My Guardian Angel (The Dust of Love)

My Guardian Angel (The Dust of Love)
Chapter 48. Breaking My Heart Again



Arumi dapati Ethan Sanchez harap-harap cemas.


"Aku perlu bicara padamu juga," tambah Ethan Sanchez membaca keraguan Arumi. "Kemarilah!"


Arumi Chavez menoleh ke ruang tengah rumah yang kosong, Leona pasti menunggu di mobil. Suara pekikan-pekikan dari dalam layar kaca beritahu Arumi, Gavriel sedang menonton kartun hantu.


"Aku akan ambilkan buah untukmu terlebih dahulu, Ethan."


"Aku akan makan nanti." Ethan Sanchez turuni tangga. Ia gapai tangan Arumi ikut masuk ke dalam kamar. Pintu dibiarkan sedikit terbuka menghapus kekhawatiran Arumi.


Persis bocoran Dandia, ada poster dirinya dalam ukuran besar di dinding kamar Ethan Sanchez. Wajah Arumi memerah jambu, panas dingin. Terlebih foto ini editan. Aslinya hanya Ethan Sanchez yang tahu.


"Apa keningmu membaik?" tanya Ethan Sanchez pergi ke meja belajar mengambil oparin gel dari salah satu laci.


"Duduklah di sana!" Dagu Ethan mengarah ke ranjang. Ia kemudian dekati Arumi, menggeser poni Arumi sedikit berlutut. Ia lalu oleskan salep pada bagian kening.


"Aku baik-baik saja Ethan." Arumi gantian meraba kening Ethan. Lalu keningnya sendiri. Suhu tubuh Ethan jauh lebih tinggi. "Kemana kamu semalam?"


"Aku tidur di kafe. Ac-nya terlalu keras. Aku malah kena demam."


"Mengapa tak kembali ke rumah?" tanya Arumi.


"Darimana kamu tahu?" Ethan balik bertanya.


"Bukankah kamu tak masuk akal, Ethan? Buat Nyonya Andreia gelisah," tegur Arumi. "Sikapmu belakangan cukup mengujinya."


Ethan Sanchez selesaikan tindakannya. Mengatur lagi poni Arumi. Pergi ke meja belajar, menarik bangku dan duduk di sana.


Arumi melihat pengompres di meja samping ranjang.


"Berbaringlah Ethan. Tubuhmu cukup panas. Aku bisa mengompres." Arumi terdengar yakin.


"Aku baik-baik saja," jawab Ethan Sanchez.


"Kemarilah! Kamu terus-terus perhatian padaku. Giliranku akhirnya datang." Arumi sedikit memaksa. Ethan tak punya pilihan lain.


Ketika Arumi berhasil dengan handuk kecil dan tempelkan pada kening Ethan, ia menambah daftar aktivitas yang tak butuh keahlian.


"Kami sedikit berselisih. Aku sangat marah pada diriku karena berbicara kasar pada Ibuku."


Anak baik dan berbakti.


"Kamu akan meminta maaf alih-alih tak bicara pada Ibumu." Arumi terperanjat sendiri, ia kedengaran bijaksana. Kenyataan, jika terjadi padanya, ia lebih kasar pada Salsa Diomanta. Ia yakin kasar dalam pengertian Ethan Sanchez adalah bicara tenang dan sedingin es. Sedang dalam kamus Arumi adalah bentakan, hardikan bahkan amukan. Ckckck.


Hening.


"Arumi ...."


"Nilai post test ekonomi-ku tadi bagus. Setidaknya nilaiku tidak lagi paling akhir."


"Selamat."


"Arumi ..., aku telah buat keputusan untuk hubungan kita." Ethan kembali ke posisi tegak.


"Kamu mungkin lupa kalau kita telah putus," jawab Arumi.


"Waktu itu hanya sepihak."


Arumi Chavez berdiri, meneliti potret-potret di dinding. Tak perlu jelaskan masa kecil Ethan Sanchez yang bahagia, semua jelas tercetak momen demi momen.


