
Duduk di bagian atas arena. Di posisi tidak mampu terjamah. Dipagari rapat oleh bodyguard berperawakan tinggi, besar, kekar ..., tiga orang pria dari room chat 6 sekte sesat, yang pernah menginginkan Nona Arumi Chavez, serius nikmati pertandingan ditemani masing-masing gadis penghibur.
Dua pria setengah abad lebih adalah ketua partai dari sayap kanan. Lainnya, komisaris polisi paling korup. Termuda, putera perdana menteri bernama Abercio Jacquemus. Ketiganya tak sadar sedang diawasi mata-mata tajam Archilles Lucca. Sibuk komentari jalan pertarungan penuh kecurangan.
Ketiga orang juga satu geng dalam urusan pelelangan abnormal, sayembara teraneh pernah diadakan. Di mana, janda dari seorang pria menjual dirinya secara undian. Akan bersama siapa saja pemenang. Biaya pendaftaran 2 M per orang dan hanya dibatasi 10 peserta, tidak lebih tidak kurang. Uang didapat akan dipakai lunasi utang ditinggalkan suaminya.
Tiga pria adalah peserta di urutan 1-3. Jelaskan penyimpangan h45r4t dialami orang-orang ini.
Ketua partai, pria hidung belang miliki istri, tiga anak dan menjadi sugar daddy untuk seorang gadis pekerja restoran. Dalam secret room 6, dia miliki nama samaran GOAT. Menyokong sekte dengan dana miliaran keenam dari Hedgar Sangdeto.
Si iblis di tengah ring bersama seorang penantang. Pria muda bernyali berhasil jatuhkan si iblis dalam empat tendangan dan tiga sundulan. Kendati babak belur, ia nyaris menang tetapi penjaga datang gunakan tongkat kejut listrik. Benda itu di-tebaskan pada punggung si pria hingga terjatuh dan tidak berdaya. Si iblis manfaatkan kondisi lemah, menyeret si pria.
Orang-orang gila bersorak gegap gempita hingga gendang telinga Archilles terganggu. Dan si iblis diliputi aura seorang bintang penuh kehebatan. Mengaum macam harimau di hutan.
Archilles berdecak sinis.
Menjijikan.
Pecundang gila!
Sekilas melirik lagi ke arah komplotan pria M35um. Dapati Abercio Jacquemus terpaku ke sebuah arah, tertarik pada seseorang di seberang arena. Ikuti pandangan Abercio Jacquemus.
Siluet seorang wanita dalam balutan dres press badan. Rambut hitam legam terurai rapi. Setiap langkah adalah undangan perhatian. Kini, hampir semua orang alihkan pandangan padanya. Archilles menyipit.
Tatiana Sangdeto.
Wanita itu tidak terang-terangan menyapa Archilles. Namun, gerakan lamban tangan mereguk minuman kirimkan sinyal bahasa tubuh bahwa Tatiana sangat excited pada pertemuan mereka. Terlebih sewaktu menatap Archilles Lucca senang. Berkedip sedikit.
"Baby, I will stand by your forever."
Sekilas Archilles menangkap tautan posesif padanya.
Gerakan leher ke kiri dan ke kanan. Tak ada yang bisa ia lakukan selain m3nd3s4h.
Apakah Tatiana akan begini terus sementara ia akan nikahi Arumi Chavez. Archilles tak ingin Tatiana terlibat semakin dalam, pada akhirnya tak bisa kendalikan diri. Arumi Chavez mungkin akan terluka. Sisi lain ..., Archilles percaya Tatiana akan berhenti dengan sendirinya.
Putuskan akan menganggap Tatiana semacam 'bayangan" dari dirinya sendiri. Tak dapati kejahatan dalam Tatiana. Atau Archilles tak miliki kata tepat deskripsikan seorang wanita bernama Marry Stella Tatiana Sangdeto.
Salah satu pengawal hampiri Tatiana. Bisikan sesuatu di kuping. Pasti undangan untuk Tatiana. Wanita menengok pada Abercio mengangkat gelas menyapa. Balas berbisik pada pengantar pesan. Abercio tampak takzim.
