My Guardian Angel (The Dust of Love)

My Guardian Angel (The Dust of Love)
Chapter 81. Bunch of Punks



Kitab dibuka, dibolak-balik kemudian dibacakan. Kitab iblis secara rinci jelaskan siapa mereka. Paling banyak mengupas tentang mencintai diri sendiri, narsisme dan fanatisme pada s3k5. Tanpa larangan karena yang diagungkan menyukai kebebasan mutlak.


Lalu, pemimpin tertinggi memulai khotbah berapi-api setelah bersama empat majelis kelilingi patung dalam posisi menyembah.


"Mengikuti 'yang agung' setiap orang akan diberikan popularitas, kemakmuran, ketenaran, kekayaan dan kesenangan duniawi lainnya. Bahwa semuanya nyata bukan hanya janji. Ia akan berikan bukti. Bandingkan dengan yang disebut-sebut pencipta langit dan bumi. Jadi, anak baik belum tentu diberikan sesuai keinginanmu.


Tak perlu merasa takut dan malu pada dosa, tak akan ada yang menghakimi. Kamu malah akan menerima imbalan sangat pantas yang tak pernah kamu bayangkan sebelumnya.


Jika ada yang menyakitimu, kamu akan membalasnya. Tak ada cinta atau kasih selain h4w4 n4f5u."


Mereka nyanyikan balada memuja 'yang agung' sedikit menghentak dan keras. Berubah buas. Berteriak macam kerasukan. Musik rock and roll dari band legendaris dan ternama. Yang diputar terbalik pada sebuah piringan hitam.


Sweet satan, ini diriku!


Sweet satan, ambil jiwaku!


Aku akan mengikutimu!


Ke hutan buta di mana kau menunggu!


Menyatu dalam irama gelap!


Aku mengikutimu Milikmu! Hanya milikmu!


Berikan aku kemuliaan, kekuatan, kejayaan.


Fuuceek God and his b1tch son!


Fuuceek God and his b1tch son!


Tangan-tangan terangkat, memulai lagi mengumpat. Komat-kamit. Arumi berhenti menatap pada patung saat segerombolan wanita naik ke atas altar, beberapa dari mereka datangi dirinya pegangi kaki juga tangannya. Banyak orang mengisi ruang yang lebih kosong di lantai balkon yang lebih tinggi. Termasuk beberapa tambahan orang dengan perlengkapan dokumentasi. Semua pintu ruangan kemudian ditutup.


Ia kemudian hanya terlentang karena kedinginan, juga menyusut di atas mezbah. Kesulitan bergerak. Ia mulai sesak napas. Kepala berdengung semakin sering.


Setelah darah dari orang-orang di ruangan terkumpul, dicampur jadi satu. Tiga orang pembantu bawakan ke depan altar. Diaduk lagi bersama cairan alkohol. Terakhir cawan dari kaki Itzik Damian.


Pemimpin tuangkan cairan ke dalam piala-piala berukuran kecil. Komat-kamit.


"Ini darah kita yang dicurahkan bagi kita untuk kenikmatan bersama. Terimalah dan minumlah darah ini sebagai perjanjian di antara kita."


Lonceng dibunyikan sebanyak sembilan kali. Diedarkan kembali. Menunggu aba-aba. Pemimpin tertinggi jelaskan pada Arumi seakan ingin Arumi belajar tradisi mereka sejak malam ini tentang perjamuan darah yang akan menguatkan ikatan di antara anggota. Setelah meminumnya setiap orang akan susah lepaskan diri.


Mereka mulai minum, menikmati. Arumi tak berhenti bergidik oleh kengerian, tak sadar telah muntahkan angin oleh bau anyir darah juga lilin.


"Yang dinanti semua orang akhirnya tiba. Santapan cinta kasih."


Seorang host memulai membuka siaran yang menurut Itzik akan hasilkan Triliunan dalam satu jam. Wajah sang host ditutupi topeng berwajah kambing.


"So guys, 2000 orang telah bergabung di dark room 6 akan dipandu oleh red magician dan dark room 66 dikhususkan hanya bagi eksklusif member dipandu oleh black magician. Kalian tahu keistimewaannya?"


