My Guardian Angel (The Dust of Love)

My Guardian Angel (The Dust of Love)
Chapter 91. Wrong Destiny Truly Fate



"Zefanya ...."


"Apa kau akan tinggalkan aku diadopsi keluarga kaya karena pekerjaanmu selanjutnya, Archilles?" tanya Zefanya sedikit menuduh. Meski demikian, ia duduk dengan tenang di pinggir ranjang sedang Archilles menyisir rambut adiknya. "Kamu tinggal lebih lama karena ingin merayuku ikut denganmu, kan?"


Archilles Lucca m3nd3s4h keras. Adiknya cukup teliti.


"Pekerjaanku sebenarnya seorang guru di sebuah sekolah menengah bukan pengangguran."


"Katamu bukan pekerjaan tetap."


"Uhhum ...."


"Baiklah, lalu? Apa sekarang?"


"Em, kita hanya akan berkunjung tiga hari. Jumat, Sabtu dan kembali Minggu. Kakek Nenek akan ikut gathering bersama teman-temannya dan bersenang-senang."


"Di rumah siapa kita menginap, Archilles?"


"Tuan Maurizio Lucca. Aku pikir kamu sudah bertemu dengannya."


"Ya, ya. Aku hampir lupa. Tuan Maurizio dan Nyonya Nastya Lucca mengundang kita ke rumah mereka. Mengapa aku merasa Tuan Maurizio mirip denganmu ya, Archilles. Ketika Tuan Lucca menyapaku, aku seakan sedang bicara denganmu?"


"Begitukah?" tanya Archilles Lucca berhenti sejenak menyisir rambut Zefanya. Mereka sedang bersiap-siap dijemput ke bandara dan akan terbang selama 20 menit menuju sisi lain negara dan bertemu orang tua angkat mereka.


"Memangnya Tuan Maurizio Lucca siapanya Raul Lucca, Archilles? Mereka tidak mirip. Raul berwajah debt collector. Macam yang sering menagih utang pada Nyonya Carmelita, tetangga kita. Tuan Maurizio sangat berbeda. Macam orang dari kerajaan yang suka berkunjung ke rumah-rumah rakyat miskin."


"Zefanya, perhatikan ucapanmu. Raul Lucca adalah Ayah kita."


"Oh ya ampun, Archilles. Benarkah aku puterinya?"


"Ya."


"Aku iyakan saja hanya karena kamu mengatakannya, Archilles. Jika tidak, aku lebih suka tak punya Ayah."


"Zefanya?!"


"Kamu tahu apa yang dikatakan Raul padaku saat kami bertemu?"


"Beritahu aku."


"Zefanya, bertahanlah di sini sampai kakek nenekmu tiada. Lalu, aku dan Paula akan pindah kemari dan mengurusmu."


"Raul bilang begitu?" Archilles Lucca kehabisan kata. Sekarang mengerti salah satu alasan Lucia menolak Raul sebagai menantu karena perangai buruk pria itu. Archilles pikir Paula bisa membawa pengaruh baik. Ternyata seperti dugaannya, Raul tidak pernah berubah.


"Raul Lucca seperti mengincar harta kakek nenek kita. Ya Tuhan, selamatkan kami."


"Astaga. Apa terang-terangan?" Archilles tak tahu harus geli, marah atau malu.


"Ya. Grenny tak sengaja mendengarnya. Kamu tahu Archilles, aku sangat malu pada kelakuannya."


"Sangat disayangkan, kita adalah anak-anaknya."


"Paula menegur sikap Raul. Malamnya, Raul memukul Paula dengan ikat pinggang dan mendorong Paula ke kolong ranjang. Aku berlari karena ketakutan."


"Zefanya? Apa kamu mengintip?"


"Aku hanya ingin ucapkan selamat malam pada Paula. Bagaimanapun, Paula sangat perhatian padaku. Diam-diam memberiku uang dan belikan aku baju. Tetapi malam itu, aku menemukan Raul menyiksa Paula. Dan Paula yang malang hanya membekap mulutnya."


"Di kepang? Atau dikuncir?" tanya Archilles meminta pendapat alihkan topik itu dari Zefanya. Paula adalah temannya. Ia sangat tak suka mendengar kabar ini.


Menaruh gel bening di telapak tangan, menggosok pelan sebelum bubuhkan pada rambut Zefanya. Archilles telah peringatkan Paula. Namun, cinta membutakan mata dan seluruh diri Paula. Archilles hanya bisa berdoa wanita itu baik-baik saja.


"Kuncir kuda tinggi Archilles, tepat di puncak kepala."


