
Batin Arumi berderak seperti samudera gelisah menjelang badai. Ia menatap nanar pantulan wajahnya di kaca bathroom. Tak bisa bilang apa. Ia rasakan denyutan di kepala seakan bekerja ingin hancurkan tubuh.
Membungkuk, basuh wajah di westafel. Ia menelan erangan yang bersiap terlontar dari mulut karena hantaman pening. Darah dari hidung penuhi wash back. Amisnya buat ia mual ingin muntah.
"Nona ..., apakah Anda belum selesai?" Ketukan di pintu dan suara bertanya adalah samudera tenang di ujung horizon. Arumi terisak pelan. Ia merosot ke lantai, sembari bekap mulut dengan tangannya dan berbaring di dinginnya lantai. Dadanya sesak karena diselubungi bahagia.
Ya Tuhan ..., kejahatan macam apa ini ..., yang dilakukan pada kami?
Setidaknya bersyukur setelah sekian lama tersiksa, mereka akhirnya bersama.
"Nona ..., apakah Anda baik-baik saja? Jawab aku!"
Arumi merindukan suara lembut itu. Sepanjang tahun-tahun mencekam, ia memutar video-video pria itu.
Ketukan lagi.
"Nona?! Bolehkah aku masuk?!" Bujukan.
Arumi hapus air mata, tetapi alirannya semakin lancar. Ia mengatur napas juga kendalikan suara.
"Sedikit lagi hampir selesai. Aku hanya ingin berendam. Gara-gara latihan dancing untuk show kemarin, aku merasa pegal," balasan separuh mengeluh, selebihnya ia berhasil bicara normal padahal penuh air mata.
Dokter Lee kirimkan pesan teks pagi tadi setelah ia inisiatif untuk mulai berkonsultasi, apakah ia bisa mulai terima perawatan intensif?
Arumi temukan alasan untuk hidup kini ketika ia buka mata, prianya sedang menatapnya masygul. Kedua tangannya terbungkus di tengah bantal oleh kedua tangan besar kekasih. Dan pria itu tak tertidur sedikitpun. Arumi ingin hilangkan penyakitnya, apapun itu.
Dokter pernah bilang benturan demi benturan di kepalanya sebabkan trauma. Meskipun demikian, ia punya keyakinan bahwa ia tidak menderita penyakit serius walau kadang lupa tanggal dan hari. Ayolah, semua manusia di dunia pernah lupa tanggal, hari bahkan lupa pernah ucapkan sesuatu. Ia hanya terlalu tertekan dan patah hati. Mari pergi ke dokter dan selesaikan masalah. Termasuk tentang sahabatnya, Itzik Damian.
Kaki Itzik terluka karena dipaku tujuh tahun lalu. Arumi pikir, ia bisa gunakan metode yang sama seperti yang dikatakan kekasihnya.
"Jadi, ternyata aku kalah dalam pertarungan, 'siapa yang lebih dulu tertidur'?" keluh Arumi dengan wajah memerah. Lebih dari apapun, ia sangat bahagia hingga tak tahu harus bagaimana bersikap.
"Ya. Tetapi, kamu menang dalam pertarungan 'siapa yang paling bertahan sepanjang tujuh tahun'," balas pria itu tersenyum menawan. "Apa tidurmu nyenyak, Nona Arumi?"
"Antara ya dan tidak. Aku akhirnya bisa tidur nyenyak setelah tahun-tahun suram. Dan aku gelisah takut kamu pergi selagi aku tidur."
"Em, aku di sini menunggu pagi untuk membawamu bersamaku."
"Di luar masih gelap dan matamu memerah. Tidurlah! Aku akan gantian menjagamu!" kata Arumi pelan keluarkan tangan kanan dari balik genggaman dan mulai membelai wajah di bawah rambut curly yang sempurna di sisi pelipis si pria.
"Begitukah?" tanyanya sedikit tersenyum.
"Uhhum ...," angguk Arumi penuh keyakinan.
Kekasihnya pejamkan mata dan terlelap lima menit kemudian di bawah buaian halus jemarinya. Lalu, ia mengecup tangan pria pelan. Menyusuri wajah dan nyatakan cinta berulang kali sebanyak yang ia bisa.