Yang dinantikan semua orang akan terjadi, si Iblis mengangkat tubuh pria muda sekarat lewati kepala. Persembahkan kemenangan pada kegelapan. Menekuk kaki di atas lutut bersiap jatuhkan korban. Resikonya fatal. Iblis akan patahkan pinggang pria malang. Archilles Lucca lompati tangga sampai pada tirai ring padahal namanya belum dipanggil.
Si iblis teralihkan Archilles Lucca. Tercengang.
"Kau kenal aku, Brengsek?" tanya Archilles Lucca sangat emosional. Ini hari yang ia nanti, balaskan dendam.
Si Iblis menyeringai senang lemparkan pria di tangannya keluar ring. Dua orang teman si pria segera menggotong tubuh kesakitan pergi dari sana.
"Tuan-Tuan mari bertaruh untuk pria berikut." Seorang bicara di microphone. "Nona Mary Stella jagokan pendatang baru dan menantang semua orang yang hadir di sini pertaruhkan semua uang Anda dengan melawannya. Oh ya, dan Nona Hebat ini tak ingin bersekutu."
Seisi ruangan kembali gegap gempita. Dalam waktu singkat, uang-uang dikumpulkan pada sebuah wadah besar. Nomer-nomer transaksi dicatat dan kitir-kitir berdecit dari mesin.
Lampu sorot mengarah pada Tatiana. Semakin diberi ruang dan perhatian, Tatiana semakin ekspresif. Bikin dirinya seakan ratu sejagad dalam perolehan mahkota Miss Universe. Archilles Lucca kembali berdecak pada tingkah Tatiana Sangdeto.
Abercio Jacquemus tak sabaran menunggu kehadiran Tatiana di sisinya tetapi Tatiana tidak merespon Abercio. Wanita itu jual mahal hingga Abercio terhinggapi aroma gelisah bangkit dari duduk, singkirkan semua gadis dan hampiri Tatiana.
"Akhirnya kamu menampakan dirimu, Nona?" Abercio sampai pada Tatiana membuka percakapan.
"Aku harap aku paham maksud Anda, Tuan ...?"
"Abercio Jacquemus."
"Tuan Jacquemus."
"Pasti kamulah orangnya, Nona. Yang sudah memeras aku dua Minggu ini."
Tatiana tertawa lucu.
"Owh, mengapa kamu yakin itu aku?" Tatiana berpaling menatap Abercio mengulum senyuman tipis di atas bibir penuh menawan.
"Aku mengenalimu, Nona!"
"Oh yeah? Kamu pasti salah orang."
"Tidak! Aku yakin kamu gadis nakal yang telah memaksa aku pergi ke kolam renang dan setengah bug11l di sana."
Tatiana tertawa lebih lebar, sangat renyah di dengar.
"Aku terlalu sibuk untuk mengejar seekor nyamuk, Tuan."
"Abercio," katanya ulurkan tangan.
"Mary Stella."
"Terdengar mirip Rosemary!" balas Abercio menatap tajam. Lawannya bukan sembarang wanita.
"Aku pikir, pria terhormat semacam kamu hanya akan datangi gala dinner untuk sebuah yayasan amal. Atau berada di Luxury Ballroom untuk meraih penghargaan kemanusiaan."
"Bagaimana denganmu, Nona?"
"Aku tidak punya jiwa sosial," sahut Tatiana kalem. "Sayang sekali aku suka hal-hal liar."
"Kita bisa naik satu sekoci."
"Aku tak suka bersekutu, Abercio. Maaf."
"Mari lupakan masalah kita."
"Aku tak punya masalah denganmu!"
"Mundur sekarang atau kamu mendadak miskin. Masih ada kesempatan. Pria kami belum pernah terkalahkan."
"Kemenangan karena kecurangan adalah ciri-ciri utama pecundang sejati." Tatiana kerlingkan satu mata menggoda Abercio.
"Bagaimana kamu bisa yakin pada pria baru datang? Aku bisa patahkan lehernya dalam tiga hitungan."
