
Chapter End of Us dan satu chapter di belakangnya adalah dua chapter terakhir yang bisa aku persembahkan untukmu. Ini kepanjangan aku cut jadi dua chapter. Selamat membaca.
***
Lewat dua Minggu. Archilles Lucca temani istrinya terapi bicara dan terapi fisik lain. Selama melatih aktivitas motorik, Archilles di sana setia pada kekasih kendati balasan diterima berupa tatapan kosong cenderung acuhkan dirinya.
Satu kesimpulan pasti, Archilles Lucca tak ada dalam ingatan Narumi. Istrinya melupakannya. Aurora adalah satu petunjuk bahwa Narumi benar-benar bersama Archilles sebelumnya. Wanita yang sering melamun jauh putuskan cuma akan percayai puterinya. Brelda belum bisa berkunjung karena sangat sibuk dengan perjalanan bisnisnya. Namun, konfirmasi datang pagi ini, Brelda akan menjenguk Narumi.
"Namaku, Archilles Lucca. Aku ..., sepupumu dari Càrvado." Archilles undurkan waktu pengenalan ulang diri setelah dapati cukup bisa berkomunikasi dengan istrinya.
"Apakah pernikahan kita dipaksakan?"
Archilles Lucca tersenyum. Ia mencintai di antara kesakitan pada suara Nona yang penuh tuduhan. Dulu kelangsungan ikatan di antara mereka tak butuh banyak basa basi. Kini, Archilles seakan harus mengunggah ulang semua tentang dirinya ke dalam pikiran Narumi.
Andaikata ada sebuah alat untuk mengukur rasa sakit di dalam dadanya, ia ingin istrinya menghitung kadarnya.
Hei, jangan mengeluh, Bung! Kamu pantas dapatkan semua pembalasan ini untuk semua kesia-siaan dan kehampaan yang kamu berikan pada kekasihmu.
"Ehem ..., ya," angguk Archilles ragu. Mengapa ia sepakati pertanyaan istrinya sebagai sebuah pernyataan?
Narumi sendiri kepergok ingin menolak Archilles di satu sisi, abaikan Archilles, di sisi lain mencari-cari dengan anak matanya ke segala penjuru angin saat Archilles tak terlihat.
Dokter Joseph berkata, kemungkinan besar bukan saja ingatan pada objek tetapi juga emosi yang terlibat di dalamnya ikutan lenyap. Kemungkinan. Sayang, menjadi kepastian. Dokter Joseph mulai bertahap dan perlahan mengobservasi, siapa saja yang tidak dilewatkan oleh Narumi. Sampai saat ini orang-orang yang diingat Narumi di urutan pertama dan yang paling beruntung adalah Laurent Vincenti. Bahkan Narumi menyimpan detil tentang Laurent Vincenti. Otak Narumi entah bagaimana mengganti keseluruhan profil James Chavez dengan Laurent Vincenti.
Berdasarkan hasil didapat Dr. Joseph. Narumi ingat Tuan Laurent Vincenti bermain bersamanya ketika usianya empat tahun dan walaupun cukup lama meninggalkannya, Tuan Laurent kembali untuk bersamanya. Narumi juga bersih keras tidak pernah bernama Arumi Chavez sebelumnya. Namanya sejak lahir adalah Narumi Vincenti seperti pemberian ayahnya.
Sedang Ayshe, Aurora, Hanasita, Aizen , Young Vincenti dan Aruhi, diingat Narumi berkat video yang disimpan sebelum prosedur operasi berlangsung.
"Bukankah Aurora adalah pedomanmu, Nyonya? Puteriku tak akan berbohong pada Ibunya sendiri."
"Kamu hanya terlihat seperti penjahat jalanan dan apakah gaya rambutmu harus begitu? Terlihat norak dan mengerikan!"
"Silahkan lakukan sesuatu pada rambutku," pinta Archilles Lucca penuh harap. Ia telah sesuaikan beberapa kesengajaan seperti dahulu sewaktu mereka bertemu pertama kali. Satukan kepingan karakter Archilles Lucca, si pengawal, yang dicintai Arumi Chavez. Tempat, gadis dahulu bergantung.
"Apakah kamu sungguhan sepupuku dari Càrvado?"
"Sebelumnya, Archilles Lucca adalah pengawal Anda, Nona."
Narumi menatap pria di depannya. Aurora memanggilnya Papa. Pria ini sepupunya tetapi juga pengawalnya. Dan "Nona" sangat akrab di kuping.
