
"Zefanya Lucca?! Ada apa ini?!"
Makan malam akan segera dimulai. Zefanya kedapatan sangat sibuk di kamar tidurnya. Adiknya keluarkan kaos, kemeja, sweater, beberapa jeans bentangkan di atas ranjang. Cocokkan satu persatu.
Sementara itu, dari dapur semerbak aroma makanan menembus masuk indera penciuman . Tak tanggung-tanggung perut Archilles langsung mengerik nyaring seakan beberapa ekor grilo (jangkrik) berkaraoke di dalam sana.
Menutup minimarket lebih cepat untuk makan malam bersama keluarganya, Archilles akan nikmati momen-momen langka ini. Setelah ia bekerja pada Valerie kemudian pergi ke mansion Diomanta, ia sangat jarang berkumpul bersama keluarganya. Terlebih ia akan kembali mengajar dan mungkin sementara waktu mereka akan tinggal bersama keluarga angkat ditiap akhir pekan.
Tuan Maurizio Lucca secara berkala kirimkan pesan, tanyakan kedatangan mereka. Nyonya Nastya menunggu dan sedikit tidak sabaran ingin berjumpa. Mereka mengatur waktu dan sepakat akan berkunjung di akhir pekan ini selama tiga hari. Hanya saja, Archilles belum bicarakan lebih jauh dengan Zefanya.
"Archilles," kata Zefanya akhiri lamunan. Mulai bertingkah dewasa lagi atau adiknya memang dewasa sebelum waktu karena keadaan. "Memang segala hal dimulai dari angan tetapi sangat menyesal aku katakan bahwa kamu juga harus realistis. Aku memikirkannya sepanjang hari sepulang sekolah."
"Well, ada apa, Sayang?"
"Pertama mandi saja sana dan pakai ini!"
"Em, kita hanya akan makan malam."
"Ya, tapi ini sangat spesial. Sudah sana cepat! Jangan lupa bercukur dan pakai parfummu."
"Zefanya?! Holla?"
Zefanya mendorong kakaknya ke kamar mandi.
"Kami menunggumu di bawah. Jangan lama-lama, Archilles!"
Dua puluh menit kemudian ia turun ke ruang makan. Mengerut saat temukan ada banyak hidangan, lebih dari biasanya. Terlebih, seolah neneknya telah keluarkan semua resep dan keahlian memasak.
Zefanya mengatur bunga ke dalam vas. Menyusun piring-piring keramik, mangkuk dan peralatan makanan rumah ini terlihat berkilau.
"Apa ini hari ulangku?" tanya Archilles Lucca hingga Zefanya melihat padanya.
"Ops, kamu sungguhan sangat tampan. Tetapi, ada sesuatu menganggu mataku." Zefanya amati dirinya seksama segera temukan kejanggalan. "Kenapa tidak mencukur janggut itu, Archilles?"
"Oh, ini?" tanya Archilles menunjuk rahangnya. Mengelus.
"Ya."
"Mengapa?"
"Arumi Chavez menyukai ini. Aku tak akan hilangkan."
"Ya Tuhan, ya Tuhan, Archilles Lucca. Tak akan ada yang melarangmu mengkhayal tentang Arumi Chavez termasuk aku." Zefanya menghela napas kuat-kuat. "Hanya saja, kamu juga perlu segera bangun sebab dunia nyata-mu menunggu."
"Zefanya ..., aku sungguhan akan menikahi Arumi Chavez."
"Baiklah. Kamu akan menikahinya dari pukul sembilan malam hingga pukul tujuh pagi dalam mimpimu. Bukankah saat kamu membuka mata, kamu perlu melihat seseorang yang lebih nyata?"
"Aku akan menikahinya di dunia mimpi dan dunia nyata. Kami telah bertunangan dua kali," kata Archilles pamerkan cincin di jarinya berharap Zefanya percaya.
"Aku juga bisa pergi ke toko accecories dan beli cincin begitu lalu mengaku telah bertunangan dengan Taehyung. Terima kasih Archilles Lucca, kamu berikan aku ide."
Tuan Zevas bergabung hanya untuk menonton dua orang berdebat.
"Bukan begitu, Kakek Zevas?" Zefanya mencari-cari pendukung.
Kakek tua menatap cucu-cucunya, baru akan berikan pendapat, bel berbunyi diluar.
"Nah, dia datang," seru Zefanya bersemangat.
