My Guardian Angel (The Dust of Love)

My Guardian Angel (The Dust of Love)
Chapter 101. Fight after Sweet Stories



"Archilles, bolehkah aku ikut?"


Arumi Chavez bersandar di ambang pintu kamarnya. Wajah Nona Arumi gundah gulana. Tak bisa diintip jauh di kedalaman hati. Pastinya sangat gelap.


"Nona ...." Archilles Lucca menggapai Arumi, masuk ke dalam dekapan dan membujuknya. "Anda akan tinggal dan berusaha mendamaikan kedua orang tua Anda."


"Ya, masalahku sangat kompleks."


"Kita akan secepatnya bersama."


"Aku tak mau pergi ke sekolah atau pergi syuting. Aku takut diculik seseorang lagi."


"Nona ...."


"Kamu tahu, aku yakin, mereka masih di luar sana mengincar aku."


Archilles lepaskan pelukan, menatap Arumi Chavez dan membelai wajah gadisnya pelan.


"Nona ..., tak akan ada yang berani menyentuhmu lagi karena aku akan melindungimu."


"Aku percaya padamu, Archilles, tetapi hanya ketika kamu berada di sampingku."


"Oleh sebab itu, biarkan aku pergi dan mengurus segala hal. Aku berjanji akan segera kembali padamu dan menemani hari-hari


Anda beraktivitas."


"Oh Archilles, aku akan segera bangkrut sebab beberapa kontrak yang telah dibatalkan sepihak oleh manajemen kita. Semua pihak menuntut ganti rugi. Aku takut uangku hilang. Aku harus membeli jet pribadi dan berkeliling dunia denganmu. Kita bisa jadi selebgram setelah menikah dan hidup bebas."


Archilles tersenyum geli. Nona Arumi mirip Zefanya saat ini. Perhitungan soal uang.


"Itu bukan ide bagus, Nona! Anda masih enam-belas-tahun. Pendidikan Anda perlu diselesaikan."


"Mengapa aku perlu memaksa otakku menghapal banyak ilmu sedang aku bisa hasilkan uang tanpa repot-repot berpikir. Lagipula, aku akan menikahimu, Archilles Lucca. Kamu bisa mengurus perusahaan Ibuku tanpa libatkan aku."


"Aku pikir kita telah sepakat berusaha sendiri tanpa warisan orang tua."


"Itu lagi."


"Anda hanya akan selesaikan terapi selama kita berpisah dan tentang sekolah, Anda mungkin akan bersama Young Vincenti dan beberapa murid lain belajar di rumah. Nyonya Salsa sedang mempersiapkan lingkungan baru lebih nyaman bagi Nona belajar. Walaupun aku tak di sisimu, aku akan tetap mengawasi Anda, Nona. Beranilah menghadapi hari."


Melambai dari luar kafe, Archilles Lucca mampir ke tempat Ethan Sanchez. Ia telah pamitan pergi pada penghuni mansion dan akan kembali seminggu sebelum pernikahannya dengan Nona Arumi. Mungkin lebih cepat dari estimasi.


Serasa ingin melompat ke hari itu. Gadisnya tak mau melihat ia pergi. Jadi, bermain piano di lantai atas. Nada-nadanya sangat murung. Nona Arumi berkehendak ikuti dirinya, tetapi keduanya sama-sama tahu ..., bahwa godaan buruk bisa akhiri kisah cinta mereka. Terlebih jika ingin Tuan dan Nyonya Chavez bersama, Nona Arumi butuh tinggal di sisi kedua orang tuanya. Saat ini, Archilles amati Nona Arumi satu-satunya orang bisa dekatkan kembali Nyonya Salsa dan Tuan James.


Tidak bisa langsung kembali mengajar. Ada wanita lain menungguinya dalam kegelisahan, Nyonya Nastya Lucca. Ia kemudian harus bertemu dan yakinkan Ibunya. Sangat sulit karena Nyonya Nastya tak ingin berpisah darinya.


Pada akhir cerita, Nyonya Nastya Lucca berikan dispensasi selama enam minggu bagi Archilles untuk bereskan pekerjaan dan lainnya. Setelahnya, Nastya Lucca tak ingin ia bepergian selain bersama mereka di Càrvado termasuk setelah menikah. Nona Arumi terlalu muda untuk punya bayi, Nastya Lucca ingin Nona Arumi cukup dewasa untuk hamil.