"Kamu sepupuku yang berubah jadi pengawalku?"
"Urutannya keliru. Aku, pengawal Anda lalu ketika kita bersama ternyata aku adalah sepupumu."
"Oh, apakah aku sudah gila jatuh cinta padamu sampai menikahimu?"
"Kita saling mencintai." Archilles Lucca sungguh ketakutan. Tangannya bersatu dan saling berkaitan. Pria itu seperti bergelantungan di seutas benang siap putus yang siap kirimkan jantungnya ke dasar neraka.
"Aku? Mencintaimu?" Narumi miringkan kepala ke kiri dan ke kanan. "Begitukah? Aku yakin bukan cinta pada pandangan pertama," tambah Narumi mirip gadis lima belas tahun yang labil.
"Anda benar. Bukan pada pandangan pertama. Kita selalu bersama, aku jatuh cinta padamu dan kemudian Anda rasakan hal yang sama."
"Kapan itu terjadi? Saat aku sekolah menengah umum?"
"Ya."
"Apakah di sekolahku tak ada pria idola? Bukankah, Narumi Vincenti seorang artis?" Bertanya sendiri.
Ini juga berarti istrinya tak ingat pada Ethan Sanchez.
"Anda punya cinta pertama. Dia senior Anda, namanya Ethan Sanchez."
Narumi menyipit. "Dari namanya saja kedengarannya galak."
"Narumi Vincenti?!"
Obrolan hati ke hati yang tak jelas asal usul dan arah tujuan berakhir oleh suara haru biru Brelda Laura. Ia datang bersama Tuan King Deon Ehren.
Brelda Laura termangu tak jauh dari Narumi dan Archilles Lucca. Berdiri bimbang.
"Hai, B ...," sapa Narumi kembangkan senyuman. Jelas saja buat Brelda kegirangan. Narumi memanggil 'B' bukan Brelda. Benar-benar bikin Brelda terperangah. Brelda berlari pada Narumi dan berlutut di depan Narumi. Kepalanya ditaruh pada paha Narumi yang duduk di atas sofa.
"Demi Tuhan yang hidup, Xavi benar. Ya Tuhan, terima kasih banyak. Aku akan bawakanMu kembang bunga karena gadisku baik-baik saja." Brelda Laura menangis terisak. "Xavi, bilang, aku tak perlu cemas. Narumi bisa lupakan dunia tetapi tidak dengan Brelda Laura."
"Itu karena Brelda bersinar seperti bulan," sahut Narumi berikan usapan pada kepala Brelda. "Apakah ..., dia tidak datang?" tanya Arumi melongok ke atas kepala Brelda.
Di depan sana Papa dan istrinya berdiri amati juga ada tamu lain, rombongan. Marya Corazon atau Aruhi, kakak perempuan, ternyata ada diingatannya.
Sisanya menjelma menjadi ilmu baru butuh dipelajari.
Bagaimana bisa?
Misal, bocah kecil seumuran Aizen Ryota memegang buket bunga, cokelat dan boneka di tangan tak berkedip menatapnya. Terlalu jelas memujanya.
Sebelahnya versi dewasa si bocah kecil. Seorang pria, tinggi, tampan lemparkan senyuman terbaik penuh kasih sayang. Dan pria sebaya Papa sedang mengobrol serius, entah siapa. Kerabatnya? Apakah semua orang ini keluarganya?
Sedang Ibunya, em, sejak awal mengaku Ibunya bernama Salsa Diomanta Vincenti berbincang dengan wanita lain. Sesuatu sangat ganjil di sini.
Akh ....
Betapa lelah lawati kunjungan silih berganti. Itu karena, Narumi tak ingat siapa mereka dan bosan berkenalan. Terutama, sangat malas menyimpan nama-nama mereka di kepala. Narumi cuma ingin naik Van dan saksikan air mengalir di sungai sambil nina-bobokan Aurora. Atau ia ingin pergi ke kantor dan mengobrol dengan Brelda.
Kapan terjadi?
Euforia mereka padanya adalah siksaan.
Suasana masih hening.
Brelda terlalu terperanjat atas pertanyaan Narumi. Pertanda, Narumi bukan hanya ingat padanya tetapi adik lelaki Brelda, Xavier juga. Sungguh luar biasa. Brelda Laura melongok pada Archilles Lucca yang pura-pura sibuk bertukar informasi dengan King Deon Ehren. Tidak mungkin pria itu tidak dengarkan mereka. Archilles Lucca tampak kendalikan diri sendiri.