"Ini Ayahmu?" tanya Arumi hindari mendengar Ethan Sanchez akhiri hubungan mereka. Tak sulit menebak segala hal. Ia hanya persiapkan hatinya. Membangun sesuatu untuk menghalau rasa sakit tak semudah ucapan perpisahan. Menggigit bibir.


"Ya. Hari kematiannya sama dengan hari kematian Kakekmu. Kita bertemu di hari itu."


Arumi mengangguk. "Kamu memang tampan sejak kecil," ujar Arumi memuji, larikan diri. "Apakah kamu pergi ke Taman Kanak-Kanak?"


"Ya, milik Susteran di dekat tempat Ibuku bekerja."


"Aku yakin ada cinta monyetmu di sana." Terdengar ceria. "Dandia juga cantik."


Arumi berbalik memasang senyum baik-baik saja di wajahnya. Hatinya telah menangis. Kembali duduk.


"Aku terus melihat ketabahanmu dan itu menyakitiku. Mari berhenti pacaran dan kembali menata masa depan. Jalan kita masih panjang ke depan."


Mata-mata mereka bertemu. Ini ujungnya. Pikir Arumi. Berikutnya hanya ada kesunyian.


"Ya," angguk Arumi Chavez menelan semua air mata. "Ini memang yang terbaik. Aku mendukungmu kembali jadi dirimu, Ethan."


"Maaf soal kemarin. Ibuku ...."


"Aku akhirnya terbiasa Ethan. Percayalah! Tak ada yang bisa aku lakukan dengan kebodohanku. Aku mencoba berdamai dengan diriku sendiri dan menerimanya. Itu lebih mudah dilakukan ketimbang aku mati-matian membela diriku. Aku malah tampil semakin idiot."


"Arumi ...."


"Terima kasih untuk semua yang telah aku dapatkan darimu. Aku beruntung menjadi pacarmu, Ethan. Kamu ..., jangkiti aku dengan banyak hal positif."


Ethan meraih Arumi padanya. Memeluk Arumi kuat. Dalam bayang Arumi, ia akan memakai helm Ethan dan membuat kelucuan hingga Ethan terpingkal-pingkal. But, Ethan is Ethan. He is not Archilles Lucca.


"Aku percaya kamu akan berhasil dengan universitas manapun yang kamu datangi," kata Arumi diterpa kesedihan yang melanda hatinya. Tak ingin berkaca-kaca tetapi matanya tak bisa diajak kompromi. Kerjab-kerjabkan mata mengusir semua cairan yang tergenang.


"Arumi, aku menyayangimu." Ethan mengusap puncak kepala Arumi.


"Ya, aku tahu. Terima kasih untuk yang satu itu juga, Ethan. Bisakah aku pergi sekarang?" tanya Arumi coba lepaskan diri. Menoleh ke sisi lain hindari Ethan.


Terkejut saat Ethan kembali merengkuhnya dan tak mengelak untuk berciuman. Ini adalah ciuman sungguhan mereka setelah pacaran. Sayangnya ini adalah yang terakhir. Mereka resmi berpisah. Tangan Ethan lingkari pinggang Arumi kuat. Berpisah sebentar hanya untuk temukan mata-mata mereka berisi luka mendalam. Mungkin tak ada yang ingin membuatnya mudah sebelum perpisahan.


"Maafkan aku," bisik Ethan pelan, menyentuh Arumi lebih lambat abaikan rasa asin dari bibir yang basah bercampur cairan asin air mata.


"Ethan ..., apa kamu su ...."


Nyonya Andreia mendorong pintu pelan. Terkaget-kaget, menyipit. Ethan Sanchez di atas ranjang memeluk Arumi Chavez dan keduanya sedang berciuman.


"Kamu sudah baikan? Sudah makan? Sudah minum obat?" tanya Nyonya Sanchez beruntun. "Nona Arumi?"