Archilles bersama orang tuanya seharian, minta ijin pada kepala sekolah untuk panjangkan libur dua hari.


Nyonya Nastya memasak untuknya di sebuah vila di pinggir kota. Sedangkan dirinya dan Tuan Maurizio bercakap-cakap di ruang tengah. Tak butuh banyak interaksi, Maurizio Lucca dan Nastya Lucca memang kedua orang tuanya. Ia terikat darah dan segala bentuk emosional dengan Tuan Maurizio.


Setelah makan malam berakhir ia ingin pamitan menemui beberapa teman. Namun, Nyonya Nastya menjaganya di sisi ranjang. Perlakukan dirinya mirip bayi lima tahun. Archilles merasa berdosa sewaktu pura-pura lelap untuk kelabui Ibunya.


"Tuhan memberkatimu, Puteraku."


Suara indah Nyonya Nastya bagaimanapun mengisi tiap inci tubuh hingga ia peroleh kedamaian dan ketenangan, terutama cinta dan kasih sayang selain yang ia dapatkan dari Martha Via.


Kecupan di kening dari Nyonya Nastya dan Tuan Maurizio, Archilles Lucca tahu ia tidak sedang bermimpi. Dua orang ini sempurnakan harinya.


Lima belas menit setelah Nyonya Nastya Lucca keluar dari kamarnya, Archilles Lucca segera berganti pakaian. Diam-diam mengendap pergi dari ruang tidur. Lewat depan ia akan ketahuan penjaga. Archilles memilih Lompati pagar vila sebelum berlari sejauh 500 meter ke jalanan depan. Tak sadari sepasang mata amati tingkahnya. Bicara di ponsel dengan seseorang.


"Apa kamu dapatkan sesuatu?"


Maurizio Lucca tak akan mau menanggung akibat lain dari kehilangan putera kandungnya. Satu-satunya pewaris Càrvado Land.


"Tuan Maurizio, Tuan Muda terlibat dengan organisasi bawah tanah."


"Agathias, ini hanya boleh di antara kita."


"Kabar baiknya, Tuan Muda tidak lagi di sana semenjak menjadi pengawal Nona Arumi Chavez."


"Agathias, kamu akan ikuti kemanapun dia pergi! Caritahu apa yang dia lakukan dan kabari aku. Jaga dia!"


"Akan aku kerjakan, Tuan. Juarez bantu aku mengawasinya."


Sedang Archilles Lucca menelpon taxi dan langsung menuju tempat tujuan pertama.


Selain gara-gara telpon Zefanya, ia butuh lanjutkan tugasnya. Astaga, adiknya mirip rentenir penagih utang. Archilles berasa miliki utang jutaan Euro pada Zefanya. Ia terpaksa tebal-tebalkan wajah karena telah berjanji pada Zefanya.


"Apa sesuatu terjadi pada Arumi?" tanya Ethan Sanchez menyipit ketika mereka berhadapan muka dengan muka.


"Tidak. Nona Arumi baik-baik saja."


"Ya, aku harap begitu, Archilles. Aku telah berikan ultimatum pada Ibuku tentang Tuan James Chavez. Harusnya Ibuku ingat bagaimana ia menyakiti Arumi," keluh Ethan tanpa sadar.


Bagi Archilles, Ethan Sanchez menganggapnya cukup dekat untuk luapkan kemarahan terpendam bersifat pribadi. Hebatnya, Ethan utamakan perasaan sakit diderita Nona Arumi ketimbang yang Ethan sendiri alami. Archilles memuji sikap itu.


"Kamu memang luar biasa."


"Jadi, apakah ada urusanmu mendesak lainnya?" tanya Ethan Sanchez melihat raut serius Archilles.


"Entahlah, aku tak tahu harus bagaimana mengatakannya padamu."


"Beritahu aku! Kamu akan terima bantuan cuma-cuma dariku. Semoga tidak mengenai Arumi Chavez. Kamu akan paham bahwa aku tak bisa dekat dengannya. Tak bisa menyangkal, aku masih mencintainya. Sangat disayangkan, rasanya makin bertambah setiap aku melihatnya. Kamu akan berpikir ulang jika ingin tinggalkan Arumi padaku. Kecuali ketika kamu paksakan, ada konsekuensi besar yang akan kamu terima. Kamu mungkin akan kehilangan Arumi Chavez."