"Mau poni?"


"Ya, seperti poni Arumi Chavez. Tolong."


Archilles meringis.


"Arumi suka rambutnya dikepang. Aku ...."


"Kamu mengepang rambut Arumi Chavez? Begitukah?"


"Ya."


"Apakah kamu sudah bicarakan permintaanku padanya?"


"Belum."


"Kalau begitu berhenti bicarakan Arumi Chavez, please," tegur Zefanya. "Aku bingung bedakan mana dunia nyata mana dunia mimpi?"


"Baiklah. Mari berhenti sakit kepala. Lihat ke depan! Tegakan lehermu!" pinta Archilles. Mereka menatap kaca. "Segini?"


"Yep."


"Mau pita warna apa?"


"Biru langit. Aku akan memakai celana jeans biru juga. Bagaimana menurutmu?"


"Matching!"


Archilles segera mengikat rambut tebal Zefanya.


"Jangan kuat-kuat, Archilles."


"Apa terlalu kencang?"


"Ya."


Sangat lincah mengatur penampilan rambut Zefanya.


"Mau jepitan satu biar tampak cute."


"Ya, boleh. Yang ada mutiaranya."


"Siap, Tuan Puteri."


"Archilles ...."


"Hm?!"


"Aku tak suka Raul sama sekali. Mungkinkah Raul bukan ayah kita?"


Archilles tak punya kata. Memeluk adiknya. Archilles penasaran berapa uang yang diterima Raul dari Nyonya Salsa. Berani sekali Raul Lucca menjualnya.


"Seseorang seperti kakek Zevas. Yang kasih sayangnya bisa sampai di sini?" tunjuk Zefanya ke dalam hati. "Atau seperti Tuan Maurizio yang menanyakan kabarmu, sekolahmu, temanmu, gurumu, kegiatanmu dan berikan beberapa masukan. Tuan Maurizio bahkan melihat hasil belajarku dan berdecak. Katanya aku cerdas dalam akademik. Padahal aku rasa itu bukan prestasi luar biasa. Dan itu pertama kalinya kami bertemu."


"Zefanya ..., maafkan sikap Raul Lucca. Kita kurang beruntung karena memilikinya. Tetapi, seburuk apapun Raul, dia tetap ayah kita," kata Archilles.


"Sangat aneh saat aku tiba-tiba merasa nyaman pada perhatian Tuan Maurizio daripada Raul."


"Tuan Maurizio akan menjadi keluarga angkat kita."


Zefanya langsung termenung. Reaksi yang terduga. Majukan bibir dan sandarkan dagu di atas tangan-tangan Archilles. Mereka saling berbagi sesuatu yang menyedihkan di cermin.


"Mengapa aku senang dan tak senang mendengarnya?"


"Katamu, kamu ingin Tuan Maurizio dibanding Tuan Raul?"


"Ya. Tetapi, bagaimana dengan kakek-nenekku?"


"Kita hanya akan berlibur dan bersenang-senang. Begitupula Grenny. Jangan pikirkan apapun-ya!"


"Baiklah. Tetapi, kau harus berjanji padaku, Archilles Lucca."


"Uhhum?!"


"Kau tak akan khianati aku dengan tinggalkan aku lagi."


"Aku janji, Zefanya Lucca."


"Kau satu-satunya yang aku miliki setelah kakek dan nenek."


Tiga puluh menit kemudian mereka di bandara bersama seorang pria bernama Agathias Altair. Perkenalkan diri sebagai salah seorang yang menjadi utusan Tuan Maurizio dan istrinya.


Mereka tidak check in di bandara kormesil pada umumnya. Tidak pergi ke gate satu atau dua dan naik bisnis class atau semacamnya.


Agathias menuntun mereka masuk ke bagian general aviation. Di mana bagian ini mengurus check in untuk pesawat pribadi. Bagian dalam lebih sepi dibanding ruang tunggu penumpang umumnya dan interiornya sungguh mewah.


Sementara Archilles pegangi Zefanya erat-erat, Agathias mengisi flight plan dan mengurus beberapa administrasi juga termasuk biaya parkir pesawat.


Setelahnya mereka lewati gerbang security check dan keluar dari pintu. Sebuah mobil menunggu untuk antarkan mereka ke pesawat.


Area parkir juga lebih kecil dari terminal di mana pesawat komersil biasa parkir.


"Archilles, aku merasa jantungku berdetak sangat keras. Apa kau bisa dengar?" tanya Zefanya separuh berbisik.


"Ya, ya, santai saja, Zefanya. Tolong jangan pingsan ya."


