My Guardian Angel (The Dust of Love)

My Guardian Angel (The Dust of Love)
Chapter 43. Reminisce



Arumi Chavez tak mampu pejamkan mata bahkan ketika ia menutup paksa dua kelopak gunakan tangan. Mereka selalu ingin terbuka. Ia telah mencoba semua posisi tidur hingga ingin memakan habis penutup ranjang dan selimut saking kesal tetap saja tak bisa tidur.


Tengkorak kepala telah dikerubuti banyak hal setelah keluar dari ruang mesin cuci ditambah tabrakan pada kening, ia benar-benar telah tersiksa penuh.


Putuskan membaca buku ekonomi. Tak ada yang masuk. Huruf-huruf timbul tenggelam, melafal seperti menghapal naskah drama. Mudah menyerah. Teks drama jelas lebih menarik ketimbang bruto, neto, tara.


Celentang pasrah menatap langit-langit kamar gemerlap oleh bintang-bintang palsu berbagai ukuran.


Tadinya, Arumi pikir ia akan bolak balik persiapkan jawaban bagi Ethan Sanchez. Tahu-tahunya, sesuatu tentang Archilles timbulkan ketakutan lebih awal. Ia tak suka ditinggal Archilles Lucca.


Mengapa?! Mengapa?!


Apakah Archilles Lucca lebih istimewa dari Ethan Sanchez?!


Pertanyaan macam apa itu?


Tidak, bukan begitu konsepnya. Ia tak akan gunakan perbandingan pada Ethan Sanchez dan Archilles Lucca. Ada perbedaan rasa.


Arumi sukai Ethan Sanchez. Kesempurnaan, ketampanan, ketegasan, perhatian dan cinta tulus Ethan Sanchez padanya berhasil buat dirinya terpincut. Ia bisa rasakan hati selalu berdetak dan berdebar bersama Ethan. Ia selalu ingin melihat Ethan Sanchez.


Lalu?!


Bagaimana dengan Archilles Lucca?


Arumi Chavez pahami beberapa hal. Archilles Lucca bersedia menerima hal yang tak bisa di mengerti orang darinya. Ia bisa curahkan apa saja tanpa takut Archilles Lucca menganggapnya konyol lantas hakimi dirinya. Ia dipahami sangat baik tanpa repot-repot ungkapkan isi pikirannya. Ia suka menggoda Archilles hingga pengawalnya kalang kabut, senang melihat pria itu gelisah. Archilles Lucca bisa hilangkan penat. Terlebih, ia berani bertaruh kata-kata Ethan Sanchez benar, Archilles bersedia mati untuknya.


"Ini buruk, dan aku tak tahu persis harus apa," keluh Arumi Chavez.


Pardais (burung gereja rumah) kepakan sayap-sayap kecil mencicit riuh menyongsong pagi. Fajar menyingsing lebih cepat atau lebih lambat, bagi Arumi sama saja. Ia akan kehilangan satu-satunya orang yang tak menganggapnya bodoh; tempatnya berbagi dan mengadu.


Melirik jam dinding. Pukul lima lewat 20 menit. Ia telah bersiap ke sekolah. Walaupun mood-nya buruk, ia tak mungkin bolos lagi. Abaikan mata-mata bengkak, hampiri jendela.


Taman belakang dikelilingi kabut tipis, tidak cukup mencegah mata Arumi pindai Archilles Lucca dalam kemeja hitam. Apa pria itu tidur nyenyak?


Archilles tampak keberatan pergi, namun tak miliki pilihan. Ketika menggendongnya ke meja setrika, menghilang ke dapur mengambil bongkahan es lalu kembali mengompres kening, Archilles menyimpan sesuatu. Arumi tahu segalanya, atau tidak. Pikir Arumi kian sedu. Apakah Archilles Lucca jatuh cinta padanya?


Pria itu pernah bilang akan pergi saat ia jatuh cinta. Apakah mungkin?!


"Aku?" Menunjuk diri sendiri, kerjab-kerjabkan mata, kembali ke tempat semula.


Di depan horse stable, Archilles Lucca bersama Aorta, penuh perasaan mengelus wajah si kuda hitam legam, curahkan kasih pada Aorta yang sayangnya begitu mengguncang perasaan Arumi. Tak lama berselang mengajak Vena bermain. Mereka sangat dekat.


Pemandangan terbaik. Seorang pria yang menganggap dirinya jahat mengobrol pada kuda-kuda. Arumi ingin tahu apa yang mereka cakap-kan?


