
Masih di bandara, Archilles akan telat pergi ke sekolah. Ia menunggu hingga pesawat yang membawa gadisnya lepas landas. Nona Arumi lebih cemas dari biasanya. Diawal memilih diam dan tak mau berbagi. Lalu, ketika tak bisa disimpan sendiri dan atas desakannya, Nona Arumi terus terang katakan bahwa ia ketakutan.
Sejak lama Nona Arumi selalu bangun pagi dan gelisah seakan sesuatu yang buruk akan menimpanya. Dan itu telah berlangsung beberapa bulan ini sejak Archilles masih di sisinya.
Archilles butuh semua bujukan untuk tenangkan gadisnya. Berikan instruksi pada Leona agar lebih waspada dan selalu berjaga-jaga.
Men-dial number 1 di ponsel, ia terhubung ke BM. Tak dijawab. Mencoba sekali lagi. Bernapas lega menerima tanggapan.
"Ada apa? Aku baru saja tidur, Bung."
"BM, aku butuh bantuanmu." Archilles bicara pelan di luar bandara agak menepi ke taman depan bandara. Dari sana ia sekaligus memantau semua orang. Tak ada keganjilan. Insting mengendus hampir semua pengunjung bandara. Mata bak elang bekerja pindai yang hendak naik ke pesawat bersama Arumi.
"Agak sulit saat ini, Lucca. Aku sedang kerjakan kasus mencari beberapa gadis hilang."
"Begitukah?"
"Em, rumit. Jam tidurku hanya tiga atau empat jam sehari." BM terdengar lelah.
"Sekali ini."
"Baiklah. Apa yang kamu butuhkan?"
"Ambil semua uangku. Tolong periksa lokasi-lokasi yang akan aku kirimkan padamu."
Walaupun Lucca punya keahlian untuk bekerja tanpa BM, ia tetap butuh seseorang untuk tegaskan keyakinan dirinya.
Sebuah mobil Van masuki kompleks bandara. Beberapa biarawan turun dari sana. Archilles tak tahu ada biarawan lain di kota ini selain dari biara tempat tinggalnya.
Seorang leader menuntun mereka bicara dalam bahasa Italia.
"Grazie per aver visitato questa paese. Spero che verrà qui la prossima volta e posso mostrarla altri historical monumenti qui."
Terima kasih telah berkunjung ke daerah ini. Aku harap, Anda akan kemari di lain kesempatan dan aku bisa tunjukan lebih banyak lagi monumen bersejarah di sini.
Jadi, satu-satunya penjelasan yang ia miliki, mereka adalah sekelompok biarawan yang mengikuti tour ke daerah ini? Mengapa tidak menginap di biara tempat ia tinggal? Semua biarawan adalah satu kesatuan meskipun berbeda kongregasi. Kemungkinan lain, perjalanan dibiayai oleh sponsor dan donatur termasuk disiapkan penginapan. Lalu, mengapa alam bawah sadar tertarik pada mereka?
"Aku tak akan serakah padamu, Lucca. Simpan uangmu. Apakah ini tentang Paris?"
"Ya."
"Well, lokasi untuk Bittersweet Married adalah lokasi travel yang paling sering dikunjungi wisatawan seluruh dunia. Kamu tahu Paris lebih baik dariku."
"Instingku melemah."
"Mudah dipahami. Cinta tumpul-kan indera, butakan intuisi," sambut BM dari sebelah sedikit meledek. "Aku temukan di hampir semua pria. Jatuh cinta tak begitu bagus untuk pria-pria berkeahlian pemburu. Sebagian saraf mereka hanya berbunga-bunga dan hanya pikirkan hal-hal manis seperti ciuman, ranjang dan ...."
"Jangan mengada-ngada. Harimu akan tiba, Raphael Bourne," potong Archilles Lucca ingatkan temannya.
Raphael Bourne tak akan percaya jika ia katakan, ia tak berani bayangkan ranjang dengan Nona Arumi. Itu menodai cinta murni yang diagungkannya pada gadis itu. Kecuali secara alami yang biasa menimpa kaum adam dan tidak bisa dihentikan. BM akan meludahinya atau meragukannya. Atau biarkan saja pria itu dengan pikirannya.