"Ugh akan sangat menarik karena kamu tampak kuat dan jantan."
"Apakah ada faktor tertentu yang buat kamu mantap memilih jagoanmu? Pria kami seperti yang kamu lihat. Tidak terkalahkan. Bagaimana bisa?"
Tatiana lagi-lagi tertawa.
"Lihat burung pria jagoan Anda, Tuan Jacquemus!" Tatiana anggukan kepala pada bawah tubuh si Iblis yang kini berbisik pada penjaga untuk bawakan ia sesuatu. "Astaga. Seperti milik bayi lima tahun. Pria sejenis ini hanya besar nyali dan bengis tetapi tak punya apapun untuk diandalkan. Bahkan mungkin tak bisa 3kr3s1 dengan benar. Betapa mengganggu penglihatanku."
Abercio Jacquemus tersedak minuman. Batuk-batuk, wajah putihnya memerah tua.
"Aku tak percaya kamu menilai kemampuan seseorang dari alat v1t4l yang dimilikinya."
Abercio menyahut tanpa menoleh sedetikpun dari kecantikan klasik di depannya. Alis Mary Stella melengkung seperti busur dan kelopak matanya sempurna. Proyeksi keindahan dan kematangan seorang wanita. Terlebih ada sesuatu yang sangat unik darinya.
Penjaga bawakan benda. Penggunting. Si Iblis menyeringai ke arah Archilles, membuang ludah. Mengatur gaya.
"Kau ingat ini?" olok si pria pamerkan benda di tangannya. Di sangka Archilles takut dan trauma.
Archilles Lucca menonton si pria. Tangan-tangan mengepal. Salto dua kali sampai di tempat si iblis.
"Anda akan paham maksudku dalam lima belas menit." Tatiana mengangguk bangga. Archilles sangat keren walaupun Tatiana bisa lakukan itu dua kali lebih baik dari Archilles.
Kini, Abercio amati Archilles Lucca, menimang. Berusaha mengingat. Pria lain di seberang mulai berbisik-bisik. Pindai Archilles Lucca. Di mana mereka pernah melihatnya? Putuskan beda orang dari cara komisaris menggeleng. Seseorang sodorkan gadget dan ia memeriksa sesuatu.
"Kami tetap pada jagoan kami," putus Abercio tak butuh perundingan. "Kamu bisa berubah pikiran sekarang, Nona. Taruhanmu sangat besar."
Tatiana tertawa kecil. "Kita lihat saja nanti!"
"Apa kamu mengenalnya?"
Tatiana menggeleng. "Tidak! Aku baru pertama kali melihatnya. Namun, Firasatku mengatakan dia akan menangkan pertarungan dan habisi jagoanmu."
Abercio Jacquemus lemparkan napas lega. Ternyata si wanita cantik cuma main firasat.
"Bagaimana kalau kita buat taruhan lain?" Abercio tawarkan hal lain. Sepenuhnya dikuasai h45r4t.
"Jadi kekasihmu?"
"Satu malam."
"Setuju," angguk Tatiana tidak menunggu lama. "Tetapi jika aku menang. Kamu akan jadi budakku, Tuan Abercio."
"Tidak fair."
"Yakinlah, kecurangan akan menangkan kompetisi ini. Jangan repot berpikir."
Tatiana lemparkan dadu. Kini berguling dan berputar-putar.
"Kamu sangat yakin akan menang?"
"Aku tidak pernah kalah!"
Lonceng kecil belum juga digoncangkan, Archilles sangat agresif ketika menyerang.
"Bukankah tunggu aba-aba?" protes Abercio. Jagoan mereka terdorong ke sudut ring tinju padahal baru satu menit bertarung.
"Bukankah games telah berlangsung tanpa aturan?"
Si Iblis bertahan. Ia mengelak dan pergi ke sisi lain. Ayunkan tangan menyasar wajah Archilles. Balas dengan tangan lain. Tak beri ruang dan kesempatan. Goresan sepanjang telunjuk tercoret di pipi Archilles. Pukulan lain ke bagian wajah, sayangnya mengenai bibirnya hingga berdarah.