Apa itu?


Arumi Chavez mengintip ke bawah. Bukan hanya ia sendiri yang menonton Archilles Lucca. Para wanita lain dari kerajaan ini juga.


Lalu, mengapa ia kerap posesif pada Archilles Lucca?


Bisa dijelaskan?!


Dalam dua puluh menit ia telah berpakaian lengkap. Keningnya bengkak walau telah dikompres batu es. Ia juga telah gunakan salap dan sedikit make up. Hanya berharap mampu samarkan lebam.


Arumi Chavez akhirnya mengikuti gaya Aruhi. Menggunting rambut bagian depan dibuatkan poni. Ia akan cari alasan pada Chris Evans. Bukankah Serena lebih menggiurkan dengan poni mirip remaja-remaja lugu?


Bercermin terakhir kali memeriksa penampilan di cermin, ia lalu turun ke ruang makan. Mom, Aunty, Aruhi dan Elgio Durante telah lebih dulu mengisi meja makan.


"Pagi ...."


"Pagi ..., Adik Ipar ...."


"Pagi, Sayang." Aunty Sunny.


"Pagi, Arumi ...." Aruhi.


"Pagi, Arumi?" Salsa Diomanta paling bersemangat.


lbu-nya seakan punya kabar berita terbaik tak sabar ingin segera dibagikan. Mungkin kepergian Archilles atau sesuatu yang lain. Entah apa, Arumi tak ingin begitu peduli. Mari kita lihat gebrakan baru.


Alis-alis Salsa lantas terangkat tinggi, "ada apa dengan rambutmu, Arumi?"


Arumi Chavez menarik bangku, duduk dengan rapi. "Apa jelek?" tanya Arumi minta pendapat. "Aku berusaha agar terlihat baru dari salon."


Elgio Durante tersenyum kecil, "Poni kambing yang cantik." Lalu, menoleh pada istrinya, ingin lihat reaksi Marya Corazon.


"Sejak kapan kambing punya poni?"


"Sejak aku melihat kakakmu dengan poni ajaib mirip punyamu!" balas Elgio Durante. "Kalian tak akan lakukan ini pada Puteriku saat dia lahir."


"Oh, lihat saja nanti!" Arumi Chavez bergelora. "Apakah kita tak butuh perangsang agar bayinya cepat berada di luar? Aku tak sabaran," tambah Arumi menatap Marya Corazon berbinar-binar.


"Arumi, segala hal butuh proses," jawab Marya Corazon geli.


"Arumi, ada apa denganmu?" Salsa Diomanta bertanya. Tak peduli seberapa riang Arumi Chavez terlihat, mata gadis itu bengkak.


"Aku baik-baik saja," jawab Arumi tanpa ingin menatap Salsa. Mengingat sikap Ethan Sanchez pada Nyonya Sanchez, Arumi hembuskan napas keras. Berpaling pada Salsa, tersenyum dan ulangi kalimatnya. "Aku baik-baik saja, Mom. Jangan kuatir."


"Matamu bengkak."


"Ya, aku belajar ekonomi sampai pagi."


Tak ada yang percaya bualannya, terlebih Salsa Diomanta.


"Apa kamu juga berlajar berbohong sekarang?" tanya Salsa tidak senang.


Arumi melirik jam, mengangkat wajah menatap Salsa.


"Kemarin hari terburuk. Aku dan Ethan putus. Archilles akan pergi," sahutnya cerah sebagai ganti, Ibu senang-kan Archilles akan pergi. Kontras. Nadanya sangat pilu. "


"Putus?" tanya Salsa prioritaskan putus dibanding lainnya. Salsa keheranan sedang semalam Ethan Sanchez membuat keadaan terlihat baik-baik saja.


"Ya, mungkin rujuk hari ini. Kita lihat saja nanti!"


"Apa ada kaitannya dengan Archilles Lucca?" tanya Salsa lagi, tidak nyaman.


"Mom?!" keluh Arumi Chavez jengkel. "Ini bu-kan so-al Archilles! Tak ada hubungannya sama sekali. Mengapa Archilles sangat mengganggumu, Mom?"


Salsabila tak pernah ditolak. Apa reaksi Ibunya saat tahu Nyonya Sanchez keberatan soal dirinya dan Ethan?


Alyshe masuk ke ruang makan membawa mangkuk sup.


"Apa ..., kamu sudah sampaikan pesanku pada Archilles, Alyshe?"