"Zefanya, buka pintunya!" Lucia berteriak dari dapur berbagi semangat yang sama dengan Zefanya. Padahal neneknya tahu Salsa Diomanta telah katakan bahwa dirinya menikahi Arumi Chavez. Mengapa Lucia mendukung Zefanya?
"Iya, Nek."
Zefanya menarik tangan Archilles separuh menyeretnya pergi ke pintu depan. Zefanya sodorkan seikat bunga mawar merah.
"Hei ..., Zefanya Lucca?"
"Tersenyum dan sambut dia!"
"Simpan bungamu!"
Archilles berdecak lemparkan bunga ke sofa hingga Zefanya cemberut. Archilles sampai ke pintu dan membuka pintu tepat sebelum seorang gadis seusia dirinya bermantel abu-abu akan memencet bel rumah sekali lagi.
Gadis tertegun padanya di ambang sedang Archilles berpikir akan membawa Zefanya bertemu Arumi Chavez agar adiknya percaya.
"Hai ..., em ..., aku diundang Grenny dan Zefanya untuk makan malam," kata gadis itu canggung.
"Oh hai, aku Archilles Lucca, kakak laki-laki Zefanya Lucca. Mari masuk."
"Ya aku tahu, Archilles. Zefanya banyak bercerita tentangmu. Namaku Scholastika."
"Ya, Scholastika. Zefanya dan Grenny menunggumu."
Gadis sederhana sedikit malu-malu mencuri pandang pada Archilles sebelum masuk ke dalam rumah.
Semua orang antusias pada Scholastika kecuali Archilles yang terus menyipit pada Zefanya, menuntut pertanggung jawaban.
"Archilles, ini ..., Ibu guruku yang aku bilang kemarin." Zefanya bersinar macam mentari pukul tiga sore. Kemerah-merahan.
Archilles Lucca berdecak dalam hati.
"Zefanya mengatakan kamu sangat suka bebek saus bawang putih, Tuna saos kedelai dan Cheesecake. Aku buatkan khusus untukmu, Ibu Guru Scholastika. Zefanya membantu tambahkan potongan buah-buahan." Grenny tidak kalah antusias.
"Aku sungguh tersanjung, keluarga ini menerimaku penuh hangat," sahut Scholastika lembut. Menoleh sedikit pada Archilles Lucca yang tak berani bermuka masam sebab dua orang di seberang meja seakan-akan bersiap menelannya bulat-bulat jika ia berani ciptakan kesan jelek.
Mereka kemudian mulai makan dengan tenang. Archilles tak malu-malu habiskan makanan di atas meja abaikan Zefanya yang terus beri kode agar dirinya lebih perhatian pada gadis di sebelahnya. Terlebih menjaga perilaku.
"Apa matamu bermasalah, Zefanya Lucca?" tanya Archilles tanpa dosa hingga Zefanya memutar bola matanya.
"Aku merasa dikhianati kata-kataku sendiri," sahut Zefanya.
"Ada apa?"
"Archilles, kurasa Ibu guru ingin mencoba kerang bersaos." Zefanya akhirnya tak tahan untuk menegur.
"Oh, Begitukah?" Archilles Lucca menoleh ke samping pada Scholastika yang segera memerah. "Anda mungkin tak akan suka, biasanya mereka agak amis," tambahnya pada gadis yang lebih terpesona padanya daripada isi meja makan.
"Aku menyukainya, Archilles. Apalagi ditambah potongan roti," sahut Scholastika mencoba nyaman.
"Baiklah."
Zefanya hembuskan napas lega tetap berjaga-jaga dengan matanya.
Setelah makan malam yang dipaksakan hangat, mereka berpindah ke ruang santai. Menonton kumpulan video DIY yang disukai Zefanya. Archilles ingin menyelesaikan urusannya tetapi Zefanya dan Lucia seakan punya rencana untuknya dan Scholastika.
"Apa pekerjaanmu sekarang, Archilles?" tanya Scholastika memulai percakapan.
"Pengangguran," sahut Archilles santai.
Zefanya melongok dengan tampang gusar. Ekspresi wajah seakan berkata. "Haruskah kau sejujur itu, Archilles Lucca?"
"Begitukah?"
"Em ya. Sulit menemukan pekerjaan yang bagus. Pekerjaanku tidak jelas."
"Setidaknya kamu punya minimarket untuk diurus." Zefanya menimbrung, tak tahan pada sikap Archilles Lucca yang ingin menyingkirkan Ibu gurunya secepat mungkin.
"Apa tugasmu sudah dikerjakan, Zefanya?" tanya Scholastika.