"Aku akan segera pergi, Nyonya," kata Arumi Chavez di dada Ethan buru-buru mengusap air mata. Kupingnya seakan tersengat benda panas. Terbakar hingga ke pangkal-pangkal.


"Turunlah kalian berdua!"


Pintu dibiarkan terbuka. Nyonya Sanchez akhirnya terus salah paham. Beruntung ini yang terakhir. Ethan masih mendekap Arumi.


"Semuanya akan baik-baik saja, Arumi. Hadapi ibuku sekali ini. Seterusnya, lanjutkan kehidupanmu dengan nyaman," bisik Ethan mengecup kening Arumi pelan.


Arumi mengangguk. Tersenyum tenangkan Ethan Sanchez. Archilles Lucca memintanya andalkan Ethan Sanchez, tetapi apakah pria itu tahu bahwa kata-kata Archilles tentang dirinya akan berkelana sendirian semacam ramalan? Arumi benar-benar tak akan bergantung lagi pada seseorang kecuali dirinya sendiri.


"Aku akan berangkat ke Paris."


"Kabari aku setelah kamu tiba di sana."


"Aku berniat tak ingin berhubungan denganmu," jawab Arumi tersenyum pedih. "Di sini segalanya berakhir, Ethan."


"Aku hormati keputusanmu. Tetap saja kirimkan kabarmu agar aku tahu keadaanmu."


"Leona akan terus kabarimu."


"Aku mungkin merindukanmu."


Arumi tersenyum getir. Ethan menggiring Arumi turun, menggenggam tangan Arumi. Setelah ini, Arumi bukan lagi gadisnya. Ia hanya menyesal mengapa tak sering memegang tangan Arumi saat gadis ini masih jadi pacarnya. Hatinya membiru.


Berat hati tangan mereka terlerai saat duduk di meja ruang tengah di hadapan Nyonya Sanchez yang hanya menatap dua orang muda dalam diam sementara Dandia pulang diantar Sarah.


"Gavriel, bisakah kamu pergi ke kamarmu Sayang?" tanya Nyonya Andreia pada anak bungsunya.


Sangat patuh, Gavriel menghilang ke kamarnya.


"Anda pulang lebih awal, Nyonya Andreia," sapa Sarah Jessica.


"Terima kasih atas bantuanmu, Sarah," balas Nyonya Sanchez.


"Nona Arumi? Anda di sini?" tanya Sarah pada Arumi tersenyum ramah seperti biasa.


"Nona Arumi ..., terima kasih telah penuhi permintaanku untuk kunjungi kakakku," kata Dandia Sanchez penuh penghargaan.


Arumi mengangguk, balas tersenyum. "Bagaimana harimu, Dandia?"


"Membosankan," sahut Dandia apa adanya.


"Ethan, apakah kamu baikan? Aku telat datang karena harus mampir ke restoran. Nyonya Tania kirimkan makanan kesukaanmu." Sarah langsung pergi ke dapur, mengajak Dandia ikut dengannya karena suasana seperti di musim dingin.


"Apakah pantas seorang gadis pergi ke kamar tidur qseorang pria dan berduaan dengannya sedang rumah kosong?"


"Kami hanya bicara sebentar, Mom," sanggah Ethan cepat.


"Kulihat gayamu bicara dengan Nona Arumi cukup liar, Ethan Sanchez." Menyergap Ethan Sanchez dengan tatapan sangat tajam.


"Saranku, jangan mengambil kesimpulan hanya dari pecahan-pecahan kecil yang terlihat, Mom," balas Ethan dingin.


"Tentu. Jika aku tak datang, apa kamu akan menyebut yang aku lihat cuma serpihan kecil?"


Ethan Sanchez menghirup udara kuat. "Aku tak berniat merusak masa depanku dan Arumi. Mom tidak mengenalku?"


"Ya, akhir-akhir ini, aku tidak mengenalimu."