Archilles Lucca kemudian muncul, tatapan langsung mencari Arumi seakan ingin pastikan gadis itu baik-baik saja. Tentu saja tak luput dari perhatian Salsa.


"Tuan Elgio, terima kasih sebelumnya. Maaf menolak undangan Anda, aku akan sarapan bersama teman-teman lain di belakang."


"Begitukah?"


"Kami akan briefing."


"Baiklah!" angguk Elgio, menatap wajah Archilles yang muram. "Apakah kita harus selalu bicara formal?"


Archilles tersenyum. "Aku pikir akan sangat susah, tetapi tidak ada salah mencoba."


"Tepat sekali."


"Aku permisi, Tuan, Nyonya."


Archilles pergi sedangkan Arumi mulai mengisi piring, harusnya tak bicara karena melanggar kesopanan. Mulut memang lebih cepat dari otaknya.


"Kita akan mengunjungi kubur Ayah Benn ditiap tanggal 2 November untuk mengenang kepergiannya."


Jelas saja ucapan Arumi Chavez mengubah atmospher ruang makan dalam sekejab. Semua orang mendadak beku.


"Oh, Mom. Bukankah tadi Anda terlihat akan bagikan kami berita bagus?"


Salsa Diomanta kirimkan tatapan tajam.


"Apa ada yang salah dengan ucapanku?" tanya Arumi. Lalu sadar beberapa detik kemudian melihat ekspresi kelabu Ibunya.


"Arumi ..., apa yang ingin kamu katakan? Apa kamu punya keluhan padaku?" tanya Salsa.


"Tak ada, Mom," jawab Arumi Chavez.


"Apa soal Archilles?!"


"Mom? Apa aku salah bicara? 2 November, kita akan mengenang para arwah. Ayahku masih hidup walaupun aku tak tahu di mana. Bukankah Ayah Benn adalah ayahku juga?"


Marya Corazon berhenti makan. Semua orang kuatir pada sikap tenang Marya. Gadis ini, Aruhi, korban cinta Benn dan Salsa. Aruhi telah bersedia lupakan masa lalu dan berbahagia.


Aruhi ditinggal saat masih balita oleh Salsa yang tak tahan hidup menderita setelah kabur bersama Benn dari mansion mewah Diomanta. Kematian Benn membuat Aruhi diasuh oleh Maribella Williams yang juga adalah pengasuh Elgio dan Reinha Durante.


"Maafkan aku, Kak."


"Aku baik-baik saja Arumi. Kita akan ke sana, Arumi," tegas Marya Corazon. Sekarang, makanlah atau kita akan telat ke sekolah. Ini minggu-minggu terakhir aku pergi ke sekolah."


"Baiklah, Kak. Kuharap Ibu mau ikut."


Arumi bangkit berdiri setelah mengisi piring. Membawa piring pergi ke ujung meja.


Arumi Chavez menghilang sebelum dapatkan jawaban. Sunny Diomanta tersenyum kecil sedangkan Salsa terlalu kaget oleh sikap Arumi, hingga terdiam beberapa waktu.


"Mari kita sarapan, Kak!"


Sampai teguran Sunny hentikan ia melamun. Sementara Arumi Chavez bergegas ke ruang makan para karyawan. Satu meja empat bangku dan ada beberapa kelompok meja.


Kehadirannya hentikan kegiatan makan, atau dalam penglihatan Arumi, para asisten wanita tak makan kecuali Leona. Mereka sibuk terpukau pada Archilles Lucca.


"Nona?!" Leona hampir kesedak cincangan kentang dapati Nona Arumi memegang piring berdiri di ambang pintu ruang makan.


"Apa aku boleh bergabung?" tanya Arumi Chavez terkunci pada Archilles Lucca.


Semua orang mengangguk antusias, nada berbeda-beda, berikut bunyi garukan kaki-kaki kursi pada lempengan lantai.


"Ya, Nona!"


"Ya, silahkan Nona!"


"Ya," angguk yang lain, "geser!Geser!"


Dengungan suara mereka mirip sarang lebah di ujung lahan.


"Kamu punya empat serbet, Leona?" tanya Arumi Chavez.


Leona meskipun bingung, tetap siapkan serbet. Arumi Chavez, menaruh piringnya di seberang Archilles setelah dua orang pengawal segera angkat kaki, tahu pasti kemana tujuan majikan muda mereka.


Arumi Chavez mengambil satu persatu serbet dan menutupi mata semua wanita di ruangan itu kecuali Leona.


"Nona?!"