"Apakah kita akan baik-baik saja? Langit mendung dan baru habis hujan."


"Katamu ..., kamu ketua geng dan pemberani?"


"Jangan bercanda. Kamu pernah naik ini sebelumnya?"


"Ya. Sering. Tetapi yang lebih besar."


Mereka kemudian berada di pesawat dan Agathias adalah pilotnya.


"Kita akan menunggu giliran untuk take off." Agathias bicara sedang Archilles mengatur headphone di kepala adik perempuannya yang gugup tetapi sangat excited.


"Selamat menikmati perjalanan, Tuan dan Nona."


"Ini sungai Lucca Càrvado, Tuan." Agathias Altair tak berhenti jadi pemandu yang baik walaupun Archilles tampak tak tertarik pada apapun. Lebih tepat pikiran Archilles Lucca pergi kemana-mana. "Mata air sungai ini berasal dari tanah nenek moyang Anda, Tuan Muda dan telah menjadi sumber irigasi dan penghidupan bagi wilayah sekitarnya."


Mungkin ada sedikit kekeliruan di sini. Namun, Archilles tak ingin bicara banyak sedang Zefanya menoleh pada Archilles.


"Wow!" ucapnya tanpa suara.


Lantas berbisik cukup keras.


"Bisakah aku berpura-pura bahagia?" tanya Zefanya menggelitik. "Tuan Muda sangat menggelikan tetapi kamu mulai cocok."


Archilles berdecak. Agathias di belakang kemudi tersenyum.


Bahkan semenjak mereka di pesawat. Itu karena Zefanya menjaga sikap sama banyaknya dengan pelanggaran. Zefanya jet lag dalam makna kiasan dan sesungguhnya. Bagaimana tidak, Zefanya tiba-tiba alami perjalanan menyenangkan pertama kali dan rupa-rupa wajahnya bikin Archilles Lucca gemas. Dan Agathias tampaknya berhasil dengan pekerjaannya.


"Selamat datang di rumah Anda, Tuan dan Nona," kata Agathias saat mereka hendak masuki gerbang rumah. Ada monumen juga papan kayu bertuliskan Kediaman Keluarga Maurizio Lucca.


"Wow!"


Setelahnya masih menempuh jalanan di mana sisi kanan dan kiri adalah ladang yang sangat luas.


"Wow ...." Zefanya tak menutupi takjub. Dari tadi gadis itu tercengang. Tak terhitung berapa banyak mengeluarkan kata, "wow".


Musim menanam sepertinya akan dimulai. Beberapa kendaraan hilir mudik membajak lahan sementara kabut tipis-tipis menyelimuti pagi. Ya, masih pukul sembilan pagi.


"Satu hektar lahan habiskan maksimal 1 kwintal benih gandum. Hasilnya bisa 30 kali lipat, Tuan Muda."


"Panggil aku Archilles, please." Archilles Lucca sangat tidak nyaman. Ia merasa risih dan ingin muntah. Betapa dunia orang kaya tak cocok dengannya. Jika bukan karena Arumi Chavez.


"Tuan, aku tak akan berani."


"Yang lain. Anda mungkin telah diberitahu bahwa kami hanya diadopsi untuk sebuah kepentingan tertentu."


"Tidak. Tuan dan Nyonya minta aku mengurus keperluan Putera dan Puterinya yang akan berkunjung. Beliau tak pernah menyinggung masalah adopsi atau apapun. Anda belum mengenal Tuan Maurizio Lucca dan Nyonya Nastya. Akan aku maklumi."


"Lahan seluas ini, aku bertanya-tanya berapa hasilnya?" Zefanya lebih fokus keluar kaca mobil.


"Hasilnya tiga puluh kali lipat dengan bantuan cuaca bagus. Sekitar 30 ton gandum untuk satu hektar."


Dan lahan ini berhektar-hektar luasnya, pikir Archilles Lucca.


Lebih dari tiga kawanan itik terlihat di ladang yang telah dibajak. Di ujung ladang berjejer bangungan-bangunan besar. Truk-truk parkir di sana juga mobil-mobil pemanen gandum.


"Kita punya tiga pabrik utama untuk pengolahan gandum, Tuan. Dan gedung yang paling besar adalah gudang penyimpanan."


Archilles pikir ia cukup mendengar.


"Terima kasih telah berbagi pada kami. Minggu siang kami akan kembali."


"Tuan Maurizio telah mengaturnya untuk Anda."


"Apakah gandum diolah menjadi tepung, Tuan?" tanya Zefanya penasaran tak bisa dicegah Archilles.