Arumi kemudian kirimkan pesan pada Dokter Lee ketika prianya jatuh dalam tidur pulas. Dan balasannya tentu saja ia harus datang ke rumah sakit, jalani pemeriksaan lengkap sekali lagi untuk melihat kondisi terbarunya sebelum dokter putuskan tentukan tindakan perawatan dan jenis terapi yang perlu diterapkan. Dokter mengatur jadwal dalam Minggu ini, tetapi Arumi berjanji akan datang Senin depan, Minggu di depannya lagi.
"Itzik, Nona terlalu lama di dalam sana! Ini sudah lewat dari dua jam."
Suara itu kini kedengaran cemas dan mengeluh pada asistennya.
"Begitukah?"
"Apakah Nona biasanya begini lama di pagi hari?" tanya lagi seakan-akan mengingat kebersamaan mereka tujuh tahun lalu.
Ketukan di pintu.
"Narumi Vincenti ..., keluar dalam hitungan ke lima," tegur Itzik Damian. Lalu, tanpa basa-basi ancaman. "Satu, dua, tiga, empat, li ...."
Itzik Damian memang selalu durhaka.
Klek ....
"Ya Tuhan, apa kalian tak pernah hidup bersamaku?" Arumi menatap dua pria bergantian. Ia tersenyum secerah model iklan sikat gigi. Itzik Damian menggigit bibirnya, kerucutkan mereka dan bertukar pandang dengan Archilles Lucca. Jauh di belakang Agathias Altair berdiam diri. Hanya mengamati.
"Dua jam tanpa keramas rambut? Apakah masuk akal?"
Para pria ini menjadi pemerhati urusannya di pagi hari. Em, ternyata begini jika kamu punya lebih dari satu pria yang peduli padamu.
"Aku menikmati berendam," jawab Arumi tersenyum lebih riang, menoleh ke kamar mandi. "Apa ada yang aneh?"
"Wajahmu pucat! Kau mirip mayat hidup sekarang," keluh Itzik Damian.
"Aku selalu pucat! Ditambah semalam kami mengobrol sampai larut malam." Arumi mencuri pandang pada pria yang tak lepas pandang darinya. Hanya satu detik untuk buat mereka tenggelam dalam tatapan antara cinta, bahagia, sedih. Seakan mereka butuhkan itu selama satu tahun penuh, hapuskan tujuh tahun duka.
"Ya, kami bisa melihatnya, Nona!" angguk Itzik Damian.
Arumi hembuskan napas berat.
"Tuan Agathias, selamat pagi! Terima kasih telah mengantarkannya kemari." Arumi tersenyum lebih lebar pada pria lain di ruang tidurnya.
"Aku mengubah persepsi-ku tentang Anda serta emosiku pada Anda. Sayangnya, aku tak bisa minta maaf untuk saat ini. Aku hanya lakukan apa yang aku anggap benar." Pria itu berkata acuh tak acuh seakan sapaan Arumi Chavez bukan hal penting disimak.
Pria ini semirip Tuan Raymundo Alvaro, teman Uncle Hellton. Dingin, datar dan apatis. Pria-pria tipe ini tak tahu cara ekspresikan dirinya. Tuan Raymundo bahkan tampak datar saat menikah. Tak ada yang tahu apa dia bahagia atau tidak saat menikahi Nona Bellova. Jika tak ada ciuman menggebu-gebu, hadirin akan berpikir Raymundo Alvaro menikah karena terpaksa.
Arumi jumpai lagi satu di sini. Satu-satu orang pernah buat Agathias tertawa adalah Zefanya Lucca. Arumi pernah melihat hal itu terjadi ketika mereka bertiga bersama selama seminggu di Càrvado. Tuan Altair akan tersenyum pada apapun yang dilakukan Zefanya Lucca.