Zefanya temukan ide itu. Sangat cemerlang. Wajahnya berkilauan sama seperti piring-piring tadi.
"Belum, Ibu Guru. Aku kesulitan dalam beberapa poin. Maukah temani aku belajar sebentar?"
Archilles Lucca segera berdecak. Banyak akal juga anak ini. Semalam gadis itu tanpa masalah dan menganggap remeh semua tugasnya.
"Kakakku akan antarkan Anda pulang. Dia perlu tahu rumah Anda juga. Lain kali Archilles akan menjemputmu mengelilingi taman kota di akhir pekan."
"Kamu pengangguran, ingat?" sergah Zefanya tahu bahwa akan sia-sia jodohkan kakaknya dengan gurunya, tetap saja pantang menyerah.
"Baiklah, mari kita lihat tugasmu. Aku harus segera pulang."
Tiga puluh menit kemudian, Archilles Lucca di jalanan bersama Scholastika antarkan gadis itu ke rumahnya yang tidak begitu jauh letaknya.
"Zefanya melamarku seminggu lalu, Archilles," ungkap Scholastika merasa perjalanan mereka terlalu sunyi. "Mengatakan bahwa kakak laki-lakinya butuh kekasih. Menurut Zefanya aku pas untukmu."
Archilles tertawa kecil hingga buat Scholastika berpaling amati dirinya.
"Zefanya hanya berlebihan kuatir, Ibu Guru."
"Adikmu sangat manis."
"Ya," angguk Archilles. "Bagaimana Zefanya di sekolah?"
"Cerdas. Nilai akademis selalu bagus dan Zefanya adalah panutan bagi yang lain."
"Maafkan sikap Zefanya. Sebenarnya aku telah bertunangan dan akan menikah di Maret nanti."
Pengakuan itu tidak mengejutkan Scholastika.
"Arumi Chavez?" tanya Scholastika. Archilles malah lebih kaget. "Jangan heran, Archilles. Zefanya memberitahuku bahwa kamu adalah fanboy paling fanatik dari Arumi Chavez."
Bukan sekedar fanboy, pikir Archilles Lucca. Ia akan menjadi suami Arumi Chavez. Sesuatu yang manis menggerayangi dirinya hingga ia kehilangan fokus dan hampir terantuk ujung sepatu sendiri.
"Zefanya berpikir aku hanya mengkhayal karena terlalu mengidolakan Arumi Chavez."
"Jadi, itu benar?" Scholastika jelas meragukan Archilles. Bagaimana bisa? Tidak masuk akal.
"Ya."
"Aku penasaran di mana kalian bertemu?"
"Sedikit rumit."
"Tanpa gosip juga rumor sama sekali, terlebih Arumi Chavez adalah bintang Bittersweet Married. Terus terang aku berpikir kamu mungkin memang sedang berandai-andai?"
"Tidak mengapa. Kami juga tak boleh mengekspos hubungan kami. Kini, kamu tahu."
"Misalkan hubunganmu dan Arumi Chavez tak berjalan baik, kamu akan beritahu aku. Kita mungkin bisa bersama." Scholastika cenderung lebih mempercayai Zefanya Lucca.
Archilles menggeleng. "Aku hanya akan bersamanya, Scholastika."
"Arumi Chavez masih lima belas tahun. Masih di tingkat pertama sekolah menengah. Apakah tidak masalah?"
Archilles ingin menyahut ketika ponselnya berbunyi. Panggilan video dan itu dari Arumi Chavez. Terpantau gugup. Tetapi, lebih berbahaya jika panggilan pacarnya itu diabaikan. Archilles lupa bahwa terkadang dirinya dan Arumi terikat sesuatu yang sangat istimewa.
Archilles perhatikan jam. Hampir pukul sepuluh malam. Ia segera menjawab panggilan sebelum Arumi Chavez mulai curigai dirinya sedang macam-macam.
Tuhan, perasaanku tidak enak.
"Nona Arumi, apa sesuatu terjadi?"
"Archilles ..., kamu seperti tak suka aku menelponmu?" Wajah Arumi terlihat di layar tanpa basa-basi langsung menuduh.
Oh ya Tuhan. Jangan ada bencana.
Scholastika sepertinya percaya kini bahwa Archilles tidak membual. Suara di ponsel adalah suara Arumi Chavez.
"Bukan begitu, Nona. Em, aku terlalu terkejut Anda menelponku malam-malam begini."
"Kamu di mana Archilles?"
"Aku masih di rumah nenekku, Nona."