"Kau suka?" tanya Iblis puas.
Archilles Lucca menghapus darah di pipi juga bibir.
"Segini saja?" balik Archilles Lucca.
"Baru permulaan. Kamu butuh yang lebih dahsyat dari ini." Iblis bertambah energi.
Archilles biarkan ia dipukuli untuk senangkan penonton. Mereka bersorak-sorai.
"Holy Ghost! Spirit of Dark!"
"Hidup Iblis! Hidup Iblis!"
Satu tendangan telak di bawah rusuk Archilles hingga ia terdorong ke sisi ring.
"Bingo!" Tuan Komisaris memekik penuh semangat.
Abercio Jacquemus bertepuk tangan sumringah. Menatap Tatiana.
"Bagaimana menurutmu, Nona?"
Tatiana angkat bahu, menggulum senyuman.
"Naif. Jangan terlalu bergembira. Kejutan nanti bisa bikin Anda patah hati, Tuan!"
Archilles Lucca layangkan sepuluh tinju tanpa henti. Jatuh di tempat-tempat mematikan di bagian tubuh si iblis.
Tatiana menyambar gelas lain di nampan bartender. Ia mulai mereguk penuh n1km4t.
Hanya tiga menit, Si Iblis kewalahan. Mencari jalan tetapi buntu. Berusaha menghindar dan menghalau. Ekor mata Archilles tandai penjaga bersiap dengan senjata kejut listrik.
Archilles digiring ke sana. Niat jelas terbaca. Sangat dekat dalam jangkauan penjaga. Archilles Lucca tiba-tiba saja berbalik tinggalkan iblis.
Secepat kilat kaki kirinya menyambar tubuh salah satu penjaga. Lalu, menyerang sisanya yang tidak siap. Tangan kanan terulur merebut alat penggunting sebelum menendang si penjaga keluar arena. Meraup leher satu orang tersisa, pelintir kuat sebelum tubuh itu terbang ke luar menubruk tembok dan jatuh ke lantai. Ada suara erangan panjang sebelum diam.tak berkutik. Mungkin mati. Senjata mereka ikutan terbang.
Huuuuuuuuuuuu
Suara-suara tidak setuju bahkan umpatan mengisi suasana.
Tatiana tertawa senang sedang wajah Arbecio walaupun tetap calm mulai tampak riak cemas.
"Oops, sepertinya jagoan Anda akan tumbang dalam sepuluh menit. Terlebih sumber kecurangan telah disingkirkan lebih cepat."
Tanpa membuang waktu, Archilles Lucca kembali ke tengah. Kerahkan kekuatan di lengan juga paha menghajar si Iblis sampai sekarat dan lumpuh. Ia mendorong keras punggung si Iblis hingga tersungkur di alas arena. Duduk di atas si pria dan menyiksanya. Archilles pegangi kepala si iblis kuat, satu dua tiga hantaman ke pantai. Si pria menahan geraman. Giginya copot dan terlempar keluar dari mulut.
Sisi gelap keluarkan Archilles Lucca si pembunuh, mirip psikopat. Archilles mengambil pemotong. Kilau tertimpa sedikit cahaya buat siapa saja yang melihat bergidik. Benda itu angat tajam.
"Apa yang akan dia lakukan?" Abercio keheranan.
"Bersenang-senang."
Telapak-telapak kaki Archilles bertumpu di kedua tangan si pria. Paha-paha berkontraksi mengunci gerakan bahu si iblis. Ia menarik paksa tangan kiri. Masukan penggunting. Si iblis meronta kuat tetapi Archilles Lucca tak berikan peluang sedikitpun.
"Aku akan membunuhmu!"
"Kapan? Kau akan mati sekarang di tanganku!"
Menuntut si pria pelototi aksinya sewaktu Archilles mulai menjepit jari manis. Gunakan kepalan, menumbuk benda penggunting sekuat tenaga hingga potongan melenting sejauh satu meter.