"Semoga aku diberi umur panjang untuk melihatmu jatuh cinta," tambah Archilles Lucca. Akhirnya berhasil temukan keanehan.
"So creepy. Aku berhenti basah-basahan dalam mimpi karena yang kulihat hanyalah tumpukan masalah yang harus diselesaikan. Well, Ada beberapa kejahatan kecil, penjambretan, kecelakaan biasa. Tanpa banyak kasus-kasus kriminal mayor dibanding yang terjadi di belahan lain. Segalanya normal. Gadismu akan baik-baik saja. Sinyal ponsel Arumi Chavez selalu bersamaku, Lucca. Kirimkan pesan padanya agar ponsel selalu dibawa."
"Baiklah."
"Apa sesuatu terjadi?"
"Entahlah, seseorang mungkin mengincarnya."
"Atau mengikutimu. Nyonya Salsa sangat kredibel untuk masalah seperti ini. Apalagi menyangkut puterinya. Anda berhadapan dengan restu pemimpin dinasti yang menentang cintamu. Jangan terlalu cita-citakan akhir bahagia."
Jika, itu Nyonya Salsa maka Archilles hanya bisa pasrah. Terlebih yang diincar adalah dirinya bukan Nona Arumi. Namun, mengapa ia sanksi? Nyonya Salsa tak akan takut-takuti puterinya sendiri, bukan?
"Lanjutkan kerjaanmu!"
"Ya." BM menguap. "Kamu harusnya ikut dengannya supaya tidak terus gelisah."
"Aku akan menyusul setelah sekolah kami libur."
Tetapi, Archilles tak akan bisa tampakan diri. Ia sungguh tak ingin Nyonya Salsa membuat Nona Arumi frustasi. Entahlah. Ia belum pikirkan apapun, belum temukan cara.
"Paris dan kekasih cantikmu ..., hadiahmu sempurna tahun ini, Sobat."
"Harusnya begitu."
Kini, rombongan biarawan masuk ke pemeriksaan tiket didampingi beberapa pria awam. Diam-diam menghapal detil.
"Lucca, aku akan kirimkanmu beberapa video. Mungkinkah, kamu bisa temukan petunjuk untuk kasus-kasus yang sedang aku tangani."
"Akan aku lihat nanti malam."
"Aku belum temukan bukti cuma aku yakin mengarah pada organisasi terlarang di mana Hedgar Sangdeto adalah salah satu donatur dan partisipan."
"Apakah Anna bersama Hedgar?" tanya Archilles Lucca.
"Ya. H dan Ax sedang membangun rumah di Lembah Tena saat ini. Kamu akan menjaga wanitamu, semua pria sedang sibuk dengan urusan masing-masing kecuali Romeo. Minta bantuannya jika aku mungkin tak bisa dihubungi."
"Sepertinya situasimu juga sulit."
"Em ya, kita akan bahas nanti."
"Baiklah."
BM mengirim file video. Archilles mengunduh sambil perhatikan keadaan. Menarik, salah seorang di antara rombongan para biarawan walaupun tampak tenang, Archilles bisa rasakan aura gelap yang ia kenal itu.
Mengapa?
Karena Archilles Lucca adalah si mantan kriminal. Ia seakan sedang bercermin pada masa lalu. Dirinya ketika menjadi penjahat bertingkah seperti salah satu biarawan itu. Pura-pura menyaru. Sangat sopan dan dapatkan respek dari yang melihatnya tetapi sebenarnya hanya penyusup. Kepalsuan yang hanya bisa dikenali oleh sesama penjahat.
Archilles putuskan menelpon Kepala Sekolah dan minta ijin untuk situasi mendesak. Diam-diam datangi petugas, terangkan situasi. Butuh waktu sebab yang ia jelaskan adalah dugaan. Namun, kecurigaannya cukup kuat yakinkan petugas. Archilles dapatkan keinginannya. Ia memakai hoodie. Ikut masuk ke dalam, duduk tak jauh dari si pria di ruang tunggu bandara.
Boarding announcement meminta penumpang menuju Madrid segera bersiap-siap naik. Gadisnya paling depan. Kepangan rambut yang ia buat tadi pagi untuk Nona Arumi sangat sempurna dari sini.
