akhirnya, kaki telan*** Nona Arumi berpijak pada kaki-kakinya. Meski ia bersepatu dan berkaos kaki, tak bisa menolak getaran yang ditimbulkan dari sentuhan kasat mata itu.
Kebahagiaan Nona Arumi terpenting. Archilles mencerna semua ekspresi yang ditampilkan Nona Arumi. Hanya menari nyaman dan bebas, tanpa takut lagi diinjak, terus tertawa cerah padanya. Sementara Archilles lingkarkan tangan kuat pada pinggang Nona agar Nona Arumi tidak terjatuh, tak keberatan mendekap.
Mereka begitu dekat dan Archilles tidak normal jika menolak pesona lugu, polos yang terbungkus rapi dalam rupa elok itu.
Seandainya Archilles Lucca bukan mantan penjahat, terlahir dari keluarga konglomerat dan punya status sosial yang baik.
Seandainya Ayahnya bukan Raul Lucca. Andaikan Ibunya yang cantik, Martha Via menikahi seorang pria lebih terhormat.
Seandainya ..., kehidupan ini melihatnya sebagai seseorang yang berharga bukan orang rendahan.
"Archilles Lucca? Buka matamu!" Sebuah sentuhan pada pundaknya.
Mata terbuka lagi, menyipit. Ada bayang - bayang Tatiana di sisi jendela mobil. Men - jeng - kel - kan, mengapa wanita gila ini masih dengannya?
"Archilles?! Apakah kamu bisa dengar aku?!"
Tatapan Archilles fokus pada satu titik saat mobil melambat lalu berhenti, mungkin macet. Tatapan sayu Archilles tembusi sisi wajah Tatiana pada sebuah figur di luar kaca mobil ketika titisan raut Dewi Kecantikan berpaling pada mobil.
No ... na?!
Jantungnya berirama aneh. Jika ia mati setidaknya ia tak mati sia-sia.
Archilles ingin bangkit tapi sangat lemas. Nona Arumi menatap kaca, padanya, gundah gulana.
Ada apa dengan wajah Nona Arumi? Apa itu luka? Mengapa Nona tampak sangat bersedih? Apa yang terjadi?!
Lucca, bukankah kau harus bangun?
"No ... na Arumi?!" guman Archilles perlahan kembali katupkan mata.
"Archilles Lucca?! Di mana kau?! Apa yang sedang kau lakukan?! Awas saja kalau kau telat menjemputku!"
"Archilles Lucca, ada cicak di kamarku dan terus pelototi aku! Ya Tuhan, aku pikir dia jatuh cinta padaku! Bisakah kau pulang sekarang juga dan mengusirnya untukku?"
"Archilles Lucca ..., menurutku tidak ada salahnya kita mencoba seperti yang dilakukan Ibuku dan Ayah Benn."
Nona Arumi mengajaknya kabur lalu menikah. Niatnya diutarakan di depan Nyonya Salsa. Walaupun hanya candaan, gadis bodoh bodoh yang sangat-sangat manis dan konyol tak tahu bahwa ucapannya bisa jadi doa.
"Bagaimana jika kau menyukaiku suatu waktu? No body knows, apa yang akan terjadi di masa depan, Archilles Lucca."
"Jika suatu waktu aku dapati diriku jatuh cinta pada Anda ... Aku akan menghilang diam-diam."
Apakah saatnya kita pergi ke Biara dan menghilang?!
***
El Diablo en Mi (Inggris : The Devil in Me).
Nah, kalau dukungannya banyak, Chapternya juga bertambah. Intinya ada timbal balik antara aku dan dirimu. Aku mencintaimu, selalu.