"Argggghhhh! Sialan kau!"
"Sudah kubilang, aku akan membunuhmu. Tak ada yang instan. Kau perlu rasakan sakitnya perlahan, Brengsek sialan. Aku suka slow motion. Memorimu akan menyimpan kita bahkan meski dia telah membusuk di dalam kuburan."
Lakukan hal yang sama pada jari lain hingga terlepas.
"Arrggghh! Terkutuk, aku tandai wajahmu!"
"Pergilah ke neraka dan cari aku di sana!"
Kemudian tanpa belas kasihan memotong habis semua jari si pria. Beberapa orang kekar berusaha jauhkan Archilles dari si Iblis tetapi pria yang marah terlalu tangguh untuk dilawan. Akhirnya tak ada yang berani mendekat setelah mereka ditindas Archilles.
"Bunuh saja aku!"
"Sedikit lagi. Kau akan sabar menunggu. Betapa berharganya cincin itu di jariku dan kau menghilangkannya. Bahkan sekalipun 'adikmu' aku gunting, kemarahanku menumpuk semakin banyak."
"Kau sialan!"
"Dua temanmu akan menyusulmu ke neraka. Siapkan jalan bagi keduanya! Kau pertama, bentangkan karpet berduri bagi keduanya."
Kini berpindah ke tangan lain hingga kedua tangan si pria buntung tanpa jari. Si Iblis menjerit kesakitan. Tak ada yang berani hentikan Archilles Lucca. Si Iblis akhirnya pingsan.
Potongan-potongan jati berserakan di lantai. Ruangan yang tadi bersorak mendadak hening. Beberapa orang bahkan pergi.
Tatiana mencemooh sikap percaya diri Abercio dan Tatiana menangkan sekarung uang.
"Jagoanmu adalah manifestasi dirimu, Tuan! Jangan curang soal taruhan ini! Jangan sampai aku beranggapan kamu mungkin tak punya burung sama sepertinya." Mengangguk ke arah arena di mana darah basahi lantai. Tatiana minum untuk penghabisan.
Archilles Lucca pergi dari sana. Darah si iblis nodai tangannya.
Lilly di pinggir arena bawakan pakaiannya. Archilles menyipit melihat perban putih menempel di leher gadis itu. Terlebih gadis yang tadinya lemparkan lirikan manja dan menggodanya untuk habiskan malam bersama tak berani menatapnya.
Archilles Lucca tahu pasti Tatiana Sangdeto-lah yang unjuk taring. Archilles mencuci tangan.
Gelanggang kehilangan gemerlapan. Ponselnya tandai pesan masuk. Tatiana kirimkan pesan.
"Keluar dari sini, Baby! Polisi akan segera tiba!"
Archilles Lucca tergesa-gesa berpakaian. Karena Ayahnya Maurizio Lucca dan Ibunya Nastya Lucca, ia tidak ingin sampai tertangkap. Ibunya telah bersedih atas perpisahan puluhan tahun, sangat memilukan jika tahu kehidupan kelam ini masih terus digelutinya.
Archilles menduga ada pihak tertentu yang tidak ingin uang mereka hilang, mengadu pada polisi.
"Ini uangmu, Tuan!" Tatiana berikan satu tas berisi uang. Berjinjit dan menciumnya kilat.
"Kamu bisa menyimpannya untukmu. Aku tidak datang untuk uang."
Abercio awasi keduanya.
"Mari kita pergi!" ajak Archilles.
"Aku ingin ikut. Tetapi, aku harus mengambil hadiahku," sahut Tatiana tersenyum riang. "Aku akan menemuimu kapan-kapan ...," mengedip. "My Love." Diucapkan tanpa suara.
Archilles Lucca berbaur di antara pengunjung sementara Tatiana seakan tidak masalah ditangkap pihak berwajib atau wanita itu punya seribu satu cara loloskan diri. Pemberitahuan di pengeras suara bahwa ada polisi di luar.
Archilles hendak masuk ke lift tetapi tangannya ditarik. Ia menoleh dan itu, si gadis bernama Lilly.