"Sama seperti aku berhasil mengubah stigma buruk tentangmu tetapi tak mengubah kenyataan bahwa aku tak bisa menyukaimu untuk saat ini. Aku masih marah padamu karena memperumit keadaanku." Arumi berhenti sebentar. Bayangan Agathias menghalanginya masuk bertemu kekasihnya dan ketika Agathias mendorong kekasihnya pergi benar-benar menyedihkan. "Aku hanya hargai tindakanmu dan banyak ucapan terima kasih karena telah bersamanya. Aku berharap Anda tidak alami apa yang kami alami suatu waktu."
"Narumi, nostalgia-mu itu buruk karena semuanya telah lewat."
Arumi Chavez tersenyum dan mengangguk setuju.
"Dengar, Tuan Muda." Itzik sedikit mengejek Archilles Lucca. "Aku akan pulang karena Aurora terus mencariku. Anda berdua tidak akan bersikap konyol apalagi ciptakan bencana 'aku bisa hidup tanpamu' lalu sakit hati dan merana dalam kebodohan bertahun-tahun." Itzik Damian berdecak. "Jika aku akan mati besok, aku akan bersama kekasihku selama sisa hidupku sebab aku hanya inginkan hal-hal indah dengannya. Sadari kekeliruan-mu, Bung."
"Aku akan bawa Nona ke Càrvado."
"Ya, ide bagus dan sembuhkan lukanya. Gadis ini meratapi-mu selama bertahun-tahun sampai aku kehabisan ilmu. Aku tak bisa menyebut namamu karena dalam lima belas detik, gadis ini akan keluarkan darah dari hidungnya. Aku akan jemput dia lagi di akhir pekan."
"Kami bisa pergi bersama. Aku akan antarkan Nona pulang," kata Archilles Lucca sangat yakin menoleh pada Arumi Chavez. Membuat gadis itu membeku.
"Tuan Muda, Anda tak boleh bepergian sementara waktu sampai Anda benar-benar pulih." Agathias Altair tak setuju pada ide pria itu.
"Agathias benar," tambah Itzik. "Narumi akan hentikan aktivitas sementara waktu dan bersamamu. Aku akan mengaturnya. Jangan lupa video call dan bicara pada Aizen Ryota dan Hanasita, Narumi. Adik-adikmu menunggu. Terlebih hari ini, Paman Anda, istrinya dan putera mereka, Juan Enriques berkunjung untuk pertama kali. Aku harus siapkan alasan bagus pada Aizen.
"Sampaikan permintaan maafku pada Uncle H. Aku tak ingin pergi kemanapun, meskipun itu termasuk Ibuku, Itzik." Arumi menyahut pelan. Ada luka yang nodai cintanya pada Ibunya.
"Oh ya sebelum aku lupa. Narumi, beri aku kekuasaan untuk atasi Jonas Jayden."
"Itzik, jangan menyentuhnya, please!" Arumi pergi ke depan meja rias.
"Mengapa tidak?"
"Jonas, hanya ingin ekspresikan dirinya, Itzik."
"Dia berlebihan. Percayalah, dia akan membawa pendukungnya untuk melamarmu." Itzik berpaling pada Archilles Lucca. "Sewaktu kamu tak ada, gadis ini merawat seorang pria kutilan. Tuangkan semua cinta dan kasih sayang padanya dan berada di sisinya seperti seorang kekasih sejati. Kini, pria itu merasa sok ketampanan dan besar kepala. Telah berpikir bahwa Narumi lakukan segala hal karena jatuh cinta padanya dan merasa pantas menikahi Narumi. Jonas akan menggelar aksi gilanya di depan Moon Entertainment dan disiarkan langsung."
"Tuan Muda melihat beritanya," sambung Agathias. "Kebetulan muncul di berita," ujar Agathias lagi seolah ingin meralat. "Aku akan menunggu di luar." Pria itu menjadi tidak nyaman dan pergi keluar.
"Bisa aku bantu?" tanya pria itu tak jauh darinya.
"Em, aku bisa sendiri. Aku mulai mengantuk kini."
"Mari kita pulang ke rumah. Kita akan sarapan dan bersama setelahnya."
"Hebat!" balas Arumi Chavez tersenyum.
Akhirnya Archilles Lucca akan membawa Nona Arumi ke rumahnya. Sepasang kekasih bersiap kembali bersama di Càrvado.