"Aku di sini, Narumi Vincenti," lambai Xavier Seth Moon muncul seolah baru terlontar keluar dari teko Aladin. "Mencariku? Aku baru dari Luxemburg. Terima kasih kamu mendarat di bumi dengan selamat setelah dari Mars. Apakah di sana panas? Kamu tidak betah? Apakah Mars berwarna merah itu benar? Lebih tampan mana, Mars atau Moon (Bulan)?" Xavier Seth duduk di seberang Narumi tersenyum sumringah. Brelda sampai-sampai melongo pada adiknya.
"Ada apa denganmu?" tegur Xavier Moon pada kakaknya.
"Kamu tersenyum, Xavi!"
"Memangnya aneh?"
"Ya, setelah 3 bulan kamu seperti pria bisu, akhirnya kamu bicara tiga kali lebih panjang dari biasanya. Oh, Sayangku." Brelda berkaca-kaca.
"Stop sentimentil, Brelda!" keluh Xavier.
"Mengapa kita tidak menikah?" tanya Narumi abaikan kicauan panjang Xavier Seth Moon sebelum interupsi Brelda.
"Kamu mungkin lupa karena jet lag," balas Xavier. "Kamu dan kekasihmu yang kamu tunggu tanpa lelah selama tujuh tahun akhirnya menikah. Syukur kepada Tuhan."
Narumi menatap Xavier intens. Tak lepas dan tak berkedip.
"Narumi, hati-hati dengan tatapan model begitu!" Xavier meneguk ludah. Jakun bergerak. Pria itu kesakitan. "Aku bisa mati untukmu karena hatiku belum bisa lupa. Selamatkan aku."
"Xavi?!"
"Hm?!"
"Aku pikir kita akan bersama, saling mengejek di pagi hari dan menjegal di malam hari. Brelda akan datang sebagai wasit," ujar Narumi pelan. "Aku menyukai kediaman Moon. Aku ingin tinggal di sana dengan Casandra dan Brelda."
Kakak beradik bertukar pandang. Mereka tak bisa menoleh untuk melihat respon Archilles Lucca.
"Angan yang hebat, Narumi. Hanya saja, aku menikahi seseorang." Xavier berpaling ke arah lain hempaskan napas kasar. Pria itu mengumpat. Rahang berderak. Sikapnya ditangkap Archilles Lucca dan Xavier tidak peduli.
"Apakah kamu bersamanya lagi?"
"Siapa?"
"Pria cantik."
Narumi ingat detil itu. Brelda bertukar pandang pada adiknya, fix, mungkin bukan tentang mereka yang hilang dari Narumi. Bisa jadi orang lain.
"Aku berada di jalan lurus berkatmu, Sayang. Aku bersama kakak perempuanmu."
"Aruhi?" tanya Narumi.
"Bukan, Alana."
"Kakak perempuanku hanya Aruhi."
"Ada kakak perempuanmu lainnya. Dipungut ayahmu dari bawah akar pohon di kedalaman bumi. Otaknya terbungkus selaput lumpur kotor dan gelap ketika ditemukan. Coba ku bersihkan. Namanya, Alana. Dulu dia jahat padamu. Sekarang dia akan korbankan apapun darinya untukmu." Xavier terangkan kehidupan pribadinya dari cara bicaranya yang menghina. Dan pria itu tak peduli lirikan peringatan Brelda. "Tak penting bahas tentangnya. Kamu akan kembali ke kantor?"
Narumi Vincenti berpikir sedikit. "Apakah bisa?"
"Ya, mengapa tidak?" balas Xavier. "Bermalas-malasan di rumah akan buat otakmu menyusut. Kamu akan kehilangan seni dari jiwamu."
Narumi lagi-lagi merenung.
"Otakmu seperti ototmu. Kalau tidak digerakkan dan dilatih akan keram-keram saja. Kamu bisa mengolok aku sesuka hatimu di sana," tambah Xavier. "Aku bersedia menampungnya dibalik rusuk-rusukku."
Xavier menunggu penuh harap, Archilles Lucca telah patah hati berat. Narumi mengingat Brelda bahkan Xavier, tidak dengannya. Narumi banyak bercakap-cakap pada teman-temannya seolah Narumi tak pernah sakit. Sementara bersamanya istrinya hanya tercenung jauh, lemas dan tak bersemangat.