Archilles Lucca kembali ke target secara terang-terangan tunjukan sikap, "aku kenal kamu" pada sang biarawan palsu hingga intimidasi itu berhasil bikin yang bersangkutan bergerak tidak tenang.
Lalu, sangat cepat si pria jahat sadari bahwa ia telah kepergok. Serangan abstrak Archilles sebabkan si pria mengambil langkah keliru dengan tergesa-gesa tinggalkan rombongan yang sedang mengantri menuju pintu gerbang paling akhir. Archilles Lucca ikut dari belakang.
Si pria berbelok di pintu lain menuju ke sayap kanan. Menuntun ia menjauh dari pesawat. Kesempatan bagus. Archilles Lucca mepet pada si pria dan sebelum coba kabur, Archilles Lucca mencengkeram lengan prinitu kuat separuh menyeretnya masuk ke sebuah ruangan yang ia lihat.
"Tuan?!"
"Berhenti pura-pura!"
"Siapa kamu?"
Si pria tiba-tiba berubah garang, berbalik dan menyerangnya. Archilles Lucca telah antisipasi, ia menghindar.
Mereka sedikit bertarung. Saat jubah terangkat jelas ia melihat senjata tajam dibaliknya. Archilles gunakan seluruh kekuatan membekuk lawan hingga lumpuh total. Berbaring di lantai dengan darah mengucur dari hidung dan mulut. Ia kemudian menyandera tas. Lutut kiri menekuk di atas tubuh pria yang tidak berdaya sedang kaki kanan menginjak tangan si pria kuat.
Archilles segera geledah tas. Ia temukan identitas, kamera dan dua ponsel. Archilles memotret identitas si pria gunakan ponselnya sendiri.
"Siapa yang mengirimmu?"
"Persetan denganmu!"
"Beritahu aku sebelum akhirnya bertambah buruk bagimu."
"Kamu baru saja melukai seorang biarawan yang paling dihormati!"
"Tutup mulutmu, Brengsek! Kamu ketahuan olehku!"
Archilles menginjak tangan si pria kuat-kuat hingga menjerit kesakitan.
"Kamu akan menyesal!" balas si pria terdengar mengutuki-nya.
"Kita lihat saja nanti!"
Periksa kamera, luar biasa. Satu kamera berisi foto Arumi Chavez. Travel photos diary, ceritakan perjalanan lengkap gadisnya sejak di Kafe bertemu Ethan Sanchez, dalam pesawat, malam di Madrid.
Kendalikan diri ..., bahkan ada foto mereka di depan kafe kemarin juga di water park.
"Kamu yang bertamu semalam ke vila tempat kami menginap?"
"Tidak!"
"Aku bisa patahkan semua jarimu."
"Bukan aku! Argh!"
"Menipuku?"
"Sumpah demi Tuhan! Kamu bisa lihat foto terakhir hanya di water park." Si pria menjawab di antara sakit yang diciptakan Archilles.
"Jadi, beritahu aku siapa kamu?"
"Seseorang yang ingin dapatkan berita Arumi Chavez."
"Media yang mana?" selidik Archilles Lucca.
"Hot gossip! Ini dikelola pribadi oleh diriku sendiri."
"Terima kasih." Archilles gunakan tumit sepatu, memilih kelingking si pria dan menginjaknya keras gunakan tumit sepatu hingga si pria mengumpat lagi.
"Sialan kau!" Memaki.
"Aku tak percaya padamu! Beritahu aku sebenarnya. Aku mungkin akan lepaskanmu."
Memeriksa ponsel si penjahat. Sistem kunci keamanan memindai wajah Archilles dan ditolak, meminta sidik jari sebagai alternatif. Archilles pegangi rambut si pria dan tengadahkan wajah itu untuk membuka layar ponsel terkunci.
"Kamu akan menyesal!" kata pria itu lagi. "Kamu tak tahu sedang berhadapan dengan siapa."
Archilles Lucca hantam-kan wajah si pria ke lantai tiga empat kali, hingga pekikan kesakitan terdengar jelas. Lantai lukiskan wajah dipenuhi darah segar. Lalu, tak terdengar kata lagi. Mungkin pingsan atau mati. Archilles tak peduli. Tidak ada ampunan bagi yang mengusik Arumi Chavez.
