My Guardian Angel (The Dust of Love)

My Guardian Angel (The Dust of Love)
Chapter 59. Memories Creep 2



Arumi Chavez benar-benar tak bisa kabur lagi. Tenaganya habis. Ia bertekuk lutut di tanah. Kemudian, ingat bahwa Archilles telah ajarinya lindungi diri dan ia bisa lakukan gerakan sederhana itu, Arumi Chavez segera bangkit.


"Tuhan, selamatkan aku dari orang jahat ini!"


Si Pria melangkah pada Arumi. Tangan baru akan menggapainya ketika Arumi gunakan kaki kanan yang lebih sehat untuk menendang dada si pria sekuat tenaga hingga si pria terdorong ke belakang.


"Apalagi? Apalagi?" tanya Arumi Chavez, kepalkan dua tangan di depan dada. Mungkin gunakan tinju?


"Mari pemanasan," katanya lagi pada diri sendiri. Melompat-lompat di tempat. Bergantian kaki depan belakang. Tingkahnya tentu saja bikin bingung preman di depan.


"Sini kamu!" panggil Arumi Chavez.


Si pria sangat cepat datang. Arumi ayunkan tinju kanan.


"Awhh," jerit Arumi karena sakit. kibaskan tangannya.


Si pria terkekeh. Dekati Arumi, baru akan menggapainya ..., sebuah motor lain datang. Melaju dengan kecepatan sangat tinggi, di waktu tepat si preman ditendang keras hingga jatuh tersungkur.


Arumi Chavez mengangkat wajah dapati mantan pacarnya masih gunakan seragam.


"Kamu baik-baik saja?"


"Ya, " angguk Arumi mengatur napas berantakan agar bisa normal. Tetap saja ia akhirnya ngos-ngosan.


Tak cukup puas, Ethan Sanchez mendorong motor si pria gunakan kakinya.


BRAK!


Motor jungkir balik.


"Hei?!"


Si pria marah besar. Sepertinya lebih baik menendang dirinya ketimbang motornya yang mengkilap. Pria itu bangkit berdiri tetapi Ethan dengan sengaja mengebut tepat pada si pria. Moncong motornya sedikit bengkok, menampar tubuh tanpa kuda-kuda sebabkan sang preman kembali terjatuh.


"Kemari! Cepat naik!" Ethan Sanchez ulurkan tangan pada Arumi, membantu Arumi naik ke motor sebab si penjahat telah bersiap menyerang.


Ethan Sanchez menarik gas motor lewati si pria yang sangat cepat ayunkan benda tajam pada Ethan Sanchez. Belokan setir motor menghindar tetapi belati tajam lebih dulu menggores jas seragam sekolah Ethan Sanchez.


"Shits!"


"ETHAN?!" seru Arumi panik saat Ethan memekik kecil. Motor hilang keseimbangan sebelum terjatuh. Arumi menjerit. Pipinya terseret di atas aspal. Arumi kesulitan bangun oleh beban motor yang menindihnya. Mencoba bangkit tetapi kakinya bekas terkilir, telah sembuh tetapi tekanan motor kembalikan sakitnya.


Si pria kembali menyeringai senang. Memaki dalam bahasa asing periksa motornya. Sedikit berikan waktu bagi Ethan.


"Arumi?! Arumi?! Ya Tuhan, Arumi ..., tarik kakimu perlahan."


Ethan Sanchez sekuat tenaga mengangkat motor agar berdiri sebab satu kaki Arumi terjebak di bawahnya. Ia memeriksa Arumi. Lecet di kaki kiri, banyak goresan juga wajah gadis itu terkelupas. Ethan Sanchez memeluk Arumi kuat, mengusap rambut Arumi.


"Menjauh ke belakangku!"


Si pria jahat berlari datangi mereka. Ethan Sanchez lepaskan helm, lengan Ethan keluarkan darah. Sangat banyak.