Archilles Lucca tahan napas di ujung tenggorokan saat Narumi melihat padanya, seakan minta saran. Mata istrinya datang padanya. Seolah hendak bertanya. Archilles sedikit terhibur, mata mereka bentrok. Dulu, mereka bisa saling pahami. Sekarang semua telah lenyap. Setidaknya ia terhibur, Narumi anggap ia suami.
Di luar harapan Archilles, Narumi tentukan keputusan sendiri.
"Aku akan datang saat aku bisa mandiri." Narumi bicara pada teman-temannya tetapi tak alihkan matanya dari Archilles Lucca.
"Luar biasa sempurna. Nah, kami harus pergi!" kata Brelda berat hati.
"Apakah kalian akan sering kemari?" tanya Narumi tak sudi berpisah.
"Diusahakan, Sayang," sahut Brelda mencium kening Narumi. "Untukmu apapun itu!"
Xavier kantong-kan kedua kepalan tangan ke dalam saku celana. Tak luput dari perhatian Narumi.
"Apa kamu tidak punya celana lain?" Narumi berdecak.
Xavier Seth Moon mulanya takjub lalu tersenyum lebar. Ia manggut-manggut kecil.
"Aku sengaja memakai ini untuk menguji-mu, Narumi Vincenti. Apa ..., kamu ingat?"
"Ya. Hanya saja sesuatu yang hilang dariku ...," berhenti dan bernapas sedikit demi sedikit. "Aku rasa telah terjadi sesuatu. Mengubah keadaan."
"Aku ingin bersama teman-temanku hari ini. Bisakah aku ikut dengan Anda berdua sekarang?"
Kini, kedamaian Archilles Lucca benar-benar di ujung tanduk. Hendak sampaikan keberatan. Tetapi, berakhir macam penguasa yang kedapatan tangan lakukan hal nista dan tak miliki wewenang apapun.
Xavier Seth Moon berpaling pada Archilles Lucca yang meneguk ludahnya susah payah.
"Kamu perlu minta ijin suamimu, Narumi."
Archilles Lucca tak mau istrinya tertekan. Mungkin lingkungan di mana tujuh tahun Arumi berdikari bisa pulihkan kondisi istrinya lebih cepat kendati tak ada ia di sana.
"Pergilah!" angguk Archilles Lucca setuju abaikan hati remuk. "Aku akan bersama Aurora," tambahnya cepat.
"Terima kasih," ucap Narumi.
Dalam waktu singkat Narumi telah bertukar pakaian.
"Narumi ..., Tuan James Chavez sekeluarga ingin membesukmu," cegah Tuan Vincenti saat Narumi hendak pergi.
"Papa, apakah Tuan James adik Papa atau adik Mama?" tanya Narumi tanpa minat.
Laurent Vincenti terdiam.
"Narumi mereka adalah ...."
"Papa, please. Aku hanya menerima kunjungan orang tuaku dan saudaraku. Tolong kerabat lain dijauhkan dariku, Papa."
"Sayang ...."
"Sampaikan rasa terima kasihku pada mereka karena sangat peduli dan prihatin padaku. Namun, sungguh aku jenuh, bosan dan terganggu." Narumi memelas pada Laurent Vincenti.
"Sayang ..., Mereka ini ...."
"Papa, please," rengeknya lagi hingga dapatkan sepakat penuh Laurent Vincenti.
"Aku pergi. Bye bye, Papa."
Narumi lambaikan tangan. Ia abaikan Tuan James Chavez begitupula yang lain termasuk Ethan Sanchez.
"Hei ..., wanita ini mulai bertingkah menyebalkan." Ethan Sanchez berdecak.
"Apakah kita dekat?" tanya Narumi kesal.
"Ya. Aku saudaramu juga sama seperti Young Vincenti."
Narumi mengerut.
"Setidaknya, jangan abaikan adikmu! Abelard sangat ingin melihatmu."
"Adikku hanya Aizen Ryota dan Hanasita. Tak ada adik yang lain. Oh, memang berapa banyak Tuan Laurent Vincenti punya istri?"
Wajah semua orang terlebih bocah bernama Abelard berubah sedih. Narumi hembuskan napas.
"Maafkan aku!" ujar Narumi beberapa saat kemudian.
"Ini semua gara-gara Ibuku!" Abelard berbalik pergi dengan marah. Lemparkan tatapan kesal pada Istri Tuan James Chavez.
Ya Tuhan. Narumi kemudian memilih hanya fokus pada Brelda Laura. Banyak sekali kakak dan adiknya sampai pusing dia mengingat nama mereka satu persatu.