Archilles Lucca terdiam beberapa menit.


"Bukan soal Nona Arumi," jawab Archilles Lucca menggeleng. "Kamu punya tujuan hidup dan prioritas. Arumi Chavez bukan salah satu dari keduanya, Ethan."


"Aku hanya mengendalikannya sebisaku. Tak tahu apa yang terjadi nanti."


"Kamu tak akan paksakan dirimu dan menyakitinya lagi. Nona Arumi sangat terpukul saat kamu lepaskan dirinya."


"Aku bisa memperbaikinya jika Arumi tidak denganmu."


"Nona Arumi berhenti mencintaimu."


"Tak sulit bagiku untuk mendapatkan Arumi kembali. Gadismu mudah jatuh cinta. Aku tidak sepenuhnya hilang. Arumi hanya sedang berbunga-bunga padamu. Dia mungkin sembunyikan aku di suatu tempat."


Ethan Sanchez menatap Archilles Lucca tanpa kedip. Ia kembali basah-basahan dari mansion Diomanta. Menangis di tengah hujan karena ternyata hati sangat sakit. Antarkan Ibunya ke rumah sakit. Bertemu Dandia dan adiknya mengerti, ia sedang berkabung. Dandia Sanchez bebaskan Ethan Sanchez dari tugas. Ijinkan Ethan menginap di kafe. Tetapi, ia tidak pergi ke kafe. Motornya berhenti di wahana. Tempat itu tutup karena cuaca buruk. Ia naik ke salah satu wahana, di mana, ia dan Arumi pernah ke sana setelah ia belikan Arumi sepatu. Hari di mana mereka jadian. Ia kembali pulang ke kafe. Pertama kali habiskan satu botol minuman alkohol. Pikirnya bisa kurangi derita. Malah semakin parah saja. Ia bermimpi Arumi datang padanya dan memeluk Arumi Chavez sepanjang malam. Mengulang ciuman mereka yang tidak bisa ia lupakan. Ia bahkan tidur dengan gadis itu. Seperti nyata saja. Ia bahkan mendengar suara lembut Arumi Chavez. "Jangan sedih, Ethan. Aku sangat mencintaimu". Dampak mabuk membuatmu agak gila.


"Ya, aku tahu. Aku cukup percaya diri, Nona Arumi akan memilihku."


"Belum ada keputusan final meskipun kamu akan menikahinya, meski tanggal telah ditentukan," balas Ethan Sanchez. "Apakah ia pernah mengatakan, aku mencintaimu, Archilles Lucca? Kamu tak akan pernah dengar Arumi nyatakan cinta padamu."


Archilles menyipit. Apakah Ethan Sanchez mengajaknya bermusuhan setelah iyakan akan berikan bantuan gratis?


Harusnya ia tidak datang dan mengusik Ethan Sanchez. Semua ini gara-gara Zefanya Lucca. Walaupun ia punya ribuan foto di ponselnya, tak ada Ethan Sanchez di sana. Ia tak mungkin minta Nona Arumi.


"Aku cukup yakin Arumi tak bisa lakukan itu. Karena Arumi cuma ungkapkan perasaannya padaku."


Archilles lagi-lagi terdiam. Tidak heran Tuan Elgio Durante dan Lucky Luciano agak alergi pada Ethan Sanchez. Pria ini sangat cerdas memanipulasi seseorang dan lihai buat lawannya kesal. Lihat, bagaimana Ethan Sanchez panas-panasi dirinya.


"Cinta mudah rapuh dan raib, Ethan. Kasih sayang lebih sederhana tetapi lebih awet dan abadi. Perasaan di antara kami lebih alami."


"Penghiburan yang bagus," sambut Ethan Sanchez geli. "Kamu bukan satu-satunya yang miliki cinta dan kasih sayang pada Arumi."


Archilles Lucca lemparkan pandangan ke luar restoran. Nona Marion Davis dan Luna Hugo terlihat di salah satu meja sedang mengobrol. Atau berdiskusi. Keduanya punya notes kecil di tangan.


"Jangan tanggapi aku, Archilles Lucca. Aku hanya menggertak-mu. Wajahmu sangat lucu, ya ampun." Ethan Sanchez tersenyum cool dan Archilles Lucca berdecak. Dasar tukang jahil.


"Kamu cocok jadi pengacara, Ethan Sanchez."