Leona ajukan protes.


"Leona, bukankah mereka tidak sarapan? Baiklah aku tutupi saja mata mereka."


Duduk santai di hadapan Archilles mulai makan. Bagikan potongan daging ke piring Archilles Lucca.


"Selamat makan semua," ucap Arumi seriang mungkin. Menerima sahutan hampir serempak.


"Selamat makan, Nona."


Semua orang lanjutkan makan. Archilles Lucca pandangi Arumi Chavez. Tampak normal tapi kenyataannya tidak. Gadisnya tak baik-baik saja. Sedang Arumi hanya mengunyah. Sesekali menatap intens Archilles Lucca.


"Apa tidur Anda nyenyak?" tanya Archilles kehilangan selera makan dapati raut Arumi Chavez yang layu. Matanya bengkak.


"Leona akan bawa Anda ke dokter sebelum ke sekolah," kata Archilles Lucca lagi. "Latihan bela diri pukul 5 sore. Aku dan Michael akan bersama Anda. Dia akan gantikan aku."


Arumi Chavez tak menyahut, terus makan.


"Jika Anda ingin berkuda, aku akan minta Tuan Armen persiapkan. Suasana hati Anda mungkin segera membaik. Anda tak bisa bersama Vena sementara waktu karena sikapnya sedikit liar."


Arumi Chavez perhatikan Archilles saat pria itu bicara tanpa tanggapi satu katapun. Suapan demi suapan hingga Archilles Lucca terdiam.


"Maafkan aku buat Anda kesal, Nona."


Piring didorong menjauh, Arumi Chavez bangkit berdiri setelah minum. Ia mengelap bibir perlahan. Tinggalkan Archilles. Ia pergi pada kepala pengawal.


"Tuan Alfred, apa kabarmu?"


"Nona, aku baik-baik saja. Apa ada sesuatu?"


"Em ya, bisakah aku minta tolong?"


"Ya, Nona."


"Jangan biarkan Archilles cidera. Aku mohon," pinta Arumi Chavez. "Ibuku mungkin punya maksud lain."


"Nona ..., pendapat Anda keliru soal Nyonya Salsa." Menarik napas sedikit membungkuk. "Anda perlu tahu bahwa Archilles tidak diijinkan turun ke lokasi oleh Nyonya Salsa. Hanya boleh memantau dan ambil tindakan dari dalam Van."


Arumi Chavez tak mudah percaya. Kecuali, ada campur tangan Elgio Durante.


"Baiklah. Terima kasih. Aku percaya padamu. Aku tak akan mengancammu karena semua yang berduit lakukan itu, aku muak gunakan kuasa," kata Arumi, sunggingkan senyuman menawan. "Hanya saja ..., aku perlu beritahu Anda." Berganti ekspresi dengan cepat. Tanpa senyuman, datar dan dingin, "bahwa Anda akan benar-benar berurusan denganku jika sampai Archilles terluka bahkan hanya satu lecetan."


"Nona ...."


"Aku rasa kamu paham, Tuan Alfred! Sampai nanti."


"Nona?! Bagaimana dengan kami?"


Salah seorang asisten rumah bertanya dari balik kain serbet. Arumi Chavez menoleh, Archilles Lucca masih terpaku di kursi makannya.


Mata almond indah dalam denting piano tempo lento, sangat lembut sampai padanya.


Kemana kamu akan pergi? Beritahu aku! Arumi bertanya dalam hati.


Suatu tempat hanya aku yang tahu, Nona!


Kembalilah! Aku masih membutuhkanmu!


Archilles menggeleng kecil.


Suasana ruang makan mendadak hening seakan ada kedukaan. Hanya bunyi mesin kulkas, ringkik kuda di kejauhan. Orang-orang seakan berhenti bernapas.


Aku akan sangat merindukanmu! Arumi Chavez bernapas penuh beban.


"Serbet boleh dilepas setelah Archilles keluar dari ruangan ini," kata Arumi Chavez lirih alihkan pandangannya. "Jika, kudapati lagi ada yang tak serius bekerja, hanya mengintip para pengawal di pagi hari, aku akan menutup mata kalian sepanjang hari." Melangkah keluar ruangan.


Archilles Lucca tak lepas pandang pada gadis yang menjauh. Semua di ruangan telah mulai rumor akan ada kisah lama terulang kembali. bertindak protektif macam barusan,Nona Arumi benarkan gosip.


But, bagi Archilles Lucca perbedaan nyata terlihat antara kisah Benn-Salsa dan kisahnya dengan Nona Arumi.