Seseorang yang disebut red magician memakai jubah merah sewarna darah dan topi semirip topi para uskup bedanya dengan tanduk dua. Wajah ditutupi oleh topeng kambing.


Ia mulai bicara. "Ya ya ya, aku terus mengatakan padamu, sobat. Di room 66 Anggota bisa request pada kami, apa yang Anda inginkan dari pengantin untuk dilakukan. Dia bisa diikat, sedikit dilecuti dengan cemeti, merangkak seperti anjing, terserah apapun itu demi ken1km4t4nmu."


Diambil alih lagi sama host utama.


"Aku akan memandu kalian. Kamera bekerja mengambil 360 derajat point of view dari sesi ini juga dari seluruh ruangan ini. Semua anggota yang hadir malam ini akan ikut ambil bagian secara aktif dalam pesta tahunan paling ditunggu-tunggu. S3k5 secara lepas dengan siapa saja sesuai kemauan masing-masing. Tanpa pantangan, tanpa paksaan, tak ada aturan. Hanya ledakan dirimu dan meleburlah. Kita akan segera mulai. Terima kasih paling awal untuk semua partisipan, simpatisan, donatur yang telah investasikan waktumu, uangmu untuk acara ini. Terlebih bagi yang berkuasa di tiap distrik dengan loyalitas dan kekayaan. Anda akan semakin diberikan hadiah dari 'yang agung'."


Sang pemimpin berjalan ke arah Arumi sementara kamera dari beberapa sudut telah on. Lepaskan topi kerucut hingga Arumi bisa lebih jelas melihat wajah pendeta sekte. Seorang asing mungkin sebaya uncle H, mungkin seusia James Chavez, ayahnya. Ia berambut abu-abu hampir putih, alis cokelat dan berias bold di bagian mata.


"Aku telah menunggumu, Pengantinku."


Tatapan mata psikopat pada umumnya. Tak malu-malu dipenuhi elemen akan keinginan paling dasar makhluk hidup. Buas, ganas dan Arumi pikir, Archilles Lucca mungkin tak punya cukup waktu selamatkan dirinya. Atau ia bisa jelaskan harapan yang tetap ada di dalam dadanya bahwa pria itu memang sedang lakukan sesuatu. Ia akan bertanya nanti, mengapa sangat lama menolongnya? Apa yang menahan pria itu?


Orang-orang seakan tersihir. Mulai lepaskan jubah mereka seraya kumandangkan mantra lagi. Mustik. Pemimpin tertinggi mengambil sesuatu, sebuah suntikan dari empat orang wanita yang membawa nampan. Pengikutnya membeo. Mereka akan gunakan 0b4t4n terlarang sebelum pesta dimulai.


Tanpa ragu tancapkan pada dirinya sendiri, ulurkan tangan pada wanita lain berusia kira-kira 35 tahunan yang kepalai para wanita di altar. Ia bergaun putih dengan belahan setinggi pinggang hingga saat wanita itu melangkah tak ada apapun yang disembunyikan. Menebar s3nsu4l1t4s, mulai memancing.


Mungkin istri si pria, mereka berbagi barang haram. Berciuman gunakan cara paling menjijikan yang disaksikan Arumi Chavez. Bahkan saling menggigit hingga berdarah sebelum si pria perlahan datangi dirinya. Anak mata Arumi bergerak.


Dahi Arumi kemudian disentuh, diberi simbol tertentu. Arumi menggeleng, menolak keras. Wanita membawa cawan berisi darah sampai di sisi Arumi. Letakan di sisi altar.


"Biarkan suntikan dan minuman menjadi ritual paling akhir, Sayang."


Kelihatan si pria h0rn1 berat padanya. Padahal dibanding 13 orang wanita yang ia lihat, tubuhnya hanya seperti remaja baru akan dewasa.


"Biarkan pengantin kita sadar!"


Si wanita mengangguk patuh sementara si pria sesat meneguk liur. Lekas-lekas pergi ke pangkal saraf gejolaknya.