"Mengapa suram? Oh, apa itu lampu jalan? Apa yang kamu lakukan di malam begini, di luar rumah? Tanpa jaket hanya sweater?"
Archilles Lucca tak mungkin berbohong. Perasaan aneh segera berlarian kesana kemari.
"Aku mengantarkan seorang teman pulang ke rumahnya?" Ia hanya perlu menjawab jujur.
"Seorang gadis?" tanya Arumi Chavez dari seberang. Tembakan cemburu. Wajah Arumi berubah tidak senang.
"Ya, Nona. Ibu Gurunya Zefanya."
"Jadi, gurunya Zefanya adalah temanmu?"
Archilles Lucca menggaruk sisi kepala. "Ya, Nona." Mengangguk dengan rasa bersalah macam pria yang kedapatan mendua.
"Baiklah. Maaf aku mengganggumu. Aku tak akan menelponmu lagi."
"Nona Arumi ..., tunggu!" Archilles Lucca kalang kabut separuh memekik di jalanan lengang. "Aku akan segera kembali ke rumah. Ada banyak cahaya. Kita bisa bicara dengan nyaman."
"Tidak perlu. Aku mengantuk. Antarkan temanmu dan jangan lupa jalan pulang."
"Nona ...."
"Apalagi?"
"Aku merindukanmu, please," bujuk Archilles Lucca mengatakan dengan sungguh-sungguh. Seandainya ia punya kekuatan supranatural, bisa ters3d0t masuk ke dalam ponsel dan bersama gadis itu.
"Archilles, aku bisa pulang sendirian," kata Scholastika tiba-tiba menginterupsi. "Rumahku di sebelah sana. Yang ada pohon palem. Mampirlah bersama Zefanya kapan-kapan." Menunjuk ke suatu arah. "Terima kasih telah antarkan aku. Sampai nanti, Archilles."
"Baiklah, Scholastika."
Archilles Lucca berdiri di tengah jalan menunggui Scholastika berjalan sampai menghilang di gerbang rumahnya.
"Nona Arumi?" panggilnya takut gadisnya marah dan ngambek.
"Ya, Archilles," jawab Arumi bikin hati Archilles tenang. Hanya sesaat. "Aku mendengar temanmu bernama Scholastika berkata rumahnya di sebelah sana, yang ada pohon palem. Jadi, kamu sendiri tak tahu di mana rumah temanmu? Berapa lama kamu telah menjalin pertemanan?"
Archilles merutuk dalam hati. Untuk urusan begini Arumi Chavez sangat jenius. Archilles tidak punya sebutan lain lebih bagus selain teman. Ia tak mungkin bilang Scholastika dijodohkan oleh orang-orang rumah atau Arumi Chavez akan uring-uringan sepanjang malam. Archilles tiba-tiba kelu.
"Nona ...."
"Mengapa tidak singgah saja dulu, Archilles? Masih belum terlalu malam untuk bertamu, bukan?" Sindiran ini lebih pedas dari seafood soup yang ia makan tadi.
Situasi berubah siaga. Arumi Chavez tampak kacau dan gadis itu tak mau menatap pada layar. Archilles tak punya penjelasan.
"Oh, yang benar saja. Berapa banyak gadis?" keluh Arumi Chavez tampilkan emosi kompleks curiga, resah, gelisah. "Duniamu berisi banyak gadis, ya? Apakah aku dan Vena saja tidak cukup?"
"Nona ..., aku akan jelaskan padamu semuanya."
"Kemarilah dalam lima belas menit atau aku akan datang mencarimu ke sana!"
"Ini sudah terlalu malam, Nona."
"Tak masalah ke rumah tunanganmu malam-malam karena kamu berutang penjelasan padanya. Apakah kamu baru saja berbohong tentang teman?"
Bicara semakin lama semakin cepat begitu pula nada sedikit meninggi. Akhirnya adalah omelan. Archilles pasrah saja pada ketentuan nasib. Ia takut mengklarifikasi dan malah salah ditafsirkan Arumi Chavez.
"Maksudmu kita tak bisa sering bertemu karena kamu akan sibuk bersama gadis lain? Sungguh tak bisa dipercaya."
Kata orang gadis yang cemburu bisa memenggal satu kalimat untuk dibesar-besarkan hingga menjadi bola api raksasa kemudian digunakan untuk menyerangmu hingga kamu mati kutu.
Nah, mereka mungkin benar.
"Mengapa hanya diam?"
Oh sial, dirinya semakin tersudut.
"Aku akan datang sekarang. Berhenti curiga padaku, Nona."
***