Hening.
Ponsel terbuka. Mengecek. Hanya satu nama tertera di ponsel, di kontak dan di riwayat panggilan masuk. Itu setengah jam lalu.
Master 📞
Seperti dugaannya nomer telah di-hide. Tak menunggu untuk lakukan panggilan. Tersambung. Ponsel diangkat. Sebuah suara.
"Apa ..., Arumi telah pergi dari sana?"
Archilles Lucca pejamkan mata. Giginya tanpa sengaja berderak.
Ia memang menaruh curiga tertinggi, tetapi ia temukan kenyataan, ia tetap saja tercengang mendengar suara Ibu dari kekasihnya. Ia terlalu terkejut untuk menyahut.
Hening untuk beberapa waktu.
"Archilles Lucca ..., Kamukah di sana?!" Nada lebih rendah, kagetkan dirinya.
Meneguk ludah, pesawat sekelebat lewat di depannya. Gadis itu terbang mengejar mimpi besarnya ke Paris. Pegangi hati yang entah mengapa gundah gulana. Segala hal menyangkut Arumi Chavez menyatu dengannya. Semacam miliki link, ia membuka tautan kemudian menonton kisah indah mereka. Sayangnya, ada elemen kesedihan di beberapa part. Misal, ia tak pantas untuk Arumi Chavez.
"Apa yang sedang Anda lakukan, Nyonya? Anda menakuti Nona Arumi ...."
"Tanyakan pada dirimu sendiri, Archilles. Apa yang kamu lakukan pada Puteriku. Berkatmu, aku akhirnya harus mengintai Puteriku sendiri!"
"Aku tak akan berani lakukan apapun pada Nona Arumi karena aku hanya menyayanginya."
Kisah beda generasi mereka mirip, ia dan Tuan Amarante miliki beberapa kesamaan tetapi bukan berarti hasrat mereka juga sama. Ia telah sadarkan diri berulang kali bahwa pacarnya hanya gadis belia tergolong anak-anak.
"Sayang sekali, aku tak percaya sedikitpun padamu. Apakah Arumi sudah pergi?"
"Ya. Membawa segala kegelisahan. Anda kejam padanya."
"Archilles ..., kamu boleh membunuh pria yang ada di tanganmu jika dia membuat Puteriku takut. Aku hanya memintanya mengawasi Arumi dari jauh. Aku tak perlu jelaskan alasanku padamu."
"Lakukan apa saja padaku! Hanya padaku!"
"Tentu. Kamu telah abaikan peringatanku untuk tidak menyentuh Puteriku. Kamu ingkari banyak hal. Aku perlu menjaga Puteriku. Berapa kali harus aku ulangi bahwa Puteriku masih anak-anak?"
"Nyonya ..."
"Pikirmu aku akan sakiti satu-satunya penerus Diomanta, Archilles? Aku sedang bicara pada pria dewasa karena Arumi tak bisa mengambil keputusan. Kamu akan tinggalkan Puteriku. Aku tak peduli caramu, Archilles Lucca."
"Aku akan pergi atas kehendak Nona Arumi," sahut Archilles merasa cukup sudah digertak. "Selama ia ingin aku tinggal, aku akan patuh padanya. Maafkan aku, tak bisa penuhi permintaan Anda. Bahkan ketika satu dunia menentang, aku akan pergi jika Nona Arumi mengusirku pergi."
Ia akhirnya membuat keputusannya sendiri untuk masa depan yang meski tak bisa ia lihat ujung, tetap harus ada harapan. Hanya berpedoman pada hati yang mengarah pada Arumi Chavez.
Tak ada balasan. Keheningan sementara waktu. Nyonya Salsa tidak suka ditolak dan pendiriannya barusan mungkin sebabkan shock therapy pada Nyonya Salsa.
"Baiklah." Nyonya Salsa akhirnya bicara dari sebelah. Nada dingin Nyonya Salsa sadarkan Archilles bahwa keputusannya terus mencintai Nona Arumi Chavez dianggap sebagai permusuhan. "Maka ini adalah permulaan di antara kita, Archilles Lucca."
***