Si wanita tidak menunda mengelus wajah Arumi hingga kuduk Arumi meremang. Tangan secara agresif membelai tubuh Arumi. Turuni dagu, dada, perut, turun ke bawah.


"Gadisku yang diberkati oleh darah."


"Di ... a ti ... dur de ... ngan pengawalnya! Gadis itu tidak murni seperti terlihat." Itzik Damian tiba-tiba menyela. Bicara terseret-seret dari arah belakang hanya untuk menerima cambukan cemeti. Jeritan kesakitan! Darah sangat kontras di tubuh putihnya. Itzik Damian sangat ganjil, rela dianiaya hanya demi admin tunggal fanpage-nya.


Si host terus membaca komentar yang masuk dan menerima lebih banyak transaksi yang tak dapat dilacak. Sangat bersemangat. Mengatakan bahwa transaksi diatur oleh seorang mafia asal Asia.


Hampir semua yang hadir mulai s4k4w. Ada banyak jenis. Kamera terus berputar-putar di sekeliling mereka. Arumi pejamkan mata, jampi-jampi terdengar makin bising di ruangan itu juga aroma campur aduk.


"Engkau adalah Pencipta segala sesuatu yang terlihat dan tidak terlihat, dan kuasa-Mu tidak akan berakhir. Dengan rendah hati di hadapan kebesaran kemuliaan-Mu, aku berdoa agar Engkau berkenan untuk bebaskan aku dengan kekuatan-Mu dari semua kepemilikan roh-roh neraka, dari tipu muslihat mereka, dari tipu daya dan kejahatan dan menjaga aku tetap aman dalam lindungan, ya Yang Maha Kuasa. Amin."


Arumi dengan sadar membaca doanya sendiri. Hanya itu yang ia miliki, percaya bahwa Yang menciptakan-Nya dan orang-orang beriman miliki kekuatan lebih dahsyat dari segala kekuatan ini. Dan ..., bukankah doa yang dihaturkan segenap hati adalah senjata ajaib melawan kejahatan?


"Mantra yang bagus tetapi akan sia-sia."


"Mereka membakar sampah dan mengirim pesan ke langit, menantang kekuasaan-Mu. Tuhanku adalah perisai! Ia akan menarikku keluar dari lembah gelap!" Suaranya mulai bergetar. "Aku hanya akan berbakti padaMu yang menciptakan aku."


Si pria naik ke atas mezbah kini sedang di ruangan telah sepenuhnya diisi oleh 3r4ng4n dan d3s4h4n.


"Tuhan, kasihani aku. Selamatkan aku dari iblis-iblis ini."


Kakinya disentuh.


"Tuhan ...." Arumi memekik panik, matanya terbeliak lebar. Tangannya disandera di atas kepalanya oleh si wanita.


Sesuatu menyentuh pahanya.


"Jangan takut! Kamu akan menyukai ini!"


"Iblis terkutuk akan terbakar di api neraka pada akhirnya!"


"Itu hanya karangan manusia. Kita tak akan percayai dongeng. Neraka hanya kata yang diciptakan untuk menakut-nakuti kita , Sayang!"


Arumi meniup ludah ke wajah si pria. Hindari sesuatu yang kini akan sampai di celah pahanya. Si pria tertawa kencang, menyukai tindakan berang Arumi Chavez.


"Aku percaya tangan-Nya akan mengangkat tombak untuk menyelamatkan aku! Mulutmu akan dibungkamNya."


"Amin," sahut si pria mengolok-olok.


Doa Arumi terkabul dalam lima detik. Ujung tombak perunggu berbentuk segi lima melayang, terbang dengan kecepatan tinggi dari arah patung tepat saat si pria akan tunaikan misinya.


Bak sambaran petir ujung runcing menukik akurat di leher si pria. Menggorok setengah bagian hingga mulut si pria terkatup rapat. Arumi menoleh. Dapati tangan kanan patung memutar tengkorak penuh darah lakukan lemparan keras menyusul tombak hingga tanpa atraksi lanjutan, kepala lekas tercabut dari tubuh. Tertancap persis di tengah-tengah simbol.


"Arggghhh!!!" Wanita-wanita yang melihat itu menjerit panik.