"Mom, aku tak ingin berdebat denganmu lagi. Kemarin cukup buruk. Please."


"Kita akan terus begini selama perbuatanmu keliru. Aku sedang coba luruskan perilaku-mu, Bung. Hanya aku satu-satunya yang bisa mengontrol-mu. Aku tak ijinkan-mu jatuh. Tidakkah hatimu sedikit trenyuh padaku, Ethan? Aku harus bekerja dan kini bertambah harus mengawasi-mu."


"Baiklah," angguk Ethan pasrah. "Marah padaku, Mom. Maaf aku bersalah. Aku mengajak Arumi melihat kamarku. Kami ..., akhiri hubungan kami seperti maumu, Mom."


Nada tenang Ethan, bagaimanapun mengandung unsur putus asa. Arumi tak bisa menolong Ethan dan dirinya. Ia menunduk dalam. Ketika bicara, ia berani menatap Nyonya Sanchez pastikan penyesalannya sampai pada wanita itu dan berhenti menyalahkan Ethan.


"Maafkan aku, Nyonya, sebabkan Anda dan Ethan bertengkar. Tolong jangan lagi! Aku berjanji akan menjauh dari Ethan. Lagipula, kami telah putuskan berhenti pacaran dan cuma belajar untuk masa depan. Ini terakhir kalinya Anda melihatku, Nyonya."


"Terima kasih untuk pengertianmu, Nona Arumi. Aku harap, kamu tidak membenciku."


Arumi Chavez menggeleng. "Anda benar tentang segala hal, Nyonya. Ethan dan aku mungkin terlalu mabuk. Kami harus segera dipulihkan." Arumi mengangkat dagu. "Aku pamit pulang, Nyonya."


"Sebelumnya, Nona Arumi. Aku kembalikan ini padamu."


Nyonya Sanchez mendorong sesuatu dalam amplop cokelat. Arumi kehilangan selera untuk bertanya apa ini - apa itu? Menatap kosong pada benda yang terarah padanya.


"Sekolah memaksaku datang dan menerima ini. Kebetulan kamu kemari, aku kembalikan padamu. Juga, sewa jasa Ethan selama jadi guru private-mu. Tolong, diterima lagi."


Arumi Chavez mengambil napas satu per satu, mengipasi hati juga harga diri yang terus dilukai. Ia bertahan karena setelah ini, ia berjanji tak akan nekat mengejar-ngejar pria popularitas tinggi yang miliki Ibu penuh disiplin. Ia mungkin akan cocok dengan anak gangster dari kartel sebelah atau lebih baik tak pacaran sama sekali hanya mengejar karir sebagai Drama Queen.


"Maafkan kami telah menyinggung harga diri Anda," ucap Arumi Chavez tampak semakin menyedihkan. Arumi meraih benda cokelat itu memeluk sangat erat berjuang keras tabah.


"Aku tak melihat mobilmu di depan tadi. Mau aku panggilkan taxi?"


"Tak perlu, Nyonya. Leona ada di depan."


"Baiklah, Sarah dan Dandia akan membantumu membawa keranjang buah."


Arumi Chavez langsung terpuruk. Ia tak tahan lagi, menunduk dalam. Butiran air mata jatuh tepat di atas amplop cokelat. Tinggalkan satu titik lama-lama membentuk pulau. Jari-jarinya meremas ujung rok kuat.


"Aku mohon jangan, Nyonya," pinta Arumi memelas. "Aku membelinya gunakan uang pribadiku bukan pemberian ibuku sebagai ucapan terima kasih pada Ethan. Jika Anda tak suka, Dandia dan Gavriel mungkin ingin menerimanya."


Ethan Sanchez menatap Nyonya Sanchez lurus. Sungguh terpukul tetapi biarkan Nyonya Sanchez melihat bahwa ia tak akan menentang ibunya. Ia telah lepaskan Arumi agar Ibunya tak perlu rendahkan Arumi lagi.