Si pria ayunkan belati pada Ethan ditepis gunkaan helm. Ayunkan lagi. Kaki Ethan menendang pergelangan tangan. Si pria menghindar. Menunggu kesempatan sekali ini balas gunakan benda tajam menggores bagian depan perut Ethan. Dari cara Ethan mengerang, Arumi yakin Ethan telah terluka.


"Ethan?!"


Si pria menyukai tindakan barusan. Ayunkan lagi benda itu. Arumi Chavez secara refleks bergerak ke depan abaikan sakit yang menyerang tungkai kaki. Pegangi satu tali tas, ayunkan menyambar belati. Tanpa sengaja salah satu tali tas menjerat belati. Arumi memutar tubuhnya berulang kali meskipun kakinya sakit semakin menjadi-jadi hingga belati dan tangan si pria terlilit. Lalu hentakan tasnya hingga belati terlepas dari tangan.


Young Vincenti muncul tak lama kemudian menunggangi motor. Wajahnya babak belur, hidung tak lagi lurus, sudut mata dan sudut bibirnya pecah. Beruntung pria itu masih punya dua kuping dan berhasil kalahkan teman-temannya. Young menarik gas dan sengaja menabrak si preman hingga terlempar.


Menahan sakit, Ethan Sanchez kembali naik ke motor. Membantu Arumi.


"Pergilah! Aku akan mengurus yang satu ini," kata Young pada Ethan Sanchez.


"Kita perlu bicara nanti, Young!" balas Ethan Sanchez dingin, pikirkan keselamatan Arumi Chavez. Pertikaian bisa jadi membesar. Mereka harus segera pergi.


"Ya ya ya, aku tak menduga akan begini. Aku hanya berharap kami belajar dan memanggang sesuatu untuk makan malam. Pergilah! Obati dirimu!" Menoleh pada Arumi. "Oh, semakin cantik saja dengan lecet di wajah."


Young Vincenti dekati Arumi, hendak menyentuh wajah Arumi tetapi ditegur Ethan.


"Jika kamu punya sedikit saja rasa bersalah pada temanmu, kamu tak akan menyentuhnya!"


Tangan Young Vincenti mengambang di udara, berganti lambaian.


"Sayang, sampai jumpa besok di sekolah!"


Anomali tingkah laku. Brengsek memang brengsek. Bukan sembarang brengsek.


Motor Ethan Sanchez melaju pergi tinggalkan tempat Young Vincenti menghajar pria yang terluka secara bar-bar. Dari kejauhan terdengar raungan sirene mobil polisi.


Ethan Sanchez menarik Arumi padanya, kaitkan tangan Arumi di pinggangnya seakan takut Arumi Chavez diterbangkan angin. Tangan Arumi tanpa sengaja menyentuh bagian depan perut Ethan. Segera temukan cairan basahi jemari.


"Kamu baik-baik saja, Ethan?" tanya Arumi gugup tak ingin sesuatu buruk menimpa Ethan Sanchez. Terlebih masalah lain lebih besar menunggu. Ethan Sanchez terluka karena datang menyelamatkannya.


Tak ada sahutan, sangat cepat motor mereka berlari semakin kencang. Mobil-mobil polisi beriringan datangi bangunan. Arumi menduga, Ethan Sanchez menelpon polisi.


"Ethan?! Mari mampir di rumah sakit."


"Aku baik-baik saja, Arumi!" sahut Ethan.


"Tidak! Mari kita ke rumah sakit."


"Di kafe ada kotak obat."


"Ethan, please!" Arumi Chavez nyaris berseru. "Di depan sana!"


"Baiklah!"


Mereka berbelok di rumah sakit terdekat. Motor di parkirkan. Ethan menahan perut berdarah gunakan tangan. Arumi Chavez temani Ethan Sanchez ke dalam. Pakaian seragam Ethan telah sepenuhnya berlumuran darah.


Dokter segera tangani Ethan Sanchez. Sedang Arumi menunggu gelisah. Cukup lama ia terpaku di depan ruangan. Takut, cemas dan kebingungan.