Darah muncrat penuhi wajah Arumi. Sungguh horor.


Tubuh tanpa kepala jatuh di atas tubuhnya. Si wanita di kepalanya melolong marah. Arumi sekuat tenaga mendorong tubuh besar itu kuat. Akhirnya ia hanya bergeser. Mati rasa oleh sesuatu yang mengguncang penglihatan dan mentalnya. Arumi Chavez berguling susah payah, terjatuh tepat di kaki mimbar. Kepalanya membentur ujung penahan lilin. Tergores dan berdarah. Ia muntah-muntah setelahnya.


Kepala Legion yang hanya datang untuk nikmati pertunjukan sangat murka. Salah seorang dari antara mereka memukul gong besar di sudut ruangan.


Arumi menengok pada patung emas yang berusaha mencopot kepala kambing yang mengganggu. Ia membakarnya dan lemparkan ke pertengahan mezbah. Api merayap di sana.


Dia bukan patung. Secara cermat Arumi Chavez jatuh cinta pada pacarnya walaupun pria itu memakai topeng. Ia mengenali Archilles Lucca meski pria itu agak kurusan kecuali ada keganjilan yang tak tahu, apa itu, tak ia pikirkan lebih jauh.


"Dia bukan sesembahan kita." Suasana berubah haluan.


"Dia hanya menyamar!"


"Bunuh dia!"


"Gantung dia!"


Panah-panah dikeluarkan dari balik jubah para penjaga, terarah pada Archilles Lucca. Sebagian memegang pistol. Arumi susah payah merangkak akan menjauhi ledakan kepala kambing.


Istri pemimpin tertinggi putari mezbah sampai pada Arumi, menyanderanya. Menyeretnya.


Suasana berubah kacau. Kameraman berusaha mengambil video sambil terus laporkan perkembangan terbaru, masih tetap anomali perilaku. Biasanya di akhir cerita kameraman adalah satu-satunya yang selamat.


Tubuh-tubuh polos sempoyongan mencari pintu keluar. Panah melayang kini dan timah panas pada Archilles yang melihat padanya. Segera berlari. Seseorang melindungi pacarnya dengan nampan-nampan lilin.


"Lucca!" Dan dia wanita, berteriak di tengah hiruk pikuk.


Satu nampan kayu seakan bersayap, ditangkap Archilles, lindungi diri. Berguling dalam ruangan kini yang mulai terbakar. Bertemu seorang pria, berkelahi.


Lilin-lilin berjatuhan dan membakar hampir semua jubah yang ditanggal, kitab-kitab bersimbol dan yang lainnya.


Arumi menggigiti tangan wanita yang memeganginya agar lepas. Tapi, si wanita menyeretnya. Kemudian satu tembakan berasal dari seorang wanita yang memanggil nama Archilles tadi bikin kepala wanita di belakangnya juga terpisah. Arumi terduduk, memeluk lutut dan mulai linglung.


Para pria yang menandu patung kini telah menjelma menjadi sepasukan bandit. Terharu kebiru-biruan. Arumi kenali pamannya, Uncle Hellton, Tuan Raymundo Alvaro dan kakak angkatnya yang suka usil padanya, Lucky Luciano.


"Bawa Arumi pergi dari sini."


Arumi mendengar suara Uncle H. Archilles sepertinya baru sadar akan kehadiran tiga orang itu dari wajah terkejutnya. Berikan tanda.


"Nona!!!" Archilles meraih tubuh Arumi yang menggigil selimuti dengan kain alas tandu tempat pijakannya. Mengusap mata dan bibir Arumi. "Kita akan bersihkan wajahmu di luar!" Mendekap erat-erat.


Arumi kesulitan berdiri. Archilles menggendong nya. Lalu menahan 3r4ng4n kesakitan hingga timbul pertanyaan, apakah pria ini telah lebih dahulu terluka?


Menuju jalan keluar. Sebuah panah melayang ke arah mereka ditepis oleh si wanita. Arumi melihatnya lewati sisi tubuh Archilles, sangat asing, di tengah ruangan; tak berhenti bergerak lindungi mereka, atau bukan dirinya tetapi Archilles.