Agathias Altair menunggu di muka suite. Sedang Itzik telah pergi setelah mengurus koper Arumi. Pria itu terus menerus menerima panggilan. Dari Aurora. Ia mengejar penerbangan pagi.
Mereka akhirnya pergi ke lift.
"Apa yang terjadi?" tanya Arumi dapati kekasihnya menatap hampa ke dalam ruangan lift yang kosong. Pria itu tampak seakan bersiap dicekik seseorang di dalam sana.
"Tuan Muda tidak begitu nyaman berada dalam ruangan sempit."
"Dan tangga? Apakah kita bisa gunakan tangga?" Arumi berusaha tak tampak bingung. Atau ekspresikan sesuatu yang bisa sebabkan Archilles merasa ternoda harga dirinya. Apalagi sampai tersinggung.
"Tidak, Nona. Tangga memaksa otot kaki Tuan Muda bekerja jauh lebih keras sedang beliau tak boleh berikan pekerjaan terlalu melelahkan bagi otot-ototnya."
Hati Arumi menjadi sangat kesakitan. Arumi menengok pada Archilles, yang berusaha tetap tenang tetapi aura matanya jelas adalah respon emosional seseorang pada sebuah kejadian menakutkan. Archilles berbagi kegelisahan dengannya.
Mengapa akhirnya seperti ini? Apakah Abercio Jacquemus baik-baik saja setelah lakukan hal kejam pada kekasihnya? Apakah pria itu masih bernapas? Dan sehat di suatu tempat setelah sebabkan segala bencana?
"Aku akan baik-baik saja, Nona. Mari kita pergi!"
"Berpegang saja padaku." Arumi tersenyum dan menggenggam tangan besar pria itu. Mereka menunggu sebentar di depan lift lalu masuk ke dalamnya setelah Archilles Lucca cukup yakin.
Tangan pria itu lekas berkeringat dan berubah dingin dalam genggamannya. Agathias Altair mendekat tetapi Archilles menggeleng.
Arumi merapat pada kekasih. Lalu, mendongak.
"Apa yang kamu inginkan untuk sarapan? Aku pandai memasak sekarang," kata Arumi mencari bahan alihkan pikiran pria ini.
Tak ada jawaban. Arumi bersandar di dada dan dari sana diberitahu bahwa pria ini sedang berjuang keras melawan trauma. Apa yang terjadi? Apa yang buat kekasihnya menderita pada kotak ini? Ruang sempit jelas mengganggu Archilles Lucca.
Jantung pria itu berdetak ekstrim. Dan napas mulai tersengal-sengal. Bahkan pria itu keluarkan suara seperti seseorang yang menderita ketika dicambuk. Cengkeraman padanya semakin kuat.
"Ayahku sama sepertimu, pandai di dapur dan ajarkan banyak resep makanan. Lalu, aku mengambil kelas memasak saat ada senggang," celoteh Arumi lagi lebih riang. Ia sangat sedih untuk kekasihnya. Namun, tak mau menumpuk beban.
Karena pria itu seakan kehilangan kemampuan bicara, Arumi akhirnya berjinjit. Ia berkabung dengan dukacita yang hampir sama dengan kematian. Telapak tangan kiri menempel di dada. Ia sampai di bibir pria itu dan mengecup perlahan. Menunggu reaksi. Lalu, sentuhan sekali lagi yang lebih manis.
"Aku mencintaimu, biarkan aku menyembuhkanmu," kata Arumi menahan luapan emosi. Cukup memabukan. Tubuhnya kemudian didekap sangat erat.
Ting!
Pintu lift terbuka.
"Mari keluar, Tuan Muda."
Namun, Arumi menahan tubuh Archilles.
"Tidak, Tuan Agathias. Mari kita coba sekali lagi "
"Nona ..., Anda akan buat Tuan Muda sekarat dalam sini."
"Percaya padaku!" Arumi bersih keras. "Kami pernah masuk dalam kotak ini. Hanya berdua, banyak kali. Lalu, mengapa ia hanya mau trauma buruknya saja? Bagaimana dengan kenangan manis kami?"
"Nona ...." Agathias mengeluh. Ini sungguhan gila walaupun Tuan Muda terlihat lebih baik sejak semalam.