"Temanmu ini sedang mencoba pergi ke sana, Archilles Lucca."


"Bagaimana dengan kedokteran?"


"Tidak buruk."


"Ya, kamu akan berhasil dengan segala hal yang kamu sentuh."


"Kecuali para gadis. Aku akan biarkan Nyonya Sanchez pilihkan untukku agar aman dan tenteram."


"Putera yang berbakti."


"Kamu tak akan sia-siakan Arumi Chavez."


"Tak akan terjadi. Tolong temui gadis lain."


"Saranmu didengarkan. Sekarang, katakan tujuanmu kemari. Berhenti pamer padaku, betapa Arumi tak bisa hidup tanpamu!"


"Bolehkah aku dapatkan satu fotomu, Ethan!"


Ethan Sanchez cukup terkejut. Keningnya berkerut. "Fotoku? Apa yang akan dilakukan kekasih dari mantan pacarku dengan fotoku? Jangan bilang kamu akan mainkan sihir hitam padaku karena kata-kataku barusan?"


Fernanda Miller letakan dua cup cappucino di hadapan Archilles Lucca dan Ethan Sanchez, tersenyum sedikit pada Archilles malah dapatkan balasan tatap setajam belati dari Archilles Lucca. Itu adalah tatapan pembunuh berdarah dingin. Fernanda buru-buru menyingkir.


Ethan Sanchez persilahkan Archilles Lucca untuk minum. Namun, Archilles cuma pandangi kopi di cangkir. Paham maksud Archilles, Ethan Sanchez bangkit. Permisi pada Archilles. Ia meraup dua cup cangkir dan bawakan ke belakang.


"Jangan sajikan apapun untuk teman-temanku, Fernanda Miller."


"Aku hanya ingin ...."


"Ini ..., pertama dan terakhir Fernanda!" potong Ethan Sanchez kasar menarik pintu tempat sampah dan membuang cup kopi ke dalamnya, menutup sedikit keras hingga Fernanda kaget.


"Baiklah," jawab Fernanda sedikit membungkuk pergi ke pojok dan mematung di sana sementara Ethan Sanchez menyeduh kopi dalam cangkir putih, mengatur roti ke dalam nampan dan bawakan ke depan.


Tak ada pelanggan selain Archilles Lucca. Jelas saja, lima belas menit lagi mereka tutup.


"Kamu bisa mengambilnya sesuka hati." Ethan Sanchez sajikan cangkir kopi. Ia tampak tidak begitu permasalahkan keinginan dan antusiasme seseorang padanya. "Aku terbiasa." Ethan menegaskan. "Wanita hamil di blok kami meminta fotoku dan berharap lahirkan putera setampan aku."


"Akan lebih mudah bagiku tahu akun media sosialmu."


"Aku tidak punya akun media sosial karena waktuku tidak cukup untuk berselancar di dunia Maya. Aktivitas di dunia nyataku sungguh rumit dan menguras tenaga. Tak ada waktu eksis di media sosial. Aku pikir kamu juga sepemikiran denganku."


"Aku punya tapi tak pernah update apapun."


"Aku penasaran, apa yang seorang pria sepertimu lakukan dengan media sosial."


Archilles tersenyum lebar, meraih cangkir kopi dan meneguk pelan.


"Jadi, darimana aku bisa dapatkan fotomu?"


"Sebelumnya berapa nilai rata-ratanya di sekolah?"


"Nyaris sempurna. Dia sangat cerdas sama seperti Nona Dandia."


"Baiklah. Aku keberatan jika nilainya buruk tetapi masih sempat berpikir buatkan posterku. Katakan pada adikmu, aku berikan fotoku cuma-cuma. Imbalannya, dia harus pintar di sekolah. Lima menit lagi kami tutup. Kamu bisa memotret-ku sekali dua kali."


Begitulah akhirnya Archilles Lucca mengambil beberapa foto Ethan Sanchez. Biarkan Ethan memilih menurutnya bagus. Tak ada yang jelek sebab memang Ethan Sanchez keren di segala sisi.


"Aku harap adikmu tidak macam-macam dengan fotoku!"


"Dia berusia sepuluh tahun dan sebelumnya adalah penggemar berat Taehyung. Semenjak bertemu denganmu di mansion Diomanta beberapa waktu lalu, katanya ia putuskan punya idola baru."