Sedikit kewalahan, tak bisa menghalau satu tembakan panah yang berhasil lolos kenai punggung kanan atas Archilles. Merobek bagian itu. Pria itu terdorong ke depan, rahang Archilles mengejang akan tersandung tetapi kokoh berpijak pada dua kakinya. Mendekap Arumi makin erat.


Si wanita menggeram sangat murka lepaskan jubah tampilkan tubuh langsing, proporsional. Ia melangkah menyeret pedang yang berhasil ia dapatkan di tangannya.


Wanita itu sangat cepat memotong siapa saja tanpa belas kasihan. Tampak bersenang-senang memutar gagang pedang yang kini berlumuran darah. Ia bahkan menggunakan batok kepala orang untuk memukul lawannya. Bahkan menendang ke lantai atas. Sungguh sakit jiwa.


Sebelum mereka mencapai pintu, Arumi Chavez mengucap syukur sebab si wanita mencapai Itzik Damian. Sekuat tenaga jatuhkan penyangga dan menangkap tiang kayu tempat Itzik terikat, memeluk tubuh penuh luka Itzik erat-erat sebelum berusaha lepaskan paku yang membelenggu Itzik. Kini, Arumi yakin, wanita itu pastilah Tatiana Sangdeto.


Arumi Chavez refleks lingkari kedua tangannya di leher Archilles. Mereka berada di luar kini. Hari ternyata mulai gelap. Tuan Alvaro ikut dari belakang. Pria itu tidak biarkan satu orangpun halangi jalan mereka. Menembaki siapa saja yang terlihat oleh matanya, tak ingin repot keluarkan tenaga.


Api menyembur keluar dari kaca-kaca pecah.


"Apakah Uncle Hellton akan baik-baik saja?" tanya Arumi gelisah.


Pamannya baru sembuh sakit dan beberapa bagian tubuh Uncle Hellton bermasalah. Sangat lama berada di kursi roda dan penglihatannya kurang bagus.


"Jangan kuatir. Tuan Luciano dan Tuan Alvaro akan menjaganya."


"Punggungmu terluka, Archilles." Arumi rasakan darah melengket di tangan bercampur cat keemasan.


"Em, ya. Sedikit sakit. Kita akan segera pergi." Archilles mengecup keningnya. Bibir pria itu sedingin balok es.


"Aku ketakutan!"


"Semuanya berakhir. Aku di sini, Anda tak akan takuti apapun!"


"Kamu hampir terlambat."


"Aku menunggu momen yang tepat agar pekerjaanku lebih mudah. Maafkan aku, Anda harus alami semua ini!"


Memutari undakan tangga pergi ke atas teras. Eurocopter Tiger dengan pucuk meriam, rudal Anti tank, roket dan serenteng peluru berputar setelah menyerang tempat itu habis-habisan. Dibawa turun.


Carlos Adelberth di belakang kendali. Archilles hati-hati mendorong Arumi ke bagian belakang dan ikut naik.


"Archilles terluka, Carl!" seru Tuan Alvaro pada Carlos.


"Ya, baiklah. Aku akan segera kembali!"


Tuan Alvaro mengangguk tanpa ekspresi sebelum menutup pintu dan kembali berlari dalam langkah-langkah panjang mencari teman-temannya.


Benda itu terbang. Arumi diserang demam tinggi dalam pelukan Archilles Lucca. Kejadian demi kejadian secara perlahan telah mengganggu psikisnya.


Archilles mengambil air mineral dari sisi kabin, tuangkan pada kain dan mulai menghapus noda darah di wajah Arumi gunakan tangan kanannya.


Arumi tak tahan untuk tidak muntah. Sangat menderita oleh aroma darah. Terlebih bayangan demi bayangan berputar-putar di dalam kepalanya. Archilles hanya menepuk punggung Arumi pelan.


"Kepalaku sangat sakit!"


"Kita akan segera sampai, Nona. Aku pegangimu."


Mereka dibawa ke rumah sakit di sebuah tempat rahasia setelah mendarat di landasan pendek di tepian laut.