Walaupun Benn Amarante digambarkan sebagai seorang pria penuh kharisma, bertanggung jawab penuh dedikasi, Archilles mencela tindakan Benn.


Ayolah, harusnya Benn tak mengajak Nyonya Salsa kabur di usia ..., yang bahkan menurut Archilles ..., Salsabila masih tergolong anak-anak. Its okay, all about love. But, ia tak se-buta Benn, meskipun cintanya pada Arumi Chavez tak bisa dijabarkan.


Beberapa hal menarik lain, Nona Arumi tergila-gila pada pacarnya. Memang kadar berkurang dari hari ke hari oleh beberapa masalah. Sikap Nyonya Sanchez, ketenaran Ethan Sanchez dan ketidak pantasan diri, sebabkan Nona Arumi membentuk block, halangi cinta bebas lepas di antar mereka. Namun, ada kemungkinan segala hal akan baik-baik saja hingga mereka cukup matang tentukan sikap.


Nona memang terang-terangan mengajaknya kabur, menikah, bersama, ungkapkan 'aku menyayangimu', bahkan hingga semalam ketika ia mengompres kening Nona Arumi, kalimat yang selalu diucapkan adalah, 'jangan pergi! Aku membutuhkanmu'.


Nona Arumi hanya menganggapnya sebagai seorang dapat diandalkan walau seiring berjalan waktu, Nona Arumi dan dirinya saling terikat oleh sesuatu. Nona Arumi tak bisa bebas berekspresi bersama Ethan Sanchez atau pria itu akan teriaki Nona Idiot, lalu, jentikan jari pada kening Nona Arumi.


Lucca, teorimu panjang juga kalahkan hipotesa Karl Max.


Satu lagi Nona Arumi hasilkan uang sendiri di usia belia sekalipun gadis itu tak tahu akan diapakan uangnya, sedang Nyonya Salsa bergantung penuh pada orang tuanya.


Dua-tiga perbedaan saja tidak cukup, Lucca!


Ini fakta.


Mari kita beritahu Nona Arumi, jujur padanya bahwa kamu mencintainya, sungguh-sungguh. Aku yakin semua teorimu akan terbantahkan.


Atau serahkan pada takdir menulis kisah ini!


Tersadar ketika Tuan Alfred menyikut bahunya. "Sebaiknya keluarlah dari sini. Sarapan empat orang gadis hampir beku."


Archilles Lucca bergerak, segera beranjak keluar dari ruang makan. Menengok ke halaman depan hanya pastikan gadisnya sudah pergi ke sekolah.


Belum.


Tuan Ethan Sanchez di depan menunggu Nona Arumi. Terlihat keheranan dan separuh memaksa melihat kening Nona Arumi. Gadisnya tak berkutik, bicara sesuatu dan ya ..., begitulah. Salsa Diomanta di sana mendukung Ethan Sanchez.


Archilles tahu, Nyonya Salsa akan ke sekolah Nona Arumi secepatnya, mungkin hari ini, dan 'melamar' Ethan Sanchez. Telah ditetapkan bahwa Ethan akan menerima beasiswa penuh untuk pergi ke universitas.


Ponselnya bergetar. BM mengirim pesan singkat dalam group room.


"Anna ditemukan."


Dua balasan beruntun.


"Owl ready."


"Baby Eagle ready."


Axel Anthony macam kuda tanpa kekang tanpa Queena sedang Lucky Luciano berpedoman pada setia kawan, kekerabatan, harga diri dan martabat. Terlebih Anna Marylin, salah satu dari mereka.


Archilles kembali ke mess, berganti pakaian. Menatap tubuh di cermin. Lukanya masih basah, sangat rawan sedang mereka akan berburu ke sarang Hedgar. Bukan sembarang sarang, bukan sembarang lawan. Pria itu sangat suka membuat jebakan.


Ini lebih cepat dari dugaannya. Ia akan ikut membawa Anna kembali, lalu tinggalkan tugas-tugas sisa pada Michael. Tak berharap secepat ini. Jalannya memang begini. Menulis sesuatu dibalik lembaran fotonya, masukan dalam salah satu buku ekonomi. Mungkin ..., suatu hari Nona Arumi akan menemukannya.


Meraih ponsel mengirim pesan ....


"Lucca ready for fight."


***


Aku akan segera meloncat. Akan setinggi apa chapter-chapter di depan?


Tinggalkan dukunganmu. Aku mencintaimu...