"Manis sekali," sahut Ethan Sanchez apa adanya. "Sepuluh tahun berarti seumuran adik lelakiku, Gabriel. Mereka mungkin bisa berteman baik."


"Aku juga bilang begitu!"


"Gabriel tak punya idola. Adik sepuluh tahunku mengisi waktu dengan belajar dan sisanya ia hanya akan menonton Shinbi's House juga Doraemon. Sedikit tentang paranormal activity. Kesimpulanku, idola Gabriel adalah Kang Lin, Rion si pendekar putih dari dunia Aegis dan Doraemon."


"Harusnya begitu."


"Adikmu belum cukup dewasa. Kesehatan pikirannya bisa terganggu. Saranku, ubah wajahku jadi karakter kartun sebelum dijadikan poster. Akan lebih pantas bagi gadis berusia sepuluh tahun. Bila perlu tambahkan rumus matematika dan fisika di keliling wajahku."


"Ide bagus. Aku ceritakan sedikit tentangmu."


"Tolong skip di bagian 'kegagalanku dalam dunia percintaan'. Jangan biarkan gadis sepuluh tahun menertawakan aku. Kamu tak akan curang padaku, Archilles. Lagipula, dia masih anak-anak, kan?"


"Dia hanya dengarkan hal-hal unggul tentangmu."


"Sampaikan salamku untuknya. Rajin saja belajar dan jangan pikirkan soal pria. Itu sangat berbahaya."


Archilles pergi dari kafe tak lama berselang. Ia kirimkan pesan foto hingga buat Zefanya Lucca mengirim banyak emoticon love.


"Apa dia mengingat aku?" tanya Zefanya antusias.


Archilles berjalan membaur dengan pengguna jalan lain. Angin berhembus dan gerimis halus mengisi malam.


"Tidak!"


"Tidak?" Zefanya sedikit histeris.


"Ya."


"Mengapa?"


"Mengapa?" ulang Archilles heran. "Karena memang tidak penting."


"Setidaknya dia bertanya atau mengingat namaku!"


"Zefanya Lucca?! Keinginanmu akhirnya tanpa batas. Apakah kamu berpikir akan menikahinya di masa depan? Hentikan sekarang! Okay?"


"Ya, baiklah," sahut Zefanya menurut tetapi tidak puas. "Archilles, masa temanmu tak bertanya siapa nama adikmu, berapa usianya dan mengapa meminta fotonya?"


"Setiap hari para gadis mengantri di tempat dia bekerja untuk minta foto bersama. Jadi, Ethan tidak peduli. Pria ini bisa menyaingi Taehyung jika garis nasibnya bagus. Jangan harapkan apapun. Lagipula, gadis sepuluh tahun harusnya hanya sibuk bermain game dan membaca dongeng juga komik?"


"Bagaimana ini, ketika aku baca buku dongeng tentang pangeran, wajah Ethan Sanchez yang muncul?"


"Ais, Ais, Ais!" keluh Archilles Lucca. "Dengar, Sayang. Belajar yang benar dan jadilah dokter hebat. Seorang pria setampan Ethan Sanchez akan menjadi pacarmu suatu waktu. Astaga, gadis ini!"


"Gampang Archilles. Kamu macam tak kenal aku saja. Lihat saja nanti. By the way, terima kasih banyak telah penuhi permintaanku, Archilles Lucca." Zefanya mengira Archilles marah besar padanya. "Maafkan aku. Janji, aku akan belajar keras dan menjadi yang terbaik untuk buat kakakku tercinta bangga. Terlebih demi masa depan cemerlang."


"Sebaiknya, Zefanya. Please berhenti bersikap terlalu dewasa. Boleh mengidolakan seseorang. Asalkan tidak sampai merugikan dirimu sendiri."


Archilles Lucca berdiri di pinggir jalan. Sebuah restoran terlihat ramai di dalamnya. Pelajari situasi sebelum masuk ke dalam. Ia duduk di salah satu bangku yang ada di luar restoran. Menunggu beberapa waktu.


Dari permukaan tampak normal seperti biasa. Namun, di dalam, di lantai bawah tanah sedang berlangsung sebuah pertarungan sengit dalam bentuk sayembara.