Arumi Chavez menolak perawatan, takut pada tangan-tangan orang asing. Takut sendirian, terus saja muntah-muntah hingga Archilles menunda operasi di punggungnya, menunggui gadis itu yang sekalipun demam ingin bersihkan diri dari bau darah. Ia merenung di depan kamar mandi yang bahkan di biarkan terbuka. Hari-hari mereka sangat buruk.


Gadis itu keluar dari sana. Archilles membantunya berpakaian yang ia dapatkan dari salah seorang perawat murah hati. Kemudian membungkus lagi dengan selimut.


Selama satu jam panjang mereka hanya duduk di sofa rumah sakit. Tanpa suara. Di kejauhan suara ombak pecah di batu karang terdengar jelas, angin kemudian hujan. Archilles sembunyikan tangan kirinya dalam saku celana. Sedang tangan kanannya memeluk Arumi.


"Archilles, kalungku hilang. Aku tak bisa menjaganya dengan baik."


"Ada padaku, Nona."


"Bagaimana bisa?"


"Takdir."


Archilles keluarkan benda itu dari saku celananya dan kembali pasangkan pada leher Arumi. Kini jauh lebih longgar. Susah payah sembunyikan tangan kiri dari penglihatan Arumi.


"Anda harus makan."


"Aku sangat mual!"


Nyonya Salsa Diomanta dan Nona Sunny datang. Walaupun Nyonya Salsa memeluk puterinya, gadis itu tak mau lepaskan tangan mereka.


Butuh waktu lama membujuk gadis yang mengeluh tak bisa katupkan mata sebab tiap kali ia lakukan ia melihat banyak kengerian.


Perut terus berbunyi nyaring. Nona Arumi muntah melihat makanan yang dibawakan Sunny. Selanjutnya takut pada suntikan dan jarum infus. Seperti seorang menderita catatonia, gadis itu hanya linglung.


Dokter mengatakan, reaksi psikologis terkadang bekerja lebih lambat. Mungkin baru saja dimulai.


"Kami akan mengurusnya, Archilles. Pergilah dan jahit lukamu!" Sunny Diomanta berkata murung.


Archilles memgangguk. Tangan kiri yang tidak diperlihatkan timbulkan tanda tanya di dahi Salsa Diomanta. Namun, Archilles hanya segera berlalu untuk menjahit lukanya. Juga tak bereaksi apapun pada kalung di leher Arumi.


Bius sebabkan Archilles segera tertidur dan memang perjalanan panjang berhari-hari, tekanan fisik dan mental hampir dua Minggu ini, ia telah dihantui insomnia parah. Ia butuh pejamkan mata.


Tengah malam setengah sadar, ia mendengar roda tiang infus menggelinding pelan dalam keheningan pekat di lantai rumah sakit. Berhenti sebentar lalu berputar lagi, berhenti dan berputar lagi sampai benda itu berhenti tepat di ruangannya.


Pintu didorong, antara sadar dan tidak, roda datang padanya. Archilles membuka mata perlahan. Buram. Gadis itu berdiri setengah depa darinya. Mata mereka bertemu.


Nona Arumi naik ke ranjang, mengatur lengan kirinya. Tersentak. Mungkin terkejut melihat tangan yang tak bisa ia sembunyikan lagi. Beberapa menit berselang berbaring di atas lengannya.


Ada setitik air mata jatuh di lengan polosnya. Hangat. Lalu, berubah lebih banyak. Gadis itu terisak pelan.


"Nona ..., Anda harus kembali. Ibu Anda akan panik saat tak temukan Anda di ruangan Anda."


"Mau beritahu aku, apa yang terjadi dengan tanganmu, Archilles?" tanya Arumi Chavez di antara isak.


"Bukan apa-apa, Nona!" sahut Archilles. "Kaca jendela di kelasku pecah. Aku perbaiki-nya tetapi tanganku tanpa sengaja terkena pisau pemotong kaca."


"Siapa yang melakukannya padamu?" tuntut Arumi Chavez mengerang di lengannya tak percaya pada alasannya. Air mata gadis itu meluruh tak terkendali.


"Nona ...."


"Apa ..., ibuku?"


***