"Pejamkan matamu! Mari pergi ke lantai paling atas."
"Nona ..., Anda akan menyiksanya."
"Anda bisa keluar, Tuan Agathias," kata Arumi keras. "Aku cukup yakin bisa mengatasinya."
Mereka bersih tegang. Sementara Archilles tenggelam di leher Arumi yang langsung membawa pria itu ke lantai. Mereka duduk di sana. Arumi memeluk tubuh Archilles kuat.
Agathias mengalah dan tak punya pilihan lain, memencet tombol. Pintu lift tertutup. Mereka segera pergi ke lantai atas.
"Lihat aku, please!" Arumi sedikit memaksa wajah Archilles hingga pria itu tengadah padanya. Singkirkan helaian rambut dari wajah Archilles. "Suatu hari kamu kembali dari Soria dan mengajak-ku berpergian. Itu kencan kita pertama dalam keadaan normal. Kamu bawa aku naik kereta gantung menuju hulu sungai, nikmati pemandangan kota di sepanjang tepian Tagus. Pantai Urban dan jalanan Cor de Rosa di bawah kita. Di tepi sungai gerbang kota Praca do Comercio kokoh dan setiap mengingat tempat-tempat ini aku mengingatmu. Aku sering menjerit pada mereka, apakah mereka melihatmu? Mappa Mandi dan kamu adalah kenangan yang indah. Aku dan kamu hanya berdua dalam kereta. Apa kamu ingat?" tanya Arumi mencari-cari dalam mata prianya.
Archilles Lucca mengangguk lemah. Sinar mata sendu.
"Aku bertanya padamu, mengapa saat kita bersama, kita tidak bepergian?" tanya Arumi berkaca-kaca. Ia punya dua pilihan, menangis atau menahan tangis dan darah hidung.
"Karena jadwal Anda padat, Nona" sahut Archilles pelan hingga Agathias menoleh ke arah keduanya seakan baru saja lihat keajaiban. Dapati Archilles sedikit mengulas senyum. Hanya menatap pada wanitanya yang mengangguk-angguk kecil.
"Berhenti panggil aku, Nona. Berhenti bicara formal padaku."
Archilles tersenyum. "Aku menyukainya. Ingatkan aku bahwa aku adalah pria rendahan yang sangat-sangat beruntung karena Anda menginginkanku."
Arumi menangis dan memeluk pria itu. Jika pria ini ingat detil kenangan mereka, maka peristiwa tragis macam mana yang bisa mencuri kekasihnya?
"Aku akan mulai merayumu karena jengkel tanganmu terus dibalik mantel."
"Aku berjanji pada Nyonya Salsa untuk tidak menyentuh Anda."
"Kamu manis sekali, Tuan." Arumi mengecup kening pria itu. "Kita naik lift Santa Justa yang bahkan lebih kecil dari ini."
"Dan berdempetan di dalamnya," sambung Archilles mulai bernapas teratur.
"Convento do Carmo." Arumi membungkuk keluarkan kalungnya dari balik syal. "Hadiah pertamaku darimu!"
"Mrs. Lucca ..., Anda masih memakainya?"
"Ya, karena ini milikku dan kamu akan menikahiku."
"Nona ...."
"Aku sempat berpikir setelah dua hari nanti tanpa hasil denganmu aku akan menguburkan kalung dan cincinmu di Swiss. Aku ingin pergi jauh bersama Itzik dan Aurora."
"Tidak, Nona Arumi."
"Oleh sebab itu, jangan gantikan aku dengan kenangan buruk. Dan jangan pernah berpikir untuk menukar aku dengan wanita lainnya apapun keadaanmu, please!" pinta Arumi membelai wajah Archilles yang terbaring dalam lengannya.
"Maafkan aku karena sudah sangat menyakitimu," jawab pria itu menghapus air mata Arumi. Menarik gadis itu membungkuk padanya. Berciuman dalam lift sedang Agathias mematung di sudut lain.
Jika sudah begini, apakah ada yang tega pisahkan keduanya?
Terlebih, apakah semudah itu sembuhkan seseorang dari trauma berkepanjangan?!
***