Beruntung tiga puluh menit kemudian, ia bersama Ethan Sanchez dalam ruangan.


"Arumi, aku baik-baik saja!"


"Apa perlu aku memberitahu Nyonya Sanchez?" tanya Arumi Chavez benar-benar terserang panik. Ponsel Ethan di tangannya. Ia bolak balikkan ponsel telah lama berdebat dengan dirinya sendiri. Arumi hanya diselimuti keraguan.


"Aku baik-baik saja," ulang Ethan Sanchez. "Tolong jangan berlebihan."


"Ethan, dokter sarankan-mu untuk opname setelah lukamu dijahit. Bagaimana bisa semuanya baik-baik saja?"


Mata batin seorang Nyonya Sanchez pada Puteranya berhasil bikin Arumi tercengang. Ponsel pria itu berdering hingga buat Arumi semakin gugup.


"Tak perlu menjawab panggilan, Arumi!"


Arumi Chavez keluar dari ruangan dan menerima panggilan. Mengintip kembali dari balik pintu kaca. Ethan Sanchez terbaring di atas ranjang rumah sakit. Akan segera dipindahkan ke ruang perawatan intensif.


"Nona Arumi? Mengapa ponsel Ethan ada padamu?"


"Nyonya ..., kami sedang berada di rumah sakit."


"Rumah sakit?" tanya Nyonya Sanchez dari seberang. "A ... a ... pa yang terjadi? Apa Ethan baik-baik saja?"


"Nyonya ..., tolong tenang."


"Rumah sakit mana?"


Arumi Chavez terduduk di depan unit gawat darurat setelah panggilan berakhir. Oh ..., bagaimana ini? Arumi Chavez coba kendalikan diri. Sesuatu yang berhubungan dengan Nyonya Sanchez ciptakan banyak ketidak-nyamanan.


Arumi lebih memilih dirinya terluka oleh benda tajam ketimbang hadapi kemarahan Nyonya Sanchez.


Ethan Sanchez kemudian dipindahkan ke ruang perawatan. Arumi hubungi Leona tentang keberadaannya terang saja buat Leona kelabakan. Arumi menyangga kening di sisi pembaringan Ethan Sanchez. Kepalanya berputar-putar karena pening. Ia mual dan ingin muntah.


"Arumi ..., pulanglah! Aku akan baik-baik saja."


"Tidak, aku akan menungguimu."


"Kamu beritahu ibuku?" tanya Ethan Sanchez dapati wajah carut marut Arumi.


"Ya," angguk Arumi Chavez lemas hingga ke sendi-sendi.


"Pergilah sebelum Ibuku datang," pinta Ethan Sanchez meringis kecil. Hatinya berharap gadis ini susah hati karena dirinya terluka. Tidak ada cinta yang mudah terbunuh apalagi mereka putus bukan karena cinta yang berakhir. Mereka dipaksa membunuh cinta. Itu menyakitkan. "Maafkan Nyonya Sanchez sebabkan kamu trauma."


Arumi Chavez menggeleng. "Aku akan bersamamu. Bagaimana bisa aku tinggalkan kamu dalam keadaan begini?"


Ethan Sanchez meraih tangan Arumi, menggenggamnya erat-erat.


"Aku baik-baik saja. Pergilah sebelum Ibuku datang. Please!"


Arumi berdiri. Ia bimbang. Akui bahwa ia terlalu pengecut hadapi Nyonya Sanchez. Namun, terlalu berat untuk kabur.


"Apa kakimu baik-baik saja?" tanya Ethan Sanchez menatap Arumi gundah.


"Ya."


"Pergilah ke dokter dan biarkan wajahmu menerima perawatan."


"Aku baik-baik saja, Ethan."


"Bolehkah aku memelukmu sebentar?" tanya Ethan Sanchez. "Aku mencemaskanmu."


Arumi Chavez terpaku beberapa menit, menatap Ethan Sanchez. Tangan Ethan menarik Arumi kuat hingga jatuh ke dalam pelukan Ethan. Segera meringis karena kesakitan.