"Ya, Nona."


"Ya Tuhan, Archilles. Ini sungguh kebetulan yang bagus," seru Zefanya seakan berhasil dapatkan jutaan dollar dari sebuah permainan mencapit boneka.


"Zefanya," tegur Archilles. "Kamu mengagetkan Tuan Agathias."


"Maafkan aku, Tuan Agathias. Aku terlalu bersemangat.


"Tidak apa-apa Nona Zefanya. Tolong panggil aku Agathias."


"Em, Tuan Agathias. Apakah kami boleh order langsung tepung kemari untuk minimarket kami?" tanya Zefanya terdengar berisi harapan.


Archilles Lucca bisa melihat otak adiknya. Zefanya persis Arumi Chavez dalam keadaan tertentu termasuk saat ini. Kini di kening gadis itu Archilles bisa melihat kalkulator sedang mode on. Termasuk angka uang yang siap dikalkulasikan.


"Zefanya?"


Sedang Agathias tampilkan respek pada Zefanya. Terlalu cerdas untuk usia sepuluh tahun.


"Anda bisa bicarakan pada Ayah Anda, Nona. Aku rasa, Tuan Maurizio akan sangat bersemangat membahas bisnis dengan puterinya."


"Begitukah?" Zefanya segera berbunga-bunga. Matanya bersinar terang. "Jika satu karung berisi 50 kg tepung dan kami bisa dapatkan harga pabrik plus harga diskon, maka kami yakin bisa menjualnya lebih murah perkilo dan masih ada cukup porsi untuk konsumsi pribadi."


"Anda luar biasa, Nona." Agathias tak malu-malu terbahak-bahak.


Archilles ingin menggunting, diskon dari mana? Apakah Zefanya berpikir Ayah angkat mereka akan berikan diskon hanya karena mereka terdaftar kini sebagai anak-anak Tuan Maurizio? Ya Tuhan.


"Kami belajar Matematika di kelas lima, Tuan Agathias. Dan aku kebetulan suka berhitung."


Mobil mengambil jalur berlawanan sementara Zefanya tak berhenti terpesona. Sesekali menggeleng, tak ingin terhipnotis walau akhirnya gadis itu menyerah. Penanda rumah dipaku di pohon kering, Home sweet home.


Ponsel Archilles bergetar, pesan masuk beruntun.


💌 : Aku mengambang di samudera Pasifik, menonton langit abu-abu dan mengkhayal kau di sini di sisiku.


Archilles tak menanggapi. Video diterima. Walaupun blur sebelum didownload, Archilles bisa lihat sesuatu yang s3nns1t1f di sana. Wanita itu dalam b1k1n1 kuning terang.


Archilles tak akan menontonnya.


💌 : Aku belikan untukmu juga. Tak mudah melupakanmu, My Baby.


Sebuah foto, celana renang pria, ukurannya, berwarna senada.


💌 : 🔥🔥🔥🔥🔥🔥


💌 : Aku akan menukar seribu pria tampan dengan satu orang, dirimu.


Archilles tak membalas. Apakah urusan Tatiana dengan Abercio tak berjalan mulus? Jangan sampai Tatiana kumat gilanya saat ia sedang bersama Arumi Chavez.


Mengunci layar.


Matanya menangkap foto cute Arumi Chavez. Merindukan gadis itu hingga seluruh tubuhnya nyeri. Bagaimana bisa ia sangat beruntung dicintai oleh Arumi Chavez? Ia menjadi putera angkat seseorang demi menikahi kekasihnya. Apa ia gila?


Tidak!


Ia miliki cinta yang besar pada Arumi Chavez bahkan berani diadu. Ia telah lewati banyak kesulitan dan penderitaan. Jalannya kini dipermudah Nyonya Salsa walaupun ia tampak pria tanpa harga diri. Ia tak akan membuang kesempatan.


Lewati taman bunga sangat cantik dan terawat bagus, mereka akhirnya sampai di halaman rumah yang luas. Kamu bisa main bola di sana tanpa takut bola-mu hilang meskipun kakimu menendang sekuat tenaga saking luasnya.


Para maid berbaris rapi, memakai seragam putih hitam menunggu mereka. Tuan Maurizio dan Nyonya Nastya bersama seorang gadis muda menunggu di ambang pintu rumah besar.


Archilles menerima kejutan demi kejutan. Tak menyangka orang tua angkatnya sangat perhatian dan antusias pada mereka. Hingga ia berpikir, ini terlalu berlebihan. Atau seperti kata Nyonya Salsa, Grenny dan Agathias, Tuan dan Nyonya Lucca sangat menginginkan mereka.