"Kami pergi," pamit Xavier Moon pada Archilles Lucca.
"Tuan Moon ..., Narumi perlu minum obat." Archilles Lucca sodorkan sesuatu yang terbungkus rapi.
"Baiklah, aku akan pastikan Narumi makan dengan baik dan minum obatnya."
Archilles Lucca anggukan kepala tanpa daya sedang istrinya telah hilang dari pandangan.
"Kamu tidak harus biarkan Arumi pergi. Dia mungkin sedang kacau karena otaknya sedang tidak berfungsi bagus."
Kata-kata Elgio Durante terus terngiang sepanjang siang itu di kepala Archilles. Ia memilih rapikan ruang tidur Aurora. Menggantung kembali pigura prewedding mereka yang ditemukan di gudang. Mengusap wajah cantik jelita belia berulang kali hingga ia bisa bercermin di sana.
"Archilles Lucca ..., aku menyayangimu. Bisakah tetap tinggal di sisiku? Tolong jangan pergi."
Archilles Lucca tersenyum sedih. "Nona ..., maafkan aku. Bisakah Anda kembali, Sayang? Aku mencintaimu."
Dan ia di sana termenung selama satu jam lebih tak peduli otot kakinya keram. Ia berpindah ke ruang tidur mereka tambah-tambah gundah.
Alihkan pikiran dengan ide penataan ulang ruangan. Apakah bisa selesai sebelum istrinya kembali?
Mengapa harus instingnya menjalar kemana-mana? Apa karena istrinya tampak antusias akan habiskan hari ini bersama Xavier Moon?
Ia cemburu berat, menatap hampa pada ruang tidur di mana ia sendiri tak menyentuh Narumi setelah istrinya ia bawa ke rumah ini. Bukan apa-apa, sampai Narumi menginginkannya ia akan memberi dirinya.
Lanjutkan pekerjaan. Gunakan waktu sementara Aurora bersama Ayshe. Ia memilih satu konsep interior dalam kotak di otaknya. Proses eksekusi tidak begitu sulit. Walaupun demikian, tetap curahkan tenaga di dalamnya. Ia pesimis di pertengahan jalan.
Mengapa terlihat suram?
Udara seolah membawa pesan, Tuhan belum selesai denganmu. Dia masih ingin menguji.
Malam akhirnya tiba, semakin pupus harapan. Gelisahnya kambuh, begitu pula nyeri di hati. Kemana Xavier membawa istrinya?
Apakah di hotel yang sama setelah tiga bulan berlalu? Perlukah ia pergi ke sana menjemput Narumi?
"Papa, aku ingin tidur."
Aurora minta turun dari high chair pertanda makan malamnya telah habis, kagetkan Archilles Lucca.
"Baiklah, Sayang."
"Mana Mama? Au mau Mama baca kisah."
"Mama masih sama Aunty Brelda. Sebentar lagi pulang. Nanti, Papa ganti Mama dulu ya malam ini."
Aurora patuh. Berakhir di ranjang setelah menguap dua kali. Archilles Lucca bacakan sebuah kisah. Daniel dalam lubang singa lapar. Bukti bahwa Tuhan adalah Sang Pemelihara ciptaanNya terlebih yang patuh pada Nya. Meski Aurora terpesona pada sosok Daniel, tetap saja si bocah lekas tertidur.
Archilles benamkan wajah di bantal dua menit kemudian. Ia sangat rindukan istrinya.
"Papa, ada apa?" tepukan pelan kagetkan dirinya. Keliru. Aurora terganggu. "Jangan nangis, ya, Papa. Cup cup, nanti juga mama pulang!"
"Au mau dengar cerita lagi?" tanya Archilles serak.
"Ya, Papa. Tolong tentang Nona Alumi dan Tuan Pengawal."
"Sudah diceritakan semuanya."
"Lagi, Papa."
Sedangkan Xavier dan Brelda berada bersama Narumi di kediaman Moon selepas dari galeri dan kantor. Ada perayaan selamat datang kecil-kecilan oleh Casandra Moon. Di taman belakang, sukacita padanya dinodai oleh sesuatu. Narumi merasa seseorang mengawasinya dengan sinis. Mudah saja temukan seorang wanita dibalik jendela kaca lebar di lantai dua. Menatapnya hingga Narumi risih.
"Abaikan dia!" bisik Xavier. "Jika bukan karenanya, kita telah menikah, Narumi Vincenti. Dia adalah tawananku sekarang."
"Kakak perempuanku?"