"Aku akan menuntun-mu keluar dari sini tanpa terlihat polisi. Tolong jangan salah sangka!"
Archilles ikuti Lilly. Pergi ke lorong lain. Gadis itu membuka kotak listrik didinding lakukan sesuatu. Archilles diajak rapat ke dinding. Tembok berputar. Mereka di sisi lain kini. Dalam sebuah perpustakaan klasik. Dibelakang mereka rak-rak buku. Di luar sana sirene mobil mengaum. Archilles pergi ke jendela sedikit mengintip. Ada banyak polisi.
"Tunggulah di sini dalam lima belas menit sebelum Anda pergi. Pintu keluar ada di sebelah kanan Anda." Lilly berkata kemudian akan pergi.
"Lilly ...," panggil Archilles pelan.
"Ya, apa ada yang kurang jelas?"
Archilles sodorkan tas uang.
"Ambil uang ini dan hiduplah dengan baik di suatu tempat."
Lilly menatapnya ragu-ragu.
"Di sini tidak cocok untukmu."
Archilles pergi dari ruangan itu, keluar di pintu menuju jalanan. Ia berada di depan perpustakaan kota.
Baru melangkah seratus meter, sebuah mobil polisi mengarah padanya. Lampu-lampu mencari dan tersorot padanya.
Archilles melangkah tenang. Masukan tangan ke kantong mantel. Mobil patroli sampai padanya. Berhenti. Polisi turun.
Mendadak saja seseorang muncul dari lorong gelap.
"Baby ..., apa kamu menungguku?"
Tatiana Sangdeto menariknya pergi ke dinding yang dingin dan memeluk tubuhnya erat. Mengusap pipi yang luka dengan permukaan jempol. Polisi mendekat, Tatiana lemparkan segepok uang. Melongok lewat bahu Archilles.
"Sir, tolong jangan ganggu kami!"
Oh ternyata banyak manusia kotor di muka bumi. Si polisi kembali ke mobil setelah memungut uang beritahu temannya bahwa hanya sepasang kekasih yang kasmaran. Mobil pun pergi.
"Apakah kamu akan terus begini? Aku akan menikah dalam waktu dekat!" kata Archilles Lucca. Tatiana berseragam pegawai restoran dibalik mantel jelaskan cara wanita ini berhasil pergi dari sana.
"Aku tak punya jawaban untuk itu," balas Tatiana lepaskan pelukan. "Tetapi, aku anggap kamu mengenalku, Baby."
Mereka berjalan bersisian di bantaran jalan. Gerimis halus turun.
"Pulanglah!" suruh Archilles menengok ke sebelah.
"Kemana?"
"Rumah."
"Itu berarti aku harus bertemu Hedgar. Ini panggilan terakhir darinya sebelum ia benar-benar memotong tubuhku jadi beberapa bagian."
"Dia tidak akan lakukan itu! Kamu adiknya yang tersisa."
"Dia suka kesal karena aku menipunya soal Enrique."
"Trims."
Persimpangan jalan. Archilles berhenti.
"Aku pikir kita akan berpisah di sini. Tolong berhenti kirimkan pesan cinta karena kekasihku mungkin akan terluka."
"Aku mengatur timer default pesan agar hilang setelah kamu membacanya."
"Kebetulan kita bertemu, aku tegaskan bahwa kamu tak akan dapatkan apapun dariku."
Tatiana tersenyum menatap Archilles Lucca dengan kedalaman tatapan yang tidak gampang untuk diselami.
"Mencintai seseorang bukan berarti harus memiliki dan menguasai. Tolong biarkan aku mencintaimu dengan caraku sendiri. Kamu akan ijinkan hatiku memilikimu sampai aku temukan seseorang yang bisa gantikanmu."
"Tidak sulit bagimu untuk temukan seseorang."
"Tak ada yang sepertimu. Ini masalahnya."
"Kamu akan menemukannya."
Tatiana melambai. "Kita lihat saja nanti. Jaga dirimu, Baby!"
***