Archilles Lucca melihat pendaftarannya di dark web. Memeriksa. Salah satu profil peserta tak terkalahkan adalah iblis dari dalam penjara yang kabur dari balik jeruji dan mengungsi ke negara ini. Tak paham mengapa penjahat kelas kakap sepertinya bebas. Semalam Archilles daftarkan diri. Hari ini ia melihat pria itu bertarung dan menangkan banyak uang.


Archilles pergi ke dalam setelah konfirmasi kehadiran untuk ikut pertarungan. Ia memesan sandwich lapis tuna, bawang dan doritos seperti selera Nona Arumi yang juga adalah kode menuju ke gelanggang. Ia di antarkan ke bawah.


Tiga pria sasarannya dari secret room 6 ada dalam daftar sponsor. Mereka berjudi. Archilles Lucca akan menangkan pertarungan dan dapatkan atensi mereka.


Ia pergi ke bawah di antar seorang gadis pelayan yang terus melirik padanya, mengajaknya berkenalan. Di dalam lift merapat padanya.


"Namaku, Lily. Apakah kamu salah satu prajurit?"


Archilles tak menengok. "Ya."


"Tak ada aturan apapun dalam pertarungan ini. Nyawamu dalam masalah jika kamu bertekuk lutut."


"TRIms sudah mengingatkan."


"Mereka sering kali curang. Gunakan senjata kejut listrik agar taruhan mereka tak hilang. Prajurit mereka akhirnya selalu berhasil jadi algojo."


Archilles menoleh. Lily tersenyum padanya.


"Alasan pria ini selalu menang?"


"Ya."


"Trims informasinya."


Mereka keluar dari lift masuk ke lift lain dan di sana letak gelanggang. Iblis ini sulit terkalahkan. Berdiri di tengah ring setelah patahkan pinggang lawannya. Pertandingan disiarkan langsung. Penonton bersorak-sorak. Uang dilemparkan. Pria itu memukul dadanya merasa hebat. Lily antarkan Archilles pergi ke ruang lain.


Archilles lepaskan pakaian sisakan celana pendek. Gerakan sedikit punggung. Sedikit pemanasan. Terperanjat kaget. Ia berbalik.


"Kita bisa bersama, nanti malam. Semoga beruntung." Lily masih di belakangnya. Menatapnya terpukau dan penuh selera. "Aku tidak memungut bayaran," tambahnya lagi.


Archilles tidak merespon, lewati gadis muda pirang yang seperti sedang membayangkan sesuatu melihat tubuhnya.


Sepuluh langkah panjang menuju gelanggang.


Arggghhh!


Itu adalah jeritan Lily. Archilles menoleh tetapi pintu ruangan tertutup. Gadis mungkin ingin menarik perhatiannya. Beberapa pria hilir mudik tak hiraukan.


Archilles hanya ingin melompat ke dalam gelanggang dan hancurkan kepala si iblis sialan yang mencuri cincinnya. Ia tak menggubris apapun terjadi pada Lily.


Sementara dalam ruangan. Lily pegangi leher berdarah. Di hadapan, seorang wanita cantik dan s3k51 menyeringai puas setelah menggigit lehernya persis cara seekor vampir. Entah dari mana datangnya. Tahu-tahu saja di belakang Lily dan memelintir tubuhnya, menghirup lehernya sebelum tancapkan gigi-gigi dengan sangat buas. Tangannya penuh darah kini.


"Siapa kamu?" Lily ketakutan bersandar di loker. Si wanita mengusap bibir dan meludah ke lantai.


"Banyak wanita murahan di dunia. Mereka boleh merayu siapa saja, hewan mana saja, tumbuhan mana saja asalkan jangan pria yang barusan lewat."


"A ... pa kamu kekasihnya?"


"Bukan, meskipun aku suka konsep menggembirakan itu!"


"Lalu, apa salahku?"


"Gadis murahan, aku bisa deteksi rancangan jahat di matamu padanya. Jangan berharap bisa bawa my sweet baby ke ranjang. Kamu harus lewati aku dulu. Hmm? Lain kali, aku akan putuskan nadi di lehermu dengan gigiku jika kamu coba-coba berkeliaran di dekatnya!" Melihat jam di tangan. "Waktunya aku pergi!" Mengecup bibir Lily kilat.


Lily terpaku di tempat. Ia menahan sakit sedang si wanita pergi setelah melambai. Melangkah penuh percaya diri persis model kelas atas di catwalk.


"Sialan, siapa b3t1n4 sakit jiwa ini?"


***