"Mom, Anda berlebihan," tegur Dandia tidak senang. "Aku yang meminta Nona Arumi kunjungi Ethan. Anda kelewatan menyakitinya. Sarah sering di kamar Ethan bahkan sampai tidur di ranjangnya, mengapa tak masalah untukmu?"


"Dandia?!"


"Mari aku antar, Nona Arumi! Semoga suatu hari Ibuku menyesal karena menolak gadis sebaikmu."


Arumi Chavez menolak bantuan Dandia. Ia tersenyum pada gadis itu ketika bangkit berdiri dan melangkah tinggalkan rumah Ethan Sanchez.


Keluar dari ruang depan, kupingnya menangkap pintu kamar atas dibanting keras. Leona entah dari mana, berhenti tepat di depannya. Pintu mobil terbuka. Arumi masuk ke dalam mobil.


"Nona, apa yang terjadi?" tanya Leona cemas.


Arumi menggeleng. "Tak ada, Leona."


"Mengapa Anda menangis?"


"Tidak! Aku baik-baik saja. Bisakah kita pergi? Bisa berikan aku tisu?" tanya Arumi sengau. Menahan tangis sebelum akhirnya pecah berpengaruh pada suaranya.


"Ceritakan padaku!"


"Aku baik-baik saja."


"Apa Anda ingin sesuatu? Kita bisa makan sesuatu agar suasana hati Anda membaik."


"Tak perlu. Aku ingin pulang."


"Mau ke pantai?"


"Tidak, Leona!" sahut Arumi.


"Aku cemburu, Anda lebih cepat terbuka pada Archilles dibanding aku. Padahal terakhir Anda katakan aku adalah sahabat Anda."


"Aku menutup kisah hari ini dan tak ingin bicarakan pada siapapun."


"Oh, Nona. Maukah kita makan permen kapas? Aku jamin, perasaanmu langsung membaik."


"Tidak! Aku tak ingin permen kapas, juga tak mau lewat depan wahana. Tolong cari jalan lain untuk pulang," sahut Arumi Chavez pejamkan mata. "Apakah kamu punya naskah drama?"


"Ya."


Arumi Chavez membuka lembaran demi lembaran. Meskipun telah hapal semua dialog ia tetap membaca lagi alihkan pikirannya. Tak berhasil.


Ada kisah indah di mana ia dan Ethan terbenam dalam pohon pucuk merah hindari preman. Ia mencium Ethan di dalam kegelapan. Mereka di rumah hantu dan Ethan menciumnya dalam kegelapan. Lalu, hari ini.


Semuanya berakhir, semuanya akan baik-baik saja. Arumi menangis terisak-isak, sakit hati, marah dan kecewa. Leona tak tahan pilu. Ia tak punya pilihan lain selain diam-diam mengirimkan foto Arumi pada Archilles Lucca.


"Aku berharap Nyonya Andreia berubah. Aku mencintai Ethan Sanchez. Tetapi, semuanya telah berakhir. Mungkin ini bagus untukku."


"Nona ...."


Jalanmu masih panjang Arumi Chavez. Jangan sedih! Suatu waktu kamu akan bersinar terang di langit, paling terang di antara para bintang hingga mata tak ingin berkedip memandang-mu.


Cahaya-mu bahkan bersayap dan yang menganggap rendah dirimu akan berubah. Suatu waktu, kamu akan temukan pria yang mau tinggal di sisimu secara sukarela karena mencintaimu dan menerima kekuranganmu. Yang Ibunya menyambut-mu di muka pintu dengan senyuman riang seakan menyambut puterinya sendiri.


Jangan lupa, ada aku ..., sedang merangkai takdirmu. Aku hanya butuh waktu.


***


Tinggalkan komentarmu di bawah ini tentang chapter ini, pendapatmu dan apa yang kamu inginkan? Aku ingin tahu.


vote juga y, like di komentar readers juga berdiskusi yang sehat.


Cintai aku.