"Arumi ...."


"Terima kasih telah datang selamatkan aku, Ethan Sanchez! Harusnya biarkan saja aku!"


"Bagaimana bisa biarkanmu terluka?"


"Apa ..., kamu mengikutiku dan Young tadi?"


"Tidak. Aku di seberang jalan menuju sekolah Sarah. Aku melihat Young mengebut dan diikuti banyak motor."


"Terima kasih, Ethan."


"Bagaimana bisa kamu berkata, biarkan saja?!Itu tidak mungkin terjadi. Aku ingin bersamamu di rumah sakit waktu itu. Saat kamu terluka. Kemudian aku menyadari, bukan lagi aku pria istimewa itu. Betapa manis hubungan mereka. Archilles berdiri di luar hanya terpaku padamu dan aku bisa lihat apa yang coba dilakukan Archilles padamu. Aku bertanya-tanya dalam hati; benarkah aku telah kehilanganmu sama sekali? Benarkah menguap begitu saja? Kemana cintamu padaku pergi?"


"Maafkan aku, Ethan," jawab Arumi Chavez pelan.


"Tak ada secuil yang tertinggal untukku?"


"Aku tetap mengingatmu sebagai seseorang yang berjasa bagiku. Seseorang yang pernah aku cintai dan tulus mencintaiku."


"Aku tak pernah merasa bersaing dengannya. Sungguh aneh, aku berubah irihati pada keberuntungannya."


Hening.


"Ada kemarahan, kecewa, patah hati dan merana saat putus denganmu. Aku kesakitan dan putus asa." Arumi berkata.


"Ya, aku tahu. Maafkan kekuranganku!"


"Tetapi ..., sangat mengejutkanku saat dia pergi ..., duniaku benar-benar runtuh. Hancur di dalam sini. Aku kehilangan pegangan, sangat menderita. Tak bisa aku jelaskan segala hal." Arumi Chavez muram.


"Aku dengar tentang penolakan Nyonya Salsa pada Archilles."


"Ibuku hanya menginginkanmu. Ibumu tak menginginkanku."


"Ibumu melamarku, Arumi Chavez."


Mereka menjadi korban keegoisan orang tua mereka. Atau mungkin sebaliknya, sikap orang tua yang mereka anggap tak adil telah selamatkan masa depan mereka. Who knows?


"Semuanya telah berlalu. Semoga selalu bahagia. Semoga beruntung dengan Archilles Lucca. Dia ..., pria yang baik." Ethan Mengecup puncak kepala Arumi. "Nah, pergilah sebelum ibuku datang."


"Nyonya Sanchez tahu aku di sini. Apa aku bisa pergi?!"


"Ya. Tidak mengapa. Ada aku, Arumi."


"Bagaimana jika Ibumu bertanya tentangku?!"


"Aku akan buatkan alasan tanpa melibatkan mu." Enggan Ethan Sanchez mendorong Arumi pelan. "Pergilah!"


"Ethan ...."


"Arumi, aku tidak lakukan ini untukmu semata. Tolong kasihani aku. Aku tak bisa melihat Ibuku menyakitimu. Itu menyakitiku, Arumi."


Arumi Chavez memandang pada pria yang pernah digilainya itu. Ethan Sanchez mengangguk ke pintu.


"Pergi sekarang! Saat kamu masih di sini dan bertemu Ibuku, aku tak akan sanggup melindungimu."


***


How about Lucca?! The Next ya... Aku perbaiki chapter soal Lucca karena aku males misalnya udah tulis terus ngirim tetapi ditolak kayak kemarin. Padahal gak nulis yang aneh-aneh juga....


Tinggalkan dukungan ditiap chapter, vote dan apalah-apalah.


Ethan Sanchez adalah seorang yang sangat spesial bagiku. Di HD pernah aku kasih tahu ya. Bagaimana aku membangun karakternya di HD dan menjaganya tetap hidup hingga di sini, hanya untuk menghibur diriku dari kehilangannya.