Zefanya merapat padanya. Archilles menoleh dan menatap adiknya. Dirinya sendiri menahan guncangan emosi. Entah bagaimana, bak gelombang setinggi dua meter menggulungnya ke dalam lautan tetapi ia hanya rasakan kehangatan menjalar dalam hatinya. Terlebih saat Tuan Maurizio datangi mereka dan tersenyum seakan mereka anak-anak yang baru ditemukan.


"Apakah perjalanan kalian melelahkan?" tanya Tuan Maurizio menyapa ramah, hapus kecanggungan. Ulurkan tangan kanan pada Zefanya.


"Zefanya, Ibumu menunggu dengan gelisah dan terus menatap langit, terus berdoa agar awan menguap dan langit cerah."


Zefanya menengok Archilles yang hanya mematung dengan pikiran kosong. Zefanya tidak bisa berpura-pura bahagia, gadis kecil itu hanya pergi menggapai tangan Tuan Maurizio yang langsung membawanya ke dalam pelukan seorang Ayah.


"Terima kasih, Tuan. Aku sangat menyukai perjalanan kami."


"Syukurlah kalian sudah sampai dengan selamat. Nah, temui Ibumu dan kakakmu."


Tuan Maurizio lepaskan Zefanya menoleh ke belakang pada Nyonya Nastya Lucca yang membeku. Sedang gadis lain langkahkan kaki berseri-seri.


"Zefanya ..., senang bertemu denganmu. Aku ..., Chaterine Lucca."


Mereka berkenalan dan berpelukan di bawah tatapan Archilles.


"Aku punya sesuatu untukmu. Ikut denganku! Biarkan Kakak bertemu Ibu. Mereka belum berkenalan juga butuh waktu bicara."


Chaterine membawa Zefanya masuk setelah Nyonya Nastya Lucca memeluk Zefanya.


"Archilles Lucca?!" panggilan dan tatapan Tuan Maurizio menyadarkan Archilles dari lamunan.


"Selamat pagi, Tuan Maurizio. Terima kasih atas kebaikan hati Anda dan Nyonya Nastya menerima kami di sini."


Archilles membungkuk sedikit. Tuan Maurizio ..., entahlah ..., tinggi tegap dan matanya sangat tajam tapi penuh kerendahan hati.


"Namamu sangat bagus. Aku sungguh menyukainya."


"Terima kasih."


Mereka bersama melangkah pada Nastya Lucca yang bergeming di tempatnya. Ini pertama kali Archilles melihat Tuan Maurizio dan Nyonya Nastya secara langsung. Ragu-ragu sebab wanita itu hanya menatapnya tanpa kedip. Ekspresi yang sulit di mengerti seakan wanita ini takzim dengan wajahnya.


Ketika makin dekat Archilles tiba-tiba saja bergidik. Bagaimana bisa ia miliki sesuatu yang sangat istimewa yang tak bisa ia jelaskan hanya bisa dirasakan. Ikatan emosional tidak sedalam yang ia miliki pada Martha, tetapi ....


Ia lekas menepisnya. Ia tidak ingin terlihat seakan dikasih hati minta yang lain.


Namun, jantungnya secara aneh berdebar kencang sewaktu tatapan membentur mata almond Nyonya Nastya Lucca. Terperanjat pada dirinya sendiri. Sangat aneh. Ini pertemuan pertama mereka, tetapi mengapa Archilles memiliki perasaan kuat seakan mereka sudah pernah bertemu dan bersama suatu waktu?


"Nastya ..., Sayang, kamu akan membuat Archilles tidak nyaman."


Archilles keheranan mengapa saat Tuan Maurizio memanggil nama istrinya - Nastya, Sayang -, mendadak saja, itu menjadi sangat akrab di telinganya. Kapan ia pernah mendengarnya?


"Nyonya Nastya ...," sapa Archilles atasi sesuatu yang mengendap-endap di dalam dirinya.


"Tuan Maurizio?!" Nyonya Nastya melambai pada suaminya.


Nyonya Nastya berdiri di atas lutut agak goncang.


"Tuan?" Memanggil seperti raungan, mencari pegangan sebelum terjatuh tak sadarkan diri dalam pelukan Maurizio Lucca.


**


Kadang author up tetapi begini jadinya review dari pihak NT MT bisa sampai esok harinya. Bikin lemas bestie. Ini masih bagian Archilles belum yang lain. Ethan-nya entah siapa lagi. Maka aku yakin Novel ini ending tapi macam kepanjangan. Semoga Anda tetap di sini.