Xavier abaikan pertanyaan itu. Cuma pastikan Narumi makan malam dengan baik lalu minum obat tepat waktu. Mereka berdansa. Narumi sedikit meremang. Ini tentang sebuah sentuhan asing bukan lainnya.
Seseorang yang melekat di pikiranmu tetapi bukan dengan sentuhannya? Lalu, seorang yang tidak ada diingatan-mu tetapi sentuhannya terasa nyaman.
Ada apa dengannya? Apakah atmosfer Mars telah berikan ia ilusi?
Ataukah mungkin karena ia hanya bersama Archilles Lucca sepanjang waktu?
"Kamu ingin mengungkap sebuah rahasia di pikiran dan perasaanmu, Narumi?" tanya Xavier sendu.
Narumi menatapnya galau.
"Aku bisa beritahukan kamu dan tunjukan padamu sesuatu," tambah Xavier sebelum menggenggam tangan Narumi dan pisahkan diri dari kelompok yang sedang bersuka cita.
Xavier Moon menyeringai senang pada wanita yang menatap mereka dari atas.
"Xavi?!" cegah Brelda Laura yang sayangnya, minum terlalu banyak hingga jalan sempoyongan dan malah jatuh ke dalam pelukan Tuan King Deon Ehren.
Narumi diajak masuk ke dalam rumah. Ke sebuah ruang tidur platonik seolah menunjukan jati diri Xavier di sana.
Pintu tertutup. Xavier mencium Narumi. Ia mulai nyalakan, memaki Archilles Lucca karena mencuri Narumi darinya. Menggiring Narumi ke ranjang.
"Kamu ingat malam itu, Narumi?" tanya Xavier berduka mendalam. Ia pikir ia telah menikahi Narumi dan tak menyangka hanya ular terkutuk yang datang dan menipunya.
Narumi pejamkan mata, saat Xavier menyentuh rahang halus dan jempol pria itu singgah di bibir.
"Buka matamu, Narumi. Lihat aku!"
Ikuti petunjuk Xavier. Kemudian ketika pria tertangkap mata-mata, Narumi lekas diserang pusing juga mual. Itu tidak butuh waktu lama. Narumi mulai panik. Ia bergerak dan berguling, temukan peluang. Duduk di tepian ranjang dengan jantung berdebar-debar aneh dan tak nyaman. Terutama rasa bersalah tak dapat Narumi sangkal. Apa yang suaminya rasakan sekarang menjadi siksaan lain bagi Narumi.
Reaksi Narumi sama pada sentuhan. Xavier Moon tidak heran. Namun, segera panik melihat Narumi pegangi kepala.
"Narumi, apa sesuatu terjadi? Apa kamu merasa sakit?" Pria itu menyusul. Hendak menyentuh tetapi kode Narumi jelas, ia tak ingin disentuh.
"Benar-benar pria beruntung." Xavier duduk di lantai bersandar di sisi ranjang. "Pria Brengsek itu ..., kamu mencintainya tanpa henti selama tujuh tahun. Dia pria yang kamu inginkan dan kamu butuhkan, Narumi. Bahwa alam bawah sadar-mu tidak bingung padanya sungguh bikin iri."
Narumi menatap Xavier. Untuk waktu yang lama tak miliki kata. Beberapa menit berselang dengan nada pelan dan turun.
"Maafkan kami jika kamu mungkin sangat tersakiti dan menderita, Xavi. Aku mungkin ikut di dalam ketentuan nasib burukmu."
Xavier Moon bernapas berat. Ia lurus ke depan.
"Aku dan suamiku," tambah Narumi jauh lebih rendah. "Semoga kehidupanmu selalu bahagia, Xavi. Aku mendoakanmu dengan tulus."
Xavier Moon menelan cairan. "Aku bahagia, Narumi. Jangan terlalu dipikirkan."
"Jika benar dia kakak perempuanku, kamu tidak akan menyakitinya, kan? Berjanjilah untuk menjaganya."
Xavier tak menyahut, ia terus saja terpukau. Narumi Vincenti sungguh luar biasa. Semoga Archilles Lucca lekas mati. Ia akan restui Alana Chavez ikut di belakang Archilles Lucca.
Oh, Xavier kau bahkan tak bisa menginjak semut. Suara Brelda ribut di kepalanya.
"Narumi, mari aku antar kamu pulang. Suami Narumi cukup dapatkan ganjaran. Xavier ulurkan tangan. "Sebelum obatmu bereaksi dan aku berubah pikiran."
***